*MISSING YOU* PART 9

CAST

KIMJONGIN

OH SEHUN

XI LUHAN

KIM MINSEOK

.

.

.

Kai berdiri di balkon kamarnya dan menggenggam pagar pembatas balkon tersebut, matanya menatap ke arah parkiran dan menatap sosok namja paruh baya dengan kimono khasnya tengah memasuki mobilnya dan pergi dari kediaman lu.

"onii-chan apa yang ku lakukan ini sudah benar"

[FLASBACK]

Kai yang saat itu masih berusia 4 tahun berdiri di samping kyo, tubuh kaku sang ibu yang kini tengah berada di dalam peti, kai beberapa kali menghapus air matanya, kyo yang melihat itu membawa kai ke taman belakang keluarganya.

"jika kau ingin menangis menangislah kai-chan, rasanya akan sakit jika kau menahanya."

"tapi otou-san akan marah jika aku menangis onii-chan"

"tak ada otou-san disini jadi menangislah "

Kai memeluk kyo dan menangis di dadanya, kyo mengusap kepala belakang kai. Hingga ahirnya kai berhenti menangis, kyo mengusap air mata kai dan tersenyum padanya.

"onii akan pergi kedalam untuk mengambil air untukmu jadi kau diam di sini ok "

"baik onii-chan"

Kyo berjalan masuk kekediamannya dan meninggalkan kai yang sekarang berdiri bersandar di dahan pohon beser, hinga ahirna ada beberapa pelayad yang melihatnya.

"bukankah dia putrid keluarga ini?"

"iya namanya kai,"

"jadi pada ahirnya dial ah yang hidup"

"kenapa bukan dia saja yang mati, bukankah seorang anak wanita di keluarga hasimahara adalah sebuah bencana "

"aku tak tau apa yang di pikirkan otsuka hingga ia rela mati demi kelangsungan hidup anak yang akan menjadi bencana di keluarganya kelak "

Dan selanjutnya kai tak lagi mendengar apa yang di katakana oleh orang orang tersebut, karna sebuah tangan menutupi telinganya dan memeluknya erat.

"jangan pernah mendengar apa yang di katakana oleh mereka kai, semua yang di katakan mereka hanya omong ksong "

Meski begitu kai kecil masih tetap memikirkannya, hingga ahirnya dia datang ke kamar sang ayah karna rasa penasarannya, dan di sana kai bisa melihat sang kakak sedang berlutut di hadapan ayahnya.

"masuklah kai"

Itu perintah dari sang ayah, mendengar perinta itu kai masuk dan berdiri di samping sang kakak

"apa yang membawamu kemari kai"

"saya ingin bertanya otou-san"

"tentang perkataan orang orang tadi itu semua benar"

"OTOU-SAN"

"berapakali ku kataan jangan pernah berteriak pada orang tuamu HASIMAHARA KYO"

Kai menatap ayahnya tak percaya, dan kyo hanya dapat menatap iba pada kai

"kau datang kemari karna itukan, kau mungkin sudah bisa berpikir dengan kepalamu itu kai, dan kau mampu mengerti dengan kata kataku, jadi mungkin ini saatnya kau tau"

"otou-san kai masih kecil dia masih 4 tahun "

"tapi menurutku di usia itu dia sudah bisa berpikr dan jangan pernah kau memotong perkataan ku lagi kyo, dan jika itu terjadi aku tak akan segan segan menghukum mu dengan berendam di kolam belakang hingga esok hari kyo"

Sonju meminta kai dan kyo duduk di diepanya, kai dan kyo melakukan apa yang di perintahkan oleh sonju.

"aku menikah dengan ibu kalian bukan karna cinta, dan kalian pasti sudah menyadarinya denga melihat sendiri hubungan kami kan? Keluarga hasimahara, atau keluarga ibu kalian itu sudah lama memiliki sebuah kutuka keuarga. Dan yang aku tau nenek moyang kalian melakukan perjanjian dengan siluman hingga berimbas pada keturunannya sampai sekarang, orang yang sudah mencantumkan mana hasimahara akan mendapatkan kutukan tersebut. Dan kau sadar kai "

Hasimahara menatap kai yang kini menatapnya dengan mata polosnya.

"apa kau sadar keluarga hasimahara mati dengan keadaan yang mengenaskan, jika bukan karna kecelakaan pasti karna pembunuhan "

Mata kai terbelalak saat menyadarinya, dia ingat kakeknya mati karna terjatuh dari lantai 9 sebuah rumah sakit, neneknya mati karna kecelakaan mobil dan ibunya mati karna tertimpa bangunan tua, dan semuanya membuatnya menyadari bahwa ada sesuatu di balik nama hasimahara ini.

"jadi apa yang terjadi antara aku dan okaa-san(ibu dalam bahasa jepang)?"

"Seorang anak wanita yang lahir di keluarga hasimahara adalah lambang sebuah bencana, kalian tak akan bisa bersama lebih dari 5 tahun dan sepertinya kau membuat sebuah petaka besar dengan membuatnya mati saat kau bahkan baru berusia 4 tahun"

"kenapa? "

" karna salah satu dari kalian harrus menghilang, kita tak bisa memilih siapa yang akan mati di antara kalian berdua, yang pasti jika bukan ibumu yang mati maka kau lah yang akan mati. Tapi karna kau yang bertahan hidup kau harus melakukan sebuah ritual dengan orang yang memiliki aura yang lebih kuat darimu "

"ritual, apa otou-san"

"ini ritual yang di lakukan aku dan ibumu, kau tau aku dan ibumu menikah karna ritual ini, bukan karna cinta, tapi karna aku memiliki aura yang lebih kuat darinya, dan dia orang yang cukup baik dan tak pernah melakukan kesalahan padaku."

"ritual seperti apa itu"

"ini bukan waktunya kau mengetahui nya, jika satnya tiba aku akan memberitaunya sekarang kalian pergilah ke kamar kalian dan jika aku melihat kalian bermain di luar aku tak akan segan segan menghukum kalian "

"otou-san"

"pergi, kau tak mendengarnya kai"

Kyo menggenggam tangan kai dan menarik kai dari kamar sang ayah.

Hari demi hari berlaalu dan saat kai pergi ke korea dan kembali tanpa sang kakak yang dia lakukan hanya menangis di kamarnya hingga seorang namja yang seusia dengan kakaknya datang menghampirinya dan menghapus air matanya, dan hari itu kai menganggap luhan adalah temannya, namun sekali lagi takdir tak pernah membiarkan kai bahagia karna orang yang di anggap teman barunya itulah penyebab kematian kyo, dan sialnya kai meng amini permintaan luhan dengan emosi yang ada pada dirinya, hingga satu tahun setelah melakukan ritual itu, kini kai dan sonju berada di rumah bibinya, rumah adik satu satunya ibunya.

Kai dan sonju melangkah ke kamar yuki adik dari otsuka, dan saat kai melangkah ke dalam kamar itu matanya terbelalak dengan pemandangan di depannya, kai hampir saja berlari ke luar jika sang ayah tak menarik kai kembali ke tempatnya dan menutup pintu tersebut, kai menutup matanya rapat rapat tak ingin melihat pemandangan di depannya.

"buka matamu dan lihat baik baik "

Kata kata sonju adalah perintah yang tak boleh dia langgar maka dari itu kai membuka matanya dan melihat pemandangan mengerikan di depannya, bibinya terbaring lemah dengan darah kering di sekitar nya, wajahnya pucat tubuhnya kurus kering dan ada beberapa luka sayat di lengan dan lehernya, jangan lupakan rambut yang tersebar di seluruh ruangan hingga menyisakan beberapa helai saja di kepalanya, namun anehnya bibinya itu masih bisa bernafas.

Saat itu kai bersumpah tak ingin melihat keadaan bibinya yang mengenaskan itu, kai dan sonju kembali ke kediamannya, dan kai kini berdiri di depan sonju.

"kau melihatnya?"

"maksud otou-san "

"oba(bibi) mu"

"mengerikan"

"itu juga yang akan terjadi padamu"

DEG

Jantung kai berpacu dengan cepat dan menatap ayahnya tak percaya.

"itu yang akan terjadi padamu jika kau membunuh luhan, kau pikir aku tak tau rencanamu pada luhan selama ini kai?."

Sonju berjalan mendekati kai, tinggi kai yang saat itu hanya sepinggang sonju menundukan kepalanya saat ayahnya berdiri di depannya

"kau tau kenapa oba mu seperti itu"

"tidak otou-san jangan beri tau aku, jangan "

Kai melangkah mundur dan menutup telinganya rapat rapat, namun sonju menarik tangan kai yang menutupi telinganya dan menatap mata bening kai yang kini mulai mengeluarkan air matanya.

"dia membunuh suaminya, yah suaminya sendiri, suaminya yang saat itu ketahuan berselingkuh dan bibimu itu membunuhnya di tempat itu juga dua hari yang lalu dan tadi kau melihatnya sendiri kondisinya, dia seperti itu karna dia membunuh orang yang melakukan ritual denganya"

Mendengar itu entah kenapa kaki kai lemas seketika dia tak dapat menahan berat badannya dan jatuh terduduk di lantai, sonju menarik dagu kai membuatnya melihat tepat ke mata sonju

"kau harus tau kai, kau yang memiliki darah keturunan hasimahara tak bisa berbuat apapun pada orang yang melakukan ritual denganmu aku tak memberi tau mu soal ini, karna ada kemungkinan kau tak akan percaya sebelum kau melihatnya sendiri. Orang yang melakukan ritual penyatuan raga secara tak langsung memberian dirinya pada orang yang memiliki aura lebih besar dari mu atau bisa ku sebut luhan. Tanpa bisa kau lihat kini kau dan luhan telah tersambung benang merah yang menghubngkan kalian, benang merah itulah yang bisa memprediksikan jika kau memiliki niat jahat pada luhan lalu kau akan merasakan efeknya dengan rasa sakit yang akan kau rasakan, itu akan terjadi jika luhan mengucapkan mantra yang telah aku berikan padanya. tapi jika kau membunuh luhan, tanpa mengucapkan mantra apapun benang yang menghubungkan kalian akan putus dalam jangka waktu 3 hari dan saat proses pelepasan benang itu terjadi kau akan merasakan sakit yang lebih sakit dari kematian, kau melihat sendirikan keadaan bibimu, itu yang akan terjadi padamu jika kau membunuh luhan, jika kau ingin mati pun kau tak akan pernah bisa mati meski kau memotong tangan atau lehermu sekalipun kau tak akan mati selama benang itu belum putus, kau akan merasakan sakit di tubuh mu."

Kini kai mulai merasa sesak di dadanya dan kai melihat sonju yang mengucapkan sebuah mantra padanya, rasa sesak di dadanya semakin menjadi, kini bukan sesak saja yang ia rasakan tapi kepalanya terasa akan pecah lalu tubuhnya terasa terbakar, kai ambruk di lantai tubuh kecilnya berguling guling di lantai, hingga sonju menghentiikan mantranya dan menatap kai yang masih mengerang kesakitan.

"aku tau luhan tak akan menggunakan mantra ini padamu maka dari itu aku ikut serta di dalam ritual itu dan kini bukan hanya luhan yang memegang kendali mu tapi juga aku kai. Ingat baik baik. Aku melakukan ini bukan untukmu, bukan untuk membiarkanmu hidup lebih lama tapi aku membiarkanmu melakukan ritual ini bersama luhan karna kau bisa berguna untuk melindungi luhan dan menjadi orang yang bisa mendampingi luhan mencapai tujuannya ,kau harus tau kai rasa sakit yang sekarang kau rasakan akan bertambah berpuluh puluh kali lipat jika kau membunuh luhan , JADI AKU MELAKUKAN INI KARNA LUHAN BUKAN KAU "

Sonju melangkah ke luar ruangn tersebut, meninggalkan kai yang kini sedang menahan rasa sakit.

[FLASBACK END]

Kai mencengkram pembatas balkon dan sedetik kemudian tubuhnya merosot dan berjongkok di balik balkon tersebut.

"kenapa otou-san. Kenapa harus luhan, kenapa hanya luhan yang kau pikirkan? Tak pernahkah kau berpikir tentang aku barang sedikitpun, aku anakmu darah dagingmu, tapi kenapa kau memilih luhan yang orang asing di keluarga ini, hasimahara kenapa aku harus terlahir di keluarga mengerikan ini, aku takut onii-chan sangat takut"

Malam itu yang kai lakukan hanya duduk di balkon kamarnya dengan tangan yang memeluk kakinya dan wajah yang di beamkan di lipatan tangannya hingga matahari muncul posisi kai sama sekali tak berubah.

.

.

.

Minseok membuka pintu kamar sehun dan sehun yang saat itu sedang memilih pakayan untuk ia pakai segera menarik asal kaos dan segera memakainya.

"YAKKK NOOONA KAU INI TAK BISAKAH KAU MENGETUK PINTU TERLEBIH DAHULU"

Tak ada jawaban dari minseok ,minseok hanya menjatuhkan dirinya di ranjang sehun, sehun yang bingung segera menjatuhkan dirinya di samping minseok.

"ada apa noona, ada yang kau pikirkan hingga kau mendatangi kamar namja tampan nan mempesona ini"

"mempesona di kalangan keong "

"noona mulutmu itu tak semanis wajahmu "

Minseok mendelik tajam ke arah sehun sedangkan sehun hanya cengegesan.

"aku sedang berpikir"

" berpikir tentang apa?"

"sikap luhan hari ini dia sungguh aneh, jelas sekali dia jahat dan dingin saat aku mendekatinya tadi pagi, namun sore tadi. sore dia bersikap sangat ramah dan banyak tersenyum membuat aku merinding, ternyata dia lebih menyeramkan saat tersenyum dari pada bersikap dingin padaku."

"ada dua kemungkinan. Antara luhan tertarik padamu atau luhan hanya mempermainkanmu, tapi menurutku kemungkinan kedua yang paling masuk akal"

"apa maksudmu keong busuk "

"apa lagi, luhan punya mata untuk ia gunakan untuk melihat dia tak buta kan jadi tak mungkin dia tertarik padamu dalam hitungan jam, jadi kemungkinannya dia itu hanya ingin bermain main denganmu noona"

BRUKKK

Sebuah bantal melayang dengan indah ke kepala sehun, dan saat itu juga minseok menduduki perut sehun dan menjambak rambut sehun, yang sehun lakukan hanya mengerang kesakitan atas tingkah noonanya ini.

CEKLEK

Seorang namja paruh baya membuka pintu kamar dan melihat pemandangan yang sudah terlalu sering ia lihat, taehun hanya geleng geleng keala saat melihat kedua anaknya ini ribut.

"jika kalian sudah selesai cepat tidur"

"ne appa " jawab mereka berbarengan

Taehun menutup kembali pintu kamar sehun dan melangkah ke ruang kerjanya, taehun duduk di kursinya dan menatap sebuah foto keluarga kecilnya, dia tersenyum menatapnya, inilah kebahagian sesungguhnya.

"sonju tak maukah kau mencoba bahagia dengan keluarga mu yang sekarang? Kenapa kau begitu keras kepala ? dan aku yakin bukan ini yang di inginkan lutan, bisakah kita membuat anak anak itu tetapp tersenyum bahagia?"

Taehun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan menutup matanya.

.

.

.

.

pagi hari di kediaman oh sungguh jauh dari kata tenang, mulai dari teriakan minseok yang menggema di seluruh ruangan di tambah lagi sehun yang juga sama sama berteriak, oh taehun sendiri hanya bersikap acuh dengan keadaan di keluarannya ini, minseok yang pertama kali duduk di meja makan segera memberi salam pada ayahnya, di susul oleh sehun, dan saat makan pun pasti terjadi keributan di antara mereka.

"appa tumben sekali masih di rumah"

"kau tak suka aku ada di rumah oh sehun "

"sama sekali tidak hanya aneh saja "

"begitukah, tapi kalian tak akan mengacuh kan perkataan ku tentang kasus yang kalian tangani"

"iya appa, kami sudah lepas tangan "

"kau tak membohongiku kan oh minseok "

"appa tak percaya padaku?"

"setelah apa yang pernah kau lakukan selama ini tentu saja aku tak pernah percaya pada kalian "

"APPA" jawab hunmin kompak

"sudahlah aku haus segera pergi"

Taehun beranjak dari tempatnya, dan segera meninggalkan hunmin di sana.

"sehun kenapa semua orang meminta kita untuk menghentikan penyelidikan dan menyerahkannya ke team bravo?"

"aku sendiri bingung noona, bukan hanya appa tapi juga jongin, dia memintaku untuk berhenti "

"jongin, anak baru itu?"

"tentu saja "

"ini aneh, akupun di minta untuk ber istirahat oleh luhan "

"oh yah sebenarnya ada apa dengan mereka "

"aku sendiri bingung, terlebih sikap luhan"

"luhan, namja yang mengganggu pikiranmu "

"bicara apa kau ini?"

"tapi benarkan "

"kau sendiri kelihatannya kau menyukai yeoja bernama jongin itu"

"tidak aku tak menyukainya, sudah ku katakana aku hanya menyukai kai"

"benar kah itu "

"tentu saja "

"tapi kelihatannya tak seperti itu"

"kau ini bicara apa sih noona, dari pada itu kenapa kau tak urusi saja luhan mu itu"

"luhan ku jaga mulutmu oh sehun "

Dan sarapan di pagi hari yang cerah berubah kelam karna pertengkeran ke dua saudara ini.

.

.

.

Jongin melangkahkan kakinya ke luar kediaman luhan, namun saat di jalan tiba toba mobil luhan berhenti tepat di sampingnya, jongin menghelankan nafasnya dan membenarkan letak kacamatanya, pintu belakang mobil itu terbuka, dan luhan turun dari mobil tersebut .

"masuk lah"

"tak perlu, sudah berapakali kukatakan tak perlu bersikap baik padaku "

"kau jelas tau aku tak pernah bersikap baik padamu, tapi ada yang ingin ku katakana padamu "

"katakana saja pada orang itu, dia akan mengatakannya padaku"

"HASIMAHARA KAI"

"LU HAN"

Mereka saling menatap tajam satu sama lain, tak ada pergerakan yang berarti dari mereka, mereka hanya berdiri di tempat yang sama untuk beberapa menit, hingga ahirnya jongin memalingkan wajahnya dan mulai melangkah menjauh dari luhan, luhan menarik tangan jongin dan membenturkan tubuh jongin di samping mobilnya dan mengunci pergerakan jongin, jongin tak sedikitpun memberontak, dia hanya menatap luhan.

"kau tak mau mendengarkan perkataan ku hasimahara kai"

"apa yang akan kau lakukan apa kau? ingin menggunakan mantra konyol itu padaku?"

"aku akan melakukannya jika aku adalah seorang pengecut, tapi sayangnya aku bukan seorang pengecut yang akan melakukan hal tersebut."

"jadi apa maumu"

"masuk lah"

"kau ingin membuat geger seluruh penghuni sekolah?"

"sejak kapan kau memperdulikan hal tersebut, jadi masuklah"

"lepaskan aku dan menjauh dariku "

Jongin melepaskan diri dari luhan dan membuka pintu mobil di samping kemudi, luhan hanya menghelankan nafasnya, kai memang tipe yang keras kepala jadi percuma jika luhan memaksanya duduk di sampingnya jika kai tak mau maka sampai kapanpun luhan tak akan pernah bisa melakukannya.

Jongin duduk dan menatap seorang namja di sampingnya, dia tersenyum lebar pada jongin membuat jongin memutar bola matanya .

"selamat pagi, itik buruk rupa"

"aku akan membunuhmu jika kau terus membuka mulutmu"

"kau benar benar menakutkan seperti biasa yah"

"sejak kapan kau menjadi supir pribadi lu-sama"

"sejak kapan yah, mungkin tadi pagi atau mungkin kemarin malam, entahlah aku lupa "

"dasar idiot"

"itulah aku "

Luhan menyerahkan sebuah map pada jongin, jongin melepas kacamatanya dan membaca dengan serius data data yang ada di tangannya.

"jadi ini akan berahir dengan cepat" gumam jongin.

.

.

.

Jam pulang telah berbunyi luhan keluar dari kelasnya, matanya terus tertuju pada namja di depannya tanpa menyadari kehadiran minseok yang berjalan di sampingnya.

"kenapa kau ingin berteman denganya ?"

Luhan memalingkan wajahnya menatap yeoja di sampingnya.

"tidak juga, aku tak maumendekati orang seperti dia"

"seperti dia maksudmu "

"kau tak perlu tau, cepat pulang dan istirahatlah "

Minseok menghentikan langkahnya dan menatap punggung luhan yang sekarang semakin menjauh, minseok sungguh sungguh merasa sangat aneh pada luhan.

"apa kepalanya terbentur sesuatu hingga membuatnya seperti itu yah?"

Minseok menggelengkan kepalanya dan melangkah kembali.

Luhan melangkah mendekati namja yang sedang menyandarkan tubuhnya di badan mobil.

"anda lama sejali lu-sama"

"kau menungguku di sini"

"begitulah, lagi pula ada informasi penting yang akan saya sampaikan "

"sampaikanlah"

"tidak di sini lu-sama"

Namja itu menatap sesosok yeoja yang tersenyum ke arahnya, atau lebih tepatnya ke arah luhan, luhan tersenyum tipis melihat senyum minseok padanya.

"gadis itu oh minseok kan? Sepertinya dia menyedot perhatian anda lu-sama"

"apa yang sedang kau pikirkan"

"tidak, hanya saja alangkah baiknya jika anda tak memperdulikanya, karna jika terjadi sesuatu anda akan terluka lu-sama"

"jangan melibatkan dia dalam masalah ini"

"aku tak bisa ber janji, karna suka tak suka dia memang sudah terlibat dalam masalah ini"

"kau "

"sudahlah, kita bicarakan ini nanti"

Namja itu melangkah memasuki mobilnya sedangkan luhan menatap namja itu tak suka dan menatap punggung minseok dengan penuh ke hawatiran, perasaannya mulai tak tenang, dan luhan tak pernah menyukai hal tersebut.

.

.

.

Matahari suuudah terbenam sejak lama, jongin melangkahkan kakinya menuju ke kediaman luhan, namun karna sudah terlalu malam, bis menuju ke kediaman luhan sudah tak ada sehingga terpaksa jongin harus berjalan kaki, selama perjalanan jongin hanya memandang jalan tanpa memperhatikan keadaan di depannya.

BRUKK

Tanpa di duga jongin menabrak seorang namja, jongin membungkukkan badannya meminta maaf dan kembali melangkah.

GREBB

Tiba tiba tangan jongin di tahan oleh namja tersebut, jongin menatap namja itu tajam.

"bisa kau lepaskan tanganmu tuan"

"kau telah menabrakku "

"tapi aku sudah meminta maafkan padamu"

"rasanya permintaan maaf mu tak cukup"

"lepaskan sekarang juga "

"ayo lah kau tak perlu seperti itu, kau cukup manis jika di lihat lihat"

"apa mu ?"

Tanpa persetujuan jongin namja itu menarik jongin ke tempat yang sepi dan menghempaskann tubuh jongin pada dinding sebuah gang, jongin tak melawan dan hanya mengikuti alur, hingga namja itu mulai mendekatkan tubuhnya pada jongin dan mencium rambut jongin, saat itu yang jongin lakukanhanya diam dan mulai menyeringai tanpa di ketahui oleh namja tersebut.

"sepertinya kau cukup bersikap baik juga yah "

"apa kau berpikiran seperti itu tuan"

"sudah nikmati saja,kau tak akan pernah menyesal."

"aku memang tak akan pernah menyesal, tapi ku rasa kau lah yang akan menyesal"

BRUKKK

Tubuh namja itu terpental cukup jauh, jongin menatap namja yang kini berdiri di depan jongin.

"apa yang kau lakukan kim jongin, kau bisa berteriak meminta tolongkan"

"sehun, kenapa kau kemari"

"apa maksudmu jelas aku ingin menolongmu, kau sunggih sungguh bodoh"

Sehun merapihan pakayan jongin dan membuka mantelnya lalu memakaikannya pada jongin, jongin terus menatap sehun dari jarak yang cukup dekat, sedangkan namja itu muai lari dari mereka berdua.

"kau tak mengejarnya sehun"

"kenapa aku harus mengejarnya lay hyung pasti sudah menangkapnya dia orang yang kami cari cari selama ini aku berterimakasih padamu, lagi pula kau tau ini sudah malam, banyak kejahatan yang menimpa siswi yang pulang di malam hari, jadi biarkan aku mengantarmu pulang"

"tak perlu"

"apanya yang tak peru, aku tak menerima penolakan"

"tapi aku baik baik saja kau tak perlu mengantarku"

"kau mau hal ini terjadi lagi padamu"

"aku bisa menjaga diriku, lagi pula kau sebenarnya bukan menolongku"

"apa maksudmu aku tak menolongmu"

"sudahlah lupakan, kau tak perlu mengantarkan aku"

Jongin melangkahkan kakinya menjauh dari sehun namun sehun tak menghiraukan perkataan jongin, sehun melangkah menyamakan langkah kakinya dengan jongin, jongin tak menghiraukan sehun dia terus melangkah, hingga ahirnya mereka sampai di sebuah rumah kecil, jongin membalikkan tubuhnya menghadap kea rah sehun.

"aku sudah sampai, jadi kau bisa pulang sehun "

"masuklah dulu jika kau sdah masuk aku akan pulang "

Jongin menghembuskan nafasnya dan segera melangkah memasuki rumah kecil itu, sehun tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya namun baru beberapa langkah, langkah sehun terhenti dan menoleh ke sampingnya, di sana berdiri dengan megah kediaman luhan, kening sehun mengerut merasa bingung.

"jadi luhan dan jongin adalah tetangga ?"

Sehun membalikkan tubuhnya menatap rumah megah di depannya, pintu pagar yang besar dan luas seakan menandakan batasan antara sehun dan penghuni rumah .

"kai-chan bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau bahagia? Aku selalu mendoakan kebahagiaan mu, dan aku tak akan pernah melupakanmu"

Sehun melangkah menjauhi kediaman luhan. Sedangkah jongtin sendiri merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang di rumah kecil itu, rumah itu memang di sediakan untuk kepentingan penyamaran jongin.

Jongin membuka kacamatanya dan membuka ikat rambutnya lalu memandang langit langit rumah tersebut .

"kenapa dia datang di saat yang tak tepat, sehun kau salah, kau bukan menolongku tapi kau menolong orang itu,apa jadinya jika kau tau aku ini siapa, akankah kau bersikap sebaik ini padaku?"

"apa yang sedang kau lakukan tuan putri"

"dari mana kau bisa masuk?"

"anda tak perlu bertanya seharusnya anda sudah tau, aku bisa masuk dari mana saja"

"ada apa kau ke mari"

"aku hanya ingin memastikan kau baik baik saja"

"jika begitu kau bisa pergi sekarang"

"apa kau tak berminat untuk pulang"

"pulang ke mana?tak ada tempat untukku pulang jadi pergilah sebelum aku menyeretmu ke luar"

"ok baiklah baiklah, tapi kau harus melihat keadaan luhan-sama, sepertinya dia mulai bimbang"

Jongin mendelik kearah namja tersebbut dan mendudukkan dirinya di ranjangnya.

"apa maksud mu"

"entahlah. Aku permisi"

Namja itu melangkah menjauhi jongin, sedangkan jongin terus menatap pintu yang baru saja di tutup oleh namja tersebut.

.

.

.

.

Luhan membanting map yang ada di tanganya nafasnya memburu.

"kenapa ini harus terjadi? Kenapa …. KENAPA?"

Luhan berteriak kesetanan, luhan tidak dalam keadaan baik baik saja, ruangan yang tadinya rapih menjadi porak poranda, katana yang ada di tanganya jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuhnya.

Kai yang baru saja sampai di kediaman luhan merasa sangat heran dengan ruang yang sedang luhan tempati, suara amukan luhan terdengar sampai ke seluruh penjuru ruangan, kai menatap pintu ruang kerja luhan tanpa berniat untuk membukanya.

"apa yang terjadi sebenarnya "

.

.

.

Kai mendudukkan diri di sebuah danau dan melempar lempar kerikil kea rah danau, suara binatang malam menambah ke sunyian kai, waktu telah lewat tengah malam tapi kai tak memiliki niat untuk beranjak dari sana.

"kau akan membunuh ikan ikan itu jika kau melempar batu ke danau tersebut"

Kai menegakkan tubuhnya dan melihat ke sumber suara dan saat mata kai melihat sesosok namja matanya membulat, namun sedetik kemudian kai segera mengendalikan diri lalu kembali ke posisi semula, namja itu melangkahkan kainya dan berdiri di samping kai.

"kau tak melupakannya kai-chan"

"apa yang anda lakukan di sini"

"aku yang seharusnya bertanya sedang apa seorang gadis jepang duduk di pinggir danu di tengah malam seerti ini"

"bisakah kita hentikan semua ini, saya sudah berkata jika saya tak mengenal anda"

"tapi aku tak bisa, aku sangat mengenalmu dan aku tak mungkin melupakanmu kai-chan"

"sangat mengenalku? Sejauh apa dan sampai di mana?"

Kai menegakkan tubuhnya menatap sehun dingin.

"bisakah kau pergi dari kehidupanku? Bagiku, bertemu denganmu adalah sebuah kesaaha, kedatanganku ke negri ini pun adalah sebuah kesalahan dan aku tak pernah merasa bahagia atas semua itu"

Kai membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi sehun namun sehun menghentikan langkah kai dengan menggenggam pergelangan tangannya.

"tapi tidak bagiku, ini takdir kai-chan "

"takdir, kalo begitu aku katakana aku benci akan takdir ini, akan hidup ini, dan aku benci menjadi seorang hasimahara kai kau tau itu oh sehun. Jadi lepaskan aku sekarang"

"kai-chan"

"jangan memanggilku lagi, jangan pernah "

Kai menghentakkan tangannya dan berjalan meninggalkan sehun.

.

.

.

Keesokan harinya saat jam pulang berbunyi luhan menarik tangan minseok, mengajaknya pergi dari sekolah tersebut, minseok hanya mengikuti kemanapun langkah luhan.

Luhan membawa minseok ke sebuah pantai yang cukup indah, mereka duduk di bibir pantai menikmati suara ombak.

"apa kau punya masalah luhan"

"aku memiliki masahlah yang sangat besar, jadi karna itu aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku"

"kenapa aku? Bukankah ada yeoja berkimono yang selalu ada di sampingmu"

"ah kai maksudmu, dia dan aku tak seakrab kelihatannya, dia seperti bunga mawar, indah tapi jika kau tak berhati hati dia bisa melukai mu "

"benarkah ?"

"iya"

"tapi jika kalian tak seakrab itu, kenapa aku selalu melihat kau bersamanya"

"hubungan kami tak bisa di jelaskan, lebih simpelnya kami bersama karna kami saling membutuhkan, seperti yin dan yang, dua sisi yang berlawanan tapi kami saling membutuhkan"

"aku pikir kau dan yeoja itu memiliki hubungan khusuh"

"kami memang memiliki hubungan khusus, tapi bukan antara laki laki dan wanita, tapi lebih ke bisnis "

"ah teman bisnis"

"teman, bahkan kata itu tak pernah ada di antara kami"

"ah begitu aku pikir kau menukai kai"

"menyukainya, aku hanya menyukai seorang gadis kecil yang selalu ada di saat aku membutuhkannya, seorang gadis yang selalu tersenyum padaku"

Luhan mengalihkan pandanganya ke arah minseok, minseok pun melakukan hal yang sama hingga kini mereka saling memandang satu sama lain.

"seorang gadis yang membuat ku kuat"

Tangan luhan terangkat untuk menyentuh pipi minseok

"seorang gadis yang membuat hatiku hangat "

Kini jarak wajah mereka semakin dekat.

"seorang gadis yang membuatku mengingkari janjiku untuk yang pertama kalinya "

Dan selanjutnya bibir luhan menempel tepat di pipi kanan minseok.

"seorang gadis yang selalu ada di dalam hatiku."

Minseok mengedip ngedipkam matanya bingung, dia masih belum sadar dengan situasi yang menimpanya sekarang, hingga bibir luhan tepat menempel di bibir tipisnya.

Sore yang cerah itu di ahiri oleh ciuman yang membekas di hati minseok.

.

.

.

Sehun mengamati layar computer di kamarnya, tangannya dengan cekatan memainkan keybord.

CEKLEK

Arah pandang sehun berubah seketika saat melihat minseok memasuki kamarnya, minseok melempar tasnya ke sembarang arah dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang sehun, sehun memutar kursi nya dan menatap aneh pada minseok.

"ada apa lagi denganmu noona, kau salah masuk kamar jika kau tak lupa jika ini kamarku"

"sehun "

"apa?"

"sepertinya aku akan gila "

"kau memang sudah gila kan noona"

"aku benar benar bingung, sebenarnya ada apa dengan namja itu"

"kau sebenarnya kenapa?"

"luhan "

"ada apa dengannya "

"tadi dia men-"

"men….. apa "

Minseok segera berdiri dari posisinya dan keluar dari kamar sehun.

"YAKKK NOOONA JIKA KAU KEMARI HANYA INGIN MEMBUATKKU PENASARAN KAU TELAH BERHASIL "

"JANGAN BERTANYA APAPUN PADAKU"

.

.

.

.

Luhan melangkah masuk ke kamarnya dan senyum tipis ia tunjukan di wajahnya, namun baru saja beberapa langkah sebuah pistol tepat berada di dahinya, dan luhan tak bodoh untuk mengetahui siapa pelakunya, seorang yeoja dengan kimono hitamnya berdiri tepat di depan luhan

"kai-chan "

"apa menyenangkan. Bermain main dengan target selanjutnya"

"kau "

"aku tau, maka dari itu aku kemari, jika tak sanggup untuk melakukannya biar aku saja yang melakukannya"

"tidak, aku yang akan melakukannya "

"ingat luhan kita sudah melangkah sejauh ini, banyak nyawa yang harus di korbankan, banyak kebahagiaan yang terrampas dan masih banyak air mata yang telah kita buang demi mencapai tujuan kita, kau tak mungkin meluakannya kan, jangan sampai kau berhenti melangkahkan kakimu hanya karna target kita selanjutnya,"

"aku mengerti "

"satu minggu lagi, jika kau ingin berhenti sekarang katakana padaku, aku akan langsung membunuhmu saat ini juga "

"aku tak akan berhenti melangkah "

Kai menurunkan pistolnya dan menatap tajam luhan.

"target ita selanjutnya adalah putri wakil presiden, putri yang telah lama di sembunyikan jinyun, kim xiumin atau bisa kita sebut oh minseok, jika tidak kau yang membunuhnya maka aku yang akan "

"aku yang akan membunuhnya, aku tak akan membiarkan oran lain membunuhnya, biarkan aku yang melakukannya"

Kai melangkah keluar dari kamar luhan, luhan menatap boneka singa yang tersimpan apik di atas ranjangnya.

"jadi inilah takdir kita xiumin"

Kai menatap bulan dan menghembuskan nafasnya.

"bukankah takdir memang tak pernah membiarkan kita bahagia, bukan kah takdir begitu menyakitkan"

.

.

.

.

.

TBC/END

Ok cerita makin aneh tapi aku pastikan jika tidak 2-3 part lagi maka cerita ini akan selesai hehehehe, maaf jika mengecewakan aku sedikit bingung ama part ini, jika aku masukan part selanjutnya takutnya kecepetan tapi juka seperti ini pasti ceritanya kelamaan jadi aku bingung harus gimana, dan part selanjutnya pertarungan terahir antara lumin dan hunkai mungkin hehehe, seperti biasa terimakasih udah baca dan mohon keritik dan sarannya agar cerita ini bisa sedikit bagus.