Digimon Crimson Online

Ch 7: Noob, Admin, and Hacker Part 2: Messege as Declaration of War

A/N: update lagi! Thx bagi semua yang membacanya! Termasuk pada yang tidak review (dan memang chapter sebelumnya ga ada yang review), dan yang pakai google translate untuk baca fic ini! Di chapter ini, sepertinya ratingnya M untuk kekerasan, jalan ceritanya akan lebih berat, dalam, dan serius mulai dari chapter ini. Genre humornya untuk sementara akan berubah jadi mystery, drama, dan friendship. Sebenarnya genre dari fic ini banyak, yaitu: adventure, fantasy, humor, friendship, drama, mystery, hurt/comfort, parody, dan masih banyak lagi, tapi bisa dipastikan genre romance-nya sangat sedikit dan mungkin hanya dipakai disaat-saat penting saja, buktinya female protagonistnya aja belum muncul.

Lanjut!

...

...

... (Hening sesaat)...

"Direncanakan? Yah... Aku tak terlalu kaget kalau itu benar. Dalam perebutan misi saat itu, rasanya juga terlalu kebetulan tinggal satu misi yang tersisa. Misi ini, walau sangat berbahaya, pasti minimal ada beberapa orang yang masih mau melawannya dalam party..." Komentar Ryuuma pada analisa Raito.

"Haha... Ternyata kau sedikit lebih pintar dari yang kukira. Kupikir kau terlalu mengabaikan situasi disekelilingmu dan bergerak mengikuti arus saja." Kata Raito sedikit tertawa diikuti dengan munculnya 'simpang tiga' diatas kepala Ryuuma, menandakan emosinya meninggi, tapi Ryuuma berusaha menahan emosinya dulu, misi kali ini harus diselesaikan dulu sebelum melampiaskan amarahnya pada hal lain.

"Sudahlah... jika memang direncanakan, kira-kira apa lanjutan dari rencana itu? Kalau kita tau rencananya, kita akan lebih mudah bergerak juga kan?" Tanya Ryuuma tak keberatan dimanfaatkan dalam rencana Damien jika itu bisa membantunya melawan hacker, tapi Ryuuma lupa bahwa yang ada dihadapannya saat ini juga hacker.

"Mungkin... Di lokasi lawan kita, pihak ketiga akan datang membantu, atau admin itu sendiri akan membantu kita... Atau keduanya juga bisa terjadi." Kata Raito menebak-nebak.

"Bukannya lebih mudah kalau dari awal dia langsung memanggil kita dalam party untuk langsung pergi bersama?" Tanya Ryuuma kebingungan.

"Mana mungkin admin ngajak hacker nge-party? Bisa-bisa dia dipecat." Kata Raito menerangkan. Ryuuma cuma mengangguk tanda mengerti.

"Tapi, kalau harus kujelaskan dengan lengkap, bisa dikatakan, jika ia mengajakmu party, maka kemungkinan aku akan membantumu bisa dihilangkan karena aku takkan mendekati kalian berdua yang terobsesi mengejar hacker (karena tak ingin buat keributan, bukan karena takut ditangkap). Karena itu, daripada ber-party denganmu, dia memberimu misi ini dan membiarkanmu memilih sendiri apakah kau akan maju melawan hacker itu, atau mundur karena takut atau belum siap..."

"SIAPA BILANG AKU TAKUT!" Ryuuma terlalu cepat panas mendengar kata 'mundur karena takut' dan tanpa sengaja malah memotong perkataan Raito ditengah jalan.

"Bisa jangan teriak? Gendang telingaku mau pecah..." Kata Raito santai walau gendang telinganya sudah diambang perbatasan dunia (lebay, hilangkan saja kata per- didepan perbatasan dan hilangkan juga kata dunia).

"Maaf! Maaf kelepasan!" Kata Ryuuma memohon maaf dengan (tidak) sopan.

"Ku lanjutkan dulu perkataanku agar kau mengerti... Dia membiarkanmu sendiri dan mencari party yang takkan pernah kau dapatkan dikarenakan kebanyakan orang disini cuma otaku atau gamers biasa yang sudah terlanjur takut pada Digi-Witch, atau orang dewasa yang menjalankan bisnis di dunia ini yang tidak mau berurusan dengan Digi-Witch yang kemungkinan besar melakukan kontrak kerja sama dengan mafia atau semacamnya. Jadi... Dia memancingku yang juga hacker untuk membantumu melawan hacker untuk menyeimbangkan kemampuan perlawanan kita dengan mereka. Sayangnya, aku tidak tau bagaimana cara ia mengetahui bahwa aku berencana menemuimu dalam waktu dekat ini." Jelas Raito panjang lebar kali tinggi sama dengan rumus volume balok (ga nyambung)

"...?(+_+)?..." Ryuuma pasang tampang bingung karena tak bisa mengikuti penjelasan Raito, padahal cukup simpel. Saat Raito melihat ekspresi Ryuuma, ia langsung tau bahwa Ryuuma tak memahami perkataannya.

"Ternyata memang sebodoh yang kuduga..." Kata Raito terang-terangan, tak peduli pada 'raungan' Ryuuma yang mungkin saja datang dan menerobos gendang telinganya.

"Sabar...sabar... Nanti setelah misi ini selesai akan kuhajar dia sepuasnya..." Pikir Ryuuma menahan diri untuk tidak berkelahi ataupun adu mulut saat ini.

"Lagian... Semakin kesal, semakin enak menghajar orang..." Lanjutan pikiran Ryuuma.

"Oh iya, tak ada waktu, ayo kita pergi, jika benar bantuan akan ada disana, sebaiknya kita cepat sebelum bantuan itu dibabat habis lawan kita." Kata Raito mengingatkan dan lalu membuka mission map yang hanya bisa dibuka jika party ada 4 orang. Tapi karena requirements dari misi ini sudah di hack sehingga requirementsnya 'none' atau tidak ada, maka walau hanya dua orang, mission map bisa dibuka dengan normal. Setelah melihat 'mission map' yang menunjukkan lokasi Digi-Witch saat ini, mereka berdua pergi ke arah target mereka.

.

.

.

- Lost Route (Block 3855) -

Info: Lost Route, seperti namanya, rute ini telah 'hilang' dari dunia. Player tak dapat mengaksesnya kecuali dengan menggunakan metode illegal. Rute ini mudah diakeses hacker, tapi sangat dilarang karena tak ada jaminan dapat keluar dengan selamat jika tak dapat melakukan 'hacking' tingkat menengah, jadi tak disarankan untuk hacker pemula. Tempat ini jadi persembunyian yang disukai para hacker, bahkan banyak diantara hacker yang memodifikasi lokasi itu menjadi markas mereka. Rumornya beberapa tahun lalu, 'Top Hacker' yang telah mati, memiliki markas dalam Lost Route yang saat ini sudah tidak diketahui lokasi pastinya. Pada akhirnya perkiraan ini malah tak dapat dibuktikan kebenarannya dan malah muncul rumor baru, yaitu rumor bahwa 'Top Hacker' mati dan menyebarkan Lost Route di seluruh Digital World, jiwanya masih hidup dalam digital world untuk merencanakan sesuatu yang lebih besar (Author: dasar rumor mistis, padahal buatanku sendiri.).

"Dasar rumor mistis..." Pikir Raito saat memberikan info itu pada Ryuuma. Biarpun dia hacker, tak mungkin ia percaya pada hal begituan. Mana ada hacker yang dapat meng-hack jiwanya sendiri? Tak ada data dalam jiwa manusia. Bagaimana dengan jiwa digimon? Apakah ada datanya? Bisakah dimanfaatkan untuk memodifikasi jiwa manusia? Pada akhirnya, Raito malah mengesampingkan pemikiran itu yang sudah dipikirkannya sejak pertama kali ia mendengar rumor itu.

"...(O_O)..." Tanpa berkata apapun, Ryuuma hanya memasang tampang kagum melihat lokasi luas membentang yang baru saja diakses oleh Raito menggunakan hacking sebagai 'shortcut' menuju tempat yang mereka tuju. Pergi ke tempat tujuan mereka dengan cara normal akan memakan waktu selama 3 hari, tapi memakai Lost Route hanya akan memakan waktu 1 jam.

"Sekarang kita kemana?" Tanya Ryuuma sambil asyik melihat-lihat apapun yang bisa dilihat di tempat itu, walau tiada apapun selain hamparan kuburan luas yang membentang seakan tanpa batas.

"Dari titik ini, kita harus pergi ke sana, dengan arah 10 derajat kesebelah kanan dari Utara, kita akan pergi dengan bantuan Chaosmon yang bisa terbang cepat, tapi tetap akan memakan waktu 1 jam. Aku memperkirakan waktunya berdasarkan kecepatan terbang Chaosmon." Kata Raito menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami player biasa jika sering melihat map (peta).

"Tunggu dulu... Apa disini ada hacker lain sepertimu?" Tanya Ryuuma tiba-tiba waspada mengingat ini rute yang hanya bisa diakses hacker saja.

"Mungkin iya dan mungkin tidak. Lost Route itu ada lebih dari seratus juta di dalam digital world dan akan terus bertambah jika Digital World mengalami perluasan dengan cara yang tidak kita ketahui. Lagian tidak semua hacker suka sembunyi dalam Lost Route ini, mereka juga suka sembunyi di kota-kota tertentu karena fasilitasnya lebih lengkap dari pada disini, jadi, untuk saat ini, semoga saja tidak ada." Kata Raito menjelaskan dan kali ini Ryuuma lebih mudah mengerti karena sekarang ia sudah cukup terbiasa pada penjelasan Raito yang seringkali panjang lebar. Ryuuma jadi bingung apakah ia harus menganggap Raito musuh atau teman karena ia sudah terlalu banyak membantu noob sepertinya untuk melakukan hal yang sepertinya mustahil dilakukannya sendirian. Sepertinya Raito juga tak keberatan jika nantinya harus kerja sama dengan Damien jika diperlukan dalam misi kali ini, mungkin dia punya motif lain. Walau berpikir begitu, Ryuuma mengesampingkan dulu pikirannya dan fokus pada misi.

"Nah, ayo naik." Kata Raito yang sudah mengeluarkan Chaosmon dari digivicenya dan naik diatas bahunya. Ryuuma tak sempat mendengarkannya karena masih mempertimbangkan beberapa hal sehingga tanpa peringatan lebih lanjut, Chaosmon langsung mengangkat Ryuuma dan meletakkannya di bahu kirinya (karena Raito dikanan). Ryuuma malah hampir jatuh karena tak memperhatikan sekelilingnya, tapi akhirnya berhasil menjaga keseimbangannya dan duduk di bahu Chaosmon. Mereka terbang menuju tempat tujuan mereka.

"Ryuu-san, apa perlu kuperlihatkan video yang di upload oleh Digi-Witch itu?" Tanya Raito sudah siap membuka Yay!tube di laptop kesayangannya (coret) laptop bawaannya maksudnya.

"Hm? Video sadis itu?... Jujur saja, aku tak suka video macam itu, tapi aku rasa aku harus melihatnya walaupun tidak ingin..." Kata Ryuuma memikirkan. Raito malah menutup Laptopnya.

"Tak perlu, melihat video macam itu cuma akan mengacaukan keadaan digisoul-mu sebelum pertarungan. Asal kau sudah siap menghadapi bahaya didepan kita, itu sudah cukup." Kata Raito merasa kesiapan Ryuuma untuk melihat video itu sudah cukup walau belum sepenuhnya cukup.

"...!" Bagai serangan jantung mendadak, beberapa hal terpikir dan tersusun dalam pikiran Ryuuma... Kesadisan Digi-Witch... Para pihak keamanan yang berakhir menggenaskan... Bantuan yang kemungkinan datang... Dan kemungkinan Damien maju terlebih dahulu...

"OI! RAITO!" Ryuuma tiba-tiba jadi histeris sendiri.

"Ha?! Apa?! Kenapa?!" Raito malah bingung sendiri melihat kepanikan Ryuuma yang tiba-tiba.

"Percepat kecepatan terbang Chaosmon sampai maksimal!" Pinta Ryuuma dengan sangat mendadak.

"Tunggu tunggu... Tenang dulu... Ada apa? Jelaskan baik-baik kenapa kau panik..." Raito menanyakan baik-baik sambil berusaha menenagkan Ryuuma yang kelihatannya malah tegang sekali.

"Tenang...! Tenang...!" Pikir Ryuuma sambil berusaha menenangkan dirinya dari pikirannya yang agak kacau karena perkiraannya sendiri.

"Begini... Aku baru ingat, kau bilang mungkin Damien sudah merencanakan semua ini kan?" Tanya Ryuuma mengingatkan.

"Kemungkinan besar." Kata Raito singkat, membiarkan Ryuuma secepatnya menjelaskan pikirannya.

"Artinya kemungkinan besar juga, pesan yang waktu itu dia kirim pada ku itu PALSU!" Kata Ryuuma agak teriak saat mengatakan palsu.

"Pesan yang mana?!" Raito tak ingat.

"Yang katanya, akan segera datang menangkapmu waktu kuberitau dia bahwa kau ada di kota! Mungkin saja setelah mengirim pesan palsu itu dia sudah duluan pergi ke tempat Digi-Witch atau sudah ada disekitar lokasinya! Dia cuma mengirim pesan palsu itu hanya untuk membuat kita bergegas pergi ke sana karena situasinya mendesak!" Kata Ryuuma menerangkan dengan terburu-buru.

"Ryuu-san.. Tenang, kalau dia memang sudah duluan di lokasi target kita, maka ia takkan punya waktu untuk menulis pesan sesingkat apapun, jadi bisa di perkirakan, walaupun ia sudah duluan pergi ke sana, dia masih dalam perjalanan ke sana atau sedang menyembunyikan diri dari lokasi lawan dalam jarak yang cukup jauh. Hacker bisa menggunakan software tertentu untuk memperkirakan siapa saja orang-orang yang mungkin mengejar mereka. Mungkin dia masih berada dalam jarak yang membuat hacker itu berpikir bahwa ia tidak mengejarnya. Jadi bisa diperkirakan, kita belum telat." Raito menjelaskan baik-baik.

"Kita tak sepenuhnya tau mengenai rencananya! Bisa jadi dia cuma membuat kita berpikir demikian, tapi sebenarnya dia masih menyembunyikan detail-detail tertentu yang hanya diketahui olehnya! Apalagi, pesanku belum dibalasnya! Kalau dia memang bisa memperkirakan 'reaksi' kita terhadap 'pesan', maka jika ia ingin membuat kita secepat mungkin pergi ke lokasi Digi-Witch, pasti dia akan memprovokasi kita dengan pesan semacam 'awas kalau kau coba-coba kerja sama dengannya! Kalau kau melakukannya, akan langsun akunmu akan langsung di-ban!' Kalau dia mengirim pesan macam itu, aku dan kau akan semakin bergegas pergi ke lokasi Digi-Witch secepat mungkin untuk membereskannya. Tapi setelah itu dia tak membalasnya sama sekali! Bagaimana kalau dia tak bisa membalasnya karena sedang bertarung sendirian melawan Digi-Witch?!" Ryuuma kali ini benar-benar panik oleh setiap perkiraan yang muncul dikepalanya sendiri, malah sebenarnya perkiraannya jauh lebih banyak dari apa yang baru saja ia katakan. Dia juga memikirkan 'apa yang akan terjadi pada Damien jika ia dan Digiwitch terpaksa bertarung satu lawan satu'. Damien hanya punya Gaomon dalam digivicenya, jika ia memiliki digimon yang banyak, maka seharusnya dia membawa mereka dalam pertarungan di Temple of Ruins melawan Chaos Hacker. Digi-Witch kemungkinan memiliki digimon yang tak terhitung jumlahnya, itupun masih belum dihitung dengan kriminal-kriminal yang bekerja sama dengan Digi-Witch. Jika player dibunuh, player hanya akan kembali ke kota dengan jumlah exp yang berkurang, tapi rasa sakit yang diterima itu nyata, apalagi lawannya adalah orang sadis. Jika memang Damien akan membantu mereka dalam pertarungan, mungkin saja justru dia yang memegang peranan paling berbahaya sebagai 'umpan' untuk mengalihkan perhatian Digi-Witch dari mereka berdua dengan cara tertentu. Pemikiran Ryuuma kali ini diperkuat oleh bukti bahwa dulu, saat di Temple of Ruins, kemungkinan besar Damien berencana menghadapi Chaos Hacker aka Raito sendirian. Ryuuma saat itu hanya kebetulan datang mengikuti event dan kebetulan terlibat dengan pertarungan mereka sehingga ia bisa sedikit membantu menyibukkan Chaosmon yang menyebabkan tertangkapnya Chaos Hacker dengan cara misterius yang dilakukan Damien.

"Boleh aku lihat digivicemu?" Tanya Raito dengan sangat tenang tapi lebih serius dari beberapa saat lalu. Ryuuma memberikan digivicenya secara hati-hati pada Raito karena Chaosmon masih ternbang dengan kecepatan tinggi, Chaosmon yang menyadari Ryuuma agak kesulitan memberikan digivicenya pada Raito membantunya dengan mengambil digivice itu dari tangan Ryuuma dan mengoper digivice itu dengan tangan kanannya pada Raito. Raito langsung membuka list pesan keluar Ryuuma dan mendapati bahwa... Pesan terakhir Ryuuma yang dikirimkannya pada Damien tidak sampai, dengan kata lain, Damien berada dalam area diluar jangkauan sinyal yang mereka tak tau dengan jelas letaknya padahal beberapa menit sebelumnya ia masih berada dalam arena yang dapat dijangkau sinyal. Satu hal lagi yang paling membuatnya gelisah... Adalah satu 'pesan' yang belum dibaca Ryuuma yang sempat masuk ke dalam digivicenya sekitar 5 menit yang lalu dari username yang tak dikenalnya. Raito membuka pesan itu dan mendapati pesan sebagai berikut:

Dari: Cadenza Locker

Pesan: terima kasih...

(Gambar diterima)

Raito dengan jantung yang agak berdebar merasa firasat yang tidak enak saat akan membuka gambar kiriman dari orang bernama Cadenza Locker itu. Satu hal lagi yang membuatnya penasaran adalah pesan 'terima kasih...' yang hanya membuatnya semakin tidak merasa tidak enak untuk membuka gambar kiriman tersebut. Sebelum sempat membuka gambar itu, Roadramon keluar dari digivice itu dan berdiri di samping Raito.

"Roadramon?! Tunggu... Kau..." Raito memperhatikan ada hal yang tidak biasa pada partner Ryuuma, entah mengapa, ia menggeram dengan sangat, sampai-sampai gusinya agak hancur karena tekanan dan ketajaman giginya yang sangat tajam. Matanya bahkan terlihat penuh nafsu membunuh yang entah ditujukan pada siapa.

"Chaos Hacker..." Kata Roadramon masih dengan menggeram, kali ini ia mengepalkan tangannya sampai telapak tangannya sendiri berlubang dan mengeluarkan data-data, tapi ia terlihat sama sekali tak mempedulikannya. Raito juga sempat melihat sedikit air mata di mata Roadramon, dia menangis, tapi apa yang ditangisinya mungkin saja berhungungan dengan pesan itu.

"Gambar itu... Jangan... Perlihatkan pada Ryuu-san..." Kata Roadramon terhenti-henti karena tangisannya yang berusaha ditahannya, tapi air matanya megalir begitu saja. Dari perkataan Roadramon, Raito sudah bisa menebak apa yang ada dalam gambar itu. Roadramon membentangkan sayapnya dan pergi terbang ke sebelah Ryuuma dan duduk dengan tenang disampingnya. Ia terlihat seperti sedang 'menjaga' Ryuuma. Raito ingin memastikan sendiri gambar apa yang diterima Ryuuma, saat melihatnya... Ia langsung menghapus pesan dan gambar tersebut mengikuti saran Roadramon untuk tidak memperlihatkannya pada Ryuuma.

"...Ryuu-san... Maaf mengatakannya... Tapi kemungkinan yang kau katakan itu... Mungkin benar..." Kata Raito dengan suara yang agak mengecil. Raito yang hacker sudah tau bahwa seorang hacker dapat mengganggu aliran sinyal disekitarnya dan mengacaukan pelacakan terhadap diri mereka. Ini salah satu hal dasar yang dipelajari hacker masa kini dan juga dipakainya saat masuk ke Temple of Ruins sehingga tak ada yang bisa mengetahui lokasi dirinya kecuali bertemu langsung dengannya. Pesan yang tidak masuk tadi, memang ada hubungannya dengan lawan mereka saat ini. Ryuuma sempat mendengar perkataan Raito dan melihat perubahan ekspresi di wajah Raito dan juga Roadramon yang duduk disampingnya tapi sama sekali tak meresponi perkataannya. Jelas sekali bahwa Roadramon dan Raito menyembunyikan sesuatu darinya.

"Chaosmon, kecepatan maksimum..." Perintah Raito, kali ini tanpa ekspresi sama sekali. Chaosmon langsung nurut dan meningkatkan kecepatan terbangnya hingga maksimum.

"Lima menit lagi, Ryuu-san, siap-siap saja, untuk kedepannya aku tak bisa menjamin apa yang akan terjadi..." Kata Raito sambil melempar digivice Ryuuma ke arahnya dan Ryuuma menangkap digivicenya dengan perasaan khawatir pada mereka semua, terutama Damien dan Gaomon. Masih dengan tanpa ekspresi, Raito turun dari Chaosmon dan mulai jalan di atas tanah, diikuti dengan Ryuuma dan Roadramon yang melompat turun dari bahu Chaosmon. Chaosmon yang tadinya terbang juga ikut jalan diatas tanah. Raito dan Roadramon, keduanya memancarkan kemarahan yang sangat kuat yang membuat Ryuuma tak mengerti apa yang terjadi karena ia bahkan tidak tau ada pesan yang masuk ke dalam digivicenya dari Cadenza Locker. Mereka mendarat di depan suatu tempat berbentuk istana dengan suasana 'gothic' yang nge-dark-nge-dark-an (nge-dark bo'ongan) kenapa cuma nge-dark bo'ongan? Karena disekeliling istana itu banyak Picodevimon (aka Demidevimon) yang berterbangan dan sok menakut-nakuti mereka, padahal dimata mereka semua, Picodevimon yang berterbangan disekitar mereka itu malah terlihat bulat-bulat imut banget (Author jadi gemes). Mengabaikan Picodevimon-Picodevimon yang imut dan sok nge-horror itu, mereka bergegas masuk ke gerbang istana itu. Memakan waktu sekitar 5 menit untuk membuka gerbang itu karena ternyata dikunci dengan kode khusus sehingga harus di hack terlebih dahulu oleh Raito, Raito juga meng-hack semua jebakan yang ada didalamnya sehingga butuh tambahan waktu sekitar 10 menit sebelum akhirnya mereka bisa mesuk dengan aman. Hacking oleh Raito memang sangat cepat, biasanya butuh paling cepat sekitar 1 jam, tapi Raito melakukannya dalam waktu 15 menit. Mereka masuk ke dalam istana itu, entah mengapa, karena suasana yang berat, tak ada satupun dari antara mereka yang bicara, semua terfokus dengan apa yang akan mereka hadapi didepan sana.

"Shirai Ryuuma..."Sebuah suara yang tak dikenalnya terdengar dalam kepalanya.

"Siapa itu!?" Tanya Ryuuma dengan kasar karena emosinya yang mulai memuncak melebihi batas yang dapat ditahannya. Raito dan Roadramon langsung menatap pada Ryuuma yang kelihatannya bicara sendiri.

"Tampaknya kau belum menerima pesan dariku." Kata suara itu santai.

"Pesan apa?!" Ryuuma mebalas perkataannya dengan singkat, kasar, dan jelas. Raito dan Roadramon memandang Ryuuma dengan ekspresi kaget dan panik saat mendengar kata 'pesan' yang membuat mereka merasa sangat tidak enak.

"CADENZA LOCKER! Aku tak tau apakah kau bisa mendengar perkataanku atau tidak, tapi JANGAN MENYAMPAIKAN HAL YANG ANEH-ANEH PADA RYUU-SAN!" Teriak Roadramon yang sudah tak dapat mengontrol emosinya saat ini.

"Tidak sopan sekali teman hackermu menghapus pesan itu sebelum kau sempat melihatnya, tapi biarlah, daripada sekedar gambar, aku akan memperlihatkan video ini khusus untukmu secara langsung melalui otakmu..." Kata Cadenza Locker sebelum akhirnya suatu video yang tergambar dengan sangat jelas terlihat dalam pikirannya, rasanya seperti disihir, tapi jelas ini teknik menghacking pc.

Dalam pikiran Ryuuma(?):

Ryuuma melihat disekelilingnya, ia berada dalam lorong berbahan batu bata abu-abu yang lurus. Disana gelap dan sempit, cahaya yang ada dalam ruangan itu hanya berasal dari lilin yang ditutupi oleh kaca bening dengan lubang dibagian atasnya, kemungkinan kaca itu digunakan untuk menghalangi agar lilin tidak padam oleh sapuan angin, sedangkan lubang diatas kaca tersebut berfungsi agar lilin bisa tetap mengambil oksigen agar bisa mempertahankan nyala apinya. Lilin itu ditaruh di tempat lilin yang ditempel dinding. Ada beberapa jendela yang saling berdadap-hadapan di bagian kiri dan kanan lorong itu. Jendela itu memiliki bentuk gabungan antara antara setengah lingkaran pada bagian atasnya, dan bawahnya berbentuk kotak, hanya saja jendela itu tidak memiliki kaca dan terus membiarkan udara keluar masuk di lorong yang sempit itu. Udara terus masuk dan bertiup cukup kencang, tapi lilin-lilin dalam ruangan itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda redupnya cahaya api yang berkobar diatasnya, tentunya api tetap menyala karena kaca bening yang menyelubunginya. Tapi apa hukum dalam dunia manusia masih berlaku dalam Digital World? Mungkin saja api ini memang bukan api yang bisa padam karena angin sehingga tak perlu kaca pelindung? Mungkin suasana ini hanya dibuat agar digimon yang tinggal disana bisa sedikit mengetahui seperti apa dunia manusia tempat partner mereka hidup. Di ujung lorong itu, ada gerbang yang terkunci dengan banyak gembok yang kelihatannya sulit dibuka. Daripada video, ini lebih mirip masuk ke dalam game layaknya ia masuk dalam DCO, hanya saja, ia tak dapat bergerak atau bicara, hanya bisa berpikir. Secara otomatis Ryuuma maju ke depan, padahal ia tak melangkah ke depan ataupun kebelakang, sekarang terasa lebih mirip video. Saat sudah sangat dekat pada gerbang itu, muncul tangan berkulit pucat yang tak diketahui siapa pemiliknya. Dari apa yang dapat dilihat Ryuuma, tangan pc itu seperti tangan female pc dikarenakan jari-jarinya yang lentik dan memakai cat kuku berwarna ungu gelap mendekati hitam dan pada pergelangan tangannya ada gelang metal berwarna hitam mengilap (yang hanya ada di digital world), di sepanjang bagian ujungnya, gelang metal hitam itu berhiaskan metal silver yang memiliki ukiran aneh yang rumit, di sepanjang metal hitam itu, ada tengkorak-tengkorak manusia berukuran kecil yang juga terbuat dari metal silver. Perpaduan antara hitam dan silver terang yang saling berlawanan membuat gelang itu terlihat lebih mencolok dari yang seharusnya. Tapi daripada semua itu, yang paling diperhatikan Ryuuma adalah tulisan 'I'm the Witch' dengan huruf ber-style Gothic (contohnya, font judul dari anime Kuroshitsuji atau Black Buttler) di sepanjang lengan tangan itu, seakan memang sengaja ditulis disitu agar Ryuuma mengetahui bahwa ia adalah orang yang mereka kejar. Gembok-gembok hilang dengan sendirinya setelah tangan itu menyentuhnya dan pintu gerbang itu terbuka, menampakkan sesuatu yang membuat emosi Ryuuma mencapai puncaknya, yaitu teman yang ditemui Ryuuma di hari pertamanya di DCO, Damien, dipaku di tembok dalam keadaan yang menggenaskan.

"!... Da...DAMIEN...!" Ryuuma sangat terkejut dengan keadaan pc temannya itu yang sudah setengah hancur atau bahkan lebih. Bahkan Ryuuma butuh waktu beberapa saat untuk sempat mengenalinya hanya karena bandana bertuliskan 'Ignite' dengan motif kulit naga yang biasa dipakainya yang kelihatan sangat mencolok karena Ryuuma tak melihat ada pc lain yang memakai bandana seperti itu. Kali ini bandana itu tidak dipakai di kepalanya, tapi digunakan untuk menutupi kedua matanya, mungkin Digi-Witch yang sengaja memakaikannya seperti itu agar Ryuuma tak dapat bertemu pandang dengan Damien yang sudah dalam keadaan setengah mati. Ryuuma hampir tak dapat mengenalinya karena keadaan pc-nya yang tidak masuk akal. Tangan dan kakinya dipaku di dinding dengan paku yang sangat besar, malah sebesar tombak sehingga ia menggantung begitu saja, dan di perutnya terdapat beberapa pisau yang tidak dicabut setelah ditusukkan, anehnya, pisau-pisau itu, daripada 'ditusukkan', lebih seperti 'mencuat' keluar dari dalam perutnya sendiri, entah bagaimana Cadenza Locker melakukan hal yang tidak masuk akal tersebut. Hal yang paling tak masuk akal adalah, yang keluar dari luka Damien bukan data, tapi darah dan daging yang tercabik karena pisau-pisau yang menusuknya itu memiliki duri-duri besi kecil dengan jumlah yang tak terhitung banyaknya. Tangan dan kaki Damien juga sudah hancur seakan tak dapat digerakkan lagi, bahkan beberapa jarinya dipotong oleh benda tajam secara kasar. Dari mulut Damien keluar tongkat besi berduri yang kelihatannya berat dan membuatnya tak memungkinkannya untuk berbicara. Tapi walau keadaannya seperti itu, ia masih hidup, sangat jelas dari suara nafasnya yang memburu terdengar seperti orang yang sedang menahan rasa sakit yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

"KAU APAKAN DIA!?". Ryuuma ingin meneriakkan itu sekuat tenaga pada Digi-Witch itu, tapi sistem menghalanginya bertindak apapun kecuali melihat dan berpikir selagi video itu diputar. Fokus video tiba-tiba berubah ke arah tembok di atas Damien, di tembok itu ada tulisan besar yang ditulis dengan darah bertuliskan "terima kasih, aku dapat 'mainan' yang bagus" tapat saat Ryuuma melihat 'pesan' di dinding itu, Ryuuma sudah tak dapat mengontrol dirinya lagi.

Di luar pikiran Ryuuma(?):

"..." Ryuuma tak berkata ataupun bergerak selama beberapa detik.

"Oi! Ryuu-san! Oi! Jangan bengong! Jangan kau dengarkan perkataan orang itu!" Kata Raito sambil mengguncang-guncangkan Ryuuma, menginjak kakinya, mengnyikut perutnya, melemparnya ke arah Roadramon, tabrakan sama Roadramon, diinjak Roadramon, digigit Roadramon (kepalanya), tapi sama sekali tak meresponi apapun yang diperbuat kepadanya.

"...Da..mien..." Setelah sekitar 10 detik lebih, Ryuuma jatuh berlutut dengan dengan ekspresi yang bercampur antara marah, sedih, dan shock, tapi diantara semua ekspresi campuraduknya, yang paling kelihatan adalah ekspresi shock dan marah. Karena Ryuuma mulai bergerak dan bicara lagi, walau tak menunjukkan respon apapun terhadap 'tindak kriminal' mereka, maka mereka membatalkan niat mereka untuk menyuruh Chaosmon melempar Ryuuma ke langit.

"Ryuu-san! Apa kau melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada?!" Tanya Roadramon khawatir jangan-jangan pc partnernya terinfeksi virus hacker itu yang membuatnya kehilangan kewarasannya. Ryuuma lagi-lagi tak merespon dan berdiri kembali dari posisinya yang berlutut. Kali ini ekspresi Ryuuma berubah menjadi ekspresi marah sepenuhnya. Kemarahannya tak terbendung lagi dan Ryuuma lari begitu saja ke arah depan tanpa mempedulikan Raito dan Roadramon yang tertinggal dibelakang.

"Ryuu-san!" Panggil Roadramon pada Ryuuma yang sudah lari entah kemana, karena mengetahui percuma saja memanggil Ryuuma, maka ia membentangkan sayapnya untuk terbang mengejar Ryuuma yang berlari dengan kecepatan yang abnormal. Roadramon tak pernah melihat Ryuuma bergerak secepat ini.

"Sial, 'pesan' itu sampai padanya... Chaosmon! Kita kejar dia!" Kata Raito lalu Chaosmon mengangkatnya dan terbang mengejar Ryuuma dan Roadramon yang sudah didepan.

A/N: segini dulu ceritanya, mulai dari chapter ini, fic ini akan lebih serius dan lebih jalan ceritanya akan lebih dalam dan berat daripada sebelumnya.