Anime Boy
Pair: V-Kim Taehyung, Jeon Jungkook
Romance/Friendships/Schoolife
YAOI, BL, BOY X BOY, TYPHOS, ABAL, OOC
DON'T LIKE DON'T READ
Minatozaki Sana, Tzuyu-TWICE member
Chapter 9: Crazy Little Thing Called Love
.
.
.
I give it to you
Although it was a bit awkward,
I want to give it all to you
I give it to you
To me, who sometimes cries and laughs,
it's only you
For you
...
"Kau benar-benar tampak kacau seperti ada badai yang baru saja menerjangmu hari ini." Kalimat itulah yang pertama kali terucap heboh dari bibir semok Park Jimin ketika pagi itu ia berpapasan dengan Jungkook di depan pintu kelas.
Jungkook tak berkomentar, bahkan ketika Jimin memapah tubuhnya yang sempoyongan seperti orang mabuk untuk berjalan ke dalam kelas dan langsung rubuh di bangkunya sendiri.
Kepalanya pusing dan berasap. Jungkook terjaga sepanjang malam, menyebabkan lingkaran hitam terpapar jelas di bawah kedua mata bulatnya yang sekarang retak-retak perih serta tubuhnya lemas. Serasa seperti orang yang sehabis mabuk dan dugem di bar sepanjang malam. Padahal yang dilakukan Jungkook hanyalah berguling-guling kalut di atas ranjangnya sampai pagi karena tak bisa berhenti memikirkan seseorang.
Kelas yang damai dengan para guru yang memberikan rentetan penjelasan materi pelajaran di depan kelas bak lagu penghantar tidur sungguh merupakan tempat beristirahat yang sangat ideal. Beberapa lemparan kapur yang dilayangkan oleh guru sejarah paling killer pun tak sanggup untuk membuat otak Jungkook terfokus pada ocehan sang guru di depan kelas.
Karena itu, dua jam pelajaran sejarah dilewatkan Jungkook dengan berdiri di luar pintu kelas sambil mengangkat ember berat di masing-masing tangan. Jungkook didepak keluar dari kelas begitu mudahnya dan melakukan hukumannya dengan senang hati.
Lalu di jam pelajaran olahraga, Jungkook yang berdiri ngeblank di tengah lapangan tidak menyadari operan Jaehyun, bola sepak seberat 445 gram telak menghantam wajahnya.
"Kau benar-benar menyedihkan hari ini." Jimin menyerahkan iba sebotol minuman sport kala Jungkook menyeka hidungnya yang berdarah di jam istirahat siang itu. "Ada sesuatu yang salah?"
"Tidak ada, aku baik-baik saja."
"Bohong, keadaanmu mengkhawatirkan."
Jungkook tak menjawab, membuat si rambut merah diyakinkan bahwa benar-benar ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya itu hari ini.
"Ngomong-ngomong kenapa hari ini Taehyung-sunbae tak kelihatan ya?"
"UHUK UHUKKK!" Jungkook yang baru saja menenggak tegukan besar tersedak. Jimin berbaik hati menepuk-nepuk punggungnya selagi dahinya mengerut curiga mendapatkan reaksi yang berlebihan.
Well, Jungkook seharusnya tahu cepat atau lambat Jimin orang paling kepo sedunia akan menanyakkan perihal absennya Taehyung di sampingnya.
Dan parahnya, justru hal itulah yang paling mengganggu Jungkook saat ini.
"Oi, ayo ke kantin!" Jimin menyerah menantikan jawaban. Bisa-bisa dia keburu lumutan sebelum Jungkook bersuara. Rasa lapar dan lelah sehabis olahraga membuatnya menyerah pada rasa penasarannya kali ini.
"Huh?" Jungkook menggaruk tengkuknya bingung, mendadak blank.
Jimin mengerang gemas lalu merangkul bahu sahabatnya. "Aku yang traktir, ikut saja!" Setelah satu kalimat yang membuat mata bulat si rambut hitam berbinar karena cacing di dalam perutnya sudah berteriak protes sejak tadi, Jimin langsung menariknya ke gedung utama.
Lumayanlah, makan gratis.
Sejak jaman sekolah dasar Jungkook sudah tahu Jimin itu memang orang berdompet tebal namun ia bukanlah malaikat jatuh dari surga yang mau bermurah-murah hati mentraktir seseorang kecuali—uhuk—Min Yoongi. Berapa kali Jimin mentraktir Jungkook dalam setahun bahkan bisa dihitung dengan jari, jadi mumpung ada kesempatan langka kenapa tidak dimanfaatkan? Apalagi bagi anak rantau yang notabene harus berhemat dalam pengeluaran, hal ini tentu menjadi rejeki besar untuk Jungkook.
"Mau makan apa? Pilihlah sesukamu."
Mata Jungkook tak bisa lebih berbinar lagi dari ini. Ya Tuhan, Jimin salah makan apa kenapa dia baik sekali hari ini sih?
Seporsi jajangmyeon dan segelas jus jeruk segera menjadi pilihan Jungkook. Setelah Jimin membayar makanannya, mereka memutuskan untuk mencari tempat duduk.
"Dimana saja tak masalah." Ujar Jungkook riang, membuat Jimin tersenyum geli teringat akan sifat kekanakan sahabatnya sewaktu SD dulu.
Terimakasihlah pada Tuhan kalau penyebab semua keanehan Jungkook hari ini hanya karena lapar. Tapi memang mau semudah apapun mengembalikan mood labil Jungkook, kantin saat ini penuh seperti medan perang karena sedang jam makan siang. Jimin tak yakin masih ada tempat duduk yang kosong. Yah, kalau sial mereka masih bisa makan di lantai, tapi rasanya itu terlalu ngenes dan tidak etis.
Namun keparnoan Park Jimin hilang dalam sekejap ketika jemari ramping seputih salju melambai singkat dari jarak 10 meter ke arahnya.
"Kita ke tempat Yoongi-hyung!" Kedua mata Jimin langsung berkilat segar. Haha, kekuatan cinta. Asalkan ada makanan, Jungkook sih oke saja. Karena itu ia mengikuti Jimin menyelinap diantara meja-meja dan hiruk pikuk kerumunan siswa kelaparan.
"Oi, Jimin-ah!" Dalam sekejap saja mereka sudah dapat menemukan sosok Yoongi yang tengah melahap chicken katsu di meja sudut, bersama seseorang yang duduk memunggunggi mereka.
Jimin berlari antusias menghampiri meja tersebut bagaikan kesetanan, tepat di saat kedua biner gelap Jungkook melebar menangkap surai oranye yang sudah amat familier di benaknya itu berkibar pelan ketika pemiliknya membalikkan badan.
Kim Taehyung. Si senpai otaku brengsek pemikat hati.
...
"Oi diam sebentar, kau mau membuatku tersedak sialan?" Min Yoongi menggeser duduknya risih, merasa mual dan hampir meledak dengan Jimin yang sejak tadi cengar-cengir najis di sebelahnya.
"Ah, jangan pedulikan aku. Lanjutkan saja, hyung-nim."
"Apa kau tak lapar?"
Nyengir lagi. "Tadinya sih lapar, tapi melihatmu makan sepertinya aku sudah ke—AW MAAF HYUNG!" Cengiran Jimin justru semakin melebar bahagia saat Yoongi menginjak sadis kakinya di bawah meja dengan wadah merah padam. Namun meski tahu begitu juga Jimin tak kunjung berhenti menggoda dan menggombal Yoongi agar lelaki manis itu memberi perhatian—penuh pertumpahan darah—padanya.
Memang masokis sejati.
Tapi tunggu, sepertinya ada yang salah.
Oh, jangan lupakan sepasang lelaki yang sedari tadi menatap hambar kemesraan pasangan bantet itu.
Jungkook mengaduk canggung jus jeruknya hanya agar ada hal yang bisa dikerjakan selagi jantungnya berdebar kuat. Dalam hati ia menyumpah serapahi Jimin yang bisa dengan santainya bermesraan di saat suasana hatinya kelabu begini.
Dasar, seharusnya Jungkook tahu siapa sahabat paling dekat Min Yoongi. Dan orang itu sekarang duduk di sebelah Jungkook. Orang yang membuat Jungkook tak bisa tidur semalaman. Orang yang selalu sukses membuat jantung Jungkook kewalahan setiap kali berada di dekatnya.
KIM TAEHYUNG DUDUK DI SEBELAHNYA DEMI TUHAN TAEHYUNG TEPAT DI SEBELAHNYA ASDFGHJKLJJAJFAGA
Hanya orang tidak waras yang sanggup duduk dengan tenang di sebelah orang yang baru saja menyatakan cinta padamu. Dan orang itu bukan Jungkook.
Padahal Jungkook sudah sengaja bangun lebih pagi untuk menghindari Taehyung. Namun apa yang terjadi? Takdir yang kembali mempertemukannya dengan sang kakak kelas ingin menyiksanya lebih buruk. Dia bisa saja meninggalkan meja sekarang juga dengan beralasan perutnya tiba-tiba mulas lalu beralasan pergi ke ruang kesehatan, tapi tentu saja hal itu akan mengundang kecurigaan lebih besar dari Jimin dan yang lebih buruk mungkin membuat Taehyung tersinggung.
Serba salah.
Meski wajah Jungkook sudah mulai panas dan keringat dingin membanjiri tubuhnya, ia sama sekali tak merasakan suara atau pergerakan dari Taehyung di sisinya. Sulit menebak apakah saat ini Taehyung juga sedang kesulitan bernafas sepertinya.
Jungkook gugup setengah mati. Nafasnya terasa tercekik akan aroma parfume lemon segar dan hawa panas yang menguar dari lelaki yang duduk di sebelahnya.
Oke, tenang. Kalau Taehyung saja bisa bersikap santai seharusnya Jungkook juga bisa.
Jungkook menarik nafas dalam, memberanikan ekor matanya melirik pada senpai berambut oranye di sampingnya lalu sedetik kemudian menyesal.
Tindakannya ini malah berujung semakin mematikan pada jantungnya yang kian parah melompat-lompat saat onyx membara milik Taehyung justru membalasnya garang, mempertemukan mata mereka selama sepersekian detik hingga menciptakan sebuah getaran asing yang membuat wajah Jungkook langsung kebakaran dan dipalingkan dramatis.
Mengakibatkan susu kotak rasa pisang yang baru habis separuh diminum Jimin menjadi korban karena gerakan Jungkook yang terlalu serampangan menggoyangkan meja makan.
Taehyung tersentak, Yoongi mengumpat dan Jimin memekik.
"Maaf, minum saja jusku." Jungkook mengelap kikuk tumpahan susu di atas meja menggunakan tissue basah yang dilemparkan oleh Yoongi setelah kehebohan di meja itu mereda. Rengekan dan protes kekanakan yang dilantunkan Jimin dari seberang meja bahkan menguap begitu saja di atas kepalanya yang serasa hampir berlubang karena iris Taehyung tak berhenti memakunya tajam dari samping.
"Ck, hari ini kau kenapa sih? dasar." Jimin menggerutu, kedua alis tebalnya bertaut lucu saat ia meraih emosi gelas berisi cairan kuning pekat yang sedari tadi hanya diaduk-aduk kacau oleh Jungkook lalu menenggak isinya banyak-banyak.
"Bukan hanya Jungkook, tapi kalian berdua." Yoongi berhenti mengunyah, sumpit dalam genggamannya menunjuk kalem pada Jungkook dan Taehyung yang tiba-tiba menegang di seberang meja.
"Benarkah? Apakah Taehyung-sunbae juga aneh hari ini?" Jungkook bungkam, sementara mata bulat Jimin berkedip polos menatap dirinya dan Taehyung bergantian.
Yoongi berdeham datar. "Three point andalannya meleset semua di pelajaran olahraga. Dan bukankah amat mencurigakan bahwa sedari tadi Taehyung sama sekali tak membuka mulut padahal kita semua tahu kalau mulut terkutuknya itu tak pernah diam, apalagi ketika Jungkook ada di sampingnya?"
SKAK MAT!
Jungkook menelan ludah, ia bisa mendengar Taehyung mengumpat pelan di sampingnya. Sial, naluri Min Yoongi memang mengerikan. Dan ia tahu bahwa dirinya dan Taehyung sudah terpojok begitu melihat kilatan kepo-nan-haus-gosip terpancar jelas di wajah Jimin.
"Kukira ada angin apa aku bisa bermesraan damai dengan Yoongi hyung hari ini. Ternyata masalah cinta lagi?"
"Sialan."
"Wow. Saring kata-katamu, bro. Apakah gara-gara wajahmu terbentur bola tadi tekanan darahmu jadi naik?" Jimin tersenyum meledek. Dasar pengecut, mentang-mentang sedang ada Yoongi tiba-tiba berani cari mati.
"Jungkook terbentur bola kau bilang?" Taehyung tanpa disangka-sangka membuka suaranya.
Meja langsung hening.
"Eh.. iya. Bola datang tepat mengenai wajahnya. Dan hidungnya berdarah." Jimin menjawab segan, merapatkan duduknya takut-takut pada Yoongi.
"Hei, bagaimana keadaanmu?"
Glup.
"A-Aku baik-baik saja." Jungkook menundukkan kepalanya sedalam yang ia bisa pada piring jajangmyeon yang belum tersentuh. Enggan setengah mati hanya untuk sekedar menoleh pada kakak kelasnya.
"Kau yakin? Ada yang bisa kubantu? Apa aku perlu mengantarmu ke ruang kesehatan?" Dari suaranya Taehyung mulai terdengar panik. Jimin bersiul di seberang meja.
Demi Tuhan. Jungkook bahkan sudah lupa rasa sakitnya. Namun yang benar-benar mengusiknya saat ini adalah telinga terkutuknya sendiri, yang dengan kurang ajarnya tergoda dan menangkap suara serak Taehyung yang bersuara tepat di sampingnya amat seksi. Padahal baru sehari ia tidak mendengar suara itu.
"Tidak! Eh.. tidak perlu. Terimakasih." Jungkook menjawab salah tingkah. Sial, Taehyung yang memaksakan bersikap gentle tapi malah Jungkook yang malu.
"Setidaknya kau mengisi perut. Atau kau menunggu Taehyung menyuapkan makanan itu ke mulutmu?" Jimin terbahak, mengabaikan death glare yang dilayangkan ganas oleh Jungkook. Entah kenapa menggoda sahabatnya yang sedang kesal itu tiba-tiba terasa sangat menyenangkan, karena biasanya dialah yang akan menjadi obat nyamuk ngenes ketika sahabatnya bersama Taehyung.
Pembalasan dendam memang selalu terasa nikmat.
"Jimin, jangan kelewatan." Yoongi memperingatkan, namun toh Jungkook bisa melihat senyum terhibur di sudut bibirnya.
HELL NO GOD DAMN IT
Sial beribu sial. Entah karena kakak kelasnya itu memang perhatian atau terlalu polos, Taehyung benar-benar meraih sumpit dan mulai menjepit jajangmyeon di piring Jungkook. Tawa Jimin dan Yoongi meledak di seberang meja. Jungkook mengumpat.
"S-Senpai, tidak perlu! Terimakasih.. tapi kurasa tanganku masih cukup kuat untuk memegang sumpit sendiri." Jungkook mau tak mau mendongakkan kepalanya untuk menghentikan tangan Taehyung sebelum seisi kantin menyaksikan drama gratis Kim Taehyung yang menyuapi Jeon Jungkook, dan sialnya berkat itu matanya kembali bertemu dengan pemilik rambut oranye tersebut.
"Kau yakin? Bagaimana keadaanmu sekarang?" Sorotan khawatir terpancar nyata dalam iris membara Taehyung. Dan hari inilah Jungkook baru pertama kali menyaksikannya meskipun ia sudah mengenal kakak kelasnya itu cukup lama.
"Aku sehat seratus persen. Darahnya juga sudah berhenti." Dan mungkin akan segera mengalir keluar lagi kalau kau tak juga memalingkan tatapan brengsekmu dariku. Jungkook menyumpah serapah dalam hati, wajahnya kembali memanas menyaksikan bayangan wajah gugupnya sendiri di dalam bola mata Taehyung yang memakunya intens.
"Baiklah, time out." Yoongi menepukkan tangan, memutus kontak keduanya lalu bangkit dengan sigap dari kursi. "Taehyung, bukankah kita harus segera menyerahkan anggaran klub basket pada OSIS?"
"Yoongi-hyung jangan pergi!" Jimin merengek, memegangi ngenes ujung blazer Yoongi. Dan tentu saja berkat itu ia mendapatkan jitakan gratis penuh kasih sayang dari kekasih galaknya.
"Oh, benar.." Taehyung terlonjak, tampak tidak rela harus meninggalkan kursinya. "Sampai jumpa lagi Jungkookie..."Jungkook bergidik hanya karena Taehyung menyebut namanya, dan sengatan listrik mengaliri tubuhnya ketika jari-jari kurus Taehyung mendarat singkat pada rambutnya sebelum akhirnya lelaki itu melenggang bersama Yoongi dari kantin.
"Kau tahu, setelah melihat semua kejadian tadi kurasa hubunganmu dengan Taehyung-senpaimu itu sedikit membeku." Jimin menyuarakan pendapat seperginya para kakak kelas. "Ternyata badai yang membuatmu kacau hari ini Kim Taehyung, eh?"
Jungkook tak menjawab, terlalu gengsi untuk menyetujui perkataan sahabatnya. Warna merah pada wajahnya tak kunjung memudar, terlalu larut dalam pikirannya ketika ia menunduk menatap piringnya yang penuh, perutnya mendadak serasa diaduk-aduk.
Menyerah untuk mencoba makan, Jungkook memilih menyambar sebungkus sandwich yang belum tersentuh Jimin tepat ketika dering bel yang menandakan waktu istirahat berakhir telah berbunyi.
...
...
Hari-hari berikutnya berlangsung seperti biasa tanpa adanya interaksi. Hubungan Jungkook dan Taehyung yang tak kunjung menunjukkan perkembangan justru semakin membeku. Keduanya mulai jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, baik di sekolah maupun di apartement meski kenyataannya kamar mereka bersebelahan. Kebiasaan berangkat dan pulang bersama tak lagi sering dilakukan.
Jungkook mulai memilih berangkat lebih pagi dari biasanya untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai pengurus kelas yang baru-baru ini banyak dibutuhkan menjelang ujian semester di saat kamar Taehyung masih terkunci rapat. Dan Taehyung menghabiskan sebagian besar waktunya di klub basket sebelum pensiun di semester dua nanti karena akan fokus pada ujian kelulusan hingga seringkali pulang lebih terlambat dari Jungkook.
Anime club kosong tak terurus, para anggota kelas tiga yang lain juga tenggelam dalam kesibukannya masing-masing membuat para fujoshi yang haus asupan terpaksa undur diri. Yah, sejak awal pun klub abal-abal itu memang bukan klub resmi. Dan berkat itu ruang musik kembali terlantar menjadi gudang penyimpanan semua anime stuff milik Taehyung.
"Jadi sampai kapan kalian akan saling mendiamkan begini?" Jimin bertanya sedikit tidak sabar ketika ia mencuci kentang yang akan dibuat sup dalam pelajaran tata boga.
Jungkook menoleh sejenak pada sahabatnya yang berkutat di depan bak cuci, kemudian kembali terfokus untuk memotong wortel di hadapannya. "Mana kutahu? Kami punya kesibukan sendiri dan kami saling menghormati untuk tidak mengganggu satu sama lain." Suaranya kalem, namun Jungkook tak bisa mencegah tangannya yang memegang pisau gemetaran sehingga hasil potongannya berantakan.
Tentu saja Jungkook berbohong. Kesepakatan untuk saling menjaga jarak itu tak pernah terucap di antara mereka. Meski Jungkook merasa lega karena Taehyung tidak ngotot menemui dan mengikutinya seperti saat lelaki itu berusaha merekrut Jungkook ke dalam klub anehnya.
"Aku tahu, Yoongi hyung juga tidak punya banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersamaku." Lelaki berambut merah itu sedikit meringis ketika mengatakannya. "Tapi aku penasaran. Apa yang telah terjadi dengan kalian."
Jungkook terlonjak, seketika menyesal ia berada di kelompok yang sama dengan Jimin. Dasar, Jungkook sudah mulai nyaman menghabiskan waktunya bersama Jimin karena dia tak pernah mengungkit-ungkit lagi soal drama percintaannya. Tapi sepertinya lelaki itu sekarang sudah kehabisan kesabaran karena tak melihat perkembangan yang berarti dari hubungannya dengan Taehyung.
"Bisa tidak ikut campur kali ini?" Alis Jungkook menukik sebal ketika ia memotong ganas wortel keduanya. Jimin bergidik ngeri, namun tak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerah.
"Dasar tidak seru."
"Bukan waktunya mengurus percintaan di saat menjelang kita akan ujian semester, sahabat bantetku."
Jimin mengerang malas, depresi melanda tiba-tiba begitu teringat akan ujian yang tinggal beberapa hari lagi tiba.
"Seandainya kau bukan si mulut bocor, mungkin aku sudah curhat tentang semuanya dari dulu." Jungkook hendak memotong wortel ketiga ketika tiba-tiba Jimin merebut pisau dari tangannya dengan sigap.
"Taehyung-senpai akan membunuhku kalau membiarkanmu melukai dirimu sendiri, Kook. Gantikan pekerjaanku saja sana!" Jimin nyengir. Sebenarnya dia sudah gemas dari tadi melihat cara memotong Jungkook yang mengkhawatirkan, dan untuk menghindari sup mereka terkontaminasi oleh darah lebih baik dia yang turun tangan.
Jungkook cemberut, sebelum berpindah ke depan bak pencuci untuk melaksanakan tugasnya tanpa mengatakan apa-apa lagi.
...
Hujan tengah mengguyur deras gedung sekolah Bighit High School, menebarkan bau tanah yang basah serta hawa dingin yang dapat merasuk sampai ke tulang-tulangmu di balik kain seragam tipis. Namun meski begitu kelihatannya hawa dingin itu tak cukup untuk memadamkan api yang tengah berkobar di dalam gedung perpustakaan di lantai satu.
"Hah. Bosan. Bosan. Bosan." Park Jimin membentur-benturkan kepala berambut merahnya pada buku pelajaran yang terbuka di hadapannya.
"Berisik." Jungkook mengumpat tajam tanpa mengalihkan fokus dari buku Matematika di tangan kiri, sementara tangannya yang lain sibuk mencatat serangkaian rumus rumit di buku catatannya.
"Kau kira apa-apaan ini? Pulang sekolah ke perpustakaan. Hebat, kita seperti murid teladan sekarang." Jimin menggeberak bukunya sampai menutup dengan gerakan—yang menurut Jungkook—terlampau dramatis.
Jungkook menggeram mual."Park Jimin entah otakmu itu yang terlalu kecil atau kau benar-benar ingin pasrah dengan nilai-nilaimu—besok kita sudah ujian semester!" Kesabarannya hampir habis dan telinganya berasap mendengar sahabatnya itu tak berhenti mengoceh sejak setengah jam yang lalu mereka menempati perpustakaan.
"Aku tahu besok hari apa, sialan. Tapi terus terang saja kalau belajarnya di tempat seperti ini.." Jimin bergidik ketika ia mengedarkan pandang jijik ke perpustakaan yang dipadati para siswa. "..mereka semua belajar seperti zombie, dan itu malah membuatku paranoid akan teror ujian, bukannya mood belajar." Beberapa siswi berkacamata yang tengah mencari-cari di rak buku terdekat mendesis tersinggung mendengar perkataan Jimin, dan Jungkooklah yang harus meminta maaf berkali-kali untuk itu.
Yah, ini memang sehari sebelum ujian tengah semester. Sebenarnya ujian ini tidak sepenting ujian kelulusan tapi entah kenapa semua siswa Bighit termasuk Jungkook sendiri menanggapinya dengan serius dan bersungguh-sungguh belajar. Tetapi tidak juga sih, alasan utama Jungkook dan Jimin harus terperangkap di perpustakaan sore ini karena hujan yang turun mendadak.
Dan sepertinya murid-murid lain pun begitu, sebab gedung perpustakaan raksasa yang di hari biasa semua bukunya diselimuti debu kini penuh sesak oleh murid-murid dari tingkat satu sampai tiga yang sok rajin. Hampir mirip kandang binatang sebenarnya.
Tentu saja sangat tidak nyaman belajar di tempat yang penuh orang, terlebih kau harus terjebak bersama makhluk ngenes super cerewet seperti Park Jimin. Tapi mau apalagi? Nasib sial sedang betah menghantui kehidupan Jungkook akhir-akhir ini. Dan Jungkook juga tidak mau nilai ujiannya jelek, jadi dia tetap berusaha belajar apapun yang terjadi.
"Yoongi-hyung!" Suara ngenes Jimin mengusik kedamaian Jungkook dalam mengerjakan soal matematika.
"Jemput dia lalu pulang saja sana." Saran Jungkook kejam.
Jimin merengek makin ngenes, membuatnya kembali mendapat pandangan sinis dari murid lain, tapi sepertinya dia tak peduli. "Yoongi-hyung pulang duluan bersama Taehyung-sunbae!"
Taehyung. Taehyung. Taehyung.
Nama yang belakangan ini jarang keluar dari mulut pedas Jungkook kini melayang-layang kembali memenuhi kepalanya.
"Jadi kau memberikan jawaban apa padanya?"
Jungkook bereaksi dalam sepersekian detik mendengar kalimat tak terduga yang keluar dari sahabatnya. Dia tak bisa menahan diri untuk bertindak lebih wajar ketika menjatuhkan keras buku dan pensil di tangannya untuk memajukan tubuhnya ke seberang meja tempat Jimin duduk sambil memelototkan mata.
"Tahu dari mana kau? Dia memberitahumu? Atau malah kau yang mengorek informasi darinya? Atau—" Jungkook yang berbisik sangat cepat hampir seperti mengucapkan mantera cukup membuat Jimin memundurkan panik kursinya dengan raut wajah horror.
"Tunggu! Tunggu dulu, Kook!" Jimin nyengir ketakutan, menamengi dirinya dengan buku tebal matematika untuk mencegah Jungkook melakukan pertumpahan darah di publik. "—itu hanya asal tebak, oke? Aku benar-benar tidak tahu apakah Taehyung-senpai sudah menem—iya maaf aku akan diam!"
Sadar terlalu banyak mengundang perhatian, Jungkook kembali membenahi duduknya kemudian menghela nafas tenang. "Kau serius?"
"Aku bersumpah demi boneka Kumamon yang tersimpan di kolong tempat tidur Yoongi-hyung. Gejala aneh yang kalian tunjukkan di kantin tempo hari jelas gejala-gejala yang dialami orang jatuh cinta. Aku mempelajari semua itu dari drama yang kutonton." Jimin menepuk dadanya bangga seolah ia telah berhasil melakukan penemuan terhebat di dunia.
"Tolong jangan keras-keras." Jungkook mengerutkan dahinya, mengabaikan rasa penasaran untuk bertanya bagaimana sahabatnya bisa tahu benda imut semacam itu dimiliki oleh seorang sadis seperti Min Yoongi ketika merasakan wajahnya mulai memanas.
"Jangan mengelak, Tsundere! Tidak sulit untuk menebak alur drama percintaan mainstream kalian, jadi kupikir pasti cepat atau lambat ini pasti terjadi. Lihat saja wajahmu yang memerah itu. Ah, tapi Taehyung-sunbae belakangan terlihat lemas, apakah kau baru saja menolaknya?" Kilatan antusias tampak memenuhi wajah berseri Park Jimin ketika menyadari reaksi sahabatnya.
Mainstream. Hell, walaupun kenyataannya benar, mau tak mau Jungkook merasa tersinggung.
"Sialan, tidak! Aku bahkan.. belum memberikan jawaban padanya." Suara Jungkook yang meledak-ledak terdengar melemah pasrah di akhir kalimat seperti balon kempes saat lelaki itu menundukkan malu wajah memerahnya.
Hening. Suara jangkrik imajiner tiba-tiba mengerik di antara keduanya.
"Ah, rasanya sekarang aku kasihan dengan Taehyung-sunbae."
"Brengsek, kau malah mengasihani senpai laknat itu?" Jungkook ingin protes lebih banyak lagi namun ponsel Jimin yang bergetar di atas meja menandakan panggilan masuk membuatnya terpaksa diam.
"Yoboseyo? Akh, Yoongi-hyung!" Wajah ngenes lelaki berambut merah itu langsung saja bersinar ketika mengangkat panggilannya. Dan Jungkook hanya bisa memutar bola matanya malas ketika Jimin cengar-cengir sambil memperagakan gestur yang menyuruhnya diam.
Jungkook memilih membolak-balik halaman pada buku matematikanya tanpa harapan selama menunggu Jimin menelepon. Hancur sudah, berkat Jimin mengungkit-ungkit masalah keramat yang sebisa mungkin tak ingin dipikirkannya itu, kepalanya sekarang tak mampu menyerap apapun lagi ke dalam otaknya yang sekarang justru malah dipenuhi sosok kurus berambut oranye dengan senyum bocah. Rencana belajar di perpustakaan dipastikan batal.
"Apa? Yoongi-hyung ingin bicara dengan Jungkook?" Suara Jimin yang terdengar sengaja dikeras-keraskan berhasil menarik perhatian lelaki berambut hitam itu.
Jungkook mengambil ponsel yang disodorkan oleh Jimin tanpa curiga, dan mendekatkan benda persegi itu ke telinganya. "Yoongi-sunbae?"
"Yak, Jungkook." Suara datar Min Yoongi berkeresak di seberang panggilan. "Jimin bilang kau ada di perpustakaan? Pulang ke apartemen sekarang juga!" Nada itu diucapkan lebih terdengar seperti memohon, bukannya memerintah, membuat Jungkook menelan ludahnya tegang.
"Kenapa hyung?" Jungkook bisa merasakan ada sesuatu yang tak beres. Semoga saja bukan hal buruk.
"Taehyung. Pulanglah untuk melihat keadaannya." Kali ini suara Yoongi terdengar mulai panik seperti yang biasa dia lihat dalam drama-drama tayangan televisi. Meragukan sebenarnya karena terdengar sedikit kaku, namun keringat dingin sudah terlanjur menetes di bawah poni hitam Jungkook sehingga dia tak punya waktu untuk curiga.
"Taehyung? Taehyung kenapa?"
Tut
Panggilan diputus dari pihak seberang. Jungkook semakin paranoid.
"Dia bilang apa?" Jimin bertanya penasaran ketika Jungkook mengembalikan ponselnya.
"Aku harus pulang sekarang. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Taehyung." Jungkook membenahi buku-bukunya dengan serabutan ke dalam tas, kemudian memandang putus asa pada jendela perpustakaan yang dikaburkan oleh guyuran hujan.
"Butuh ini?" Payung lipat berwarna merah marun diulurkan oleh Jimin yang cengar-cengir seolah-olah ia bisa membaca pikiran Jungkook saat ini.
"Boleh?" Jungkook ragu-ragu.
"Sudah jangan gengsi, pergi sana!" Jimin melemparkan payungnya pada Jungkook dan menepuk bahunya keras membuat lelaki berambut gelap itu sedikit berkunang. "Perjuangkan cintamu!"
Jungkook hanya bergumam mengucapkan terimakasih sambil menundukkan wajahnya menahan malu saat ia menyelinap keluar dari perpustakaan diiringi tatapan aneh penghuni perpustakaan lainnya ketika Jimin terus-terusan meneriakkan kalimat-kalimat penyemangat yang memalukan di belakangnya. Hell, efek dari kecanduan nonton drama mungkin.
...
Jungkook berdiri kikuk di depan pintu putih nomor sembilan dengan payung basah Jimin yang teremas erat di antara jemarinya. Sial. Dia belum pernah segugup ini berhadapan dengan pintu yang hampir setiap hari di lihatnya itu karena tepat bersebelahan dengan kamarnya sendiri.
Sudah hampir dua minggu berlalu semenjak pertemuan terakhirnya dengan Taehyung di kantin. Sebenarnya Jungkook ingin menghindari Taehyung selama yang dia bisa, namun hal itu tentunya tak akan menyelesaikan masalah jika mereka masih bertetangga. Lagipula Jungkook khawatir dengan suara Yoongi yang terdengar aneh di telepon tadi.
Tangannya yang masih menggenggam payung Jimin ragu ingin mengetuk pintu itu atau tidak. Haruskah dia mengetuk atau langsung menerobos masuk seperti biasanya? Di balik pintu itu ada pangeran anime berambut oranye yang akan menyambutnya dengan senyum rupawan. Atau mungkin cengiran absurd bersama gombalan-gombalan menjijikkannya.
Cukup sudah ragu-ragunya. Jungkook jadi mulas sendiri menyadari bahwa sekarang dia terlihat seperti gadis remaja yang jatuh cinta.
Namun baru saja ketika Jungkook hendak mengetuk, pintu di depannya menjeblak terbuka dengan sosok kusut Min Yoongi yang menghambur keluar. Wajah manis lelaki itu langsung berubah cerah begitu melihat kedatangan Jungkook.
"Terimakasih payungnya." Jungkook hanya menatap Yoongi kikuk ketika lelaki pendek itu mengambil payung dari tangannya kemudian melebarkannya.
"Tunggu! Eh.. bagaimana Taehyung?" Jungkook spontan berteriak saat Yoongi hendak menuruni tangga.
"Dia? Oh, di dalam. Selamat berjuang ya." Yoongi melambai singkat dan mempercepat langkahnya dua kali lipat sebelum Jungkook sempat mengatakan sesuatu lagi padanya.
Jungkook ngeblank. Tanpa berpikir, dia pun membawa kaki-kaki panjangnya untuk menerobos ke dalam kamar Taehyung. Terlalu dramatis sebenarnya hingga dia menabrak rak buku raksasa yang penuh berisi manga, tetapi ia tak punya waktu untuk merasa kesakitan karena hal pertama yang dilihatnya begitu memasuki kamar itu adalah Kim Taehyung yang terkapar di lantai, di bawah tumpukan buku-buku dan manga.
"Senpai? Kau baik-baik saja? Senpai!" Jungkook menghampiri panik tubuh itu dan menggoyangkannya, siapa tahu kakak kelasnya pingsan. Namun telinganya menangkap samar sebuah erangan berat yang teredam, Jungkook bernafas lega.
"Senpai?" Jungkook mengangkat buku pelajaran Sastra tingkat tiga yang menyelimuti wajah Taehyung. Sedetik kemudian ia menyesal, karena wajah Taehyung di baliknya ternyata sangat tampan walaupun terlihat sedikit lemas.
"Jungkookie.." Taehyung bergumam, membuat Jungkook semakin panik.
"Ada apa? Kau kesakitan? Kenapa kau berbaring di lantai begini?" Ada sejuta pertanyaan yang ingin keluar dari bibir mungil Jungkook, dan Jungkook yakin mulutnya itu tak akan berhenti bicara jika jemari ramping Taehyung tidak bertengger mendadak di pipinya.
Jungkook membeku. Sepasang mata berpoles eyeliner itu menatapnya sayu, membuatnya salah tingkah.
"Jungkook-ah, aku..." Jungkook menunggu dengan tegang. "Aku... tidak sanggup belajar."
Oh.
Detik berikutnya, Jungkook melempar tubuh Taehyung jauh-jauh darinya.
...
Sial. Duo pasangan bantet mengerjainya dan membuatnya harus terperangkap dalam situasi canggung ini. Seharusnya Jungkook tahu kenapa Jimin tidak pulang duluan padahal dia memiliki payung. Dan seharusnya Jungkook juga sadar ada udang di balik batu jika Yoongi yang selalu bersuara datar dan bosan itu tiba-tiba bersikap aneh.
"Jadi, materi pelajaran apa saja yang tidak kau mengerti?" Jungkook sekarang duduk bersila di lantai bersama lelaki berambut oranye yang cemberut sambil mengelus-elus rusuknya kesakitan.
"Semuanya." Taehyung menjawab tanpa harapan.
Jungkook mengerutkan dahinya. "Pelajaran yang paling kau kuasai?"
"Hmm.. olahraga mungkin?"
"Coba baca dulu tiga bab pertama. Aku yakin itu pasti keluar di ujian nanti." Jungkook membanting buku pelajaran Sastra dan Matematika tingkat tiga di depan Taehyung yang mengerang malas sementara dia mengeluarkan buku-bukunya sendiri dari ransel.
Hening. Selama beberapa menit, hanya terdengar suara halaman buku yang dibalik.
Jungkook hampir gila. Tangannya yang mencengkeram buku catatan sedikit gemetar. Taehyung sama sekali tak mengatakan apa-apa, dan hal itu membuat konsentrasinya buyar. Rumus-rumus cerdas matematika yang sudah dia buat sebagai jurus pamungkas selama berada di perpustakaan tadi bahkan tak sanggup dicernanya.
Jungkook menggigit bibir, sebelum menyerah dan membuka suaranya. "Maaf." Dari sekian banyak hal yang ingin diucapkannya, hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulutnya yang berucap serak.
"Untuk apa?" Taehyung masih membuka-buka buku pelajarannya, meski Jungkook tahu lelaki itu tidak benar-benar membacanya.
"Karena aku belum memberikan jawaban, kita jadi secanggung ini." Jungkook bisa merasakan Taehyung tersentak di sampingnya. Ah, dia sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba langsung mengangkat topik ini.
"Tidak, tidak, kumohon jangan merasa seperti itu!" Jungkook memberanikan diri untuk menatap wajah Taehyung ketika mendengar nada suaranya yang kaget. "Kau tahu, aku sebenarnya pun bingung dengan perasaanku sendiri, jadi jangan segan-segan menolakku. Lagipula aku diam, karena kelihatannya kau ketakutan atau merasa tidak nyaman bersamaku." Taehyung menggaruk tengkuknya canggung.
"Aku tidak membenci atau menyukaimu, tapi aku tak pernah takut padamu." Jungkook mengerutkan dahi.
"Oh? Baguslah. Baru kali ini ada junior yang betah kuisengi sepertimu." Dengan kata lain, Jungkook masokis. Sial.
Selanjutnya hening lagi.
Jungkook tak tahan. Tetap saja suasana di antara mereka terasa awkward setelah percakapan kecil tadi. Jungkook tak yakin dia akan bisa fokus belajar jika mereka terus seperti ini. Namun tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di benaknya.
"Senpai, aku akan membantu belajar." Perkataan Jungkook yang tiba-tiba membuat Taehyung langsung menoleh padanya.
"Aku akan membantumu belajar, tapi.. maukah kau tidak membahas masalah 'waktu itu' selama seminggu ini saja? Well, aku sama sekali tidak bermaksud mengabaikan perasaanmu aku ingin kita fokus belajar dulu untuk ujian." Jungkook berkata cepat-cepat ketika melihat perubahan emosi di wajah Taehyung.
"Aku butuh waktu lebih lama untuk memikirkannya lagi sesuai perkataanmu. Tapi aku berjanji.." Jungkook merasakan wajahnya memanas ketika ia meraih tangan Taehyung dan mengaitkan jari kelingking Taehyung dengan miliknya sendiri. "Setelah ujian berakhir, aku benar-benar akan memberikan jawabannya padamu. Dan kalau aku melanggarnya, kau boleh membunuhku." Rasanya benar-benar menggelikan saat mengucapkan kalimat serius tanpa lidahnya terpeleset sambil menatap wajah tampan itu. Jungkook serasa ingin meledak.
Namun sedetik kemudian, Taehyung tertawa, membuat Jungkook berjengit bingung. Raut wajahnya yang semula tegang kini melunak.
"Sebenarnya aku tak butuh janji apa pun karena aku percaya padamu. Mau seminggu, satu bulan, setahun, atau seratus tahun sekali pun. Bahkan jika jawabanmu itu akan menyakitiku atau membuatku bahagia. Tapi kalau kau memang ingin seperti itu, baiklah. Call!" Taehyung tersenyum lebar, menyatukan erat jari kelingkingnya dengan milik Jungkook.
Jungkook terpesona. Senyuman indah yang selalu dirindukannya itu kini ditampakkan begitu dekat dengan wajahnya. Meski setetes kesedihan yang terselip dalam sepasang onyx itu tak dapat luput juga dari mata Jungkook.
Jungkook merasa sangat bersalah, dia benar-benar membenci dirinya yang selau saja bersikap meragu dan tidak tegas. Tapi dia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah dia benar-benar jatuh cinta dengan Kim Taehyung? Apakah dia benar-benar sanggup menyukai Taehyung?
Lama keduanya berpandangan dalam diam, dan tanpa sadar tautan jari kelingking itu mengerat menjadi sebuah genggaman.
Tujuh hari. Jungkook punya waktu tujuh hari untuk memikirkan ini semua bersamaan ketika ia harus fokus dengan ujiannya, dimulai dari sekarang.
...
I want to be your man
Why don't you know my heart for you?
Even if you ignore me
Even if you act cold, I can't push you out of my mind
I want to be your man
I will be your man, just watch
So that my heart can touch yours
I will run to you right now
...
TBC
A.N:
Um.. halo semuanya. Waks ini kok jahat banget sih balik-balik saya malah bikin chapter baper lagi. Jungkook emang demen banget kok nyiksa Taehyung *author digebukin massal* engga ding justru kan kalo pelan-pelan malah rasanya nanti jadi lebih nikmat/? Moment belakangan juga lumayan greget, itu ngapain juga coba mereka gendong-gendongan di publik sampe Kookienya encok gitu keberatan sama Tae tapi tetep aja pada nyengir-nyengir bahagia hmmm.
Terimakasih banyak untuk readers yang nagihin kelanjutan ff absurd ini! Semakin ceritanya berkembang, semakin sulit rasanya untuk dilanjutkan. Tapi berkat dukungan kalian semua, saya jadi semangat berkarya :"3 terimakasih banyak juga untuk yang kemarin pada ngereview panjang lebar ah saya nyengir-nyengir mulu bacanya hehe maaf ya saya belum sempat membalasnya semua.
Dan selebihnya, terimakasih banyak bagi para readers yang masih mau menyempatkan diri untuk membaca ff ini! :"D
Sampai jumpa di chapter depan semuanyaaaa~
Love Love Love,
Clover Song
