BLACK

EXO Fanfiction

Warning: BL

Pairing: HunKai, Sehun X Kai (Kim Jongin)

Cast: Lay, Suho, Kris, Xiumin, Chen, others

Rating: T-M

Halo ini chapter sembilan selamat membaca, maaf atas segala kesalahan dan kekurangan happy reading all….,

Previous

"Aku hanya mencatatnya saja jadi kau bisa memeriksanya, sisanya tak ada yang tahu termasuk pihak Sun juga tidak tahu itu sumbangan darimu, aku memakai nama anonim."

"Ah, kau benar-benar hebat Xiumin hyung!" Sehun memekik bahagia, kemudian berdiri dan memeluk Xiumin erat, membuat pria berpipi bulat itu terkejut sekaligus sesak, ayolah, Sehun bukan anak usia delapan tahun yang imut.

"Baiklah, baiklah, aku juga senang jika kau senang, tapi tolong lepaskan kau mencekikku Sehun!" teriakan Xiumin membuat Sehun refleks mengakhiri pelukan eratnya.

"Maaf." Ucap Sehun memasang wajah tanpa dosa.

"Hah kau ini," Xiumin mulai mengeluh. "Aku bukan Pinkhu Pinkhu-mu."

"Hyung, jangan membahas itu lagi." Balas Sehun bersungut-sungut.

"Kenapa? Kau kan sangat sayang boneka merah muda itu." goda Xiumin.

"Itu di masa lalu, Pinkhu Pinkhu sudah pensiun sekarang." Xiumin hanya tertawa terbahak mendengar kalimat pembelaan Sehun. "Itu sesuatu yang ingin aku hilangkan," gerutu Sehun.

"Saat itu kau imut sekali, ah, sekarang kau benar-benar jadi pria dewasa waktu berjalan sangat cepat, aku jadi semakin tua." Sehun hanya terkikik mendengar keluhan Xiumin.

"Sudah Hyung sebaiknya kembali bekerja." Sehun memasang senyum tampan terbaiknya sambil mendorong punggung Xiumin menuju pintu.

"Kau mengusirku Oh Sehun!" Xiumin memekik kesal, Sehun hanya cekikikan kemudian menutup pintu ruangannya.

"Haaahh…," desah Sehun sembari melangkahkan kedua kakinya menuju kursinya, ia menyamankan diri dan meraih ponselnya. Membuka galeri, memandangi wajah Jongin yang ia foto diam-diam. "Kenapa aku sudah merindukanmu," gumam Sehun. "Ah!" Sehun memekik kemudian memasukan ponselnya kembali ke dalam saku kemeja, menelungkupkan tubuhnya ke atas meja kerja. "Aku terdengar seperti remaja ababil yang sedang jatuh cinta," gerutu Sehun.

BAB SEMBILAN

Jongin sedang berbaring di atas lantai kamarnya, tulisannya sudah selesai semua dan sepertinya ia harus meminta maaf kepada Sehun mengenai ending yang Sehun minta tapi tak bisa dia wujudkan, mungkin tulisan selanjutnya bisa tapi untuk ini tidak bisa. Jongin meraih ponsel dalam saku jins depannya, ia menekan tombol angka lima untuk menghubungi Sehun.

"Jongin."

"Ah! Se—Sehun." Tentu saja Jongin terkejut tak menyangka Sehun akan menjawab panggilannya secepat ini.

"Ada apa?"

"Kau sedang sibuk?"

"Hmmm, bagaimana ya, bisa dibilang sibuk bisa juga tidak, katakan ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?"

Jongin bisa merasakan wajahnya memanas, perhatian Sehun benar-benar terlalu berlebihan menurut Jongin, namun dada Jongin menghangat menerima semua perhatian itu. "Aku sudah menyelesaikan tulisanku, tapi maaf, akhirnya tidak bahagia.

"Ahhh…, apa tidak bisa diusahakan?"

"Tidak bisa, dari awal plot ceritanya seperti ini, ini kan sekuel kalau tidak nyambung pembaca bisa bingung."

"Lalu kau punya rencana lain?"

"Ya, aku akan mencoba untuk menulis cerita baru yang ringan dan berakhir bahagia."

"Itu terdengar bagus, maaf aku harus mengakhiri pembicaraan kita, aku senang kau menghubungiku, setelah rapat selesai aku akan menghubungimu. Oke?"

"Oke."

"Aku mencintaimu."

Jongin tertawa pelan, namun mendengar Sehun sepertinya menunggu balasan darinya, dengan menahan malu dan gugup Jongin membalas Sehun. "Aku juga mencintaimu." Sambungan telepon berakhir, Sehun yang mengakhirinya, laki-laki itu benar-benar sibuk sepertinya.

Dan Jongin merasa tak berguna sekarang hanya berbaring di atas lantai, tapi tadi malam dia sudah begadang jadi tak masalah sedikit bersantai. Jongin meletakan ponselnya ke atas dada, merasakan detak jantungnya yang berpacu.

"Selamat siang Jongin."

"Ah Lay hyung!" Suara Lay membuat Jongin terkejut pasalnya ia tak mendengar suara langkah kaki, Jongin langsung bangkit dan duduk. "Belum berangkat bulan madu?!"

"Besok, aku ke sini menemani Suho mengambil beberapa barang."

"Aku juga ingin berbicara denganmu." Suara Suho terdengar, dan dia jelas-jelas memotong kalimat Lay. Lay menyentuh pelan lengan kanan Suho mencoba menenangkan Suho yang terlihat sedang emosi. "Jongin." Panggil Suho.

"Ya?"

"Kau dan Sehun menjalin hubungan spesial."

"Ya." Jongin membalas singkat.

"Apa kau yakin Sehun orang yang baik untukmu?"

"Menurut Lay hyung bagaimana? Sehun kan adik Lay hyung pasti Lay hyung tahu sedikit banyak tentang Sehun."

"Sehun orang yang baik, dia selalu serius dan tidak pernah main-main." Lay menjawab pertanyaan Jongin.

Suho berjalan ke hadapan Jongin, dan duduk di hadapannya. "Jongin, Hyung tak ingin kau terluka lagi."

Jongin tersenyum kemudian kedua tangannya terjulur dan bergerak mencari tangan Suho, setelah menemukannya ia genggam erat kedua telapak tangan sang kakak. "Terimakasih Suho hyung, kau adalah kakak terbaikku tapi aku tidak bisa selamanya menutup diri, aku akan mencobanya lagi dan jika kali ini aku akan terluka lagi," Jongin menyungging seulas senyum kembali. "Hidup tak selalu menyenangkan bukan?"

"Jongin…," bisik Suho kemudian memeluk tubuh sang adik dengan erat. "Semoga kau bahagia bersama Sehun."

"Terimakasih Hyung."

.

.

.

"Mau jus mangga?" Xiumin melangkah memasuki ruangan Sehun dengan dua kotak jus di tangannya.

"Terimakasih Hyung." Xiumin tersenyum sambil menyerahkan salah satu kotak jus kepada Sehun. Sehun bergegas mencicipi jus mangga pemberian Xiumin. "Ini enak."

Xiumin duduk di meja kerja Sehun. "Rapat yang melelahkan," keluhnya.

"Jika kita tidak bersahabat, dan kau tak kuanggap sebagai kakakku pasti sekarang kau sudah kupecat Hyung." Xiumin hanya tersenyum lebar menanggapi kalimat Sehun.

BRAK! Pintu ruangan Sehun dibuka dengan keras, dua orang menyebalkan masuk, Chen dan Kris. BRAK! Pintu kembali ditutup dengan cara yang sama seperti tadi. "Hyung." Sehun memanggil keduanya dengan nada memberi peringatan.

Chen tak menghiraukan dia berlari menghampiri Sehun sementara Kris terlihat sedang berjaga di depan pintu. "Ada apa?" Sehun jadi panik sendiri melihat kelakukan dua sahabat yang ia anggap kakak laki-lakinya sendiri itu.

"Penyihir itu datang ke sini." Ucap Chen dengan gugup.

"Oh tidak!" pekik Xiumin tertahan. "Sehun?" Xiumin melirik Sehun.

"Aku tidak peduli dengannya."

Pintu terdorong, Kris menahannya tentu saja kekuatannya lebih besar dibanding seseorang yang mendorong dari luar. "Lepaskan Hyung." Kris menuruti permintaan Sehun ia lepaskan knob pintu dan berjalan mundur.

"Sehun."

"Apa yang kau inginkan?"

"Apa seperti itu caramu bicara pada ibumu." Sehun memutar kedua bola matanya jengah, ia menggaruk belakang kepalanya. "Sehun!"

"Ibuku nyonya Oh bukan nyonya Zang." Balas Sehun tanpa beban.

"Kalian bertiga tolong keluar." Perintah sang mantan nyonya Oh meminta Chen, Kris, dan Xiumin meninggalkan ruangan Sehun.

"Apa yang Anda inginkan?" Sehun menatap sang Ibu dengan kedua tangannya terlipat di depan dada, dan jangan lupakan dimana dia duduk, di atas meja, benar-benar sikap yang tak patut diterima.

"Kau dan adik Suho menjalin hubungan spesial."

Sehun mengatupkan rahangnya kuat-kuat. "Darimana Anda tahu soal itu?"

"Lay, Lay mendengarnya langsung dari Suho, dan Suho pasti mendengar langsung dari Jongin atau siapa anggota keluarganya yang lain."

"Ah." Sehun menjawab singkat.

"Jauhi Jongin dia tak baik untukmu dan keluarga kita."

"Tidak."

"Apa kau pernah mendengar jika buta sejak lahir bisa menurun, Ibu tidak menginginkan keturunan yang cacat."

"Apapun yang Anda katakan tak akan mengubah pemikiran saya."

"Ibu akan membuatmu menjauhi Jongin."

"Saya akan menghancurkan kehidupan Anda, bagaimana? Terdengar adil bukan?"

"Kau tak akan berani melakukannya Sehun kau tak bisa berbuat sesukamu, kau menolak tinggal bersama, menolak mengganti marga, kali ini berhentilah bermain-main!"

"Anda salah orang jika mengira saya menyetujui perintah Anda, nyonya Zang sebaiknya Anda pergi sebelum saya memanggil petugas keamanan gedung."

"Jaga bicaramu!" bentak ibu Sehun murka.

"Jaga bicara Anda juga."

"Kau! Dasar anak tidak tahu diri!" bentakan itu kemudian diriingi dengan suara bantingan pintu yang keras.

Sehun menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan untuk menekan amarahnya. Ia raih ponselnya dan menghubungi Jongin. "Halo, Jongin, apa kau punya waktu?"

"Ya, ada apa Sehun?"

"Aku ingin mengajakmu menginap di rumahku aku benar-benar kesepian."

"Sehun…," Jongin terdengar ragu, Sehun merutuk dalam hati pasti Jongin salah tangkap dengan maksudnya.

"Maksudku dengan menginap adalah kita hanya berbicara kau tidur di kamar tamu, ya, seperti seorang sahabat atau teman baik."

"Hmmm, baiklah tapi aku tidak yakin kau akan dapat ijin."

"Aku akan mencobanya jika tak diijinkan aku yang akan menginap di rumahmu bagaimana?"

"Tak masalah, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"

"Tidak, aku hanya ingin memiliki teman bicara."

"Baiklah aku tunggu, sampai nanti Sehun."

"Ya, sampai nanti Jongin."

Sehun mengakhiri sambungannya dengan Jongin, ia memijit pelipisnya tiba-tiba merasa pening. Ini sangat menyebalkan kenapa ibunya terus saja menjadi bayang-bayang padahal sudah jelas ia katakan jika dirinya tak mau berhubungan dengan keluarganya lagi. Sehun meraih jasnya dari gantungan dan berjalan cepat meninggalkan ruangan kantornya.

Dia hanya melambaikan tangannya pada Xiumin ketika mereka tak sengaja berpapasan, tanpa mengatakan apapun, Sehun yakin Xiumin mengerti apa yang ia rasakan, dirinya paling dekat dengan Xiumin setelah Lay tentu saja.

.

.

.

"Nyonya, lama sekali tak bertemu dengan Anda."

"Selamat sore Irene kau semakin cantik."

"Terimakasih, tapi Anda lebih cantik."

"Duduklah, Nak. Ingin memesan sesuatu?"

Gadis muda berparas menawan dengan rambut ikal sepunggung berwarna cokelat muda itu tersenyum manis sambil meraih buku menu. "Teh chamomile ."

"Pilihan yang bagus." Jawab nyonya Zang atau dulu adalah nyonya Oh. Beliau memanggil pelayan menyebutkan pesanan dengan gaya bicara anggun nan menawan.

"Saya akan segera kembali Nona-Nona," ucap sang pelayan pria itu dengan nada ramah disertai senyuman yang sedikit menggoda.

"Anda sangat cantik buktinya pelayan tadi memanggil Anda dengan sebutan Nona."

"Ah kau lebih cantik Irene, tapi terimakasih untuk pujianmu."

Irene tersenyum. "Jadi ada apa Anda mengundang saya ke tempat yang nyaman ini nyonya Zang?"

"Hmmm, apa kau masih menyukai Sehun?"

"Apa?!" tentu saja Irene terkejut bukankah dulu nyonya Zang sangat tidak suka dengan hal itu, Irene adalah pelanggan setia butik nyonya Zang dan saat dirinya mengutarakan ketertarikannya pada sang putra, nyonya Zang atau yang dulu masih dipanggil sebagai nyonya Oh melarangnya mendekati Sehun.

"Apa kau masih menyukai Sehun?"

"Apa maksud Anda…,"

"Jawab saja."

"Ya, Nyonya, tapi Anda melarang saya."

"Itu karena Sehun belum menyelesaikan sekolahnya, sekarang dia sudah sukses dan kupikir sudah saatnya Sehun berkeluarga."

"Anda memberi saya restu?" jawaban yang Irene inginkan tertunda saat pelayan datang mengantarkan minuman yang mereka pesan.

Nyonya Zang menyesap teh putih yang beliau pesan. Setelah puas dengan tehnya, ia tatap lekat-lekat wajah penuh harap Irene. "Ya, aku merestuimu."

"Terimakasih banyak nyonya Zang."

"Tentu, tentu Irene."

.

.

.

Jongin tak menyangka jika ayah dan ibunya memberinya ijin untuk menginap di rumah Sehun. Mungkin jika Suho masih berada di rumah, dia akan menolak keras, Suho dan Lay sudah pulang ke rumah mereka untuk menyiapkan semua sebelum keberangkatan mereka ke Bali esok hari. Jongin tak tahu apa itu keberuntungan atau justru sebaliknya.

"Jongin kau menginap di rumah Sehun untuk berapa hari?"

"Maksud Ibu apa?!" Jongin tentu saja terkejut dengan pertanyaan konyol seperti itu. "Tentu saja semalam."

"Sehun?" Jongin berharap tanah terbelah dan menelannya, kenapa ibunya harus bertanya lagi kepada Sehun.

"Itu terserah Jongin, Nyonya Kim."

"Baiklah untuk semalam."

"Jaga Jongin, Sehun." Ucap sang kepala keluarga Kim.

"Tentu Tuan. Ayo Jongin."

Jongin tak membawa Monggu, ia tak mau jika Monggu membuat masalah dan merepotkan Sehun lagipula jika membawa Monggu dia harus memikirkan kesejahteraan Monggu dengan memberinya makan. Sehun membukakan pintu untuk Jongin dan membantunya masuk, melipat tongkat Jongin sementara Jongin mengenakan sabuk pengamannya.

Jongin terdiam memperhatikan semuanya, mendengarkan suara mesin mobil Sehun, merasakan bagaimana mobil itu bergerak pelan. Sehun tak mengatakan apa-apa membuat Jongin semakin yakin, jika perasaan Sehun sedang tidak baik sekarang. "Sehun kau baik-baik saja kan?" Jongin tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

"Ya, aku baik-baik saja. Kau belum makan malam?"

"Sudah."

"Sayang sekali aku ingin memesan ayam goreng untukmu."

"Kau belum makan malam?"

"Sudah, tapi aku berencana untuk makan malam bersamamu."

"Lain kali saja." Ucap Jongin kemudian tersenyum, sebuah senyum permintaan maaf.

"Kau bisa bercerita padaku jika ada yang mengganjal hatimu."

"Tentu, aku akan bercerita padamu."

Jongin hanya tersenyum, bahagia mendengar suara Sehun yang terdengar lebih baik. Ia tak akan memaksa Sehun untuk bercerita, jika Sehun memang tak menginginkannya.

"Ibuku datang ke kantor tadi, itu yang membuat suasana hatiku buruk. Aku dan ibuku tak memiliki hubungan yang baik, karena ibuku sangat egois dan selalu bersikap menyebalkan."

Jongin hanya diam, ia tak bisa memberi saran untuk masalah ini, sebab ia belum pernah memiliki hubungan yang buruk dengan keluarganya. "Kurasa suasana hatiku akan membaik, karena kau." Jongin hanya menundukan kepalanya mendengar ucapan Sehun, wajahnya kembali memanas ia jengkel kenapa Sehun selalu berhasil membuatnya tersipu dan membuat dirinya seperti remaja labil. Padahal seandainya Jongin tahu, ia juga melakukan hal yang sama kepada Sehun.

Sesampainya di halaman rumah Sehun, sang pemilik bergegas keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang, membantu Jongin turun dan menuntun Jongin mendekati tangga beranda rumahnya. "Tunggu di sini aku akan mengunci pagar dan memasukan mobil ke garasi, hanya sebentar." Jongin mengangguk pelan. Sehun berlari mengunci pagar rumah kemudian masuk ke dalam mobil menyalakan mesin dan membawa mobilnya memasuki garasi.

Jongin menggerak-gerakan kaki kanannya, memainkan kerikil di bawah sepatunya. Ia menoleh ke arah sumber suara saat ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. "Ayo." Ucapan Sehun diiringi dengan genggaman Sehun pada tangan kiri Jongin.

"Sehun!" Jongin memekik saat Sehun membantunya melepas mantel musim gugur yang ia kenakan.

"Kau tamuku." Balas Sehun, kedua mata Sehun masih mengawasi Jongin yang kini sedang melepas sepatunya, ia tersenyum saat Jongin berhasil menemukan letak rak penyimpanan sepatu dan sandal rumah dengan mudah, Sehun merasa seperti orangtua yang senang melihat anaknya berhasil melakukan hal baru. "Kau mau langsung tidur?"

"Tidak."

"Bagaimana jika kita mengobrol di ruangan serbaguna?" Jongin hanya mengangguk membalas pertanyaan Sehun. Sehun berjalan di belakang Jongin, memperhatikan Jongin yang bergerak ke arah yang tepat, rupanya Jongin mengingat rumahnya dengan baik. Sehun meletakan mantel musim gugur Jongin ke atas sofa, ia duduk di atas karpet menyusul Jongin yang sudah duduk menunggunya. "Mau melihat sesuatu di televisi, ah maksudku….,"

Jongin tersenyum menanggapi kegugupan Sehun. "Maaf Jongin bukan maksudku…,"

"Tak apa Sehun, aku suka dengan Chelsea, aku biasa menonton pertandingan mereka bersama ayahku, tapi hari ini tak ada jadwal pertandingan Chelsea."

"Jadi apa yang ingin kau saksikan?"

"Terserah saja."

"Aku tidak biasa menonton televisi, waktu luang biasanya aku tidur atau main game, sejujurnya aku juga tidak tahu acara apa yang menarik." Jongin tertawa pelan mendengar penjelasan Sehun. "Kau suka musik? Mungkin kita bisa mendengar musik, atau apa kau bisa bernyanyi?"

"Bernyanyi? Tidak, aku tidak bisa bernyanyi suaraku tidak bagus."

"Aku bisa bermain gitar, kurasa suaramu lebih bagus dibanding aku. Suaraku mirip kucing tercekik."

Jongin tertawa terbahak mendengar ucapan Sehun yang menyebut suaranya dengan perumpamaan kucing tercekik. "Ternyata kau lucu juga!" Pekik Jongin. "Suaramu bagus kok."

"Kau tidak sedang berpura-pura kan? Untuk menjaga perasaanku?" Sehun melihat Jongin dengan ekspresi berusaha keras untuk menahan tawa. "Sudah jujur saja."

"Bukan kucing tercekik, tapi lebih baik kau tidak usah menyanyi saja."

"Hahaha," tawa mengejek Sehun terdengar. "Akhirnya kau bicara jujur juga padaku."

"Maaf, apa kau marah?"

"Tidak, kenapa harus marah kenyataannya memang seperti itu. Jika suaraku bagus, seluruh dunia pasti iri padaku karena aku sangat sempurna."

"Sombong sekali." Ejek Jongin dan Sehun hanya nyengir mendapat ejekan dari sang kekasih.

"Kau mau susu cokelat? Itu akan membuat tidurmu lebih nyenyak nanti."

"Aku bukan anak kecil."

"Siapa bilang susu hanya untuk anak kecil." Sehun membalas kemudian diiringi tawa pelannya. "Kau mau?"

"Tidak, perutku akan terlalu kenyang nanti."

"Ah, jus mau? Jus anggur?"

"Iya."

Sehun bergegas mengambil botol jus yang ia ambil dari dalam kantong plastik, dia sempat berbelanja tadi namun belum sempat untuk mengeluarkan dan menata semua barang yang ia beli. Sehun bergegas kembali kembali dua botol jus di tangannya. "Ini." Sehun menyerahkan botol jus kepada Jongin, Jongin menerimanya namun meletakan botol jus itu di dekat tubuhnya. "Kau belum haus?"

"Belum." Jongin membalas singkat.

"Hmmm." Sehun menggumam selanjutnya ia melakukan hal yang sama dengan Jongin, meletakan botol jusnya. "Sebaiknya kita bernyanyi saja, setelah lelah kita pasti cepat mengantuk."

"Kau yang bernyanyi."

"Suaraku jelek!" pekik Sehun, Jongin hanya tersenyum. "Suaraku benar-benar jelek."

"Kau yang bernyanyi." Putus Jongin, atau lebih tepatnya memaksa.

"Ah, baiklah," Sehun menyerah. Ia ambil gitar akustik yang memang selalu berada di dekat sofa. "Lagu apa ya…," Sehun menggumam.

"Terserah saja, akan aku dengarkan."

"Baiklah lagu itu."

Sehun cukup baik memetik gitar, ah tidak, bahkan dia sangat baik dalam memainkan gitar. Jongin tersentak mendengar lagu yang Sehun nyanyikan, suara Sehun cukup bagus menurut Jongin. Memang, tak bisa dibandingan dengan penyanyi aslinya tapi Sehun bernyanyi dengan baik dan lagu yang dipilihnya membuat Jongin terpana.

"I don't know why, this unconditional emotion , did I ever imagine? Next to me, you shine more brightly as I become a better guy. I lost my mind, the moment I saw you. Except you, everything get ini slow motion. Tell me, if this is love. Sharing and learning countless emotions everyday with you. Fighting, crying, and hugging. Tell me, if this is love….."

Jongin masih diam ketika Sehun menyelesaikan seluruh lirik lagu What is love. "Apa telingamu baik-baik saja?" canda Sehun.

"Ah!" Jongin tersentak. "Ya, semuanya baik-baik saja, kurasa suaramu cukup bagus."

"Sudahlah Jongin jangan pura-pura demi menjaga perasaanku."

"Kalau tidak percaya ya sudah, aku berkata jujur bukan untuk menjaga perasaanmu."

"Baiklah, baiklah, berapa usiamu tahun ini?"

"Dua puluh satu tapi umur Korea dua puluh dua."

"Kita seumuran!" Sehun memekik, Jongin hanya mengerutkan dahi. "Kenapa ada yang aneh?"

"Pertama bertemu kau sangat dingin dan depresi sekarang kau banyak tertawa dan konyol."

"Kau juga sama." Keduanya terdiam, mengamati wajah masing-masing, ah tidak, hanya Sehun yang mengamati wajah Jongin. Mata hitam bulat itu, Sehun berharap kedua mata itu bisa melihatnya. "Mungkin—kita memang harus bertemu." Bisik Sehun, dengan suara teramat pelan.

Jongin ingin tertawa dan mengejek Sehun tentang ucapannya yang terlalu murahan dan konyol, namun kalimat lain justru keluar dari bibirnya. Kalimat tepat yang seharusnya memang ia ucapkan. "Ya, kita mungkin harus bertemu."

"Ah!" Sehun tersentak.

"Ada apa?!" Jongin dengan jelas mendengar kepanikan Sehun.

Sehun cepat-cepat berdiri dengan ponsel di tangannya, listrik padam dan dia berniat untuk mencari lilin. "Tidak ada apa-apa hanya…," Sehun menghentikan maksudnya untuk memberitahu Jongin. "Hanya aku yang teringat sesuatu, tapi bukan hal penting." Dusta Sehun, ia kembali duduk di samping Jongin.

Seluruh rumah benar-benar gelap, tak ada penerangan, bulan purnama memang bersinar di luar namun kedua mata Sehun belum terbiasa dengan cahaya bulan yang tak seberapa itu, yang memasuki rumahnya lewat lubang-lubang ventilasi. Tangan kiri Sehun bergerak mencari telapak tangan Jongin. Setelah ia menemukannya ia genggam erat telapak tangan itu. Sehun memejamkan kedua matanya, apa ini yang Jongin rasakan hampir di sepanjang hidupnya?

"Sehun apa kau baik-baik saja?" Jongin merasakan genggaman tangan Sehun yang semakin menguat.

"Ya, aku baik-baik saja. Aku hanya—hanya sangat bahagia kita bertemu." Sehun membuka kedua matanya, ia menoleh ke kanan memperhatikan sisi kanan wajah Jongin, kedua matanya sudah mulai terbiasa dengan kegelapan yang sedikit diterangi oleh sinar bulan dari luar. Perlahan Sehun menarik tangan kanan Jongin, membawa Jongin ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu," bisik Sehun.

Jongin tersenyum dan membalas pelukan Sehun. "Aku juga mencintaimu."

Sehun mempererat pelukannya, menghirup aroma tubuh Jongin yang manis, dadanya benar-benar penuh oleh berbagai perasaan yang ia rasakan terhadap Jongin. Perasaan yang selama ini belum pernah ia rasakan kepada Lay, atau nama-nama lain yang pernah singgah di hatinya. Sehun melepaskan pelukannya, menatap wajah Jongin lekat-lekat. "Listriknya padam Jongin, aku tidak memiliki lilin jadi kurasa sebaiknya kita tidur saja. Kau juga terlihat sudah lelah."

"Apa kau tidak apa-apa berjalan di tengah kegelapan? Darimana kau tahu aku sudah mengantuk?"

"Aku mulai terbiasa dengan sedikit cahaya bulan dari luar, asal tebak saja, apa kau benar-benar sudah mengantuk?" Jongin mengangguk pelan. Sehun meraih ponselnya untuk melihat pukul berapa sekarang. "Wow, sudah pukul sebelas malam!" Sehun memekik pelan.

"Aku sering tidur lewat tengah malam."

"Tidak, aku tidak mau melihatmu sakit lagi."

"Kalau Sehun yang sakit, siapa yang merawatmu? Kau kan tinggal sendirian?"

"Aku punya banyak teman, terkadang Lay hyung datang tapi lebih sering Xiumin hyung yang datang."

"Kalau begitu jangan sakit lagi, sakit itu tidak menyenangkan."

"Baiklah, aku tidak akan sakit lagi." Balas Sehun diiringi oleh sebuah senyuman. "Aku antar kau ke kamar."

"Tidak, aku bisa sendiri, listriknya belum menyala aku tidak mau kau terbentur atau tersandung sesuatu karena gelap. Aku sudah hapal semua ruangan dan barang-barang yang ada di rumahmu, aku terbiasa dengan kegelapan." Jongin mengucapkan kalimat terakhirnya dengan perlahan.

"Selamat tidur Jongin," bisik Sehun, ia mengamati wajah Jongin kembali kemudian mengecup kening Jongin lembut. "Tidurlah yang nyenyak."

"Kau juga Sehun, tidurlah yang nyenyak."

Sehun memperhatikan Jongin yang berdiri, menggunakan tongkatnya sebagai penunjuk arah, kemudian berjalan pergi menjauhinya. Bersamaan dengan suara pintu kamar yang tertutup, listrik kembali menyala, Sehun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang terasa sedikit nyeri karena cahaya terang yang tiba-tiba. Sekarang, ia bisa melihat semuanya dengan jelas kembali. Berbeda dengan Jongin yang masih terkurung di dalam kegelapan entah sampai kapan.

.

.

.

"Hai Jongin, kau sudah mandi sepertinya?"

"Ya."

"Duduklah aku sudah menyiapkan sarapan, maaf aku hanya bisa menggoreng telur."

"Tak masalah aku bisa memakan apa saja." Sehun tertawa pelan mendengar jawaban Jongin.

"Setelah ini kau kuantar pulang ya, aku harus bekerja."

"Hmmm."

"Kau baik-baik saja kan?"

"Tentu Sehun." Jongin mengangkat kepalanya untuk tersenyum meyakinkan Sehun bahwa dirinya baik-baik saja.

"Aku akan menghubungimu, dan mungkin kita bisa jalan-jalan bersama, dalam waktu dekat aku ingin mengambil libur sehari." Jongin hanya diam mendengarkan, Sehun meletakkan dua telur dadar ke atas dua piring menyajikannya kepada Jongin bersama dengan segelas jus apel.

"Terimakasih banyak." Ucap Jongin.

"Bagaimana tidurmu?"

"Aku tidur dengan nyenyak."

Sehun tertawa pelan mendengar jawaban Jongin. "Berarti kau sudah merasa nyaman berada di rumahku." Jongin hanya tersenyum mendengar kalimat Sehun. Sehun memperhatikan Jongin memakan sarapannya, tanpa sadar Sehun tersenyum ia tak mengerti kenapa Jongin membuatnya merasa bahagia tanpa perlu melakukan apa-apa.

Jongin sedikit terperanjat saat Sehun menyentuh sudut bibir kanannya. "Ada sisa minyak di sana." Terang Sehun, Jongin hanya mengangguk pelan.

Kebahagiaan itu sederhana, kebahagiaan itu bergantung pada diri sendiri, mungkin mulai sekarang Sehun mulai percaya dengan hal itu. bahagia itu sederhana, saat dirinya berdekatan dengan Jogin, rasa bahagia itu muncul. "Kau sudah selesai?"

"Ya."

"Baiklah, aku juga sudah siap untuk bekerja, aku ingin kita menghabiskan waktu lebih lama lagi." Jongin tertawa pelan mendengar kalimat Sehun. Tentu saja ia ingin melakukan hal yang sama dengan Sehun, tapi Sehun memiliki kehidupan dan kewajiban lain begitupun dirinya, keduanya tahu untuk tidak bersikap egois.

Sehun memperhatikan Jongin mengenakan mantel musim gugurnya, dan membenahi letak ransel yang ia bawa. "Ayo." Sehun berucap sembari menggandeng tangan kanan Jongin. "Aku ingin menggenggam tanganmu." Jelas Sehun setelah melihat ekspresi wajah Jongin yang sedikit bingung, karena dia memang terbiasa menggunakan tongkatnya dengan tangan kanan.

"Baiklah," Jongin berbisik membalas ucapan Sehun. Ia urungkan niatnya untuk membuka tongkat lipatnya, ia biarkan Sehun menggenggam tangan kanannya yang tak terlindung sarung tangan.

Lima belas menit adalah waktu normal yang diperlukan untuk mencapai kediaman keluarga Kim. Seperti biasa Sehun akan turun terlebih dulu dan bergegas membantu Jongin. "Terimakasih sudah menemaniku tadi malam."

"Hmm."

Sehun tersenyum lembut mengamati wajah Jongin. Cepat-cepat Sehun lepas syal abu-abu yang melingkari lehernya kemudian melingkarkan syal itu pada leher Jongin. "Sehun," gumam Jongin bingung.

"Udara semakin dingin, syalnya akan membuatmu merasa lebih hangat, semoga harimu menyenangkan Jongin."

"Kau juga, Sehun."

"Masuklah."

"Kau tidak akan pergi sebelum aku masuk?"

"Ya." Jongin terkekeh pelan mendengar jawaban Sehun. "Masuklah."

"Baiklah, baiklah, kau benar-benar pemaksa." Gerutu Jongin. Jongin memutar tubuhnya dan berjalan pelan menggunakan tongkatnya melintasi halaman rumahnya, Sehun berdiri mengamati, memastikan semuanya baik-baik saja.

Sebuah senyuman terukir di wajah Sehun ketika Jongin sudah masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. "Sampai jumpa," bisik Sehun, langit musim gugur terlihat cerah, Sehun bergegas memasuki mobilnya dan pergi setelah Jongin kembali bersama keluarganya dengan keadaan baik.

TBC

Terimakasih untuk para pembaca sekalian yang telah meluangkan waktu membaca cerita saya, terimakasih untuk Guest, aliyya, alv, troalle, kikirizky, Guest, ariska, OhSooHwa, cute, Kayobimikirou, Vioolyt, Wiwitdyas1, nandaXLSK9094, ucinaze, laxyvords, .39, vipbigbang74, SekaiIsWorld, utsukushii02, milkylove0000170000, KaiNieris, Ovieee, Park Jitta, Kamong Jjong, dhantieee, geash, Fyuhana, yuvikimm97, jjong86, sejin kimkai, Kim Jonghee, sitiayse89. atas review kalian. Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya.