Represents;

Kim Taehyung

Jeon Jungkook

Min Yoongi

Park Jimin

.

.

Unpredictable wheel

.

.

Chapter 9: Meet Again

"sudah kuduga."

"apanya?"

"manusia reptil itu berkontribusi menjauhkan Taehyung hyung dariku." Jawab Jungkook dengan separuh menggeram. Bagaimana bisa Yoongi sampai sebegitu tega pada Jungkook begini. Menjauhkan Taehyung? Memang punya hak apa makhluk mungil itu sampai berbuat begitu, berani merenggut apa yang Jungkook butuhkan.

Ah. Sepertinya ia lupa kalau Yoongi itu sahabat Taehyung.

Dan tunggu. Apa barusan hati kecilnya mengatakan kalau Jungkook membutuhkan Taehyung?

Jimin berdecak, "yang kau panggil manusia reptil itu cintaku, pabo."

Begitu menerima pesan dari Jimin saat Jungkook tengah main game di ponselnya, ia terkejut dan langsung berlari ke The Min's. Berharap setidaknya ia bisa mencium jejak-jejak Yoongi yang belum pergi dari sana –beruntung kalau benar-benar terkejar sampai bisa bicara empat mata dengan sunbaenimnya itu. Namun sayangnya yang ia temukan hanya Jimin yang termenung entah memikirkan apa. Raut wajah pemuda itu nampak serius dan kebingungan. Seperti bukan Jimin –yang selalu cengengesan dan bernada ceria. Bahkan suaranya agak serak dan dingin hingga detik ini. "terus kau menerima permintaanya?"

"kau pikir aku gila?! Aku mana sudi pacaran denganmu."

Jungkook mendengus, merasa harga dirinya agak turun. "aku juga tidak mau punya keturunan pendek pesek macam kau."

"yah! kau –ah, lupakan. Mari kita bahas yang lain." Sejenak Jungkook agak meremang mendengar suara Jimin. Bukannya melembut, malah makin kasar dan terdengar frustasi serta kacau. Suaranya tidak lagi cempreng dan ceria; bahkan tatapannya mirip Yoongi. Sebenarnya ada apa dengan temannya ini, sebegini besarkah pengaruh Yoongi terhadap Jimin? Sampi menarik keluar monster kepribadian kedua Jimin? Mengubahnya menjadi orang lain?

Raut wajah Jimin berubah serius dan berdeham sesekali. Jungkook berasumsi kalau diamnya Jimin adalah karena ia sedang berpikir. Berpikir apa yang akan ia katakan, apa yang telah terjadi, apa yang harus dilakukan, apa strateginya, bagaimana dampaknya, bagaimana rencana B, dan masih banyak lagi. Sejak dulu Jimin adalah seorang pemikir keras. Fakta ini agak kontras dengan penampilannya yang ceria dan penuh canda, Jungkook pernah berpikir kalau orang macam Jimin adalah satu dari sekian yang hidupnya baik-baik saja.

Namun sepertinya ia harus membuang opini itu jauh-jauh.

Jimin membuka matanya setelah sepuluh detik terpejam, "kita harus cari cara. Ada sesuatu yang aneh disini. Aku yakin kalian bertiga ada hubungannya dan saling berkaitan, hanya saja entah apa aku tidak tahu."

Jungkook mengangguk patuh. Dalam hati ia mengiyakan, memang ketika nama Taehyung terngiang bahkan untuk sekali saja yang terbesit dalam benaknya adalah misterius. Ada aura gelap yang seolah mencari perhatian Jungkook, seolah tatapan Taehyung mengandung makna lain. Ada sesuatu yang pria itu sembunyikan, tapi Jungkook tidak pernah bisa mengetahuinya. "aku juga merasa begitu. Seolah ada sesuatu yang membuatku bertanya –ah, aku selalu bertanya-tanya. Kau sering dengar kan, aku mengatakan betapa Taehyung sangat familiar. Tapi baik aku maupun kau tidak ada yang mengetahuinya."

"iya. Aku paham." Giliran Jimin yang mengangguk. Sekali lagi ia berpikir sembari memejamkan mata. Mencoba mencari benang merah diantara kepingan-kepingan kejadian yang telah lalu. Sekuat tenaga ia berusaha menyimpulkan dan mengurutkannya hingga tercipta suatu skenario yang bisa ia pahami. Sayangnya satu hal yang hilang dan berdampak besar bagi kisah rumit ini adalah.

Siapa Taehyung.

Dua puluh detik telah berlalu dan Jimin masih terpejam. Jungkook menunggu dengan gugup dan takut. Kira-kira apa yang akan Jimin katakan? Selama ini kemampuan analisanya cukup tajam dan kalau ia menyimpulkan sesuatu yang tidak-tidak, Jungkook harus siap runtuh. "aku terpikir siapa yang bisa membantu kita."

"eh? Memangnya ada? Apa itu Namjoon seonsaengnim?"

Jimin menggeleng pelan lalu membuka matanya, "Jung Hoseok."

.

.

"aku pulang."

Yoongi meletakkan sepatu adidasnya dan melangkah masuk. Ia mendapati Taehyung tengah berkutat dengan berlembar-lembar kertas di ruang tengah. Yoongi hanya bisa menghela napas lelah karena sebentar lagi ia harus merapihkan segala. Kim Taehyung tidak mau –dan tidak akan pernah mau– membereskan segala kekacauan yang dibuatnya. Ia selalu menghindar dengan seribu satu jurus dan Yoongi bukannya tidak kebal, ia hanya menyerah. Lelah dengan sikap kekanakannya –yang sebenarnya sangat menggemaskan dimata Yoongi.

Ah. Mikir apa sih Yoongi.

"serius sekali. Aku sampai tidak disambut~" bukannya mencoba menjadi manja, Yoongi hanya sedang iseng saja. Melihat raut wajah Taehyung yang sudah terlipat itu Yoongi tidak tega juga, sesekali Yoongi ingin menghibur Taehyung. Selama ini pria lucu menggemaskan itu selalu berusaha membuatnya tertawa. Berbuat baik sedikit tidak ada salahnya kan,

"u –oh, kau sudah pulang, love."

Yoongi mencebik dan duduk disofa yang sebenarnya hanya berjarak sepuluh senti dibelakang Taehyung. Ia mencoba mengintip ada yang dikerjakan Taehyung, belakangan ini ia kedapatan melihat Taehyung berkutat dengan berlembar-lembar kertas. Seperti ilmuwan saja, bahkan mereka hanya kuliah di jurusan perawat. "kubilang berhenti memanggilku love. Belum pernah menelan penggorengan, ha?"

"aish, kejamnya. Jadi bagaimana harimu?"

"sepi tanpa kau."

"uh –wow, apa kau benar Min Yoongi?" Taehyung langsung memutar balik tubunya dan memasang tampang terkejutnya yang nampak sangat menggelikan dimata Yoongi. Sesaat Yoongi memutar bola matanya malas. Kejutan dari seorang Kim Taehyung lagi. "tumben sekali kau kangen padaku, membutuhkanku. Wow, kau jadi beribu kali lebih manis~ hehehe."

"dibanding Jungkook, lebih manis yang mana?"

Dan entah setan apa yang menari-nari didalam mulut Yoongi sampai menanyakan hal itu. Wajah Taehyung yang tadinya sudah ceria jadi kembali datar. Ia berdeham canggung dan menatap gusar ke seluruh ruangan, yang penting bukan menatap Yoongi. Ia akhirnya kembali berbalik menyibukkan diri dengan kertas-kertas di meja, membacanya dan berkomat-kamit seolah ia tengah sibuk mengerjakan laporan praktikum. "jujur saja, kau masih mencintainya kan."

"aku –"

"berniat mengurung diri sampai kiamat? Jangan jadi pengecut begitu, keluar dan temui dia." Katakan Yoongi tidak punya komitmen atau apalah. Terserah. Awalnya ia memang ingin membantu Taehyung, namun ia lelah. Sekarang ia jadi lebih sensitif jika menyangkut soal Taehyung. Bocah dihadapannya ini hidup seperti takdir berada dalam genggamannya sendiri. Ia melakukan apa yang ia pikir rasional dan terbaik, menghindar dari takdir dan mengurung diri. Kadang Yoongi merasa kesal, bukannya tidak suka kalau Taehyung harus jadi tinggal berdua dengannya. Hanya saja, sekarang ia bisa menerima bagaimana Taehyung amat sangat mencintai pemuda lugu bernama Jeon Jungkook itu. Perjuangan sejak mereka di sekolah menengah patut diperhitungkan sebagai bukti otentik rasa cintanya. Sayangnya dengan banyak hal yang terjadi, mereka berdua harus berpisah.

Dan ketika mereka bertemu kembali setelah sekian lama Yoongi berpikir lagi.

Mungkin ini adalah takdir. Bahwa Taehyung dan Jungkook memang seharusnya bersama. Setidaknya untuk menyelesaikan kisah mereka yang terpenggal di tengah kisah. Taehyung memang pribadi yang ceria dan penuh aura hangat tapi sejak ia kembali bertemu Jungkook, aura itu menjadi merah muda dan pemuda itu menjadi lebih hidup. Tidak dipungkiri Yoongi senang melihatnya. Ia juga sadar kalau posisi Jungkook tidak akan bisa digantikan oleh siapapun –termasuk dirinya. Yoongi bukanlah orang yang mampu membuat Taehyung sumringah seharian karena mereka makan seharian atau berpegangan tangan. Dan ia cukup sadar, kalau sampai kapanpun Yoongi hanya menjadi orang keempat dalam hidupnya yang dianggap berarti.

Jungkook. Namjoon. Ibunya. Terakhir, Yoongi.

"kuberitahu satu hal. Aku lelah harus berjalan mengendap-ngendap kalau ada Jungkook disekitarku. Belum lagi Doktor Son yang bawel sekali mencari keberadaanmu. Dan si Junghan itu –astaga aku pusing mendengarnya berceloteh soal pentas musikal atau apalah, pokoknya dia memintamu jadi salah satu pemeran disana."

Taehyung mengatur napasnya pelan-pelan. Ia sebal sekali kalau Yoongi sudah mengomel tentang keputusannya yang terkesan asal ini. "kau boleh saja lari dari Jungkook, tapi tidak dengan kehidupanmu. Kau membuatku repot, kau butuh kuliah. Kau pikir Namjoon itu bekerja untuk membiayai siapa lagi?"

"terus aku harus bagaimana?"

Jujur saja, Yoongi juga tidak tahu harusnya bagaimana. Awalnya ia memang setuju untuk menjauhkan Taehyung dari Jungkook. Membantunya untuk melupakan bocah manis itu perlahan meski dalam hatinya ia berteriak, meronta, merintih bahwa itu mustahil. Terkadang hatinya perih melihat senyum dan tawa Taehyung terasa palsu. Pemuda itu berusaha tegar namun nyatanya hampir setiap malam Taehyung selalu menyendiri di dapur dan menangis, merintih, terisak, dan memanggil nama Jungkook. Selalu seperti itu. Yoongi hanya akan menemaninya dalam diam dan biasanya berakhir Yoongi tertidur lebih dulu –ternyata Taehyung kuat begadang sampai jam tiga pagi. Yoongi mana mau begitu, ia punya segudang jadwal kuliah dan praktikum yang harus digarap. Belum lagi ia salah satu anggota himpunan mahasiswa perawat dan juga bertugas piket di unit kesehatan kampus. Min Yoongi membutuhkan tidur cukup kalau tidak mau jatuh sakit.

"aku… tidak tahu, tapi –"

"aku tidak apa, hyung." Taehyung berbalik dan tersenyum manis, tulus dan teduh sekali. Hingga Yoongi dibuat bungkam seribu bahasa. Ia berusaha menyelami manik bulat Taehyung, mencoba mencerna perkataannya yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Apa benar? Dari semua yang Yoongi lihat, apa benar Taehyung baik-baik saja? Sebenarnya ia sendiri tak yakin.

Tapi melihat senyumnya yang begitu lebar dan santai, serta auranya yang terasa hangat entah mengapa Yoongi merasa tenang. Meski separuh hatinya ada kegundahan, setidaknya ada sebagian dari hatinya yang mengiyakan. Setidaknya Taehyung sudah berusaha untuk tetap baik-baik saja. Dan Yoongi meghargai kerja kerasnya yang menguras airmata itu. Bahkan saat ini pemuda itu nampak –sebenarnya ada bukti yang nyata – kurus sekali, kantung matanya agak besar dan menghitam, rambutnya agak berantakan tapi sialnya masih saja terasa lembut walau gonta-ganti warna rambut.

Pernah ia mengancam Taehyung akan menggundulinya kalau sampai kurun waktu tiga hari tidak segera mengubah rambut oranyenya. Rambutnya sepuluh kali lebih silau dibanding sebelumnya dan kini ia berakhir dengan warna light caramel. Dan sungguh, oranye itu mengingatkannya pada Jimin! Ah. Jimin lagi. Kira-kira bocah itu sedang apa, ya?

Kenapa ngelantur begitu, sih. Fokus, Yoongi, fokus.

"besok aku mau bertemu seseorang." Ucapan Taehyung memecah lamunannya, pria itu nampak merapihkan kertas-kertas disekitarnya. Yoongi yang tadinya bersandar lemas akhirnya bangkit membantu. Ia mengernyit melihat kertas itu isinya kalimat-kalimat picisan dan... not balok? Apa Taehyung sedang membuat lagu? Terserah lah. Yang penting Taehyung merasa nyaman dan tidak terbebani.

"oh ya? Dengan Jungkook?"

"apaan sih. Bukan," Taehyung merebut kertas yang digenggam Yoongi dengan wajah memerah. Jelas ia malu. Bukannya belajar untuk ujian ia malah iseng membuat lagu. Lagu romansa pula, mana bisa ia bersikap biasa saja. Taehyung pernah mendengar kalau Yoongi beberapa kali memproduksi lagu untuk band bahkan satu dua penyanyi pendatang baru. Setidaknya dua kali dalam sebulan Yoongi pergi berkumpul dengan teman-temannya sesama musisi –kebanyakan rapper underground –di kawasan distrik lima. Biasanya Yoongi selalu mampir ke apartemen Taehyung karena Namjoon ikut, kakaknya yang dalam siang hari nampak dewasa dan berwibawa itu mengeluarkan sisi remaja bebasnya saat malam. Jadi akan sangat memalukan memperlihatkan sampah ini kepada sang dewa musik seperti Yoongi. Ia belum siap jika pemuda itu harus mengoceh tentang betapa buruk lagu ciptaannya dalam mode rap.

"terus dengan siapa? Namjoon?"

Taehyung menggeleng dan melempar senyum tipis. "dengan Hoseok."

.

.

Hoseok sedang asyik menonton video dance di youtube sampai ponselnya bergetar dua kali; menandakan pesan masuk. Ia mengernyitkan dahinya pelan. Sedikit heran dengan dua pesan singkat yang masuk dari orang berbeda.

Jodoh. Hoseok mengamini.

Namun sedetik kemudian Hoseok tersenyum lebar sampai perutnya geli dan akhirnya tertawa, keras sekali, bahkan sampai mengeluarkan airmata. "aish, astaga. Kalian ini lucu sekali, yaampun aku tidak kuat –hahahaha."

.

.

Hoseok duduk di meja nomor dua. Ia sengaja memilih space outdoor karena jujur ia lebih suka kehangatan sinar matahari dan terpaan angin daripada hembusan pendingin ruangan yang bisa membuat dia menggigil dalam sekejap. Lagipula, suasana luar membuatnya bisa melihat pemandangan dan tidak terasa sepi.

"hyung,"

Asyik memejamkan mata menyelami ketenangan alam, Hoseok membuka mata karena merasa terpanggil. Benar saja, ia mendapati sosok yang ia tunggu sejak sepuluh menit lalu. Sejenak ia termangu akan pesona pemuda tinggi manis itu. Wajahnya sedikit berubah –hanya jadi lebih dewasa –tapi keseluruhan tetap sama. Manis, cerah, kalem, hangat, memesona. Sedari dulu Hoseok memang mengagumi pesonanya yang tiada tara. Auranya yang cerah dan hangat mampu membuat Hoseok seolah berada di taman bunga atau padang rumput yang luas dan berangin. Sifat pemuda itu yang sangat manis dan kalem penuh wibawa sungguh patut dipuji.

Hoseok tersenyum manis, "hei. Apa kabar, V?"

Pemuda itu tersenyum simpul dan mendudukkan diri dihadapan Hoseok, mengusak rambutnya yang sehalus kapas dan secerah caramel. "kabar baik, Hoseok hyung. Kau selalu secerah matahari, tahu. Aku selalu silau kalau melihatmu bahkan dari radius dua ratus meter."

"hahaha, ada-ada saja. Yah, memang banyak yang bilang begitu, sih. Kau tahu, nama bekenku ini J-Hope, your angel, your hope~" pembawaan Hoseok belum berubah, masih hiperaktif, ceria, dan sangat manis. Meski V tahu sekali jika pria dihadapannya ini sangat emosional. Jika ia dilanda sedih, jangan tanya berapa lama ia akan meratap, dan jika tengah marah –bahkan V tidak berani mengingat kejadian beberapa tahun silam saat Hoseok kesal dengan murid sekolah seberang yang telah memfitnah sahabatnya.

V tertawa pelan, "masih suka dance?"

"jika tidak maka dunia akan berakhir."

"aku tahu, kau dan menari sudah seperti saudara kembar; sedarah daging, sekata sekalimat, sehidup semati. Jika bicara Hoseok, maka pasti bicara dance." V tertawa lagi. Memang tidak salah jika bertemu dengan Hoseok sebagai hiburan. Pembawaan Hoseok yang kelewat ceria dapat menggiringnya kepada ketenangan, memang dia agak sulit untuk bercanda dengan mulutnya sendiri tapi dengan Hoseok yang bicara ini itu, V merasa hidup kembali.

"jadi apa masalahmu?"

Eh? Bagaimana Hoseok –

"wajahmu muram durja begitu. Meski kau tertawa, tersenyum, bercanda, semuanya terasa palsu. Bukannya aku tidak menghargaimu tapi aku benar-benar merasakannya. Kau berusaha tegar, menutupi semuanya. V, aku paham." Hoseok tersenyum simpul. Ia paham kalau sejak awal V ingin bertemu dengannya, pemuda itu hanya ingin mencari keceriaan dan pelarian dengan menjadikan dirinya sebagai badut.

Seketika raut wajah V kembali muram. Mungkin ia sedikit menyesal bertemu dengan Hoseok. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Hoseok juga, mungkin wajahnya yang jelas terlihat. Ah, sejenak ia meratapi penjiwaan ekspresinya. "maaf. Apa itu mengganggu?"

Hoseok menggeleng, "tidak juga sih. Hanya saja, aku kangen wajah tampanmu itu"

"memangnya gantengku luntur?"

Hoseok mendengus geli penuh canda, "ya tidak sih. Cuma auranyanya itu loh –menguap begitu saja."

V menganggguk paham, ia mengerti maksud Hoseok. Yah, bagaimanapun ia memang masih dalam masa berkabung dan galau. Siapapun juga tidak akan bisa menutupi perasaan jika sedang sedih, sekuat apapun, setegar apapun, sekeras apapun mencoba. Akan selalu ada orang yang mampu melihat sisi lemahnya. Dan sayangnya, Hoseok adalah satu dari sekian orang yang bisa dengan mudah membaca mimik seseorang dalam berbagai ekspresi.

Sejak mereka di sekolah menengah pun Hoseok selalu benar tepat sasaran mengenai perasaan V. Sehebat apapun V berusaha berakting didepannya, Hoseok layaknya kritikus aktor atau sutradara senior yang sulit ditipu. Bahkan V sering mengusulkan Hoseok untuk mnegambil jurusan psikologi ketika kuliah nanti. Namun pemuda kelebihan energi itu malah memilih jurusan dance, agak disayangkan memang. Tapi mengingat betapa Hoseok mencintai bidang itu –dan lagi, tariannya bukan main kerennya –V lega.

"menurutku, kau harus membicarakan ini baik-baik dengan Jungkook."

"hell no. Mana bisa begitu, aku sedang –"

"menghindar? Memang apa untungnya? Justru kalian berdua malah rugi dan akan menyesal nanti. Kau menyiksa diri padahal kau sendiri yang paling tau –kau membutuhkan Jungkook. Kau bagai bulan tanpa cahaya matahari, sungguh. Dan Jungkook –kau pikir dia senang dengan caramu yang menghindarinya seperti ini?"

Hoseok bicara dengan menggebu, meski dengan nada selembut mungkin. Ia mencoba bicara dari hati ke hati pada V. Berharap pemuda itu akan mengerti dan berpikiran lebih terbuka. Bahwa masalah harus dihadapi dan diatasi, bukan dikubur dalam-dalam dan dilupakan. Atau malah dilimpahkan pada orang lain. V harus merubah pola pikir kudetnya itu karena kalau tidak baik Jungkook maupun V akan sama-sama menderita seumur hidup. "dengar, Taehyung-ah –"

Yang dipanggil mendongak dengan mata berpendar, " –aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Bahkan sejak kau memintaku merahasiakan nama aslimu yang indah itu darinya, aku tidak tahu. Dan selama ini aku diam. Memperhatikan kalian dari jauh dan selalu gemas."

"rasanya aku ingin sekali membenturkan kepala kalian berdua, sungguh aku gemas. Kalian jelas saling menyukai tapi –ah, aku masih gemas sampai sekarang." Hoseok mengepalkan tangannya gemas dan ekspresi wajahnya sangat lucu –sayangnya V (atau bisa kita sebut Taehyung) sedang tidak mood tertawa.

Sejujurnya Taehyung sendiri tidak tahu kenapa ia bersikeras agar Jungkook tidak tahu nama aslinya. Ia lebih memilih nama V untuk Jungkook kenali, bukan Taehyung. Berawal dari ketidak sengajaan, Jungkook yang kala itu tengah kebingungan mencari perpustakaan di hari pertamanya sekolah.

Disanalah mereka bertemu, Taehyung yang berusaha kabur dari pelajaran logaritma yang sanggup membuat kepalanya botak berencana ke perpustakaan menyegarkan pikiran. Dan saat menuruni tangga, Jungkook memanggilnya dengan nada yang lembut namun penuh malu-malu dan wajah lugu. Bahkan Taehyung sempat terbengong sampai Jungkook menggoyang bahunya yang lebar dan tertawa kecil.

"nama sunbaenim siapa?"

"kalau bisa menebak dengan benar, ku traktir kare."

Jungkook merengut, "mana bisa. Setidaknya beri clue."

Taehyung menopang dagu dan berpikir, "bagaimana kalau V?"

"V? Hanya itu?" Jungkook memiringkan kepalanya heran. Namun Taehyung mengangguk semangat dan membumbuinya dengan senyum lebar serta dua jari yang ia bentuk V sign. "V for Victory. Lagipula aku cocok dengan gaya begini, kan?"

Jungkook tertawa pelan, "aneh. Tapi oke juga. V hyung, akan kuingat."

Entah kenapa wajah malu-malu Jungkook malah bermain di pikiran Taehyung. Ini gila, ia jadi semakin rindu, kan. Ah. Bagaimana kabar bocah itu, apa nilainya baik? Apa dia makan dengan benar? Tidurnya cukup? Apa dia memikirkanku? Mencariku? Tidak mungkin.

"sebenarnya aku masih ada tamu," Hoseok berdeham membuyarkan lamunan Taehyung yang bisa-bisa tidak akan ada ujungnya kalau tidak diinterupsi. Kadang Hoseok juga heran, kemampuan bengong Taehyung sangat hebat. Ia bisa saja bengong sampai satu jam lamanya tanpa bergerak dan wajahnya akan tetap blank sampai ia sadar atau ada orang lain yang membangunkannya.

"oh, siapa?"

Diam-diam Hoseok menyeringai. Mungkin hanya Tuhan dan dia yang akan menyadarinya. Ia sudah merencanakan matang-matang pertemuan besar-besaran hari ini. Meski mungkin ia terkesan lancang karena ikut campur urusan orang tapi ia sungguh gemas. Ia ingin ini cepat-cepat menemukan ujung. Ia menatap Taehyung yang belum sepenuhnya sadar, "seorang yang kutemui di festival. Dia lucu sekali, ganteng juga sih." Ia menambahkan sedikit tawa.

Taehyung menukikkan alisnya, sementara Hoseok terbahak dalam hati. "seharusnya dia sudah sampai –oh! Jungkookie!"

Baik yang dipanggil maupun Taehyung sama-sama terperanjat. Jungkook menoleh dan menghampiri sementara Taehyung bergeming dengan napas memburu dan jantung berdegup cepat. Ia menatap Hoseok yang tengah tersenyum lembut. Dalam hati ia memaki pemuda baik hati itu, ini sungguh bukan saat yang tepat.

Jungkook sempat menghentikan langkahnya ketika ia melihat Hoseok tidak sendiri, ada seseorang dihadapannya. Hanya saja posisi pemuda itu yang membelakanginya membuat Jungkook tidak tahu siapa yang bersama Hoseok. Namun entah kenapa jantungnya berdegup cepat sekali dan perutnya terasa geli. Aneh. Tiba-tiba dia merasa hendak limbung entah oleh apa.

Rasanya pemuda itu tidak asing.

Dan Jungkook terkesiap begitu pemuda itu bangkit dan pergi, yang menampakkan separuh wajahnya. Dan meski hanya memperlihatkan sisi sebelah wajahnya namun Jungkook tahu, dan seratus persen yakin kalau pemuda berambut terang kalem itu adalah Kim Taehyung! Pemuda brengsek yang selama ini Jungkook cari!

"Taetae hyung!"

Buru-buru Jungkook berlari ke meja yang ditempati Hoseok namun karena ia sempat terhambat pengunjung cafe, langkahnya menjadi lambat dan tertinggal jauh oleh Taehyung yang entah sudah kabur kemana. Otaknya sedikit mampet dan jantungnya makin menggila, ia menatap Hoseok penuh tanya. "kau bagaimana bisa –"

"dia yang sangat berarti dihidupmu, dia yang akan jadi takdirmu, dia adalah V."

.

Taehyung berlari kalang kabut. Ia terkejut setengah mati menyadari Jungkook mengetahui keberadaannya. Hampir saja ia tertangkap bocah itu kalau ia tidak segera lari. Ia tidak peduli kemana akan berlari, yang penting tidak bertemu Jungkook. Setidaknya jangan sekarang. Taehyung belum mampu menopang dirinya sendiri bahkan untuk bertemu tatap dengan Jungkook.

Ia tidak tahu kenapa dirinya malah berakhir di toilet cafe. Ia terlalu fokus untuk kabur dan tidak memikirkan tujuan, begitu sadar dia sudah berdiri menatap pantulan wajahnya di cermin toilet. Ia menghembuskan napasnya berat, mencuci wajahnya dan berniat pulang sebelum –

"gotcha."

Sumpah demi apapun, Taehyung benar-benar terkejut sampai rasanya bisa saja dia jatuh terjerembab. Ketika ia membalikkan badan tiba-tiba seseorang sudah memerangkapnya dengan tatapan setajam elang yang siap mengoyak mangsa. Dan sialnya, orang itu adalah satu dari orang yang tidak ingin Taehyung temui. Park Jimin.

"kau menghilang terlalu lama, sunbaenim." Kemana Jimin yang biasanya ceria dan tebar senyum itu? Raut wajahnya sungguh serius dan tatapan matanya mampu melubangi kepala Taehyung saat itu juga. Intonasinya yang dingin dan datar namun dalam itu membuat Taehyung bergidik pelan.

Mungkin apa yang dikatakan Yoongi benar. Bahwa sekuat apapun Taehyung berlari, menjauh, menghilang dengan paksa, semua akan sia-sia. Karena buat apa Taehyung pergi kalau seharusnya ia kembali dan pulang ke rumah. Tempat yang sangat ia dambakan. Yang menjadi bunga di setiap tidurnya. Yang selama ini ia tunggu untuk terbuka pintunya. Yang selama ini berusaha untuk dibuka dengan bermacam-macam kunci. Jeon Jungkook.

Tapi logikanya mengelak. Otaknya berpikir kalau semua ini salah. Taehyung tidak seharusnya kembali pada Jungkook. Jungkook dan dia hanyalah masa lalu, hanya cinta monyet masa SMA yang benar-benar tidak ada artinya. Itu hanya perasaan sesaat anak muda yang sedang bergejolak karena hormon. Tidak lebih. Mereka kini sudah dewasa, mapan, dan memiliki kehidupan masing-masing yang bahagia.

Terlebih kehidupan Jeon Jungkook yang amat sangat damai.

Rasanya sungguh tidak pantas jika seorang Kim Taehyung harus memporak porandakan hidup bocah lugu baik hati macam Jungkook. Hidupnya selama kurang lebih tiga tahun baik-baik saja selama tidak ada Taehyung –dan segala kenangan mereka dimasa lalu –dan pikirnya, adalah buruk untuk meruntuhkan pondasi kebahagiaan yang Jungkook anggap sebagai kehidupannya selama ini. Ia tidak cukup kuat untuk membuat Jungkook terluka seperti tiga tahun lalu, lebih baik dia yang terluka. Sebagai pembalasan atas betapa tersiksanya seorang Jungkook yang begitu polosnya mencintai sunbaenim di sekolah dan di hujat habis-habisan. "aku tidak tahu apa motivasimu tapi sungguh, kau ini laki-laki. Jadilah pria dan hadapi masalahmu sendiri. Kabur itu pilihan pengecut, apa sunbaenim orang seperti itu?"

"kau bisa menjawab iya tapi sayangnya dan maaf sekali –aku tidak percaya kau orang yang pengecut, sunbaenim. Kau hebat, berani, tegar, kuat. Lalu apa yang membuatmu –"

"kau tidak mengerti!" Taehyung berteriak sekeras yang ia bisa. Ia lelah diceramahi setiap orang yang bertemu tatap dengannya. Ia muak. Ia benci. Ia marah. Seolah semua orang mengatakan bahwa apa yang Taehyung lakukan adalah kesalahan besar. Bahwa keputusan yang sudah susah payah ia pertimbangkan adalah hasil keegoisannya semata. Seolah Taehyung menorehkan dosa diatas lembar putih hingga harusnya ia langsung jatuh ke neraka sampai terhapus seluruh dosanya.

Semua orang tanpa terkecuali, jika sudah bertemu Taehyung dan berbincang pasti akan mengarahkan pembicaraan pada masalahnya dengan Jungkook. Dan Taehyung benar-benar tidak mengerti. Dia tidak paham kenapa orang lain ingin sekali Taehyung keluar dari tempat persembunyiannya. Ia lelah di ceramahi ini itu, mengatakan kalau dia pengecut dan pecundang karena langsung menyerah. Tapi Taehyung tidak begitu, justru kini ia tengah berjuang demi kebahagiaan orang yang ia cintai. Dan jika dari sekian juta orang punya caranya sendiri untuk mencintai dan melindungi seseorang, kenapa Taehyung dan caranya sangat ditentang?

"kalau begitu buat aku mengerti."

Suara yang tiba-tiba menginterupsi pembicaraan Taehyung dan Jimin membuat kedua insan itu menoleh ke pintu –tempat suara itu berasal. Jimin tersenyum simpul dan bersyukur dalam hati. Berdoa semoga masalah ini segera selesai. Sedangkan Taehyung meneguk ludahnya kasar dan menatap pemuda yang berdiri angkuh di ambang pintu dengan sedikit takut. "buat aku mengerti, hyung."

Pemuda itu berjalan lambat menghampiri Taehyung, membuat Jimin melangkah mundur meski matanya masih mengawasi keduanya. Takut-takut ada perkelahian tak terduga –karena bagaimanapun mereka ini laki-laki dan biasanya perkelahian adalah salah satu cara pria menyelesaikan masalah. Dapat ia lihat betapa Taehyung melemas dan wajahnya memerah entah perasaan apa yang ia pendam; bisa jadi marah, takut, malu, apapun itu. Kini ia berharap dengan Jungkook yang makin dewasa, pria itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

"terima kasih bantuannya, Jimin hyung. Kau bisa pergi sekarang,"

Jika tidak dalam situasi menegangkan begini, Jimin mungkin akan menoyor kepala Jungkook karena –hell, berani sekali dia mengusir Jimin yang sudah menemukan permata berliannya Jungkook ini. Kalau saja tadi Jimin tidak kebelet pipis begitu sampai di cafe, Jungkook akan benar-benar kehilangan jejak Taehyung. Ia yakin. Tapi biarlah Jungkook menenangkan pikirannya dulu dan Jimin tahu diri, ia segera pamit dan berharap bahwa mereka dapat kembali bersama. Menjalani hidup yang lebih baik daripada sembunyi dan menahan perasaan masing-masing. Mereka layak hidup bahagia seperti pasangan lainnya, plus mereka saling mencintai. Jimin memang tidak tahu banyak tentang kisah rumit diantara mereka tapi yang jelas ia tidak memihak manapun, ia akan menegakkan perasaan, mengutamakan kata hati, dan meluruskan takdir.

Toilet itu hening beberapa saat. Entah kenapa rasanya seperti skenario drama karena toilet benar-benar sepi, tidak ada siapapun selain Taehyung dan Jungkook didalamnya yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Jungkook asyik menatap wajah Taehyung yang begitu ia rindukan sementara Taehyung asyik dengan pemikirannya sendiri yang sudah melayang kemana-mana.

"bisa kau jelaskan kenapa kau pergi?" Jungkook adalah yang pertama memecah keheningan.

"tidak bisa,"

Jungkook menggeram pelan, "kau punya alasan untuk pergi. Kau berteriak pada Jimin seolah kau sangat tertekan. Seakan kau memanggul beban berat di pundakmu sampai rasanya bangkit berdiri saja kakimu bisa patah. Kau menatap nyalang padanya seolah kau marah, kau kesal karena diintimidasi oleh Jimin. Napasmu kacau seperti kau menggebu-gebu ingin mengatakan sesuatu tapi –"

Jungkook mengunci tatapan mereka. Menghalangi Taehyung untuk bisa keluar dari tatapan mematikan itu barang sedetik. Bodohnya, Taehyung mudah sekali terpedaya oleh manik gelap memabukkan itu. Rasanya ia bahkan mampu tidak berkedip beberapa menit. " –tapi kau tidak bisa menjelaskannya. Kau tidak mau mengakui kalau kau egois dan pecundang. Kau marah dikatai pengecut, kau lelah diceramahi ini itu oleh siapapun. Kau pusing sampai kepalamu mau pecah tapi lidahmu kelu karena kau berpikir orang lain tidak akan mengerti."

"karena siapapun tidak akan mengerti!"

"kalau begitu buat aku mengerti!" Jungkook memekik marah. Tanpa sadar mencengkeram bahu lebar nan kurus milik Taehyung dan menggoyangnya kasar. Karena sungguh, tubuh Taehyung yang seringan kapas memudahkan Jungkook untuk menggerakkannya. Jungkook menghela napas dan menunduk, berusaha tidak menangis meski ia tahu airmata sudah tertampung di pelupuk matanya sejak tadi.

Dan Taehyung termangu. Kenapa Jungkook begitu tepat, begitu benar, dan sangat jelas dalam mendeskripsikan perasaan Taehyung? Kenapa Jungkook mampu mengutarakannya dengan mendetail bahkan itu adalah perasaan orang lain, sedangkan Taehyung sendiri tidak mampu melakukannya. Ini aneh. Dan ia benci kalau orang mengetahui kelemahannya. Ia marah. Ia kalut dan ia takut.

"hyung, Taehyung hyung – "

Jungkook menangis pelan sambil meremas bahu Taehyung yang terasa tulang saja. Hati Jungkook tersayat sedikit, membayangkan betapa menderitanya Taehyung yang bersembunyi. Ia tidak tega untuk berimajinasi pemuda itu tidak makan dengan baik sampai tubuhnya sekurus ini. Ia marah dan kecewa sekali. "kumohon, jangan lari. Jangan pergi. Jangan kemana-mana, disini saja denganku. Aku –aku –"

"Jungkook –"

"Hoseok hyung memberitahuku. Aku tidak mengerti, sungguh. Ini tidak masuk akal. Aku benar-benar tidak mengerti, seperti yang kau katakan. Tapi –"

Ini yang Taehyung takutkan. Jungkook menangis dan berpikir keras tentang masa lalu. Ia benar-benar tidak tega melihat Jungkook begini rapuh. Mengingatkannya pada Jungkook tiga tahun lalu yang tersenyum miris padanya dengan badan penuh telur busuk. Ia hendak membebaskan diri dari cengkeraman Jungkook namun pemuda itu sudah duluan memeluknya erat sampai Taehyung sesak. Hatinya sakit dan kepalanya pusing. Aromanya masih sama sejak tiga tahun lalu dan Taehyung hampir saja limbung.

" –tapi aku tidak peduli. Aku hanya mau Taehyung hyung jangan pergi. Kembali, kembali jadi Taehyung yang selalu ada dimanapun aku berada. Jadi orang yang lucu, blak-blakan, keren, manis, dan bisa jadi seksi. Aku kangen –kangen padamu, sungguh. Aku kangen sampai rasanya mau mati."

"kau ini bicara apa –"

"kau yang bicara apa!" Jungkook memekik dan mecubit pinggang ramping Taehyung yang menghasilkan 'aduh' dan desisan yang agak seksi jika didengar oleh telinga Jungkook. Namun kemudian ia mengusapnya penuh sayang dan bergumam maaf. "jangan bicara seolah kau yang paling terluka. Kita sama-sama terluka dan jangan marah dengan pendapat orang karena hell, mereka benar. Kau tidak seharusnya pergi dan bersembunyi dariku. Lagipula kenapa kau melakukan itu? Itu membuatku gila, tahu. Pokoknya jangan pergi! Tidak boleh!"

Hati Taehyung mencelos mendengarnya. Entah karena apa pertahananya tiba-tiba saja goyah. Ada sesuatu didalam hatinya yang berteriak pada dirinya sendiri kalau selama ini ia memang salah. Tidak seharusnya ia bersikap pengecut seperti ini, bagaimana bisa ia begitu bodoh berpikir bahwa Jungkook akan baik-baik saja tanpa Taehyung. Jika ia memang masih sadar bahwa, Jungkook –orang yang dihadapannya ini, tengah memeluknya, menangis hebat dan memohon pada Taehyung untuk kembali. Padahal mereka belum lama bertemu kembali dan Jungkook sudah segila ini, jauh didalam lubuk hati kecil Taehyung, ia menyesali perbuatannya sendiri.

Tapi apa benar jika ia kembali semua akan baik-baik saja? Jungkook memohon padanya untuk kembali hanya karena ia belum tahu kejadian yang telah terjadi tiga tahun lalu, kan? Bukankah bocah itu hanya mengetahui Taehyung sebagai senior di kampusnya. Ia tidak mengenal siapa Taehyung yang sebenarnya, Taehyung tiga tahun lalu yang ia kenal sebagai V. Yang sejak dulu mencintainya bahkan sampai detik ini.

"kau tidak bisa begini, Jungkook-ah. Ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dan kurasa memang seperti ini saja hubungan kita,"

"tidak mau! Aku tahu, hyung. Aku sudah tahu."

Taehyung meremas kemeja Jungkook yang halus dan beraroma buah-buahan yang mampu membuat dirinya mabuk kepayang. Tapi bukan itu yang menjadikkannya terkejut dengan penuh tanya dalam benaknya, melainkan pengakuan Jungkook barusan. Apa benar ia tahu? Sudahkah Jungkook tahu?

Jungkook melepas pelukannya, "Hoseok hyung dan Wonwoo hyung yang memberitahuku. Aku memang tidak mengerti tapi –setidaknya, aku tahu."

Bocah itu sesenggukkan dan mengusap pelan pipinya yang basah, "kita –kau dan aku, saling mengenal sebelum ini, kan? Kita satu SMA dan aku adalah junior kelas satu. Kita pertama bertemu saat aku mencari perpustakaan, bukan begitu?"

Perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuh Taehyung. Entah kenapa perasaan senang menguasai benaknya. Seketika ia ingin menjerit mendengar Jungkook tahu masa lalu mereka. Caranya bercerita dalam isakan yang sialnya sungguh terlihat menggemaskan membuat Taehyung terpesona. Sekali lagi, Jungkook membuat seorang Kim Taehyung tergila-gila. "kita bersahabat, menghabiskan waktu bersama, kau sering kerumahku untuk main atau menginap. Aku bercerita banyak hal padamu bahkan –"

" –bahkan tentang pertama kalinya aku menyukai seseorang."

Taehyung terkesiap dalam diam. Menanti apa kiranya yang akan diceritakan selanjutnya oleh Jungkook. Ia tidak mampu membayangkan betapa tersiksanya Jungkook saat menceritakan kisah kelamnya itu. Ia tidak sanggup untuk melihat bocah itu menangis lagi. "dengan polosnya aku meminta bantuanmu agar bisa mendekati orang yang kusuka. Tanpa tahu perasaanmu yang sebenarnya padaku. Aku minta maaf untuk itu, hyung. Kau tahu, aku masih kaku dalam masalah percintaan begitu-begitu. Aku tidak paham."

Cara bercerita Jungkook yang lucu mampu membuat Taehyung tersenyum. "aku tidak tahu bagaimana orang-orang disekolah bisa begitu jahat padaku setelah perbuatan baikku pada mereka. Hanya karena aku mengatakan apa yang kurasakan pada orang itu, keadaan berubah. Hidupku jungkir balik dan aku merasa hina sekali. Aku marah tapi tidak bisa melakukan apapun. Dan kau –"

" –hyung, satu-satunya orang yang membuatku bertahan. Kau selalu ada dimana aku membutuhkan apapun bahkan sebagai tempat pelarian. Kau tidak pernah mengeluh tentang kehidupan bahkan untuk penderitaan yang selalu kau alami. Aku baru menyadarinya dan aku sungguh marah pada diriku sendiri karena aku tidak pernah membuatmu bahagia, aku –"

"kau sudah cukup membuatku bahagia, Jungkook-ah." Tau-tau tangan besar Taehyung mengelus pipi Jungkook yang semakin gembul dan mengangkat dagunya. Membuat Jungkook yang sedaritadi menunduk jadi beradu tatap dengan manik besarnya yang hangat dan teduh. Taehyung tersenyum pelan hingga membuat Jungkook merona samar. Pandagannya berbinar dan auranya kembali seperti bocah SMA yang lugu –bukan yang sok dewasa arogan yang berdiri di ambang pintu dan berteriak padanya beberapa saat lalu.

"begitukah?"

Taehyung mengangguk, "dengan kehadiranmu dalam kehidupanku; masa lalu yang hanya tinggal kenangan pun aku sudah bahagia. Melihatmu bahagia meski bukan karenaku, aku bahagia. Mengetahui kau hidup dengan baik selama tiga tahun tanpaku, aku bahagia. Semudah itu, jadi jangan –"

"tidak. Bukan itu yang kumaksud,"

Taehyung mengernyitkan alisnya, "kau hanya pura-pura bahagia. Kau bersikap seolah tidak ada yang terjadi, padahal ribuan pisau tertancap dihatimu, mengoyak seluruh raga dan memporak-porandakan jiwamu. Kau memang bisa tersenyum dan tertawa tapi kau tidak sungguh-sungguh."

"kau –jauh di lubuk hatimu, menginginkan aku kembali dalam hidupmu. Berharap kita bisa kembali bersama seperti dulu, bermain, tertawa, bukan sebagai Jungkook – Taehyung teman sekampus tapi –"

" –tapi sebagai Jungkook dan V –atau Kim Taehyung, yang sudah mengenal sejak SMA dan ditakdirkan bersama."

Taehyung bergeming menatap Jungkook dengan pandangan mata yang kosong. Terlalu kaget dengan apa yang barusan Jungkook utarakan. Ia tidak menyangka kalau Jungkook benar-benar sedewasa ini mengatakan apa yang ia inginkan. Secara detail dan menusuk, begitu polos dan tulus. Ia tidak tahu kalau jalan pikiran Jungkook begini mudah dan terbuka. Entah kehidupan bagaimana yang telah dilalui hingga ia bisa begini bijaksana dalam bertindak maupun berucap. "aku tidak mengingatnya, kalau mau jujur. Tapi setidaknya aku tahu, dan kurasa itu sebuah permulaan yang bagus. Bukan begitu?"

Entah apa yang harus keluar dari mulut Taehyung untuk membalasnya. Pemuda yang sekarang hampir melebihi tinggi badannya itu sungguh pandai bicara sampai Taehyung tidak mampu membuka mulutnya barang untuk protes sekali pun. Ia benci bagaimana ia harus lagi-lagi terpesona dengan kesederhanaan dan kedewasaan Jungkook yang ada dihadapannya sekarang. Sungguh perpaduan sempurna sampai rasanya Taehyung ingin menangis saking senangnya.

Bosan dengan keheningan yang diciptakan Taehyung, Jungkook menyingkirkan telapak tangan Taehyung dari pipinya dan mendekat. Menipiskan jarak diantara mereka dengan degup jantung yang luar biasa menggila dan wajah yang memerah samar. Jungkook sudah gemas dengan sikap Taehyung yang selalu menghindar dan pilihannya untuk bereaksi diam membuatnya marah. Ia bicara panjang lebar tapi Taehyung hanya diam, ia marah.

Maka ketika Jungkook mencium bibir Taehyung yang hampir membeku itu, suasana disekitar mereka berubah. Hangat, namun sunyi. Pendengaran mereka mendadak buyar dan bisa saja menjadi tuli. Tidak ada yang bisa mengganggu selain salah satu dari mereka yang berniat melepas tautan itu.

Yang Jungkook tahu hanyalah ia menginginkan Taehyung. Sebesar Taehyung menginginkan Jungkook, barangkali. Dan ia kesal mendengar incarannya terus bicara ngawur berusaha kabur dan pergi lagi. Tentu ia tidak akan membiarkannya. Maka setelah lima detik hanya bersentuhan, Jungkook berani melumat bibir bawah Taehyung yang ternyata pas sekali untuk rongga mulutnya yang agak tipis. Ia bangga saat bisa menjilat bibir tebal itu dengan lidahnya yang hangat, menyalurkan kehangatan pada bibir yang sedingin es itu.

Ia senang bukan main menyadari bahwa Taehyung bahkan tidak melawan. Bahwa dia sejujurnya menikmati ciuman polos itu. Dia tahu Taehyung sedang menghayati ciuman yang perasaan yang campur aduk. Jungkook mengintip dari matanya bahwa Taehyung memejamkan mata dan napasnya agak kacau, dan tidak ada ada kerutan di wajahnya yang tidak menunjukkan kalau ia membencinya. Itu artinya ia menyukai ini. Ciuman ini, Taehyung menikmatinya, menghayatinya, menyelaminya, dan ia sungguh terbuai.

Hati Taehyung tidak berhenti bergejolak sejak awal Jungkook menyentuh bibirnya. Sampai ia memainkan bibir bawahnya bahkan beradu dengan lidahnya, ia tetap menikmatinya. Ia benci mengakui kalau ia sungguh terbuai akan kelihaian Jungkook menciumnya. Bukan karena tekniknya. Tapi sesuatu yang coba Jungkook sampaikan melalui ciuman ini. Ada sesuatu yang seperti untaian kalimat yang hendak ia utarakan dengan ciuman ini. Sebuah perasaan yang begitu besar tak terbendung yang ingin ia salurkan pada Taehyung dari caranya mengelus tengkuk Taehyung dengan lembut seolah ia adalah mahakarya yang rapuh.

Dan Taehyung benci karena ia mengerang kecewa begitu Jungkook menyudahi ciuman itu.

"aku mencintaimu."

.

.

Taehyung sungguh tidak mengira ia bisa sepanas ini jika bersentuhan dengan Jungkook. Entah sejak kapan ia bisa segila ini hanya karena kulit mereka bersentuhan. Ia pusing merasakan betapa kacau napasnya begitu jemari Jungkook mengelus kulitnya lembut penuh sayang. Ia terbuai akan kelembutan yang disalurkan pemuda itu. Ia tengah terperangah memandang wajah Jungkook dari samping yang terpapar cahaya matahari dan angin yang meniup-niup rambut halusnya –sial, Taehyung benar-benar tidak bisa bernapas normal!

"jadi?"

Taehyung mengerjap, "jadi... jadi apa?"

Jungkook menghembuskan napasnya dengan wajah sebal yang ia buat-buat. Tidak sungguhan marah, lagipula dia tidak bisa marah pada Taehyung bagaimanapun caranya. Tidak tega juga, makhluk seindah Taehyung harus rusak karena dimarahi. Tidak, Jungkook akan menjaga Taehyung. "jadi kau itu resmi pacarku, kan."

"oh, itu sih –eh?! Apaan?!"

Suara pekikan yang dilontarkan Taehyung membuat Jungkook terkikik pelan. Mengetahui betapa lucu nada dan mimik Taehyung barusan, hati Jungkook berdesir. Mensyukuri betapa baik Tuhan mengirimkannya manusia luar biasa indah macam Taehyung. Wajah dan penampilannya –jangan ditanya, Taehyung bagai diberkati wajah rupawan sejak dalam kandungan dan selera fashionnya sungguh unik dan manis. Auranya yang cerah namun kalem juga terhitung sebagai pesonanya, serta caranya bertingkah dan bicara sungguh lucu. Jika Jungkook harus mendeskripsikan seorang Kim Taehyung, maka ia akan membutuhkan waktu setidaknya dua bulan untuk menulisnya.

"kita sudah berciuman, dan lagi aku sudah mengatakan perasaanku."

"siapapun juga boleh berciuman. Dan lagi, aku tidak membalas ucapanmu jadi secara resmi aku belum membalas perasaanmu, bocah." Taehyung mengerutkan wajahnya lucu dan nadanya mirip merengek. Hampir saja Jungkook lupa diri untuk mencium Taehyung sampai mampus. Kalau saja mereka tidak sedang di trotoar yang penuh dengan manusia, mungkin Jungkook akan melakukannya dengan senang hati.

Jungkook menyeringai, "tapi kau menikmatinya."

Sialan. Siapapun tolong bantu Taehyung untuk menebas kepala Jeon Jungkook sekarang juga. Bocah kelebihan hormon ini benar-benar minta dihajar. Lihat wajah liciknya yang sungguh mesum itu. Dan Taehyung sebal mengetahui bahwa Jungkook benar. Benar Taehyung menikmati ciuman itu. Ciuman awkward dengan emosi campur aduk dan sedikit bar-bar serta intim itu mampu membuat Taehyung mabuk dan tergila-gila. Ia sangat terpukau dan merinding. Seolah seluruh darahnya mengalir kencang sekali dan tubuhnya seketika lemas. Dadanya sesak meronta minta oksigen untuk bernapas tapi otaknya tidak mau. Secara naluri ia benar-benar tidak ingin ciuman itu berakhir. Seolah ia ingin Jungkook terus menciumnya; lagi, lagi, terus, seperti itu, sehangat itu, selembut itu, seintim itu.

Memikirkannya sungguh membuat kewarasan Taehyung terkikis. Wajahnya memerah mengingat ciuman itu. Jeon Jungkook memang bocah kurang ajar. "siapa bilang. Aku hanya terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa jadi aku hanya –"

"bahkan kau tidak mau melepas genggaman tanganku,"

Taehyung menatap tangannya yang ternyata entah sejak kapan sudah bergenggaman dengan jemari halus milik Jungkook. Ia tidak sadar, sungguh. Tapi rasanya sungguh nyaman, hangat, dan aman. Jari-jarinya yang besar sungguh pas dengan jemari Jungkook yang berukuran lebih kecil. Kulitnya yang halus menghantarkan kelembutan yang dapat merenyuhkan jiwa Taehyung dalam sekejap. Ia tidak tahu pasti tapi yang jelas ia benar-benar terbuai bahkan ketika manik Jungkook memerangkapnya dengan cepat, mengalahkan angin hari ini.

"benar, kan?" Jungkook tersenyum melihat Taehyung yang masih bergeming. Ia yakin bahwa Taehyung sedang terpesona. Sayangnya proses berpikir pemuda itu memang amat sangat lamban, hingga Jungkook harus pandai-pandai mengatur emosinya yang sudah meledak-ledak. Jungkook percaya bahwa sebenarnya Taehyung menyukainya sebesar ia menyukai Taehyung. Dan jauh dalam hatinya, pemuda itu mengiyakan semua pertanyaan Jungkook.

"tidak tuh, dasar mesum. Kudet, jorok, kelebihan hormon. Cium-cium di toilet, kayak gak ada tempat lain aja. Dan pegangan ini –bukannya kau yang tidak mau melepaskan tanganku? Huh, dasar bocah. Aku benci kau."

Bohong. Jungkook tahu Taehyung sedang berbohong. Tapi dia tersenyum, hatinya menghangat, dan dadanya berdesir hebat sekali. Melihat tingkah Taehyung yang malu-malu begitu; suka tapi malu. Ia benar-benar dibuat gemas oleh pemuda ini. Benarkah Taehyung ini senior yang lebih tua darinya? Bahkan sikapnya sungguh menggemaskan untuk ukuran pria dua puluhan keatas. Jungkook terkikik pelan dalam hati, mensyukuri keberkatan yang dilimpahkan padanya. Betapa beruntungnya ia memiliki Taehyung dalam hidupnya.

Ia memang sudah diceritakan tentang masa lalunya yang kelam. Namun, ia tidak marah ataupun menangis dan mengurung diri. Justru ia benar-benar ingin bertemu Taehyung saat itu. Memastikan, benarkah yang Wonwoo dan Hoseok ceritakan padanya benar adanya? Benarkah selama ini Taehyung yang melindunginya, menyayanginya, menemaninya, memberinya semangat hidup, menyukainya, dan mencintainya –bahkan sampai detik ini?

Jungkook tentu tidak mengingat apapun, ia paham kalau ia telah terkurung dalam segel hipnoterapi yang ia jalani tiga tahun lalu. Tapi ia sungguh tidak peduli, masa bodoh, tidak mau tahu. Baginya ini adalah awal untuk memulai kehidupan yang lebih baik lagi. Bersama Kim Taehyung (ataupun V), ia akan memenuhi keinginan Taehyung selama ini. Mimpi dan andaiannya yang sejak dulu meraung berharap Jungkook untuk kembali dalam hidupnya dan memulai dari awal lagi. Jungkook dengan senang hati menerima kesempatan emas itu, tanpa ragu, tanpa pikir panjang, penuh keyakinan, dan hati yang mantap penuh komitmen. Ia akan membalas semua jasa, waktu, tenaga, dan pikiran yang telah Taehyung habiskan untuk dirinya di masa lalu.

Namun ia berani sumpah semua ini ia lakukan karena ia mencintai Taehyung sungguh-sungguh. Tidak sekadar membalas budi padanya, tidak begitu. Jungkook benar-benar menginginkan Taehyung dalam hidupnya, mewarnainya, mengisi kekosongannya, melengkapi kekurangannya, dan menjadi orang yang bisa dijadikan sandarannya. Seseorang yang bisa dibagi kesedihan dan kebahagiaannya, yang selalu ada mendengarkan, menggumamkan kata cinta dan sayang, mengelus kepalanya kembut, dan memeluknya hangat. Ini bukan keputusan yang didasarkan pada rasa balas budi dan prihatin, lebih dari itu Jungkook menyayangi Taehyung dengan tulus. Ia menyukai pria itu segenap hatinya, Jungkook mencintainya.

"heum~ terimakasih, aku juga mencintaimu."

"aish! Apaan, sih Jeon Jungkook!"

.

.

"selamat datang kembali, Taehyung sunbaenim~!"

Ini baru jam setengah tujuh dan Taehyung sudah harus pusing dengan pekikan riang dari mulut Jimin yang sungguh disayangkan cempreng seperti itu. Jungkook benar, siapapun tidak akan tahan dengan suara cempreng milik Jimin yang menggelegar seperti itu. Bahkan Yoongi sering mengeluh padanya kalau suara Jimin itu membuatnya sakit kepala. Tapi Taehyung hanya tersenyum hangat, menyukai betapa perhatiannya juniornya ini. Dan sedikit lega karena keceriaan pria itu telah kembali. Tidak ada lagi Jimin yang seseram elang dan sedingin kutub utara. Diingat-ingat lagi, Taehyung jadi merinding melihat sisi gelap seorang Park Jimin.

"terima kasih, omong-omong kau dan Yoongi –"

Buru-buru Yoongi memotong, "kami hanya tak sengaja berpapasan dijalan, oke? Jangan pikir macam-macam, pabo. Atau ingin kucongkel otakmu?"

"aish, masih saja kejam. Kau tidak kangen padaku, begitu?"

"heh. Kau menumpang di flatku, keparat mungil. Setiap hari aku yang membangunkan dan memasak untukmu, kalau tidak kau sudah tinggal nama karena kelaparan." Yoongi berdecak sebal dan mulai menggerutu. Wajahnya sedikit merah karena marah, dan bicara cepat sekali sampai Taehyung kembali pusing. Suara cempreng Jimin dan rapp sukarela dari Yoongi membuat kepalanya hampir pecah.

Yoongi terus saja menggerutu dan Taehyung sudah gatal ingin membekap mulut kecil itu. Tapi melihat Jimin menatap Yoongi dengan pandangan berbinar dan senyum merekah membuat Taehyung enggan membekap mulut sahabatnya itu. Ia tersenyum kecil menyadari betapa Jimin masih menginginkan Yoongi. Masih berusaha agar Yoongi melihatnya, menyadari keberadaannya, mengetahui perasaannya –lebih dari itu Jimin berusaha membuat Yoongi berpaling padanya.

Tau-tau Jungkook datang dan merangkul Taehyung, "kau bisa mengotori wajahnya dengan liurmu, Yoongi hyung."

"dih. Diam saja kau, atau kau mau kuludahi juga."

Salah. Jika berhadapan dengan Yoongi, memang akan selalu salah. Jungkook bermaksud bergurau tapi lihat, Yoongi malah mendampratnya juga. Ia meringis dalam hati, manis-manis galak sekali. Ia sampai heran apa yang Jimin sukai dari pria reptil seperti itu. Jimin memang unik. Atau masokis? "omong-omong, kapan kalian mentraktir? Kalian kan baru saja –uhm, itu..."

"aku tidak tahu kau sematre itu. Yoongi hyung, jangan mau dengannya atau kau akan bangkrut."

Jimin merengut sebal, "apaan sih, Jeon Jeongguk!"

"memang tidak mau." Yoongi menjawab dengan santai dan Jimin menatapnya terkejut. Ia merengut sedih menatap Yoongi yang meliriknya tajam. Sebenarnya Yoongi bisa saja memekik dan mencubit pipi tembam Jimin hanya saja gengsi mengalahkan nafsu liarnya. Bahkan ketika Jimin beraegyeo pun ia tetap menatapnya datar, padahal Taehyung dan Jungkook sudah menyuruhnya untuk menyudahi tatapannya yang katanya seperti nenek lampir. Apa-apaan itu.

Yoongi menghela napas, "selamat datang kembali, Kim Taehyung."

Dan ketiga orang disana terkesiap, mereka terkejut sampai sempat menahan napasnya. Bagaimana tidak, jika secara langsung dan tanpa persiapan Yoongi menyebarkan senyumnya yang manis. Astaga demi apapun, Yoongi itu memang manis tapi sungguh jarang menampilkan senyum mautnya itu. Bahkan Taehyung saja masih bisa collapse jika Yoongi mengeluarkan senyuman tulusnya yang lebar dan mematikan seperti itu. Sumpah, Taehyung sering jantungan kalau Yoongi berubah jadi manis seperti itu.

Dan jangan tanya bagaimana ekspresi Jimin kali ini. Mungkin ini tampang terbodoh yang pernah Jimin pasang selama hidupnya. Matanya melebar, mulutnya menganga sampai hampir berliur, dan hidungnya kembang kempis. Kepalanya pusing meski otaknya mampet, jantungnya menggila, dan tubuhnya lemas. Begini besar efek sebuah senyuman, rupanya. Min Yoongi sungguh luar biasa. "h –hyung, kau –kau manis sekali,"

"apa?! Coba bilang lagi, Jimin pabo!"

"kau manis –adaw!"

Jungkook tersadar dari lamunannya begitu Yoongi memukul Jimin bertubi-tubi. Ia menolehkan pandangannya menuju Taehyung. Pemuda itu tengah menatap Yoongi dan Jimin dengan tatapan teduh dan senyum tipis. Raut wajahnya senang dan kalem, membuat Jungkook ikut terlena dan tenang. Akhirnya ia bisa melihat Taehyungnya lagi, disini. Ia bisa bersama Taehyungnya lagi. Memandangnya, memikirkannya, menyentuhnya, merengkuhnya, dengan perasaan berbunga. Dengan senyuman tampan Jungkook menarik lengan kurus Taehyung dan menggiringnya pergi, setelah mengisyaratkan pemuda itu untuk tidak berisik. Ia ingin memberi Yoongi dan Jimin waktu berdua, dan Taehyung tentu setuju.

Mereka berakhir di belakang gedung tiga kampus, "ada apa, Kookie?"

Bukan menjawab, Jungkook tertawa pelan hingga Taehyung mengernyitkan keningnya pelan. Mencoba menerka apa yang Jungkook tertawakan? Padahal dia sedang tidak melucu, atau ia menertawakan tingkah pasangan Yoongi dan Jimin?

"aku suka panggilan itu. Kookie. Manis sekali."

Taehyung berdecak malas. Pikirnya apa yang lucu. Hanya masalah nama panggilan, ternyata. Memang pola pikir Jungkook sesederhana itu, ya. Taehyung jadi sedikit iri. Bagaimana ia melihat segala sesuatu dengan positif dan menyenangkan. Bahkan ketika bocah itu bilang bahwa ia tidak menangis saat diceritakan masa gelap itu, Taehyung jadi malu sendiri. Ia sudah terlalu jauh berpikir yang tidak-tidak. Padahal ia tidak tahu seberapa hebat Jungkook tumbuh dewasa, namun ia seenaknya berasumsi negatif tentang Jungkook. Kali ini ia akan mencoba lebih berpikir terbuka. "iya, manis kayak dirimu yang manisnya tumpah ruah."

"a –apaan sih, hyung."

Mungkin tidak hanya Jungkook yang menyukai warna merah. Rasanya Taehyung juga mulai menyukai warna itu. Ia suka warna merah di kedua pipi tembam Jungkook yang muncul malu-malu seperti itu. Membuat hatinya berdesir bahagia, rasanya ia ingin sekali mengecup pipi itu saking gemasnya. Sisi kekanakan Jungkook yang malu-malu dan kikuk benar-benar membuat Taehyung memekik betapa lucunya bocah yang sudah resmi miliknya ini. "h –hyung,"

Taehyung bergumam dan mengelus pipi Jungkook. Ia terkikik mengetahui pipi bocahnya itu justru semakin merah jika disentuh. Ia tidak bisa membayangkan betapa merahnya pipi itu jika ia kecup. Membayangkannya membuat Taehyung jadi gila, sumpah. "i –itu, hyung –ah, anu –"

"apa sih, Kookie. Bicara yang jelas. Aku yang dengar jadi ambigu nih dengar anu."

Jungkook mencubit pinggang Taehyung dengan kesal dan malu-malu. Sempat-sempatnya Taehyung berpikiran mesum sekarang. "hyung –kau belum bilang kalau –uh, kau mencintaiku?"

Giliran Taehyung yang tertawa terbahak. Ia sudah tidak tahan dengan pertanyaan Jungkook barusan. Bocah ini benar-benar polos, rupanya. Hanya penampilan luarnya yang sudah dewasa. Jauh didalam dirinya Jungkook masih murni seperti anak SMP yang masih awam soal cinta.

"memangnya harus kukatakan, bukannya kau sudah tahu?"

Jungkook mengembungkan pipinya. "aish, hyung!"

Memangnya sesusah itu mengatakan aku mencintaimu? Memang pertama Jungkook mengatakannya ia merasa gila. Ia gugup setengah mati dan napasnya kacau. Kebetulan sekali ia mengatakannya setelah mencium Taehyung dan parahnya di toilet. Mengingat itu Jungkook merasa bodoh sekali, ia seperti pria mesum saja sampai harus berciuman di toilet. Ah, sudahlah. "kita bukan anak SMA yang harus mengatakan hal picisan seperti itu, Kookie. Kau bahkan hampir dua puluh tahun dan ucapan itu sungguh kekanakan."

"kekanakan?! Aku?! Kekanakan?! Aku mengatakannya seperti sedang menjual jiwaku pada dewa kematian, tahu. Aku gugup sekali, takut kau menamparku atau apalah."

"tapi tidak, kan."

Jungkook mengerang frustasi. Apa sesulit ini mendapatkan pernyataan cinta dari kekasih sendiri? Ia tahu Taehyung jelas mencintainya, hanya saja ia ingin mendapat bukti otentik setidaknya melalui ucapan dari bibir kekasihnya sendiri. Ia ingin mendapatkan haknya, dan ia rasa mengatkan hal itu dengan perasaan yang memang benar mencintai tidak sesulit itu, kan? Ia kesal sekali Taehyung mengatainya kekanakan ketika Jungkook menahan rasa malu dan gugupnya mati-matian untuk mengatakan aku mencintaimu dengan keren seperti di drama tv. Sialan memang Kim Taehyung itu.

"hyung, kau –"

Ia benar-benar tidak tahu jalan pikiran seorang Kim Taehyung. Tapi yang jelas ia menyukainya. Menyukai segala yang ada pada pemuda itu. Baik wajah, penampilan, suara, tingkah laku, cara makan, berjalan, bahkan caranya membuat perasaan Jungkook jungkir balik. Ia mencintai Kim Taehyung. Ia mencintai bagaimana pemuda sekaligus seniornya itu menciumnya sehangat ini. Betapa tubuhnya hangat sekaligus lemas hanya dengan sentuhan bibir yang sangat lembut itu. Pikirannya kaku dan sungguh tidak tahu harus berbuat seperti apa untuk membalasnya. Karena bahkan Taehyung tidak melakukan apa-apa kecuali menempelkan bibir mereka dalam waktu yang panjang.

Tapi ada sesuatu. Sesuatu yang membuat hatinya berdesir hebat. Seperti ia bisa mendengar Taehyung berbisik lembut di telinganya, bahwa ia mencintai Jungkook. Caranya menempelkan bibir dan menekannya membuat Jungkook seolah melihat Taehyung yang tersenyum manis padanya dan mengatakan aku menyayangimu. Sentuhan lembut yang Taehyung berikan di pipinya membuatnya seolah merasakan Taehyung tengah memeluknya erat dan berucap aku menyukaimu. Deru napasnya yang hangat dan agak kacau membuat tangannya seolag digenggam lembut oleh Taehyung dan dikecup pelan kemudian berkata –

"aku mencintaimu. "

"Dengan sungguh, sejak dulu. Tidak pernah berkurang, selalu bertambah dari hari ke hari. Aku menyayangimu dengan seluruh sel darah yang kumiliki. Aku akan menjagamu dengan semua kekuatan dalam tubuh kurusku ini, aku akan membahagiakanmu dengan sifatku yang konyol ini. Aku ingin bersamamu, melewati hari dengan senyum manis dan tawa bahagiamu yang bagai vitamin itu. Jungkook-ah, aku sangat tergila-gila. Sumpah, aku sangat menyukaimu –"

Taehyung tersenyum, " –aku mencintaimu."

.

.

.

.

END

.

.

Annyeonghaseyo~! Finally the complicated story of Taehyung and Jungkook is done. Akhirnya mereka bisa bersama lagi huhuhuhuhu aku kok baper sendiri, ya. Lol. Aku berharap bisa punya cerita romansa seindah ini #jomblobaper. Terima kasih atas semua perhatiannya yang udah setia membaca ceritaku yang masih amatir ini, selalu review dan kasih semangat. Semoga endingnya bisa memuaskan hati kalian, maaf kalau kecepatan finishingnya /

Berhubung kisah Yoongi dan Jimin belum selesai, aku berencana bikin sekuel tapi khusus Yoonmin gitu. Tapi lihat review dulu, sih. Ehehhew, mungkin ada yang berminat? Kalau setujunya lebih dari enam akan kubuat sekuelnya~! Kalau gak segitu... yah, kumohon segitu lah ya, ehehehe

Once again, i want to say thank you for all my readers, reviewers, and followers. Also for my inspiration, bighit, bangtan, and all the friends who keep supporting me well. Thank you for your attention, efforts, supports, nice comments, all of them.

Me, the author of Unpredictable Wheel is saying goodbye. Thanks for being the part of this story by just reading or leaving comments. With all my love, i say goodbye and thank you!