Title [ Second Chance ]

Author [ Takii_yuuki]

Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]

Main cast :

Zhang Yixing/Lay,Wu Yifan/Kris

Kim Jaejoong,Jung Yunho

Shim Changmin,Cho Kyuhyun

Lee Donghae, Lee Hyukjae

Zhoumi

New Cast : SMRookies - Taeyong, Yuta, Jaehyun, Johnny, Jeno

And other character..

Rating : M

Length : Chaptered

Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama.

bb saya, siapa tau ingin berteman dengan saya : 5189737F

Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys, don't like don't read, typo bertebaran.

Mohon maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai.

author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.

Ini aku bagi jadi 2 part soalnya ceritanya panjang bgt jadi aku bagi jadi 2. banyak konflik bathinya Taeyong, jadi mungkin akan sangat membosankan..

maaf kalau ceritanya jelek, hehehe, author sudah berusaha keras. terima kasih atas perhatiannya

SECOND CHANCE

Disinilah Yixing saat ini. Ia duduk di samping Taeyong dengan sedih. Ia mempererat genggamannya pada Taeyong, seakan memberi kekuatan agar Taeyong cepat sadar.

'Keadaan Taeyong masih kritis Tuan Lee. Benturan dikepalanya menyebabkan pendarahan dan saat ini dia mengalami koma. Kami harus menunggu sampai dia sadar hingga kami bisa melakukan operasi lagi.'

'B-bagaimana kalau Tayong tidak sadar?'

'Saat ini kita hanya bisa berdoa agar Taeyong bisa cepat sadar.'

Yixing masih tetap duduk menemani Taeyong, ia terus berdo'a demi keselamatan Taeyong. CKLEK! Kris masuk namun Yixing tidak mengacuhkannya ia terus terpaku pada Taeyong.(acuh=peduli berarti kalau mengacuhkan=memperdulikan, tidak mengacuhkan=tidak memperdulikan. #abaikan)

"Xing, kau pulang saja, nanti kalau Taeyong sudah sadar, aku akan menelponmu."

"Aku tidak mau, aku ingin disini. Menunggu Taeyong sampai dia sadar."

"Xing, kau bisa sakit kalau kau tidak istirahat, kau sudah 2 hari tidak istirahat dan kau juga belum makan. Lihat dirimu, wajahmu pucat, Kalau kau sakit bagaimana? Nanti kalau Taeyong sadar dan dia mencarimu, aku harus bilang bagaimana padanya? Dia akan sedih Xing kalau tahu kau sakit."

"Jangan larang aku Kris, aku tidak akan beranjak dari sini. Jika sampa terjadi apa-apa dengan Taeyong, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Bagaimana kau bisa setenang ini melihat keadaan anakmu yang belum sadarkan diri sampai saat ini."

"Aku juga khawatir Xing, aku juga setengah mati memikirkan keadaan Taeyong. Tapi kita bisa berbuat apa. Dokter sudah bilang, mereka harus menunggu sampai Taeyong sadar baru dia bisa di operasi lagi. Kau tak bisa memaksakan dokter untuk mengoperasi Taeyong sekarang, kau tidak mau kan terjadi sesuatu dengan Taeyong?"

"Pergilah, aku akan disini. Aku ibunya dan aku tak mau melewatkan sedetikpun kebersamaanku dengan Taeyong."

"Aku tidak akan pergi. Aku juga akan menemani Taeyong, dia putra kita. Bukan hanya kau orang tuanya, tapi aku juga."

"Kenapa mereka melakukan hal ini padaku dan anakku Taeyong?Apa salahku dan Taeyong. Sejak dulu sampai sekarang, selalu aku yang jadi korban. Dibohongi, dicampakkan, dibuang, apalagi yang kurang. Apa tidak ada kebahagiaan sedikitpun untukku. Orang tua kandungku, kekasihku tega mempermainkan perasaanku, mungkin kalian menganggapku hanya boneka yang bisa dipermainkan."

"Yixing!"

"Apalagi? Kau ingin mengatakan apalagi?"

"Saat itu tidak mungkin aku langsung mengatakan padamu siapa diriku, kau tidak mungkin mempercayaiku jadi aku menunggu saat yang tepat mengatakan hal ini padamu. Aku minta maaf karena telah melukaimu dan maafkan aku atas semua perbuatanku padamu."

"Apa dengan meminta maaf Taeyong akan sembuh? Apa dengan meminta maaf Taeyong akan sadar?"

"Yixing, aku juga tidak mengharapkan hal ini terjadi, ini musibah Xing."

"Musibah yang bisa merenggut Taeyong dariku. Pergilah Kris, aku ingin sendiri. Jika kau mengatakan ini lebih cepat mungkin semua ini tidak akan terjadi."

"Xing!"

"Keluar! Aku tidak akan memintamu 2x, Wu YiFan."Kris tak bisa berbuat banyak, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan menunggu di luar kamar Taeyong. Kris mengerti perasaan Yixing saat ini. Setelah mengetahui semua kebenarannya, ia pasti tidak akan mudah menerimanya.

FLASHBACK ON

Di saat operasi Taeyong berlangsung. Yixing, Kris, Jaejoong, Yunho, Eunhyuk dan Donghae duduk bersama di ruang auditorium rumah sakit. Yixing meminta penjelasan dari semua pihak mengenai dirinya.

"Baby, Umma melakukan ini agar kau tidak disakiti lagi oleh mereka." Eunhyuk mencoba menjelaskan alasannya menjauhkan Yixing dari Jaejoong dan keluarganya.

"Disakiti? Justru kalian yang menyakitiku, Umma Jae selalu berusaha melindungiku, dia bahkan rela mengorbankan dirinya untukku padahal aku bukan anak kandungnya. Umma Jae bukan seorang pendendam. Sebelum aku kecelakaan 16 tahun lalu, kau juga membohongiku dengan bilang Kris sudah meninggal, padahal kau tahu dia masih hidup, kau membuatku meratapi orang yang masih hidup. Jika kau bilang alasan Kris melakukan ini karena dia melindungi perusahaan keluarganya dan dia harus pura-pura mati, aku akan merahasiakan itu, aku akan berpura-pura dan menganggap Kris sudah mati,kami bisa berhubungan dengan cara diam-diam, aku tidak peduli walaupun dia harus mengganti identitasnya dan wajahnya, aku akan tetap mencintainya dan menyayanginya tidak perlu menyembunyikan hal ini dariku. Apa aku terlihat seperti orang yang suka membocorkan rahasia orang? Kalian terlalu menganggap remeh diriku." Yixing memanggil Eunhyuk dengan sebutan kau bukan Umma lagi. Ia begitu marah sehingga ia tak mau memanggil Umma kandungnya dengan sebutan Umma.

"Maafkan kami Lay, tapi Jaejoong juga bersalah, dia menyembunyikan anakmu yang jelas-jelas masih hidup dan mengatakan pada kami kalau anakmu sudah meninggal."

"Itu karena kau tidak menginginkannya. Kau lupa kalau kau lebih memilih Yixing daripada bayinya, 'Nyawa Yixing jauh lebih penting dari bayi itu', Yixing tak menginginkan anak itu 'Yixing tidak menginginkan bayi itu'. Bukankah itu sama saja kau membuangnya.'Kalau kita menyelamatkan bayinya?Apa bayi itu akan bertahan? Kemungkinan Yixing selamat lebih besar dari bayi itu. Selamatkan Yixing, aku tidak membutuhkan bayinya. Besok Yixing masih bisa mengandung lagi, mengorbankan satu demi keselamatan putraku jauh lebih penting.' Aku masih ingat kata-kata itu dengan jelas bahkan kau juga menamparku karena itu. Sejak saat itu kau sudah membuang Taeyong dan sejak saat itu aku yang berhak atas dirinya. Aku berjuang mempertahankan hidup Taeyong sejak dia di incubator hingga saat ini."

"B-benarkah itu? Kau mengatakan itu?' Eunhyuk hanya terdiam. "Kau tega melakukan itu setelah aku berusaha mati-matian menjaga bayi itu. Kau itu Umma ku atau bukan?" Yixing menggeleng tak percaya.

"Aku menyembunyikan Taeyong karena aku tak ingin kau merebutnya seperti kau merebut Yixing dariku. Aku yakin setelah kau tahu Taeyong masih hidup, kau akan merebutnya dariku seperti yang telah kau lakukan sebelumnya. Aku dengar kau akan membawa Yixing ke Amerika untuk berobat dan aku yakin kau tidak akan mengizinkanku menemuinya mengingat Yixing mengalami amnesia permanen dan harapanku satu-satunya adalah Kris, dan ternyata Kris depresi karena masalah ini lalu bagaimana lagi aku harus berbuat kecuali menyembunyikan Taeyong dan memalsukan kematiannya. Kau membenci Kris dan anak Yixing, jika kau membawa anak Yixing, aku yakin kau tidak akan merawatnya tapi kau akan membuangnya ke panti asuhan dan aku tidak mau itu terjadi. Aku akan memberitahu Taeyong tentang orang tuanya pada saat dia berusia 17 tahun." Ujar Jaejoong panjang lebar. Ia tak tahan dituduh yang tidak-tidak oleh Eunhyuk

"Donghae darimana kau tahu kalau anak Yixing masih hidup?" Tanya Eunhyuk penuh selidik.

"Aku menghubungi Yunho 1 bulan setelah keberangkatan kita ke Amerika."

"Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku? Kau ini suamiku kenapa kau bisa melakukan hal ini padaku?"

"Karena aku kehilangan Eunhyuk ku yang dulu, aku mengenal Eunhyuk ku bukan orang yang egois dan mementingkan dirinya sendiri. Aku menghormatimu karena kau adalah tulang punggung keluarga sejak aku koma hingga saat ini. Aku diam karena aku sadar aku tidak bisa berbuat apa-apa. AKu hanya bisa berdo'a semoga Yixing mendapat kebahagiaan. Sebenarnya aku tidak pernah menyetujui hubungan Yixing dengan Gong Min tapi kau begitu membanggakan Gong Min dan aku bisa berbuat apa, Yixing menghormatimu dan dia melakukan apapun untukmu meskipun dalam hatinya dia menangis. Aku sadar siapa diriku Hyukkie, aku sadar. Maafkan aku ." Yixing menghampiri Donghae dan memeluknya.

"Maafkan Appa sayang, Appa tidak bisa berbuat apa-apa untukmu." Yixing menggeleng. "Appa adalah yang terbaik untukku."

"Yixing maafkan aku. Kesalahanku terlampau banyak padamu. Aku tidak bisa menjagamu. Maafkan aku, aku sudah mendapatkan hukuman dari perbuatanku. Bahkan Umma ku juga sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya."

"Maksudmu apa Kris?" Tanya Yixing.

"Perusahaan ShenGu mengalami kebangkrutan seteah ditipu perusahaan Ye Chuenping. Orang tua Victoria ditangkap atas tuduhan penggelapan pajak, Victoria bercerai dari Gu Yuan dan sekarang Hyena bersama Victoria membuka sebuah restaurant kecil di Jeolla." Jawab Yunho yang sedari tadi hanya diam.

"MWO!"ucap Jaejoong terkejut."Benarkah itu?"Tanya Jaejoong tak membekap mulutnya. "1 tahun setelah pertunangan itu Perusahann ShenGu mulai goyah, penggelapan dana perusahaan dan pemangkiran membayar pajak. CEO baru mereka membawa lari uang perusahaan sebesar 6 juta dollar dan akhirnya perusahaan itu bangkrut."

"Aku tidak peduli bagaimana kehidupan kalian sekarang, aku hanya ingin menjaga anakku. Untuk urusan dengan Gong Min, aku akan mengembalikan uang yang dia berikan padaku selama ini. Aku akan memutuskan pertunangan kami tapi belum tentu juga aku akan kembali padamu Kris. saat ini aku hanya ingin focus dengan anakku Taeyong. Permisi." Yixing meninggalkan auditorium sendirian dan menyisakan Kris, Jaejoong, Yunho, Eunhyuk dan Donghae.

"Sepertinya urusan kami juga sudah selesai, lebih baik kami pergi, jika kalian ingin menyelesaikan sesuatu silahkan. Ayo Yun kita pergi. Changmin pasti sudah menunggu kita." Ajak Jaejoong. Yunho pun mengikuti ajakan Jaejoong dan tinggal Kris, Eunhyuk dan Donghae dalam ruangan itu.

"Maafkan aku Tuan Lee, jika aku membuat Yixing terluka dan menderita. Tapi aku sudah berubah. Kris yang sekarang bukan Kris yang dulu. Kris yang sekarang akan lebih bertanggung jawab pada keluarganya. Aku meminta restu kalian untuk hubunganku dengan Yixing. Mungkin untuk saat ini Yixing tak bisa menerimaku tapi aku akan berusaha lagi untuk mengambil hati Yixing kembali. Mohon restui aku." Mohon Kris sambil membungkuk.

"Aku merestuimu Kris,pergilah, bahagiakan Yixing." ucap Donghae.

"Hae-ya," protes Eunhyuk.

"Cukup, aku mohon cukup. Biarkan Yixing bahagia dengan caranya sendiri. Aku gagal menjadi Appa yang baik untuk anak Kita. Dia hanya ingin bahagia dan ini saatnya. Kris pergilah temani Yixing menjaga Taeyong."

"Baik Tuan Lee." Kris pamit. Ia meninggalkan Donghae dan Eunhyuk yang masih bersitegang. "Aku tahu kau akan membenciku setelah ini tapi aku melakukan ini hanya untuk kebahagiaan putra kita satu-satunya. Maaf aku harus pergi." Donghae berbalik dan akan meninggalkan Eunhyuk tiba-tiba Eunhyuk memeluknya dari belakang, "Jangan pergi, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dirimu. Maafkan aku Hae-ya, maafkan aku. Aku akan berubah, aku akan kembali menjadi Eunhyuk mu yang dulu lagi aku janji padamu Hae. Aku janji." Donghae tersenyum, ia menggenggam erat lengan Eunhyuk sebagai jawaban kalau ia tidak akan meninggalkannya.

FLASHBACK OFF

1 Week Later

Belum ada perkembangan berarti dari keadaan Taeyong. Yixing tak pernah beranjak dari kamar Taeyong, ia selalu menemaninya dan menungguinya dengan sabar. Sepertinya rumah sakit adalah rumah kedua untuk Yixing. Jaejoong setiap hari datang menjenguk, namun sore hari dia pulang, Kris menjaga Taeyong saat malam. Yunho, Changmin, Kyuhyun setiap 2 hari sekali atau saat mereka sedang tidak sibuk, Yuta dan Jaehyun setiap pulang sekolah. Jeno juga setiap pulang sekolah dan saat libur kerja. Pelaksaan Summer Camp sudah selesai dan saat upacara penutupan hanya Kris yang mewakilinya.

"Sayang, apa kau mendengar Umma? Ada yang ingin Umma beritahukan kepadamu. Kenapa kau tidak mau bangun? Kau tidak merindukan Umma sayang? Bangun sayang Umma disini." Yixing mengusap lembut pipi Taeyong yang belum sadarkan diri. "Bangun sayang, Umma yakin kau bisa mendengar Umma. Umma mohon bangun." Yixing menggenggam tangan Taeyong dan tertidur di samping Taeyong. Tiba-tiba jemari Taeyong bergerak. Yixing yang merasakan itu terbangun. Ia terkejut campur senang Taeyong akhirnya sadar. Yixing segera memanggil dokter.

Karena kondisi Taeyong sudah bisa dikatakan stabil, dokter pun segera melakukan tindakan operasi untuk menghentikan pendarahannya. Yixing menelpon Jaejoong untuk memberitahu keadaan Yixing.

Yixing, Jaejoong, Kris dan Eun-Hae (mereka datang karena di telepon Jaejoong, Yunho, Chang-Kyu tidak datang karena masih ada urusan tapi mereka akan berjanji datang sore harinya, sedangkan Yu-Jae-Jeno masih sekolah, mereka akan datang sepulang sekolah) menunggu di depan ruang operasi dengan gelisah. Kris menggenggam tangan Yixing yang tampak sangat cemas. Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. "Dokter bagaimana dengan cucu saya Taeyong?"

"Operasi berjalan lancar tapi masih ada pembengkakan. Tinggal menunggu Taeyong sadar setelah itu kami akan melakukan tindakan selanjutnya. Kami akan melakukan CT Scan Ulang untuk memeriksa kembali keadaan Taeyong pasca operasi. Karena benturan itu mengenai syaraf matanya kami khawatir terjadi sesuatu dengan mata Taeyong." Tangis Yixing pecah antara lega dan khawatir, lega karena Taeyong bisa sembuh tapi khawatir jika terjadi sesuatu dengan mata Taeyong.

"B-Bagaimana kalau Taeyong buta Kris, b-bagaimana k-kalau sampai dia tak bisa melihat lagi?"Kris memeluk Yixing, menenangkan sekaligus minta Yixing untuk berhenti menangis,

"Tenanglah, operasi Taeyong berhasil, kau tidak perlu cemas Xing. Taeyong akan baik-baik saja, jika terjadi sesuatu dengan mata Taeyong, aku bersedia mendonorkan mataku untuknya, aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada anak kita. AKu rela menjadi buta asal Taeyong bisa melihat lagi. Aku janji."

Eunhyuk menatap Kris dengan pandangan lembut. Kejadian ini membuat Eunhyuk menyadari bahwa Kris benar-benar peduli dan mencintai Yixing juga Taeyong.

"Aku takut terjadi apa-apa dengan Taeyong, Kris. aku takut."

"Tidak akan terjadi apa-apa dengan Taeyong. Kau jangan takut, aku akan melakukan apa saja untuk Taeyong termasuk mendonorkan mataku untuknya." Yixing mengangguk, agaknya ia sudah memaafkan Kris setelah melihat perjuangan Kris untuk meminta maaf padanya dan membuktikan bahwa dia sudah berubah.

Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Yixing kembali menunggu Taeyong dengan sabar. Ia duduk di samping Taeyong ditemani Kris, Jaejoong, Eunhyuk dan Donghae.

"Xing, kau makan dulu ya nak, kau belum makan dari tadi malam."Jaejoong menawarkan makanan pada Yixing. Yixing menggeleng. "Aku tidak lapar Umma."

"Kau harus makan Lay, nanti kalau kau sakit bagaimana?" Eunhyuk mencoba membujuk Yixing.

"Aku tidak butuh perhatianmu." Ucapya datar. Eunhyuk tersentak, hatinya sakit mendengar Yixing berkata seperti itu padanya. Kris hanya bisa menghela nafas begitu juga dengan Donghae. Melihat perubahan sikap Yixing pada Eunhyuk.

"Yixing, kau tidak boleh begitu, mereka orang tuamu juga sayang." Jaejoong meredam amarah Yixing pada Eunhyuk.

"Umma, aku benar-benar tak membutuhkan perhatian mereka. Perhatian mereka palsu."

"Ya sudah, tapi kau makan ya. Umma suapi. Kau tidak rindu Umma suapi?" Yixing berbalik menatap Jaejoong dengan senyum lembut.

"Ne, aku akan makan Umma, tapi Umma suapi aku." Jaejoong mengangguk, ia menyiapkan makanan yang ia bawa. Eunhyuk tak tahan melihat sikap Yixing yang terkesan tak menganggapnya ada, ia kemudian keluar tanpa berkata apa-apa. "Hyukkie kau mau kemana?" Tanya Jaejoong tapi tak digubris Eunhyuk.

"Aku akan menyusulnya."

"N-ne-ne.."Donghae pun menyusul hanya memandangnya Kris,ia tak mau berkomentar banyak, takut jika nanti malah menyinggung Yixing dan membuatnya marah, walau sebenarnya ia kasihan dengan Eunhyuk.

Eunhyuk berlari menuju tangga darurat, sampai di tangga darurat, ia menjatuhkan tubuhnya dan menangis. Ia meremas dadanya yang terasa sakit setelah mendapat perlakuan buruk dari Yixing. CKLEK!Donghae membuka pintu darurat itu dan melihat Eunhyuk yang menangis tersedu-sedu. Ia mendekati Eunhyuk dan berjongkok kemudian memeluknya.

"Menangislah, mungkin itu bisa membuatmu lebih lega. Aku mengerti perasaanmu saat ini. Kau pasti sedih karena sikap Yixing tapi dia seperti itu karena sakit hati selama ini telah dibohongi, seandainya sejak dulu kau mau jujur keadaannya tidak akan seperti ini Hyukkie." Eunhyuk tak menjawab,ia melesakkan kepalanya di dada Donghae dan terus terisak. "Aku yakin dia akan memaafkanmu dan kembali pada kita. Kau bersabarlah."

SECOND CHANCE

3 days later

Tidur Yixing terusik saat merasakan pergerakan dari terbangun, ia melihat Taeyong menggeliat kemudian membuka matanya perlahan.

"Halmeoni..Halmeoni..!"Panggil Taeyong.

"Baby kau sudah bangun? Kau sudah sadar sayang?" Yixing mengusap pipi Taeyong.

"Halmeoni kenapa disini gelap, Halmeoni kau dimana?" Tangan Taeyong terulur keatas mencoba menggapai sesuatu.

"Gelap? Gelap baby?"

"Gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa. Halmeoni dimana? Kau siapa? Halmeoni!"panggil Taeyong panic. Yixing lebih panic lagi, ia memencet tombol darurat berulang kali.

"Umma disini sayang, umma disini. Kau tenang ya, dokter seger kemari memeriksamu." Yixing menyambut tangan Taeyong dan menggenggamnya dengan erat.

"Umma-umma, s-siapa Umma-ku? Halmeoni! Halmeoni!" Taeyong menangis meronta-ronta memanggil Jaejoong. Yixing menangis, ia tak tega melihat anaknya seperti orang kesetanan seperti itu. Tak berapa lama kemudian dokter pun datang bersama seorang suster, "Tolong anda keluar sebentar Tuan, kami akan memeriksa keadaan pasien." Dengan sedikit tidak rela Yixing pun keluar dan mereka segera memeriksa Taeyong dan memberinya obat penenang. Yixing menelpon Jaejoong dan Kris memberitahu keadaan Taeyong.

Beberapa saat kemudian dokter pun keluar. Yixing menghampirinya. "Bagaimana keadaan Taeyong dokter? Apa yang terjadi dengannya? Apa yang terjadi kenapa dia bilang gelap? Apa mungkin terjadi sesuatu dengan matanya?"

"Yang kami takutkan terjadi Tuan, pasien mengalami masalah dengan penglihatannya karena benturan itu. Kami akan melakukan CT Scan sekali lagi apakah pasien mengalami buta permanen atau buta sementara (saya nggak tau ini ada apa nggak, anggap saja ada-udah goggling nggak ketemu soalnya)."

"Jika Taeyong mengalami buta sementara, dia bisa sembuh kan dokter?"

"Tentu saja bisa, dengan terapi dan pengobatan Taeyong bisa kembali melihat."

"Tapi kalau dia mengalami buta permanen?"

"Jalan satu-satunya dengan operasi cangkok mata, jika tidak Taeyong tidak akan bisa melihat selamanya. Maaf." Tangis Yixing kembali pecah. Ia takut Taeyong akan mengalami buta permanen. "Harap anda bersabar Tuan. Kami akan berusaha sebaik-baiknya untuk kesembuhan Taeyong." Tubuh Yixing mendadak lemas, ia terhuyung ke belakang namun dengan cepat di tangkap Kris yang datang. "Yixing!"

"Kami akan membawa pasien untuk menjalani CT Scan. Permisi." Dokter Jun membungkuk dan meninggalkan Kris-Yixing diikuti sang suster yang mendorong bed Taeyong yang akan menjalani CT Scan. Kris membawa Yixing duduk. "Ada apa?"

"T-taeyong sudah sadar tapi d-dia mengalami masalah dengan matanya. Dokter bilang, Taeyong bisa saja mengalami kebutaan dan yang paling parah dia akan mengalami buta permanen. Jalan satu-satunya adalah dengan operasi cangkok kornea mata Kris."

"Aku sudah berjanji akan memberikan mataku untuk Taeyong jika memang itu yang harus terjadi. aku rela buta asal Taeyong bisa melihat lagi." Yixing menggeleng.

"Aniyo, kita akan cari donor mata untuk Taeyong. Aku akan mencari donor mata untuknya."

"Tapi Xing.."

"Aku membutuhkanmu Kris, aku tidak ingin kau berkorban sejauh ini. Kita akan mencari bersama-sama donor mata untuk Taeyong jika tidak dapat menemukan donor mata untuk Taeyong, aku memberikan semua keputusan padamu." Kris mengangguk, ia memeluk Yixing mencoba menenangkannya.

SECOND CHANCE

Setelah menjalani CT Scan, Taeyong di kembalikan ke ruang perawatan ditemani Jaejoong, Yixing dan juga Kris. Taeyong menggeliat, ia memegang kepalanya yang sedikit nyeri. Jaejoong tak bisa menahan kesedihan melihat cucu kesayangannya mengalami kebutaan.

"Halmeoni?Apa itu kau?"Tanya Taeyong,Taeyong menyentuh perban yang menutupi matanya."Ne,Yongie,ini Halmeoni."

"Halmeoni kau tadi dimana? Aku takut Halmeoni."

"Halmeoni tadi pulang sebentar sayang mengambil pakaianmu."

"Halmeoni mataku kenapa? Kau pasti terkejut melihat keadaanku saat ini?" Jaejoong mengusap airmatanya kemudian mendekati Taeyong.

"Kau tidak usah khawatir sayang, ini hanya sementara saja. Halmeoni akan mencarikan dokter terbaik untukmu sayang."

"Aku baik-baik saja kan Halmeoni? Aku tidak buta kan Halmeoni?"

"Tentu saja tidak sayang. Beberapa hari lagi kau pasti akan sembuh."

"Halmeoni, tadi ada orang yang menungguku dan dia bilang kalau dia Umma-ku. Apa benar dia Umma-ku, bukankah Umma-ku sudah meninggal?" Yixing membekap mulutnya tak percaya, Taeyong menganggap bahwa dirinya sudah meninggal. Kris merangkul Yixing untuk menenangkannya.

Jaejoong menggeleng, ia menggenggam tangan Taeyong erat, "Belum sayang, mereka belum meninggal, mereka masih hidup. Sekarang mereka disini, mereka orang tuamu sayang."

"Benarkah itu? Siapa mereka Halmeoni?Kenapa mereka baru datang sekarang?Kenapa mereka tak pernah menemuiku?"

"Sayang, Halmeoni pernah berjanji padamu akan menceritakan sesuatu padamu saat kau berusia 17 tahun."

"Ne, cerita tentang apa Halmeoni?"

"Mengenai orang tuamu sayang. Halmeoni ingin memberitahu padamu kalau mereka masih hidup. Terjadi sesuatu kesalahpahaman hingga mereka tidak bisa menemuimu dalam waktu 16 tahun ini. Halmeoni tak bisa bercerita banyak karena kau masih sakit tapi kalau kau sudah sembuh, Halmeoni akan menceritakan semua padamu. Halmeoni janji, yang penting sekarang yang harus kau tahu bahwa orang tuamu masih hidup dan sekarang mereka disini. Mereka menunggumu selama kau sakit, bahkan Umma-mu tidak pernah beranjak dari kamarmu karena ia ingin, orang yang kau lihat saat kau sadar adalah dia."

"Tapi aku tidak bisa melihat Halmeoni. Aku ingin melihat Umma dan Appa-ku. Aku ingin melihat mereka."

"Kau sudah pernah melihat mereka sayang. Kau tahu konselor Lee dan Konselor Kris kan? Mereka Appa dan Umma-mu sayang. Mereka orang tuamu."

"Aku ingin melihat mereka Halmeoni, aku ingin melihat mereka lagi." Taeyong mencoba membuka perbannya.

"Apa yang kau lakukan Taeyong, kau tak boleh melepaskan itu!"

"Baby jangan, biarkan saja sayang, kau tidak boleh melepasnya sebelum dokter yang melepasnya." Yixing ikut melarang Taeyong, namun Taeyong tak bergeming ia terus mencoba membuka perbannya.

"Lepaskan aku, aku ingin melihat kalian." Kris ikut membantu tapi terlambat Taeyong sudah membuka perbannya juga kapasnya. Ia mencoba membuka matanya tapi masih gelap.

"Taeyong, bagaimana bisa kau melepas perban itu begitu saja? Dokter-dokter." Panggil Kris.

"Apa yang terjadi? mataku kenapa? Kenapa tak bisa melihat? Tadi gelap kenapa sekarang masih gelap. Andwee!" Taeyong meronta lagi, ia masih tak percaya bahwa ia belum bisa melihat, ia terus memegangi matanya dan berharap agar ia bisa melihat lagi.

Tak berapa kemudian dokter pun datang, "Baringkan dia."

"Dokter kenapa mataku seperti ini?" Taeyong terus meronta dan menangis sambil memegangi matanya. Jaejoong dan Yixing ikut menangis melihat keadaan Taeyong, "Kenapa mataku seperti ini? Apa yang terjadi dengan mataku?"

"Aku akan memberinya suntikan penenang." Dokter memberi suntikan penenang untuk Taeyong dan kembali memasang perban di mata Taeyong. Hal itu mereka lakukan agar mata Taeyong istirahat sampai ada tindakan lanjutan.

.

.

Jaejoong, Yixing, Kris berada di ruangan dokter Jun untuk mengetahui keadaan Taeyong. Dokter Jun memperlihatkan hasil CT Scan-nya pada mereka bertiga.

"Dari hasil CT Scan, terjadi sesuatu dengan mata Taeyong dan benturan itu menyebabkan kebutaan permanen pada Taeyong. Jalan satu-satunya dengan operasi cangkok mata. Kami sudah memeriksanya 2 kali dan hasilnya sama. Maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat kami tapi kenyataannya memang seperti ini."

"Tolong kami mencarikan donor mata untuk Taeyong dokter. Jangan katakan apapun pada Taeyong kalau dia menderita kebutaan permanen. "

"Baik Tuan Jung. Kami akan membantu anda mencari donor mata untuk Taeyong."

"Terima kasih dokter." Rasanya sudah habis airmata Yixing, ia tak lagi menangis tapi saat ini hatinya benar-benar sakit menerima kenyataan bahwa putranya mengalami kebutaan permanen tapi ia bertekad harus kuat untuk Taeyong dan mencarikan donor mata untuk Taeyong.

SECOND CHANCE

Yixing menyuapi Taeyong dengan pelan-pelan. Beberapa hari ini Taeyong memilih diam, tak banyak bicara, bahkan ketika Yun-Jae, Chang-Kyu, Jae-Yu dan Jeno datang menjenguk ia tak banyak bicara ia lebih banyak mengangguk dan menggeleng. Mereka bisa memaklumi itu, beruntung bagi Yixing dan Kris, Taeyong tak menolak kehadiran mereka berdua, ia mau menerima bahwa dirinya dan Kris adalah Appa dan Umma-nya

"Sayang, Umma dan Appa akan mencarikan dokter terbaik untukmu. Bahkan kalau kita harus pergi ke luar negeri, kita akan kesana. Appa-mu bilang dia punya teman seorang dokter mata di Vancouver. Kalau kau sudah lebih baik kita akan kesana dan berobat."

"Aku tidak mau pergi." Ucapnya tiba-tiba.

"Sayang, kita kesana untuk berobat. Kita akan mengobati matamu dan menyembuhkannya. Kau akan bisa melihat lagi sayang."

"Kalau aku pergi, apa yang Umma lakukan? Apa yang akan Umma lakukan kalau mereka bilang, aku tidak akan bisa melihat lagi? Apa yang akan Umma lakukan kalau mereka bilang aku tidak bisa dance lagi."

"Jadi kau tidak mau pergi karena kau takut? Kau takut akan mendengar hal itu?"

"Ya,aku takut. Aku takut sampai setengah mati. Aku tidak punya rasa percaya diri lagi. Aku punya mimpi, harapan yang ingin wujudkan saat ini. Kalau mereka bilang aku tidak bisa melihat lagi, aku tidak punya rasa percaya diri dan kehilangan semuanya."

"Sayang, jangan takut. Umma-Appa, Halmeoni-Harabeoji, Imo Kyu, Changmin samchon, Jaehyun, Yuta, Jeno, mereka akan selalu berada didekatmu dan akan selalu memberimu dukungan, kekuatan. Kau tidak akan sendiri sayang."

Taeyong menyibak selimutnya dan mencoba turun dari bed-nya. "Baby kau mau kemana? Baby?"

"Aku ingin keluar Umma, aku ingin keluar. Aku ingin sendiri. Untuk saat ini biarkan aku sendiri. Jangan ikuti aku."

"Kau mau kemana sayang? Umma temani ya? Kau ingin kemana katakan pada Umma." Taeyong turun dari bed-nya tapi ia terjatuh. Yixing menjerit, "Taeyong!" Yixing menghampiri Taeyong dan membantunya berdiri. Taeyong menepis tangan Yixing dan berjalan perlahan, ia menggerakan tangannya ke kiri dan ke kanan untuk meraba-raba benda yang ada disekitarnya. "Baby!"

"Lepaskan aku Umma. Aku ingin keluar sendiri, aku ingin sendirian." Yixing menghela nafas, ia ingin berlari dan memegang Taeyong tapi saat ini Taeyong menolak. Yixing melihat Taeyong menabrak pintu keluar, "Tae.."pelan-pelan ia mengikutinya dari belakang.

Taeyong menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah pelan dan tangan yang bergerak tak tentu arah untuk mencari benda yang bisa ia gunakan sebagai sandaran. Tiba-tiba tangannya menabrak sesuatu, tubuh manusia. Tangannya menabrak dada bidang seorang, ia merabanya dan menyentuh pipi namja yang ada di depannya. Setelah ia tahu si pemilik dada bidang itu, Taeyong menjauhkan tangannya kemudian ia berlalu melewati namja itu.

"Jadi, apa kau menyerah?" Taeyong berhenti, "Kalau kau menyerah tanpa memulai,katakan saja padaku sekarang." Namja yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Johnny, ia tersenyum sinis pada Taeyong. "Jadi hanya ini kemampuan seorang Jung Taeyong. Aku kira dia lebih kuat dari yang ku kira ternyata dia tak lebih dari pengecut."

"AKu tidak butuh nasihat atau apapun darimu. Aku tidak peduli apapun katamu."Johnny berjalan mendekati Taeyong dan berbicara di dekat telinga Taeyong.

"Benarkah kau tak peduli?Baiklah Kalau itu maumu,siapkan surat pengunduran dirimu pada pelatih Kangta. Aku akan menggantikan posisimu sebagai leader dan rapper di grup kita. Mudah sekali mengambil posisi itu darimu setelah sekian lama kau mempertahankannya tapi dengan mudahnya kau melepasnya. Terima kasih Jung Taeyong. Satu lagi, Yuta begitu manis akhir-akhir ini, dia belum disentuh siapapunkan?Bagaimana kalau aku jadi orang pertama yang menyentuhnya? Pasti akan menyenangkan jadi orang pertama yang mendapatkan 'itu' dari Yuta?" Taeyong mengeratkan pegangannya pada tiang rumah sakit. Johnny menyeringai, "Jeno sebenarnya manis juga, eumm kalau kau bermain dengan dia juga, kau tidak marah kan?"

"Kurang ajar,kalau sampai kau berani menyentuh mereka, aku akan membunuhmu."

"Membunuhku? Melihat saja tidak bisa? Kau sudah buta Taeyong, jangan harap kau bisa melindungi mereka seperti yang kau lakukan dulu." BRUKK! Johnny menabrak Taeyong hingga Taeyong terjatuh. "Ups maaf, sengaja." Ucap Johnny sambil berlalu.

Jeno melihat dari jauh Johnny mendorong Taeyong hingga Taeyong terjatuh dan Johnny melenggang pergi. "Taeyong!"panggil Jeno. Ia berlari menghampiri Taeyong dan membantunya berdiri."Kau tidak apa-apa?" Taeyong menggeleng. "Perban matamu basah, kau menangis Tae?" Lagi-lagi ia menggeleng. "Kau tidak bisa berbohong padaku. Ada apa? Apa yang terjadi?"

"Kalau aku buta, apa kau akan terus bersamaku? Kalau aku tidak bisa melihat lagi apa kau tetap akan disampingku? Bagaimana aku bisa mejagamu kalau aku saja tidak bisa menjaga diriku sendiri?"

"Kau bicara apa? Kau akan sembuh Taeyong, kau akan sembuh."

"AKu berjanji akan menjagamu dan Yuta hyung tapi sekarang melindungi diriku sendiri saja aku tidak bisa, bagaimana aku bisa melindungi kalian berdua?"

"Kau akan sembuh dan akan melindungi kami berdua." Taeyong memeluk Jeno dan menangis. Ia menangisi dirinya yang saat ini tak berdaya karena keadaannya. Yixing melihat mereka dari jauh, 'Umma akan berjuang untukmu sayang.'

.

.

"Aaaa… buka mulutmu Taeyong, aku pegal tau dari tadi memegang es krim tapi kau tak kunjung membuka mulutmu." Ucap Jeno sebal. Taeyong terkekeh, ia membayangkan kalau saat ini Jeno tengah mempoutkan bibirnya sebal.

"AKu sudah kenyang sayang. Es krim itu kau saja yang habiskan." goda Taeyong.

"Yak kau ini. Kau baru makan 2 sendok dan kau bilang kau sudah kenyang. Kau ingin ku bunuh ya?"

"Bunuh aku dengan cintamu." PLAKK! Jeno menggeplak lengan Taeyong. "Oww sakit.. oww.. arrghh sakit.." Taeyong berpura-pura merintih kesakitan.

"T-Taeyong k-kau baik-baik saja? mana yang sakit? Mana yang sakit?" Jeno terlihat panic. Ia memegang lengan Taeyong yang baru saja ia pukul. Taeyong tersenyum, ia berniat mengerjai Jeno. "Cium aku, kalau kau menciumku sakitnya pasti hilang."

"Huh? Menciummu? Tidak mau, kau pasti membohongiku, aku tidak mau." Tolak Jeno. Tapi Taeyong tak kehabisan akal. Lagi-lagi ia merintih kesakitan, "Oww sakit.. uhh pasti merah ini,sakit.."

"S-sakit lagi. Ya-ya jangan begitu. B-baik a-aku akan mencium-mu." CUP! Jeno mencium pipi Taeyong, "S-sudah baikan?" Taeyong menggeleng, ia menunjuk bibirnya. "MWO!"

"Aduhh sakit.." rintih Taeyong bohong. Jeno terlihat bingung tapi dengan terpaksa ia mencium bibir Taeyong. CUP! Dan tiba-tiba tangan Taeyong menahan ciuman Jeno dengan memegang kedua pipinya. Jeno terbelalak. Taeyong melepas ciumannya sejenak kemudian kembali mencium Jeno. Mereka berciuman cukup intens hingga frech kiss. Setelah merasa kehabisan oksigen Jeno memukul lengan Taeyong dan Taeyong pun melepas ciumannya. Wajah Jeno memerah, nafasnya terengah-engah.

"Jangan tinggalkan aku."Pinta Taeyong. Jeno mengangguk."Sepertinya aku mulai menyukaimu."Jeno tersenyum. Taeyong merengkuhnya dan memeluknya dengan erat. "Apapun yang terjadi jangan tinggalkan aku."

"Ne, aku janji." Taeyong melepas pelukannya dan disaat itu juga Jeno mengambil sesuatu dari sakunya. Sebuah kaling dengan bandul logo maze exo. Kemudian ia memakaikannya pada Taeyong. "Eh.. apa ini?" Taeyong meraba kalung yang dipakaikan Jeno untuknya.

"Kalung, kalung itu akan melindungimu Taeyong. Selama kau memakai kalung ini, kau akan terlindungi. Jangan sampai ini lepas. Janji?" Jeno mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Taeyong. "Janji." Ucap Taeyong. Jeno menyandarkan kepalanya di bahu Taeyong.

"Taeyong, aku merindukan orang tuaku." Ucap Jeno sambil menghela nafas.

"Kau kan bisa mengunjungi makamnya kalau kau merindukannya. Apa kau mau aku temani?" Jeno menggeleng.

"Aku ingin bertemu mereka tapi bukan dalam mimpi. Aku benar-benar ingin bertemu mereka."

"Kau ini bicara apa, jangan membuatku takut."

"Berjanjilah kalau aku pergi, kau tidak akan sedih dan kau akan mengunjungiku bersama Yuta hyung sebagai sepasang kekasih."

"Jeno, jangan bicara macam-macam. Sudah diam jangan bicara lagi. Kau tidak akan kemana-mana dan kau akan tetap disampingku, selamanya."

"Janji dulu baru aku akan diam."

"Hah kau ini. Ne-ne aku janji. Puas kau." Jeno menggenggam erat tangan Taeyong, seolah hari esok tidak akan ada lagi.

.

.

"Aku pulang dulu, besok aku kesini lagi. Ingat kau tidak boleh menyerah. Aku akan terus mendukungmu. Fighting!" Jeno berpamitan pada Taeyong.

"Ne, siap kapten."

"T-Tuan Lee, saya pulang dulu." Pamit Jeno pada Yixing.

"Ne, hati-hati." Jeno melepas genggaman Taeyong. Entah kenapa bagi Taeyong itu terasa berat sekali, ia tak mau Jeno pergi hingga pintu tertutup tangan Taeyong masih terulur. Ia menyentuh bandul kalungnya dan menggengamnya erat.

SECOND CHANCE

Setelah dari rumah sakit Jeno masuk kerja terlebih dahulu dan Pukul 10.30 Jeno pulang kerja. Ia berjalan menuju rumahnya melewati jalan memutar karena jalan biasanya sedang ditutup karena ada perbaikan. Jalan yang dia lewati kali ini yang cukup sepi. Saat ia berjalan melewati mini market, ia melihat seorang namja yang dicegat segerombol namja yang berjumlah 4- 5 orang dijalanan sepi, ia juga melihat mobil menunggu mereka. Sepertinya namja itu baru saja belanja, dilihat dari kantung belanja yang dia bawa. Jeno menajamkan penglihatannya dan ternyata namja yang diganggu itu adalah Yuta. Yuta terus memberontak saat akan dibawa ke mobil. Jeno berlari dan mencoba menyelamatkan Yuta. "Hyung!" teriak Jeno. Ia merengsek masuk dalam kerumunan dan melepaskan Yuta dari cengkraman para namja itu, ia juga mengarahkan tendangannya pada namja yang ada di depannya hingga namja itu jatuh tersungkur "Hyung larilah. Cari bantuan."

"Jeno.."

"Cepat pergi…" Yuta mengangguk kemudian berlari menjauh dan menghilang tak lama setelahnya. Jeno mengabil posisi kuda-kuda dengan tangan terkepal dan mengarah ke mereka berlima.

"Kau berani melawan kami, anak kecil." ucap namja yang bernama KiJoon pada Jeno. Jujur Jeno ketakutan tapi mau bagaimana lagi ia sudah terkepung ia hanya bisa menunggu bantuan datang. "Tangkap dia, yang tadi biarkan saja, namja ini tak kalah manisnya dengan yang tadi."perintah Seulong. Daesung dan Leekyung menangkap Jeno. Jeno berusaha melepaskan diri namun kepalanya dipukul dari belakang oleh Ilhoon hingga ia pingsan. Jeno pun dibawa dengan mobil dan pergi dari tepat itu. Yuta pun segera keluar dari persembunyiannya, ia merekam semua yang terjadi dan juga memfoto mobil itu. Dengan tubuh gemetar ia menelpon Changmin.

Tut-tut-tut-tut "Angkat Appa!" PIP! "Yeoboseyo, Yuta sayang, ada apa? Kau jadi menginap dirumah Jisung kan?"

"N-ne ap-appa." Jawabnya gemetar ketakutan.

"Kau kenapa? Ada apa? Yuta kau dimana?" Tanya Changmin panic.

"A-appa t-tolong aku.." ucap Yuta dengan nada gemetar.

"K-kau dimana? Jangan buat Appa khawatir."

"A-aku di m-mini market dekat r-rumah J-Jisung. A-appa to-tolong. J-Jeno diculik." Ucap Yuta ketakutan.

"Appa akan kesitu jangan kemana-mana."

"Ne-ne A-Appa." PIP! Yuta mematikan ponselnya, ia bergetar ketakutan. Keringat dingin keluar dari pelipisnya. Ia tetap bersembunyi dan menunggu Changmin datang.

.

.

Jeno dibawa ke gedung tua yang tempatnya jauh dari kota. Mereka berlima masuk ke dalam sebuah ruangan seperti markas mereka dan membawa Jeno ke dalam sebuah kamar. Tubuhnya dibawa seperti karung beras dan dijatuhkan begitu saja di bed berukuran kingsize dikamar itu. "Akkhh.." Jeno mulai sadarkan diri. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan memegang kepala belakangnya yang terasa masih nyeri. Jeno pun benar-benar membuka matanya. Ia melihat kelima namja itu berdiri di hadapannya dan terkekeh melihat Jeno. Ia ketakutan, Jeno meringkuk di dekat headboard. 'Tolong aku siapa saja.' gumam Jeno.

"Let's play boys!" ajak Kijoon. Mereka berlima melucuti pakaian masing-masing hingga mereka full naked dan berjalan mendekati Jeno yang semakin ketakutan. "Jangan mendekat. Pergi!" Jeno melompat dari bed tapi ia terdesak di pojok dan tak bisa bergerak lagi. Ia ditarik Seulong dan Daesung.

"Andwee! Jangan sentuh aku. Pergi!" ronta Jeno tapi mereka malah semakin terkekeh.

"Ayo manis, kalau kau tidak melawan, kami akan memberikanmu kenikmatan."

"Andwee-andwee!" BRUKK! Lagi-lagi tubuh Jeno dilempar ke bed. Kedua tangannya dipegang Daesung dan Seulong, ia dtindih Kijoon. Kakinya juga ditahan Leekyung dan Ilhoon.

"Jangan sentuh aku, pergi, pergi kalian!" airmata Jeno mengalir deras, ia benar-benar ketakutan setengah mati saat ini. SREAK! Kemejanya dirobek paksa oleh Kijoon. Kijoon menyeringai. "Are you ready babe?" mereka semua tertawa. "Watch it!"

"Andwee!" jerit Jeno dan malam itu merupakan malam yang sangat kelabu untuk Jeno.

TBC

Maaf ceritanya semakin gaje.

Butuh review buat perbaikan. Jangan bash author ya, author juga kerja keras lo buat cerita ini.

terima kasih untuk selalu menunggu update'an cerita ini.

maaf kalo banyak typo bertebaran. buat para pembaca setia ff ku terima kasih banyak