PLEASE LEAVE UR REVIEW AFTER READ OR BEFORE U LEAVE THIS PAGE
.
.
I'M GLAD IF U ENJOY TO READ THE STORY AND SORRY FOR MANY TYPO(S)
.
.
.
ChanBaek : A Silent Soul
.
Chapter 6
.
The Uncomfortable Truth (1)
...
...
...
BAEKHYUN'S DAD POV
Took took
Aku terbangun dari tidurku setelah mendengar suara ketukan pintu yang beruntun dari luar pintu kamarku, ah— aku rasa itu baekhyun. Aku pun menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhku lalu mulai beranjak dari tempat tidurku dan berjalan kearah pintu.
Cklek—
Aku mengernyit tak mengerti saat aku selesai membuka pintu kamarku, aku tak melihat siapapun di depan pintu, aku pikir itu baekhyun karena sekarang aku memang hanya berdua saja bersama baekhyun dirumah. Namun nyatanya aku tak menemukan sosok anak sulungku itu di depan pintu, apa mungkin aku hanya mengigau? Aku mengusap kasar wajahku.
Hiks—hiks—
Aku terperanjat, entah aku salah dengar atau memang aku mendengar suara isakan anak kecil dirumah ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah yang terasa sepi dan dingin ini.
"Baekhyun, apa kau di dapur?" ucapku setengah berteriak berharap bahwa aku akan mendapat balasan baekhyun dari arah dapur.
Hening—
Aku tak mendengar sedikitpun suara dari arah dapur
Hiks—
Tubuhku kembali membeku saat lagi-lagi mendengar suara tangisan yang amat lirih dan pilu. Tak mau berpikiran aneh aneh aku pun akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke kamar baekhyun, baru saja aku mendaki 2 trap anak tangga aku kembali mendengar suara tangisan yang terasa semakin jelas dari lantai atas.
"Baekhyun?" panggilku lagi, dan lagi-lagi baekhyun tak menjawab. Mungkinkah ia tertidur?
Tapi suara tangisan siapa tadi itu? Bukankah dirumah ini tak ada anak kecil?
Aku mengibaskan tanganku, ah sudahlah! Mungkin aku salah dengar karena suara hujan yang lebih mendominasi dalam keheningan rumah ini jadi telingaku tak konsisten menangkap suara, Aku kembali melanjutkan langkahku sampai aku benar benar ada dihadapan pintu kamar baekhyun. Aku mengayunkan tanganku bersiap untuk mengetuk pintu kamar baekhyun.
"Hiks—appa, eomma"
Gerakanku terhenti, tanganku masih melayang diudara dan belum sempat menyentuh pintu itu. Aku termenung dalam ketakutan, tanganku mulai berkeringat dan gemetar, suara ini—
"Hiks—aku takut appa, eomma"
Suara ini—aku tahu betul siapa pemilik suara ini.
Tek—
Ding!ding!ding!
Aku menoleh ke bawah saat mendengar suara jam yang berbunyi tiba tiba, aku mengernyit melihat jam tua itu berbunyi dengan lantang ditengah kesunyian ini. Jika jam berbunyi itu tandanya waktu sudah menunjukan pukul 12! Tunggu— pukul 12? 12 apa? Cepat cepat aku melirik jam tanganku dan benar! Jarum jam tanganku sudah menunjuk tepat di angka 12 tak kurang dan tak lebih! Suasana rumah amat sangat sunyi senyap, apa aku lupa kalau ini sudah jam 12 malam? Seingatku tadi aku tidur pukul 10 pagi, sebenarnya berapa lama ia tertidur?
Ah masa bodoh dengan hal itu, yang menjadi pertanyaan adalah suara itu kenapa tak lagi terdengar? Kemana suara itu? Penasaran, aku pun membuka pintu kamar baekhyun tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku berharap bahwa aku akan menemukan baekhyun yang sedang tertidur di tempat tidurnya.
Cklek—
Kamar baekhyun gelap, sangat gelap tanpa ada sedikitpun penerangan didalamnya, lalu otakku memerintah tubuhku untuk melangkah kedalam dan menyalakan lampu yang berada tak jauh dari pintu.
Trak!
Lampu kini menyala, aku lalu mengalihkan pandanganku ke sekitar baekhyun dan bola mataku pun menangkap sosok anak kecil yang begitu familiar sedang berdiri membelakangiku. Entah mengapa aku tak terkejut, aku malah berlari kearahnya dengan senyuman yang merekah di kedua sudut bibirku.
"Daehyun—" ucapku dan anak kecil itu memutar tubuhnya.
Benar! Itu daehyun, tapi mengapa ia menangis?
Aku berhamburan memeluk tubuh kecilnya yang bergetar dan tangan kecilnya melingkar di leherku dan memelukku dengan erat.
"Tolong aku appa" aku mengerutkan keningku dan menatap wajahnya yang terlihat sendu namun sorot matanya menunjukan ketakutan.
"Daehyun, apa yang terjadi?"
"Sungguh itu bukan aku"
Aku makin tak mengerti, "bicara yang jelas daehyun" kataku dan ekspresi daehyun mulai berubah.
Ia tiba-tiba berjalan mundur menjauh dariku dengan tubuh yang bergetar.
"Itu bukan aku" ucapnya lagi sambil menggelengkan kepala kecilnya lalu memeluk boneka kesayangannya yang tergeletak dilantai.
"Kemarilah, appa akan memelukmu seperti dulu, appa tidak akan meninggalkanmu lagi"
Daehyun diam sejenak, "katakan pada adikku bahwa aku tidak melakukan apapun padanya" dan setelah kalimat itu selesai mata daehyun terbelalak sambil sedikit mendongak keatas.
Oh tidak, dan aku merasakan udara disekitarku semakin terasa tak nyaman.
"Appa— dia ada dibelakangmu"
DEG!
Jantungku bagai berhenti berdetak saat itu, aku perlahan memutar leherku yang terasa membeku saat itu aku telah dicekam oleh rasa takut. Saat aku memutar kepalaku aku benar benar melihat sosok bayangan super hitam berambut panjang, kedua tangannya terangkat keudara dengan kuku panjang yang runcing.
"AAAAAAAAAAA"
Mulutnya terbuka amat lebar bersamaan dengan suara jeritan nyaring melengking yang keluar dari mulutnya, dan aku hanya terdiam bahkan saat ia menerkam tubuhku.
.
Tik tik tik—
Srakk!
"Haah haah" aku terbangun dengan nafas yang berat, aku menatap ke sekitarku dengan tak tenangnya.
Aku meraba raba tubuhku, dan syukurlah masih utuh. Aku cepat cepat menatap jam dinding di kamarku dan waktu sudah menunjukan pukul 11, aku lalu mengalihkan tatapanku kearah jendela, aku benar benar terkejut saat mengetahui bahwa ini masih siang!
"Itu hanya mimpi" ucapku sedikit tenang.
Aku sangat tenang bahwa itu hanya mimpi, namun mimpi tentang daehyun yang meminta tolong padaku itu menganggu pikiranku. Baiklah— ini mimpiku yang entah keberapa kalinya, masih dengan mimpi yang sama tentang daehyun.
(POV END)
..
.
Clak ..
Clak ..
Clak clak clak ..
Kkrrsssss
Hari ini turun hujan, udara dingin mulai terasa menusuk sampai ke kulit
Baekhyun terlihat duduk termenung sendirian di sebuah sofa putih yang tepat menghadap ke sebuah pintu kaca. Ibunya sering duduk disini setiap pagi menjelang. Baekhyun berpangku tangan sambil memperhatikan bulir bulir air hujan yang turun perlahan membasahi pintu kaca itu.
Hatinya terasa tak tenang dan perasaan tak nyaman mulai timbul sejak kepergian chanyeol, ayahnya mungkin sedang istirahat di kamarnya setelah semalaman tidak beristirahat.
"Baekhyun, ahh~ hari ini turun hujan lagi yah?" baekhyun menoleh ke belakang dan mendapati ayahnya yang baru saja keluar dari kamarnya sambil merentangkan tangannya tinggi tinggi ke udara seraya menguap kecil.
"Ah yah begitulah" baekhyun tersenyum.
Ayahnya berjalan menghampiri baekhyun lalu duduk di sofa putih serupa di hadapan baekhyun, wajah kelelahannya masih terlihat sangat jelas di urat wajahnya dan juga bulir keringat kecil meluncur dari pelipisnya. Baekhyun yakin bahwa ayahnya tidak bisa tidur dengan nyenyak, dan kenapa ayahnya berkeringat padahal cuaca saat ini sedang dingin? Ah— sudahlah baekhyun tak terlalu mau tahu dengan itu.
"Chanyeol belum kembali hm?"
Baekhyun mengangguk, "yah, mungkin dia masih punya urusan"
"Ah baekhyun.." baekhyun menoleh pada ayahnya yang kini fokus menatap lurus keluar.
"Maafkan appa karena tidak ada disampingmu disaat saat tersulit mu" sang ayah menatap baekhyun lekat.
"Appa hanya mendengar cerita tentangmu dari taehyung, appa belum pernah bertanya padamu secara langsung tentang apa yang telah kau alami, jadi baekhyun— Appa ingin tahu apa yang terjadi padamu?"
Baekhyun diam, ia mengalihkan pandangannya kearah luar kemudian menghela nafas panjang sebelum akhirnya siap membuka mulut untuk bercerita pada sang ayah. Sebenarnya baekhyun enggan untuk menceritakannya, apalagi harus mengingat ngingat apa yang telah ia alami akhir akhir ini, namun ayahnya adalah orangtuanya. Sama seperti ibunya, ia pun harus mulai belajar terbuka pada orangtuanya.
"Ada banyak hal yang aku alami, semuanya berawal ketika aku jatuh sakit dan selalu kejang kejang saat malam hari, tepat setelah kejadian itu aku mengalami mimpi yang amat menyeramkan, aku sering melihat sosok wanita berambut panjang yang selalu menangis, kemudian aku juga memimpikan seorang anak kecil berwajah sendu tanpa bola mata disekitar rumah ini, bahkan tak jarang aku memimpikan satu per satu orang dirumah ini mati secara mengerikan, sejak saat itu aku lebih sering mengalami halusinasi, aku mendapat serangan fisik secara ghaib yang berulang, aku melihat sosok mengerikan yang merangkak di langit kamar, tangan sepucat mayat keluar dari bawah tempat tidur, mendengar suara tangisan wanita di tengah malam, mendengar suara tawa anak kecil yang berlarian di area rumah, bahkan melihat genangan darah dan lain sebagainya"
Baekhyun diam sesaat, kedua tangannya bergerak memeluk erat tubuhnya sendiri. Bahkan dengan hanya menceritakannya saja membuat seluruh tubuh baekhyun mengigil ketakutan, betapa mengerikannya hal hal yang ia lihat, dan jika bisa ia ingin sekali menghempaskan jauh jauh ingatan mengerikan ini.
"Aku akhirnya percaya bahwa apa yang aku lihat bukankah sebuah halusinasi belaka, semakin hari gangguan itu semakin menjadi dan mulai menganggu jalan pikirku, aku takut dan aku mulai merasa lelah dengan semua ini, aku bahkan memimpikan tubuh chanyeol yang bergelantungan di langit rumah tak bernyawa, dan saat itulah titik puncak bahwa diriku tak bisa lagi menahan semua permainan halusinasi ini"
Baekhyun mendongak, mata berkacanya menatap lekat sang ayah yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Baekhyun tahu bahwa ayahnya adalah seseorang yang fanatik dalam hal hal semacam ini (sama halnya dengan dirinya), namun baekhyun hanya ingin memberitahukannya pada sang ayah bahwa ia pun harus percaya karena apa yang ia alami adalah hal yang nyata. Ia bukan lagi anak kecil yang senang mengarang ngarang cerita ini itu, apa yang ia lihat itulah yang ia ceritakan.
"Aku ingin mengakhiri semuanya, tolong aku appa"
DEG!
"Tolong aku appa"
Sang ayah lekas mengalihkan pandangannya dari wajah baekhyun, bukan! Bukan ia tak sanggup menatap wajah baekhyun yang tampak sangat menderita, tapi wajah baekhyun selalu mengingatkannya pada sosok daehyun yang berulang kali muncul dalam mimpinya. Tak jarang ia melihat daehyun kecil yang menangis sambil meminta pertolongan padanya, apa daehyun juga mengalami sebuah penderitaan di alam sana? Penderitaan seperti apa yang daehyun alami disana?
"Aku lelah" ucap baekhyun lirih dengan suara yang bergetar, sang ayah hanya bisa menatap terpaku kearah jendela sambil menghela nafas berat.
Andai ia bisa melakukan sesuatu untuk anak anaknya, ia tak akan segan mengorbankan nyawanya demi mereka. Ia adalah seorang kepala keluarga, layaknya sebuah tameng untuk anak anaknya.
...
...
...
..
"Jadi, kau chanyeol?"
Chanyeol yang sedang bersiap memakai sepatunya mendongak lalu mengangguk sambil tersenyum kearah wanita berpakaian aneh dihadapannya, wanita ini tak seperti wanita kebanyakan yang sering ia temui. Penampilannya cukup berbeda dan terkesan 'unik', ia tak memakai dress warna warni, perhiasan mencolok, rambut yang diwarnai atau sepatu ber—hak tinggi seperti hal nya wanita normal.
Seperti apa yang kakaknya katakan, bahwa temannya yang satu ini memang memiliki gaya yang berbeda dari wanita biasa. Meskipun ini pertama kalinya chanyeol bertemu dengan teman dekat kakaknya ini namun chanyeol bisa sedikit merasakan aura yang kurang enak dari wanita ini. Waw! chanyeol bahkan sempat terkesan pada dirinya sendiri yang tiba tiba saja bisa menangkap aura dari tubuh seseorang.
"Salam kenal, aku cha jiyeon, aku teman kakakmu dan ini pertama kalinya aku bermain kerumah, aku dengar dari kakakmu dia punya adik yang ikut bertanggung jawab mengurusi perusahaan ayahnya, aku senang bisa bertemu denganmu chanyeol"
Wanita itu mengulurkan tangannya, chanyeol mengangguk kecil lalu menyambut uluran tangan hangat itu. Chanyeol terdiam sesaat ketika merasakan sensasi hangat yang menjalar ke urat tangannya, ia bagai merasakan energi aneh yang mengalir bersama darahnya, dan dengan sigap chanyeol menarik tangannya kembali.
"Maaf" ucap chanyeol dan wanita itu tersenyum lembut.
"Kau tampak sangat khawatir dengan seseorang yang bernama baekhyun, benar kan?"
Chanyeol mengernyit, "ba—bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku punya sixth sense, aku bisa membaca ingatan seseorang lewat kontak fisik, tidak semua, hanya beberapa hal saja"
Wanita itu lalu tertawa kecil ketika melihat ekspresi chanyeol bak orang yang baru bertemu hantu, padahal jiyeon merasa dirinya tak menyeramkan layaknya sadako.
"hahaha, jangan khawatir, aku tidak membaca ingatan pribadi dari orang yang melakukan kontak fisik dengan ku, aku juga tak tertarik dengan kehidupan orang lain" jiyeon lagi lagi tersenyum
"Eh! Kau datang juga rupanya? Ayo masuklah, aku sudah menyiapkan minum untukmu, ah! Chanyeol kau mau pulang ya? Buru buru sekali"
Suara sang kakak menginterupsi mereka, wanita bernama cha jiyeon itu lantas menatap kakak chanyeol sambil tersenyum dan mengangguk kecil.
"Aku berjanji pada baekhyun untuk tidak pergi lama"
"Oh baiklah! Kalau begitu sampaikan salamku padanya, dan katakan maaf aku dan ibu belum sempat menjenguknya" chanyeol tersenyum dan mengangguk.
Puk!
Chanyeol mendongak ketika merasakan bahunya ditepuk halus oleh wanita bernama jiyeon itu, wanita itu kemudian tersenyum kecil padanya, iris mata agak keabuan miliknya sempat bertemu pandang dengan chanyeol.
"Semuanya akan berlalu dengan cepat" lalu ia pun melenggang masuk meninggalkan chanyeol yang kebingungan di ambang pintu.
.
.
.
Baekhyun berjalan gontai menapaki satu per satu anak anak tangga, kepalanya terasa pening dan tubuhnya mengigil. Baekhyun mungkin sedang tidak enak badan, jadi sang ayah menyarankan padanya untuk beristirahat di kamarnya sampai chanyeol kembali.
Tap
Baekhyun menghentikan pergerakannya, tangannya sudah bersiap memutar knop pintu namun ia memutuskan untuk tidak membuka pintunya. Matanya terbelalak terkejut saat tiba tiba saja ia mendengar suara engsel pintu yang berderit dari arah kamar taehyung, tangan baekhyun gemetaran disertai keringat dingin yang tiba tiba saja membanjiri telapak tangannya.
Meskipun dirundung rasa ketakutan, rasa ingin tahu baekhyun mendorongnya untuk melangkah maju menghampiri kamar taehyung. Dengan langkah kecil dan pasti baekhyun berjalan kearah kamar taehyung, hingga ia pun sampai di depan pintu kamar taehyung yang—memang benar pintu kamar taehyung terbuka sedikit.
Padahal setelah ayahnya keluar dari kamar taehyung, baekhyun melihat dengan jelas pintu kamar taehyung tertutup rapat-rapat. Entahlah, entah baekhyun salah lihat atau memang pintu kamar taehyung terbuka dengan sendirinya, apapun itu baekhyun tak dapat berpikir logis saat ini.
Di pegangnya knop pintu itu erat, dengan sedikit gemetar baekhyun mendorong pintu itu hingga pintu itu terbuka lebih lebar lagi. Dan suasana dikamar itu masih saja sama, terasa sangat dingin sejak taehyung tak menempati kamar ini. Baekhyun berdiri mematung diambang pintu, matanya yang terbuka lebar menatap lurus kearah meja belajar taehyung. Jauh dari kata logika memang melihat laptop taehyung yang menyala padahal tak ada satupun orang di dalam sana.
Lantas siapa yang menyalakan laptop itu?
Apakah ayahnya?
Ah—tidak! Ayahnya sedari tadi ada bersamanya di lantai bawah, dan saat ini ayahnya sedang ada di dapur. Jadi mustahil bahwa ayahnya yang menyalakan laptop itu, lalu siapa?
Semakin lama baekhyun semakin terdiam, melihat layar laptop itu kini berlatar putih tak ada satupun gambar yang muncul. Baekhyun menunduk dan memijat pelipisnya.
"Mungkin laptop taehyung rusak" ucap baekhyun meyakinkan lalu baekhyun pun memutar tubuhnya
"Si—a—hyung—ku—a—"
Dahi baekhyun berkerut, baru saja ia hendak melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamarnya namun ia mendengar suara terputus putus layaknya kaset rusak. Baekhyun pun kembali memutar tubuhnya, dan mendapati layar laptop taehyung yang rusak itu masih beralatar putih, namun yang membedakan saat ini adalah adanya sebuah tab mini yang menunjukan sebuah garis garis vertikal tak beraturan (Sama seperti tampilan saat kalian sedang memutar musik)
"Kau—ka—ka—kannya—un—"
Dahi baekhyun semakin berkerut, benar suara dari laptop itu terdengar seperti sebuah kaset yang rusak. Baekhyun akhirnya melangkah kedalam dan menekan nekan keyboard laptop tersebut.
"Ku—ma—taeh—"
"Laptop ini benar benar sudah rusak" keluh baekhyun saat ia mencoba menekan tombol power laptop itu namun tak berbuahkan hasil, laptop itu tetap menyala dan mengeluarkan suara suara terputus yang berulang, bahkan laptop itu masih tetap menyala saat baterai nya sudah baekhyun lepas.
Dan hal itu mulai memancing rasa heran dari baekhyun.
"Aku harus memberitahu appa!" pekik baekhyun terdengar kesal.
Tap
"Apa yang kau inginkan darinya?"
Baekhyun menahan langkahnya, pupil mata baekhyun melebar..
Tunggu—itu suara taehyung
"Aku ingin tubuhnya"
DEG!
Baekhyun terdiam tak berkutik saat mendengar suara yang berbeda seperti menjawab pertanyaan taehyung, apakah ini sebuah rekaman? Kapan? Kapan rekaman suara ini dibuat? Kenapa suara itu terdengar halus dan menyeramkan?
"Bisakah kau meninggalkannya?"
"Tidak... Aku bagian dari tubuhnya"
Baekhyun memutar tubuhnya yang kaku kembali menghadap laptop itu, aneh memang.. Bukankah baterai laptop itu sudah dimatikan? Tapi mengapa laptop ini masih menyala? Ah—tapi bukan itu yang baekhyun pikirkan saat ini, yang ia pikirkan saat ini adalah...
Siapa yang merekam suara ini? Apakah taehyung sendiri? Dan siapa suara perempuan itu?
"A—a—apa kau akan melakukan hal yang sama padaku?"
—itu suara taehyung lagi, batin baekhyun.
"Yah...—"
"A—ak— aku juga ingin kau mati, taehyung"
Kedua mata baekhyun terbelalak sempurna, cairan bening dari pelupuk matanya terjatuh begitu saja, kepalanya tertunduk ke lantai, mulutnya terkatup rapat, lidahnya kelu hingga ia tak bisa berucap apapun selain mendengarkan suara tak jelas dari laptop itu.
"Na—daehyun—aku—kaka—"
Baekhyun kembali menatap layar laptop itu, tak ada suara lagi—hening...
"Namaku daehyun, aku kakak perempuanmu, aku adalah kembaran baekhyun"
BRUGH!
Tubuh baekhyun terjatuh kelantai, ia bersimpuh lemas di lantai dengan mata yang terbuka lebar lebar. Kakinya melemah, seperti tak punya sedikitpun tenaga untuk menopang berat tubuhnya, air matanya menetes semakin deras.
"A—kembar—baekhyun—ak—"
Dan suara rekaman itu masih berputar lagi dan lagi sampai baekhyun tak tahan lagi mendengarnya.
"Tidak" baekhyun menggelengkan kepalanya
"Tidak tidak" baekhyun menggelengkan kepalanya lagi seraya mencengkeram erat rambutnya.
"Apa yang aku lupakan?" ucap baekhyun bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap kosong kedepan.
Dan tanpa kata kata lagi baekhyun bangkit dari lantai, kemudian berlari keluar lantas segera memasuki kamarnya dan menutup rapat pintu kamarnya.
BRAK!
.
.
.
BRAK!
baekhyun membuka lemari pakaiannya lalu mengacak ngacak tumpukan bajunya hanya untuk menemukan sebuah kunci nakas yang ia sembunyikan di bawah tumpukan baju, setelah ia mendapatkan kunci itu baekhyun segera membuka laci nakasnya.
Dengan tangannya yang bergetar dan berkeringat, baekhyun mengambil perlahan buku bercover coklat milik ibunya itu. Jantung baekhyun berdetak dua kali lebih cepat kala itu, darahnya berdesir hebat keseluruh tubuhnya, baekhyun belum siap mengetahui suatu hal apa yang akan ia ketahui selanjutnya. Namun satu hal yang sangat ingin baekhyun ketahui.
Apa yang telah ia lupakan?
Dengan segera baekhyun membuka tak sabar lembar demi lembar buku harian milik ibunya yang sudah ia curi, tak luput, kertas yang di lihat pun baekhyun buka dan membaca dengan teliti deretan tulisan tangan itu.
'Hari ini aku pergi mengunjungi daehyun dan membawakannya seikat bunga kesukaannya...'
Baekhyun kembali membuka lembaran selanjutnya
'Hari itu baekhyun sedang ulang tahun dan daehyun juga datang untuk merayakan hari ulang tahunnya bersama baekhyun..'
Baekhyun menatap lekat sebuah foto dirinya yang tengah duduk di sofa sambil tersenyum, ditemani ayah dan ibunya yang duduk di samping kiri dan kanannya. Dan hal yang ganjil begitu terlihat jelas disana! Ada sebuah bayangan menyerupai sosok anak perempuan memeluk boneka beruang berdiri agak jauh dari baekhyun, wajahnya memang tidak terlalu jelas, namun sosok itu tampak tak berekspresi apapun. Baekhyun kembali membaca note di bawah foto yang ditempel di lembaran kertas itu
'...dan daehyun juga datang untuk merayakan hari ulang tahunnya bersama baekhyun..'
"Akhh" baekhyun tiba tiba mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya
Rasa sakit yang kembali terasa amat sangat menyerang kepalanya tak membuat baekhyun berhenti membuka lembaran lembaran kertas itu, dan tepat saat baekhyun hendak membuka lembaran selanjutnya selembar kertas foto usang terjatuh kelantai. Baekhyun termangu sejenak sebelum mengambil foto yang tergeletak di lantai itu.
Dan nafas baekhyun tercekat ketika melihat foto itu... Dua anak kecil yang saling berpegangan tangan...
Dan di pojok bawah kanan foto itu terlutis 'Dae&Bae' dengan tinta merah, sekarang baekhyun mengerti, mengapa wajah sosok itu terlihat mirip dengannya.
"AAARRGGHH!"
Untuk kedua kalinya tubuh baekhyun melemas bukan main, baekhyun tertunduk dilantai sambil mengerang kesakitan, matanya memerah dan tangannya mencengkeram kepalanya sambil sesekali menjambaki rambutnya sendiri.
.
"Apa yang telah aku lupakan daehyun? Katakan padaku apa yang kau inginkan?"
...
"AAARRGGHH!"
PRANG!
Sang ayah tiba tiba saja menjatuhkan gelas berisi air yang hendak ia minum ke lantai saat mendengar suara jeritan dari arah kamar baekhyun.
"BAEKHYUN!"
Dengan seribu langkah ia bergegas berlari menaiki tangga, semakin lama jeritan baekhyun semaki terdengar keras dan nyaring. Panik bukan main, ayah baekhyun mengetuk ngetuk pintu kamar baekhyun yang terkunci.
Dook
Dook
Dook
"Baekhyun! Buka pintunya! Baekhyun! Ini appa! Buka pintunya!" pekiknya cemas
"AAAAAAA!"
Ia bingung dan tak tahu harus melakukan apa, ia terus mengetuk ngetuk pintu kamar baekhyun sambil menyerukan nama baekhyun. Sampai tak lama kemudian suara erangan kesakitan baekhyun tak lagi terdengar
Hening sesaat...
Cklek—
"Bae—"
"Katakan appa"
Sang ayah mengernyit, di tatapnya mata baekhyun yang memerah.
"Apa maksudmu baekhyun? Appa sangat khawatir padamu, apa kau merasa sakit? Dimana? Apa kau mau appa antar kerumah sakit?"
"KATAKAN PADAKU SIAPA DAEHYUN!? KATAKAN APA YANG TERJADI PADANYA!? KATAKAN APPA!"
Sang ayah membelalakan matanya mendengar intonasi suara baekhyun yang meninggi, mata baekhyun berkaca kaca menahan tangisannya. Mata sang ayah sempat mendelik kearah buku bercover coklat yang baekhyun pegang di tangan kirinya.
"Kenapa kalian menyembunyikan kenyataan ini dariku, kenapa?" suara baekhyun melemah
Sang ayah masih diam membisu, benar—
Benar, suatu saat kebohongan ini akan terungkap
"Kenapa kau diam? Apa kau tidak berani menceritakannya padaku? Katakan padaku seberapa bahayanya daehyun bagiku? Katakan—"
Baekhyun tertawa kecil, sedangkan sang ayah masih menatapnya tanpa ekspresi.
"Kau pasti tahu mengapa daehyun selalu mengangguku, lalu jika kau tahu mengapa? Mengapa kau tidak mengatakan padaku bahwa iblis sialan yang mengangguku selama ini ADALAH SAUDARA KEMBARKU SENDIRI!? IBLIS SIALAN YANG SUDAH MENCELAKAI TAEHYUNG DAN MEMBUATNYA HAMPIR MATI ADALAH SAUDARANYA SENDIRI!" intonasi suara baekhyun kembali meninggi
"Kami tidak tahu"
Sang ayah menatap tajam mata baekhyun sebelum ia memutar tubuhnya membelakangi baekhyun dan berjalan kearah tangga.
"Appa! Mengapa kau membohongiku!? Katakan padaku" baekhyun menarik tangan ayahnya.
"Ada saatnya kau akan mengetahui semuanya"
"Appa!"
Srrett
"A—"
BUGH!
"APPA!"
.
.
.
Ddrrtttt...drrrttt...ddrrttt
"Nyonya, ponselmu"
Sang nyonya mengerjapkan matanya, lalu menguap kecil sebelum mengangkat panggilan telepon yang masuk lewat ponselnya.
'Chanyeol'
Nama itu tertera jelas di layar ponselnya, ia sempat bertanya, ada apa gerangan chanyeol meneleponnya?
"Yah, ada apa chanyeol? Apa terjadi sesuatu pada baekhyun?"
"..."
"A—apa t—tunggu maksudmu apa?"
"..."
"Astaga— tidak mungkin!"
Prak!
"Tidak mungkin"
"Nyonya!? Apa yang terjadi?"
Sang nyonya menatap maidnya dengan air mata yang menggenangi pelupuknya.
"Baekhyun mengetahui semuanya, dan suamiku mengalami hal yang buruk" ucapnya dengan suara bergetar
"A—apa!?"
Dan tanpa mereka sadari untuk pertama kalinya taehyung membuka matanya
"H—hyung..."
.
.
.
.
...
Chapter 6 ! Yyaaayyy!
Booohoo~ makin gk jelas yaa :'( Pembukaan aku kasih sudut pandang ayah baekhyun (biar taurasa diteror sama setannya biarpun dlm mimpi doang wk :v) btw, lg ngetik chap ini dan gua mengalami hal yg kurang mengenakan :') *ehmcurhat*
Well ekhem!... Fakta udh mulai terungkap dan itu tandanya bentar lagi ff ini udh mau end, huhu~! So, kalau penasaran endingnya gimana, mangga pantengin wae ff nya :v (but, ada yg udh bisa nebak endingnya?)
Yash! Sebelum meninggalkan page ini, mohon untuk meninggalkan reviewnya yah, kalau gk ada reviewnya gua gk bakal update ff ini lagi! :'v en then, last word.. BIG THANKS SAMA KALIAN YG UDAH NYEMPETIN KASIH REVIEW, FAV,OR BLABLABLAH FF INI, I LAV U BARUDAK! See you! :*
** Oh iya, bagi readers yang punya pertanyaan atau mau ngobrolin seputar ff ini silahkan add line mcb ya! ;) kita ngobrol disana! Hehe baibai! **
