"Sometimes home is not four walls. Sometimes it is two eyes and a heartbeat."

.

.

.

Lu Han tahu ia telah memilih pilihan yang sangat tepat saat pertama kali ia melangkahkan kakinya kedalam ruang jurusan ini; dengan sebuah map merah berisi berkas-berkas penting yang telah ia tandatangani dan setujui. Ia yakin inilah yang ia inginkan dan terbaik baginya. Sehingga saat ini, ketika ia duduk di depan dosen pembimbingnya yang sedang meneliti kelengkapan berkas-berkasnya, ia menghela napas panjang.

Karena ia yakin bahwa ia sudah memilih pilihan yang tepat.

Namun rupanya, dosen yang seminggu yang lalu merekomendasikannya untuk pergi ke Perancis tak sependapat dengannya. Nyali Lu Han menciut kala ia melihat dosennya mengerutkan keningnya begitu dalam dan menoleh kearahnya lewat atas kacamatanya, seakan-akan ia tak mengerti apapun yang Lu Han katakan di dalam berkasnya.

Lu Han menatapnya dengan penuh perhatian, menunggu apa yang akan beliau katakan. Namun dosen di depannya kembali menatap kertas yang ia pegang, menelisik lagi, mungkin ragu akan penglihatannya sendiri.

"Lu Han, apakah kau tidak salah mengambil keputusan?" kata Profesor Jaehan pada Lu Han. Tatapannya menyiratkan kebingungan yang kentara dan ia membenarkan posisi duduknya. Berkas Lu Han ia letakkan, dan kini matanya memicing kearah Lu Han yang mengangguk kecil.

"Saya sudah mempertimbangkan semuanya, Profesor. Dan berkas tersebut telah memuat semua keputusan saya."

Profesor Jaehan menghela napas berat, menutup mata sambil memijit keningnya. Ia tak yakin apakah pilihan Lu Han kali ini sungguh benar, mengingat bahwa ia sudah merencanakan matang-matang tentang hal ini dan semula ia yakin Lu Han takkan menolak tawarannya, namun...

"Dengar, Lu Han," katanya, mencoba untuk mengubah keputusan Lu Han, "Aku tahu Baekhyun memang anak yang berbakat, dan aku takkan menyesal dengan mengatakan bahwa kemampuannya yang mumpuni bisa saja sejajar denganmu nanti, tapi—Lu Han, apakah kau yakin akan menyerahkan tawaran ini pada Baekhyun?"

Lu Han menurunkan pandangannya, memandangi jari-jemarinya yang terlihat kaku di atas pahanya. Ia mencoba mereka ulang keputusannya dan alasan-alasan yang membuatnya memilih untuk melimpahkan tawaran ini pada Byun Baekhyun—setelah melalui permintaan alot pada Baekhyun sendiri, tentunya—dan ia yakin bahwa ia memang menginginkan hal ini.

"Ya, Profesor," jawabnya lirih. "Saya yakin seratus persen akan menyerahkan kesempatan ini pada Baekhyun."

"Bukankah kau ingin mendapatkan beasiswa ke Luar Negeri, Lu Han?"

Lu Han mengangkat kepalanya, memandang dosennya yang menatapnya ragu namun Lu Han tahu benar bahwa ia sudah tahu jawaban akan pertanyaan tersebut.

Dengan sebuah senyum lemah, Lu Han menjawab, "Kemanapun asal jangan kuliah di Paris, Profesor."

Setelah melalui tiga puluh menit diskusi alot pada dosen yang ingin meyakinkannya bahwa kesempatan kali ini adalah tiket emasnya untuk mendapatkan beasiswa dan berbagai tawaran menggiurkan lainnya, Lu Han akhirnya undur diri dari kantor dosennya, mendapatkan sebuah persetujuan. Sesaat setelah ia melangkahkan kaki keluar dari kantor, ia langsung disapa oleh sosok Baekhyun dan Chanyeol yang rupanya sudah menunggunya di depan kantor.

Keduanya berlari kearahnya, dan Lu Han melemparkan sebuah senyum kecil.

"Apa keputusan akhirnya?" Baekhyun langsung bertanya sesaat setelah ia berdiri tepat di depan sosok Lu Han.

Lu Han tersenyum, menepuk lengan Baekhyun dan berkata, "Kau pergi ke Paris minggu depan."

Baekhyun mematung, mencoba mencerna informasi tersebut dan Chanyeol yang berdiri di depannya nampak sama terkejutnya. Mereka—juga Kyungsoo dan Jongin—takkan mengira bahwa dosen Lu Han akan dengan mudah mengizinkan tawaran itu untuk dipindahtangankan pada orang lain, mengingat bahwa Lu Han adalah kartu As mereka.

"Baekhyun?"

Suara Lu Han yang memanggil namanya mendorong Baekhyun kembali ke bumi, memaksakan atensinya pada Lu Han dan menatap lelaki China di depannya skeptis.

"Apakah kau benar-benar yakin dengan hal ini?"

Lu Han mengangguk tegas, menerangkan bahwa ini sudah keputusan finalnya. Baekhyun menghela napas lelah.

Chanyeol mengangkat kepalanya, memandang Lu Han bingung dan bertanya, "Lalu apa rencanamu selanjutnya?"

Lu Han nampak tak yakin dengan jawaban atas pertanyaan Chanyeol maka ia mendesah kecil, maniknya bergerak gelisah hingga Baekhyun menggenggam tangannya. Pemuda bersurai brunette tersebut memandangnya dengan tegas namun lembut, seakan ingin menghapus semua rasa bingung dan hampa yang Lu Han rasakan.

Dengan lirih, Baekhyun membantu mengusir awan kelabu yang menyelimuti benak Lu Han. "Aku akan membantumu melaksanakan semuanya."

Lu Han tak bisa berkata apapun kecuali terimakasih.

Jika ini memang apa yang harus ia lakukan, ia akan melakukannya.

.

.

.

Sehun menyukai Paris, itu memang benar, namun ada kalanya ia merindukan negara asalnya. Ia tahu semua sudut di kota Paris menyihirnya seakan ia ingin tinggal di sana selamanya. Di setiap sudutnya dan semua aspek yang ia jumpai menelannya pada keinginan untuk menetap dan menjalani hidup di sana. Tapi, di saat-saat seperti ini, di kala ia duduk sendiri di ujung sebuah kedai kopi saat sore menjelang dengan secangkir kopi hitam di depannya, adalah saat di mana ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri yang memaksanya untuk memikirkan semuanya.

Semua hal yang ia hancurkan sendiri.

Dari awal ia memang sudah sadar, sepenuhnya tahu, jika apa yang membuat langkah kakinya pergi kesini bukanlah semata tentang pendidikan dan karier, namun ada hal lain.

Dan hal itu adalah Soojung.

Ia tahu ia sudah menjadi lelaki bajingan dengan meninggalkan kekasih—yang ia rasa ia cintai dengan begitu dalam—untuk pergi kesebuah tempat jauh, terpisah oleh benua, untuk sebuah alasan tentang masa lalu.

Ia sudah menghancurkan dua hal dengan datang kesini—hati Lu Han dan impian mereka berdua.

Hal lucu adalah saat kini ketika ia sedang merindukan Lu Han, adalah hanya saat ia tak bersama dengan Soojung. Saat ia sedang sendiri seperti ini, tanpa Soojung di dekatnya, pikirannya akan terbang ke Korea, hinggap pada sosok Lu Han dan menggali kembali semua mimpi dan kenangan selama ia bersama dengan pemuda tersebut dan berpikir lebih dalam mengapa ia bisa melakukan semua ini, apakah ini terasa begitu benar dan tepat. Kadang juga, pikirannya akan berkelana pada apa yang sedang Lu Han lakukan saat itu, apakah ia baik-baik saja, walaupun ia lebih dari tahu jika Lu Han sedang dalam keadaan yang buruk karena... Well, apa yang bisa ia harapkan, memangnya?

Ia yang meninggalkan Lu Han adalah hal buruk, namun ia yang menjalin hubungan hanya lewat pesan singkat—sepuluh pesan singkat dalam dua bulan, tepatnya—adalah hal yang berengsek.

Ada saat di mana Sehun siap untuk melepas Lu Han karena ia pikir, bersama Soojung akan jauh lebih mudah. Ia tak perlu menjadi berbeda dengan mencintai Soojung karena pada hakikatnya, lelaki ditakdirkan bersama wanita. Namun ada kalanya bahwa ia berharap bahwa ketika ia kembali nanti, Lu Han masih mau menerimanya karena hatinya masih berat melepas kekasihnya tersebut.

Bahkan Sehun juga tak yakin apa yang sedang terjadi pada hatinya sendiri.

Lonceng di pintu kafe berdering pelan, menandakan bahwa ada pelanggan yang masuk namun Sehun tak ingin repot-repot mengangkat kepalanya karena ia masih sibuk tenggelam dalam seribu pikiran tentang Lu Han dan Korea.

"Sehun."

Sehun terperanjat mendengar sebuah suara memanggil namanya, membuatnya mendongak, menatap sosok yang sedang berdiri dan menarik kursi di depannya. Soojung melempar senyum kecil pada Sehun yang dibalas dengan senyum serupa.

"Aku tadi ke apartemenmu namun kau tak ada di sana. Rupanya tebakanku benar; kau ada di sini."

Sehun tersenyum mendengar kalimat Soojung. "Ada perlu apa?"

Mendengar pertanyaan Sehun, Soojung menegakkan tubuhnya, membawa kedua tangannya bertumpu di atas meja di antara mereka. Matanya bergerak gelisah, mencari-cari benda yang bisa ia tatap kecuali mata Sehun, sementara pikirannya mencoba mencari kata yang tepat untuk merefleksikan apa yang ada di dalam benaknya saat ini.

Sehun mengerutkan keningnya, mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan perempuan di depannya tersebut, karena Soojung terlihat begitu ragu dan seakan ingin mengatakan sesuatu namun takut untuk mengutarakannya. Beberapa detik mereka lewati dengan keheningan dan kekosongan yang meraja, dan Sehun adalah orang pertama yang angkat bicara.

"Soojung?" panggilnya. "Ada masalah?"

Perempuan tersebut mendongak, menatap Sehun yang menatapnya bingung namun tak ada satu silabelpun yang keluar dari mulut manisnya. Ia masih menatap Sehun, seolah sedang menerka satu bilik kecil perasaan yang terbenam dalam hatinya, mencoba mengira-ira siapa yang bertahta di sana karena apa yang ingin ia katakan adalah suatu hal yang bahkan, ia kira, sangat rumit untuk diutarakan.

Soojung bohong jika ia bilang bahwa ia berhenti mencintai Sehun saat ia pergi dari Korea. Ia bohong jika bilang bahwa ia bahagia di Paris tanpa Sehun. Ia bohong jika ia sakit ketika mendengar dari temannya bahwa kini Sehun sudah tak sendiri. Ia bohong jika di dasar hatinya, ia ingin merebut Sehun kembali. Merebutnya dari sosok bernama Lu Han.

Maka dari itu, Soojung mendongakkan kepalanya, menatap Sehun dengan pandangan tegas—seolah sedang meminta dan mengemis sekaligus memerintah. Ia menatapnya, lama, tanpa suara karena jika ia membuka suara—

"Soojung?"

"Kau harus memilih salah satu, Sehun."

—ia akan memaksa Sehun untuk membuat sebuah pilihan.

.

.

.

Sehun tahu, dari awal, ia memang sudah merelakan Soojung dan semua masa lalunya. Ia tahu saat pertama kali melihat Lu Han, bahwa sepertinya masa depan dan kisah cintanya takkan seburuk yang ia kira. Ia tahu, saat pertama kali bertemu dengan Lu Han, bahwa mungkin, mungkin saja, takdir akan menggariskan satu cerita panjang dan berliku, namun akan berakhir sesuai jalannya, untuknya. Ia tahu bahwa melepas Soojung dan memberi kesempatan pada Lu Han untuk menggambar takdir baru di hidupnya adalah pilihan yang bijak dan terbaik.

Namun rupanya takdir ingin bermain curang dengannya. Di saat ia sudah mendapat awal cerita yang baru nan bahagia, rupanya masa lalu dengan enaknya mengetuk pintu hatinya. Masa lalu yang datang di tengah-tengah riuh kota Paris, dengan seorang gadis cantik yang dulu pernah mengisi ruang kosong di cela hatinya bernama Jung Soojung. Ia datang kembali—atau lebih tepatnya ia yang mendatanginya kembali dalam kasus ini—dalam kehidupannya, mencoba menguak masa lalu yang sudah berhasil ia kubur, mencoba menariknya kembali walau ia sudah mencoba lupa, mencoba mengajaknya kembali kala ia sudah memulai awal kehidupan yang baru bersama Lu Han.

Ia tahu ia akan jadi berengsek jika ia meninggalkan kehidupan dan cerita barunya bersama Lu Han untuk menyelam kembali bersama masa lalu, namun saat Soojung berbicara padanya empat mata tadi di kedai kopi, ia merasa tak berdaya.

Rupanya, ia mulai sadar jika masa lalunya telah meracuni kewarasan yang tersisa.

Tadi sore saat Soojung menghampirinya, meminta padanya untuk memilih satu dari dua pilihan, memintanya untuk menetapkan garis tegas—ia menjadi lemah. Saat manik ganda Soojung menatapnya keras dan tegas, memintanya untuk memilih antara masa lalu atau masa depan, ia tak bisa berkutik. Kata-katanya sungguh menusuk ulu hatinya, membekaskan luka yang memang benar adanya.

Ia tak bisa terus menerus menjalani hidup semacam ini. Ia tak bisa terus menerus mencium Soojung sementara di sana, nun jauh di benua sana, masih ada sosok kekasih yang setia menanti sebuah pesan singkat berisi sapa mesra atau kabar biasa.

Ia tak bisa memeluk wanita lain sementara di sana masih ada seorang lelaki yang menarus seratus persen harapan untuknya agar tetap setia.

Ia tak bisa menjalani cerita semacam ini; yang mana sekarang atau nanti pasti akan melukai banyak pihak.

Maka dengan suara lirih namun penuh dengan nada yang memerintah, Soojung mengutarakan permintaannya, sebelum pergi dari hadapannya.

Ia tahu bahwa masa lalunya tak akan bisa berubah namun ia juga takut akan masa depan yang nampak tak pasti dan samar-samar, terlalu bias untuknya. Terlalu menakutkan karena dari awal, keraguan itu selalu ada. Bersama Lu Han akan menjadi sebuah pilihan yang berat karena hubungan mereka belum terlalu diterima di masyarakat. Bersama Lu Han akan menjadi sebuah pilihan yang penuh resiko sementara dengan bersama Soojung, semua akan lebih mudah.

Namun seribu kenangan bersama Lu Han akan selalu hadir saat ia memilih untuk berlari pada masa lalu. Ia masih ingat dan merindu pada Lu Han dan semua tingkahnya, semua sifatnya, bagaimana ia akan merajuk hanya karena Sehun memesankannya cokelat panas daripada Macchiato, bagaimana ia akan marah saat Sehun tak memerhatikannya, bagaimana ia akan menangis hanya karena hadiah sederhana, bagaimana ia akan tertawa dan menghormati semua teman Sehun karena mereka juga menjadi temannya.

Ia ingat seribu kenangan, tentang bagaimana senyum Lu Han akan selalu menghangatkan hatinya, bagaimana tawanya akan menyembuhkan segala resah dan lelah, bagaimana sentuhannya akan membawanya melayang dan ia merasa begitu dicintai, bagaimana pelukannya terasa begitu familiar seperti rumah, tempat berlindung baginya.

Ia ingat bagaimana pelukan Lu Han yang begitu hangat dan nyaman meradiasikan kasih sayang dan menguarkan aroma vanila dan stroberi—berbeda dengan Soojung yang menguarkan aroma parfum mewah yang mana ketika ia memeluknya, ia merasa ada sesuatu yang salah.

Sehun selalu berpikir jika pelukan Lu Han lebih hangat dan nyaman namun ia kira itu karena ia sudah tak memeluk Soojung dalam waktu yang lama.

Sehun mengira ia sudah terbiasa dengan Lu Han karena kenangan Soojung bersamanya perlahan-lahan mulai terkikis.

Tapi, masa lalu selalu membuntutinya, seakan tak peduli betapa manis dan hangatnya cerita cintanya yang baru, ia akan tetap kembali menghantuinya dan mengajaknya kembali bersama Soojung.

Karena sekali lagi, bersama dengan Soojung terasa lebih mudah.

Oh Sehun adalah pemuda yang takkan menghabiskan waktu untuk berpikir dan memilih. Oh Sehun juga bukan sosok pemuda yang akan menangis. Tapi malam itu, ia menangis seraya merintih, meminta jawaban pada dunia akan satu pilihan yang harus ia ambil.

Namun sebanyak dan selama apapun ia mengulur waktu dengan menangis dan bertanya, ia harus memutuskan.

Sebelum semuanya terlambat.

Melirik jam yang ia letakkan di meja nakas samping tempat tidurnya, Sehun berpikir bahwa ia harus memutuskan pilihannya saat ini, atau ia akan selalu mengulur-ulur waktu. Ia tak memedulikan teriakan hatinya yang menyuruhnya untuk menunggu lebih lama akan jawaban dari hati kecilnya. Ia juga tak memedulikan getaran di tubuhnya yang menyuruhnya berhenti karena sedetik kemudian, ia sudah mengambil ponselnya, mengetik nomor telepon yang sudah ia hapal di luar kepala dan membawa ponselnya ke depan telinga kanannya.

Pada dering keempat, sambungan telepon di seberang sana terangkat.

"Halo? Sehun?"

Sehun tak tahu bagaimana hatinya berdetak dua kali lebih cepat saat orang di seberang telepon berbicara memanggil namanya dengan lembut, seakan mencoba merengkuh Sehun yang nampak semu. Ia tak tahu bagaimana dua matanya mengeluarkan air mata, mencoba menetralkan detak jantungnya sekaligus mengusir semua rasa ragu yang merangkak kedalam pikirannya.

Ia sadar ia begitu merindukan suara itu. Ia sadar bagaimana ia ingin selalu mendengarnya, namun ia juga takut. Ia takut akan apa yang akan terjadi nanti, hanya akan membuatnya semakin lemah dan bodoh.

"Lu Han-ah..."

Keheningan merajai sambungan telepon mereka, dan Sehun tahu ia akan gila jika Lu Han berbicara. Maka, dengan satu tarikan napas panjang, ia mulai membuka suaranya.

"Ada yang ingin aku sampaikan," katanya.

Sehun mencoba menelan rasa ragunya, namun ia tak tahu mengapa hatinya begitu berat, seakan tak sudi mengatakan kata-kata yang ingin ia utarakan. Ia juga tak tahu mengapa air mata masih saja bergelimang di antara kedua matanya. Namun sesaat setelah ia membuka mulutnya untuk berkata, suara di seberang telepon telah terlebih dahulu terdengar. Begitu merdu, menenangkan dan membawa kejut sekaligus ngeri di ulu hatinya.

"Sehun-ah." Lu Han memanggil namanya dan Sehun baru sadar jika ia merindukan bagaimana Lu Han menyebut namanya. "Apa kau makan dengan baik di sana? Apa kau sehat-sehat saja?"

Air mata Sehun mulai tak terbendung dan isak tangisnya terdengar agak keras, dan ia yakin jika Lu Han bisa mendengarnya namun sosok di seberang telepon tersebut enggan mengetahui alasan dibalik tangisnya.

Sehun ingin mengatakan bahwa seharusnya Lu Han berhenti khawatir karena hal itu akan membuat Sehun menjadi meragu lagi, namun seakan kata-katanya terhenti di tenggorokan, ia tak kuasa berucap.

Ia hanya berdiam tanpa suara kecuali isak tangis yang beberapa saat kemudian mulai mereda.

Sehun tak tahu apa diam dan isak tangisnya membuat Lu Han khawatir namun ia ingin berhenti berpikir.

"Lu Han... Aku—"

"Sehun," kata Lu Han memotong kalimat Sehun. "Aku merindukanmu. Aku merindukanmu, Sehun. Kenapa kau melakukan hal ini padaku?"

Dan Sehun bersumpah, ia bersumpah bahwa ia mendengar Lu Han menangis di ujung sana.

Dan hatinya ikut hancur mendengarnya, seolah tangisan itu adalah hal terakhir yang ingin ia dengar di dunia ini.

"Maaf," kata Sehun. "Maaf. Maaf. Maaf."

Ia menggumamkan kata maaf seolah maaf bisa menyelesaikan segalanya. Ia mengumamkan kata maaf seolah maaf akan mengobati hati yang terlanjur retak dan pecah.

"Maaf, Lu Han," katanya di sela tangisnya yang kosong tanpa suara. "Maaf jika aku tak bisa menjadi kekasih yang baik. Maaf jika aku hanya bisa menyakitimu—

—maaf jika cerita kita mungkin hanya sampai di sini."

Dan sambungan telepon itu dimatikan.

Sehun tak tahu kenapa hatinya berdenyut sakit, hingga saat ia berbaring untuk mencoba tidur, rasa sakitnya masih mengendap di sana bersama air mata yang tak kunjung berhenti mengalir.

Malam itu, hatinya terasa begitu kosong dan gersang.

Nun jauh di benua seberang sana, ketika jam berdentang pukul tiga dini hari, di mana orang normal akan tidur dengan lelapnya, Lu Han berlari ke apartemen Kyungsoo, duduk bersimpuh di depan Kyungsoo, Baekhyun, Chanyeol dan Jongin dan menangis meratap.

.

.

.

Pagi harinya, Sehun menemukan sebuah email dari Baekhyun yang berisi sebuah video singkat.

Video tentang Lu Han yang sedang menghadiri sebuah acara televisi menjadi seorang bintang tamu di sana. Bersama video tersebut, Baekhyun mencantumkan sebuah kalimat yang menusuk ulu hatinya hingga ruang paling dasar.

Terimakasih, sudah memilih untuk melepaskan seseorang yang sungguh berharga sepertinya.

Di menit ke lima belas pada potongan video tersebut, Sehun merasa hatinya seribu kali lebih sakit dari tadi malam dan air mata yang berhasil ia halau kembali keluar.

"Lalu jika kau ingin mengatakan sesuatu padanya, Lu Han, karena kuyakin dia akan melihat tayangan ini dirumah, adakah yang ingin kausampaikan padanya?"

"Katamu rumah bukanlah empat dinding dan satu atap, namun rumah adalah pelukan di mana akan kautemukan kebahagiaan karena dua mataku dan satu detak jantungku adalah rumahmu. Maka, aku selalu bertanya kapan kau akan pulang karena pintu rumahku masih terbuka lebar menyambutmu."

Sehun tak tahu apakah pilihan yang ia ambil adalah pilihan yang tepat.

.

.

.

tbc

.

.

.

a/n : iya, Lu Han nggak ke Paris. Iya, Baekhyun yang ke Paris.

Dan iya, Hunhan putus. It hurts, right?...

The next chapter bakal ada Baekhyun yang pergi ke Paris aw yeah~~

To answer your question, kenapa part bagian Sehun disini sedikit ya?Kan jadinya kita kurang tahu gimana perasaan dan karakter Sehun.

Memang sachi buat seperti itu, karena disamping sachi nggak bisa nulis sehunxsoojung (sachi jarang nulis straight, yaoi mulu btw) dan ga tega nulisnya karena i love hunhan to the core, sachi udah punya rencana kalau nanti sehun banyak part-nya di chapter-chapter depan.

Paipai~~~