Detik membeku, entah sejak kapan ruangan itu terasa menyesakkan. Baekhyun dan Chanyeol berdampingan, menunduk, terasa begitu kecil bila disandingkan dengan sofa marun yang sesungguhnya tiada apa.
Namun keduanya berpegangan tangan.
"Apa maksudnya ini," ibu Chanyeol berjengit, menatap tak suka, "seingatku aku pernah menasehatimu, Chanyeol."
Menasehati. Chanyeol mendecih.
Baekhyun melirik takut dari sudut matanya. Ini dia, orangtua Chanyeol. Mereka tidak berubah, persis seperti yang Baekhyun ingat. Ayah Chanyeol masih terlihat apatis sementara ibunya masih tampak tak menyukai Baekhyun.
Chanyeol menarik napas. Ia bergetar dan itu membuat Baekhyun khawatir. 'Jangan memaksa, Yeol', batinnya. Chanyeol menoleh dan tersenyum, seakan menjawab segala gelisah Baekhyun dengan kalimat standar, 'tidak apa, aku baik-baik saja. Segalanya baik-baik saja.'
Tapi keduanya tahu bahwa tidak ada yang baik disini.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," Chanyeol mendongak untuk membalas pandangan nyalang orangtuanya, "tentang kami."
"Tidak ada yang perlu dikatakan, Park Chanyeol. Dulu kau bilang akan tetap fokus, maka aku mengijinkanmu. Tapi sekarang hal itu sudah kelewatan." Ayahnya berkata, tajam, menusuk tepat di ulu hati Chanyeol.
"Tapi ayah—"
"Park Chanyeol, dengarkan ayahmu!" balas ibunya, "cepat lepaskan tangan kalian!"
Baekhyun menggigit bibir, berusaha menahan air matanya. Ia tak mau, jangan dilepas. Namun bila tidak, Chanyeol akan menjadi anak pembangkang orangtua. Baekhyun tidak mau dirinya menjadi benalu. Maka ia menarik tangannya, berusaha lepas dari genggaman Chanyeol.
Tapi Chanyeol balas mengeratkan genggamannya, "Aku tidak mau."
"Park Chanyeol!"
"Aku tidak mau! Apa pun akan kulakukan kecuali melepas dia. Kenapa kalian begitu tidak suka pada Baekhyun?"
"Karena kami peduli pada masa depanmu." ujar sang ibu. "Dengar, ada seorang gadis dari keluarga—"
"Aku hanya mau Baekhyun, bu!" Chanyeol berteriak emosi. Alisnya bertaut dan napasnya memburu, "apa yang harus kulakukan agar kalian menerima Baekhyun?" ia bertanya, putus asa.
Baekhyun tak bisa berbuat banyak. Ada kalanya diam menjadi hal yang terbaik, seperti sekarang. Ia sudah berusaha, ia sudah belajar keras untuk masuk Universitas Seoul, untuk menjadi dokter yang sukses. Agar ia mampu membuktikan pada orangtua Chanyeol bahwa ia… pantas.
"Park Chanyeol, kita harus bicara."
Baekhyun mendongak, menatap ayah Chanyeol yang beranjak menuju ruang kerjanya, sama sekali tidak melirik Baekhyun. Manik cokelatnya beralih pada sang ibu. Nyonya Park mendesis, memandang Baekhyun sinis.
"Kau, keluar sekarang juga."
Character(s) © God
I take no profit, just for fun
9th : It's Cold
(M for this chapter)
Esok harinya, Chanyeol menjemput Baekhyun seperti biasa. Tetap dengan senyuman tapi Baekhyun tahu hati Chanyeol sedang gundah. Baekhyun bertanya mengapa dan bagaimana orangtua Chanyeol, dan pemuda itu hanya mengacak surai Baekhyun.
"Aku baik-baik saja, Baek. Mereka juga sudah pergi tadi pagi."
Baekhyun tak bertanya lagi.
Chanyeol mengayuh sepedanya lebih lambat pagi itu.
Sepanjang hari Baekhyun terus memerhatikan Chanyeol. Dia tidak baik-baik saja, pikir Baekhyun ketika melihat Chanyeol melamun saat pelajaran berlangsung, memandang pada langit biru di luar jendela.
Begitu pula saat di kantin. Chanyeol terlihat tidak fokus hingga harus ditanya dua kali dulu sebelum ia bisa menjawab dengan benar. Luhan menarik lengan Baekhyun lalu berbisik serius.
"Jangan bilang kalian bertengkar lagi."
"Tentu saja tidak!" raut wajah Baekhyun menjadi muram, "kemarin orangtuanya pulang, dan ia jadi seperti itu."
Luhan terlihat berpikir, kemudian berbisik entah apa pada Sehun.
"Aku tak pernah melihatmu begini, hyung." ucap Sehun.
Jongin melirik teman-temannya kemudian mendesah pelan, "Chanyeol-hyung, kau punya kami, loh."
Chanyeol mengerti apa maksud Jongin, dan ia hanya tersenyum tipis. "Bukan apa-apa, aku hanya…" matanya bergulir ke sudut kantin, "…tidak ingin berpisah dengan kalian. Sebentar lagi upacara kelulusan, 'kan?"
Luhan terpekik lalu menatap Sehun, "Hun-ie, kau akan masuk Universitas Korea sama sepertiku, kan? Ayo jawab Hun-iiieee."
Jongin seketika menoleh pada Kyungsoo dan merebut novelnya, "Soo, pilihan pertamaku KAIST." katanya sungguh-sungguh.
Dan Kyungsoo hanya menjawab datar, "Lalu?"
Kemudian terdengar erangan frustasi Jongin, bercampur dengan rengekan Luhan dan kata-kata menenangkan dari Sehun. Baekhyun melirik Chanyeol. Pemuda itu mengaduk jus pisangnya tanpa minat. Tanpa sadar Baekhyun meremas ujung seragamnya.
Baekhyun yakin seratus persen, yang merisaukan Chanyeol bukanlah upacara kelulusan.
Sama sekali bukan.
Februari dengan langit kelabu, Baekhyun menghabiskan es krim vanila-nya seorang diri. Dinginnya es krim seolah tak berasa, tak berarti bila dibandingkan dengan dingin di hatinya.
Upacara kelulusan berlangsung di aula utama. Udara beku membawa salju, Baekhyun merapatkan syal merahnya.
"Wah, kau sudah besar ya, bocah." Baekbum mengacak rambutnya, Baekhyun protes.
"Dan sebentar lagi akan masuk Universitas Seoul. Kami bangga padamu, Baekhyun." Ibu dan ayahnya merangkul pundak Baekhyun, membuat mata anak itu berkaca-kaca.
"Terima kasih."
"Baek."
Chanyeol datang tergopoh, menyapa orangtua Baekhyun sebelum kemudian menarik lengan anak itu dan membawanya agak jauh dari sana.
"Ada apa, Yeol?"
Chanyeol memeluk Baekhyun, bersandar pada pundak kecilnya.
"Baek."
"Hm?"
"Tidak, aku hanya ingin memanggil namamu."
Baekhyun mengusap punggung pacarnya, "Kau tidak enak badan? Sebaiknya tidak usah pidato, Yeol."
"Tidak, bukan begitu," Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, "bisakah kau berjanji satu hal padaku?"
Baekhyun memiringkan kepalanya bingung, "Tentu saja. Janji apa?"
Dan Chanyeol menciumnya lagi, lama. Pelan dan dalam seakan bila ia mengakhirinya, ia akan kehilangan Baekhyun. Chanyeol melepas ciumannya, mempertemukan keningnya dengan kening Baekhyun. Uap dari napas mereka saling bertabrakan, semakin banyak. Chanyeol memejamkan mata.
"Baekhyun…" ia menarik napas, "…berjanjilah untuk tidak menyerah."
Baekhyun menatapnya, dengan mata cokelat jernih yang terperangah, "Apa maksudnya, Yeol? Jangan membuatku bingung…"
Dan tepat saat itu, panggilan pidato untuk murid kelas tiga menggema di seantero sekolah. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, tersenyum padanya.
"Aku sayang padamu." ia mengecup pipi Baekhyun sebelum berlari pergi.
Baekhyun kembali ke aula, duduk di tengah keluarganya. Dari sudut mata sipitnya ia mampu melihat keluarga Chanyeol, duduk di kursi terdepan. Begitu elegan dan… tinggi. Baekhyun menunduk sembari meremas jari-jarinya.
"…kami persilahkan untuk memberi pidato singkat bagi wakil siswa dengan predikat lulusan terbaik tahun ini. Park Chanyeol."
Gemuruh tepuk tangan membahana. Chanyeol menaiki mimbar dengan senyum ramah. Pandanganya bertemu dengan Baekhyun, ia tersenyum lebih lebar.
Pemuda itu berdiri gagah di depan microphone, membenahi almamater sekolahnya kemudian berdeham pelan. "Pertama-tama, aku ingin berterima kasih pada Tuhan atas berkat kesehatan dan waktu yang tak bisa diulang..."
Dari atas sini, Chanyeol mampu melihat langit dengan lebih leluasa. Luas dan bebas.
"… pada keluarga dan teman-teman, mereka yang mengerti kau lebih dari dirimu sendiri, mereka juga yang membantumu tanpa berpikir apakah kau mampu membalasnya atau tidak."
Chanyeol melihat Luhan dan Sehun beserta keluarganya masing-masing, terlihat begitu akrab. Kemudian keluarga Jongin di sudut belakang, Kyungsoo pada jajaran depan, kemudian Yura yang tersenyum lebar padanya sambil memotret.
"…serta orang paling cerewet yang pernah kukenal, ia yang menjadi api dalam diriku."
Baekhyun di bangkunya, menuduk dengan wajah merah padam ketika Baekbum menggodanya habis-habisan. Membuat Chanyeol tersenyum geli.
"Hidup dimulai saat kau lahir, atau Birth, dan diakhiri dengan kematian, atau Death. Diantara B dan D itu, terdapat C yang mewakili Choice, pilihan. Hidup adalah pilihan, gunakan sebaik-baiknya waktu yang ada karena hanya ada satu pilihan terbesar dalam hidupmu. Hal yang tak akan kau sesali, yang memberimu kekuatan untuk dapat tersenyum sekalipun hal itu sesederhana birunya langit."
Ia melihat orangtuanya, memastikan mereka mengerti apa yang Chanyeol maksudkan.
"Menjadi yang terbaik bukan segalanya. Sejujurnya aku tidak pernah berpikir untuk menjadi lulusan terbaik," ia terkekeh pelan. "Aku hanya berpikir, 'Sekolah ini sudah memberikan banyak hal untukku. Ia memberiku ilmu, pengalaman, dan teman-teman yang berharga. Apa yang bisa kulakukan untuk sekolah ini?'."
Chanyeol melihat Kepala Sekolah tersenyum padanya. "Maka dari itu aku memutuskan untuk memenangkan berbagai perlombaan, berjuang demi membalas budi. Aku tak akan pernah menyesalinya."
Tepuk tangan kembali terdengar, keras dan ramai.
"Untuk para junior, kalian bukanlah mutiara dasar laut yang menunggu untuk ditemukan, tapi kalian adalah para penjelajah yang menemukan. Kalian seperti bintang yang punya cahayanya masing-masing, kalian tidaklah sama satu dengan yang lain. Karena itu, tunjukkan cahaya kalian, dan buat dunia bersinar."
Chanyeol melihat para adik kelasnya mengangguk membenarkan, merenung memikirkan, bahkan ada yang menangis mengharukan.
"Terakhir… ah, ini yang paling berat bagiku. Tiga tahun—atau bahkan ada yang lebih dari itu—kita saling mengenal, berbagi hidup sebagai sahabat terlebih saudara. Kalian punya tempat khusus di hatiku, yang tidak bisa digantikan siapa pun. Perpisahan adalah dampak dari pertemuan, jadi jangan menangis…"
Chanyeol memandang sahabat-sahabatnya, lalu Baekhyun. Tepat di mata Baekhyun. Menembusnya dalam dan entah mengapa membuat Baekhyun merasa sesak.
"Karena walau kita berpisah, itu tak masalah. Yakinlah, bila hati kita tetap terhubung… kita akan bertemu lagi,"
Chanyeol tersenyum teduh padanya, untuknya.
"… cepat atau lambat. Pasti."
Malam itu badai. Baekhyun sama sekali tak bisa memejamkan mata. Ponsel tergenggam erat, 24 kali sudah ia menghubungi Chanyeol tanpa jawaban.
Anak itu memandang ke luar jendela, dimana salju turun lebih banyak dan angin menderu mengetuk jendela. Pukul satu dini hari, Baekhyun kembali menghubungi Chanyeol.
Setelah upacara kelulusan selesai, Chanyeol hilang. Dugaan Baekhyun, pacarnya itu pastilah diseret kedua orangtuanya untuk pulang—tak membiarkannya bertemu Baekhyun barang sedetik.
Tidak diangkat. Baekhyun membungkus tubuhnya dengan selimut, menangis diam-diam.
Di luar sana salju mulai menumpuk setinggi mata kaki. Angin semakin gencar mengetuk jendela. Samar, ia mendengar suara Chanyeol memanggil namanya. Ah… sebegitu rindukah ia hingga Baekhyun berhalusinasi?
"…hyun…"
Ketukan di jendela semakin keras.
"…Baek…"
Baekhyun melempar selimutnya.
"Chanyeol…"
Chanyeol berdiri disana, dengan payung dan pakaian tiga lapis—kemeja, jaket, mantel cokelat. Wajahnya pucat. Baekhyun segera membuka jendela, angin dingin mendobrak masuk sampai ke tulangnya. Baekhyun membantu Chanyeol menaiki jendela kemudian langsung menutupnya rapat. Menghalau salju masuk semakin banyak, sementara payung merah yang dibawa Chanyeol tergeletak di luar sana.
"Baek…"
"Kenapa kau kesini? Chanyeol bodohbodohbodoh!"
Bekhyun melepas mantel Chanyeol dan melilitkan selimut pada tubuh beku pemuda itu sebagai gantinya. Suhu penghangat ruangan ia naikkan lima derajat.
"Berbaringlah, Yeol."
Baekhyun berlari tergesa menuju dapur, semenit kemudian kembali bersama segelas air hangat. "Minumlah."
"Terima kasih, Baek." Chanyeol tersenyum.
Baekhyun menghela napas, mengelus pipi pacarnya. "Kenapa kesini, Yeol?"
Chanyeol cemberut, "Jadi aku tidak boleh mengunjungi pacarku sendiri?"
Baekhyun menjitak kepala Chanyeol gemas, "Bukan begitu, tapi—di luar dingin, Yeol, dingiiin! Astaga apa kau tidak tahu yang namanya badai salju dan—"
"Aku tahu," Chanyeol terkekeh, "tapi aku ingin bertemu denganmu."
Baekhyun luluh.
Chanyeol menariknya mendekat, membiarkan tubuh mereka berdesakan dalam selimut. Pemuda yang lebih tinggi merengkuh Baekhyun hingga anak itu ikut menggigil akibat dinginnya suhu tubuh Chanyeol.
"Yeol… dingin sekali. Kenapa kau jadi bodoh."
"Tak apa aku bodoh, asal itu karena kau."
Baekhyun meninju dada Chanyeol, wajahnya merah padam.
Baekhyun mendongak, mempertemukan hitam dan cokelat diantara pekatnya malam, "Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?"
"Ponselku disita, Baek."
"Huh?"
Chanyeol mengecup keningnya, "Orangtuaku. Mereka berulah lagi. Aku tak mengerti kenapa mereka tak bisa membiarkanku hidup damai."
Tangan Chanyeol yang memeluk punggungnya terasa dingin. Maka Baekhyun menarik kedua telapak tangan Chanyeol kemudian memasukkan jemarinya pada jemari Chanyeol yang lebih besar. Genggamannya mengerat.
"Apa karena itu Chanyeol kesini?"
Chanyeol memejamkan mata, "Baek…"
"Um?"
"Kau akan baik-baik saja, kan?"
Alis Baekhyun bertaut dalam kebingungan, "Belakangan ini Chanyeol jadi aneh. Ceritalah padaku, Yeol… aku pacarmu, 'kan?"
Chanyeol memandangnya. Lama sekali. Baekhyun merasa sinar teduh dalam mata Chanyeol seakan-akan ikut membeku bersama salju.
"Chanyeol-ie?"
"Kalau aku pergi…" Chanyeol berbisik, "kau akan baik-baik saja, kan?"
Beku.
Mendadak ia mengerti. Semua sikap aneh Chanyeol, janji yang ia berikan pada Chanyeol, kedatangan Chanyeol… semua karena—
Mata sipit Baekhyun perlahan melebar, "Apa mak—"
Chanyeol berguling, menyangga tubuhnya diatas tubuh Baekhyun lalu menciumnya, dalam dan sesak. Perasaan kehilangan hinggap di hati Baekhyun saat ia melingkarkan lengan kecilnya pada leher Chanyeol. Ia membiarkan Chanyeol meggunakan lidah, tak ingin melepas pemuda jangkung itu.
Telunjuk Chanyeol bergerak di perut Baekhyun, membentuk hangul 'sarang'. Baekhyun menekan ciuman Chanyeol semakin dalam dan dalam.
Keduanya terengah saat ciuman itu terlepas. Chanyeol mendekat, membisik pada telinga kanan Baekhyun, "Maaf, Baek…" ia menahan sesak di dadanya, "aku akan pergi."
"Keman—aahn." Chanyeol mengulum telinga Baekhyun, salah satu bagian sensitif anak itu. Tak membiarkan Baekhyun bertanya.
Lidah Chanyeol memutar, menekan-nekan lubang telinga Baekhyun hingga anak itu mendesah tertahan. Disana begitu sensitif, Chanyeol berucap dengan suara rendah. "Jadilah miikku, Baek… seutuhnya."
"Chan…"
Chanyeol mengecup seluruh wajah Baekhyun, ketagihan akan lembut kulit Baekhyun yang seperti bayi. Sasarannya berpindah pada leher Baekhyun yang menguarkan aroma stroberi. Baekhyun memalingkan wajah, menutup mulutnya yang mengeluarkan desah dengan sebelah tangan, memudahkan Chanyeol memberi jejak pada leher mulusnya.
Entah sejak kapan ruangan itu menjadi panas. Selimut yang menaungi mereka terlempar ke sudut ruangan bersama dengan jaket Chanyeol. Kancing kemeja Chanyeol bahkan sudah terbuka seluruhnya, sementara satu tangannya merambat di balik sweater biru Baekhyun.
Baekhyun mengerang tertahan begitu telunjuk Chanyeol menyusuri dada, memutar-mutar di sekitar nipple-nya. Punggung Baekhyun melengkung spontan tatkala Chanyeol memainkan benda itu. Desahannya tertahan dalam ciuman panas Chanyeol.
"Yeol… aah"
Satu tangan Chanyeol bergerilya di lubang anal Baekhyun, sesekali meremas lembut pantat anak itu. Kemudian dalam sekali tarikan, celana Baekhyun lepas seluruhnya.
"Oh, Chanyeol."
Baekhyun terengah, berkeringat dengan wajah merah dan liur di sudut bibir. Chanyeol menatapnya dengan mata berkabut.
"Chan—eenghh."
Chanyeol memberi remasan pada penis Baekhyun, membuat anak itu menggelinjang.
"Uhh—nnn."
Sekarang Chanyeol mengocoknya, memberi sensasi geli dan nikmat yang membuat Baekhyun mendesah tak karuan. Bibir Chanyeol mendekat, menjilat ujung tombak Baekhyun. Baekhyun merasakan sesuatu mendidih dalam perutnya, seakan ingin mengeluarkan sesuatu seperti—
Chanyeol mengulum milik Baekhyun.
"Aahhhnn—ah!"
—Orgasme.
Baekhyun mengatur napas, menikmati masa pertamanya. Namun tak lama, karena satu jari Chanyeol kini berusaha memasuki lubang Baekhyun hingga anak itu menjerit sakit.
"Tahan, Baek."
Baekhyun merasakan jari yang memasukinya sedikit dingin. Ia melirik dan menemukan botol lotion tergeletak di lantai. Jari kedua masuk dengan mudah, Baekhyun mendesah panjang. Chanyeol melebarkan lubang Baekhyun dengan melakukan gerakan menggunting.
Mata Baekhyun terpejam, membiarkan Chanyeol mengambil alih. Chanyeol membuka kedua lutut Baekhyun, kemudian mempersiapkan penisnya yang sudah menengang terlalu lama. Perlahan, ia memasukkan miliknya pada lubang anal Baekhyun.
"Akhh—Chanyeol sakiit…ah—stop!"
Tangan Baekhyun bergerak mendekat, berusaha menghentikan Chanyeol namun tangan pemuda itu lebih cepat. Chanyeol menangkap kedua tangan Baekhyun, menguncinya diatas kepala anak itu.
"Sakit…" air mata menggenangi sudut mata Baekhyun, Chanyeol mencium bibirnya lembut.
"Hanya sebentar, Baek."
Chanyeol menaikkan sweater Baekhyun, memperlihatkan dadanya yang telanjang. Baekhyun kembali mendesah tatkala Chanyeol mengulum nipple-nya, terkadang menghisap sementara tangan kirinya yang bebas menarik dan menekan nipple yang lain. Baekhyun tahu itu hanya pengalihan, karena sesuatu di bawah sana sedang berusaha menembus lubang Baekhyun perlahan-lahan.
"Oh, Chan… yeol—AAAAHHNN!"
Dalam sekali hentakan, penis Chanyeol tertanam sepenuhnya di dalam Baekhyun.
"Hiks…"
Mata Chanyeol melebar, reflek ia mengusap pipi Baekhyun dan mengecup bibirnya. "Maaf. Maaf. Maafkan aku."
Baekhyun menggeleng, menekan leher Chanyeol hingga mereka kembali berciuman.
"Aku… hanya belum terbiasa. Bergerak—aah—lah, Chanyeol."
Chanyeol mulai memaju-mundurkan pinggulnya, mencari titik kenikmatan Baekhyun. Dalam satu momen, Baekhyun meremas kuat pundak Chanyeol sambil mendesah dengan ekspresi setengah sakit dan setengah nikmat.
Chanyeol menelan ludah.
Ia mendekat, menjilat telinga Baekhyun yang merah. "Aku mencintaimu."
Chanyeol menghentak,
"AAAHHHNNN…" menusuk tepat pada titik kenikmatan Baekhyun hingga anak itu mendesah panjang.
Chanyeol menggigit bibir, menahan desah saat lubang Baekhyun berkedut, meremas-remas miliknya. Begitu sempit, dan nikmat.
Chanyeol membenamkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun, "Ahh…" akhirnya menyemburkan benihnya dalam lubang surga itu.
Belum puas, Chanyeol menarik pinggang Baekhyun, membuat posisi anak itu menjadi duduk di pangkuannya.
"Yeol… kau mau ap—AH!
Hingga otomatis, penis Chanyeol tertanam lebih dalam dan menyentuh titik Baekhyun berkali-kali.
"Ah, ah. AAHN!"
"Baek…ahh."
Sperma Chanyeol menyembur kembali. Kali ini habis tak bersisa.
"Kau… luar biasa, Baek."
Keduanya terengah, saling menatap kemudian terkekeh.
"Yeol…"
"Hm?"
Baekhyun mengelus pipi Chanyeol, menelusuri garis rahang tegas milik pemuda itu. Lalu ia tersenyum, lebar dan indah.
"Aku mencintaimu. Sangat."
Pedih.
"Aku tahu, Baek." Chanyeol balas tersenyum, getir. "Tapi aku harus pergi."
Baekhyun menatapnya. Nanar. Dadanya sesak dan sakit, napasnya tercekat dan ia terbata, "Be-berapa lama…?" tanyanya, lirih.
Chanyeol mengalihkan pandang kemana saja, asal jangan sepasang manik cokelat jernih itu. Hal yang bisa membuatnya goyah, "Aku… tidak tahu."
Sesuatu menghantam hati Baekhyun teramat keras.
"Hiks…" Baekhyun memeluk Chanyeol erat, menangis di bahu pemuda itu. Menggumamkan dua kata berkali-kali.
"Jangan pergi… jangan pergi, Yeol…"
Chanyeol meyingkirkan poni Baekhyun yang basah, mengecup kening Baekhyun lama. Ia membenamkan hidungnya pada leher Baekhyun, menghirup aroma khas anak itu.
"Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku."
Baekhyun menggeleng-geleng, memeuk leher Chanyeol lebih erat, "Hiks… aku tidak akan—hiks—baik-baik saja."
"Kau akan, Baek. Aku percaya padamu."
Baekhyun memukul punggung Chanyeol, menggeleng lebih keras, "Kenapa kau yakin sekali?"
Chanyeol mengelus kepala Baekhyun sayang. Ia tersenyum.
"Karena kau sudah berjanji… kau berjanji untuk tidak menyerah."
Baekhyun menangis. Menangis dan menangis hingga ia lelah dan tertidur dalam pelukan Chanyeol.
Beku.
.
It's cold here, it's so cold
.
Hatinya membeku.
.
It's only cold for me, it's so cold
I try to block the hole in my heart but the wind keeps coming in
.
Esoknya ia terbangun.
Hanya ada Baekhyun di sana.
Sendirian.
.
Ada sebuah cincin sederhana bersama sebuah surat diatas meja.
Finite.
Kim's Note :
pidato chanyeol tentang birth dan death itu saya nyontek di internet /dibuang/
bahasa inggris yang di-italic diatas itu penggalan lirik lagu Epik High – It's Cold (yang seenaknya saya jadiin judul chap /plak/)
.
dan buat chap ini…
AHEM.
saya. nggak. bisa. bikin. lemon.
sama. sekali. enggak.
maap banget kalau jadinya gaje giniiiiiii ;;;;;;;;;;; saya nggak ngerti kenapa beberapa author hebat banget nulis lemon sementara saya ngetik baekhyun mendesah aja udah tremor -_- /dasar payah -,-/
buat yang dari saban hari nanya rate naik, ini diaa XD tapi maap jadinya gini ;;;;;;;;;; sekarang saya juga jarang baca lemon jadi nggak dapet referensi bagus—aaahhh chap ini apaaaann coba saya nggak tau lagi _
maap juga alurnya kecepetan… saya udah buntu banget nggak tau mau nambahin apa lagi ._.v
chapter depan adalah chapter terakhir~ yaaayy… nggak nyangka ini epep bisa tamat juga XD
-:-
Terima kasih reviewnya di Chap 8 :
SweetyChanbaek92 , Amie Leen , parkbyund , KT CB , snowy07 , luvesick hoon , neli amelia , narsih . hamdan , vitCB9, CHANBAEKHALAL , oranyeol , lolamoet , dugunchao , Song Jiseok , Babies BYUN , summerbaek , byunfckingbaekhyun, Maple fujoshi2309 , aquariusbaby06 , KyusungChanbaek , Chan Banana , xiubaekhan , micCheckOnetwo , Jung Hyejin , Shouda Shikaku, SaraswatiNinuk , Park Chaehyun , Sniaanggrn , baeqtpie , Baby Crong , hunniehan , Guest , missfirelight, BLUEFIRE0805 , meliarisky7, ElflaCherry , baguettes , A Y P , noonatokki , septhaca , CanyulCintaBekyunYadongtralala , Panda93L , mashuang, Ichi Bee , MizzaWbsn , audreylovina , Re . Tao , rizqibilla , Love virus , BerryBanana , Wenky MelI , Via , chepta chaeozil , sunshiners21 , nur991fah , Viyeol , Phoenix Hua , alysaexostans , thaelst, dolenny1328 , ChanBaekLuv , indri kusumaningsih , Delight61
-:-
Selamat Tahun Baru 2015~! ^0^/
See you next last chap!
