HunHan

.


Keinginan untuk menusuk Seoyeon dengan garpu atau pisau melintasi pikiran Luhan beberapa kali malam itu. Wanita itu berhasil membuat dirinya berada rumah mereka sekali lagi, dan makan makanan yang Luhan telah disiapkan. Mungkin dia seharusnya meracuni makanannya dan membuat wanita itu menyelesaikan hidupnya—ide itu sangat menarik untuk Luhan lakukan. Dia menusuk hotdog-nya dengan kejam sebelum mendorongnya ke mulut. Sehun benar-benar sialan mengundangnya malam ini. Dia berkata Luhan mungkin salah, karena Seoyeon adalah 'orang yang benar-benar baik'. Benar. Sehun mendesak Luhan untuk memberinya kesempatan, dan bahkan berinisiatif mengundang dia makan malam.

Untuk sesaat, Luhan harus menahan dirinya karena tidak ada yang baik tentang cara wanita itu duduk, dia terlalu dekat dengan Sehun. Belum lagi bagaimana dia mengedipkan bulu matanya pada Sehun sepanjang malam, dan mengenakan gaun ketat yang terbuka. Namun, Sehun melihat seolah tidak ada yang salah dengan itu, bicara dengan wanita itu dengan tenang, dan bahkan menarik kursi untuknya.

Menelan kembali semua yang ingin dia katakan, Luhan berdiri tanpa bicara. Keduanya melihat dia, Sehun menatapnya kuatir, sementara Seoyeon meliriknya tidak mengerti. "Apa kau baik-baik saja?" Wanita itu bertanya terlalu manis untuk benar-benar kuatir,

"Sangat baik-baik saja," gumam Luhan sebelum meninggalkan meja. Dia tidak ingin membuat keributan, dia tidak ingin tampak lemah, dan yang pasti dia tidak ingin Sehun berpikir bahwa ia sedang emosi karena kehamilannya lagi.

Maka, ia memutuskan untuk pergi selagi ia masih bisa sepenuhnya mengontrol diri.

.


Luhan terbangun ketika ia merasa tempat tidurnya memberat, mengucek mata, dan melirik jam, ia melihat itu nyaris jam dua belas sekarang. Sehun tersenyum ketika Luhan melihat ke arahnya, "Maaf, aku membangunkanmu?"

"Tidak," Luhan bergumam, mendekat pada Sehun secara naluriah. "Kau darimana?"

"Aku mengantar Seoyeon kembali ke hotelnya," Sehun berkata sebelum mencium pipinya.

"Apa kau belum mandi?" Luhan bertanya dan Sehun menggeleng. "Pergilah dan mandi dulu, aku akan menunggumu."

Tidak mengatakan apapun tentang permintaan aneh Luhan, Sehun turun dari tempat tidur dan melepas pakaiannya, melemparkannya ke dalam keranjang cucian sebelum pergi ke kamar mandi. Luhan turun dari tempat tidur setelah ia mendengar suara percikan air, ia mengeluarkan pakaian yang baru saja Sehun lemparkan. Itu bukan hanya imajinasinya: aromanya samar tapi tidak diragukan lagi bahwa itu aroma parfum memuakkan Seoyeon. Itu berarti mereka begitu dekat sehingga parfum itu bisa melekat di blazer Sehun.

Luhan juga melihat noda lipstik di atasnya. Tidak perlu seorang jenius untuk tahu bahwa ini juga kemungkin milik Seoyeon. Keraguan dan pertanyaan memenuhi pikirannya saat dia berusaha untuk percaya pada Sehun. Itu tidak berarti ia tidak percaya padanya, itu lebih kepada Luhan menemukan dirinya kurang percaya. Sehun kaya, tampan dan kuat jadi apa yang dia lihat dari Luhan? Apa Sehun bersamanya karena bayi kecil mereka? Apa dia merasa bertanggung jawab pada Luhan?

Semakin ia memikirkan hal itu, semakin dia bingung. Meletakkannya kembali ke keranjang cucian, Luhan merangkak ke bawah selimut. Malam itu, ia masih terjaga bahkan setelah Sehun tertidur.

.


Menemui Seoyeon adalah solusi yang datang setelah semalam penuh berpikir. Dia memutuskan tidak akan menjadi begitu pasif, dan dia tidak akan membiarkan Seoyeon mendapat cincin pertunangan apapun. Luhan bertekad untuk mengklaim Sehun sebagai miliknya.

Ia akan mengutuk dirinya sendiri jika ia membiarkan wanita itu mendapatkan keinginannya, sementara ia tidak melawan. Ia mendapatkan nama hotel dan nomor kamar wanita itu dari Sehun dengan sepotong kue dan berkata padanya bahwa ia ingin mengenal Seoyeon lebih baik. Kebohongan terasa sangat pahit di lidah, tapi setidaknya ia berhasil mencapai tujuannya. Didampingi Jongin, mereka menuju ke hotel. Mungkin Jongin merasakan sesuatu yang tidak beres itulah mengapa dia tidak menggoda Luhan sepanjang perjalanan.

Luhan segera pergi ke kamar wanita itu setelah ia keluar dari mobil. Tidak ada keterkejutan di wajah Seoyeon saat melihatnya. Bahkan, wanita itu tampak sangat senang saat membuka pintu dan mempersilahkan Luhan masuk.

"Tinggalkan Sehun," Luhan berkata setelah pintu ditutup. "Aku tidak peduli tentang—"

"Apa kau tahu dia mengantarku ke hotel semalam?" Seoyeon memotong, tersenyum puas di wajahnya.

"Aku tahu, tapi—"

"Apa kau ingin tahu apa yang kita lakukan di ruangan ini?" tanya Seoyeon, dengan nada misterius, seolah dia sedang mengatakan sebuah rahasia besar pada Luhan. "Seorang pria dan wanita di ruangan yang sama, hmm, apa yang kau pikirkan—"

"Hentikan," Luhan mengangkat tangannya, ia tidak ingin mendengar itu. "Aku tidak disini untuk—"

"Apa kau ingin aku memberitahumu apa yang Sehun katakan?" Seoyeon melangkah lebih dekat pada Luhan. "Dia bilang kau adalah mimpi buruk, dia tidak pernah ingin anak itu dan—"

"Hentikan!" Teriak Luhan. "Berhenti bicara!"

"Tapi sayang, aku bahkan belum sampai ke Bagian terbaiknya." Suara Seoyeon berubah manis. Begitu manis hingga membuat Luhan merinding. "Aku punya malam yang baik, dan dia bilang padaku dia akan menyingkirkanmu segera—"

"Bohong," Luhan menolak untuk percaya Sehun mengatakan itu.

"Dia bilang dia muak dengan mood-mu yang berubah-ubah dan—"

"Hentikan," Luhan berbisik saat ia melangkah mundur, sampai belakang lututnya membentur sofa dan Seoyeon mendorongnya duduk dengan paksa.

Membungkuk, Seoyeon berbisik di telinganya. "Dan dia tidak pernah mencintaimu, kau sama saja dengan yang lain jadi jangan menipu dirimu sendiri dengan berpikir bahwa kau istimewa, karena kau tidak."

"Kau—"

"Aku menyesal mobilku tidak membunuhmu," Seoyeon melanjutkan, tidak membiarkan Luhan memiliki kesempatan untuk bicara. "Kau beruntung masih hidup dan mempertahankan bayimu."

Melihat wanita itu dengan takut, Luhan menyadari bahwa kecelakaan mobil itu bukan kecelakaan. Seoyeon berencana untuk membunuhnya bersama dengan bayi kecilnya. Wanita ini benar-benar jahat dan gila. Kepalanya kacau. "Kau merencanakan—"

"Ya, aku orang yang merencanakan itu." Seoyeon hanya tersenyum pada Luhan.

Mendorongnya dengan kasar, Luhan menjauh dari sofa dan berlari ke pintu, tapi Seoyeon memberi perintah untuk menangkapnya. Dua orang berpakaian hitam muncul entah dari mana dan menangkap Luhan sebelum ia bisa keluar.

Salah satu dari pria kekar itu menahan tangan Luhan di belakang punggungnya dan mata Seoyeon yang penuh dengan kesenangan yang menakutkan melihat mata Luhan. Ini berbeda dengan ketika ia menghadapi Sehun; sekarang dia memiliki kehidupan lain dalam dirinya yang harus ia lindungi, bukan hanya dirinya sendiri. "Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Mungkinkah aku harus mendorongmu ke bawah tangga dan bilang itu adalah kecelakaan? Atau haruskah aku melemparkanmu ke sungai?"

"Kau hanya menggertak," Luhan mengatakan semuanya tiba-tiba. Dia butuh Seoyeon berjalan lebih dekat padanya, dan kemudian ia akan menjatuhkannya ke lantai, dan saat ia terkejut, Luhan akan mencoba untuk melarikan diri selagi dia bisa. Dia hanya harus melakukan sesuatu bukan membiarkan Seoyeon melakukan apapun yang dia inginkan.

Menyipitkan mata ke arahnya, Seoyeon berjalan lebih dekat. "Apa yang membuatmu berpikir—"

"Sehun bilang dia mencintaiku," kata Luhan. Itu membuat wanita itu berhenti, dan Luhan akan mendorongnya ke bawah ketika ia berhenti berjalan. Itu tidak cukup baginya untuk melakukan apapun. Wanita itu mengerutkan bibir sebelum mengangkat tangannya dan menampar pipi Luhan, kemudian berjalan kembali ke tempatnya.

Sial.

"Itu untuk kebohonganmu," katanya dingin. "Sekarang, mari kita mulai, bisakan?"


.


"Aku pikir ini semua cukup, bukan begitu?" Suara Sehun tiba-tiba terdengar dan Seoyeon melebarkan matanya terkejut, tidak tahu kapan pintu terbuka, atau bagaimana Sehun bisa masuk. "Lepaskan dia sekarang!"

Tidak berani untuk menentang Sehun, pria itu melepaskan Luhan segera. Sehun berjalan dan berdiri di samping Luhan sambil memelotot pada Seoyeon. Jika pandangan bisa membunuh, Seoyeon mungkin sudah tewas dan dikuburkan enam kaki di bawah tanah. "Kau melewati batas saat kau menyakitinya."

"Tapi—ini bukan seperti apa yang kau lihat—" Seoyeon masih memiliki keberanian untuk berbohong, dia menununduk mencoba membuat dirinya terlihat tidak bersalah. "Kami hanya—"

"Apa kau pikir aku tidak akan tahu siapa yang berada di balik kecelakaan itu? Apa itu membuatmu berpikir aku tidak akan tahu apa yang kau lakukan?" tanya Sehun, terdengar menakutkan. "Aku tidak menyangka kau begitu bodoh dan membiarkan dirimu tertangkap basah."

"Aku mencintaimu," Seoyeon berkata dengan mata memohon, putus asa berharap Sehun percaya padanya. "Aku—Kita akan bahagia bersama jika bukan karena dia. Aku hanya berusaha menyingkirkan bayi itu untukmu. Tidakkah kau melihatnya? Kita bisa menjadi sempurna bersama-sama."

Saat itulah Luhan melihatnya, wanita itu tergila-gila pada Sehun. Kepalanya kacau dan sepenuhnya jahat tapi tidak ada keraguan bahwa ia mencintai Sehun. Muncul disampingnya, wajah Jongin suram dan membuat dua orang pria kekar itu menjauh darinya.

"Aku amembiarkanmu lolos karena aku memiliki beberapa perjanjian bisnis dengan ayahmu," Sehun mengabaikan apa yang Seoyeon katakan padanya. "Tapi saat kau menyentuh dia bahkan hanya sehelai rambutnya, aku tidak akan mengasihani apapun."

"Sehun." Mata Seoyeon putus asa saat ia melangkah mendekat padanya. "Sebenarnya ada apa diantara kita?"

"Tidak pernah ada kita dari awal." Suara Sehun dingin. "Aku hanya bersikap sopan karena ayahmu jadi jangan salah paham. Tapi jika kau melewati batas sekali lagi, aku akan mengabaikan semua itu, jadi jangan mengujiku."

"Aku akan meminta Papaku untuk membatalkan semua kesepakatan bisnis denganmu—"

Sehun menyeringai perlahan, "Satu-satunya alasan kau masih hidup sekarang adalah karena ayahmu memiliki kesepakatan denganku. Kau tidak dalam posisi untuk bernegosiasi apapun denganku. Mengujiku sekali lagi dan aku pastikan kau akan dikuburkan enam kaki di bawah tanah bahkan sebelum kau bisa berkedip."

Dengan ancaman yang menggantung menakutkan di udara, Sehun merengkuh bahu Luhan sebelum berjalan keluar dari ruangan. Jongin mengikuti di belakang mereka, menjaga jarak.

"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Sehun kuatir, nadanya begitu berbeda dengan yang ia gunakan pada Seoyeon. "Maaf, aku datang sedikit terlambat."

"Aku pikir kau berutang penjelasan padaku, tidakkah kau berpikir begitu?" Luhan marah pada semua yang terjadi. Dia merasa terganggu dan tidak bisa tenang duduk bersamanya.

.

Mereka pulang dalam keheningan, kemudian berjalan ke rumah tapi tidak sebelum Luhan melihat Sehun bicara dengan Jongin.

Duduk di sofa, Luhan lelah dengan semua yang terjadi hari ini, tapi ia masih membutuhkan penjelasan. "Apa kau tidur dengannya?"

"Tidak," jawab Sehun segera. "Aku tidak pernah berencana untuk itu. Tidak di masa lalu dan tentu saja tidak pula sekarang."

"Kau bisa mulai penjelasanmu sekarang kalau begitu, "Luhan melipat tangannya. "Kau lebih baik memperbaiki ini jika tidak kau akan tidur di sofa untuk sisa minggu. Bahkan mungkin bulan. Kapan kau tahu dia di belakang kecelakaanku?"

"Ketika dia tiba-tiba muncul," Sehun duduk di samping Luhan. "Aku menyuruh seseorang untuk menyelidikinya tapi tidak menghasilkan apapun. Semuanya menjadi jelas saat ayahnya memintaku merawatnya sementara."

Luhan berguman menanggapi, menunggu Sehun untuk melanjutkan.

"Ayahnya hidup untuk menyenangkan hatinya, jadi tidak masuk akal kalau dia akan mengusirnya dari rumah. Aku berencana untuk menahannya disini jadi aku bisa mengawasinya, tapi kau bersikeras untuk memindahkannya ke hotel." Sehun mengusap rambut Luhan. "Aku berusaha membuatnya tertangkap basah agar aku bisa mendapat beberapa bukti jadi semuanya tidak hanya akan menjadi sebuah tuduhan dari satu sisi."

"Jadi kau mengirimku padanya, tahu jika dia akan—" Luhan menelan ludah, tidak bisa melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

"Harusnya tidak sejauh itu, aku menyuruh Jongin memasang alat penyadap padamu jadi ia bisa bertindak ketika semuanya di luar kendali." Sehun bergerak mendekat pada Luhan. "Aku juga segera pergi ketika Jongin meneleponku, tapi ayahnya menghentikanku saat aku akan masuk mobil. Dia mencoba mengulur waktu tapi ketika jelas aku tahu apa yang terjadi, ia memohon padaku untuk keselamatan hidup putrinya."

"Semuanya terlalu rumit," Luhan memejamkan mata. "Kau menakutkan, segala sesuatu tentangmu menakutkan. Kau—aku merasa bahkan tidak mengenalmu kadang-kadang."

"Jangan pergi dariku." Suara Sehun berubah lembut. "Aku tidak akan pernah membiarkan wanita itu, atau siapapun, menyakitimu,"

"Kau mungkin bisa melindungiku dari apapun tapi bagaimana dengan dirimu sendiri? Siapa yang akan melindungiku darimu?" tanya Luhan, suaranya bergetar. "Aku butuh waktu."

.


Luhan sekali lagi dalam ruang kerjanya, pikirannya dipenuhi pertanyaan dan keraguan lagi. Kejadian itu memaksa dia untuk melihat hubungan mereka dengan sungguh-sungguh, memaksanya mengambil keputusan. Dia harusnya memutuskan sejak lama tapi ia menunda dan menunda terus.

Luhan harus memutuskan apakah ia bisa mencintainya dan bisa hidup dengan segala sesuatu tentang Oh Sehun. Dia tahu bahwa ia mencintai pria itu, tapi apakah ia siap menerima dunia dimana Sehun hidup atau tidak adalah masalah yang berbeda.

Memang benar ketika ia bilang bahwa ada saat dimana ia bertanya-tanya apakah ia mengenal Sehun dengan benar. Hari ini, ia melihat sisi lain dari Sehun yang membuatnya takut. Bagaimana jika suatu hari Sehun tidak tertarik padanya lagi? Apakah dia akan membuang Luhan sama seperti ia membuang Seoyeon?

Dia menempatkan kuasnya ke bawah karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bangun, Luhan hendak meninggalkan ruangan ketika dia melihat Jongin di ambang pintu. Sebuah pemandangan yang tak terduga.

"Princess, kemana kau akan pergi?"Jongin bertanya dengan tenang dan Luhan terlalu lelah bahkan untuk merasa tersinggung karena julukannya.

"Tidak kemanapun," Luhan menjawab. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku—Dengar—Aku—" Jongin mengembuskan napas jengkel. "Aku minta maaf karena terlambat."

"Itu bukan salahmu," Luhan meyakinkan. "Tidak ada yang menyangka dia akan melakukan itu. Aku tidak pernah berpikir dia akan—"

"Princess, aku pengawalmu jadi aku merasa begitu ceroboh." Jongin berkata dan sesaat, Luhan ingin tertawa karena Jongin sungguhan minta maaf padanya. Dia tidak pernah berpikir ini akan terjadi.

"Kau sudah dimaafkan," kata Luhan dengan kegembiraan dalam suaranya saat Jongin menyipitkan mata padanya sebelum tersenyum kecil.

"Kau harus memaafkan Sehun juga," Jongin mengaku. "Kau membuat dia bahagia, kau tahu itu?"

"Aku—"

"Dia seorang pria yang memiliki kekosongan yang harus diisi. Bahkan dengan semua uang dan kekuasaan yang dia miliki, Sehun tidak pernah merasa senang. Tapi kemudian kau datang dan pria itu tiba-tiba—ia baru saja jadi orang berbeda." Jongin melanjutkan dan Luhan merasa hatinya tercekat. "Dia melihatmu seolah kau adalah segalanya di dunia. Kau tidak melihatnya karena kau selalu mencari kejelekannya."

"Aku tidak tahu," Luhan mengaku. "Aku takut jika aku memberikan hatiku dan kemudian dia memutuskan bahwa dia tidak menginginkannya lagi?"

Jongin menatapnya untuk sementara sebelum menjawab, "Dia akan membunuh dirinya sendiri sebelum menyakitimu."

.


Banyak yang Luhan pikirkan setelah pembicaraannya dengan Jongin. Pergi ke kamar tidur mereka, ia melihat Sehun sudah tidur. Ia memastikan untuk tidak membuat suara apapun, Luhan berdiri dekat Sehun.

Dia menyingkirkan rambut yang menutup wajahnya dan sungguh, jawabannya sudah ada di depannya sejak lama. Luhan tidak akan pernah mau tinggal dengan seorang pria jika ia tidak mencintainya, apalagi punya anak dengan pria tersebut.

Membuka matanya, Sehun memberikannya senyuman. "Apa kau sudah makan? Apa kau ingin makan sesuatu?"

"Aku sudah memutuskan," kata Luhan. "Aku mencintaimu dan kita akan menjadi keluarga. Jadi aku secara tidak langsung memintamu menikahiku segera dan memasang cincin di jariku jadi orang lain akan tahu bahwa aku milikmu dan kau milikku."

"Apa kau yakin tentang itu? Bisakah kau menerima segala sesuatu tentangku?" Sehun bertanya dan Luhan melihat bagaimana rentannya dia. Sial, Luhan benar-benar menyakiti pria ini ketika ia mengatakan bahwa dia takut padaya.

Luhan mengangguk perlahan, membungkuk untuk mencium bibirnya. "Jika kau bisa bersabar denganku ketika aku dalam mood terburukku dan tidak mengeluh, maka mungkin kau memang ditakdirkan untukku."

Malam itu, Sehun perlahan mengeksplorasi tubuh Luhan dan berusaha membuat Luhan lebih mencintainya lagi.


TBC


Ini dua Bab dijadiin satu. Tbc nya aturan ada di saat Sehun tiba-tiba datang ke hotel.

Nah, tinggal beberapa Bab lagi, tapi aku akan berusaha untuk menjadikannya hanya 2 atau 3 bab lagi. Jadi ini semoga bisa tamat di sebelum tujuh hari kedepan. Dan...Bambi! Yeay!


520!