Ish : Ok, Ish akuin kalo Ish dah lama banget ngebuat NG Day terlantar. Kalo aja Ish ga iseng buka laptop malem2, Ish pasti lupa kalo Ish pernah ngebuat cerita ini. (Ampun, suer deh Ish lupa.) Pas ngebaca ulang dari chapter 1, eh tiba-tiba pengen buat. Jadi yah, sistem kebut semalam, dan BOOM! Jadilah chapter ini... makanya maklum yah kalo isinya agak-agak... errr... begitulah. -_____-; Ish dah lama ga buat fic KyoyaKaoru jadi kagok lagi pas buat.

Teru: Master sih, bisa-bisanya ngelupain fic ini... padahal selama ini master selalu ngaku-ngaku cinta sama Kaoru sampe senpai aja dinamain Kaoru...

Ish: Aduuh, ya maaf deh! Seriusan deh, Ish ga maksud lupa... tapi apa mau dikata kalo penyakit pikun Ish yang udah akut ini mulai kumat?

Teru: *sigh*

Ish: Ok deh, ga usah lama-lama lagi. Langsung aja disclaimernya. Ehem, Ouran High School Host Club belongs to Bisco Hatori-sensei, NG Life belongs to Mizuho Kusanagi-sama, but NG Day belongs to Ish!~ Hope you can enjoy the story~

Teru: Master, warningnya kelupaan!

Ish: Ah, iya. Warning: OOC! (dan shounen ai? atau hanya perasaan Ish aja? ya sudahlah, yang penting udah diperingatin.) Enjoy~


"Nee, senpai masih marah padaku ya?" tanya Kaoru pelan sambil melangkahkan kakinya menyusul Kyoya dari belakang. Sosok Kyoya sudah berjalan jauh di depannya--tidak terlalu jauh namun Kyoya seperti mengambil jarak yang seakan memberikan garis penegas untuk memisahkan diri dari Kaoru.

Kira-kira sudah setengah jam berlalu semenjak Kyoya mendapatkan perawatan di klinik darurat pertolongan pertama, sudah selama itu pula Kyoya menghindari kontak dengannya. Kakak kelasnya itu nyaris tidak mengajaknya bicara sama sekali.

Kaoru menatapi Kyoya dari belakang dengan wajah sendu bercampur masam. Ia berhenti melangkah. "Senpai..." panggilnya lirih.

Akhirnya Kyoya menghentikan langkahnya. Meski tidak menoleh, ia menyahut. "Apa?"

"Aku minta maaf kalau aku merepotkan, aku janji tidak akan mengulanginya." sesal Kaoru.

Kyoya terdiam sejenak sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya menghandap Kaoru. "Siapa yang bilang kalau aku marah karena kau merepotkan?" tanya Kyoya terdengar sedikit jengkel.

"Habis dari tadi senpai tidak menghiraukanku." tukas Kaoru sambil merengut. "Itu artinya senpai marah padaku karena aku terus-menerus merepotkan kan?"

Kyoya memandangi adik kelasnya dengan alis berkerut samar--tanpa kacamatanya sosok Kaoru terlihat kabur. Ia pun melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kaoru. "Aku memang marah." ujar wakil ketua host club itu kalem. "Tapi bukan karena kau merepotkan."

Alis Kaoru berkerut bingung. "Lalu karena apa?"

Kyoya menghela nafas pelan. Sudah jelas karena aku khawatir kan? batin Kyoya. Ia pun kembali memandangi wajah Kaoru yang terlihat bingung dan menunggu jawaban darinya. Dengan sebelah tangan ia menyentil kening Kaoru pelan. Adik kembar Hikaru itu merintih kesakitan.

"Aduh! Sakit!" jerit Kaoru sambil memegangi keningnya. "Apa-apaan sih senpai!?"

"Itu hukuman karena sudah membuatku khawatir." jawab Kyoya pelan. Kaoru hanya bisa manyun tanpa protes. Melihat itu, Kyoya tersenyum kecil lalu mengelus kepala Kaoru. "Berjanjilah kau tidak akan berbuat ceroboh yang bisa mencelakakan dirimu lagi. Mengerti?"

Kaoru mengangguk-anggukan kepalanya bersemangat. "Iya janji!"

Kyoya tersenyum tipis lalu menarik tangan Kaoru dan melangkahkan kakinya pergi. "Kurasa lebih baik kita berada di sekitar panggung, pasti sebentar lagi babak ketiga akan dimulai."

Kaoru mengangguk pelan dan ikut melangkah bersama Kyoya.


"SELAMAT DATANG DI RONDE KETIGA!" sapa Shien yang seperti biasa kelewat heboh; ia beratraksi kesana-kemari mengelilingi panggung layaknya pemain sirkus. "Sekali lagi kuucapkan selamat pada semua peserta yang sampai ke babak ini... Itu berarti kalian selangkah lebih dekat untuk membuktikan cinta kalian pada dunia!"

Sorak sorai penonton pun terdengar. Sesekali siulan penonton pun terdengar ikut meramaikan suasana di sekitar panggung.

"Baiklah, aku tidak akan membuang waktu untuk bicara lagi. Sekarang kelima pasangan yang tersisa, silahkan mengikuti petugas yang ada di dekat kalian. Ah, ya, untuk para penonton, tidak perlu khawatir. Kalian semua bisa menyaksikan babak terakhir Love Tic disini karena atas kebijakan dari panitia babak final ini akan disiarkan langsung!"

Kembali terdengar suara sorak sorai penonton.

"Baiklah! Dengan ini babak final dari Love Tic resmi dimulai!"

Letusan pistol sebagai tanda dimulainya babak terakhir dari perlombaan Love Tic pun terdengar. Kyoya dan Kaoru melangkahkan kakinya bersamaan mengikuti petugas yang memandu mereka.

"Kali ini lombanya seperti apa ya?" tanya Kaoru sambil mencoba menebak. Ia tersenyum riang lalu menoleh ke arah Kyoya. "Menurut senpai apa?"

"Entahlah, tapi aku berharap tidak merepotkan." jawab Kyoya. Jujur saja, ia sudah muak dengan semua masalah yang muncul di setiap ronde. Ingin rasanya cepat menyelesaikan lomba bodoh ini dan kembali pulang ke rumah.

Kaoru terkekeh pelan. "Mana mungkin."

"Tidak ada salahnya kan berharap?"

"Iya sih, tapi kan--" perkataan Kaoru terhenti begitu matanya melihat pintu yang sangat besar di hadapannya. Pintu itu bertuliskan: 'Gate 01 Jungle Labyrinth'. "Senpai! Lihat!" seru Kaoru terdengar antusias.

Kyoya mengalihkan pandangannya pada pintu besar itu. Hee, Jungle... Labyrinth?

Kedua murid Ouran itu pun tetap berjalan mengikuti pemandu mereka hingga akhirnya mereka sampai di atas tebing buatan di dekat Jungle Labyrinth. Para peserta yang lain juga dikumpulkan disana.

Sambil menunggu penjelasan mengenai peraturan di babak terakhir ini, Kyoya mengalihkan pandangannya ke arah Jungle Labyrinth. Dari atas tebing ini bisa terlihat jelas bagaimana bentuk dari labirin itu.

Labirin itu berbeda dari Super Giant 3D Labyrinth. Kalau dibandingkan sih memang terlihat lebih kecil, namun entah kenapa labirin itu terlihat lebih berbahaya. Mungkin karena labirin itu seakan berada di tengah hutan tropis buatan sehingga membuat Kyoya merasa akan lebih mudah tersesat di labirin ini ketimbang di Super Giant 3D Labyrinth, atau mungkin karena sesekali Kyoya melihat ular yang berdesis di atas ranting pohon di sekitar labirin itu.

"Para peserta yang tersisa semua sudah hadir?" tanya petugas pemandu itu kembali menghitung jumlah peserta yang ada. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia kembali melanjutkan perkataannya.

"Baiklah, akan saya mulai penjelasannya sekarang. Babak terakhir ini akan diadakan di Jungle Labyrinth yang bisa kalian lihat disana. Namun sebelumnya akan saya beritahukan kalau di dalam Jungle Labyrinth sudah dipasang berbagai jebakan yang bisa mencederai kalian. Ah, ya, disana juga ada beberapa hewan berbisa yang dilepaskan. Tapi kalian tidak perlu khawatir, kami bisa menjamin kalau kalian tidak akan sampai mati."

"Yang benar saja! Hewan berbisa?! Meski tidak sampai mati tapi tetap saja berbahaya kan?!" protes salah satu pasangan.

"Benar-benar! Ini sama sekali tidak setimpal dengan hadiahnya! Lagipula, ini kan hanya perlombaan pasangan! Hanya event lucu-lucuan saja! Kenapa sampai harus bertaruh nyawa begini sih?!" protes pasangan lain.

Petugas pemandu itu tersenyum kecil. "Nah, itu yang mau saya jelaskan. Kalau kalian keberatan, kalian boleh mundur sekarang. Karena kalau sudah di dalam labirin itu, kami tidak akan menolong kalian sampai batas waktu yang ditentukan berakhir."

"Hah! Yang benar saja! Aku mundur! Aku tidak mau membahayakan pacarku hanya untuk mengikuti lomba aneh seperti ini!" seru salah satu peserta yang kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu bersama pasangannya.

"Aku juga! Lebih baik kami berkencan saja di taman bermain ini. Siapa juga butuh membuktikan cinta pada dunia!?" seru salah satu peserta lain dengan kesal. Menyusul peserta sebelumnya, ia juga melangkah pergi bersama pasangannya.

Petugas pemandu itu tidak menghiraukan kedua pasangan yang mundur tadi dan memandangi tiga pasangan yang masih tersisa disitu. "Bagaimana dengan kalian? Mau mundur?"

"Tentu saja tidak! Aku ini adalah tuan Momotarou yang terhormat! Mana mungkin aku melakukan tindakan pengecut seperti kabur di tengah jalan seperti itu hah?!" protes Momotarou sambil memasang pose sok keren.

"Kami juga tidak berniat mundur." jawab Kyoya kalem. Kaoru yang berdiri di sebelahnya hanya mengangguk pelan.

"Kami berdua akan berusaha." jawab pasangan lain.

Petugas pemandu itu tersenyum puas. "Baiklah, kalian semua yang tersisa disini silahkan kemari. Saya akan memberikan sesuatu."

Seketika semua peserta yang tersisa mendekat, petugas pemandu itu memberikan cincin yang dimasukkan ke dalam kalung pada setiap peserta.

"Nah, kalian harus menjaga kalung itu baik-baik. Pada babak ini, kalian dan pasangan kalian akan dipisah dan masuk ke dalam labirin melalui pintu yang nanti akan diundi. Di dalam sana kalian harus mencari pasangan kalian lalu saling bertukar cincin. Ah, ya, cincin yang ada di kalung kalian sudah diukur sesuai dengan ukuran pasangan kalian, jadi kalau sampai hilang kalian tidak bisa menukarnya dengan berusaha merebut cincin milik pasangan lain. Lalu batas waktunya 3 jam. Sampai disini ada pertanyaan?"

Para peserta yang tersisa hanya menggelengkan kepala mereka dengan kompak.

"Baiklah, setelah ini kalian bisa mengikuti pemandu kalian untuk mengundi pintu mana yang kalian dapat. Satu lagi pesan saya, berhati-hatilah karena di dalam labirin itu banyak hal yang tidak bisa kalian bayangkan." ujar si pemandu sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan para peserta.


"Kau dapat pintu berapa?" tanya Kyoya pada Kaoru. Adik kelasnya itu nyengir dan menunjukkan kertas di tangannya yang bertuliskan angka 11.

"Aku dapat pintu 11, senpai dapat pintu berapa?" tanya Kaoru balik.

Kyoya tidak menjawab dan hanya menunjukkan kertas di tangannya yang bertuliskan angka yang menurut kepercayaan merupakan angka sial, angka 13.

"Wah, senpai dapat angka 13. Bukan pertanda baik tuh." ujar Kaoru geleng-geleng. "Tuh, benar kan kataku kalau senpai dikutuk? Mungkin lain kali senpai harus belajar mempercayai ramalan. Terutama ramalan Nekozawa-senpai."

"Itu hanya takhayul. Tidak ada yang salah dengan angka 13." elak Kyoya tetap ngotot.

Kaoru hanya mengangkat bahunya. "Terserah deh."

Sebentar kemudian keduanya sama-sama mendengar panggilan dari petugas. Kaoru melirik ke arah Kyoya lalu tersenyum tipis. "Sepertinya sudah dipanggil tuh, berarti kita harus berpisah disini. Nanti hati-hati kalau melangkah ya senpai, jangan sampai terpeleset kulit pisang lagi." sindir Kaoru sambil nyengir.

Kyoya mengerutkan alisnya samar. "Tidak lucu."

Kaoru tertawa ringan kemudian berbalik membelakangi Kyoya. "Baiklah, sampai nanti ya senpai." pamitnya. Namun sebelum kakinya melangkah pergi, tangan Kyoya sudah terlebih dulu menahannya.

"Tunggu," tahan Kyoya. Mendadak wajahnya terlihat sangat serius.

"Ada apa senpai?" tanya Kaoru ringan, seperti tidak memahami ketegangan yang tersirat di wajah kakak kelasnya itu.

Kyoya terdiam sejenak. Matanya menatap lurus ke arah mata adik kembar Hikaru dengan tatapan serius. "Nanti saat di dalam labirin, kau diam saja di tempatmu. Aku yang akan mencarimu." kata Kyoya terdengar kalem seperti biasa; berkebalikan dengan raut wajahnya yang serius.

Kaoru langsung memasang wajah merengut seperti mau protes. "Kok begitu?"

"Aku tidak mau kalau nanti kita malah jadi tidak bertemu karena saling mencari. Kau mengerti maksudku kan?"

"Kalau begitu biar aku yang mencari senpai."

"Tidak bisa."

"Kenapa? Sekarang senpai kan sedang tidak bisa melihat jelas. Nanti malah terjadi apa-apa dengan senpai. Ingat kata pemandu tadi kan kalau di dalam labirin itu banyak jebakan dan binatang berbisa?"

"Justru karena itu aku tidak bisa membiarkanmu bergerak seenaknya di dalam sana."

"Senpai..."

"Jangan berdebat denganku, berjanjilah kau akan menungguku dan tidak berbuat ceroboh di dalam sana." ujar Kyoya terdengar serius.

"Tapi senpai--"

Belum sempat Kaoru protes, kembali terdengar panggilan dari petugas. Kyoya pun langsung mendorong Kaoru pergi supaya tidak bisa protes. "Sudah dipanggil tuh, sana pergi." ia tersenyum tipis. "Sampai bertemu di dalam nanti."

Karena kesal tidak diberi kesempatan untuk berdebat, Kaoru menjulurkan lidahnya keluar pada Kyoya sebelum melangkah pergi. Kyoya hanya tertawa kecil. Namun seketika sosok Kaoru menghilang, tawa di wajah Kyoya ikut menguap pergi.

Nah, sekarang... aku harus memikirkan strategi untuk bertahan di dalam sana. batin Kyoya sambil melangkahkan kakinya pergi.


Ish: Ah, selesai~ tapi ini baru satu part... Ish pisah jadi 2 part soalnya kepanjangan sih, hehe... Silahkan lanjut ke chapter selanjutnya, tapi sebelumnya... mind to review? *puppy eyes, disambit sama reader, XDD*