Chapter 9
Cato mengguncang tubuhku, aku bersiap dengan pisau di tangan, mencari siapa yang menyerang kami sepagi ini. Tapi Cato menunjuk satu titik di angkasa, kepulan asap yang tebal, tapi tidak sebanyak yang dihasilkan kebakaran hutan. Ukurannya kecil, sebesar api unggun. Tidak salah lagi, pasti ada orang yang menyalakannya.
Tanpa perlu dikomando, aku, Marvel dan Cato menuju sumber asap. Kami meninggalkan Zach untuk menjaga persediaan. Kami berlari menembus hutan, menghalau dahan-dahan lebat yang menghalangi kami. Hera benar, rasa lapar memberi sensasi tersendiri saat berburu.
Kami melihat tumpukan kayu yang disusun membentuk kerucut. Di atasnya ada tumpukan daun-daun basah dan menghasilkan asap yang tebal.
"Ini jebakan!" aku berteriak pada Cato yang sama frustasinya denganku.
Kami terperanjat oleh suara ledakan yang cukup besar. Ini bukan suara meriam, tapi lebih terdengar seperti ledakan bom. Aku berpikir tentang ranjau darat yang mengelilingi persediaan kami.
"Sial!" teriak Cato. "Kau cari siapa yang membuat ini, aku dan Clove akan ke Cornucopia."
Marvel segera berlari masuk hutan, sementara aku dan Cato berbalik menuju Cornucopia. Sesampainya di sana kami menemukan semua persediaan kami hancur terbakar, dan Zach berlari entah dari mana membawa tombaknya, sama bingungnya dengan kami.
"Siapa yang melakukan ini?!" Cato berteriak padanya, wajah anak itu memucat dan pupil matanya mengecil.
"Aku… aku tidak tau. Aku mengejar gadis Distrik 5… dia mencuri persediaan kita."
"Dan kau meninggalkan tempat ini?!" aku membentaknya, anak itu ketakutan setengah mati, memandang Cato dan aku bergantian.
"Dasar bodoh!" dengan gerakan cepat Cato memutar lehernya dan aku mendengar tulang lehernya patah. Anak itu diam, tidak bergerak di atas tanah sampai pesawat ringan menngambil jasadnya. Terdengar dentuman meriam, lalu tidak lama kemudian terdengar dua dentuman lain dalam jarak yang berdekatan. Dua peserta lagi tewas.
"Siapa lagi kali ini?" tanyaku.
"Mungkin Peeta, dia pasti kehabisan darah dan mati. Yang satunya mungkin Katniss, ia tidak akan bertahan cukup lama dari bisa Tracker Jacker tanpa obat."
Jika memang begitu, maka sasaran kami selanjutnya adalah pasangan dari Distrik 11, lalu gadis berambut merah dari Distrik 5 dan terakhir Marvel. Kengerian menjalari tubuhku, bagaimana aku akan membunuh Cato setelahnya?
"Kita harus beristirahat, Clove. Lawan kita semakin berat sekarang."
Aku berbaring di rerumputan, memandang langit malam dengan jutaan bintang. Tapi tidak ada satu bintang yang bersinar lebih terang. Rasanya sudah lama sekali sejak aku melihatnya di Capitol. Pikiranku penuh dengan nafsu membunuh. Lalu pandanganku tertutup oleh foto Marvel yang terpampang di angkasa.
Aku memandang Cato yang berbaring di sampingku, saat kulihat foto yang muncul setelah anak Distrik 3 yang dibunuh Cato, bukan Katniss atau Peeta, tapi Rue.
"Dia masih hidup, Cato." bisikku.
Suara Claudius Templesmith memecah keheningan kami. Ia menyampaikan peraturan yang membuatku antara bingung dan senang.
"Selamat kepada enam peserta yang masih bertahan. Ada sedikit perubahan peraturan. Tahun ini akan ada dua pemenang jika keduanya berasal dari distrik yang sama dan menjadi orang yang terakhir hidup. Sekian." Caludius berhenti sejenak, "Semoga nasib baik selalu berpihak padamu."
Kami berpelukan, entah kenapa aku sangat bahagia bisa mempertahankan Cato. Membawanya pulang bersamaku.
Okay, sampai sini dulu update marathonnya hari ini. Udah mulai sweet ceritanya, yang sabar bacanya ya mbloooo. Hahahaha...
