My Precious Woman
.
.
.
A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
Jongin kembali ke kebiasaannya beberapa waktu belakangan ini. Mengintai Kyungsoo. Ia tahu Sehun bertingkah konyol dengan mengawasi sahabatnya itu, berjaga-jaga agar Jongin tidak menyakitinya lagi. Jongin sedikit geli sebenarnya. Ia ingin memiliki Kyungsoo, bukan menyakitinya seperti yang dipikirkan Sehun. Jongin tahu, ia mungkin memang keterlaluan pada Kyungsoo waktu itu, dan ia mengakuinya.
Sejak Sehun memukulnya dengan amarah luar biasa malam itu, adiknya itu tidak pernah lagi berbicara padanya. Jika si bungsu Kim itu sedang duduk menikmati makan malamnya, maka ia akan segera berdiri dan pergi meninggalkan meja makan jika Jongin datang.
Jongin hanya menggelengkan kepalanya mengingat-ingat tingkah adiknya. Tentu saja tanpa Sehun tahu, ia kembali mengintai Kyungsoo. Hanya mengawasinya, tanpa melakukan apapun.
Malam itu Jongin sedang berada di mobilnya, menunggu band Kyungsoo selesai dengan pesta mereka. Tetapi ia tidak menduga jika Kyungsoo keluar dari pintu samping café, seorang diri. Tampak cantik seperti biasanya, rambutnya yang panjang kecoklatan itu tergerai tertiup angin malam yang berhembus. Untuk sesaat Jongin terpana, dan ia ingin sekali melompat keluar dan menarik gadis itu masuk ke mobilnya, lalu mendekapnya erat dan mencium bibirnya yang menggoda itu mungkin?
Tetapi Jongin masih mempertahankan akal sehatnya. Ia menemui Kyungsoo secara baik-baik saja Kyungsoo akan bersikap defensif dan galak kepadanya, apalagi jika ia nekat menyergap gadis itu? Bisa-bisa Kyungsoo menjerit histeris.
Jongin tertawa melihat Kyungsoo menggendong anak kucing mungil di dadanya. Sebelumnya Jongin pikir ia akan terkena serangan jantung, karena tingkah ceroboh Kyungsoo yang nyaris saja mencelakakan dirinya sendiri.
"Dasar bodoh, kenapa kucing diajak berbicara?"
Jongin menggumam sendiri sambil terus memperhatikan Kyungsoo. Melihat Kyungsoo tersenyum sembari menimang anak kucing itu, Jongin tidak tahan lagi. Ia mengulurkan tangannya membuka pintu mobilnya dan tepat saat ia berbalik, sebuah sedan hitam mengkilap menderu kencang melewatinya. Kemudian suara hantaman keras terdengar, seakan mobil itu baru saja menabrak tubuh orang.
Jongin melebarkan matanya, karena setelah mobil hitam tadi berlalu dan menghilang, yang tertinggal adalah tubuh Kyungsoo yang tergeletak diatas aspal hitam. Kucing yang tadi digendongnya entah sudah kemana.
Tetapi bukan itu yang menjadi perhatian Jongin sekarang. Ia bergegas melangkah, nyaris berlari menghampiri Kyungsoo.
"DO KYUNGSOO!"
Jongin panik, jujur saja. Kyungsoo tergeletak menelungkup di jalanan,di sisi kanan wajahnya darah segar mengalir deras. Jongin dengan cepat berlutut di aspal, membungkuk menatap Kyungsoo.
"Tidak, tidak… Kyungsoo, Do Kyungsoo!"
Jongin menyentuh pipi Kyungsoo yang berlumuran darah, ia tidak peduli tangannya ikut ternodai cairan merah itu. Dilihatnya perlahan kelopak mata Kyungsoo terbuka, pandangannya tidak fokus. Mata yang biasanya jernih itu seperti menatapnya, tetapi tidak lama kembali menutup rapat. Tidak, Do Kyungsoo tidak boleh mati! Tidak boleh!
"DO KYUNGSOO!"
.
.
.
Jongin berdiri kaku, menyandar di dinding luar ruang rawat. Kedua tangannya bersedekap di dada, jas abu-abu yang tadi dipakainya lenyap entah kemana. Yang tersisa hanya kemeja kerjanya yang ternoda darah di bagian depannya. Ya, ia yang mendekap dan menggendong tubuh Kyungsoo hingga sampai ke rumah sakit ini.
Teman satu band Kyungsoo ikut menemaninya, tetapi Jongin tidak tidak bisa fokus, sekarang pikirannya hanya terpusat ke satu titik. Do Kyungsoo harus selamat.
Jongin mengutuk dokter-dokter yang menurutnya sangat lamban. Ini sudah satu jam, mengapa tidak ada yang keluar? Setidaknya memberitahunya keadaan Kyungsoo saat ini. Ia sangat tidak sudi menunggu orang, tetapi kali ini merupakan pengecualian karena Kyungsoo yang menjadi objeknya.
"Apa lagi yang kau lakukan, hyung?"
Jongin menoleh, mendapati wajah Sehun yang memandangnya keras. Adiknya datang bersama tunangan aslinya itu. Jongin sedikit menatap Luhan, yang balik menatapnya takut-takut sambil setengah bersembunyi di belakang Sehun. Tampaknya gadis itu baru saja menangis, terlihat wajahnya yang sembab dan memerah.
"Aku tidak melakukan apapun."
Jongin kembali menatap adiknya. Sehun menatapnya remeh, lalu melirik noda darah di kemeja Jongin.
"Oh ya? Lalu kenapa Kyungsoo bisa sampai ada didalam sana?"
Sehun menunjuk ruang rawat dengan dagunya.
"Sebuah mobil menabraknya."
"Mobil anak buahmu?"
"Untuk apa aku mencelakainya, Hun? Tidak ada untungnya bagiku."
"Tentu saja ada. Kau pikirkan saja sendiri apa keuntungannya bagimu. Kau berlagak pahlawan dengan menolongnya, hyung? Bukankah kau tidak punya hati?"
"Kalau aku ingin membunuhnya, sudah kulakukan saat kalian berdua tak ada disini kemarin!"
"Lalu kenapa kau tidak melakukannya, hah? Tidak membunuhnya tetapi menyakitinya luar dalam seperti itu, apa bedanya?!"
Jongin menatap Sehun tajam, sekaligus menatap Luhan juga.
"Ini salah kalian yang terlalu pengecut. Kalian mengorbankan sahabat kalian—"
"Aku tahu aku salah, hyung! Jika saja kau membebaskanku mencari pasangan, maka semuanya tidak akan begini! Kau yang selalu melarangku berhubungan dengan gadis, dengan ancaman-ancaman sialmu itu!"
"Aku hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik! Jangan sampai kau terjebak sepertiku!"
"Tidak semua gadis seperti Soojung, hyung!"
Jongin memalingkan wajahnya. Ia merasa seperti orang bodoh saat adiknya kembali menyebut nama gadis sial itu. Gadis yang pertama kali merebut hatinya, cinta pertamanya, yang ternyata hanya mencintai uangnya. Sejak saat itu, semua gadis di mata Jongin sama. Materialistis.
"Kenapa kau diam, hyung? Aku benar 'kan?"
"Hunna, sudahlah... Ini di rumah sakit…"
Luhan memegangi lengan Sehun, berusaha menenangkan kekasihnya yang sedang emosi itu. Ia tidak mau dua kakak beradik itu berkelahi di depan orang banyak, apalagi di tempat umum seperti ini.
Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka. Seorang dokter keluar, dan berjalan mendekati kerumunan kecil di luar ruang rawat.
"Keluarga Do Kyungsoo-ssi? Saya harus memberitahu beberapa hal penting."
Sehun baru saja akan menyahut "Saya kakaknya" tetapi ia kalah cepat dengan Jongin.
"Saya suaminya, Uisanim. Hal penting apa yang ingin Anda bicarakan?"
Jongin menyahut dengan sigap namun tenang.
Dokter itu mengangguk dan memberi isyarat pada Jongin agar mengikutinya.
"Mari ke ruangan saya, Tuan."
Keduanya berlalu dari hadapan Sehun dan Luhan, juga sekumpulan teman band Kyungsoo.
"Hun…? Aku… tidak salah dengar?"
Sehun menggeleng seraya menatap punggung Jongin yang menjauh.
"Entahlah… Mungkin dia sudah gila."
"Sehun-ssi, siapa sebenarnya Kim Jongin itu? Apa dia benar-benar suami Kyungsoo?"
Sehun menoleh menatap Ken dan hanya melempar senyum tipisnya.
.
.
.
"Ngh…"
Silau. Itu yang dirasakan Kyungsoo saat berusaha membuka matanya. Ia ingin menghalangi sinar itu, agar ia bisa melihat lebih jelas. Tetapi tidak bisa, tangannya sangat berat untuk digerakkan.
Kyungsoo memejamkan matanya sesaat, lalu mengerjap kembali.
"Aku akan merapatkan tirainya."
Kyungsoo mengernyit mendengar suara bass itu. Apa dia sedang bermimpi? Kyungsoo tidak tahu. Ia merasakan sinar menyilaukan tadi hilang.
"Kyungsoo? Kau sudah sadar, sayang?"
Huh? Sayang? Lagi-lagi suara bass itu. Kyungsoo tidak tahu apa yang terjadi berikutnya, semuanya hanya seperti kelebatan-kelebatan samar yang tidak jelas dimatanya, lalu ia merasa mengantuk. Masa bodoh dengan semuanya, ia hanya ingin tidur sekarang.
.
.
.
Kali ini Kyungsoo kembali berjuang lagi agar pandangannya benar-benar fokus. Entahlah, tiba-tiba saja ia terbangun lagi. Padahal rasanya baru sebentar ia tertidur. Matanya mengerjap pelan.
Saat ini sinar menyilaukan tadi tidak ada, sebagai gantinya suasana disekitarnya menjadi temaram. Tetapi Kyungsoo suka, ia mendesah nyaman saat matanya tak lagi terganggu oleh sinar menyebalkan itu.
"Kyungsoo?"
Kyungsoo menoleh linglung. Matanya mendapati sebuah bidang datar yang terbungkus kain, dengan kancing-kancing yang terkait. Kyungsoo menghitung kancing-kancing itu. Satu, dua, tiga… Oh, tidak, hanya sampai dua ternyata. Terus keatas Kyungsoo melihat leher jenjang dengan kulit tan yang seksi, ditambah adam apple yang tampak jelas menonjol itu. Dan ketika akhirnya matanya sampai di wajah pemilik suara bass tadi, Kyungsoo mengerjap.
Sosok didepannya tersenyum melihatnya, memandangnya dengan pandangan… berterima kasih dan…memuja? Astaga, memimpikannya saja tidak pernah terlintas di benak Kyungsoo.
"Akhirnya kau benar-benar bangun, Do Kyungsoo."
Kyungsoo tidak mengerti apa yang dibicarakan sosok itu. Ia hendak mengusap matanya, tetapi tangannya tertahan. Sosok itu menggenggam tangannya erat, dan saat menyadari Kyungsoo sedang memperhatikan genggamannya, ia membawa tangan yang lebih kecil itu ke wajahnya. Mengusapkannya di pipinya sambil sesekali menciumnya.
"Apa yang kau rasakan saat ini?"
Suara bass itu bertanya lembut, hingga Kyungsoo menduga ia salah dengar.
Kyungsoo menggeleng.
"J-Jongin…?"
Kyungsoo tidak tahu bagaimana suaranya terdengar, karena tenggorokannya berat sekali untuk berbicara.
Sosok itu tersenyum lagi menatapnya. Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sebenarnya apa yang terjadi? Dimana ia sekarang? Kenapa pria ini bisa berada disampingnya? Apa ia kembali mengurung Kyungsoo di kamar mewahnya seperti waktu itu?
"Kau kenapa, hm?"
Sebuah usapan halus di pipinya membuat Kyungsoo tersentak kaget. Ia melebarkan matanya ngeri memandang sosok tadi—Jongin.
"D-dimana aku?"
Wajah Jongin tampak mengeras mendengar pertanyaannya. Dan perubahan itu membuat Kyungsoo semakin ngeri.
"Kau di rumah sakit."
Jongin sedikit mengernyit saat menjawabnya, seolah ia sangat tidak suka mengatakan kata-katanya barusan. Matanya memandang cermat wajah Kyungsoo.
"Rumah sakit? K-kenapa?"
Jongin sedikit menggeram, dan Kyungsoo tidak mengerti kenapa tiba-tiba pria itu menjadi emosi. Jujur saja, Kyungsoo masih merasa lemah saat ini. Ia tidak cukup kuat untuk melawan Jongin yang sedang marah.
"Kau tidak ingat apa yang terjadi padamu?"
Kyungsoo menatap Jongin. Jongin yang ditatap dengan polos seperti itu hampir saja lepas kendali.
"Kau kecelakaan, Do Kyungsoo. Kau ditabrak mobil. Kau tidak ingat?" Jongin menekankan kata 'ditabrak' tadi.
Kyungsoo tampak menerawang sejenak. Ditabrak? Ia ingat terakhir kali ia mengeluh pusing dan mual di pesta usai pentasnya, lalu ia izin keluar mencari udara segar. Lalu setelah itu? Dia melihat kucing kecil yang kedinginan di seberang jalan, kemudian ia menghampiri kucing itu. Dan? Kucingnya melompat dari gendonganya dan…
Ah ya, Kyungsoo merasa tubuhnya seperti menghantam beton dan ia melayang. Kemudian semuanya gelap.
"Kau sudah ingat sekarang?"
Suara rendah Jongin membuyarkan melirik lagi keadaan tubuhnya. Selimut tebal menutupinya mencapai dada, satu tangannya yang tidak digenggam Jongin terkulai disisi tubuhnya, ada banyak selang-selang aneh yang menancap di lengannya itu.
Kyungsoo juga merasakan ada sesuatu yang melekat di bawah hidungnya, terasa mengganjal memang tetapi itu membuatnya lebih mudah bernafas.
Kyungsoo mengernyit, benar-benar tidak paham sepenuhnya akan kondisinya. Lama ia hanya diam, begitupun Jongin. Hanya bunyi dari monitor detak jantung saja yang mengisi keheningan disana.
"K-kenapa kau…disini?"
Kyungsoo bertanya sambil menatap Jongin, dan ia bisa melihat pandangan keras Jongin mencair saat mendengar suaranya.
"Menunggumu bangun, tentu saja."
"Kenapa?"
Jongin mendesah, tampak marah dan frustasi. Hingga Kyungsoo nyaris bergidik melihatnya.
"Kau bertanya kenapa? Do Kyungsoo, kau itu koma sejak lima hari yang lalu! Kau pikir aku tenang-tenang saja melihatmu tidur tak bergerak selama itu?!"
Kyungsoo mengerjap. "Koma? Aku?"
Jongin menatapnya seakan mau menerkamnya, kemudian mengangguk kaku menjawab pertanyaan bodoh Kyungsoo.
"Kenapa kau repot-repot menungguku bangun? Ada Sehun dan Luhan yang—"
"Karena aku peduli padamu."
Jongin menatap lurus wajah pucat Kyungsoo. Lagi-lagi Jongin mengernyit tidak suka melihat perban yang melingkari kepala gadis itu.
"Aku tidak memintanya." Ucap Kyungsoo lemah.
"Aku tidak peduli kau memintanya atau tidak."
Kyungsoo menarik tangannya yang masih digenggam Jongin, tetapi pria itu menahannya. Pandangan matanya kembali melembut menatap Kyungsoo.
"Aku bersyukur sekali kau sadar dan kembali bertingkah seperti biasanya, daripada lima hari yang lalu dimana kau tampak seperti mayat."
Kyungsoo menatap Jongin dengan pandangan menilai. Diperhatikannya wajah tampan itu lekat. Di bawah mata Jongin ada kantung mata berwarna hitam samar. Memangnya apa yang dilakukan Jongin? Aneh sekali.
Tangan Jongin yang lain maju dan menyingkirkan beberapa helai rambut Kyungsoo yang menempel di pipinya. Jemarinya meluncur pelan di sisi wajah Kyungsoo, mengelusnya lembut.
"Kata Uisanim, kau harus beristiraha total selama beberapa minggu. Tulang lututmu retak, karena itu kau tidak boleh melakukan kegiatan apapun."
Mata Kyungsoo melebar. Ia menggeleng tak percaya.
"Ta-tapi, bagaimana dengan pertunjukanku? Bandku…?"
"Mereka bisa mencari vokalis pengganti sementara kau beristirahat."
Kyungsoo tampak shock, dan tak lama kedua matanya mulai berkaca-kaca. Vokalis pengganti?
"Astaga, kau menangis?!"
Kyungsoo mengabaikan kalimat Jongin yang terdengar seperti sedang mengejeknya. Masa bodoh, mungkin pria itu sedang menertawai ketidakberdayaannya sekarang. Mudah sekali mengatakan mencari vokalis pengganti. Apa Jongin tidak tahu betapa sulitnya ia mendapatkan posisi itu? Kyungsoo memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya. Membiarkan setitik airmatanya lolos dan jatuh membasahi bantal rumah sakit.
"Kyungsoo-ya…"
Jongin menggamit lembut dagunya, membuatnya mau tak mau menoleh kembali menatap wajah tampan yang menyebalkan itu.
"Apa? Kau mau mengejekku? Kau merasa senang akhirnya, hah? Tertawa saja sepuasmu."
Kyungsoo menjaga agar suara seraknya tidak pecah atau ia akan terisak secara memalukan di depan Kim Jongin.
"Kau semakin sensitif saja, hm? Aku tidak berniat begitu."
Jongin mengusap sudut mata Kyungsoo yang basah dengan buku jari telunjuknya. Kemudian ia merunduk mendekati wajah Kyungsoo dan mencium kelopak mata Kyungsoo lembut.
"Akan kupanggilkan Uisanim. Jangan menangis lagi seperti itu, arra?"
Jongin mengecup sekilas hidung Kyungsoo dan melepas genggaman tangannya, lalu bangun dari kursinya dan melangkah keluar. Meninggalkan Kyungsoo yang masih terdiam, tak mengerti dengan sikap Jongin.
.
.
.
"Bagaimana keadaanmu?"
Sehun bertanya pelan. Matanya menatap intens wajah Kyungsoo, menyiratkan kekhawatiran.
"Biasa saja. Sedikit pegal sebenarnya, aku harus berbaring terus di ranjang tanpa melakukan apa-apa."
Luhan yang sedang mengupas buah tertawa kecil.
"Itu demi kebaikanmu, Soo. Supaya kau cepat sembuh dan kembali seperti biasa."
Kyungsoo merengut, jemarinya memainkan selimutnya. Ia membuka mulutnya saat Luhan menyodorkan sejuring jeruk manis kepadanya.
"Kau tidak tahu bagaimana perasaan kami saat kau dinyatakan koma enam hari yang lalu."
Luhan menggelengkan kepalanya pelan mengingat hal itu. Tentu saja, bagaimana jika Kyungsoo tidak bisa melewati masa kritisnya? Luhan tidak ingin kehilangan gadis yang sudah seperti adiknya ini.
"Luhannie menangis selama berjam-jam lamanya. Hingga matanya terlihat mengerikan." Timpal Sehun.
Kyungsoo meraih tangan Luhan dan meremasnya pelan.
"Kau sangat khawatir ya? Aku baik-baik saja, aku janji."
"Dasar bodoh, memangnya kau bisa mengatakan itu enam hari yang lalu? Kau hanya diam tak bergerak, dan tubuhmu dipenuhi alat-alat mengerikan itu di ruang ICU. Kau pikir bagaimana perasaanku melihat itu semua?"
Kyungsoo tergelak pelan.
"Iya, aku tahu. Maaf sudah membuatmu cemas."
"Bandmu sedang tampil di Incheon. Mereka sudah menjengukmu berkali-kali tetapi kau belum sadar."
Pandangan Kyungsoo mendadak muram mendengar kabar tentang bandnya.
"K-kapan mereka pergi?"
"Dua hari yang lalu. Dan mereka memakai—"
"Orang lain untuk menggantikanku, aku tahu."
Kyungsoo menunduk dan memotong perkataan Sehun. Pria itu menepuk kepala Kyungsoo pelan.
"Jangan seperti itu. Nanti kalau kau sudah sembuh kau bisa tampil kembali. Oh ya, kepalamu sudah tidak sakit? Kemarin Uisa berkata kau terkena gegar otak ringan, kupikir kau akan amnesia dan sebagainya."
Kyungsoo kembali merengut dan menatap Sehun kesal.
"Jadi kau ingin aku amnesia dan melupakan kalian, begitu? Ish, dasar kau tak berperasaan!"
Sehun dan Luhan tertawa bersama melihat Kyungsoo merajuk seperti itu. Sehun melirik jam tangannya dan menghela nafas mengetahui jam besuk sudah habis.
"Baiklah, Sooie chagi… Kami harus kembali ke kantor sekarang."
"Kalian masih bekerja? Ini 'kan sudah sore."
"Kau seperti tidak tahu Jongin hyung saja. Dia akan memotong gajiku kalau aku mangkir dari pekerjaan."
Kyungsoo terhenyak. Mendengar nama Jongin disebut, ia menjadi sedikit berdebar. Apalagi mengingat apa yang dilakukan pria itu padanya kemarin, saat ia baru sadar. Seperti bukan sosok Jongin yang biasanya.
"Soo, kami pergi dulu ne? Besok kami akan datang lagi. Jaga dirimu baik-baik."
Sehun mencium sekilas pipi kiri Kyungsoo dan menepuk kepalanya.
"Hunna, kau keluar saja lebih dulu. Aku… ada yang ingin kukatakan pada Kyungsoo."
Sehun menatap Luhan dengan mata yang disipitkan. Luhan tertawa dan mengelus lengan kekasihnya. Akhirnya Sehun mengangguk dan melangkah dari ruang rawat Kyungsoo.
"Soo, ceritakan padaku. Apa yang dilakukan Jongin Sajangnim saat kau sadar kemarin?"
Kyungsoo menggeleng. "Tidak, dia tidak melakukan apapun."
"Syukurlah. Aku khawatir sekali, saat kau kecelakaan dia yang membawamu ke rumah sakit. Dan… dia terlihat mengerikan sekali saat itu."
Kyungsoo mengerutkan keningnya bingung.
"Mengerikan bagaimana?"
"Yah, dia terlihat gusar. Sungguh jauh dari sikap tenangnya yang biasa. Bahkan selama kau koma dia tidak pulang sama sekali. Dia terus menunggumu, bahkan menolak untuk tidur. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa dia tampak begitu peduli padamu?"
Kyungsoo mengangkat bahunya tidak tahu, ia juga tidak mengerti. Luhan menghela nafas, lalu tersenyum menatap Kyungsoo.
"Baiklah, aku pergi ne? Sampai nanti."
Luhan mencium sebelah pipi Kyungsoo dan melambai, kemudian keluar dari sana. Meninggalkan Kyungsoo yang semakin bingung. Kenapa sikap Jongin seperti itu?
.
.
.
Jongin melangkah pelan, nyaris tak bersuara. Ia menutup pintu hati-hati di belakangnya, tidak ingin membuat penghuni kamar itu terganggu dengan kedatangannya.
Bibirnya mengulas senyum miring, ketika mendapati sosok diatas ranjang rumah sakit itu sedang terlelap. Kali ini bukan terbaring koma seperti kemarin, tetapi hanya tertidur karena efek obat yang diberikan dokter tadi.
"Kyungsoo-ya…"
Jongin mendudukkan dirinya di sisi gadis itu, menggenggam tangan yang jauh lebih kecil dari tangannya sendiri dan menciuminya pelan. Puas dengan kegiatannya, Jongin beralih menatap wajah Kyungsoo yang tampak sangat polos.
Awalnya Jongin hanya mengelus pipi putih itu, tetapi jemarinya tidak bisa mengabaikan semua keindahan yang terpatri di wajah itu. Jongin seolah tidak bosan memandanginya, dan akhirnya ia merunduk. Membuat wajahnya sejajar dengan wajah Kyungsoo, dan tak lama bibirnya mulai bergerak. Mencium setiap senti wajah Kyungsoo, tanpa ada yang terlewatkan.
Ketika Jongin sampai di sudut bibir Kyungsoo, gadis itu menggeliat pelan dan mulai membuka matanya. Kyungsoo mengerjap dan menemukan mata Jongin yang juga sedang menatapnya.
"Kyungsoo-ya…"
Suara bass itu berbisik pelan, dan Kyungsoo bisa merasakan deru nafas Jongin yang menyapu bibirnya. Tetapi itu hanya sebentar karena kemudian Jongin sudah menempelkan bibirnya disana. Menekan lembut bibirnya, dan mulai bergerak pelan menyesap bibir Kyungsoo.
Kyungsoo masih belum sadar sepenuhnya, ia hanya diam menerima ciuman Jongin. Beberapa menit setelahnya Jongin melepas ciumannya. Matanya menatap Kyungsoo, memendam hasratnya yang tiba-tiba membuncah hanya dengan mencium dan menatap wajah itu.
"Aku merindukanmu, cepatlah sembuh…"
Kyungsoo tanpa sadar menggerakkan tangannya, berusaha menyentuh wajah Jongin. Jemarinya mengusap lingkaran hitam samar dibawah mata tajam itu, mengelusnya pelan. Kyungsoo samar-samar ingat, malam sebelum ia kecelakaan itu ia juga sedang merindukan Jongin bukan? Walaupun ia tidak mengakuinya tetapi hatinya merasa kehilangan kehadiran pria itu.
Dan sekarang Jongin disini, baru saja mengatakan bahwa ia ternyata merindukan dirinya. Andai saja Jongin terus bersikap lembut dan manis seperti ini, bukannya bertindak kasar dan semaunya sendiri.
Jongin tersenyum merasakan usapan jemari Kyungsoo.
"Kenapa kau terbangun? Tidurlah lagi."
Kyungsoo hanya diam menatapnya.
"Jongin…"
"Apa?"
"Aku juga merindukanmu…"
.
.
.
Jongin tersenyum mengingat kejadian beberapa jam yang lalu itu. Kyungsoo sudah kembali tertidur, setelah tadi mengatakan kalimat yang membuat jantung Jongin berdebar. Semoga saja apa yang dikatakan Kyungsoo tadi bukan igauan semata, mengingat betapa defensifnya Kyungsoo terhadapnya jika gadis itu dalam keadaan sadar.
Tangan Jongin mengelus perut Kyungsoo dari luar selimutnya. Senyumnya semakin mengembang. Belum ada yang mengetahui hal ini, hanya dokter dan dirinya saja yang tahu.
"Hei, bocah… Tumbuhlah sehat didalam sana. Ibumu sudah berhasil melindungimu, jadilah anak yang kuat sepertinya, arra?"
Jongin kembali menatap wajah Kyungsoo dan merunduk mencium dahinya sayang.
"Tidak akan lagi kubiarkan siapapun menyakiti kalian berdua. Kang Yooju akan menerima balasannya, Kyungsoo-ya, karena gadis itu sudah berani mencelakaimu… dan juga calon anakku…"
.
.
.
ToBeContinue
