Disclaimare
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Warning
OOC, YAOI, Alur tak tentu, MPERG
***mulai***
Bicaralah...dengan berbicara bisa sedikit membuat masalahmu teratasi, jujurlah... meskipun itu pahit, karena meskipun kebohongan rasanya manis, tapi jika terlalu banyak akan menjadi pahit, dan bukalah hatimu... karena menutup hati tak akan menyelesaikan masalah
...
...
...
Raja siang sudah terbangun di ufuk timur. Tetesan embun pada rumput yang melambai-lambai jatuh satu persatu pada taman-taman kecil di pinggir jalan. Manusia-manusia berdasi melangkah cepat menuju kantor atau sekolah. Nyanyian kereta bawah tanah sudah mulai dikumandangkan diterminal. Di dalamnya berdesak-desakkan para manusia dan terlihat seperti sandwich. Diatas lazuardi langit, burung-burung kecil sudah tak tampak lagi, mereka hanya bisa dilihat ketika sang raja siang belum duduk pada singgasana lazuardi langit.
Di sebuah apartemen yang ukurannya tidak besar atau kecil, hanya ada tiga lantai dan keluarga kecil Uzumaki tinggal di kamar nomor delapan. Apartemen tersebut berada di blok C kota Konoha dan tiap lantai ada sepuluh kamar. Kamar pada apartemen terdiri dari dua sekat dinding dan satu kamar tertutup pintu. Sekat pertama adalah ruang tamu dan keluarga. Sekat kedua adalah dapur, kamar mandi dan ruang makan. Bagian depan apartemen biasanya ditanami pot-pot kecil oleh penghuninya, sedangkan dibelakang apartemen ada beranda yang dipakai untuk menjemur pakaian.
Pada ruang tamu terdapat sofa hitam panjang, meja kaca persegi panjang dan lemari kecil dengan telivisi model lama yang masih menggunakan monitor CRT yang diletakkan di atasnya. Di atas sofa itu berbaring seorang pria tampan yang mengenakan kemeja cokelat dan celana hitam panjang. Di atas tubuh pria itu terbentang selimut berbulu berwarna kuning mencolok. Selimut itu dipasangkan oleh Naruto, semalam. Dan pagi ini pria beranak dua itu sedang memasak di dapur.
Naruto bisa masak berkat bantuan Teuchi bosnya di kedai ramen tempatnya kerja. Tidak jago sekali sih, hanya yang mudah-mudah. Sewaktu istrinya masih hamil, Naruto-lah yang lebih sering memasak, karena ketika istrinya hamil dulu, Hinata istrinya badannya sangat lemah, akibat selalu muntah-muntah. Setiap makan pasti selalu dimuntahkan. Makanya sang istri lebih banyak bedress ketimbang mengurus rumah tangga saat hamil.
Meskipun hanya bisa yang mudah-mudah dan tampilannya lumayan abstrak, Naruto pandai mencampur bumbu. Liat saja aroma dari sup tofu yang ia buat, harum dan menggelitik hidung pria tersebut. Membuat sang pria terbangun, meskipun pandangan masih remang-remang.
"Ukh..." si pria merintih dan tangannya langsung memegang kepala yang merupakan tempat rasa sakit, yang mengakibatkan rintihan keluar dari mulutnya.
Lalu sambil memegang kepalanya, si pria mencoba bangun dari sofa, membuat selimut terjatuh ke lantai dari atas tubuhnya. Si pria mencoba melangkah ke tempat aroma yang menggelitik hidungnya, namunnya jalannya sempoyongan dan ia terhuyung. Tapi dengan sigap tangannya bertumpu pada dinding yang berlapis wallpaper krem bergambar batik. Dan akhirnya ia bisa berjalan menuju dapur, dengan melewati hordeng kuning mencolok yang menutupi tempat yang tidak disekat oleh dinding.
Mata onyx itu melihat seorang pria berambut pirang memakai kaus turtle neck berlengan panjang berwarna biru muda dan celana panjang biru tua, yang ujungnya dilipat hingga sebetis, sehingga terlihat seperti celana tiga per empat. Kausnya itu dilapisi oleh celemek putih. Detik berikutnya Naruto pemilik rambut pirang berbalik seraya membawa panci berisi sup dengan tangan berbalut sarung kotak-kota merah maroon.
"Oh kau sudah sadar," ujar Naruto sambil menuangkan supnya ke dalam mangkok putih besar secara perlahan supaya tidak tumpah.
"Uzumaki? Apa yang terjadi? Ini apartemenmu? Kenapa aku bisa ada disini?" tanya si pria bermata onyx.
"Satu-satu bertanyanya Uchiha, dan lebih baik kau duduk dan makanlah dulu, nanti akan kujelaskan," jawab Naruto mempersilahkan Sasuke nama sang pria untuk duduk diatas kursi kayu yang alasnya adalah busa yang dilapisi kain berbunga dan juga plastik.
Sasuke pun menuruti permintaan Naruto, ia menarik kursi dan menaruh bokong di atasnya. Dihadapannya sudah tersedia meja kotak yang dilapisi taplak kain warna krem bergambar batik warna hitam dan juga plastik. Di atasnya terdapat sup tofu dua mangkuk putih, dua gelas dan dua sendok, serta dua teko berisi air putih dan teh, juga dua cangkir, dua vissin untuk tehnya.
Sasuke menatap menu yang ada di depannya. Begitu sederhana, dan supnya terlihat seperti air yang ada tofunya. Namun Sasuke tidak begitu peduli, perutnya menjadi berbunyi karena aroma supnya. Ia pun menuangkan supnya ke dalam mangkoknya, dengan menggunakan centong besi. Lalu begitu dicoba ternyata rasanya enak, membuat Sasuke makan dengan lahapnya. Naruto juga tersenyum ternyata masakannya disukai.
Setelah selesai, Sasuke mengelap mulutnya dengan serbet dan mulai menikmati teh pagi harinya.
"Nah, sekarang jelaskan apa yang terjadi?!" perintah Sasuke dengan gaya arogannya yang seperti biasa dan sepertinya sakit kepalanya sudah hilang setelah sarapan barusan.
"Sebentar Uchiha, aku harus merapikan bekas sarapan dulu," jawab Naruto yang juga sudah selesai menyantap sarapannya dan langsung membereskan mangkuk-mangkuk, bekasnya dan Sasuke, lalu ditaruh dibak bulat hitam yang ada di kamar mandi. Setelah itu ia duduk kembali dan sama seperti Sasuke ia turut menikmati teh di pagi hari.
"Yah... semalam itu kadang ke kamar apartemenku dalam ke dalam keadaan mabuk, lalu kau meracau tentang keadaan istrimu..." jelas Naruto setelah selesai menyesap tehnya.
Sementara Sasuke bola matanya sempat membesar, namun beberapa detik berikutnya kembali normal. Pria bermarga Uchiha itu akhirnya ingat apa yang terjadi semalam. Saat Sasuke sedang memeriksa laporan akhir bulan dari tiap divisi perusahaannya, pria mendapat telepon dari Rumah Sakit, bahwa hasil pengecekan lanjutan tubuh istrinya sudah keluar, dan hasilnya membuat Sasuke langsung meluncur ke bar langganannya, lalu mabuk dan berakhir di kamar apartemen 'partnernya'.
"Ano Uchiha, aku tidak bermaksud ikut campur urusanmu, tapi karena aku sudah terlanjur mendengar racauanmu, aku jadi ingin tahu. Lagipula mungkin dengan bercerita hatimu menjadi lega, walaupun aku tidak bisa membantu. Dan lagi ibuku pernah bilang dengan bercerita beban dipundak akan terasa ringan, yah meskipun masalah tidak akan bisa teratasi hanya dengan bicara saja. Namun setidaknya sudah lebih ringan dari sebelumnya," tambah Naruto.
Sasuke menanggapi dengan menaruh cangkir teh di atas meja dengan kasar. Membuat air teh bergoyang-goyang layaknya ombak di laut. Kedua langit kelam itu juga menatap tajam Naruto, membuat pemuda beranak dua itu menelan ludahnya. Naruto jadi menyesal telah berani berkata seperti itu. Namun rasa ingin tahu tentang racauan Sasuke semalam, membuat Naruto memberanikan diri berkata seperti itu.
Melihat keringat mengalir menetes dari kening lalu ke leher Naruto, Sasuke langsung mendengus.
"Bercerita memang tidak akan menyelesaikan masalahku, dan kau bukan teman ataupun saudaraku sebagai tempatku bercerita."
"Aku tahu, maaf sudah ikut campur dan terlalu ingin tahu..."
Langit kelam melihat kepala pirang merunduk, sehingga kedua permata saphire harus tertutup poni. Hal ini membuat Sasuke menghela nafas.
"Sakura adalah wanita karir. Ia bekerja sebagai dokter dan kepala laboratorium di sebuah perusahaan farmasi. Sehari-harinya ia selalu berkutat dengan bahan-bahan kimia yang keras."
Leher yang tertutup turtle neck ditegakan, wajah terlihat kaget mendengar Sasuke akhirnya bercerita. Namun mulut tetap terkunci dan kedua telinga dipasang dengan baik.
"Pada dasarnya bahan kimia tidak bagus pada tubuh, jadi... seorang pekerja dibidang kimia harus memakai pakaian khusus. Hanya saja kadang ada saja yang kecolongan. Karena hal itulah Sakura jadi divonis tidak bisa punya anak. Dan karena pekerjaan sialan itu juga Sakura...Sakura terkena kanker rahim..."
Saphire menangkap wajah Sasuke tetap seperti talenan, namun ada yang berbeda dari onyxnya. Meredup, padahal biasanya tajam dan mencekam. Tanpa disadari kedua tangan tan itu memegang kedua tangan Sasuke. Membuat kening berkerut heran, dengan apa yang dilakukan Naruto. Onyxnya langsung berkata 'apa yang kau lakukan'.
"Ibuku juga bilang saling menggenggam tangan juga memperingan masalah dan membuat seseorang menjadi kuat menjalani masalahnya," jawab Naruto seolah tahu arti tatapan itu.
Tangan Naruto terasa kasar, mungkin karena pekerjaannya sebagai pegawai minimarket dan pelayan kedai ramen. Sudah begitu Naruto juga mengurus bayinya sendiri, karena istrinya entah dimana. Namun tangan yang kasar itu terasa hangat juga. Membuat senyum tipis terpasang diwajah Sasuke.
"Sekarang giliranmu, kenapa waktu itu, setelah kita berhubungan badan, kau seperti boneka rusak?" tanya Sasuke. Kedua tangan mereka kini sudah tidak saling berpegangan, karena Sasuke kembali menyesap cangkir tehnya.
Pertanyaan Sasuke membuat detakan jantung menggebu-gebu pada diri Naruto. Bibir Naruto langsung digigit. Kepala ditundukan kembali. Saphire indahnya meredup.
"Hinata...Hinata melihat kita tanpa busana... dan dia langsung minta cerai..."
"Jadi terkena hukuman juga sepertiku?"
"He...he...begitulah. Tapi aku tidak akan menyerah, aku pasti akan membawa Hinata kembali dalam pelukan."
Dia tidak menyerah. Meskipun sudah jatuh berkali-kali. Membuat Sasuke tersenyum tipis kembali. Sasuke juga tidak akan kalah dari Naruto. Ia percaya pasti ada jalan untuk kesembuhan istrinya. Ia akan melakukan apapun demi kebahagian sang istri. Seperti Naruto yang tidak menyerah mendapatkan istrinya kembali.
"Kau si bodoh yang keras kepala."
"Ya dan kau si brengsek yang pemarah."
***Ichigostrawberry-nyan***
Dear Hime
Aku tahu apa yang kulakukan padamu adalah kesalahan terbesar. Aku pun tak berpikir panjang saat memutuskan hal itu, karena yang ada di dalam pikiranku saat itu adalah Kau dan kedua buah hati kita.
Mungkin bagimu aku sedang mencoba membela diri. Tapi itulah kenyataannya Hime.
Aku mencintaimu bahkan melebihi nyawaku dan harga diriku sendiri.
Dan aku tak mungkin sanggup untuk jauh darimu. Bahkan satu detik saja berpisah denganmu, bagiku terasa satu tahun.
Hime maafkan aku...
Kembalilah demi aku dan kedua buah kita
.
.
.
Kertas berisi untaian kata orang yang membuatnya sedih itu diremas. Mata lavendernya ia tutup, namun entah kenapa air mata masih bisa menerobos dan mengalir pada pipi putihnya. Dia tahu bahwa orang yang menulis surat tersebut melakukan semua ini demi dirinya. Meskipun begitu melihat banyangan mimpi buruk seminggu yang lalu, tetap tidak bisa memaafkan orang yang menulis surat tersebut. Berpisah adalah jalan terbaik baginya. Meskipun itu akan berdampak buruk bagi kedua malaikat kecilnya yang tidak bersalah.
"Maafkan aku Naruto-kun, aku tidak bisa... kau telah menghancurkan hatiku hingga tidak bisa diperbaiki lagi... bahkan jika kau meminta maaf hingga seribu kalipun tak kan bisa menghapus mimpi burukku tentangmu dan orang yang tidur bersamamu...tidak bisa..." lirihnya.
Pagi itu pada akhirnya dia bisa membaca surat yang diberikan kakaknya, untuknya. Namun setelah membacanya surat itu diremas dan terjatuh dari genggamannya. Tubuhnya bergetar hebat dan air matanya tak berhenti mengalir. Dia terjatuh lemas di atas lantai yang dingin. Sambil memeluk diri yang sudah rapuh sejak kejadian seminggu yang lain. Menangis sendirian di dalam kamarnya, di apartemen kakaknya.
***Ichigostrawberry-nyan***
Tangan kanan memegang nampan berisi cangkir teh hangat dan sepiring kecil berisi kue keju. Tangan kiri memegang kenop pintu bercat cokelat. Mata lavender menangkap punggung kecil nan rapuh. Pintu berderit ketika didorong. Kaki melangkah mendekati sang adik, hingga terdengar suara sepatu menginjak lantai. Namun sang adik tak bergeming. Masih berdiam memunggunginya.
Kedua pupil menangkap kembali pemandangan berbeda. Kedua bahu yang rapuh bergetar hebat. Langkah kaki terhenti. Padahal jarak hanya tinggal lima langkah.
"Maafkan aku Naruto-kun, aku tidak bisa... kau telah menghancurkan hatiku hingga tidak bisa diperbaiki lagi... bahkan jika kau meminta maaf hingga seribu kalipun tak kan bisa menghapus mimpi burukku tentangmu dan orang yang tidur bersamamu...tidak bisa..." lirih sang adik.
Pemandangan yang dilihat mata kembali berubah. Kertas yang tidak rapi, sudah diremas hingga membentuk bola. Dijatuhkan begitu saja pada lantai putih. Mata kini tertuju pada kertas. Tak ada reaksi hanya wajah datar saat melihatnya.
Tiba-tiba mata dikejutkan jatuhnya sang adik. Isakan mulai terdengar keras ditelinga. Hingga akhirnya sang adik jatuh tertidur dilantai sambil memeluk diri. Ia pun bergegas menaruh cangkir teh pada meja didekat tempat tidur. Menggendong sang adik seperti menggendong pengantin. Menaruh perlahan di atas tempat tidur secara perlahan, bagaikan menaruh guci mahal ke atas meja. Bokong kini dihempaskan ke sebelah sang adik yang telah tertidur dengan air mata masih mengalir. Tangan siap tanggap langsung menghapus air mata tersebut.
"Kau bodoh Hinata, aku sudah bilang dia itu bajingan, tapi kau keukeuh ingin bertemu dengannya. Yah setidaknya matamu sudah terbuka. Senang rasanya kau sudah sadar siapa dia..."
Tangan beralih mengelus rambut indigo.
"Tapi aku belum puas. Dosanya itu sangat berat, hukuman pisah denganmu saja tidak cukup. Hanya kematian yang bisa menebus dosanya. Nyawa... dibayar dengan Nyawa..."
***IchigoStrawberry-nyan***
Seperti daun maple yang berguguran yang akhirnya menyisakan ranting tanpa daun dan ditutupi oleh salju musim dingin, seperti itulah hati seseorang yang ditinggal sang terkasih
..
...
...
Hari pertama, hari setelah memberikan surat pada sang terkasih, tepatnya hari senin. Tepatnya lagi delapan hari sebelum memasuki musim dingin. Saat kedai ramen masih sepi dikarenakan bulan tua, orang-orang lebih memilih makan ramen instan ketimbang membeli di kedai yang harganya lebih terjangkau. Disaat sepi itulah ia memanfaatkan kesempatan. Menelepon sang terkasih. Bunyi suara telepon memanggil terdengar ditelinga. Sayangnya tak ada yang menjawab. Bahkan hingga pulsa menunjuk angka nol, jawaban tak kunjung datang.
Hari kedua kedai ramen ichiraku mulai ramai. Mungkin orang-orang sudah bosan memakan ramen instan. Toh rasa ramen ichiraku memang selalu dinanti warga Konoha. Sambil menggendong Boruto dipunggungnya Naruto mengantarkan pesanan mangkok putih berisi ramen dengan topping beragam, membawanya pada pelanggan yang perutnya sudah bernyanyi-nyanyi tak sabaran. Sampai matahari berganti bulan, Naruto akhirnya bisa bersantai dan Boruto juga sudah tertidur dipunggungnya. Mumpung santai, jemari tan mengetikan sms pada sang terkasih. Lagi-lagi sangat disayangkan, lampu kedai ramen telah dimatikan, namun kotak inbox tak kunjung berisi.
Hari ketiga ramen ichiraku masih ramai. Boruto kini dititipkan pada Kurenai pemilik apartemen tempat Naruto tinggal. Karena malamnya ada jamuan makan malam pengusaha kain yang berjualan tidak jauh dari kedai, di Ichiraku. Naruto tak tega membawa Boruto, karena pastinya ia akan lembur. Lalu jamuan makan malam pun selesai, badan Naruto sudah seperti diremuk titan. Lelah namun ia cukup menikmati pekerjaannya, walaupun hanya sebagai pelayan. Kemudian setelah selesai mencuci mangkuk –mangkuk ramen, Naruto langsung memanfaatkan kesempatan, menelepon istri tercinta. Lagi panggilan tidak dijawab. Tak menyerah ia mengetikan email pada istrinya, namun begitu pagi menjelang sepuluh email yang dikirimnya tak kunjung terjawab.
Hari keempat mumpung kedai sepi, Naruto izin pulang cepat. Izin disetujui, kaki meluncur ke mansion Hyuuga, tempat tinggal orang tua Hinata. Berbekal modal nekat tak takut diusir, kedua kaki kurus itu sampai di depan pagar mansion yang mungkin lebih mirip istana. Istrinya memang orang berada, tepatnya adalah bangsawan. Tak bisa disandingkan dengan dirinya. Yatim Piatu yang hanya tamat SMA. Memang ia sungguh beruntung mendapatkan istrinya. Namun sayang kesalahan besar membuatnya nyaris berpisah. Sebelum sempat berpisah selamanya, ia tidak akan menyerah mendapatkan keberuntungannya kembali. Tapi ternyata lagi-lagi ia pulang dengan tangan kosong. Mansion itu berkata bahwa nama Hinata adalah sesuatu yang tak boleh disebut. Rupanya bangsawan yang diusir tak bisa kembali lagi. Betapa bodohnya ia ke sini, harusnya tempat yang ia cari adalah kediaman kakak Hinata, bukan mansion ini. Besok sepertinya ia akan ijin lagi.
Takdir buruk menimpa Naruto dihari kelima, keenam dan ketujuh. Masuk ke kandang orang yang membencinya memang suatu tindakan yang masocist. Namun Naruto tak mau mengakui dirinya masocist, karena yang diinginkannya adalah bertemu dengan Hinata. Tangan yang patah, wajah yang dipenuhi dengan lebam, dan bibir yang sobek. Itulah yang terjadi jika bermain ke tempat Neji. Sebenarnya jika bukan Naruto yang berkunjung, Neji tak akan dalam mode sadistik. Namun karena Naruto yang bertamu, tubuh babak belurlah yang akan didapatkan. Padahal jika Naruto menyerah, mungkin saat ini Naruto bisa jalan-jalan dengan Boruto karena mendapatkan gaji, karena ijin libur untuk menemui istri tersayang. Sayangnya kata menyerah tak ada dalam kamus Naruto.
Hari ke delapan akhirnya akhirnya Hinata mau menemui Naruto. Kini ia bisa duduk berhadapan di depan istri tercinta, di rumah kakak ipar yang membencinya, yang kini berdiri menyender tembok sambil mengawasi Naruto dengan tatapan tajam. Naruto berusaha untuk tidak memperdulikan. Fokusnya adalah membawa Hinata kembali dalam hidupnya.
"Hinata aku..."
"Naruto-kun aku sudah memaafkanmu..."
Jantung berdetak cepat. Ingin rasanya tubuh memeluk Hinata, karena ternyata usahanya selama satu minggu tidaklah sia-sia. Namun begitu mulut hendak berucap, Hinata mendahului.
"Aku mengerti apa yang kau lakukan adalah demi diriku dan anak kita..."
Daun maple di luar sana sudah habis berguguran, karena musim dingin telah datang. Cuaca di dalam apartemen kakak ipar Naruto pun menggigit kulit, sehingga sweater, jaket tebal ataupun syal sangat dibutuhkan oleh tubuh. Namun mendengar Hinata telah memaafkannya dan telah mengerti apa yang dilakukannya selama ini untuk Hinata, Himawari dan Boruto, hati Naruto menghangat. Udara dingin ikutan menghangat.
"Meskipun begitu..."
Masih ada kelanjutannya. Hinata berbicara terputus-putus. Naruto jadi merasa ada yang aneh. Ia harap dewi fortuna tidak meninggalkannya.
"Meskipun begitu aku tidak bisa lagi bersamamu Naruto-kun..."
Ah... harapanya tidak terkabul. Mulut tertutup rapat. Tak tahu harus berkata bagaimana. Namun hati tidak terima.
"Pulanglah... dan kumohon jangan hubungi aku lagi dan jangan..."
Jeda sejenak. Namun nafas Naruto sudah terasa sesak.
"Jangan temui aku lagi..."
Hinata berdiri dari sofa, pergi melangkah ke kamar. Naruto hendak mengejar, namun Neji menghalangi. Leher tan dicekik dan punggung dibenturkan pada dinding.
"Kau sudah mengerti bukan?" datar tapi penuh dengan intimidasi.
"Kau sudah paham bukan? Itu adalah dosamu, jadi jangan pernah berpikir kau bisa bersama dengan adikku." Cekikan semakin kuat. Sakit tentu saja. Namun hati sudah seperti musim gugur. Mengerti kan? Daun mengering dan akhirnya jatuh ke tanah. Menjadi debu dan terbang bersama angin. Itulah rasanya.
"Neji-nii Hentikan!"
Tangan putih itu melepas leher tan. Mendengus kesal, rencanya digagalkan. Sabar masih ada lain waktu. Neji pun meninggalkan Hinata yang kembali keluar dari kamar karena mendengar ribut-ribut diluar, bersama Naruto yang kini memegangi lehernya yang masih sakit.
"Terima kasih. Kau masih peduli padaku."
"Kau masih berstatus suamiku, jadi aku tentu saja peduli. Namun aku mau kau pergilah. Jangan buat aku tambah sedih karena kekeraskepalaanmu. Kumohon kau mencintaiku bukan?"
"Aku mencintaimu Hinata. Aku juga tahu itu dosa yang tak termaafkan. Namun aku tidak bisa hidup tanpamu. Untuk itulah aku tidak menyerah. Namun jika kekeraskepalaanku membuatmu tambah bersedih. Maka baiklah kita berpisah," jawab Naruto pada akhirnya. Tersenyum pada sang istri untuk terakhir kali. Dan sekali lagi pulang dengan tangan kosong.
Tanpa disadarinya, Hinata ingin mengejarnya. Hingga berguman
"Jangan pergi..."
Ia dan Hinata sama-sama tak ingin pisah. Namun sebuah kesalahan pasti ada konsekuensinya.
***TBC***
