It's time to reply the reviewes :
Guest TiffanyYuki : ya ampun di panggil senpai. Sagaa-chan masih awam .. makasih udah review, n di tunggu reviewnya lagi ya?
sasusak Uciha : Hehe iya Gomen2 Saku jadi nyebelin ya? Hn Shion ama Gaara emang berperan gitu di fic ini. hehe maaph ya?
MewMewMeoong : Hn, semoga saja. Hehe.. :D
Hanazono Yuri : ini sudah update..
Sasusaku Uciha : Saku ama Sasu udah baikan kok.. hehe :D
Namiiko-chan : Penasaran ya? Hehe :D
Ah Rin : ini saiiya sudah update lagi. :D
Fira Sasusaku : waduh iyakah? Jadi kepedean ni saiiya. (udah keberatan buat nyangga kepala) ini sudah update. Jangan lupa review ya?
Tsurugi De Lelouch : wah senpai perhatian banget. Hihihi selalu banyaaak kurangnya ya? Tolong bantu saiiya buat membenahi biar lebih bagus. Nah untuk chap ini mohon ada progress kah? #nunduk nunduk :D
angodess : Iya angodess-san. Waduh jangan marah2 dong. Author jadi takut ni. Di chap ini mereka udah baikan kok. So jangan marah ya angodess :D
sasusaku kira : wah jawabannya ada di chap ini. n Sasori ama Sakura bukan "Saudara kandung" ya semoga dapatdi mengerti isinya. Coz chapter ini baru selesai tadi malam,eh pagi jam 2. #sekarang saga-chan nguantuk bangeet. Reviews lagi ya?
Azakayana Yume : ini sudah lanjut :D
LeEdacHi aRdian Lau : wah LeEdacHi-san gak suka konflik ya? Gimana ya? Sagaa-chan emang tipe orang yang suka konflik sih. Tapi di chap ini mereka udah baikan kok. Gomen ya? :D
EvaCancer : Hn, makasih udah suka n baca fic GaJe author ini. hehe.. ini udah update. Reviews lagi ya?
Chayesung : Yaeee progress donk..? kalo shion ada waktunya sendiri buat di musnahin. Tungguin aja ya? N jangan lupa reviews.. :D
Yosh udah selesai bales reviews so sekarang waktunyaaaaa…
Happy Reading :D
LAST CHAPTER
'Kau yang membuatku begini Sasuke-kun. Gomen.'
BUUAGKK
Sasuke yang tersulut emosinya meninju tembok yang berada dekat dengannya.
"Kuso!"
'Siapa lagi dia?! Dan kenapa Sakura kelihatan begitu dekat dengan pemuda tadi? Cium? Bahkan Sakura terlihat biasa di cium oleh pemuda itu! Sakura, ada apa dengan mu?' Batin Sasuke merancau karena pikiran yang kalut.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Warnings : OOC (maybe), Typo(s), etc.
You Hate It, Don't Read and Please Leave This Page
CHAPTER 9
The Clarity of Our Feeling
"Siapa pemuda tadi?" Tanya Sasori memecah keheningan dalam mobilnya.
"…"
"Hey, Saku-chan jawab jika ada orang bicara." Kata Sasori kesal saat tak mendengar debuah kata meluncur sebagai jawaban dari bibir mungil gadis di sebelahnya.
"Orang menyebalkan." Jawab singkat Sakura yang tetap pada posisinya melihat kea rah luar jendela.
"Pantat ayam?" Tanya Sasori lagi dengan nada sedikit remeh guna menggoda adik tersayangnya.
"Hn"
"Dia kelihatannya pemuda yang baik. Dan sepertinya dia sangat mencintaimu Saku." Kata Sasori yang terdengar sedikit serius.
"Kau tak tahu apa-apa. Dia pemuda menyebalkan yang suka sekali di kelilingi oleh gadis-gadis kecentilan. Dan aku muak dengan itu." kata Sakura seraya melihat gelang di tangannya.
"Jadi sejak kapan kalian menjalin hubungan? Tak ku sangka gadis monster berjidat lebar sepertimu bisa mendapatkan pemuda dengan tampang cukup lumayan seperti itu? hah, tapi aku jauh lebih keren di banding dia. Hahah.." kata Sasori mencari bahasan guna sedikit menghibur suasana hati adiknya itu.
"Apa kau bilang? Gadis monster berjidat lebar? Akan ku botaki rambut mu itu! Dan ingat Saso-nii, Sasuke-kun jauh lebih tampan dan keren dari pada kau." Balas Sakura dengan mencubit keras pipi Sasori.
"Aaaakhh. Ittai! Jadi kau memang benar – benar mencintainya ya? Wah Saku-chan ku kini telah beranjak menjadi gadis yang dewasa rupanya?"
"Tentu saja dan aku akan menjadi gadis yang paling anggun dan cantik. Yah, Sasuke-kun kini menempati suatu tempat di dalam sini. Dan sangat sakit melihatnya bersama gadis lain."kata Sakura seraya meremas seragamnya di bagian dadanya.
"Wah, itu berarti kau cemburu Saku-chan" jelas Sasori dari penyataan Sakura tadi.
"Cemburu?"
"Hn, benar"
"Tapi, dialah yang membuatku bisa tertawa, tersenyum dengan setulus hati selain kau Saso-nii. Aku tak tahu kenapa, aku tak ingin jauh darinya."
"…"
"Walau memang sering aku mengacuhkannya, tapi sebenarnya aku ingin dia terus perhatian dan berada dekat di sampingku. Dia selalu membuatku aman,nyaman dan kehangatan tubuhnya mampu menenangkanku di saat aku benar-benar pada puncak emosi ku." Lanjut Sakura.
"Saku-chan?" mengerti bahwa adiknya kini tengah meluapkan apa yang ia rasakan.
"Perlahan tapi mampu ku rasakan, dia sedikit demi sedikit mengubahku menjadi diri ku yang sebenarnya. Diriku sebelum kejadian menakutkan dalam hidupku. Diriku saat pertama kali bertemu dengannya 10 tahun lalu." Ucap Sakura yang terdengar sangat sendu.
"Jadi sebelumnya kau pernah bertemu dengannya?"
"Hn, tepat di hari Kaa-san dan Tou-san pergi dari dunia ini,"
'Apa artinya ini? Sakura, apakah sudah terjalin benang merah antara kau dan pemuda itu sebagai takdir kalian untuk bersama?' batin Sasori
"Jadi kau harus mempertahankannya" kata Sasori dengan sebuah senyum di wajahnya.
"…"
'Sakura, apa kau tahu siapa pemuda yang telah merebut hatimu itu? dia adalah Uchiha. Apa kau akan tetap mencintainya jika kau tahu keluarganya lah yang telah membantai keluargamu. Dan jika benar dialah yang telah mengembalikan senyummu, maka tak akan ku biarkan kau mengetahui siapa yang membantai orang tuamu. Egois memang. Tapi semua akan ku lakukan demi kebahagiaan adik ku tersayang' batin Sasori.
.
.
.
"Teme, apa kau baik-baik saja?" Tanya Naruto yang kini telah berada di belakang Sasuke yang tadi sempat ia kejar.
"Dobe, apa kau tahu di mana rumah Sakura?" Tanya Sasuke yang masih dengan wajah masam serta mata yang masih merah.
"Eh? Ku kira kau sudah sering ke rumahnya, kalian kan sepasang kekasih?" Tanya balik Naruto yang bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu dengan wajah berpikir keras khas Naruto.
'Masak iya mereka udah pacaran tapi si Teme gak tau rumah Sakura-chan?' batin Naruto
"Tidak. Hah, akan ku cari tahu nanti. Aku ingin pulang mengistirahatkan badanku serta otakku yang mendidih"
"Mau ku antar? Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja?" tawar Naruto khawatir melihat kondisi sahabatnya kacau seperti itu.
"Tidak perlu Dobe, lebih baik kau bantu aku mencari alamat Sakura. Tolong tanyakan pada Hinata atau Ino. Aku pergi dulu." Kata Sasuke seraya pergi meninggalkan Naruto.
"Hn, hati-hati"
.
.
.
"Saku-chan, apa kau ingin cepat pulang?" Tanya Sasori pada gadis merah muda di sebelahnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang ia lewati.
"Kenapa?"
"Aku ada janji dengan sahabatku. Kebetulan tadi dia telepon aku dan sepertinya hari ini aku tidak ada kegiatan jadi aku iyakan saja. Apa mau ku antar kau pulang dulu?" jelas Sasori.
"Tak apa. Aku sedang malas di mansion. Aku akan ikut denganmu." Jawab Sakura.
"Baiklah."
.
.
.
Kedua nya kini tiba di sebuah kafe yang tak asing bagi Sakura. Ya Sakura pernah mengunjungi kafe ini sekali bersama Gaara. Dan memang suasana kafe ini sangatlah nyaman.
"Sasori," panggil seseorang pada Sasori.
"Ah, kau di sana rupanya." Balas Sasori sambil berjalan menghampiri orang yang dimaksud.
Sakura sedang dalam keadaan bad mood. Jadi dia tak terlalu memperhatikan sekelilingnya. Dia hanya berjalan mengikuti arah Sasori melangkah. Dia sadar, namun pikirannya kini melayang entah kemana. Banyak sekali pikiran yang kini dengan senang hati berterbangan dalam kepalanya. Dan sampai ia duduk di tempat Sasori dan temannya Sakura masih melamun.
"Sakura?" panggil Sasori membuyarkan lamunannya.
"Eh? Apa Saso-nii?" Tanya Sakura yang kaget.
"Tak sopan jika kau tak menyapa orang di depanmu?" kata Sasori.
"Eh?" kini Sakura menoleh ke arah orang yang berada di depannya.
1 detik
2 detik
5 detik
"Kau kan laki-laki aneh yang tersenyum tak jelas waktu itu kan?" kata Sakura sinis dan enteng serta dengan menunjuk pada pemuda yang berada di depannya.
BLETAAKK
"Ittai! Kau kenapa Sasori? Awas kau akan ku balas berlipat – lipat dengan kekuatan penuh!" protes Sakura yang tiba-tiba mendapat jitakan dari Sasori.
"Sopanlah sedikit, dan jaga bicaramu. Ku kira si pantat ayam itu telah mengubahmu? Gomen ne Itachi?" kata Sasori tegas pada Sakura dan disertai permintaan maaf untuk sahabatnya itu.
"Ahaha. Tak apa Sasori. Dan kurasa Saku-chan benar. Waktu itu aku tersenyum tak jelas padanya. Ku kira dia akan mengenaliku waktu itu, ternyata tidak." Jawab Itachi.
"Memangnya kau mengenalku?" sekarang Sakura mulai bingung.
"Sakura apa kau lupa dengan Itachi? Dia adalah temanku yang sering main bersama. Beberapa kali kalian pernah bertemu kan?" terang Sasori.
"…" Sakura sedang memutar otaknya untuk kembali mengingat.
"Ah aku ingat sekarang. Kau kan Itachi-nii. Yang bila berkunjung ke mansion selalu membawakan aku eskrim kan?" kata Sakura yang telah berhasil mengingat dengan wajah berbinar dan senyum lebar.
"Hn, dan tak kusangka sekarang Saku-chan telah tumbuh jadi gadis yang cantik?" puji Itachi pada Sakura.
"Hehe, jadi malu." Sakura malu seraya memegang pipinya yang memanas dengan tangannya yang di perban.
"Eh, Saku-chan tangannya kenapa?" Tanya Itachi yang baru sadar saat tangan Sakura memegang pipinya sendiri.
"Hah, seolah kau tak tahu saja Itachi?" sergah Sasori dengan nada bosan pada sahabatnya.
"Hn, memang pasangan The Reapers. Seolah tak ada hari selain berkelahi. Harusnya kau bersikap seperti gadis pada umunya Sakura. Eh?" jawab Itachi yang tahu dengan kebiasaan kedua orang di depannya itu. Lalu pandangannya beralih pada gelang yang melingkar cantik di tangan Sakura yang diperban hanya sebatas pergelangan tangan.
"Kenapa?" Tanya Sakura saat melihat laki-laki di depannya memusatkan pandangan pada gelang yang ia pakai.
"Hn, ku kira Baka-Otouto ku telah menemukan gadisnya. Aku senang ternyata Saku-chanlah yang selama ini ia ceritakan. Hahaha.." jawab Itachi dengan tawanya. Dan jawaban ini sukses membuat Sakura kembali memeras otaknya di karenakan tak mengerti.
"Apa maksudnya?" Tanya Sakura kebingungan.
"Si pantat ayam yang telah merebut hati adik ku tersayang ini adalah adik dari Itachi." Kini Sasori menjawab pertanyaan Sakura karena merasa gemas dengan ketidak mengertian Sakura.
"Jadi…" kata Sakura terpotong dengan sendirinya.
"Hn, orang yang kau sebut pantat ayam itu adalah adik ku, Sasuke Uchiha." Jelas Itachi yang seakan tahu pikiran Sakura.
"…" Sakura diam dan mulai mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Dan sepertinya dia salah paham tadi. Cemburu lebih tepatnya. Sampai-sampai mata merah itu ia keluarkan dan menatapku seakan ingin membunuh. Ya aku mengerti jika dia tidak mengenaliku, karena dulu terakhir aku ke mansionmu dia masih sangat kecil kan?" Protes Sasori pada Itachi dan segera meminum minuman yang telah di pesannya.
"Haha. Benarkah? Wah kau harus berhati-hati. Bisa-bisa kau mati berdiri jika berhadapan dengan mata itu. Dan kau Saku-chan. Tak kusangka gadis yang selama ini ia cari adalah adik dari sahabatku sendiri. Dan aku berterimakasih padamu yang telah kembali dan telah membuat adikku terbebas dari keputus asaan." Kata Itachi yang terdengar begitu tulus dan dalam.
"Maksudnya?" Sakura bertambah bingung dengan pernyataan Itachi itu.
"Dengar Saku-chan. Seberapapun menyebalkannya Sasuke itu, tapi percayalah dia adalah laki-laki yang sangat memegang apa yang telah ia katakan. Entah apa yang terjadi sebelumnya antara kau dan Sasuke, tapi sejak sepuluh tahun lalu ia terus mengucapkan janji…." Kata Itachi terpotong untuk mengambil napas. Dan melanjutkan kalimatnya.
"Bahwa ia akan membuat senyum tulus dan indah tak akan hilang dari Sakura. Itulah yang selalu ia gumamkan seraya menatap sebuah saputangan. Dan lagi ia juga selalu mengucap bahwa ia akan menemukanmu dan jika telah bertemu dia tak akan melepasmu untuk selamanya." Lanjut Itachi.
"Sasuke-kun?" gumam Sakura yang kini menundukkan kepalanya.
"Aku tak tahu jika gadis yang selama sepuluh tahun ini selalu membayanginya adalah kau Saku-chan. Dan setelah ia bertemu denganmu ia membeli gelang yang kau pakai sekarang sebagai tanda pengikat. Dia tak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya. Dan apa kau tahu seberapa besar ia sangat menyayangimu?"
Kalimat terakhir sukses membuat Sakura mengangkat wajahnya dan menatap langsung mata Itachi dengan pandangan penuh tanya 'seberapa besar?' pada pemuda itu.
"Dia membuat dirinya menjadi pribadi yang dingin sejak kau menghilang." Kata Itachi yang sekarang mulai mengingat kalimat yang pernah di ucap oleh Sasuke.
"Aku akan menjadi musim dingin dan hanya akan menjadi hangat jika musim semi datang. Selama dia belum ku temukan maka tak ada hal lain yang mampu mencairkan hati yang telah membeku ini. Dan jika selama itu pula tak kunjung datang musim semi, maka Sakura tak akan menunjukkan keindahannya." Kata Itachi lagi seraya menirukan kalimat yang pernah di lontarkan Sasuke.
"Sasuke-kun?" kata Sakura lirih.
" Itulah sebabnya selama ini ia menutup hatinya dan berusaha keras menemukanmu" Kata Itachi lagi.
'Sebesar itukah kau menyayangiku Sasuke-kun. Jadi aku yang telah mengubah mu menjadi dingin seperti itu? betapa jahatnya aku? Meninggalkanmu dan membuatmu menderita? Aku memang egois Sasuke-kun. Tak sadar dengan segala yang kau curahkan padaku. Gomenasai Sasuke-kun. Aku berjanji, akan mencairkan musim dingin yang menyelimutimu dan membuat Sakura kembali menunjukkan keindahannya.' Batin Sakura yang merasa mendapat pukulan untuk menyadarkan sifat egoisnya.
"Ne Saku-chan. Berjanjilah kau tetap akan mempercayai Sasuke apapun yang akan terjadi kelak?"Pinta Itachi dengan senyum tulus di wajah rupawannya.
"Hn, arigatou Itachi-nii." Jawab Sakura mantap dengan senyum mengembang di bibirnya.
.
.
.
Di lain tempat, seorang pemuda bermata onyx membaringkan badannya di kasur king sizenya. Dia sedang memikirkan tentang kejadian yang terjadi hari ini. Sungguh sangat menyebalkan baginya. Satu lagi orang yang membuatnya menjadi cemburu. Setelah Gaara , ada pula gadis pirang pendatang baru di kelasnya yang sepertinya memiliki niat buruk terhadap hubungannya dengan Sakura. Sekarang ada lagi pemuda yang seenak jidatnya mencium gadisnya di depan matanya.
"Kuso! Kenapa selalu ada pengganggu?" keluh Sasuke.
"Hn, akan ku bereskan mereka satu per satu. Jika itu membuat ku harus melenyapkan mereka dari dunia ini agar aku bisa bersama dengan Sakura maka akan kulakukan." Kata Sasuke dengan tatapan tajamnya pada langit-langit kamarnya.
'Ano suiheisen ga touzakatte iku Ao sugita sora ni wa ashita sura egake nakute'
Handphone yang berdering dengan lagu Diver menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Melihat nama yang tertera pada handphone canggihnya sebelum mengangkatnya.
"Hn, ada apa Dobe?" kata Sasuke pada si penelepon.
"…"
"Benarkah? Baik aku siap-siap dulu. Kau dan yang lain langsung ke rumahku saja."
"…"
"Hn, Arigatou Dobe" setelah mengucap kalimat terakhir, Sasuke bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai ia segera berganti pakaian dan bersiap turun guna menemuai sahabatnya yang telah sampai di rumahnya.
"Kau siap Teme?" Tanya Naruto.
"Hn, ayo berangkat. Hinata, Ino kalian yakin tahu tempatnya?" Tanya Sasuke pada sahabatnya.
"Iya, lagi pula aku khawatir dengan keadaan Sakura setelah tadi siang." Jawab Ino dengan nada sedikit cemas.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Kami juga ingin mengetahui keadaan Sakura." Kini Neji angkat bicara.
Yang tak di percaya di sini adalah bahwa semua anggota Dark Assassin berkumpul di mansion megah milik keluarga Uchiha. Padahal rencana awal adalah Sasuke akan pergi sendiri ke rumah Sakura dan menyelesaikan ini semua. Tapi sepertinya gara-gara ulah rubah pengacau ini semua jadi ikut dan Sasuke tak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini. yang jelas sekarang adalah bertemu dengan Sakura.
"Hn, ayo berangkat." Kata Sasuke melangkah menuju keluar ke tempat tujuannya.
.
.
.
Sekarang ketuju pemuda pemudi ini menuju ke rumah salah satu sahabatnya dengan menggunakan mobil masing-masing. Dan mereka memacu mobil mereka beriringan. Sebagai penunjuk jalan adalah mobil Sai yang didalamnya ada Ino sebagai orang yang mengetahui pasti lokasi rumah Sakura.
"Kalian yakin ini rumah Sakura, Hinata-chan?" Tanya Naruto kaget saat mengetahui rumah Sakura adalah sebuah mansion besar nan megah.
"I-Iya Naruto-kun. Memangnya kenapa?"
"Aku seperti pernah kemari sebelumnya, dan aku merasa tak asing dengan tempat ini." Jelas Naruto.
"Benarkah?" Tanya Hinata
"Hn, ayo turun. Kita sudah sampai."
Para Dark Assassin memasuki mansion mewah itu setelah sebelumnya mengatakan bahwa mereka adalah sahabat Sakura. Mereka dipersilahkan masuk dan sambut dengan baik. Sampai di ruang tamu mereka bertemu dengan sang pemilik mansion.
"Oh, ada tamu? Teman Sakura ya?" sapa seorang wanita cantik berambut pirang dan berbody aduhai seraya menengguk tehnya.
"Wah, Tsunade Baa-chan? Ternyata memang benar kau?" kata Naruto heboh saat melihat siapa yang ia temui.
"Ah, Naruto rupanya. Kau sudah besar. Sudah lama tak ketemu. Bagaimana kabar Minato dan Kushina?"
"Mereka baik-baik saja. Dan eh, apa benar Sakura-chan tinggal di sini? Kenapa iku tidak tahu ya?"
"Hn, benar dia tinggal di sini. Hmm, kira – kira 10 tahun lalu. Memang dulu Sakura tidak pernah mau keluar dan sebagian waktunya di habiskan di kamarnya. Tapi dia belum pulang dari tadi. Tadi Sasori menjemputnya, mungkin mereka pergi jalan berdua. Ayo silahkan duduk." Kata Tsunade santai dan mempersilahkan para sahabat Sakura untuk duduk.
'Apa? Jalan berdua? Apa wanita ini tak tahu jika Sakura adalah milikku? Mengapa dia membiarkan laki-laki asing pergi berdua dengannya?' batin Sasuke yang kini mulai terpancing emosi.
"Nani ? Sasori-nii ada di Konoha?" tanya Naruto antusias.
"Hn, dia akan menetap di Konoha. Karena dia sangat khawatir pada Sakura. Jadi dia putuskan untuk menetap di Konoha dan untuk menjaga Sakura katanya," jawab Tsunade dengan nada ceria.
"Eh? Apa hubungannya Sakura-chan dengan Sasori-nii?" tanya Naruto yang makin antusias. Dan di ikuti oleh ke-antusias-an para Dark Assassin dan para gadisnya. Minus Sasuke yang sudah merasa panas di ruangan itu.
"Hn, mereka itu.. eh? Uchiha ternyata? Pasti Sasuke Uchiha? Kenapa mengeluarkan mata itu ,heh?" kalimat Tsunade terpotong saat melihat salah satu dari mereka menampakkan mata merah dan juga aura yang tak enak di rasakan.
"Anda tahu saya?" kini giliran Sasuke yang kaget dengan pertanyaan Tsunade.
"Hn, aku kenal baik dengan Fugaku dan juga Itachi."
Sasuke yang mendengar hanya ber "O" ria mendengarnya dan menghilangkan mata merahnya. Namun itu semua hanya sebentar dan ia kembali mengaktifkan sharingannya saat dua anak manusia masuk ke dalam mansion itu.
"Tadaima?" ucap seorang gadis yang memasuki mansion bersama seorang pemuda yang senantiasa melingkarkan lengan kekarnya di pundak gadis itu.
"Kalian sudah pulang Sasori, Sakura?" sapa Tsunade.
"Wah ada teman-teman Saku-chan ya?" kata Sasori dengan wajah yang super excited dan makin membuat wajah baby facenya makin rupawan.
"Kalian kesini?" kini Sakura yang mengambil alih pembicaraan.
"Sakura aku ingin bicara padamu," kata Sasuke tiba-tiba dan kini ia berdiri dengan mata menyalang merah. Dan jika kau tahu motifnya, maka yang tahu keluarga Uchiha pasti akan berpikir seribu kali untuk menolak permintaannya.
"Sasuke-kun?" kata Sakura lirih. Walau ia telah berjanji pada Itachi, namun ia masih belum siap untuk saat ini.
"Biarkan Sakura membersihkan badannya dulu." Kini Sasori menengahi dan menatap tajam mata Sasuke. Suasana mendadak jadi dingin dan canggung. Sasuke kini menatap Sasori dengan penuh amarah yang membuncah.
"Sakura-chan bersihkan dulu dirimu." Perintah Sasori tegas.
"Tapi…" Sakura merasa sangat lemah pada situasi ini. Dia tahu jika ada Sasori maka ia akan sangat bergantung padanya. Bahkan untuk saat ini.
"Ku bilang cepat bersihkan badanmu, baru temui teman-teman mu. Hah, dan ajak mereka berdua. Itu akan lebih membantu." Kata Sasori tegas seraya menunjuk Ino dan Hinata. Tahu jika Sakura akan membantah karena suatu hal maka dengan cepat Sasori melanjutkan kalimatnya.
"Aku sudah meletakkannya di tempat yang aman. Kau tak perlu khawatir" lanjut Sasori. Lalu Sakura,Ino dan Hinata menuju ke kamar milik Sakura. Ini pertama kalinya bagi Sakura membawa orang lain ke kamarnya selain Sasori. Tapi jika Sasori telah berkata dengan tegas seperti itu, maka Sakura akan menurutinya.
"Dan kau Uchiha, ikutlah denganku. Ada yang ingin ku bicarakan." Kata Sasori dingin dan setelah itu melangkah menuju ke arah belakang mansion. Tempat latihan tepatnya. Dan diikuti oleh Sasuke di belakangnya.
Yang tersisa di ruang tamu adalah Naruto, Neji, Sai, dan Shikamaru yang tak mengerti duduk perkara yang sempat membuat suasana canggung sesaat itu. Namun tak begitu dengan Tsunade. Dengan melihat adegan tadi, serta sikap Sasori yang kelewat protective menurutnya, maka dapat di simpulkan bahwa ini menyangkut Sakura. Dan Tsunade percaya Sasori akan menangani ini semua. Dan kini ia berbincang dengan Naruto dan yang lain sampai ia ingat akan suatu urusan dan meninggalkan mereka.
.
.
.
"Kau tak perlu memasang tampak sok galak serta mengaktifkan sharingan mu. Itu tak akan berpengaruh padaku," kata Sasori saat dia dan Sasuke tiba di tempat yang di tuju.
"Aku tak peduli," jawab Sasuke dingin dan ketus.
"Hah, ternyata adik dan kakak sangat berbeda. Setidaknya bersikaplah sopan terhadap yang lebih tua." Kata Sasori dengan nada bosan.
"Apa maksudmu?"
"Aku dan kakakmu adalah sahabat sejak kecil. Memang kau tak mengenaliku sebab terakhir aku berkunjung ke mansion Uchiha kau masih sangat kecil. Bahkan Sakura juga tak mengenali Itachi awalnya." Jelas Sasori.
"Jadi kau dan Itachi saling kenal. Dan tadi kau bilang bahwa Itachi juga kenal Sakura? Apa maksudnya semua ini?" tanya Sasuke sekarang sudah mulai bingung dan dengan nada tingginya.
"Akan ku ceritakan secara singkat. Jauh sebelum Sakura tiba di rumah ini, aku telah di angkat Tsunade ba-chan sama seperti Sakura. Kau tahu kan apa yang terjadi pada keluarga Sakura?" jelas Sasori.
"Hn," jawaban singkat Sasuke. Namun mimik mukanya menunjukkan keingintahuan yang dapat di baca Sasori walau sangat samar karena Sasuke berusaha mempertahankan wajah datarnya. Dasar kau manusia minim ekspresi, ne Sasuke?
"Tak jauh berbeda dengan Sakura, kehidupanku pun sama. Namun sebelum aku di angkat oleh Tsunade ba-chan aku terlebih dulu di temukan oleh Itachi kecil saat itu. Dia merasa iba dan lalu membawaku yang telah menjadi gelandangan ke mansionnya. Dan kebetulan saat itu ada Tsunade ba-chan dan entah kenapa ia bersikeras ingin mengadopsiku sebagai anaknya."
"…"
"Dan tak lama setelah itu, datanglah Sakura. Sakura saat itu begitu rapuh seperti kaca yang bisa saja pecah berkeping-keping kapan saja. Tak ada senyum atau cahaya kehidupan terpancar dari sorot matanya. Dan ia mengingatkanku pada adik ku yang telah meninggal akibat turut di bantai. Jadi mulai saat itu aku berjanji akan menjaga dan menyayangi Sakura seperti adik ku sendiri."
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" kini Sasuke yang bertanya.
"Sejak saat itu aku selalu berusaha membuatnya tersenyum. Tak jarang pula Itachi juga datang untuk menghiburnya. Memang awalnya Sakura sama seperti gadis kecil pada umumnya. Polos lugu dan sangat lucu. Namun tersenyum pun sangat jarang. Dan perlahan ia berubah menjadi gadis yang terosebsi untuk membalas dendam kematian orang tuanya. Dan jadilah dia seperti sekarang."
"…"
"Namun aku membuat suatu janji pada Sakura, bahwa kelak aku akan membantunya membalaskan dendam orang tuanya asal ia bisa tersenyum dan menjadi dirinya sendiri saat bersamaku. Dan ia percaya dan menyetujui itu semua. Namun sepertinya aku tak bisa menepati janjiku pada Sakura. Karena pelakunya adalah…." Kalimat Sasori terhenti.
"Kau, apa kau tahu siapa pelakunya?" tanya Sasuke yang sangat ingin tahu mengenai hal yang telah menorehkan luka di diri gadisnya.
"Aku tak bisa mengatakannya. Walau aku tahu siapa pelakunya, namun aku tak dapat melakukannya." Jawab Sasori lirih seraya menatap kosong pemandangan di depannya.
" Kenapa? Harusnya kau mengatakan saja pada Sakura perihal ini. Maka ia akan terbebas dari belenggu ini?" kata Sasuke dengan nada yang lumayan tinggi.
"Kau salah. Jika Sakura tahu siapa pelakunya, maka ia akan semakin terluka. Dan aku tak ingin ia mengalami luka lagi. Maka aku akan berusaha agar ia tak tahu. Egois memang, tapi ini adalah satu – satunya jalan agar ia tak terluka lagi." Jawab Sasori tegas.
"Aku tak mengerti. Apa maksudmu?" tanya Sasuke yang kini bingung.
"Kau akan mengerti kelak jika memang rahasia ini harus terbongkar. Tapi berjanjilah satu hal padaku. Bahwa kau akan melindungi dan menjaga Sakura apapun yang terjadi. Jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada diri Sakura, maka akulah yang akan memenggal kepalamu. Tak peduli kau adalah adik dari sahabatku." Kata – kata Sasori ini merupakan suatu yang terdengar seperti ancaman.
"Hn, kau bisa mempercayaiku. Dan kau bisa mengambil kepalaku jika aku melanggarnya." Jawab Sasuke tanpa keraguan dalam kalimatnya.
Sasori yang mendengar itu tersenyum tipis. Dia memang percaya pada pemuda ini. Dan ini adalah sebuah janji antar laki-laki, maka ia yakin bahwa Sasuke akan menepatinya. Setelah ini ia dapat sedikit bernapas lega karena akan ada orang selain dirinya yang akan menjaga Sakura. Lalu ia pergi meninggalkan Sasuke di sana.
.
.
.
Sasuke kini berdiam diri di tempat tadi ia berbicara dengan Sasori tadi. Dia berdiri bersandar pada tembok di belakangnya. Memjamkan matanya seolah menutupi mata kelamnya yang bagai tatapan elang yang tajam jika di buka. Mencerna dan memahami semua apa yang telah Sasori katakan padanya. Tentang masa lalu Sakura dan tentang penyebab luka di gadisnya itu.
"Sasuke-kun?" sapa seorang gadis lirih di samping Sasuke.
"Sakura apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sasuke kaget mendapati gadisnya telah berdiri tepat di sebelahnya.
"Sasuke-kun. Gomenasai atas semua yang aku lakukan padamu." Kata Sakura lirih sambil menundukkan wajahnya.
"Kenapa kau yang minta maaf? Harusnya aku yang bilang begitu." Jawab Sasuke kini memegang bahu Sakura.
"Tidak, akulah yang egois. Tak mempercayai Sasuke-kun. Aku hanya memikirkan perasaanku saja tanpa pernah tahu perasaan Sasuke-kun selama ini." kini nada suara Sakura sedikit bergetar karena menahan tangis.
"Apa yang kau katakan Sakura. Akulah yang tak bisa membuatmu percaya. Dan luka ini gara-gara aku kan? Jadi sudah seharusnya akulah yang minta maaf. Gomenasai Sakura-chan?" kata Sasuke panik saat tahu jika gadisnya akan segera menangis.
"Luka ini tak seberapa jika di banding dengan pengorbanan Sasuke-kun. Hiks. Kau selama ini berubah menjadi sedingin es gara-gara aku kan? Hiks. Gara-gara akupun kau menutup hatimu. Dan gara-gara aku pula kau menderita selama ini?" kata Sakura seiring tangisnya yang pecah.
"Sakura?" ucap Sasuke lirih. Sakit hatinya melihat air mata gadisnya menganak sungai membasahi pipi ranumnya.
'Dari mana ia tahu semua ini?'batin Sasuke setelah itu.
"Ne Sasuke-kun mulai sekarang aku berjanji akan selalu mempercayai mu apapun yang terjadi. Dan aku akan mencairkan musim dingin di hatimu dan menggantikannya dengan musim semi yang hangat, sehingga Sakura pun akan menampakkan keindahannya." Kata Sakura mantap seraya menampakkan senyum lebarnya.
"Dan aku berjanji tak akan melepasmu dan akan selalu menjaga dan melindungi mu apapun yang terjadi. Bahkan nyawa dan kepala ku taruhannya."jawab Sasuke lega dengan pernyataan Sakura. Dan sebab ia ingat bahwa kepalanya adalah jaminan dari kata-katanya tadi. Hmm, mangnya kamu takut Sasu?
Sakura pun sangat bahagia mendengar jawaban Sasuke tersebut. Ia merasa bahwa Sasuke adalah benar-benar orang yang telah mengangkatnya dari keterpurukan. Dan Sakura sadar pemuda inilah yang telah menempati hatinya secara penuh. Senyum bahagia dan kelegaan terpancar di wajah Sakura. Segera ia menerjang tubuh pemuda di hadapannya. Dia memeluk tubuh pemuda itu tanpa ingin ia melepasnya. Sang pemuda membalas pelukan gadisnya itu dengan seulas senyum yang menandakan kebahagiaan.
"Arigatou Sasuke-kun?" ucap Sakura dalam pelukan Sasuke. Wajahnya ia tenggelamkan dalam dada bidang kekasihnya.
"Hn, mulai sekarang kita akan bersama apapun yang terjadi, Sakura." Kata Sasuke dan setelah itu mengecup puncak Sakura.
Setelah melepas segala yang mengganjal kini mereka telah berjanji akan saling mempercayai satu sama lain. Sakura melepas pelukannya dan kini emeraldnya menatap ke dalam onyx sang kekasih. Tak ada kebohongan di antara mereka, dan Sakura tahu itu.
Perlahan wajah Sasuke mendekat ke arah wajah Sakura. Melihat bibir yang sangat menggoda di depannya itu membuat Sasuke tergoda. Ya bila diingat telah lama bagi Sasuke tak merasakan manisnya bibir ranum milik kekasihnya itu. Jarak di antara mereka makin terhapus. Kini hampir bagi Sasuke untuk mengecup dan merasakan manis dari bibir Sakura. Namun sebuah suara menghentikan kegiatan itu.
"Ehem. Apa hanya karena ku tinggal sebentar saja kalian sudah bisa bermesraan?" seorang sedang berbicara dengan nada bosan tapi terdengar sedikit menggoda.
"Saso-nii?" kata Sakura kaget. Dia benar-benar malu sekarang. Wajahnya sukses merah merona atas ke-pergok-nya aksi Sasuke pada dirinya tadi.
"Cih, mengganggu saja." Kata Sasuke sebal karena kesenangannya terganggu oleh calon kakak iparnya itu. Wualah Sasuke udah PD bakal jadi adik ipar Sasori ternyata. Whahaha.. :D
"Hahaha.. Iya iya aku mengerti. Tapi kasihan teman kalian menunggu kalian di ruang tamu. Apa kalian tega menelantarkan mereka, sementara kalian bermesraan di sini, hah?" kata Sasori lagi.
"Hn. Ne Sasuke-kun ayo ke mereka?" ajak Sakura tanpa persetujuan dari yang di tanya menarik tangan Sasuke dan bergelayut manja di lengannya. Hanya seulas senyum di tampilkan Sasuke sebagai jawaban.
Mereka kini berbincang bincang di ruang tamu. Setelah hubungan Sasuke dan Sakura membaik, maka seluruh Dark Assassin dan para gadis serta Sakura kini mulai bercanda ria. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan sampai malam tiba. Sasori pun ikut nimbrung dalam acara santai itu. Tsunade lalu menjamu para tamu yang tak lain sahabat Sakura makan malam sebelum mereka pulang.
.
.
.
Pagi hari menjelang. Sang surya mulai menampakkan sinar terangnya pagi ini. Sesosok gadis dengan postur tubuh yang ideal dan memiliki mahkota berwarna pink pucat telah bersiap menyambut pagi. Wajahnya yang sangat rupawan tak henti-hentinya memancarkan rona kebahagiaan. Sorot matanya terlihat jelas bahwa gadis ini sangatlah bahagia pagi pun tak hentinya membentuk seulas senyum ceria.
"Saso-nii, ayo berangkat?" kata sang gadis pada seorang pemuda.
"Apa kau tak sarapan dulu Saku-chan?" tanya pemuda itu pada Sakura.
"Aku tak lapar. Sebaiknya ayo cepat antar aku ke sekolah. Nanti aku terlambat." Rengek Sakura pada Sasori sambil menarik-narik bajunya.
"Kau takut terlambat atau ingin segera bertemu dengan si pantat ayam itu, hah?" tanya Sasori menggoda.
BLUSH
Tepat sasaran. Memang setelah kejadian kemarin Sakura merasa enggan berpisah dengan Sasuke. Sebelum kekasih dan sahabatnya pulang, tepat di pintu mansion, Sakura mengecup ringan bibir tipis nan seksi kekasihnya itu. Dan itu sukses membuat kekasihnya kaget sebab gadisnya tak pernah seperti ini. Setahu Sasuke, dia lah yang selalu menyerang Sakura terlebih dahulu. Dan hal ini membuat semua yang melihat cengo termasuk Tsunade dan Sasori.
"Hehe. Sudahlah ayo antar aku." Kata Sakura mengalihkan pembicaraan sebab ia tahu jika tidak begini maka kakaknya itu akan terus menggodanya.
"Hn, Baiklah baiklah. Kami berangkat dulu Tsunade ba-chan." Kata Sasori seraya beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke mobil diikuti oleh Sakura.
'Sasuke-kun, mulai hari ini kita akan bersama. Dan kita akan memulai untuk melukis kenangan-kenangan indah bersama lagi. Ne Sasuke-kun, tunggu aku?' batin Sakura saat mobil yang di kemudikan Sasori telah melaju menuju ke sekolahnya.
.
.
.
To Be Continued
A/N :
Huaaaa akhirnya selesai juga ni chapter.
Chapter ini SaGaa-chan musti lembur ampe pagi jam 2, coz gara-gara beberapa hari gak nglanjutin ceritanya jadi kaget ternyata di folder cumin ada ampe chapter 8 kemarin.
So dengan semangat membara ala Naruto, serta meminjam kejeniusan Sasuke dan Neji ditambah dengan strategi yang bagus dari Shikamaru dan pula adanya Sai yang membantu dengan simulasi adegan melalui gambarnya, akhirnya chapter ini selesai juga.
Nah semoga chapter ini menjawab semua rasa penasaran yang ada.
N jangan lupa reviewsnya ya?
Hn, Arigatou… :D
