—Disclaimer—
SMT: Persona 3(FES) © 2008, Atlus
Summary: Malam di menara itu terasa begitu lama, masing-masing pecahan tersebut harus berjalan sendiri-sendiri. Sebab puzzle itu belumlah lengkap.
Persona 3: Forgotten Memories
—Chapter 8—
The Emperor's Brother
"Uuaggghh!!"
Bocah bertopi itu terpental setelah menerima serangan shadow itu. Digunakannya seluruh tenaganya untuk bangkit berdiri lagi, diambilnya lagi katananya yang terlempar oleh serangan shadow barusan. Shadow itu masih sama, memegang sebuah topeng yang berbentuk muka dengan senyum dingin. Perlahan-lahan, shadow itu mendekat ke bocah yang baru saja berdiri itu.
"Sial, agilao tidak mempan, dan serangan fisikpun dapat ditangkisnya, bagaimana cara mengalahkannya?!" celoteh Junpei kesal.
Walau tidak mengeluarkan suara, shadow itu tampak sedang tertawa melihat betapa menyedihkannya lawannya itu. Diangkatnya dua dari keempat tangannya yang digunakannya untuk berjalan. Lalu pelan-pelan muncul dari kegelapan, dua bilah pedang lain dari kedua tangannya itu, membuat Junpei semakin depresi.
"Hei, kau sudah punya pedang sebanyak itu… masa masih mau ditambah lagi?! Aku saja hanya pakai satu…" sahut Junpei protes walau tentu saja sia-sia protes terhadap shadow.
Masih tanpa suara, shadow itu mengangkat semua pedangnya, membuat pose seperti ksatria berkuda hendak menerjang mangsanya. Lalu, tanpa menurunkan pedangnya, shadow itu melompat setinggi mungkin hendak mengeluarkan finishing blownya terhadap bocah bertopi itu.
"Sial!! Inikah akhir dariku?!"
'CLASH!!'
-Akihiko dan Ken-
"Huff, huff, untung saja…"
"Yeah, tadi itu benar-benar… seru…"
"Ayolah Sanada-senpai, keadaan genting seperti barusan jangan dibilang 'seru'…"
"Hahaha… maaf…"
Kedua laki-laki itu terdiam, tidak tahu-menahu apa yang harus diperbuat. Ken menoleh ke arah belakang, memastikan gerombolan shadow itu betul-betul kehilangan mereka.
Dan kelihatannya sudah.
Anak berambut coklat itu akhirnya bisa duduk dengan tenang, menarik nafas lega, dan bisa beristirahat untuk sementara. Baginya yang bahkan belum menginjak usia SMP, pertarungan keras setelah sekian lama tentunya sangat melelahkan, dan lagi mereka hanya berdua.
Pria berambut perak itu tentunya menyadari bagaimana lemahnya kondisi anak itu. Tidak heran, menurutnya Junpei saja pasti kelelahan, apalagi anak sekecil itu.
"Santai saja, jangan tegang, jangan lengah, jangan ragu-ragu untuk menghabisi lawanmu…"
"Hah?" toleh anak berambut coklat itu mendengarnya.
Pria itu tertawa kecil, suatu hal yang sangat jarang ia katakan kepada orang lain. "Bukan apa-apa, itu hanya salah satu dasar dari bertarung yang kupelajari…" jawabnya. Mata pria itu kemudian melihat ke atas, entah apa yang dipikirkannya.
"Siapa yang mengajarkanmu? Seniormu bertinju?" kata Ken pelan.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya bangkit dari duduknya saja, kemudian berjalan tanpa arah. Ken yang melihatnya pun tidak lagi bertanya apa-apa, anak itu hanya duduk tertunduk saja. Tentu saja anak itu mengerti maksud dari perilaku pria itu, "bukan hal yang penting…" seperti itulah artinya kira-kira.
'CLINK, CLINK….'
Suara aneh itu terdengar singkat, suatu yang terdengar tidaklah asing bagi kedua laki-laki itu. Sebuah suara yang unik, tidaklah pelan, tapi jelas terdengar; tidaklah keras tapi tetap mencapai telinga keduanya. Sebuah suara yang berarti pertanda buruk.
"…………..Kau tidak berpikir yang kupikirkan 'kan? Sanada-senpai?" tanya Ken.
"……………………Aku harap telingaku kali ini menipuku, aku betul-betul tidak suka suara ini…" jawab Akihiko.
'CLINK, CLINK…..'
Suara itu kian mendekat, membuat bayangan hitam besar yang merupakan asal muasal dari suara itu tampak semakin jelas. Sebuah shadow raksasa yang melayang dengan membawa dua pistol di kedua tangannya, dililiti banyak rantai yang merupakan asal suara itu. Dan yang paling mengerikan, yaitu arcana yang hanya diemban oleh makhluk itu dan nyx.
Death
-Mitsuru dan Yukari-
Pertempuran kedua wanita ini berlanjut sengit… dan menakutkan untuk dipandang. Banyak lantai tartarus yang hancur di sana-sini dan yang paling menakutkan dari semua itu adalah, shadow bertipe 'musha' itu masih berdiri dengan tegaknya. Shadow yang satu ini sungguh harus diakui kecepatannya, 2/3 dari serangan mereka terbukti berakhir dengan satu kata saja, missed.
"Sial! Bagaimana cara mengalahkan makhluk ini?!" Teriak Yukari kesal.
"Tenang Takeba! Yang jelas kita tidak akan bisa mengalahkannya jika kita terbawa emosi!" Teriak Mitsuru sama kerasnya.
Berbeda dengan kedua wanita itu yang berteriak keras-keras, shadow berlapis armor berwarna merah-hitam itu cenderung diam. Gerakannya banyak, tapi tidak satupun yang sia-sia, serangannya tajam dan mematikan. Sudah sangatlah bagus kedua wanita itu bisa bertahan dalam waktu yang lama, sayangnya keduanya mulai kehabisan nafas.
"Takeba, berapa sp yang masih kau punya?!"
"Tidak banyak, jika dihitung hanya 3 kali garula dan 2 kali diarama atau media! Apa rencanamu, senpai?"
Wanita berambut merah itu memandang mata perempuan berambut coklat itu dalam-dalam. Matanya seperti mengatakan 'jangan kuatirkan aku..' Tetapi wanita itu masih terdiam dan tidak mengatakan apa-apa.
"senpai… jangan bilang kau…"
Mitsuru terdiam tidak menjawab, matanya beralih pandang ke arah shadow itu. Matanya menyipit, menyisakan sedikit keraguan di hatinya. Sebenarnya mudah saja mengatakan 'aku akan menahannya, saat itu gunakan semua sp-mu untuk menghabisinya!' tetapi wanita itupun tahu bahwa tindakan itu disertai dengan resiko yang besar, yaitu kematian.
'SHYUUUT'
Shadow itu dengan cepatnya berjalan tanpa mengangkat kakinya menuju ke arah wanita berambut merah itu. Membuatnya kaget sehingga terlambat untuk menahan serangannya, dan…
'SLASH!'
Sebuah sabetan pedangnya mengenai pundak kirinya cukup dalam, mengakibatkan erangan kesakitan wanita itu disertai darah yang terciprat ke lantai menara itu. Spontan saja, Yukari—tanpa pikir panjang mengarahkan evokernya ke kepalanya.
"Io!!"
Persona bernama Io yang berwarna pink dominan itu keluar, dan langsung saja mengeluarkan cahaya kecil yang menyelimuti pundak kiri Mitsuru yang terluka, menghasilkan tertutupnya luka itu. Sementara shadow itu kembali mundur untuk menjaga jarak.
Dan kejadian barusan itu menghapus segala keraguan dan rasa takut di hati Mitsuru.
"Takeba! Aku akan mulai sekarang akan menyerangnya habis-habisan! Jangan ragu untuk menembakkan panahmu ke arah shadow itu! Walau aku terkena sekalipun, jangan berhenti!"
"Eh? A, apa?! Tu, tunggu senpai!!"
Sayangnya tidak dihiraukannya teriakan wanita itu, Mitsuru langsung saja menerjang ke arah shadow itu tanpa rasa takut sedikitpun. Dan tentu saja pertempuran habis-habisan pun terjadi.
'CLASH! SLASH!' SLASH!'
Mitsuru mencoba menempel erat dengan shadow itu, wanita itu menyabetkan rapiernya tanpa henti, memberi celah nihil bagi shadow itu untuk membalas. "Takeba! Serang!"
'SHYUUT, CLAANK!'
Dengan ragu-ragu wanita berambut coklat itu mengangkat busurnya, menembakkan panahnya ke arah shadow itu, sayang sebuah serangan disertai keraguan tentunya tidak akan membuahkan hasil yang bagus. "Jangan ragu, Takeba!"
'SHYAAT, TRAANG! CRAANG! CLAANK! SLASH!'
Kini shadow itu balas menyerang Mitsuru, dipentalkannya rapier tipis wanita itu dengan sebelah tangan, sedang tangan satunya dengan cepat mengayunkan katana miliknya ke arah wanita berambut merah itu.
'BRUUK! '
Untung saja wanita itu berhasil menghindari serangan itu di detik-detik terakhir. Terlambat sedikit saja mungkin bisa berakibat fatal bagi wanita itu. Sementara Yukari dengan sigap tidak menyia-nyiakan celah yang terbuat dari jeda serangan barusan, diambilnya evokernya dan dengan cepat…
"Garula!"
'SHYUUUUT, BLAAAR!!'
Kumpulan angin itu timbul seiring Yukari menarik pelatuk evoker itu ke dahinya, menghasilkan serangan berskala sedang yang cukup besar dan kuat untuk mementalkan shadow itu.
"Bagus Takeba! Kita lakukan lagi!" teriak wanita itu seraya ia berlari secepat mungkin menuju shadow itu, tapi..
'BUAKK!'
Shadow itu meninju Mitsuru tepat di perut wanita itu, membuat wanita itu terpental dengan ringannya ke udara. Tidak berpikir dua kali, shadow itu segera mengayunkan katananya sekuat tenaga menuju ke leher kecil wanita berambut merah itu.
"Mitsuru-seenpai!! Tidak!!"
'CLAAASH!!'
-Souji-
"Kau……siapa?"
Bayangan itu berhenti tepat di depan lelaki berambut mangkok itu, membuat dirinya dapat terlihat jelas olehnya. Seorang pria, tinggi dengan sebuah beanie hitam dengan plat besi terpasang di tengahnya. Pria itu mengenakan baju merah panjang yang melebihi pinggangnya, dan celana panjang hitam kain terpasang di tubuh bagian bawahnya. Pria itu terlihat garang dan tidak ramah, dengan ekspresi datar menghiasi mukanya.
"Dia adalah orang yang terlebih dulu hidup dimasamu, dan terlebih dulu mati di masamu… seseorang yang memiliki keterkaitan dengan masa lalu teman-temanmu…" jelas Pharos.
"Dia?" tanya Souji masih tidak mengerti.
"Aku adalah orang yang tinggal di kamarmu sebelumnya, namaku Shinjiro… Shinjiro Aragaki…"
"Eh?! kau pemilik kamar itu?!" tanya Souji serentak kaget mendengar pernyataan itu.
Pria itu tidak menjawab, ia hanya memberikan sebuah pandangan saja ke anak berambut abu-abu itu. Sebuah pandangan tajam yang tidak terlihat gentar sedikit pun, tanpa Kanzeon atau Juno pun Souji bisa merasakannya, berada di depan pria ini saja membawa suatu tekanan yang berat kepadamu. Sebuah tekanan karena perbedaan kekuatan yang jelas.
"Tak usah banyak bicara… ada yang ingin aku tanyakan kepadamu, bocah…" kata pria itu tegas.
Souji terdiam, sedikit tidak suka karena dipanggil bocah. Memang dia jauh lebih muda dari pria itu, tetapi panggilan bocah itu tentunya tidak mengenakkan, apalagi jika Souji sering menggunakannya untuk imej Naoto.
"Engg… apa yang ingin kau tanyakan itu?" tanyanya pelan.
"Apa benar kau yang menemukan evoker di kamarku itu?" tanyanya masih dengan wajah yang sama sekali tidak berubah.
Souji mengekerutkan dahinya, hal pertama yang terlintas di kepalanya adalah darimana dia bisa tahu hal itu? Apa dia juga bisa melihat masa lalu seperti yang Pharos lakukan? Tapi Souji memutuskan untuk segera menjawab, tentunya ia tidak mau dipelototi pria itu terus 'kan?
"……..ya, aku menemukannya…" jawab anak itu pelan.
Pria itu, Shinjiro terdiam saja mendengar jawaban iya barusan. Ia hanya memberi suara 'hmm'… sebagai reaksi singkat. Pria itu kemudian berganti pandang ke arah Pharos. Tanpa banyak percakapan, Pharos hanya kembali tersenyum dan mengangguk pelan ke arah Shinjiro.
"Bagaimana? Dengan begini apa kau puas?" tanya Pharos kepada Shinjiro.
"…………………………." Tanpa berkata apa-apa, pria itu kemudian membalikkan badannya, pergi meninggalkan Souji dan Pharos berdua saja.
"…………..Hanya itu yang ingin dia tanyakan?" tanya Souji.
Pharos kembali memasang senyum khasnya, lalu mengangguk pelan seperti yang baru saja ia lakukan. Souji semakin mengkerutkan dahinya, mereka berdua sangatlah aneh bagi Souji. Orang macam apa yang katanya ingin bertemu, tetapi sesudahnya hanya menanyakan satu hal saja lalu pergi—tanpa pamit lagi!
"Dia memang pendiam orangnya…" lanjut Pharos. Souji sweatdrop saja mendengar kata pendiam itu. Kelihatannya Pharos harus menjelaskan dulu arti kata 'diam' menurutnya.
"umm… Pharos?"
"…Ya?"
"Ada urusan apa ia menanyakan hal barusan ke aku? Apakah dengan menemukan evoker miliknya berarti sesuatu yang aneh?" tanya Souji.
Pharos tidak segera menjawab, bocah berkulit pucat itu hanya tersenyum—seperti yang biasanya ia lakukan. Lalu ia menjawab "Sebaliknya Seta-kun… sebaliknya…"
Seiring dengan kata-kata itu, bocah berkulit pucat itu lenyap dari tempat itu, menyisakan Souji seorang saja.
"Jadi…….. sekarang apa?"
Tanpa tahu yang harus diperbuat, lelaki berambut abu-abu itu berjalan sendiri tanpa arah yang tentu.
-Akihiko dan Ken-
'JDOOR! JDOOR!'
Bunyi tembakan itu terulang terus menerus, dua pistol berwarna hitam diarahkan ke kedua lelaki itu. Sementara keduanya terus berlari sambil menghindari tembakan itu, shadow hitam yang terlilit oleh rantai itu mengejar di belakangnya, bagai seekor serigala mengejar mangsanya.
"Hosh! Hosh! Makhluk itu masih mengejar kita Sanada-san!"
"Tak perlu kau beri tahu aku Ken! Aku juga tahu! Sekarang pikirkan saja caranya kabur!"
"Kenapa kita harus kabur sih?! Kita lawan saja!"
"Jangan memberi ide yang aneh-aneh Ken! Makhluk ini mustahil untuk dilawan berdua saja—apalagi dengan kemampuan kita yang sekarang ini!!"
'BANG!'
Makhluk itu mengarahkan salah satu pistolnya ke langit, menembakkannya dan membuat panah dalam jumlah banyak turun menghujani kedua laki-laki itu. Keduanya menyadari serangan myriad arrow yang biasanya dipakai mantan pemimpin mereka, Minato. Sayangnya keduanya tidak pernah belajar untuk menghindari serangan itu. Dan…
'JLEB!'
Salah satu panah itu mengenai punggung anak kecil berambut coklat itu, tidak telak, tapi lebih dari cukup untuk menghentikan gerakannya.
"Ken!!"
"Ugghh… lari Sanada-san…"
"Sial! bagaimana mungkin aku lari sementara kau tertinggal disini?!"
Makhluk berdarah dingin itu mendekat tepat di belakang anak berambut coklat itu bersiap untuk memberi tembakan terakhir kepadanya. Sementara seseorang di belakang makhluk yang disebut reaper itu mengarahkan sebuah pistol kekepalanya.
'BANG!'
Dalam sekejap saja, sebuah makhluk berupa penunggang kuda dengan warna yang sama dengan shadow itu muncul, lalu meloncat menabrak reaper itu. Membuat anak kecil itu mendapat celah untuk lari ke arah Akihiko.
"GRAAAAAWWW!!"
Tidak memedulikan amukan reaper itu, seseorang di belakang reaper itu kembali mengarahkan pistol itu kekepalanya lagi. Dan memanggil penunggang kuda berwarna hitam itu lagi, makhluk berkuda itu memanggil sebuah tangan besar berwarna emas yang terkepal lalu dijatuhkannya tangan itu ke arah shadow itu, membuat sang shadow menerima critical hit.
"Sekarang! Lari!!"
Mendengar perintah itu, tidak berpikir panjang lagi kedua laki-laki itu segera berlari dengan sisa tenaga mereka ke arah yang berlawanan dengan asal suara itu, meninggalkan sang reaper yang masih berusaha berdiri dengan susah payah.
"Dibiarkan begini pun, pasti makhluk ini akan mengejar mereka… Lebih baik kuakhiri sekarang makhluk ini…"
Orang itu kemudian mengangkat benda di tangannya, kemudian mengayun-ayunkan beberapa kali sebelum ia akhirnya memukulkannya sekuat tenaga ke reaper itu. Sebuah pukulan yang sangat kuat, untuk mengakhiri nyawa sang reaper, membuat makhluk itu menghilang ke dalam kegelapan malam Tartarus.
"…………..Kuharap, ia memang bocah itu…" pikir orang itu setelahnya, dan lalu orang itupun berjalan kembali menghilang ke dalam kegelapan tartarus.
-Akihiko dan Ken (after escaped)-
"Hosh… hosh… hosh…."
Kedua laki-laki itu mencoba mengambil nafas mereka setelah mereka berlari sekuat tenaga—kabur dari monster itu. Ken, yang lebih muda, kembali ke posisinya sebelumnya—duduk dengan kaki diluruskan di lantai menara itu. Anak itu memegangi dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang sesaat lalu berdetak sangat kencang. Sementara Akihiko hanya berdiri, menyandarkan punggungnya ke salah satu dinding labirin itu, dengan tangannya yang terbungkus sarung tinju merah di mulutnya, pertanda pria itu sedang berpikir.
"Tidak mungkin!! Bagaimana mungkin?! Dia sudah mati 2 tahun yang lalu!!" pikirnya.
Sementara pria itu masih sibuk berpikir, anak kecil yang duduk di sampingnya, yakni Ken kemudian bertanya suatu hal dia harap dapat membuyarkan pria itu dari konsentrasinya.
"Sanada-san, siapa yang menolong kita tadi ya?"
Dan harapannya terkabul…
"Oh? Em… eh, maaf Ken? Kau bilang apa? Aku sedang berpikir tadi.."
"….. haaah.." Anak itu menarik nafas dulu, sebelum ia melanjutkan atau lebih tepatnya mengulang pertanyaannya. "Siapa ya, yang menolong kita dari makhluk tadi? Sepertinya aku……. Kenal…."
Akihiko tidak menjawab, ia sedikit terkejut mendengar pertanyaan anak itu. Bagaimana mungkin Ken bisa melupakan seseorang yang dulu dia cari dan hendak ia bunuh karena balas dendam?! Namun pria itu mengurungkan niatnya untuk menyuarakan apa yang baru saja ia pikirkan.
"……..Tidak, kurasa kau salah orang.." kata Akihiko berbohong.
"Eh, kau tahu orang itu, Sanada-san?" Tanya Ken lagi, Akihiko tidak menjawab apa-apa. Pria itu hanya memalingkan wajahnya dari arah Ken, mencoba menutupi wajahnya yang pasti terlihat murung akibat insiden barusan.
"………….??" Gumam Ken polos.
"Sebaiknya jika kau sudah tidak capek, kita berjalan mencari yang lainnya lagi…"
Tanpa menjawab, anak itu mengangguk cepat lalu berdiri dan mengambil tombaknya yang ia sandarkan ke tembok menara itu. Anak itu kemudian berlari ke suatu koridor selayaknya anak kecil pada seusainya—tanpa beban pikiran, sambil melambaikan tangannya memanggil orang yang amat ia kagumi, "Ayo Sanada-san!!"
Akihiko hanya tersenyum simpul, lalu berjalan ke arahnya.
-Junpei-
"Ti, tidak mungkin…."
Shadow itu terlihat jatuh ke tanah, belum mati, tapi cukup terluka parah. Akibat serangan seseorang di depan bocah bertopi itu, sementara bocah bertopi itu, a.k.a. Junpei masih terduduk di lantai tartarus dengan mata dan tangan yang bergetar, akibat melihat seseorang di depannya. Seorang yang ia paling ingin temui….
"Ba, bagaimana mungkin kau ada disini?!" lanjutnya lagi, dengan bibir yang bergetar seperti tangannya.
"Hoooo… kukira kau sudah lupa akan aku, walau aku berharap kau sudah sih…" jawab kata itu dengan suara lembut.
"Tentu saja aku ingat!! Mana mungkin aku lupa tentangmu……
--Chidori…"
To be continued…
Author's note
HELL----------------O!! hahaha, hahaha, hahaha…. Eh kok aku ketawa-ketawa sendiri gaje ya? Apa karena aku betul-betul……. Ketakutan? Atau apa? Karena nyaris 2 minggu tidak kuupdate ya? Hahaha… hahaha…. HIIIII!!!!
'BAAAK!! BUUUK!! DUAKK!!'
*Author terjatuh ke tanah, pingsan dengan 3 benjol besar di kepalanya* *seseorang membuang metal bat yang baru saja dipakainya untuk memukul author*
*Seseorang mengambil mic* Ehm… ehm… maaf semuanya, saya—Naoto akan menggantikan sebentar untuk acara Author's note karena si author gaje ini sedang sinting-sintingnya karena salah minum obat—maaf salah, karena dia sedang stress akibat…… emm, maaf *mengambil notebook mini dari saku*
Akibat tidak bisa menyelesaikan misi…. Case 10 di Devil Summoner 2, dan akibatnya otaknya sedang…. Hancur-hancurnya—maaf, otaknya memang selalu hancur dan tidak waras dari dulu… Dan Devil Summoner 2 nya juga belum tamat, tapi itu tidak usah dipedulikan—Bahkan sebenarnya saya ingin menghancurkan PS2-nya supaya makhluk ini bisa konsentrasi ke fanficnya dan urusan sekolahnya.
Anyway kembali ke topik, pertama-tama makhluk gaje ini ingin mengucapkan BANYAK terima kasih, kepada antara lain… yang sudah mereview dan LEBIH BANYAK terima kasih—koreksi bukan terima kasih, tetapi maaf… kepada para pembaca yang merasa disusahkan dengan karya gajenya yang lama tidak diupdate. Katanya sih…. Author—maaf makhluk gaje ini sedang mengalami Igor / Victor Syndrome, entah apa artinya saya tidak tahu dan tidak mau tahu…
Lalu akhir kata, karena tidak ada yang perlu dikatakan lagi—walau sebenarnya banyak yang tertulis di notebook ini, tapi tidak saya bacakan karena menurut saya TIDAK PERLU dibacakan, isinya hanya hal-hal yang tidak masuk logika.
Sekian author—maaf, Naoto's note kali ini. Lalu…. Disini si author ini ingin promosi fic oneshotnya yang berjudul Assassin's Wish, walau menurut saya… hal ini SAMA SEKALI SEHARUSNYA TIDAK DIMASUKKAN KE DALAM AUTHOR'S NOTE *menendang author yang masih pingsan* jadi lupakan saja promosi barusan…
edit: koreksi tentang bagian terakhir. bukan seorang yang paling ia temui, tapi seorang yang paling ingin ia temui terima kasih bagi Jack Frost atas tegurannya via review
Chapter 9 Update ASAP
GOD BLESS US ALL
--Tetsuwa Shuujin (still in unconscious state)
-After that…-
Naoto: Kanji!!
*Kanji Tatsumi datang membawa karung dan tali*
Naoto: Bisa bantu aku untuk "mengurus" makhluk ini?
Kanji: Dengan senang hati… *mengikat author dan memasukkannya ke dalam karung* Ini mau dibawa kemana nih?
Naoto: Ke pegadaian, black market, pelelangan manusia, tempat pembuangan sampah, mana aja deh…
Kanji: Ya udah…. Terus kalau dia dibuang kesana, kelanjutan ficnya gimana?
Naoto: *mengangkat bahu* entah…. Berdoa saja…
Kanji: Yah, aku juga tidak nongol di fic ini sih…. Jadi bukan urusan gue… *melempar karung tersebut kedalam truk yang entah darimana nongol* Kamu aja yang mutusin, dibuang kemana… *naik ke dalam truk, duduk di belakang kemudi*
Naoto: Yah, entar dipikir-pikir… *naik ke dalam truk*
'BRRMMM!!!' *truk berjalan dengan full-speed*
—dan itulah akhir dari si author…. Dibuang entah kemana…mayat, jasad, dan tubuhnya tidak pernah ditemukan oleh SAR, tim forensik manapun, dan kepolisian...
