Who Are You Mr Oh?

Author : LarasAfrilia1771

Genre : Romance, Tragedy, Yaoi

Cast : Oh Sehun ( 28 tahun )

Lu Han ( 19 tahun )

Other Cast : Kim Jinhwan iKON ( 18 tahun )

Mark Tuan Yien Got7 ( 22 tahun )

And other cast

.

.

Summary

Luhan hanya remaja biasa yang menjalani hidup sebagaimana mestinya. Hingga entah karena apa ia terjebak di bangunan bersama Oh Sehun yang memiliki dua istri.

.

.

.

.

_Sebelumnya_

Kai berulang kali memikirkan Luhan. Disaat seperti ini Luhan pasti sedang bersenang – senang bersama hyungnya tanpa mengetahui keadaan buruk yang terjadi. Kai tak tahu apa yang akan terjadi selanjtnya. Entah kabar ini sampai ke telingan hyungnya atau tidak. Jika benar Luhan akan terpukul sekali, karena ia tahu Heechul adalah keluarga satu – satunya yang ia miliki.

.

.

.

.

_WAY_

Sesuai dengan keinginan Sehun, akhirnya mereka sampai ke Paris setelah menempuh beberapa jam perjalanan udaranya.

Luhan tak dapat menyembunyikan kekagumannya, saat kaki itu berpijak di tanah dari negara yang berbeda. Ini bukan di Korea lagi melainkan Paris. Negara yang eommanya idam – idamkan sejak dulu. Luhan menjadi sedih mengingatnya. Namun ia tersenyum kala lengan seseorang mencoba merangkulnya untuk segera menuju mobil jemputan yang sudah tiba.

Luhan menurut, melirik sekilas ke arah Sehun yang nampak berbinar senang entah kenapa. Mungkin karena namja tampan itu bisa pergi berlibur mungkin.

"Bagaiman dengan koper kita?" Tanya Luhan sedikit aneh, karena sejak turun dari pesawat mereka tidak langsung pergi menuju bagasi.

"Aku sudah menyuruh pengawalku" Luhan hanya bisa mengangguk mendengarnya. Ia lupa tentang kehidupan Sehun, namja tampan yang sudah resmi menjadi suaminya ini adalah seorang yang kaya raya, jadi pantas saja dengan entengnya dia menjawab seperti itu. Kehidupan Sehun dikelilingin oleh pengawal.

Hingga akhirnya mereka masuk kedalam mobil untuk pergi menuju hotel. Diperjalanan Luhan tak berhenti untuk mengagumi segala bentuk yang ia tatap melalui kaca jendela mobil. Terlalu berlebihan mungkin, namun ini kenyataan karena selama ini ia belum pernah pergi ke tempat jauh seperti Paris.

Luhan melirik sekilas ke arah Sehun yang sedang bersandar pada jok mobil. Sambil memejamkan kedua matanya, Sehun nampak sangat tenang. Membuat Luhan sedikit tersenyum, namun seketika senyumannya luntur begitu saja. Namja cantik itu berpikir jika bukan dirinya saja yang diperlakukan istimewa oleh Sehun. Luhan hampir lupa jika pada kenyataannya ia adalah orang baru dikehidupan Sehun. Mark juga Jinhwan pasti sudah lebih dulu diperlakukan seperti ini sebelum dirinya.

Ia tertawa meremehkan diri sendiri. Tak sepatutnya ia bahagia sekarang, karena kenyataannya ia bukanlah orang pertama yang diperlakukan istimewa oleh Sehun.

.

"Biar pengawalku yang mengangkat koper ini" Ucap Sehun saat mereka sudah tiba di gedung Hotel tempatnya menginap.

Luhan hanya patuh, mengelus perutnya sesaat sebelum Sehun yang membawa dirinya masuk ke dalam gedung.

Sehun tak henti – hentinya mengelus bahu itu lembut. Membuat Luhan heran dan menatap Sehun yang sedari tadi tersenyum selama perjalanan.

Luhan tak akan terlalu percaya dirinya jika Sehun terus saja seperti itu. Mungkin ada sesuatu kesenangan yang tak melibatkan dirinya. Sehun mungkin saja senang karena bisa berlibur di Paris, mungkin jika tak bersama dirinya pun ia akan melakukan itu.

.

Setelah membersihkan tubuh masing – masing. Kini sepasang pengantin baru itu tengah bergumul mesra di ranjang king size kamar hotel. Luhan terengah karena lehernya terus menerus dijamah oleh bibir milik Sehun. Mengecup, menghisap serta menjilat setiap permukaan yang digapai. Sedangkan Sehun nampak asik dengan kegiatannya.

"Ehhh!..Akhh~..Gelihhh"

Luhan mendorong – dorong dada Sehun dengan tenaganya. Namun tak berhasil karena dengan seenaknya suami tampan itu terus saja menggerayangi lehernya hingga bahunya yang terekspos karena ia hanya memakai kemeja putih kebesaran saja.

Sehun dengan nakalnya menggapai sesuatu yang masih terhalang oleh kemeja Luhan. Dua buah tojolan kecil yang nampak sudah mengang ditempatnya. Sehun menyeringai saat ia berhenti mencumbui leher istrinya dan berganti dengan membuka satu persatu kancing baju itu.

Luhan melebarkan matanya ganas, saat melihat Sehun yang nampak asik merangsangnya sedangkan dirinya berkali – kali mendesah erotis. Namja cantik itu memegang kedua pipi Sehun. Menatapnya lekat namun menyiratkan rasa tak suka.

"Kenapa?"

"Kau tak menyentuh bibirku"

Sehun menyeringai setan saat dengan polosnya Luhan mengucapkan itu. Sehun hanya menggoda Luhan, apa namja cantik itu sadar atau tidak dan ternyata Luhan sangat sadar jika sedari tadi ia tak menyentuh bibirnya.

Dengan keberaniannya Luhan mengalungkan tangan itu pada leher Sehun. Menekan tengkuk itu agar bibir Sehun menyentuh bibirnya. Sehun tak ambil pusing, malah ia sangat senang jika Luhan seperti ini jika mereka berada di ranjang.

CUP

Tak memberikan respon apa – apa saat bibir itu telah menempel sempurna, Luhan menahan gemas pada Sehun yang mempermainkannya. Hingga ia melepas kembali bibir masing – masing.

"Kenapa mendadak seperti ini?" Tanya Luhan menatap aneh namja diatasnya.

Sehun tersenyum tampan, menyibak helayan rambut yang menutupi sebagian dahi sang istri.

"Harusnya aku yang bertanya seperti bisa? Apa karena bayi didalam perutmu ini?" Dan ucapan Sehun sukses membuat Luhan merona hebat. Ya, ia pun bingung dengan semua ini. Entahlah ia mengikuti kata hatinya, lagipula Luhan tahu jika Sehun sebenarnya sangat menyukainya.

Dielusnya perut yang sedikit membuncit itu. Membentuk sebuah ukiran – ukiran abstrak yang membuat Luhan mengeryit bingung.

"Aku pikir ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita sebelum menjelajahi kota Paris besok"

.

.

Beberapa jam kemudian...

"Ouuhhh..Sehunnhh..Akhhh~~. ..Aku lelahh.."

Luhan terus melolong dimana Sehun yang terus menerus membobol lubangnya dengan sudah hampir lima jam melakukan ini. Mulai di ranjang, kamar mandi, hingga dapur hotel. Ruangan megah ini sudah mereka jadikan tempat sex untuk sekarang. Apalagi banyak sperma yang mengotori beberapa bagian ruangan ini. Uh, besok pagi Sehun harus menghubungi pihak kebersihan untuk membersihkan kekacauan ini.

"Sebentar..Ekh..Lagihh..Sayanngg..Akhhhh"

Sehun belum juga organisme, padahal sudah berpuluh – puluh tusukan ia layangkan pada lubang panas itu. Ia terlalu kuat jika melakukan kegiatan ranjang seperti ini, apalagi bersama Luhan.

"Sehunnhh..Aku sudah tak kuat..AKHHH" Teriakan Luhan membuat bibir Sehun tak kuat untuk segera mencium bibir yang sudah membengkak itu. Luhan sedah berkali – kali organisme dan cairan itu sudah membasahi bagian perutnya juga Sehun.

Dengan napas yang memburu serta desahan erotis Luhan, Sehun sudah tak sanggup menahan semuanya. Ini terlalu menggoda dan sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Bercak – bercak merah sudah menghiasi bagian leher hingga dada mereka. Sudah tak mulus lagi karena sudah ber jam – jam lamanya mereka saling memuaskan hasrat masing – masing.

Hingga beberapa tusukan terakhir yang akan mengakhiri olahraga malam mereka, dimana Sehun kembali menumpahkan benih di dalam Luhan.

Rasa panas yang menjalar karena cairan itu membuat Luhan mendesah panjang. Mereka berdua ambruk setelah Sehun melepaskan junior dari lubang Luhan.

Akhh~

Merasakan kekosongan dari area selatannya, namja cantik itu sudah tak ambil pusing. Ini sungguh melelahkan, ia menjamin bila pagi ia terbangun sudah dipastikan jika seluruh bagian tubuhnya akan remuk.

Sehun mengatur napasnya, menengadah menatap langit – langit ruangan yang nampak terang. Sedari tadi mereka melakukan sex yang cukup menguras tenaga. Lampu sengaja tak dimatikan agar masing – masing dapat melihat dengan jelas tubuh telanjang keduanya.

"Aku pikir bayi di dalam perutku cukup terguncang hebat" Ujar Luhan sambil mengatur napasnya yang putus – putus.

Sehun yang terlentang kini mengubah posisinya menjadi menyamping. Menatap Luhan lekat sebari tersenyum tampan kearahnya.

"Aku pikir juga begitu, Maafkan daddy ya honey"

Luhan menatap Sehun lekat – lekat. Tak percaya atas apa yang diucapkan Sehun barusan. Sepertinya namja dingin itu mengucapkan kata panggilan "Daddy" untuk anaknya nanti.

Perutnya terasa digelitik tak kala Sehun yang tengah menciumi perut buncit tersebut. Luhan terkikik geli karena selain menciumnya, Sehun mengelus perut itu dan membuat Luhan kegelian.

"Kau tau baby, mommymu sangat cantik jadi daddy selalu ingin memakannya. Maafkan daddy karena membuat mommymu akan susah berjalan besok"

"Aishh, tuan Oh kau bicara apa. Jangan ajari anakku yang macam – macam"

"Dia juga anakku baby, kau lupa"

Luhan tak ambil pusing, disaat Sehun masih setia mengelus perutnya, ia lebih memilih untuk terpejam sekarang. Besok Sehun berjanji akan mengajaknya berjalan – jalan di kota Paris, namun entahlah Luhan tak yakin ia bisa berjalan besok jika sebelumnya mereka telah menghabiskan malam yang panas bersama.

"Kupikir besok aku tak bisa berjalan dengan baik" Lirih Luhan seraya memajamnkan matanya.

Sehun tersenyum tanpa sepengetahuan Luhan. Melepaskan tangannya pada perut tersebut untuk menggapai dahi Luhan.

"Tanggung jawabmu ada pada diriku Lu. Jadi jangan khawatir"

Luhan hanya berdeham sebagai jawaban. Entahlah ia tak ingin terlalu memikirkan sesuatu yang mungkin dapat dengan cepat mengubah perasaannya. Semenjak Sehun bilang jika eommanya telah tega menjadikannya sebagai jaminan, Luhan sudah tak terlalu ambil pusing mengenai keadaan eommanya. Ia bukan ingin menjadi anak durhaka, hanya saja ada perasaan kesal dan tak percaya saat mendengar penuturan Sehun. Ya, ia pikir eommanya pun sama, sama – sama tak memikirkannya.

.

.

.

_WAY_

Di bangunan megah milik Tuan Oh ini, kedua namja yang sama – sama menjabat sebagai istri syah seorang Sehun kini sedang beristirahat di kamarnya masing – masing.

Memang belum waktunya untuk tidur. Hanya saja mereka ingin menunggu seseorang di kamarnya masing – masing. Lagipula Sehun juga Luhan tak ada disini dan mereka bisa bebas melakukan apapun selama mereka tak ada.

Jinhwan melangkah menuju arah balkon kamarnya tersebut. Menatap bintang – bintang yang bertebaran di langit malam ini. Jika seperti ini ia jadi merindukan Sehun. Dimana suami tampannya itu selalu memeluknya kala angin malam menerpa kulitnya dan berakhir mereka yang bergelut di ranjang hingga pagi menjelang.

"Uhh..Kenapa aku memikirkan Sehun lagi" Monolognya, sambil menggeleng. Mungkin saja dengan melakukan itu pikirannya tentang Sehun sedikit hilang.

Namja mungil itu sedikit mengeratkan sweater putih yang ia pakai. Sedari tadi ia menunggu seseorang yang katanya akan datang. Jinhwan sangat menunggu kehadiran sosok kesayangannya itu, bukan Sehun melainkan Hanbin. Ya, Hanbin akan datang sekarang. Menemuinya juga melepaskan rasa rindu yang telah ia timbun beberapa minggu ini. Uhh, Jinhwan sangat merindukan namja kesayangannya itu.

Mata sipitnya terus menatap ke seluruh halaman dari balkon kamar ini. Mungkin sebentar lagi Hanbin akan datang.

Tap..

Tap..

Suara langkah kaki terdengar oleh indra pendengarannya. Jinhwan sedikit terkejut karena suara langkah kaki itu membuat bulu kuduknya meremang seketika. Dan pada akhirnya ia menoleh, lalu tersenyum saat sosok yang ia tunggu – tunggu sudah berada di hadapannya.

"Kau semakin cantik saja Jinan"

Dengan perasaan bahagia Hanbin segera memeluk tubuh lebih kecil tersebut. Mengelus helayan rambut namjanya yang nampak sangat lembut saat ia sentuh. Sudah hampir beberapa minggu mereka tak bertemu dan kerinduan Hanbin mulai terbayar sedikit demi sedikit.

"Bagaiman kabarmu?" Tanya Jinhwan masih memeluk tubuh yang lebih besar itu.

"Aku selalu baik, jangan khawatirkan aku"

Mereka memutuskan untuk melepas pelukan itu. Saling menatap satu sama lain dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibir masing – masing. Jinhwan sangat menantikan ini, ia terlanjur merindukan seorang Kim Hanbin.

Hingga seseorang mengikis jarak mereka. Ciuman malam ini yang sangat dinanti oleh Jinhwan, dimana Hanbin dengan lembut melumat bibirnya, mengecup beberapa kali hingga ia menggelinjang merasakan hawa panas yang semakin menjadi saat ciuman itu semakin menggila.

Masih saling berciuman, tangan Hanbin mulai nakal mengelus pinggang namjanya dengan lembut. Menggoda Jinhwan yang nampak sudah teransang olehnya.

Dan setelah ini mungkin mereka akan menghabiskan malam yang panjang hingga pagi menjelang. Kesempatan bagi keduanya untuk terus bersama, selama Sehun tak ada disini. Hanbin dan Jinhwan telah merencanakan ini dari jauh – jauh hari, dan sekarang mungkin hari yang sangat membuatnya mereka bahagia. Dimana kebahagiaan yang sebenarnya tengah ia genggam bersama.

.

.

Disudut lain dimana Mark dan jackson yang nampak sedang berbincang tentang sesuatu yang serius. Mark nampaknya yang sangat andil dalam merencanakan sesuatu ini, sedangkan Jackson yang nampaknya hanya menerima semua saran dari Mark tersebut.

"Kuharap kau berhenti jadi tangan kenannya Sehun" Ujar Mark menatap Jackson yang terduduk disebelahnya.

"-Jika tidak mungkin saja aku akan terus terkurung disini selamanya" Sambung Mark berjalan menuju arah meja rias untuk sekedar berkaca diri.

"-Aku jelas tidak mau. Diperistri dengan artian lain. Ini menyakitkan aku hanya menjadi budak sex nya saja selama hidup. Meski ya perlakuannya memang sangalah baik terhadap siapapun" Jackson yang mendnegarnya jelas belum untuk berbicara lagi karena penurutan Mark belum cukup sampai disini.

"-Apa kau tahu alasan yang sebenarnya kenapa Sehun memperistri tiga namja?. Aku bosan terus hidup seperti ini, tanpa kepastian yang jelas akan keluargaku. Dengan cerita – cerita yang dikatakan, apakah aku harus percaya itu"

"Kau mungkin harus percaya itu. Sehun tak akan asal untuk mengucapkan sesuatu" Mark menatap Jackson dari arah cermin. Melihat namja yang sebenarnya ia cintai itu nampak tersenyum sekilas.

"-Aku tahu kenapa Sehun melakukan itu. Semuanya demi kebaikan hidupmu, Jinhwan serta Luhan. Keluarga kalian sedang dalam masalah dan keluarga Sehun tak ikut menggiring kalian dalam masalha tersebut. Maksud keluarga Oh sangat baik, dan kau harusnya bersyukur"

"Apa maksudmu?" Tanya Mark penasaran. Berjalan mendekat ke arah dimana jackson berada.

"Keluargamu sedang dalam ambang kemiskinan. Ada yang dipenjara karena tak mampu membayar dan ada yang hidup bagai gelandangan. Istilahnya sekarang kau dipungut oleh Sehun yang masih berbaik hati" Tutur Jackson dan mark tahu Jackson mengetahui semuanya.

"Tapi kenapa harus anaknya, keluargaku mungkin sudah jadi gelandangan tapi kenapa aku hidup mewah disini. Apa maksud semuanya?"

"Kau generasi penerusnya dan keluarga Oh masih berbaik hati, jadi jangan sia – siakan waktumu"

Mark menatap Jackson tak percaya. Jadi selama ini jackson sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya. Tapi kenapa Jackson selalu mengulur waktu agar dirinya tidak segera pergid ari bangunan ini.

"Aku pikir kau sudah tidak mencintaiku lagi"

"Aku sangat mencintaimu, tapi tidak untuk kabur begitu saja tanpa tujuan. Kau harus menolong keluargamu. Mereka dipenjara beberapa tahun karena kasus itu. Jadi aku akan membawamu pergi jika kau mau melakukan itu"Mark masih menimang apa yang akan Jackson katakan. Ini terlalu berbelit dan ia kurang mengerti.

"Dengan cara apa aku harus menolongnya?"

"Tebus mereka dengan uangmu dan kalian akan hidup bebas"

.

.

.

_WAY_

Semenjak Kai menetap di Amerika. Namja tan itu hidup dengan bebas. Pergaulan yang sangat tak senonoh dengan umurnya juga sering bergonta – ganti pasangan. Sejatinya Kai bukanlah orang seperti itu, namun karena seseorang ia menjadi seperti ini. Hidup bebas seakan tak memilki beban apapun. Kai tak tahu pelarian ini ada benarnya atau tidak, karena ia pikir terus – terusan memikirkan masalah membuatnya gila.

.

Malam itu di pusat kota, Kai mengendarai mobilnya santai. Mobil mewah yang sengaja hyungnya berikan hanya untuknya. Kai baru sadar jika hyungnya memang sangat baik dalam finansial namun tidak dalam mental.

Mobil berwarna biru metalik itu berhenti di sebuah apathement mewah yang terdapat di pusat kota. Ia masih berpikir jernih untuk tak sekedar hura – hura menghabiskan uang tanpa mempunyai pegangan ilmu. Jelas ia masih melakukan hal yang disebuah sekolah. Belajar di sekolah umum dalam kehidupan yang berbeda.

.

Pintu apathement dibukanya secara asal. Pertama mungkin karena ia masih dalam pengaruh alkohol, kedua karena ia memang sangat mengantuk sekali. Kai mendesah berat, terduduk di sofa dengan kepala yang menengadah.

Hawa dingin yang menusuk pori – pori membuatnya bergidik. Kai selalu lupa menutup pintu balkon. Entah itu saat di Korea ataupun sekarang.

Beberapa minggu ini setelah kejadian itu. Perlahan Kai mulai menghapus kenangan secara bertahap. Bukan, bukan karena dia tak peduli. Ia nyaris sangat peduli, namun ia berusaha untuk menghilangkan semua kenangan itu. Apalagi seseorang bernama Luhan.

Baru seminggu ia berada disini dan mungkin jalan hidupnya memang harus seperti ini. Dilampiaskan dnegan kehidupan mewah yang bebas dengan masalalu yang sangan bertolak belakang.

Ia berjalan menuju balkon dengan lemah, hingga lengannya ia tumpu pada sisian balkon itu. Suasana malam yang sangat indah dan tak sengaja mengantarkannya pada suatu kenangan yang memilukan.

Tanpa sengaja ia membendung air matanya sendiri. Terpaan angin malam mebuatnya merasa kesepian. Jelas karena disini ia hidup sendiri dan tak ada seseorang yang mau menemaninya. Ingin rasanya ia menghubungi seseorang itu. Ya, Dio suster yang merawat mendiam Nyonya Heechul dulu. Namja bermata bulat yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya.

Ia merasa egois dan tidak tanggung jawab dengan keadaan. Namun situasi mendesaknya untuk melakukan ini, siapa lagi jika bukan hyungnya. Uhh sungguh ia ingin sekali menangis meraung – raung. Ia bisa melakukannya sekarang, tidak ada siapa – siapa disekitarnya. Hanya dirinya, sendiri di negeri orang ditengah malam dingin kota ini.

Kai tersenyum mengejek. Hidupnya sekarang sudah berubah, dikendali oleh seseorang yaitu Sehun. Ya Kai masih berpikir jernih atas masalah hidup ini. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan, Nyonya Heechul yang meninggal saat ia diasingkan oleh hyungnya sendiri.

Ponsel disaku bergetar. Ia mengecek itu dan mendapati nama Oh Sehun terpampang disana. Tanpa tunggu lama meski ia sedikit malas untuk mengangkat, ia putuskan itu mengangkatnya.

"Hallo" Ujar Kai.

"Bagaiman kabarmu? Uang sudah ditransfer dan kau bisa menggunakannya" Ucap orang disebelah sana.

"Aku tidak baik dan tak akan baik di negara orang"

Suara tawa renyah terdengar dari seberang, membuat Kai menggeram kesal atas itu.

"Aku sudah kirim banyak uang padamu. Belajarlah dengan baik disana, terserah ingin melakukan apapun asalkan itu tak merugikanku"

"Mungkin kau tak perlu berbasa – basi dengan ini. Uang sudah ditrasfer dan aku akan matikan sambungan ini"

"Ya terserah"

Dengan cepat ia memutus panggilan sesuai dengan ucapannya. Kai mendecih, air di pelupuk matanya semakin banyak dan jika ia berkedip sedikit mungkin saja cairna itu akan jatuh.

Jadi inikah takdir hidup yang harus ia jalani. Sungguh baik namun sayang Kai hanyalah menjadi seorang pecundang jika terus seperti ini. Lari dari masalah hingga semuanya. Kai tak mengerti dan ia tak akan pernah mengerti dengan cara pikir hyungnya. Terlalu rumit hingga ia merasa dipermainkan.

Dan dimalam yang dingin ini. Kai hanya bisa merenung, menatap banyaknya gedung pencakar langit yang hampir menembus atmosfer bumi.

Kai menangis dalam diam meratapi semua yang tengah menimpanya. Meminta maaf pada seseorang karena tak berhasil untuk menjaganya. Ia merasa bersalah pada Nyonya Heechul dimana saat yeoja itu meninggal ia tak hadir untuk pertemuan terakhirnya.

.

.

.

TBC

Tolong ini kenap aff jadi gaje bin ajaib gini. Sudahlah saya juga pusing mikirin ini smeua sampe jerawatan hehe. Dilanjut ia nih udah kok, yang nagih maaf bangaet ya saya hiatusnya seabad dan hasilnya gak memuaskan. Maaf sebesar – besarnya karena yang nungguin kelanjutan ff ini ampe lumutan, itu juga kalo ada yang nunggu. Kalo enggak juga saya terima abis gimana ff nya gaje heheh.

Maafin kalo ada Typo bahasa yang kurang srek. Karena mungkin itu semua adalah kesengajaan saya. Maaf ya sekalian ...