CHERRY BLOSSOM

-season 2-

Disclaimer : Masashi Kishimoto

mysticasaiga™

© 2010

.

.

.

-Don't Like Don't Read-

-Need No Flame Reviews-

.

.

.

Your soul, I demand it...

.

.

.

"AAAAAAAAAAAAAAAA...!"

Jerit kesakitan kembali terdengar bergaung di ruangan kosong itu. Gelombang perih yang memecah kesunyian tengah malam itu. Hanya suara detik jarum jam di atas pintu yang mengiringinya, disusul suara bening seseorang, suara indah yang melengking tinggi.

"Aku minta kau menutup mulutmu."

Mata emerald-nya menatap dingin sosok berdarah yang terkapar di hadapan sepatu merahnya. Rock Lee, seorang atlet kung fu nomor satu di Inggris, kini terhapar dengan kedua telinga sobek tercabik-cabik. Pada bagian perutnya yang terbuka, terdapat sayatan besar berbentuk huruf X yang terpeta dengan jelas di atas kulit kuning langsat khas Asia milik pria itu.

"Aaaaaarrrrrggggghhhhh...!" Pria itu kembali berteriak saat Sakura mengirisi jari-jari kakinya. Cairan kental berwarna gelap itu mulai membasahi permukaan pualam putih itu, menghasilkan aroma garam dan karat di udara.

Sepasang mata giok itu menatapnya dengan kesal.

"Kubilang, tutup mulutmu!"

Detik berikutnya, Rock Lee merasakan bibirnya dipaksa untuk terlepas dari wajahnya, menyisakan lapisan darah yang tak henti-hentinya mengucur dari sana. Pisau itu terus mengiris bibirnya, memaksanya untuk berpisah dari kepala pria berambut bob itu. Rasa sakit yang amat sangat dihantarkan oleh syaraf-syaraf di wajahnya menuju ke sistem syaraf pusat. Dan ia menjerit.

Kesakitan.

"AAAAAAAAKKKKHHHH...!"

Detik-detik berikutnya, yang ada hanyalah hujaman-hujaman pisau ke sekujur tubuh tak berdaya itu, diiringi suara-suara kesakitan Lee.

Sakura tersenyum saat melihat atlet kung fu andalan Inggris itu meregang nyawa, dengan puluhan luka tusukan yang mengalirkan darah dengan deras ke permukaan lantai.

Belum lama ia berpuas diri dengan pekerjaan yang baru saja diselesaikannya, membran timpani sintetis miliknya menangkap lagi frekuensi suara yang dihindarinya selama beberapa malam ini—frekuensi sirene mobil polisi.

Mereka datang lagi!

.

.

.

"Di sini juga ada pembunuhan!"

Puluhan pria berseragam itu mendobrak pintu mansion megah itu, lalu masuk dengan senjata api terkokang. Mereka menyebar secara merata ke seluruh sudut mansion, mencari jejak-jejak yang tertinggal dari sang pelaku pembunuhan itu.

"Ada mayat!"

Seruan di dalam kamar utama mansion itu mengakibatkan sekitar dua puluh lima orang polisi berseragam khusus menyeruak ke dalam ruangan berbau amis itu. Sesosok tubuh yang dikenal sebagai atlet kung fu nomor satu di Inggris tampak terbaring di atas lantai pualam putih, berselimutkan cairan merah yang mulai mengental dan mengering. Matanya terbuka. Pada tubuhnya terdapat banyak luka sayatan dan tusukan.

Salah seorang di antara mereka—yang tampaknya adalah pemimpin pasukan polisi itu—membungkuk dan mengambil sesuatu yang sedari tadi dicarinya, sesuatu yang berada di tengah-tengah huruf X yang terukir di atas perut Rock Lee.

Sehelai kelopak bunga sakura.

"Väl," bibirnya menampilkan senyuman, "som vara min Cherry Blossom*..."

.

.

.

"Selamat datang..."

Boneka berambut merah muda keperakan itu menoleh ke arah sofa—yang berisi tuannya yang, seperti biasa sedang membaca sebuah buku tebal dengan cangkir kopi setengah terisi di atas meja yang berada di hadapannya.

"Tumben sekali kau menyapaku," katanya dengan suara bening. Nadanya dingin.

Terdengar bunyi berdebum pelan saat Sasuke kembali menyatukan lembar-lembar buku itu, menutupnya kembali menjadi sebuah balok bersampul kulit coklat. Pria berambut raven itu bangkit dari sofa yang didudukinya, menuju lemari buku besar untuk kembali meletakkan buku yang barusan dibacanya ke tempatnya semula. Lalu, pria itu berjalan mendekati Sakura yang masih berdiam diri di posisinya semula.

"How about a glass of lemonade in the atramentous?" tawar Sasuke sambil menuju ke dapur. "Kurasa kau agak sedikit lelah karena baru saja bergulat dengan seorang atlet kung fu. Pekerjaan kali ini memang tidak mudah..."

"Bukan ide yang buruk," boneka itu mengedikkan kedua bahu porselennya yang tertutupi kain merah yang dijahit menjadi gaun lolitanya yang dihiasi pita-pita merah gelap dan renda-renda berwarna putih. "Bagaimana kau tahu bahwa pekerjaan kali ini memang tidak mudah?"

Pria yang sudah berada di balik pintu dapur itu diam-diam menyunggingkan seringainya.

"Telingaku sangat tajam, ma Cherie..."

.

.

.

Lyon, kantor pusat Interpol, 8 a.m

Kakashi melangkah memasuki ruang 609 dengan perasaan aneh. Pikiran pria berambut perak berkilau dengan style melawan arah gravitasi bumi itu sedang kacau. Dalam benaknya terus terbayang-bayang kejadian beberapa hari yang lalu. Adanya penyadap berukuran seperti microchip pada pendingin ruang 609 kemarin merupakan hal di luar dugaannya. Memang ada banyak tersangka dalam penyadapan tersebut, tetapi bukan itu masalahnya.

Penyadap jenis seperti itu baru pernah ditemuinya kali ini setelah kasus penyadapan dalam pra-Operasi Docka I. Penyadap yang seolah dirancang khusus untuk menyadap percakapan mengenai Operasi Docka—yang berarti...

"Bonjour, Monsieur Hatake*..." Seorang laki-laki berseragam security menyapa Kakashi dengan nada ramah ketika melintas di hadapannya. Pria itu membungkuk dengan sopan kepada vice president Excecutive Committee yang merupakan tangan kanan dari Namikaze Minato sang presiden itu.

"Bonjour..." jawab Kakashi sambil mengamati pria tersebut. Mata itu... rasanya tak asing lagi... Ya, Kakashi pernah melihat mata itu. Itu adalah sepasang mata milik...

Saat Kakashi tersadar dari lamunannya, pria itu telah menghilang.

.

.

.

Detik-detik terlalui dalam kebisuan. Hening. Hampa. Suara detak bandul keemasan jam besar yang berada di salah satu sudut ruang tengah hanyalah satu-satunya suara yang timbul-tenggelam dalam ruangan itu. Bila kau hanya lewat sekilas di sekitar ruangan tersebut, bisa dipastikan dengan jelas bahwa kau akan menganggap tidak ada seorang pun dalam ruangan itu.

Pandangan mata itu membeku.

Emerald itu membisu—berkilau samar, menatap onyx yang terfokus pada lembaran-lembaran kertas yang menyusun buku tebal di pangkuan sang pemiliknya. Sesekali jemari putih sang empunya buku membalikkan halaman-halaman buku tersebut dengan gerakan halus yang tidak mengeluarkan suara sedesibel pun. Kaki-kaki porselen itu terayun-ayun, seolah mengikuti irama detak bandul jam—tergantung-gantung dari sisi kursi tinggi yang didudukinya. Helai-helai rambut bubble gum-nya menggantung dalam dua buah kunciran simetri yang mengikal—tampak berpendar ditimpa cahaya lampu dari kandil kristal yang menempel pada langit-langit ruangan itu.

Untuk kesekian kalinya Sasuke membalikkan halaman buku tebal itu setelah mencerna kata-kata yang tecetak rapi di dalamnya, setelah itu tangan kirinya meraih cangkir kopi yang masih berisi cairan pekat hangat sebanyak setengah gelas di hadapannya—tanpa mengalihkan pandangan dari buku itu. Karya terakhir Sarutobi Hiruzen sebelum ia menyiksa raga pria renta itu bertahun-tahun yang lalu. Naskah yang ditemukan empat hari setelah kematiannya—naskah yang diakhiri dengan campur tangan Sasuke dalam pengerjaan dua ratus halaman terakhirnya.

"Hentikan kegelisahanmu itu, Cherry..."

Sakura—sang boneka—mendongak dengan tatapan kaget. Jelas-jelas ia tadi sedang melamun, dan tuannya itu baru saja menyentaknya dari lamunan tersebut. Lamunan mengenai...

"Aku tidak gelisah," dustanya dengan sempurna. "Aku hanya sedang memikirkan bagaimana pola yang akan kubuat pada mayat selanjutnya. Entah menghancurkan isi telinganya, memecah-mecahkan otaknya, membuat sayatan melintang hingga ususnya terburai, atau—"

"—kau tidak pandai berbohong," dengus Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari buku itu. "Nah, ceritakanlah apa yang ada di dalam pikiranmu."

"Baca saja sendiri." Boneka porselen itu menggerutu dan melompat turun dari kursi tinggi yang didudukinya. Ia berjalan ke arah perapian yang menyala dengan langkah-langkah pendek yang anggun. Kobaran api itu menjilat-jilat setiap balok-balok kayu yang tersusun rapi di bawahnya—sebagian besar telah bertransformasi menjadi abu. Warna oranye yang membara dalam api itu terpantul dengan jelas pada kedua bola mata emerald itu, seolah-olah api juga berkobar di dalam mata yang bulat bening itu.

"Aku bukan seorang mind-reader."

"Dan aku bukan sebuah mind-opener."

"Hn, terserah."

Sasuke mengatupkan buku tebalnya sehingga terdengar bunyi berdebum pelan, kemudian pria itu berjalan mendekati perapian, berdiri di sisi Sakura. Boneka itu menengadah menatap tuannya dengan pandangan bertanya, kemudian pandangannya beralih ke buku tebal di tangan Sasuke. Apa yang akan dilakukannya? Tidak biasanya Sasuke membawa buku kesayangannya jauh-jauh dari sofa...

Tanpa bersuara, Sasuke mulai membuka-buka buku di tangannya, kemudian dengan tangan kanannya, ia merenggut lembar-lembaran kertas yang terjilid dengan rapi di dalamnya. Gumpalan kertas tersebut dilemparkannya ke dalam api—menciptakan kobaran yang lebih besar. Berulang-ulang. Setiap dilemparkannya gumpalan kertas ke dalam api itu, semakin hebat kobaran lidah jingga itu. Sakura mengamati setiap tindakan anarkis tuannya itu, namun ia tidak berkata apa-apa. Pasti Sasuke tidak akan mengacuhkannya bila ia bertanya mengapa tuannya membakar buku kesayangannya itu.

Lembaran kertas itu sudah habis tak bersisa—yang tersisa dari bangun buku tersebut hanyalah sampul kulit hitamnya dan beberapa sisa cabikan kertas, sementara perapian telah terisi dengan abu dari sisa pembakaran kertas tersebut. Ruangan serasa dipenuhi oleh asap kelabu tipis yang menyesakkan nafas, membuat Sakura mundur dua langkah—lebar-lebar.

Pria berambut raven itu mengakhiri aksi brutalnya dengan melemparkan sampul tebal kulit itu ke dalam kobaran api—menyisakan hawa menyesakkan dalam ruangan itu. Partikel-partikel atmosfir dalam ruangan itu telah dipenuhi oleh partikel-pertikel tak kasat mata, suhu di ruangan itu meningkat drastis sekitar enam atau tujuh derajat.

Dengan gerakan anggun dan tenang, pria biru tua itu berbalik menatap si boneka merah muda.

"Bagaimana bila kita makan malam sekarang?"

.

.

.

Ia menyeringai.

Sakura menggoyang-goyangkan kedua senjata andalannya dengan kedua tangan porselennya; gerakannya tidak sabar, seolah-olah ingin segera menjalankan niatnya. Well, mengintai orang memang menyenangkan, namun membantai orang lebih menyenangkan. Apalagi bila ia mendapatkan ilham untuk mengreasikan karya seni yang melintas dalam benaknya.

Ini akan menjadi pembunuhan paling menyenangkan.

Sakura sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan dipercaya oleh Sasuke untuk menjalankan misi seperti ini. Setahunya, calon korbannya kali ini adalah kawan lama Sasuke saat pria itu—ehm, anak itu—masih bersekolah dahulu. Dan biasanya Sasuke menghabisi teman-teman lamanya dengan tangannya sendiri.

Ia kini yakin, tuannya mempercayainya.

Sabaku Gaara. Nama itu terus diingatnya berkali-kali dalam memorinya. Pria itu adalah penerus Sabaku Corp. yang ditakuti oleh Danzo karena peningkatan pesat nilai sahamnya. Lagi-lagi Danzo. Entah mengapa, pria tua bangka itu senang sekali menyingkirkan rival bisnisnya dengan cara kotor—dalam hal ini menyewa pembunuh bayaran. Dan entah mengapa Sasuke sama sekali tidak keberatan untuk menerima permintaan Danzo. Karena bayarannya mahal, mungkin? Sakura mendengus. Ternyata tuannya adalah seorang pemuja uang.

Dan ia mempercayai tuannya itu.

Ya.

Apapun yang terjadi...

.

.

.

Your soul, my possession...

.

.

.

ZLEB!

Tangan itu terputus, terlepas dari pergelangan tangan yang semula menopangnya, terjatuh lepas searah dengan gaya gravitasi bumi yang tercatat dalam bidang fisika.

"Aaaaaaaaaaaaaa...!"

Jerit kesakitan itu bergaung dalam udara kosong ruang utama mansion Sabaku—kamar penerus tunggal Sabaku Corp., Sabaku Gaara.

Pria berambut crimson itu menatap pergelangan tangannya yang menyemburkan darah. Cairan merah pekat yang sewarna dengan rambutnya itu membasahi permukaan karpet, meninggalkan warna merah gelap pada permukaan berbulu itu.

Belum, ia belum mati. Tidak akan mati. Tidak secepat itu. Gaara meyakinkan dirinya sendiri.

Sosok mungil di hadapannya tengah memutar-mutar kapak kecil berkilat yang barusan menyambar pergelangan tangannya hingga putus. Ekspresi kaku terpatri pada wajahnya. Wajah dingin nan stoic, wajah khas pembunuh bayaran.

Ini bukan kali pertama bagi dirinya diincar oleh pembunuh bayaran. Sebelumnya, sesosok mungil bersenjatakan belati sepanjang dua puluh sentimeter juga sempat menyerangnya, walaupun Gaara berhasil diamankan oleh sekitar dua puluh pengawal pribadinya. Sosok pirang itu membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf. Ia memperkenalkan diri sebagai Sunshine, pembunuh yang dibayar Danzo.

"Well, dengan gagalnya aku kali ini, pasti Tuan Danzo akan memerintahkan pembunuh yang lebih berbahaya lagi dariku." Begitu katanya sebelum pergi meninggalkan Gaara dengan kuping terpotong sebelah.

Dan ia tidak berbohong.

Saat pertama kali melihat rambut berwarna sugarplum yang dipita dua itu, Gaara sudah tahu bahwa ia berhadapan dengan Cherry Blossom yang banyak diisukan oleh media massa. Dan ia tak mungkin lolos.

ZLEB!

Sekali lagi kapak itu menebas pergelangan tangannya yang satu lagi dengan kencang, mengakibatkan tangannya terlepas lagi.

"Aaaaaaaakkkkkkhhhhh...!" erangnya tertahan.

Rasa sakit itu berputar-putar di kepalanya. Aroma karat dan garam membuatnya merasa pening dan mual. Mengidap hemophobic sangat tidak menguntungkan di saat-saat seperti ini—saat di mana kau harus berjuang ekstra keras untuk menyelamatkan dirimu dari pembantaian oleh sebuah boneka berbahaya.

Kali ini, Cherry Blossom tidak menunggu lama untuk aksi selanjutnya. Ia menancapkan pisaunya berkali-kali pada paha Gaara, menghancurkan pembuluh darah-pembuluh darah yang bersarang di sana.

ZLEB!

"Aaaaaaarrrrrrrrggggggghhhhh...!"

ZLEB!

"Uwaaaaaaaagggghhhhhh...!"

ZLEB!

"Aaaaaaaaaaaakkkkkkkhhhhh...!"

ZLEB! ZLEB! ZLEB! ZLEB!

Saraf-saraf Gaara bekerja sangat keras untuk menghantarkan impuls rasa sakit itu ke otaknya, hingga pada akhirnya ia hampir tidak bisa merasakan kakinya lagi. Well, sebenarnya bukan itu penyebabnya. Gaara memang tidak punya kaki lagi, tepatnya tidak mempunyai kaki kanan lagi. Kaki itu terputus akibat tusukan bertubi-tubi dari Cherry Blossom.

"Masih belum merasakan sakit?" Suara bening melengking itu menyapu lembut gendang telinga Gaara. Sangat dekat, seolah-olah suara itu berada tepat di sisi telinganya—

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!"

Untuk kesekian kalinya malam ini, Gaara mengeluarkan teriakan tertahan yang seolah meredam rasa sakit. Kali ini karena Sakura telah menancapkan pisaunya pada telinga kanan Gaara, kemudian menggerakkannya maju-mundur, seolah-olah sedang melubangi sesuatu. Darah menyembur-nyembur dari dalam lubang yang diciptakan Sakura, sementara Gaara meraung setiap kali pisau itu menembus semakin dalam.

Tangan porselen itu terus menghujamkan pisaunya ke dalam rongga kepala Gaara, hingga menembus kepala itu hingga ke telinga yang satunya lagi—dan suara raungan Gaara pun menghilang.

Penerus tunggal Sabaku Corp. itu telah meregang nyawa. Mati. Terkubur oleh lautan darahnya sendiri.

Sakura bangkit dari posisinya yang setengah berlutut di atas tubuh Gaara, merapikan gaunnya yang sedikit ternoda oleh likuid merah yang kini telah mengering itu. Ditatapnya jasad Gaara yang terbujur kaku tanpa kedua tangan dan sebelah kaki—serta kepala setengah pecah itu.

Sebuah senyuman tipis terulas di bibir porselennya.

Senyuman yang langsung tenggelam saat telinganya menangkap raungan sirene mobil polisi yang memecah keheningan malam.

Ada lagi...?

Siapa yang...?

Tanpa banyak membuang waktu, ia berbalik dan melemparkan sesuatu ke belakang dengan gerakan cepat. Sepersekian detik kemudian ia menghilang, bagaikan ditelan cahaya bulan dan angin malam.

Sesuatu melayang lembut dan jatuh ke atas tubuh Sabaku Gaara yang mulai mendingin.

Sehelai kelopak bunga sakura...

.

.

.

"Dia ada di sini!"

Sejumlah pria berseragam khusus berhasil mendobrak pintu utama mansion Sabaku, lalu berpencar dengan gerakan teratur ke setiap sudut rumah. Dengan efisien mereka mencari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh tersangka yang mereka incar selama beberapa waktu, namun hasilnya nihil.

Seorang pria yang diyakini sebagai pimpinan polisi itu langsung membuka pintu master bedroom yang selama ini ditempati oleh Gaara. Dan pria itu tersenyum saat melihat kelopak bunga sakura yang berada di atas jenazah Sabaku Gaara yang tanpa nyawa itu.

"Ia ada di sini."

Pria-pria lainnya segera berkumpul di belakang pria tersebut, mengamati TKP yang tampak rapi—kecuali ceceran darah yang tersebar di sekitar mayat.

"Well, well," gumamnya, "this will be very interesting, my Cherry..."

.

.

.

/Flashback/

"Tumben sekali kau mengajakku makan malam, Tuan..."

Bunyi mendesis muncul saat Sasuke menyiramkan saus jamur untuk T-bone steak yang menjadi makan malamnya. Di hadapan Sakura sendiri terdapat tenderloin steak, lengkap dengan saus barbeque kesukaannya. Pria itu sedikit mendongak saat hendak memasukkan potongan steak miliknya ke dalam mulut dengan menggunakan garpu—menatap Sakura dengan alis terangkat.

"Hn?" tanyanya dengan wajah polos seolah ia tidak bersalah.

Sakura mendengus.

"Kau menyebalkan," katanya sambil memotong-motong daging coklat itu hingga menjadi potongan-potongan kecil dengan pisau gergaji dan garpunya.

"Hn."

Ia memutar kedua bola mata jade-nya.

"Bagaimana, apakah kau sudah merancang liburan kita ke Alpen?" selidik boneka itu dengan nada penasaran dan gemas sekaligus. Rahang mungilnya mengunyah-ngunyah, melumat daging itu setelah berbicara.

Pria berambut raven itu menelan steak-nya sebelum berbicara.

"Kau mau kopi?" tawar Sasuke, kemudian ia meneguk kopi yang sudah disiapkannya sebelum makan malam.

Kesal, Sakura kembali mendengus.

"Kuharap kau tidak mengalihkan pembicaraan dan kembalilah menjawab pertanyaanku, Tuan Uchiha." Ia tidak mau menatap onyx itu. Alih-alih, ia malah menatap taplak meja bercorak kotak-kotak merah dan putih yang menutupi permukaan meja kayu yang dijadikan meja makan itu.

"..."

Boneka berambut soft pink itu menghela nafas panjang. "Kurasa kau—"

"Tidak. Belum."

Sakura memutar-mutar kedua matanya dengan kesal. "Sudah kuduga."

Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela bening yang berada di salah satu sisi dinding dapur. Jendela itu memvisualisasikan pemandangan malam yang mengelilingi rumah itu. Langit yang segelap beludru. Taburan bintang-bintang yang seperti gula pasir. Batang-batang pepohonan yang meranggas karena udara panas. Bulan yang menggelayut di tengah-tengah langit.

"Memangnya, apa yang ingin kau lakukan selama musim panas ini, Tuan?" tanya Sakura dengan nada hati-hati. Ia sedikit takut menyinggung perasaan tuannya itu dengan kata-katanya yang bernada sarkastis barusan.

"Aku sudah punya kerjaan," jawab Sasuke singkat.

"Membakar buku lagi?" Sakura mencibir sambil menelan daging steak-nya.

Pria berambut emo itu terkekeh.

"Tidak. Bukan."

/Flashback End/

.

.

.

Yeah, I believe my master...

.

.

.

"Kurasa... kau tidak keberatan kan, bila aku berjalan-jalan ke kota sebentar?"

Sasuke mengangkat wajah dari penggorengannya. Dengan cekatan ia memecahkan dua butir telur dan menjatuhkannya ke permukaan penggorengan, membubuhinya dengan garam dan merica, kemudian melempar-lemparkan telur-telur itu ke udara.

"Sama sekali tidak," jawabnya sambil menghidangkan kedua telur mata sapi itu ke atas piring dan menyorongkan piring itu ke hadapan Sakura, membuat mata boneka itu melebar karena kepiawaian Sasuke dalam memasak. Sama sekali tidak ada gerakan yang sia-sia. Semua dilakukan dengan cepat dan efisien.

"Oh, terima kasih," jawab boneka itu sambil menarik piringnya mendekat ke hadapan tubuh mungilnya. "Ada banyak hal yang ingin kulakukan di sana."

"Lakukan tanpa menarik perhatian," respon Sasuke seadanya, sementara ia menyibukkan diri dengan penggiling biji kopi yang mulai bekerja dengan cepat.

"Baiklah, Tuan..."

.

.

.

Lyon, Prancis

Namikaze Minato tengah bersantai di ruang kerja pribadinya, menikmati hembusan angin musim panas—summer breeze—di balkon kantor interpol. Balkon itu hanya berada di ruang pribadi sang presiden dari Excecutive Committee, dan tidak setiap orang boleh masuk ke dalam ruang kerjanya. Terkecuali Hatake Kakashi, yang merupakan tangan kanan sekaligus saudara angkatnya itu.

"Bonsoir, Monsieur Namikaze*..." Sebuah suara yang familiar menyapa Minato yang tengah memunggungi pintu kaca berteralis besi yang diukir berbentuk sulur-sulur tanaman yang artistik—pintu yang menghubungkan ruang kerja pribadinya dengan balkon tempatnya bersantai saat ini.

Minato berbalik dan menatap sosok pria berambut perak yang baru saja memasuki ruangannya itu.

"Rasanya aku tidak mendengar bunyi ketukan di pintu," katanya dengan kening berkernyit.

Kakashi tertawa terbahak-bahak—tawa yang terdengar seperti tawa tertahan akibat maskernya. Terkadang, bos sekaligus saudara angkatnya itu bisa bersikap sedikit egois dan menuntut banyak hal. "Well,aku memang tidak mengetuk pintu. Maafkan aku."

"Tentu saja." Pria berambut pirang itu bersandar pada pagar besi yang mengelilingi balkon pribadinya itu. "Nah, apa yang membuatmu masuk begitu saja ke ruanganku?"

Sang pemilik iris berlainan warna itu tersenyum, walaupun senyumnya nyaris tidak terlihat karena ia memakai masker yang menutupi tulang pipinya. Bila matanya tidak itu menyipit, maka orang-orang tidak akan tahu bahwa pria itu tengah tersenyum.

"Sebuah strategi yang indah..." katanya tanpa basa-basi. "Dan tujuannya..."

.

.

.

Jalanan di tengah-tengah kota London terasa lengang walaupun ini adalah siang hari. Mungkin kebanyakan orang beranggapan bahwa lebih baik mengurung diri di rumah selama siang hari di musim panas, lalu mulai keluar rumah saat menjelang matahari terbenam.

Sakura mendaratkan langkah-langkah ringan pada permukaan aspal di sisi pertokoan di salah satu distrik perbelanjaan di tengah London. Mata emerald-nya menyusuri setiap toko yang dilaluinya. Ada banyak spanduk-spanduk dengan warna-warni cerah dan menarik yang berisikan potongan harga besar-besaran, namun bukan itu yang menarik perhatiannya. Satu-satunya tujuannya berada di tengah London saat ini adalah menemui Sunshine—boneka porselen berambut pirang yang menemuinya saat perjalanan pulang dari mansion Sabaku.

.

.

.

/Flashback/

"Pulang, Cherry Blossom?"

Sakura menghentikan langkah-langkahnya dan berbalik ke belakang. Dalam keremangan malam, ia bisa menangkap sosok Ino—Sunshine—yang tengah berdiri kira-kira enam meter di belakangnya. Tatapan mata emerald-nya langsung berubah sinis.

"Apa... yang kau inginkan?" desisnya dengan nada dingin.

"Oh, jangan bersikap menyebalkan seperti itu, please..." kata Ino. Ia berjalan mendekati Sakura yang tidak bergeming. "Kita ini kawan lama, benar bukan?"

"Aku tidak pernah menganggapmu kawanku," balas Sakura ketus. "Dan—hei! Jangan menghalangi jalanku!"

Ino telah berpindah tempat dalam satu gerakan cepat, memblokir ruang gerak Sakura, menghalangi jalannya pulang. Emerald dan sapphire bertatapan dalam kebisuan. Raungan sirene mobil polisi masih terdengar di kejauhan.

"Katakan saja apa maumu." Nada dingin mengalun dalam suara yang digetarkan oleh pita suara sintetis Sakura. "Kuberi waktu tiga detik."

Ino mengangkat bahu. "Well, aku hanya—"

"Satu."

"—ingin mengatakan sesuatu padamu—"

"Dua."

"—temui aku di cafe Salamander besok siang."

"Tiga."

Sakura berbalik tanpa menjawab perkataan Ino. Pergi menjauhi suara-suara mobil polisi yang tidak disukainya sejak pertama kali ia mendengar melodi itu.

"Sampai nanti, Cherry..."

/Flashback End/

.

.

.

Bunyi denting bel merambat di udara, memenuhi atmosfir dalam Café Salamander yang cukup kosong siang hari itu. Sakura melangkahkan kakinya masuk ke dalam café itu, menuju sebuah meja di bagian tengah ruangan. Meja yang telah ditempati Ino yang ternyata sudah menunggu. Duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan kursi yang diduduki Ino, Sakura mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan. Hanya terdapat sekitar enam orang pengunjung di sana, tiga pelayan berseragam, dan dua boneka—dirinya dan Ino.

"Selamat siang," cetus Ino, berbasa-basi membuka pembicaraan. Sakura diam saja. Rupanya ia tidak suka berbasa-basi.

"Langsung ke intinya saja, Ino." Boneka bermata emerald itu meletakkan kedua sikunya di atas meja, melipat kedua lengan porselennya.

"Yeah, baiklah..." Boneka berambut pirang itu menunduk sesaat, kemudian kembali menatap mata lawan bicaranya. "Mmmm... apakah kau menyadari bahwa selama beberapa hari ini kau diikuti oleh polisi?—maksudku, setiap kali kau selesai membunuh, apakah kau merasa bahwa polisi selalu datang ke tempatmu sehingga kau harus buru-buru pergi?"

Sakura menegakkan tubuhnya. Jelas, ia sedikit kaget dengan kata-kata Ino. Bagaimana bisa Ino tahu perkara itu?

"Aku selalu mengamatimu, Sakura." Lagi-lagi Ino seolah membaca pikirannya. "Sebagai boneka pembunuh yang selalu berada di posisi kedua, aku harus selalu mengamati yang lebih tinggi dariku. Aku harus belajar."

"Lanjutkan." Suara indah itu memerintahkan Ino untuk melanjutkan ceritanya.

"Oh, yeah," ia mengubah nada suaranya kembali serius. "Apa kau tidak pernah berpikir bahwa ada seseorang yang memanggil polisi tersebut?"

Kerutan samar muncul di kening porselen Sakura. Mata hijau gioknya melebar, dipenuhi oleh rasa kaget yang amat sangat. Ada seseorang yang... memanggil polisi-polisi itu? Siapa?

"Aku selalu menganggapmu temanku, karena hanya tinggal kita berdua boneka pembunuh yang berada di dunia ini," lanjut Ino. "Jadi, aku akan berusaha membantumu. Kurasa... aku tahu siapa yang memanggil polisi setiap malam kau membunuh."

"Baiklah." Sakura mengangguk.

"Ada beberapa orang yang mengetahui saat-saat kau membunuh." Ino mengacungkan empat jari porselen kirinya. Jari manis. Jari tengah. Jari telunjuk. Ibu jari. "Kau sendiri—" Ino menurunkan jari manisnya, "—tidak mungkin. Karena kau tidak mungkin membocorkan kejahatanmu sendiri pada polisi—itu tindakan bodoh, dan kau adalah salah satu makhluk paling jenius yang aku tahu."

Sakura diam saja, tida merespon.

"Lalu, aku—aku selalu tahu pola pergerakanmu, tapi aku tidak mungkin membocorkannya. Aku tidak mau eksistensi boneka pembunuh musnah dari dunia. Bila kau ditangkap, aku pun pasti ditangkap—dan aku tidak mau hal itu terjadi."

"Ketiga—" Ino menurunkan ibu jarinya, "—Madam Karin. Aku berani jamin bahwa Madam bukan orang yang mengadukanmu ke polisi. Bisa kubilang, Madam Karin adalah orang yang sangat hijau dalam dunia kriminal pembunuhan seperti ini. ("Yeah, rambutnya kan berwarna merah," timpal Sakura.) Ia baru mengendalikanku sebagai pembunuh kira-kira setelah kau membunuh dua puluh orang. Dan Madam tahu pasti konsekuensinya bila ia melaporkanmu ke polisi—karena, sama seperti aku, ia selalu mengamatimu."

Berbagai hal berputar dalam otak Sakura. Orang itu memanggil polisi. Orang itu tahu saat-saat ia membunuh. Dan... tindakan orang itu memang mencurigakan.

"Berarti, orang yang dicurigai hanya tinggal satu." Ino mengacungkan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Sakura. "Orang yang melaporkan segala tindakanmu ke polisi dan memanggilnya saat kau selesai membunuh adalah orang yang tahu pasti hari dan waktu kau membunuh. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah..."

"Sasuke."

.

.

.

I always believe my master...

.

.

.

"Good night and have a nice death..."

.

.

.

~To Be Continued~

.

.

.

Väl, som vara min Cherry Blossom* = Nah, that's my Cherry Blossom

Bonjour, Monsieur Hatake = Good morning, Mr. Hatake

Bonsoir, Monsieur Namikaze = Good afternoon, Mr. Namikaze

Special thanks to:

Kowagame / Rainy-Twilight / Kira Desuke / Deidei Rinnepero / harunaru chan muach / Queliet Kuro Shiroyama / Peaphro / Kuroichibineko / Nanairo Zoacha / miyu69 'Zzz / aya-na rifa'i / yuuna hihara / kafuyamei males login / Murasaki Sakura / ceruleanday / 4ntk4-ch4n / Athenalis / Putri Hinata Uzumaki / Shiori Yoshimitsu / Rievectha Herbst / Aurellia Uchiha / Merai Alixya Kudo / Kaze or Wind