Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 9
Hinata mengerjapkan matanya. Ia mulai mengatur napasnya yang sempat terasa sesak. Ruangan ini kosong. Tak ada siapapun. Tetapi ia sadar... ia sedang berada di rumah sakit.
Hei... Naruto. Bagaimana dengan Naruto?
Seseorang membuka pintu kamarnya. Melihat tubuh Sai, senyuman lelaki itu, membuat Hinata tersenyum juga.
"Kau sudah sadar juga, Hinata?" tanya Sai.
Hinata menganggukan kepala, tersenyum.
"Aku sangat khawatir, tahu." keluh Sai. "Kukira kau akan tewas atau semacamnya."
"Cih. Tapi nyatanya aku tidak seperti itu, kan?" Hinata tertawa.
"Aku senang kau tertawa. Omong-omong, kau tahu, Naruto menyelamatkanmu dari kecelakaan naas itu." Sai berkata. "Bagaimana menurutmu?"
"Aku hanya ingin bilang, kalau aku tahu itu." ucap Hinata sambil tersenyum kalem. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana keadaan Naruto. Walau didunia supranatural ia melihat Naruto terpincang... ia harap lelaki itu baik-baik saja.
"Sebenarnya, berkatnya kau baik-baik saja saat ini." kata Sai.
"Oh ya?"
Sai tersenyum tipis. "Dokter bilang, kakinya patah. Dan sebelahnya retak."
Hinata mengerjapkan matanya lagi. "Aku... mau menemuinya, Sai."
"Entah dia sudah sadar atau tidak, tapi baiklah." Sai tersenyum. "Kamarnya berada disebelah."
Hinata mengangguk. "Temani aku, ya..."
"Manja."
"Pelit."
Keduanya sama-sama tergelak.
"Baiklah, ayo. Kau dapat berjalan, kan?" tanya Sai.
"Tentu saja."
-X-
Krieek...
Naruto memandang dua sosok yang memasuki kamar rawatnya. Dia tersenyum lirih melihat Hinata.
"Daijobu desuka?" tanya Hinata.
Naruto menghela napas. "Sepertinya aku tidak baik-baik saja, ya?"
"Hm?"
Dengan kepalanya Naruto menunjuk kakinya yang dibalut oleh perban dan gips.
"Itu karenamu, tahu." Sai berkata, menepuk-nepuk bahu Hinata.
"Aah. Sumimasen, Naruto..." ucap Hinata, menundukkan kepalanya sedikit. Kemudian dia mengarahkan pandangannya pada Sai lagi, "Tapi dia masih dapat sembuh, kan?"
"Ya. Dengan beberapa terapi." kata Sai.
"Syukurlah..." sahut Hinata lega. "Aku tidak terlalu merasa bersalah."
"Enak saja!" Naruto menarik tangan Hinata, sehingga Hinata terhuyung kedepan, persis didepan Naruto. "Kau harus membalas semua ini, tahu."
"Ap-apa?!"
Diam-diam, Sai menghilang dari balik pintu dengan senyuman kecil diwajahnya.
Naruto menggeser sedikit duduknya walau terasa sulit. Menarik Hinata agar gadis itu duduk disampingnya.
"Dengan keadaan seperti ini, pasti aku tidak dapat melakukan apapun. Karenanya, kau harus banyak membantuku." ucap Naruto. "Sampai akhirnya aku benar-benar sembuh."
"Kau..."
Naruto kemudian menarik Hinata dalam pelukkannya. Dadanya terasa hangat. "Termasuk melakukan ini untuk menenangkan jiwaku, Hinata."
Hinata merasa ada debar aneh dihatinya, sesuatu yang tak pernah ia rasakan bersama Sai. Tetapi bukankah ia menyukai Sai?
-X-
"Hanabi." Sai tersenyum, berjalan mendekati gadis itu yang sedang tampak bingung.
"Hai, Sai. Kau tahu dimana Hinata?" tanya Hanabi.
"Gadis itu sedang dikamar inapnya Naruto," jawab Sai. "Mereka berdua telah sadar."
"Oh."
"Ada apa?" tanya Sai, "Kau tampak bingung."
Hanabi menghela napasnya berat. "Bisakah aku percaya padamu, Sai?"
Sai mengangguk. "Tentu saja. Ada apa?"
Hanabi duduk disalah satu kursi tunggu, dan Sai memilih untuk duduk disampingnya. Ada sesuatu yang tak beres, pikirnya.
"Kau sejak kecil berteman dengan Hinata, kan? Kau tahu,... bagaimana Hinata ditemukan dan menjadi anak panti?" ujar Hanabi. "Sepertinya kau tahu."
"Bisa dikatakan aku yang menemukannya. Dia ditinggal pergi oleh keluarganya. Kira-kira seperti itu. Karenanya, aku yang memang anak panti mengajaknya ikut denganku." ucap Sai. Kemudian dia teringat akan kenangan itu. Gadis kecil yang ia temukan ditengah hawa musim dingin.
"Ia... onnesanku."
Sai tampak terkejut. Otaknya terus mencerna apa yang baru saja dia dengar. "Oneesan?" ulangnya. "Kakak perempuan?"
"Aku juga baru ketahui dari Ibuku... dia bilang... sesungguhnya aku memiliki seorang kakak perempuan. Dan dia adalah Hinata Hyuuga. Oleh sebab itu aku dan Hinata sangat mirip. Fisik, nama, kecerdasan..." Hanabi menarik napasnya lagi dan menghembuskannya keras. "Kecuali kemampuan supranatural itu, tentunya."
"Ah. Membaca pikiran itu, ya..." Sai menghembuskan napasnya.
"Karena kemampuannya itu, Ayahku tega meninggalkannya. Beliau tidak ingin memiliki seorang anak yang seperti itu." ucap Hanabi. Ia tampak tertegun. "Menurutmu bagaimana, Sai?"
"Entahlah, tapi... kukira kalau Hinata sampai ketahui hal ini, dia akan sangat marah." Kata Sai sambil menimbang-nimbang pikirannya. "Benar, kan?"
Hanabi mengangguk pasrah. "Karena itu aku bingung."
-X-
"Aku lapar sekali. Apa kau lapar?" Sasuke berdiri, merentangkan tangannya sejenak. Dia menatap Sakura.
"Tidak juga." sahut Sakura pendek.
"Rasanya aku ingin ngafe. Aku bosan di rumah sakit terus." Sasuke berkata, lalu tertawa.
"Entah bagaimana aku jadi tertarik akan ucapanmu. Aku ingin sebuah kopi krimer." keluh Sakura.
"Kopi krimer?" Sasuke menyerngit. "Kau tidak suka kopi hitam asli? Kopi espresso? Krimer yang kau campurkan kedalam kopi bisa merusak rasa asli kopi."
"Tetapi perpaduan rasa krim sungguh manis." ujar Sakura.
Sasuke tersenyum kecil. "Aku pernah baca disuatu media, kalau orang penyuka krimer adalah orang yang tak suka melihat hal yang buruk. Maunya yang bagus-bagus saja."
"Bukankah itu hal baik?" cetus Sakura.
"Hei, itu berarti tipe orang yang suka lari dari masalah, loh." ucap Sasuke.
Entah kenapa, Sakura merasa dadanya berdebar keras mendengar kalimat terakhir itu.
"Omong-omong, ayo kita pergi dari sini. Awan sudah mulai menghitam tuh, jangan sampai kita kehujanan diatap rumah sakit. Itu kan tidak lucu." kata Sasuke, lalu mulai melangkah pergi.
Sakura mengangguk, mengikuti langkah Sasuke. Lelaki itu benar, ia memang suka pergi dari masalah karena tidak ingin terlibat didalamnya. Tetapi ia tidak mungkin terus menerus menghilang dari kehidupan Hinata.
Dia ingin kembali...
-X-
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan... sejak dulu."
Hinata berhenti mengaduk teh yang sedang dibuatnya. Bibirnya membentuk lengkungan senyum tipis. "Apa itu?"
"Aku memiliki kemampuan supranatural... pendengaran jauh, menggerakkan benda..." tiba-tiba saja Naruto sudah melayangkan gelas berisi teh yang dibuat Hinata kearahnya, mengambilnya dan meneguknya. "Dan ada satu lagi."
Hinata tersentak, kemudian dia menghela napas. "Satu lagi. Baiklah, apa itu?"
"Itu kemampuan supranatural yang membuatku menyelamatkanmu," ucap Naruto. "Prediksi... masa depan."
"Kau bercanda?" tanya Hinata langsung.
"Apa aku terlihat seperti bercanda?" tanya Naruto balik. "Aku memang suka bercanda, tetapi tidak saat ini."
"Oh, serious." Hinata menghembuskan napasnya keras. "Aku meyakini kemampuan supranatural itu ada, tetapi tidak mengenai masa depan."
"Ouh..." Naruto berdecak. "Ada satu masalah lagi. Aku tidak dapat mengontrol prediksi itu sama sekali."
Hinata memandang Narutoo, enggan berkomentar, menunggu lelaki itu berbicara dengan sesuai yang ia mau.
"Sungguh, hal itu sangat mengesalkan. Tiba-tiba saja sesuatu hal muncul dipikiran, berputar seperti sebuah film, dan tahu-tahu dimasa yang akan datang entah kapan-terjadi." ucap Naruto. "Aku tidak bisa memaksa diriku untuk menghentikan kemunculannya yang tiba-tiba, juga sebaliknya-aku tidak bisa memaksa diriku untuk memprediksinya."
Hinata menarik napas dan menghembuskannya pelan. "Sulit dipercaya, tapi anehnya aku percaya padamu."
"Aku senang kau percaya padaku." sahut Naruto.
"Sekarang aku tahu kenapa sebelum kejadian kau bersikeras dan tampak panik. Terima kasih telah mengkhawatirkanku... seharusnya kau langsung bilang agar kakimu tidak patah." ucap Hinata.
Naruto tertawa. "Seperti yang kau bilang, sulit dipercaya."
Hinata tersenyum kecil.
"Aku takut kau tidak akan percaya padaku."
"Aku penganut supranatural juga. Hal aneh sekalipun yang kau ceritakan, mungkin akan kupercayai, tahu." ujar Hinata, tergelak.
"Kalau begitu, kau percaya padaku tidak, bila aku..."
"Hinata! Naruto!"
Seruan Hanabi yang memasuki ruangan langsung membuat ucapan Naruto tertahan ditenggorokkan. Naruto mengumpat dalam hati. Aku suka padamu, Hinata! Kenapa mereka datang disaat yang lagi tepat, sih!
Sai berdiri dibelakang Hanabi, memandang dengan senyum dikulum.
"Hinata, kau harus check up. Kembali ke kamar." Hanabi berkata. "Dokter ingin memeriksamu."
"Baiklah," Hinata menyahut. "Sampai nanti, Naruto."
"Err.. Okay."
Dan Naruto masih mengumpat dalam hatinya.
-X-
"Hm, sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan Hinata," ujar Sakura. Tanpa sadar dia mengucapkannya begitu saja, tanpa dapat dikendalikannya. Kopi hitamnya masih mengepul, disebelah cangkirnya terdapat bungkusan kecil krimer yang belum dituangkannya.
"Oh ya? Aku juga." Sasuke berdeham. "Aku juga baru mengenalinya, kok."
"Bukan begitu... ada masalah yang membuatku tak dekat dengannya. Tetapi sebenarnya aku rindu bersenang-senang dengannya." ujar Sakura.
"Daripada mengutamakan masalah yang membuat hubungan pertemanan kalian merenggang, lebih baik mengutamakan rasa rindu itu." saran Sasuke.
Sakura tersenyum kecil. "Sayang aku tidak pernah terpikir seperti itu."
"Sebenarnya aku sempat kesal sih, kau salah satu penyebab kecelakaan itu... tetapi yah sudahlah. Semua telah terjadi," gumam Sasuke. "Kesalahan masa lalu bukan berarti menunda untuk maju kedepan."
"Kau menyukai Hinata?" tanya Sakura tiba-tiba. Kemudian dia tersentak mendengar pertanyaannya sendiri.
"Tidak kok, tidak..." Sasuke langsung mengelak dan tertawa. "Hanya saja dia mirip dengan mantan pacarku. Kurasa kau kenal dengannya... ia Hanabi."
"Oh?"
"Kalian berada di sekolah yang sama, kan?" cetus Sasuke. lalu, ponselnya bergetar. Dengan sekulum senyum, Sasuke langsung mengangkat teleponnya dan berbincang sejenak. "Moshimoshi... oh begitu ya. Baiklah, aku akan kesana. Oh ya, katakan juga bahwa ada teman Hinata yang datang, oke?"
Mendengar itu, Sakura langsung kembali menatap Sasuke.
"Oke. Jaa.."
"Siapa?"
Sasuke menoleh mendengar pertanyaan itu. "Oh. itu hanya Sai. Dia bilang, Hinata sudah sadar, begitu juga dengan Naruto, cowok yang nyelametin Hinata itu."
"Ohh..."
"Kau harus menemui Hinata, Sakura." ucap Sasuke, kemudian berdiri. "Apakah kopimu belum habis juga?"
"Hm."
"Kalau begitu biar aku yang habiskan kopimu, ya? Nanti kapan-kapan akan kuganti." Sasuke segera mengambil cangkir Sakura. "Oh astaga, kau sama sekali tidak meminumnya. Sedikitpun krimer juga belum kau masukkan."
Sakura tergelak. "Habiskan sajalah."
-X-
Chapter 9 update juga! Fufufu... ada juga review masuk, biar fanfict ini kelihatan ada pengunjungnya, hehehe xD maklum, masih author baru, jadi agak norak kalau liat tambahnya review ^^
Ah, saat aku membuat cerita ini, aku lagi ngidam kopi (?), tetapi stok kopi dirumah lagi abis, jadi pelampiasannya disini deh, hahaha xD dan tahu-tahu saja ceritanya mengalir seperti ini, dan membentuk pairing Naruto-Hinata, Sai-Hanabi, Sasuke-Sakura. Nahloh, bingung deh mau masukin karakter apa ditampilan story :3 Okedeh, segini aja basa-basinya. Terima kasih telah membaca ya, dan sampai jumpa dichapter berikutnya ^^
