Chapter 7 : Day of the Black Sun [Part-2]
Setelah kembali ke North Pole, mereka mempertemukan Appa dengan Aang Jr. Appa tampak lemas, namun begitu melihat Aang Jr, Appa bergerak dan bangkit dari tidurnya lalu mengendus-endus Aang Jr. Aang Jr pun tampaknya masih mengingat Appa. Ia terbengong sejenak menatap Appa dengan takjub. Namun kemudian ia melompat-lompat girang seperti hendak memeluk Appa. Appa lalu menjilat tubuh Aang Jr yang tertawa-tawa senang.
Zuko menyerahkan handuk pada Katara untuk membersihkan Aang Jr.
Keadaan tampaknya kembali menjadi normal sejak itu. Appa mulai mau makan lagi, Aang Jr kembali di antara mereka, situasi kembali seperti sedia kala. Namun tampaknya marah-marah pada Zuko sudah menjadi kebiasaan Katara. Bersamaan dengan amarahnya, Katara juga menunjukkan perhatiannya. Mau bagaimana lagi, memang sudah menjadi sifat dasar Katara untuk membagi perhatian bagi orang di sekitarnya.
Akhirnya hari-hari dimana gerhana matahari akan tiba itu semakin mendekat. Dan Appa sudah kembali sehat seperti sedia kala dan siap untuk terbang lagi. Sokka pamit pada seluruh warga North Pole dimana Grandmaster Paku sudah siap pergi ke South Pole untuk membantu kehidupan di sana. Sokka, Zuko, Katara, Toph dan Aang Jr terbang ke sebuah teluk dimana Hakoda dan orang-orangnya berada untuk meneskripsikan rencana mereka menyerbu Negara Api.
Karena Earth Kingdom sudah jatuh ke tangan Negara Api, maka kekuatan mereka sudah lebih berkurang dari yang seharusnya. Namun daripada menyerbu Ba Sing Se untuk mengambil alih keadaan, mereka lebih memilih untuk menyerang Fire Lord Ozai langsung pada saat gerhana itu tiba.
Kekuatan dari segala penjuru pun bergabung dengan mereka. Freedom Fighters, beberapa pasukan pejuang kemerdekaan resmi dari Earth Kingdom dimana Haru dan ayahnya turut bergabung dengan mereka, Swamp bender di Earth Kingdoms. Pasukan di North pole masih menderita kerugian akibat serbuan Negara api tempo hari lalu, maka mereka juga butuh banyak pasukan untuk berjaga di North Pole, kalau saja ada pasukan dari Fire Nation yang menyusup secara diam-diam.
Karena baru pertama kali berbicara di hadapan banyak orang, Sokka gemetaran dan bicaranya sedikit ngawur "Tadinya kita memiliki avatar bersama kita, tapi avatar sudah mati karena dibunuh oleh …"
Katara segera menyuruhnya diam. "Shhh!"
Hakoda pun mengambil alih. "Putraku Sokka memiliki ide brilian dengan memanfaatkan gerhana matahari yang akan datang beberapa hari lagi. Seperti yang kita tahu, para Fire benders mendapatkan kekuatan mereka dari matahari. Dan saat gerhana matahari terjadi, Fire Nations mendapatkan hari-hari tergelap mereka dimana pengendalian api mereka tidak akan berfungsi sebagaimana harusnya. Pada saat itulah mereka jadi tidak berdaya dan itu saatnya bagi kita untuk menyerang."
Semua orang suka dengan siasat tersebut dan menunjuk Hakoda untuk memimpin mereka. Sementara yang lain bersiap-siap, Zuko menghampiri Sokka. Wajahnya terlihat ragu, seperti ada yang ingin ia sampaikan.
Sokka langsung bicara banyak saat ia melihat Zuko. Ia sedang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menerka maksud orang lain saat ini. "Oh, Zuko. Kau tidak akan bisa berbuat banyak saat gerhana matahari terjadi. Tapi aku tahu kau adalah swordsman yang hebat. Tapi itu kembali lagi kepadamu, .."
Zuko menghentikan ucapan Sokka. "Aku punya rencana lain."
"Ha? Jangan bercanda? Gerhana matahari ada dalam hitungan hari, dan kita tak ada waktu untuk mengganti rencana!" kata Sokka.
"Bukan. Bukan soal strategi perang kalian. Aku ada kegiatan lain." kata Zuko.
Sokka terkejut. "Apa maksudmu?"
Katara mendengarnya dan memutuskan untuk menguping.
"Pamanku. Ia ada di dalam penjara. Ia ditahan saat berusaha menyelamatkan aku, Aang dan Katara di Ba Sing Se kemarin. Aku ingin membebaskan dia. Setelah gerhana matahari selesai, para Fire benders akan kembali mendapatkan kekuatan mereka dan pada saat itu, apa yang akan kalian lakukan? Aku yakin aku dan paman bisa berbuat banyak untuk kalian pada saat itu tiba." Kata Zuko.
"Pamanmu… Iroh? Aku tidak yakin… tapi sepertinya dia…" Sokka belum pernah melihat Iroh bertarung.
"Aku tahu pamanku seperti orangtua bodoh yang pemalas, bau, dan gemuk. Tapi sesungguhnya ia adalah jendral perang terhebat di Negara api dahulu." Kata Zuko.
"Tidak bisa!" Katara tiba-tiba bergabung dalam pembicaraan itu. "Siapa yang bisa menjamin ia akan kembali bersama pamannya? Kau? kenapa ia mau menepati janjinya demi kau, Sokka?"
Sokka menenangkan Katara yang kesal. "Katara, kau ini kenapa?"
"Aku kenapa?" tanya Katara. "Kau yang kenapa! Apakah kau lupa betapa manipulatifnya keluarga Fire Lord itu? karena kelicikan mereka lah Ba Sing Se akhirnya jatuh ke tangan musuh. Mereka sangat lihai. Lebih licik daripada Long Feng."
Karena cukup masuk akal, Sokka hanya diam dan mendengarkan kelanjutannya, apa yang Katara pikirkan. Katara pun melanjutkan. "Barangkali apa yang dialami Aang juga ada hubungannya dengan kelicikan mereka. kau tahu? membuatku mempercayai Zuko dan membiarkannya bergabung diantara kita dan kemudian membunuh Aang. Setelah Aang mati, ancaman sudah hilang dan mereka bisa memulai penyebaran terror mereka. dan kali ini, Zuko disusupkan ke tengah-tengah kita agar kita semakin percaya padanya, kemudian pada hari ini tiba, Zuko kabur karena ia tahu bahwa pasukan kita akan masuk ke dalam jebakan Fire Nation."
Zuko tidak bereaksi lain, selain dari reaksi terkejut. Dengan rasa kecewa yang besar, ia berkata dengan tenang dan dingin. "Wow…. Aku tidak percaya ini… kau…."
"Apa? Bukankah begitu, Zuko?" kata Katara. "Semua menjadi semakin masuk akal… kau tidak boleh pergi!"
Zuko terlihat kecewa. "Kukira kau berbeda dengan Mai… namun ternyata kau sama. Kalian berdua selalu salah paham padaku."
Zuko lalu membalikkan badannya dan meninggalkan Katara dengan dingin. Sokka memanggil Zuko. "Hei! Zuko! Tunggu!"
Tapi Zuko kembali ke tendanya, entah apa yang ia lakukan di sana. Tapi ia tidak mengemasi barangnya. Barangkali untuk membuat Katara percaya bahwa Zuko sudah tidak berniat lagi terhadap tahta. Semua hal-hal politik ini telah cukup melelahkan hatinya. Dan bila pun ia ingin menggulingkan Fire Lord, semua itu dilakukannya karena ingin membuat pamannya menjadi Fire Lord. Ia merasa bahwa Iroh lah yang paling bijaksana untuk menjabat kedudukan terhormat itu dan mengembalikan kehormatan bangsanya.
Sokka marah pada Katara. "Kenapa kau bicara begitu?"
Katara tidak menjawab dan meninggalkan Sokka. Ia duduk sendirian di atas pasir, mengamati ombak yang datang dan pergi. Toph mendatanginya dan bertanya. "Kalau kau sungguh tidak ingin dia pergi, kenapa kau harus bicara begitu padanya?"
Katara menoleh pada Toph. Tidak menyangka gadis kecil itu ada di dekatnya. Lalu ia berkata penuh emosi. "Lalu kau mau aku berkata bagaimana? 'Zuko, jangan pergi sendirian, bla bla bla?' kau pikir ia mau mendengarkan aku?"
Toph duduk sambil mendengarkan kelanjutannya. Katara tertawa ironis. "Aku pernah masuk penjara Fire Nation .. untuk membebaskan Haru. Penjara Fire Nation sangat buruk… apalagi saat itu adalah gerhana matahari… ia bodoh sekali mau sok jagoan masuk ke penjara sendirian untuk membebaskan pamannya…"
"Kalau kau memang ternyata begitu perduli pada keselamatannya, kenapa kau harus berkata sesinis tadi? Apa sulitnya bicara baik-baik tentang apa yang kau pikirkan tentangnya?" tanya Toph.
Katara memikirkan ucapan Toph. Ia benar. Kenapa begitu sulit bagi Katara untuk bicara manis pada Zuko, sebagaimana ia dahulu sering bicara manis pada Aang. Bahkan untuk bicara normal padanya seperti halnya terhadap Sokka dan Toph pun sulit. Rasanya ia harus marah pada Zuko, sekalipun ia tidak menginginkannya. Katara kebingungan dan mengusap airmatanya. "Entahlah…"
Toph tahu bahwa ini pasti tentang kematian Aang. Katara masih belum bisa melupakannya. "Kalau kau lihat hubungan Zuko dengan Aang Jr, kedengarannya mereka berdua baik-baik saja. Bahkan Aang Jr, sekalipun masih suka mengencingi Zuko, tapi ia suka bila Zuko menggendongnya. Ia benar-benar mengira Zuko orangtuanya, sama seperti kau. Kurasa itu berarti…."
Katara memotong ucapannya. "Aku tidak mau dengar, Toph. Tinggalkan aku sendirian."
Toph berhenti bicara. Katara sepertinya memang butuh waktu sendirian. Ia butuh waktu untuk menerima bahwa Aang sudah meninggal dunia. Dan ini saatnya bagi dirinya untuk melanjutkan hidupnya.
Zuko memang tidak meninggalkan mereka. Ia juga berhenti bicara pada Katara. Sekalipun hubungannya dengan Sokka atau Toph tidak berubah karena ucapan Katara. Kini ia dan Katara sudah seperti dua orang yang merasa tidak pernah kenal atau tidak mau kenal. Mereka saling menghindari dengan dingin.
Namun keadaan seperti itu malah membuat Katara merasa ada yang salah. Sementara Zuko sudah mendapatkan ijin dari Sokka dan Hakoda untuk menyusup ke dalam penjara Fire Nation untuk membebaskan pamannya, Iroh. Zuko masih memikirkan ucapan Katara. Ia memberikan kepada Sokka pedang yang diberikan Iroh kepadanya. Dimana pada mata pedangnya terdapat tulisan yang menjadi moto Zuko. "Never give up without a fight."
"Itu adalah benda yang sangat berharga untukku. Aku ingin kau menyimpannya sebagai jaminanku. Bila aku tidak juga kembali, maka berarti aku sudah tertangkap atau mati." Kata Zuko.
Sokka menerima pedang pendek itu dan berkata. "Kalau begitu, kau dan pamanmu harus segera kembali."
"Bila terjadi sesuatu, aku akan menunggumu di Western Air Temple yang letaknya cukup dekat dengan tempat Fire Lord. Itu tempat pertemuan kita bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Kata Zuko.
Zuko pamit pada Hakoda, Sokka dan Toph. Sekilas, ia melirik Katara di seberang. Gadis itu tampak cuek. Kedua alis Zuko bertautan sedih, dan segera berpaling pergi. Ia diberikan Giant Eel untuk mempercepat perjalanannya ke penjara Fire Nation. Sementara itu, Katara sebenarnya ingin menyampaikan maaf atau sekadar ucapan semoga berhasil untuk Zuko, atau ia akan menunggunya kembali. Namun entah kenapa keberanian tidak muncul.. atau barangkali ada sesuatu yang menahannya. Sesuatu yang berasal dari dalam dirinya, atau dari Zuko yang kini sudah menjadi begitu dingin terhadapnya?
Apapun itu, kini mereka harus segera pergi. Katara menitipkan Aang Jr pada beberapa wanita dari Water tribe yang ada di sana. Sebelum pergi, Katara mengecup Aang Jr. "Jangan ngompol ya.."
Hakoda berpesan pada para wanita untuk mengungsi ke Western Air Temple karena menang atau kalah, campbase mereka yang sekarang ini akan segera ditinggalkan.
Serbuan terhadap Fire Nation awalnya berjalan mulus. Katara dan Sokka mengendarai Appa untuk menyerang langsung ke inti pertahanan Fire Nation segera setelah gerhana muncul. Toph menggali dasar istana untuk menyusup ke basement karena di ruang tahta, Ozai tidak ditemukan.
Selagi mencari-cari, mereka malah bertemu Azula yang dilindungi oleh beberapa agen Dai Li dan Azula berhasil memancing emosi Sokka dengan mengatakan sesuatu tentang Suki sehingga akhirnya gerhana matahari pun selesai dan mereka telah sadar bahwa mereka gagal.
Kini rencana berubah, mereka berencana untuk mundur teratur, namun pasukan Fire Nation yang telah mendapatkan kekuatannya kembali seusai gerhana matahari, membombardir mereka dengan ganas dari barisan depan dan belakang. Airship mereka dikeluarkan agar mereka dengan cepat mencapai pelabuhan dimana kapal-kapal para penyerbu itu berlabuh.
Namun di medan tempur, keadaan sudah jelas bahwa pasukan penyerbu tidak memiliki pilihan lain selain menyerah. Mereka tidak bisa pergi, namun juga tidak bisa maju. Mereka terhimpit. Maka, Hakoda menyuruh Sokka untuk menjaga para remaja yang turut serta dalam pertempuran ini untuk melarikan diri ke Western Air Temple.
"Kalau saja Aang masih hidup… barangkali keadaan akan berubah… kita bisa menang." Kata Katara penuh penyesalan.
Ia sudah sering berkata demikian, dan kali ini Hakoda harus bertindak, menurutnya, sudah terlalu lama Katara menyesali kematian Aang, sekalipun ia sangat mencintainya. Ia berkata pada putrinya. "Tidak juga, nak. Kita tidak bisa terus bergantung pada sebuah kekuatan saja. Kita harus terus menempa diri agar kita bisa memperjuangkan impian kita sendiri… impian kita bersama. Apa yang sudah terjadi, biarkan terjadi, kita harus bisa menjadi harapan bagi diri kita sendiri."
Katara memeluk ayahnya. "Aku mencintaimu, yah.."
Setelah Katara naik ke atas Appa, Sokka memeluk ayahnya. "Aku akan segera kembali untuk menyelamatkan kalian. Aku janji."
"Kalian adalah harapan bagi masa depan. Yang terpenting kalian selamat." Kata Hakoda sambil melepas kepergian kedua anaknya.
Tim pertama yang dipimpin Sokka sudah tiba di Western Air Temple dalam keadaan letih dan lesu. Wajah-wajah kalah perang. Mereka sudah menyeberangi Fire Nation dan melewati Earth Kingdom. Appa kelelahan dan mereka terpaksa harus berjalan kaki.
Sokka dan remaja lainnya naik ke punggung Appa dan terbang ke bawah jurang dimana terletak kuil-kuil Air Nomad yang tergantung terbalik. Dan di sana, mereka bertemu dengan para wanita water tribe yang sudah menunggu mereka bersama Aang Jr.
Seorang wanita segera menyambut kedatangan mereka. "Syukurlah kalian selamat. Tapi… melihat dari wajah kalian, sepertinya …."
Sokka tidak mau membicarakannya. "Aku lelah sekali. Aku ingin berenang."
Katara mengambil kembali Aang Jr dari wanita yang menggendongnya. Aang Jr masih ceria seperti biasanya dan seperti biasa, ia memangil Katara "Papa."
Haru melihat arsitektur kuil dan menjadi bingung sendiri. Lalu ia bertanya pada seorang wanita. "Bagaimana cara kalian bisa sampai di sini? Turun dengan tali?"
Wanita yang ditanya menunjuk ke salah satu tempat. "Awalnya kami juga bingung. Tapi kemudian kami menemukan tangga di sana yang membawa kami turun ke bawah. Dan tibalah kita semua disini."
2 hari berlalu dengan suntuk. Sokka kelihatan patah semangat dan kehilangan harapan. Beberapa orang seperti Duke dan Haru bertanya-tanya, apakah mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka di sini? Tempat ini sangat damai dan sulit ditemukan. Ataukah menunggu Aang Jr dewasa dan menguasai keempat element lalu menjadi harapan baru mereka?
Dan Katara tertawa mendadak saat makan malam. "Zuko tidak kembali, kan? barangkali ia sedang merayakan keberhasilan tipu muslihatnya bersama sang ayah dan kakak... sungguh putra mahkota yang berbakti."
Sokka kali ini diam saja. Katara mungkin benar. Dan kegagalan mereka… barangkali Katara memang benar. Namun Toph memiliki pendapat lain. "Atau barangkali kita harus melihat sendiri ke penjara Fire Nation apakah Paman Iroh masih ada di sana atau tidak?"
Katara menanggapi dengan sinis. "Bila ada?"
"Berarti Zuko memang membohongi kita." Kata Toph.
Katara tersenyum penuh kemenangan. Lalu ia bertanya lagi. "Kalau tidak ada?"
"Berarti terjadi sesuatu pada Zuko." Jawab Toph santai.
Mendengar itu, Katara mendadak merasa sedih. Makanannya belum habis, tapi ia meletakkannya di atas lantai. Sokka mengeluarkan pisau yang diberikan Zuko padanya. Iseng, ia menghunusnya. Lalu ia tersenyum. "Tapi kurasa Zuko tidak berbohong pada kita."
Segera setelah itu, beberapa wanita masuk ke dalam ruangan dengan wajah senang. "Halo… coba tebak siapa yang datang…"
Katara menoleh ke arah mereka penuh harap. Lalu muncullah orang tua dari balik pintu. Wajahnya sangat serius. "Selamat malam. Perkenalkan. Aku Iroh, dan aku memiliki ambisi…. Merebut kembali kedai tehku yang direbut oleh adikku, Ozai."
Toph mengenal Iroh. Dan ia menyukainya. Ia segera berdiri dan menghampiri Iroh. "Kau selamat!"
Iroh tertawa dan membopong Toph sebentar seperti anak kecil. Sokka berdiri dan menyambut kedatangan Iroh. "Jadi kau sudah bebas…"
Iroh mengangguk. Lalu Sokka memperkenalkan Iroh pada orang lain yang belum mengenalnya seperti Haru, Duke..
Katara terlihat mencari-cari seseorang. Hanya Toph yang menyadarinya. Lalu ia bertanya pada Iroh. "Mana Zuko?"
Mendengar pertanyaan Toph, Katara terkejut.
Iroh menunduk dengan wajah pesimis.
Melihat itu, orang-orang menyangka bahwa telah terjadi sesuatu pada Zuko. Sokka berujar pelan.. "Jangan sampai…"
Iroh lalu berkata. "Keponakanku bodoh sekali. Ia nekad mencuri balon udara yang sedang parkir di sekitar penjara dan…"
"Mati?" tanya Toph.
Katara terlihat tegang.
Iroh tertawa. "Mati? Ha ha ha! Jangan berlebihan.. Tentu saja tidak!"
Lalu wajahnya kembali menjadi kesal lagi. "Dia selalu begitu, tidak pernah berubah. Sudah kubilang kita boncengan naik Giant Eel, tapi dia tetap ingin menggunakan balon udara. Dan rasakan sekarang akibatnya, dia kebingungan mau menyembunyikan balon itu dimana agar tidak ketahuan Fire Nation."
Katara kesal. "Seharusnya kau katakan langsung kalau dia mencuri balon! Jangan bikin orang lain …."
Katara tampak berpikir sejenak untuk memikirkan kata yang enak. Lalu ia melanjutkan. "…Bingung!"
Setelah itu Katara menggendong Aang Jr dan masuk ke dalam kamarnya.
"Huehhh Katara .. ia jadi semakin galak saja." Keluh Sokka.
"Tidak apa-apa. Kalian baru saja mengalami kejadian tidak mengenakan. Aku mengerti perasaan kalian." Kata Iroh. Lalu ia membelai janggutnya sambil tersenyum cerdas. "Tapi jangan kuatir. Aku rasa aku memiliki sedikit cara yang mungkin bisa memberikan kita jalan keluar untuk menghentikan Fire Lord Ozai."
chapter 7 kubagi 2 karena di Draft nya semua ini aslinya 1 chapter.
judulnya family reunion; reuni "keluarga" Zuko-Aang Jr-Katara-Sokka-Appa-Toph
dan kembalinya Iroh juga tergolong dalam hitungan "reuni".
tapi karena word count sudah mencapai 4.500 total (kurang lebih), maka saya memutuskan untuk membaginya jadi dua bagian jadi tidak terlalu tampak banyak. untuk menghindari yang baca biar gak cape duluan ngeliat scroll nya. haha ..
btw, thx 4 reading ^_^
