Ivan Braginsky adalah sosok yang tinggi dan besar, melebihi rata-rata ukuran tubuh lelaki remaja pada umumnya. Jika diibaratkan sebagai seekor hewan, Ivan adalah salah satu dari sedikitnya hewan unik yang berada diantara keluarga hewan lainnya, dan tentu tak hanya keunikan saja kelebihan yang dimiliki. Kulit meronanya yang seputih salju nyaris menyamai putih kemejanya. Rambut Krem miliknya agak panjang, dengan poninya dibelah di kiri yang panjangnya hingga mata, menutupi sebagian alis melekung tebalnya yang berwarna agak lebih gelap. Jika Yao sanga bangga mengenakan pakaian Olahraganya, seolah jati dirinya lebih terpancar, Ivan hanya mengenakan seragam musim panas biasa, dengan syal krem tipis ia lilitkan di lehernya.
Senyuman tiba-tiba merekah di bibir Ivan dan dalam waktu yang bersamaan Emma mempererat genggamannya di bahu Adinda. Tangannya gemetaran, dan barulah Adinda menyadari ada yang terjadi saat ini, sesuatu yang sangat salah, tapi ia tak bisa melihatnya. Ekspresi dan gerak-gerik Yao juga tak memberikan petunjuk apa-apa pada Adinda. Dan betapa tak sopannya Yao untuk tak memberikan salam pada Emma saat ia akhirnya menyadari keberadaannya, namun bukannya menebus kesalahan tersebut, pandangan Yao justru kembali ia alihkan kepada Adinda seolah Emma hanya sesuatu benda mati yang memiliki sedikit sekali daya tarik.
"Kamu sudah menjadi murid Regular?" Tanyanya, agak terdengar kecewa.
"Saya tak bisa menjadi murid regular karena peraturan Beasiswa tak mengizinkan."
Ivan langsung merunduk dan berbisik kepada Yao setelah mendengar jawaban dari Adinda, namun lirikan tiba-tibanya kearah Emma akhirnya membuat Emma merebut seluruh kertas dan dokumen yang Adinda pegang dan berlari pergi, tak meninggalkan sepatah kata pun, tak kuat lagi dengan ketegangan yang kasat mata. Setelah Emma pergi, Ivan barulah berbicara.
"Kami tak mengganggu urusanmu dengan murid Regular tadi bukan?" Pertanyaannya tersebut terdengar disengaja dan senyumannya pun masih belum luntur dari bibirnya. "Karena tak ada orang pintar yang akan bilang jikalau potensimu tak akan bisa digali lebih dalam lagi di kelompok Olahraga. Bakal ada yang membantumu di kelompok kami."
Adinda mengerutkan dahinya, mengetahui senior-seniornya menjadi persuasif. "Potensi... apa?"
"Aiyah! Menurutmu apa lagi kalau bukan kecepatan larimu aru? Serahkan sebelum minggu depan aru." Yao meraih sesuatu dalam kantung celana olahraganya dan langsung memberikannya kepada Adinda. Benda tersebut adalah kertas yang dilipat dua kali. Saat membukanya, Adinda mendapati kertas tersebut ternyata ada dua, yaitu kertas untuk mendaftar masuk kelompok—kotak Olahraga sudah dicentang, dan kertas untuk mendaftar masuk ke cabang kelompok Olahraga, kotak Atlet Lari juga sudah dicentang. Adinda menengadahkan kepalanya, melihat Yao dan Ivan yang sudah beranjak sedari tadi seolah tak terjadi apa-apa, Ivan sempat melirik kembali kearahnya, dan menyunggingkan senyuman yang sama, sebelum kembali melihat ke depannya.
Namun, tiba-tiba Adinda merasakan bulu kuduknya berdiri, merinding luar biasa, biarpun berlalu dengan cepat. Barulah ia menyadari apa yang mengganggu Emma.
"Jangan menunggu terlalu lama aru. Kau akan menyesal nanti."
Malam hari, Adinda disibukkan dengan mengisi formulir pendaftaran kelompok dan kembali mengecek ulang buku pelajaran yang telah ia beli untuk minggu depan, entah itu buku olahraga atau pelajaran biasa. Adinda merasa agak sedikit lega saat tahu seberapa banyak pun kuantiti benda yang akan dibeli tak akan dibebani oleh biaya, biarpun harganya memang tak seberapa. Ia juga luar biasa senang saat mengetahui harga sepatu lari sangatlah murah, ditambah dengan pakaian khusus pelari yang akan diberikan gratis kepada murid Olahraga.
Namun malam sunyi dan tenangnya terganggu saat ia tiba-tiba mendengar dua suara langkah yang sedang berlari. Bukan sekali ia telah mendengar suara tersebut, tetapi sudah kelima kalinya, dan kali ini ia mulai merasa agak terganggu. Ia pun menutup bukunya, mengambil jaketnya dan mengintip keluar lewat lubang intip pintu sebelum akhirnya membuka pintu dan melihat ke sepanjang koridor. Para murid perempuan tengah berlari kearah tangga dan segera turun sambil sibuk berbicara sesuatu yang tampaknya serius.
"Ada apa?" Tanya Adinda saat ada satu murid yang hendak berbelok di persimpangan koridor.
"Ada yang bertengkar di lantai dasar. Katanya ada hubungannya dengan kekacauan dulu."
Adinda menutup pintu kamarnya setelah gadis tersebut kembali berlari. Ia melihat keluar jendela kamarnya yang dijeruji. Kekacauan yang waktu itu Lili katakan sepertinya memang hal yang buruk. Hal tersebut juga sempat disinggung beberapa orang, tetapi Adinda tak terlalu menganggapnya karena ia sedang terfokus pada jal lainnya. Sekali lagi Adinda merasakan bahaya kalau ia menggali masalah ini lebih lanjut, namun ia merasa ia juga tak bisa diam saja. Ia pun meraih sesuatu dan bergegas keluar, menuruni tangga dan mulai mendengar suara keributan.
Kerumunan gadis-gadis perempuan yang rata-rata adalah murid baru telah memenuhi pintu masuk asrama perempuan. Beberapa gadis yang sudah berada di kelas dua atau tiga pun terlihat sedang berusaha melerai pertengkaran yang terjadi, malah ada beberapanya yang ikut bertengkar. Biarpun masih belum ada yang menggunakan kekerasan, namun nada suara yang tinggi sudah menggema ke seluruh bangunan. Dan Adinda merasa suaranya terdengar sangat familiar.
Sebelum sempat menembus kerumunan, Adinda mendapati sosok Emma dan Lili yang tengah duduk di pagar beton pendek yang tersambung dengan pilar. Lili terlihat sedang memeluk Emma, menepuk punggungnya beberapa kali, seperti sedang menenangkannya. Adinda langsung menggeser prioritas utamanya dan berjalan menghampiri mereka berdua.
"Apa yang terjadi?"
Iris Hijau Zaitun milik Lili langsung melirik Adinda. Ia terlihat sedih dan menahan-nahan sesuatu. Mendengar suara Adinda, Emma melepaskan pelukannya dan menutup wajahnya, menarik napas panjang sebelum akhirnya menatap Adinda lekat-lekat. Wajahnya terlihat pucat namun mata, hidung, dan pipinya memerah yang tampaknya seperti baru menangis.
"Adinda. Sesuatu terjadi… tolong acuhkan yang dikatakan Elizaveta dan Mei kalau kamu menemui mereka. Atau malah jangan temui mereka. Ini masalah lama, tak perlu melibatkan dirimu. Aku yakin mereka tak bermaksud begitu."
Sekali lagi kata tersebut diberikan kepadanya oleh temannya. Tetapi kenapa masalah ini begitu serius? Kenapa masalah ini ditutup-tutupi? Justru karena masalah ini seolah dibuat sebegitu besar dan seriusnya, Adinda malah ingin mencari tahu lebih jauh, seolah mereka memang sengaja menggoda Adinda, meminta Adinda untuk mengoreknya. Dan jika bahaya akan lebih cepat datang saat Adinda menggali rahasia ini secara terang-terangan, maka ia akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Ia akan memulainya dengan mencari tahu penyebab keributan ini, tanpa Emma berpikir Adinda akan melibatkan dirinya.
"Aku tahu bahaya. Kalau terlihat, tak akan ku dekati. Tetapi temanku bukanlah bahaya." Untuk saat ini. Ia menambahkan biarpun tak keras-keras.
Adinda berusaha menembus kerumunan gadis-gadis dan akhirnya mampu mendengar perdebatan yang sedang terjadi.
"Lalu? Kapan menunjukkan wajah asli kalian? Setidaknya kakakmu lebih jujur dalam menunjukkan ekspresinya. Setidaknya ia tidak munafik! Setidaknya ia berani kotor di depan ketimbang menyumput-nyumput di belakang dan belagak sebagai temanku dan dia!"
Suara tersebut milik Elizaveta. Dan seorang lainnya yang membalas kalimat tersebut adalah milik Mei.
"Bukan aku yang memaksanya masuk ke kelompokmu! Bukan aku yang berbohong dan berlagak supaya ia masuk ke kelompokku! Bukan aku yang memasang topeng saat ia dengan jujur tersenyum pada aku!" Hardik Mei, "jangan berbicara soal loyalitas dasar orang barat! Tak ada loyalitas yang kalian berikan saat perpecahan terjadi hanya karena kami orang timur!"
Adinda langsung berdiam diri di tempat, membiarkan dirinya tenggelam dalam lautan manusia, dan dengan sengaja membiarkan pembicaraan berlanjut.
"Lucu perkataan itu datang dari mulutmu. Apa orang timur tak diajari soal loyalitas oleh orang tua mereka? Kamu pikir apa yang membuat semua ini terjadi? Memang beberapa dari kami berada di pihak kalian, tetapi apakah loyalitas mereka dibalas dengan pantas? Kamu yang seharusnya tak boleh berbicara soal loyalitas!"
"Dan hanya itukah yang bisa kamu jadikan alasan?! Nǐ wèijūnzǐ!"
Caci makian mereka berdua tiba-tiba terhenti dan suara jeritan mengikuti kesunyian yang hanya datang sepersekian detik saja. Murid-murid yang mengelilingi pun mengambil beberapa langkah mundur biarpun tak ada niat untuk segera pergi dari tempat kejadian perkara yang saat ini mulai membara. Beberapa suara lainnya terdengar, entah bersorak menambah panas suasana, atau berusaha melerai pertengkaran yang tampaknya kali ini berubah menjadi perkelahian. Sekuat apa pun Adinda berusaha keluar dari sesaknya kerumunan manusia, ia pasti akan terseret masuk kembali. Dan satu-satunya sebuah dorongan kekuatan yang datang secara tiba-tiba yang mampu membuat Adinda keluar adalah karena dalam kondisi kacau tersebut, Mei sempat menjeritkan sebuah kalimat.
"Perduli apa kamu?! Adinda adalah orang Timur, sama dengan kami! Tentu saja otomatis aku adalah temannya! Aku hanya membantunya supaya ia tak perlu merasakan rasanya dikhianati!"
"Nem! Ez nem az igazi indíték!" Balas Elizaveta, "jujur saja kalau kita semua hanya menginginkan kemampuan Adinda! Tak ada yang lain! Tak perlu munafik soal itu!"
"Oh! Barulah kamu mau mengakui itu! Kamu juga tahu kami tak butuh murid yang tak bisa apa-apa, tak perduli dari Barat atau Timur! Kami—..."
Wajah Mei yang mendadak pucat pasi membuat Elizaveta menoleh ke belakangnya, hanya untuk mendapati Adinda berdiri tegak, tetap bergeming meskipun murid-murid lain berdesakkan di dekatnya. Ekspresi Adinda datar, justru malah agak puas karena ia akhirnya mengetahui alasan kenapa teman-temannya sebegitu "baik" biarpun baru mengenal Adinda. Apa Emma dan Lili juga? Siapa lagi? Itu pertanyaan yang datang dalam pikiran Adinda seketika itu juga. Keributan juga langsung mereda saat kedua gadis yang menjadi pusat perhatian tak lagi bertengkar.
Adinda tak memberikan reaksi apa-apa yang berarti. Tak mengeluarkan kata-kata dari bibirnya yang mungkin akan membuat Elizaveta dan Mei menyesali perbuatannya. Ia hanya berbalik dan meninggalkan kerumunan, bahkan tak memberikan lirikan pada Emma dan Lili. Namun ia mengingat sesuatu dan berbalik untuk memberitahukan hal tersebut.
"Aku akan masuk kelompok Olahraga. Terima kasih atas bantuanmu, Wang Xiao Mei."
Nǐ wèijūnzǐ : You hypocrite. -Traditional Chinese.
Nem! Ez nem az igazi indíték!: No! That is not the real reason. -Hungarian.
