A/N: aaaaaa! Udah berapa bulan ga apdet ini?! ini nih ya, gegara males banget apdet fic ini saya jadi berasa buron diterror sana-sini buat apdet fic ini. Padahal kalo diliat-liat followers sama review fic ini dikit loh-,- dan akhirnya relain waktu tidur malem berkurang 2 jam deh :') janji deh! Ini apdet-an yang terakhir sebelum UN (9,)9 #okesip


To:

Moku-Chan: Hontou ni arigatou atas reviewnya. S-souka? Sampe terharu.-. wkwk, menurutku ini cerita terlalu persis sama sinetron Indonesia-_-v pas baca ulang, bikin aku ilfeel sendiri…

Guest: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Hehehe._. update cepet ya? *tiba-tiba hening* eto… ano… hontou ni gomenasai (-/\-) ga bisa update cepet.

Namikaze Narita-chan: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Itu… Minato kebawa emosi deh kayaknya jadi sampe gituin Kushina._.v eh-eh… kalo masalah Naru milih Gaara ato Sasu, kita liat di ending :p kan ga asik kalo dikasih tau sekarang.

Tinta Hitam: Makasih reviewnya. Asdfghjkl! Ga sabar buat cepet-cepet selesai UN dan ketemuan XD sip! Udah diapdet walopun ngadat setahun.

Haru'uchiha'chan: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Iya, tenang aja. Berhubung cerita ini sinetron abis*?* endingnya juga bakal kubuat happy ^^

Xxruuxx: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Hehe.-. selamat! Anda mendapatkan hadiah karena tebakannya bener XD silahkan diambil dan diketikkan dikotak review #salahwoy *author licik*

Devzlee: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Iya sih update terus.-. tapi gomen lama.

violetIce 1728: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Siphow! Ini udah lanjuthow(bahashow aphow inihow -_-)

BlueDragon1728: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Ini udah lanjut, gomen ya, baru apdet setelah ampir setahun ini-,-

Yukihime: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Minato Cuma kebawa emosi, kok(mungkin). Sasuke baik hati mungkin agak ooc ya jadi kesannya? Oke sip ini udah diapdet.

Alita-chan: Hontou ni arigatou atas reviewnya. Seru dari mananya ya? Ini asli pas aku baca ulang ternyata berasa sinetron labilebayalay abis-,- dan sempet mikir 'kok aku bisa bikin cerita sinetron begini, ya?' eh tapi untung aja banyak yg suka :') Makasih banyak ya, jadi ga terlalu minder -_-b ini udah diapdet.


CopyrightbyMasashi Kishimoto

I Hate My Life

By:Kuas tak bertinta

Warning: OOC, angst, cerita berlebihan, typo(s), cerita agak maksa, author kurang pengalaman, gender bender, gak suka? Jangan memaksakan diri untuk melanjutkan bacanya o:)

I HATE MY LIFE

Keheningan dengan cukup banyak bumbu kecemasan menyelimuti koridor rumah sakit itu. sepasang mata merah terus menatap intens ruang ICU. Sedangkan sepasang mata biru milik sang adik hanya menatap kosong ke depan. Dirinya kini tengah sibuk berpikir dan berbicara dengan pikirannya sendiri. Sedangkan tampak dua orang pemuda berambut hitam dan merah lain yang duduk di sebelah gadis pemilik mata biru itu.

Naru's POV:

Tou-san lagi, Tou-san lagi… kenapa sih? Di saat aku ingin memaafkannya dia malah menciptakan kejutan baru untukku… sebenarnya apa yang ada dipikiran Tou-san?! Sebegitukah ia membenci Kaa-san? T-tapi… kenapa? Kenapa ia membenci Kaa-san? Kalau ia membenci Kaa-san, seharusnya dari awal ia tak perlu memilih Kaa-san sebagai istrinya, kan? dan dengan begitu… aku tidak perlu muncul di dunia ini dan merasakan semua penderitaan ini…

Tunggu… apa benar dari awal Tou-san mencintai Kaa-san? Kalau memang begitu… kenapa Tou-san mengkhianati Kaa-san dengn menikahi orang lain? Orang lain yang bahkan sudah mempunyai anak dan berstatus sebagai janda.

Lalu… sejak kapan Kaa-san menderita sakit jantung seperti itu? ah… aku benar-benar anak yang durhaka, bahkan hal sefatal itupun aku tidak tahu.

"Sasuke, Naru! Hah, sedang apa kalian di sini?! Ayo pulang! Untung saja Sasuke menemukanmu! Tou-san benar-benar mengkhawatirkanmu, nak! Dan… siapa yang sakit?" suara Tou-san kini merambat hingga masuk ke dalam telingaku. Membuatku menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang… ah, sudahlah, susah untuk dijelaskan.

"… dan, kenapa ada Kyuubi di sini?" raut wajah Tou-san semakin heran melihat Kyuu-nii.

Kyuu-nii menatap ke arah Tou-san dengan jijik. Lalu segera bangkit berniat membuat keributan di tengah koridor rumah sakit.

"Kau kan?! kau yang membuat Kaa-san masuk ke rumah sakit ini?! Kau benar-benar manusia gila! Belum cukup membuat kami menderita begini?! Tidakkah cukup kau mengambil imouto-ku?! Lalu sekarang kau juga mencoba membunuh Kaa-san, hah?!" tangan Kyuu-nii mencengkram kuat kerah baju Tou-san, sedangkan tangan lainnya mengepal siap menghantam wajah Tou-san. Membuatku sedikit bergidik dan reflex mencoba menengahi.

"Aniki, Tou-san! Sudahlah! Ini rumah sakit! Tidak bisakah kalian bicarakan semuanya dengan tenang?!" aku sedikit menaikkan volume suaraku.

"Dengan tenang?! Kau pikir aku bisa tenang melihat manusia yang membuat Kaa-san kita sekarat di depan mataku sekarang, Naru?!"

"Baka! Dan, bisakah kemarahanmu membuat Kaa-san sehat kembali?!" aku membalas sanggahan Kyuu-niii.

"Ah! Aku tidak peduli! Dendam Kaa-san harus dibalaskan!"

"Kau harus peduli! Mereka kedua orang tua kita! Sejahat apapun mereka!" aku menepis tangan Aniki dari kerah baju Tou-san.

"… Sudahlah, kita bicarakan baik-baik. Kita bertiga… karena kita, satu keluarga," Tou-san menepuk bahu kami berdua. Membuat amarah kami sedikit menyurut.

.

Normal Pov:

"Jadi… Kushina sakit?" Tou-san berkata lirih dengan pandangan kosong.

"Ya… dan kau dengan berwibawanya malah menghancurkan kedamaian rumah tangga kami…" Kyuubi mengalihkan pandangannya dari mata biru sang ayah.

"A-aku… aku tidak tau jika keegoisanku mengakibatkan Kushina jadi begini…" tampak dengan jelas raut wajah Minato yang menyesal.

"Ya, kau hanya mempedulikan Naru, Naru, dan Naru saja… seolah Naru memang hanya milikmu seorang!" Kyuubi semakin menjadi.

"Ya… aku benar-benar menyesal… apa yang harus aku lakukan sekarang?"

"Tou-san… menyesal?! Tou-san menyesal karena telah menyakiti Kaa-san? Itu artinya… Tou-san masih menyayangi Kaa-san, kan?!" Naru segera mendahului sebelum Kyuubi melakukan tindakan sarkasme lagi.

"Mungkin. Bagaimanapun juga, aku pernah mencintainya." Jawab Minato. Jujur.

"Hah! Bagus! Kalau begitu, kembalilah pada Kaa-san!" Naru menyahut lebih antusias.

"HAH?! Kau gila?! Kau dicekoki apa sampai bisa berpikiran tidak realistis begitu?! Manusia ini kembali pada Kaa-san?! Kau ingin membunuh Kaa-san dengan segera?! Tidak! Aku menentang!" Kyuubi dengan nyolotnya kini menentang saran Naru. Membuat Naru menatapnya jengkel dengan segera.

"Itu tidak mungkin Naru… Tou-san sudah memliki Mikoto dan Sasuke sekarang. Lagipula… mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama…"

"Cih! Takdir, takdir, takdir terus! Kalau tidak dicoba, mana kita tahu, kan?!"Naru menatap tajam ke arah Minato.

"Ya, memang tidak akan tau. Tapi, Tou-san cukup memprediksinya. Semuanya sudah jelas! Dengan fakta adanya Mikoto dan Sasuke, tak mungkin Tou-san menceraikan Mikoto dan kembali lagi pada Kaa-san, itu bukan segampang memasak air, Naru. Lalu, Tou-san pikir lebih baik jika kita membangun rumah tangga masing-masing dan melupakan semuanya, memulai semuanya dari nol kembali. Tou-san akan berdamai dengan Kaa-san. Dan kalian berdua, bisa bebas saling menemui kami bergantian."

"Itu ide yang bagus! Kecuali bagian menemui Tou-san nya," Kyuubi masih bertahan pada sikap sarkastiknya.

"Anikiiiii! Tidak bisakah kau melunak sedikit?! Tou-san bahkan tidak sejahat dulu lagi dan kau masih sok angkuh begitu?!" Naru menatap Kyuubi kesal setengah mati.

"Ya-ya, aku hanya bercanda… Tou-san…" Kyuubi mengalihkan mata merahnya menatap mata biru Minato.

"Aku minta maaf… Maafkan semua perkataan kasarku," dan beberapa detik kemudian, Kyuubi memeluk Minato dengan hangat. Naru hanya menatap lucu sang kakak yang menurutnya childish dan tsundere itu.

"Ekhem! Jadi bener ini ya? Naru boleh dengan bebas keluar masuk rumah Kaa-san dan Kyuu-nii, kan?! menginap sampai selama-lamanya?!"

"Eh…! Apa-apaan itu?! kan tadi Tou-san bilang 'bergantian' bukannya selamanya begitu!" Minato menatap kaget Naru yang mulai berkhianat darinya.

"Hehehe, gak kok… aku bercanda! Okedeh, ah… ternyata Tou-san tak sejahat yang Naru kira… Naru pikir Tou-san itu Cuma pria egois dan suka menyakiti orang lain saja!"

"… Naru… kau tau, perkataan Naru yang barusan itu kesannya menusuk sekali, ya?" Minato tersenyum masam menanggapi argument putrinya.

.


Dua sosok manusia kini terlihat tengah berjalan-jalan di halaman rumah sakit.

"Jadi… kau benar-benar berubah hanya karena melihat Naru?" Sasuke mencoba mengusir keheningan yang tercipta di antara mereka berdua.

"Ya… begitulah. Naru membuatku berpikir bahwa tindakanku itu benar-benar berlebihan. Karena membenci sesuatu, aku bahkan mati-matian ingin membuat hal yang tidak kusukai itu menderita. Konyol sekali, ya?" Gaara menjawab.

"Ya, memang konyol. Kalau aku jadi kau, aku akan menjauhi hal yang tidak kusukai itu, bukannya menghancurkannya. Buat apa kita repot-repot meladeni hal yang bahkan kita benci?"

"Ya, benar. Tapi dengan meladeni hal yang kita benci itu, membuat kita sedikit berubah karena ternyata hal yang kita benci itu tidak seburuk yang kita pikirkan. Bahkan sekarang, mungkin aku menyukai hal yang kubenci itu," Gaara sedikit tersenyum sembari menatap gumpalan awan di langit.

Sasuke terdiam. Dengan gerakan yang sedikit patah-patah, ia menolehkan kepalanya ke arah Gaara.

"Hey, kenapa menatapku dengan pandangan seperti itu? kau terlihat berlebihan, Sasuke!" Gaara menyeringai mengerti maksud tatapan Sasuke.

"bercandamu tidak lucu, Gaara."

"Tapi aku tidak bercanda! Sesuatu yang kubenci itu benar-benar membuatku suka padanya!" Gaara mencoba meyakinkan Sasuke.

"Tapi dia adikku, dan aku tak akan membiarkannya berdekatan denganmu yang notabane-nya manusia mesum!" Sasuke menanggapi ucapan Gaara dengan sarkastik. Seolah tak rela jika Gaara menyukai Naru.

"Baguslah jika kau sadar bahwa dia adikmu…" Gaara semakin menyeringai lebar.

Sasuke terdiam tak bisa membalas. Ia seolah menjilat ludahnya sendiri, perkataan Gaara yang barusan membuatnya seolah menjadi sobekan-sobekan kertas. Ya, mereka berdua memang menyandang status sebagai kakak dan adik. Ikatan saudara yang membuat keduanya terbatasi.

"Ah! Sepertinya aku melihat hubungan incest di sini! Ini pasti akan sangat menarik, Sasuke!"

"Aku bukan incest!" Sasuke mencoba menyangkal.

"Hey, siapa yang bilang kau incest? Aku hanya bilang melihat incest, bukannya mengataimu incest!" Gaara semakin membuat Sasuke gila sekarang.

"Gah! Terserah apa katamu, Sabaku idiot!" Sasuke segera memasang earphone di kedua telinganya dan menyalakan lagu dengan volume yang lumayan keras, berusaha menyamarkan suara Gaara yang semakin membuatnya naik pitam.

'Aku tau kau juga menyukainya, Sasuke… tapi sayangnya, aku bukanlah orang yang akan mengalah dengan mudahnya. Lagipula, aku beberapa langkah lebih unggul darimu sekarang, Sasuke…'

.

Sudah hari ke-enam Kushina terbaring di rumah sakit. Memang bukan di ruang ICU lagi, hanya di ruang rawat inap. Namun tetap saja, tampaknya ia masih belum berniat membuka matanya dan kembali berjuang melawan kerasnya kehidupan dunia nyata.

Minato, Kyuubi, Naru, dan Sasuke serta Mikoto bergantian menjaga Kushina. Kelimanya menunggu kesadaran Kushina. Bahkan mereka ikut menginap di rumah sakit demi Kushina.

"Naru, Sasuke… gantilah baju dulu, setelah itu makan siang. Kaa-san membuat ayam goreng tepung. Ada di rantang sana," Mikoto menyuruh keduanya berganti pakaian, lalu matanya kembali menatap sosok manusia yang kini terbaring lemah di atas ranjang dengan berbagai alat bantu yang melekat di tubuhnya.

"Sasuke-nii! Aku duluan yang memakai kamar mandinya! Ladies first!" Naru mencoba mencari alasan agar bisa mendahului sang kakak.

"Cih! Menjijikan! Bahasa inggrismu buruk sekali, dobe! Dan jangan panggil aku dengan 'Sasuke-nii'mu yang alay itu!"

"Hih! Gini-gini statusku udah 'bule wanna-be' ya! Kau kan Aniki-ku! Sudah sepantasnya kupanggil begitu!" Naru menjawab dengan narsisnya.

"Yaya, terserah!" setelah mengucapkan dua kata singkat itu, terdengar bunyi pintu kamar mandi yang tertutup. Oh, Sasuke dengan sigap menutupnya saat naru lengah rupanya.

"Cih! Curang!" Naru yang sempat sweatdrop kini mendecih dan terpaksa menunggu Sasuke.

"Naru, bagaimana sekolahmu hari ini?" Mikoto mencoba membuka pembicaraan. Ya, memang hubungan keduanya masih canggung karena Naru belum terbiasa dengan Mikoto. Dan kini, Mikoto mencoba membuat keakraban diantara mereka.

"Hm… seperti biasa, Kaa-san… Cuma, jadi lebih menyenangkan! Naru ga dibully-bully lagi, Saku en de genk*?* jadi mendadak baik gitu sama Naru, ga tau deh kenapa. Mungkin udah di sadis-sadisin sama Sasuke dan Gaara kali, ya?" dengan lancarnya Naru bercerita tanpa ada rasa canggung sama sekali. Hal itu membuat Mikoto tersenyum. Ya, setidaknya Mikoto kini bisa melihat sisi lain dari Naru. Melihat sifat asli Naru yang sebenarnya sangat hangat.

"Eh iya, Kaa-san udah makan belum? Kalau belom nanti makan bareng sama aku dan Sasuke aja…"Naru menawarkan.

"Udah, sebelum kalian pulang tadi Kaa-san sudah makan…"

"yah, okedeh… Oh iya, Tou-san kapan pulang? Nanti Tou-san langsung ke rumah sakit, kan?"

"Katanya sih jam tujuh malam nanti sudah selesai kerja, dan iya… dia langsung ke sini," lagi-lagi Mikoto tersenyum.

Mikoto mengalihkan pandangannya kembali ke arah Kushina. Mikoto berpikir, betapa beruntungnya menjadi Kushina. Memiliki kedua anak yang sangat menyayanginya lebih dari apapun. Ya, walaupun cara mereka menyayanginya itu berbeda-beda. Seperti Kyuubi yang lebih ke kasar dan blak-blakan, dan Naru yang lebih ke ceria dan penuh kehangatan. Namun, ia juga merasa beruntung karena memiliki Sasuke. Anak yang sangat berbakti dan membahagiakan dirinya.

Jika dari awal semuanya seperti ini, mungkin akan terasa berbeda.

.

Hari sudah menunjukkan pukul Sembilan malam. Semua kini berkumpul di dalam kamar rawat Kushina. Masing-masing dari mereka terus berharap akan kesadaran Kushina.

Elektrokardiograf yang berada tepat di samping ranjang pasien terus menampilkan guratan-guratan lemah. Seolah tidak akan ada keajaiban yang akan terjadi.

Naru mendekati ranjang, menggenggam tangan sang Kaa-san dengan penuh kasih sayang. Mata birunya menatap teduh raut wajah tenang sang ibu.

"Sadarlah, Kaa-san… Naru janji, akan menjadi anak yang baik…" janjinya dengan lirih.

Ia bergeming. Namun tidak kunjung ada keajaiban yang terjadi. Dengan tak rela, dilepaskannyalah tangan ringkih itu. namun, tangan itu kini menggenggam tangannya erat.

Mata Naru membulat. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat ia menatap wajah Kushina.

Mata itu… mata itu perlahan membuka!

"Kaa-san?! Kaa-san sudah sadar?! Hountou ni Arigatou, Kami-sama!" ekspresi Naru berubah drastis.

Semua yang ada di kamar terlonjak kaget dan segera meninggalkan aktivitas mereka, mencoba mengerumuni ranjang.

"Kushina! Kushina! Kau sudah sadar?! Maafkan aku, a-aku tidak tahu jika kau akan jadi begini! Maafkan aku, aku menyesal, sungguh!"Minato langsung angkat bicara.

"Kaa-san! Aku sangat menyayangimu! Jangan tinggalkan kami lagi!" Kyuubi ikut berpatisipasi.

Mikoto dan Sasuke hanya bisa terdiam. Namun aura kebahagiaan ikut menulari mereka.

"Ya… Aku tau. Arigatou. Aku memaafkanmu, Minato. Kaa-san menyayangi kalian semua,"senyum lembut terukir di bibir Kushina. Lalu dengan perlahan Kushina kembali memejamkan matanya. Kali ini, untuk selamanya.

Elektrokardiograf itu kini hanya menampilkan garis horizontal tiada henti.

TBC or END?


A/N: aiiiih! Maafkan sayaaaa! Ini ga tau lagi mau dibuat kayak apa! Maaf ya bikin Kushinanya meninggal -….- aduh, sempet galau mikir enakan buat Kushi isdet ato nggak, soalnya kalo meninggal, nanti SasuNaru ga bisa bersatu-,- tapi saya dapet ide alternative :') sekali lagi gomen ya, udah buat Kushi meninggal. Dengan cara yang ga elit lagi-,-

Ah, sadar ga sih kalo di chap ini aku buat semuanya jadi akrab lagi? Saya buat Kyuu-Naru-Mina jadi akrab, Gaara Sasu juga jadi baikan, terus Mikoto jadi deket sama Naru. Hehehe…

Chap depan tamaaat! Chap depan endingnya! Oyeoye, dan bakal apdet setelah UN SMP-_-v

Okesip. Mind to review?

Kuas tak bertinta