DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Runandra
SUMMARY :
Sekuel 1001 Nights. Lima tahun sudah berlalu sejak Kuroro dan Kurapika berpisah di Desa Suku Kuruta, tapi sosok baru pun muncul mengacaukan kedamaian sementara dan keseimbangan rapuh yang terbentuk di antara mereka.
WARNING :
FemPika.
CHAPTER 8 : REASON
"Mari kita tunda perdebatan sepasang kekasih ini, oke?" Sebuah suara yang terdengar familiar berkata dari arah pintu.
Kurapika dan Kuroro menoleh ke asal suara dengan sinkronisasi yang sempurna hingga membuat orang yang baru datang itu—yang memiliki kulit putih seperti gips, sepasang mata abu-abu yang aneh dan rambut lembut hitam pekat yang sedikit melewati bahunya—mendengus geli. Meskipun dia segera mengencangkan wajahnya menjadi raut wajah serius saat dia menyadari pelototan yang dipancarkan seorang wanita pirang kepadanya.
"Lucian," Kuroro menyebut namanya. "Apa yang ingin kau katakan?"
Sudut bibir Lucian sedikit berkedut saat mendengar ucapan Kuroro. Tajam seperti biasanya, pikirnya enggan.
"Yah, ceea ce am încercat să spun este… (yang ingin kukatakan adalah)," dia berkata dengan perlahan-lahan, "Berhentilah berdebat dan lakukan sesuatu. Seharusnya Una tahu ke mana Anansi membawa Meta."
Mata Kurapika terbelalak mendengar informasi tersebut, sementara Kuroro mengernyit.
"Bagaimana—"
"Bagaimana aku bisa tahu? Aku ada di sana ketika Anansi pergi, membawa Meta bersamanya."
"Apa yang membuatmu berpikir bahwa Una akan tahu ke mana mereka pergi?" Kuroro bertanya masih dengan kernyitan nampak di antara kedua alis matanya.
"Karena," dia mengambil jeda sejenak untuk menambahkan kesan dramatis—yang membuat Kurapika ingin memukulnya hingga pingsan—sebelum menyelesaikan kalimatnya dengan: "Dia menggunakan Cincin Peri."
Tempat itu gelap dan dingin. 'Tempat' bukanlah deskripsi yang akurat, karena tak memiliki dimensi. Hanya sebuah ruang hampa, hampir seperti tabung hampa udara. Satu-satunya sumber cahaya di dalam 'tabung hampa udara' itu adalah kilauan benang-benang berwarna keperakan yang silang-menyilang dalam pola tertentu yang membosankan di mana artinya hanya diketahui oleh penenun pola tersebut. Ada ribuan pola yang berserakan di ruang hampa itu, dan salah satunya mirip dengan apa yang bisa diartikan sebagai pusat tata ruang pola-pola tersebut–'singgasana'.
Satu-satunya pria yang ada di sana–sang penenun–duduk di atas 'singgasana' itu, dengan sesosok mungil meringkuk nyaman di sampingnya bagai tengah terlelap di atas tempat tidur. Rambut emas platina pria itu berkilau seperti permata yang berwarna pucat, sementara rambut si anak lelaki yang tengah terlelap itu berkilau bagai satu-satunya mercusuar di tengah kegelapan yang tidak dapat dilalui.
Ruang hampa tersebut merupakan dimensi yang diciptakan oleh pria itu. Sebuah tempat di mana yang tidak nyata bisa menjadi nyata dan sebaliknya. Sebuah tempat di mana keberadaan bergantung pada kondisi pikiran pria itu sendiri.
"Kenapa kau membawa Meta ke sini, Anansi?" Sebuah suara–yang sebenarnya milik dunia yang tidak nyata–berbicara dengan begitu lembut hingga terdengar seperti hembusan angin yang lewat di kegelapan yang tak bergerak. Bukan hanya suara itu diwujudkan dalam kenyataan, namun raganya ditunjukkan dalam sosok yang kokoh–semua atas kebaikan pikiran Anansi yang luar biasa dan tingkatan 'kekuatannya'.
Anansi, 'Dewa' ruang hampa, tidak menjawab dan dalam diam dia malah mengamati ketika Ishtar membelai lembut puncak kepala Meta yang keemasan sebagaimana yang dia lakukan pada Kurapika bertahun-tahun yang lalu. Jawaban dari pertanyaan Ishtar sederhana saja : karena dia ingin bertemu dengannya, ingin bicara padanya. Satu-satunya cara bagi Anansi untuk mencapai hal itu adalah dengan membawa Meta ke dalam dunianya. Sayangnya rata-rata manusia yang terjungkal masuk ke dalam ruang hampa itu akan kehilangan diri mereka sendiri–hancur dalam ketiadaan–di dunia yang diciptakan dari perwujudan intisarinya itu, namun Meta telah diundang olehnya. Sementara tempat tersebut merupakan tempat di mana batasan antara dunia nyata dan yang tidak nyata menjadi samar, bagi Anansi adalah hal yang sangat mudah, mempertahankan keberadaan Meta sebagai sesuatu yang nyata di dunia itu.
"Ishtar," akhirnya dia bicara setelah jangka waktu yang lama, "Aku sedang melihat penciptaan Kuroro Lucifer untuk yang kesekian kalinya. Apa coba kau lakukan?"
Tak ada tanggapan atau apapun, tapi Anansi bisa merasakan bahwa pernyataannya mengejutkan Ishtar hingga membuatnya tak sanggup berkata-kata. Ishtar terlihat seperti membeku di tempat. Dia tidak bermaksud begitu, Anansi memutuskan. Dia menawarkan dugaan lain.
"Atau kau berusaha memperbaiki apa yang tidak kau lakukan untuk Kuroro?"
Masih tidak ada tanggapan dari Ishtar. Dengan sabar Anansi menunggu, dia tahu Ishtar akan memberinya alasan di balik tindakannya yang terus menempel pada Meta untuk sekian lama. Dia tak memiliki kewajiban untuk melakukan hal itu.
"Aku..." dia mulai bicara, sesaat merasa ragu tapi akhirnya membiarkan kalimat itu meluncur mulus dari bibirnya, "Aku hanya ingin membantu menjawab doanya..."
"Doa?"
"Tiga tahun yang lalu... Aku ingin memeriksa mereka berdua. Sejujurnya, aku cukup kecewa dengan bagaimana semuanya terjadi. Ketika aku melihat Meta pertama kali..."
Ishtar melihat ke si anak lelaki yang tengah tertidur dengan tatapan lembut–tatapan paling lembut yang bisa diberikan wujudnya sebagai hantu.
"Dia bisa melihatku. Dan dia tidak menangis." Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. "Bahkan kenyataannya, dia menggapai ke arahku."
"Dan kemudian kau dipaksa untuk tetap di sisinya?"
"Tidak juga, tidak." Ishtar menggelengkan kepalanya. "Ketika aku menyentuhnya dengan tangan ini," dia mengangkat tangannya, kini terlihat setengah transparan, "Aku bisa bersentuhan dengan perasaan dan pikirannya. Aku bisa membaca pikirannya. Aku tidak tahu apakah itu sesuatu yang bisa aku lakukan dengan manusia lain atau tidak, tapi aku tak pernah mau repot untuk mencobanya. Atau mungkin itu benar-benar kemampuan empati yang sudah ada padanya sejak dia dilahirkan."
"Kau tak pernah mau repot untuk mencoba karena bagimu Meta adalah segalanya."
Ishtar mengangguk mendengar hipotesis Anansi. Dia memejamkan matanya dan mengingat hari saat pertama kali dia berkomunikasi dengan Meta.
xXx
Saat itu pagi-pagi sekali, dengan matahari yang baru saja mengintip dari balik horizon. Ishtar melayang masuk ke dalam penginapan tanpa kesulitan; tubuhnya yang tak berwujud tembus melalui dinding yang kokoh dan melalui perabot. Dia telah merasakan keberadaan Kurapika di penginapan ini yang terletak di tengah pegunungan terpencil, meski dia tak mau repot untuk melihat nama penginapan itu. Dia melirik ke sekeliling kamar di mana dia mendeteksi keberadaan Si Kuruta berlama-lama di sana. Kamar tersebut berbeda dengan kamar lain di penginapan itu, Ishtar memperhatikan, seolah dilengkapi untuk memenuhi fungsi tertentu. Rapi dan teratur, sangat terorganisir dan tersusun–seperti kepribadian yang Kurapika miliki.
Sekilas dia mengamati kamar itu. Sesaat kemudian, dia mendapati dirinya dikejutkan oleh kenyataan bahwa kamar tersebut tepatnya dilengkapi guna diperuntukkan bagi dua orang : satu orang dewasa dan seorang anak.
Apa yang Kuroro lakukan? Dia bertanya-tanya dengan sedikit jengkel.
Ishtar sudah berharap bahwa entah bagaimana mereka akan bersama–dengan cara tertentu–setelah segala sesuatu yang berlangsung di antara mereka. Tapi TIDAK! Dengan keras kepalanya mereka berpegangan pada keyakinan buta mereka bahwa mereka harus saling menjauhkan diri dari satu sama lain. Dasar orang keras kepala yang tak berguna...
Suara tangis bayi hampir langsung menarik perhatian Ishtar. Garis pandangnya langsung dialihkan ke arah tempat tidur kecil berkelambu dengan pagar di sekelilingnya–yang tidak ia tahu bahwa tempat tidur itu disebut tempat tidur bayi. Lalu dia bertanya-tanya ke mana Kurapika. Dari tampilan tempat tidur yang rapi, Kurapika sudah bangun sedari tadi–atau bahkan mungkin dia tidak tidur sama sekali. Ishtar mengira saat dia mendengar suara tangis bayi, Kurapika akan bergegas menghampiri seolah tak ada lagi hari esok. Tentu saja dia tahu bahwa bayi itu adalah bayi Kurapika–lagipula dia bukan orang bodoh. Dia tak akan terlalu terkejut jika mendapati Kurapika sebagai seorang ibu yang terlalu melindungi. Kondisi memaksanya untuk menjadi seperti itu. Lagipula, bayi tersebut akan jadi benih Suku Kuruta yang baru.
Tangisan bayi itu semakin keras seiring dengan detik yang berlalu. Ishtar tidak memahami bahasa bayi, tepatnya menafsirkan arti tangisan bayi. Dia pernah mendengar bahwa seorang ibu akan selalu paham kenapa bayinya menangis. Penasaran, Ishtar melayang di atas tempat tidur bayi; bagian atas tubuhnya condong di atas perabot itu maka dia bisa melihat si bayi dengan jelas.
Dia tidak terkejut melihat rambut pirang tipis menyelimuti kepala bayi yang relatif masih botak itu. Namun dia terkejut, dengan bagaimana bayi itu berhenti menangis saat dia mencondongkan badannya di atas tempat tidur untuk melihatnya. Dia jadi tak bisa berkata-kata ketika si bayi mulai terkekeh sambil menatapnya dengan tatapan penuh makna dari mata biru gelap bagaikan safir–mata itu diwariskan dari sang ayah; dia yakin sambil dirinya pun dengan bahagia menyimpulkan bahwa ayahnya memang Kuroro Lucifer.
Sesuatu di dalam dirinya bergejolak dan berikutnya yang dia tahu dia sudah mengulurkan tangan hantunya ke arah bayi itu. Si bayi pun menggapainya, membuatnya semakin bahagia. Itu pertama kalinya seorang manusia menanggapi keberadaannya–meski bukan berarti dia pernah menginginkan hal itu. Di luar dugaan, tangannya bisa menyentuh tangan bayi tersebut. Saat sentuhan itu terjadi, dia merasakan sulur dari sesuatu yang terasa hangat mengalir melalui dirinya yang dingin dan tak berwujud. Dia mendengar suara dari kehangatan itu–sejenis kehangatan yang hanya bisa digambarkan sebagai sesuatu yang murni dan asli.
Daddy di mana?
Mata Ishtar terbelalak. Dia perlu waktu beberapa detik untuk mengenali pertanyaan itu ke dalam benaknya. Tatapan sedih pun mengambil alih ekspresi terkejut itu, dan dia berbisik kepada si bayi dengan cara seenak mungkin yang dia bisa:
Ayahmu tidak di sini. Tapi ibumu ada, dia berkata sambil agak meremas tangan si bayi.
Mommy selalu di sini. Daddy tidak pernah. Daddy di mana? Bayi itu bertanya lagi, matanya mencari-cari jawaban ke dalam mata Ishtar yang gelap tak berdasar.
Berumur satu tahun, dan kau sudah secerdas ini. Ishtarberkomentar, entah kenapa dia merasa senang sementara matanya masih mengamati tampilan wajah bayi itu.
Daddy di mana? Si bayi bertanya lagi.
Jauh, Sayang. Jauh dan tak pernah ada di sini, seperti yang tadi kau katakan padaku. Ishtar berkata sambil membelai kulit lembut bayi itu dengan ibu jarinya.
Bertemu Daddy. Aku mau.
Ishtar merasa seolah-olah jantungnya–atau sesuatu yang bisa dia artikan sebagai jantungnya, karena dia adalah hantu dan dia ragu hantu punya jantung–dicubit dan dia hampir meringis nyeri.
Kalau begitu kau harus meyakinkan ibumu, dia berbisik padanya.
Kemudian si anak lelaki itu melakukan seperti apa yang dikatakan Ishtar. Berusaha mendapatkan perhatian ibunya, si bayi menangis keras-keras. Hal itu mengejutkan Ishtar karena bayi tersebut mengeluarkan tangisan yang mengejutkan tanpa peringatan apapun sebelumnya. Sungguh betapa kuat paru-parunya! Langkah kaki kalut terdengar di sepanjang koridor, dan dalam rekor waktu yang cepat pintu kamar terbuka, Kurapika bergegas masuk dengan penampilan berantakan. Bagi Ishtar, kelihatannya ibu muda itu sudah jatuh tertidur di meja kerjanya, dan dia begitu kurus...
"Meta? Ada apa?"
Kurapika mengambil bayi itu–yang kini Ishtar ketahui bernama Meta–memeluknya dekat ke dada dan sedikit mengayunkannya. Ishtar hampir tak bisa mempercayai pemandangan itu; Kurapika menjadi ibu muda yang sangat lembut, sementara dia selalu menampakkan kesan meledak-ledak atau semacamnya. Sudah pasti sifat keibuan merupakan sesuatu yang dapat merubah sifat seseorang.
Ishtar memperhatikan Kurapika berusaha menenangkan bayi yang jengkel dalam pelukannya. Dia berusaha menyanyikan lagu nina bobo kepada bayi itu, namun si bayi tetap tak bisa tenang. Bayi tersebut hanya mulai menurunkan volume suaranya ketika Kurapika mengisahkan Doa Suku Kuruta dengan cara dilagukan.
Mentari di langit, pepohonan di tanah.
Raga kita berasal dari Bumi, jiwa kita berasal dari Surga di atas sana.
Mentari dan Bulan memancarkan cahayanya ke tangan dan kaki kita.
Alam meremajakan jiwa kita,
Mengirimkan raga kita kepada Angin yang bertiup melintasi daratan.
Bersyukur kepada Para Dewa yang berdiam di Surga demi Tanah Kuruta.
Biarkan roh kami dalam kekuatan dan perlindungan yang abadi.
Aku memohon agar aku mampu berbagi kebahagiaan bersama rakyatku,
Mampu berbagi kesedihan mereka.
Menawarkan penghormatan kepada orang-orang Suku Kuruta,
Biarkan Mata Merah kami yang berpijar memberikan kesaksiannya.
Di akhir syair doa tersebut, Meta berhenti menangis, memperhatikan wajah ibunya dengan matanya yang besar dan berpijar merah. Kurapika terhenyak saat dia melihatnya–pertama kalinya mata sang bayi berubah merah. Lama dia mengamati sepasang mata itu, hingga akhirnya mengizinkan dirinya sendiri untuk mengeluarkan beberapa tetes air mata.
"Kau seorang Kuruta...," dia berbisik kepada bayi itu, tak diragukan lagi suaranya terdengar bahagia.
Menarik napas dalam-dalam, merasa lega–suatu perasaan lepas karena kini dia tahu bahwa garis keturunan Suku Kuruta akan terpelihara–Kurapika memeluk bayi dalam pelukannya dengan begitu erat, tentu tanpa menyakitinya.
"Kau seorang Kuruta...," dia mengulangi kalimatnya dengan suara yang sedikit gemetar.
Mengabaikan kebahagiaan ibunya, si bayi meronta dalam pelukannya; akhirnya menyebabkan Kurapika melepaskan pelukan dan memandangi wajah bayi yang gelisah. Dia lihat si bayi mengernyit, tapi baginya ekspresi itu hampir terlihat menggelikan. Dengan sedikit kernyitan di kening, Meta mengulurkan tangan ke wajah Kurapika–atau lebih tepatnya, lehernya.
"Apa?" Kurapika bertanya, merasa penasaran. Meta tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya.
Merengek frustrasi, tampaknya bayi itu mengisyaratkan kepada Kurapika untuk menundukkan kepala ke arahnya. Masih ragu apa yang sedang ingin Meta katakan, Kurapika berusaha merendahkan kepalanya ke arah Meta. Begitu dia berada dalam jangkauan kedua tangan mungilnya, dengan cepat Meta meraih rantai logam yang melingkari leher Kurapika. Kemudian, sebelum Kurapika bisa bereaksi, bayi itu menarik rantai tersebut dengan kekuatan yang membuat Kurapika kaget–semacam kekuatan yang semata-mata disebabkan oleh keinginan hatinya.
Rantai logam itu terjungkal keluar dari baju Kurapika, membuat liontinnya terekspos seluruhnya. Liontin rantai itu berupa sebuah cincin yang terbuat dari kuningan dan besi; dihiasi ukiran bahasa dan alfabet kuno, dan tanda keemasan mencolok berbentuk Bintang Daud sebagai titik api cincin itu. Dengan hasrat yang tak pernah Kurapika lihat sebelumnya yang dimiliki oleh Meta, Meta meraih cincin itu. Kurapika tak melakukan apapun untuk mencegah si bayi menjambret cincin dengan kedua tangan mungilnya dan mulai menarik cincin itu ke arahnya, seolah berusaha mengambilnya dari Kurapika.
Ishtar mengernyit ketika dia melihat Cincin Solomon. Sebenarnya, salah satu alasan kenapa dia pergi memeriksa Kurapika awalnya karena dia merasakan keberadaan hal yang buruk itu di dekatnya. Awalnya dia ragu, tapi kini kecurigaannya terbukti–Kuroro telah meninggalkan cincin itu dalam perlindungan Kurapika. Dia tidak memahami kelogisan di balik tindakannya itu. Bahkan jika dia diberitahu tentang alasan Kuroro, dia masih akan tidak memahami kenapa Kuroro meragukan dirinya sendiri–bahwa dia takut akan kalah terhadap Bisikan Kegelapan para iblis.
"Kau mau ini?" Kurapika bertanya dengan suara pelan sambil melepaskan kalung tersebut dengan satu tangan.
Begitu cincin tersebut sepenuhnya berada di tangan si bayi; rantai dan semuanya, Meta terkekeh pelan dengan puas. Dia menggenggam erat cincin tersebut dalam kepalan tangan mungilnya, memegangnya dekat ke dada. Melihat ini, Kurapika tak tahan untuk tidak menampakkan seulas senyum sedih.
"Kau benar-benar anak ayahmu."
Sejak itu, Meta selalu membawa cincin tersebut bersamanya–sampai pada suatu hari ketika dia diculik dan dilarikan ke Kota Yorkshin.
xXx
Anansi mengernyit begitu Ishtar selesai menceritakan pertemuan pertamanya dengan Meta.
"Anak itu bisa mendengar Bisikan Kegelapan?"
Ishtar menggelengkan kepalanya, membuat Anansi merasa lega.
"Tidak," dia bergumam tanpa mengalihkan perhatiannya dari si anak lelaki yang tengah tertidur, "Setidaknya, belum."
"Belum?" Anansi memicingkan matanya walau hanya sekilas.
"Iblis-iblis tamak itu tidak tertarik dengan jiwa tak berdosa seperti Meta. Dia masih terlalu muda untuk memiliki pemikiran gelap seperti apapun."
"Tapi begitu dia tumbuh dewasa..." Anansi tak pernah menyelesaikan kalimatnya sendiri.
"Kita tak akan pernah tahu," bisik Ishtar pelan.
Keheningan pun menimpa mereka, mengisi ruang hampa tersebut dengan keheningan yang nyaman ketika pria itu memperhatikan sang wanita dan si anak lelaki sementara wanita itu membelai rambut keemasan anak itu.
"Jadi," Anansi kembali angkat bicara.
"Hmm?" Ishtar bergumam samar.
"Apa doanya? Untuk bertemu ayahnya?"
Ishtar terkekeh pelan. "Setengahnya benar."
"Kalau begitu apa?"
"Dia hanya ingin melihat kedua orangtuanya bersama," Ishtar menjawab, tapi kemudian mengangkat wajahnya dari Meta dan menatap ke dalam mata besar Anansi. Mata gelap pekat bertemu dengan mata yang berkaca-kaca, hampir bersegi dan warna yang sulit untuk digambarkan.
"Namun," Ishtar melanjutkan dengan suara sedih, "Kadang doa paling sederhana bisa menjadi doa yang paling sulit untuk diwujudkan."
"Una! Kau benar-benar ada di sini!" Kurapika berkata dengan girang sambil berjalan cepat menghampiri Unicorn bertanduk hitam itu.
Una menepati janjinya, Sang Unicorn berkata sambil membiarkan Si Kuruta membelai surainya. Lalu dia mengalihkan perhatiannya kepada Kuroro; yang berdiri tidak jauh dari sana tapi dengan ekspresi tertegun terlihat di wajahnya. Mengikuti beberapa langkah di belakangnya adalah Lucian; yang tampak seperti dia dipaksa untuk ikut bersama mereka menuju ke pinggiran hutan yang mengelilingi kota metropolitan, dengan wajah muram.
"Tandukmu," Kuroro mulai bicara.
"Aku yang patut disalahkan," Kurapika segera berkata dengan suara pelan. "Karena dia menyentuhku."
"Ah..." Kuroro hanya bergumam begitu suatu pemahaman merasukinya. Jadi ini yang terjadi ketika seekor Unicorn menyentuh mereka yang tidak perawan. Menarik.
Kuroro menghampiri Una, perasaan perkenalan yang renggang kembali muncul. Sementara Una telah mendampingi mereka dalam setengah 'perjalanan melintasi dunia guna mencari Mata Merah', kedekatannya kepada makhluk mistis itu tidak mendalam–setidaknya tidak sedalam ikatan di antara dirinya dan Si Kuruta yang mudah marah. Meskipun demikian, dia menyapa Sang Unicorn dengan membelai lembut pipi dan hidungnya sementara Unicorn itu mengendusnya pelan.
Di mana Meta? Tanya Una penasaran setelah menjauhkan dirinya dari Kuroro dan dengan matanya yang mencari-cari teman kecil kesukaannya itu ke segala arah.
Kurapika menelan ludah dengan gugup mendengar pertanyaan mengerikan itu, sebelum akhirnya berhenti untuk sejenak mengingat kembali garis besar rentetan peristiwa yang telah terjadi; berawal dari bagaimana Meta bisa berakhir di Kota Yorkshin–seperti yang diceritakan Kuroro–dan bagaimana anak yang sama bisa menghilang lagi.
"Dan berdasarkan keterangannya," kata Kurapika tajam sambil memelototi seorang vampir, "Anansi membawa Meta masuk ke dalam Cincin Peri, karena itulah seharusnya kau bisa membantu kami, dengan suatu cara tertentu."
Ah... Suara Una terdengar ragu. Yah, Una tidak terlalu yakin dengan hal itu. Memang benar Dunia Peri adalah rumah Una yang sebenarnya, tapi...
Kurapika dan Kuroro saling lirik. Keduanya masih ingat akan percakapan kecil yang terjadi pada suatu malam mereka berkemah. Una memberitahu mereka bagaimana dia dibuang oleh sukunya sendiri hanya karena siapa ayahnya. Terusir dari Dunia Peri, Una dibawa pergi oleh Chiron Sang Centaur dan menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanaknya di sana dengan damai–sisanya dia habiskan dalam perjalanannya bersama Kuroro dan Kurapika.
"Kita coba saja," akhirnya Kuroro mengumumkan setelah keheningan sesaat, dan kemudian menoleh kepada Lucian. "Kau pimpin jalannya."
Vampir itu terhenyak kaget, seolah dia adalah seekor anjing yang ekornya terinjak. Wajahnya menunjukkan ekspresi pertanyaan "Kenapa aku?" secara terang-terangan.
"Bawa kami ke mana kau melihat Anansi menggunakan Cincin Peri," Kurapika menjelaskan, kedua tangannya diletakkan di pinggul dan raut wajahnya menunjukkan bahwa dia tak menerima "Tidak" sebagai jawaban.
Menelan ludah dengan gugup, Lucian hanya bisa menurut. Kemudian, dengan kepala tertunduk rendah, dia berbalik untuk memimpin mereka menuju tepat ke tempat di mana pertarungan antara Hisoka dan Anansi terjadi. Ketika mereka sampai di sana, tubuh Hisoka lenyap dan Lucian tak berupaya sama sekali untuk menjelaskan tentang pelawak gila itu. Malah, dia hanya menunjuk rimbunan pepohonan di arah tertentu.
"Di sekitar tempat itu, tiba-tiba ada lingkaran cincin berkilau di tanah dan ketika Anansi melangkah masuk ke dalam lingkaran, dia menghilang begitu saja diselimuti cahaya putih," Lucian menggambarkan kepada mereka. Selama itu, dia tak pernah mengalihkan pandangannya dari titik tertentu di tanah di mana dia menunjuk.
"Bagaimana menurutmu, Una?" Kuroro menoleh kepada Sang Unicorn, meminta sarannya.
Sudah pasti itu gambaran yang cocok bagaimana Cincin Peri bekerja, dia hanya berkata. Sama seperti Lucian, dia menatap titik yang sama dengannya.
Baik Kuroro maupun Kurapika saling lirik. Mereka memerhatikan tatapan mereka ke arah dan titik tertentu. Sama-sama setuju, mereka berdua melangkah menuju ke titik yang dipandangi vampir dan Unicorn tersebut untuk beberapa saat.
"Inikah tempatnya?" Kurapika bertanya, agak merasa tak sabar, sambil melangkah ke titik itu.
Sebelum kedua makhluk yang bukan manusia itu bisa menanggapi, tanah mulai berkilau. Awalnya kilauannya suram dan redup, tapi intensitas kilauannya langsung naik dalam sekejap dan langsung saja baik Kuroro maupun Kurapika–yang berdiri sangat berdekatan satu sama lain–sepenuhnya diselimuti cahaya aneh itu. Cahayanya bukan berwarna putih, namun juga tidak memberikan warna yang jelas. Sejenis cahaya yang tidak berasal dari dunia ini yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Cahaya yang menyilaukan itu padam secepat kemunculannya. Ketika cahaya tersebut berkurang dan akhirnya padam, kedua manusia itu tak ada di mana pun.
Keheningan muncul sesaat di antara Unicorn dan sang vampir. Mereka tak pernah saling mengenal dengan baik sebelumnya, jadi wajar jika ada kecanggungan di antara keduanya.
"Kau tidak memberitahukan semuanya kepada mereka, 'kan?" Lucian akhirnya bicara sementara dia masih tetap memandangi tempat yang sama.
Dan kau berbohong kepada mereka. Una balik menantangnya. Dia menolehkan kepalanya untuk menatap Lucian dengan tatapan bertanya-tanya. Cincin Peri hanya tersebar di sekitaran Benua Erin. Tak mungkin dia yang bernama Anansi itu bisa memasuki Cincin Peri dari tempat ini.
"Kalau kau tahu itu, kenapa kau tidak memberitahu mereka sebelumnya?"
Una tidak beranggapan bahwa itu hal yang tepat untuk dilakukan... Dia mengambil jeda sejenak, sebelum menambahkan, mengingat kau ada di bawah pengawasan.
"Kau menyadarinya?" Lucian terdengar benar-benar kaget.
Una terkejut mereka berdua tidak menyadarinya, kata Sang Unicorn pelan sambil menghampiri vampir itu untuk melihat jelas seekor laba-laba yang berukuran sangat kecil menempel di bahu Lucian. Lucian sedang mengenakan kemeja berpola, jadi laba-laba itu bisa dikira sebagai pola hiasan pada baju tersebut.
"Kurasa mereka terlalu sibuk memikirkan Meta hingga tidak menyadari detail yang sepele seperti ini," Lucian menghela napas.
Apakah hubungan mereka baik? Sang Unicorn bertanya; perhatian jelas terlihat dalam nada suaranya.
Lucian hanya angkat bahu yang berarti "Aku juga tidak tahu."
Jadi ke mana Anansi membawa Meta?
"Jujur aku tidak tahu. La naiba (sialan), dia memaksaku membujuk mereka ke sini jadi sihirnya–atau apapun juga dia menyebutnya, aku tidak begitu ingat–bisa memindahkan mereka ke suatu tempat. Cine știe? (siapa yang tahu?) Bahkan dia mengancamku, kalau aku membocorkan rencana ini kepada mereka, dia akan memerintahkan laba-laba bodoh ini menggigitku sampai mati." Dia menggeserkan pandangan mata abu-abunya ke laba-laba kecil itu dan langsung membentak:
"Sekarang pergilah, dasar kau si kecil bodoh!"
Laba-laba tersebut tetap di bahunya untuk beberapa menit lamanya–hal ini mengecewakan sang vampir–tapi akhirnya melompat turun dari sana dan bergegas masuk ke dalam kegelapan hutan. Menghela napas kesal "Hmph!", lalu Lucian menoleh kepada Sang Unicorn dan memandanginya sejenak.
"Jadi...Kenapa kau tidak memberitahu mereka semua kebenarannya?"
Una hanya punya firasat bahwa sebaiknya Una tidak bicara terlalu banyak. Demi kebaikan mereka sendiri. Jika Unicorn bisa angkat bahu, mungkin saat ini Unicorn itu akan mengangkat bahunya dengan santai.
"Hmm..." Lucian bergumam sambil kembali mengalihkan perhatiannya ke titik di mana Kuroro dan Kurapika pergi secara dramatis. "Apapun rencana Anansi untuk mereka, aku hanya berharap mereka bisa benar-benar menggunakan kesempatan ini untuk saling bicara dan menyelesaikan segalanya." Dia mengambil jeda sejenak untuk berpikir, sebelum segera menambahkan: "Dengan damai."
Una mendengus singkat dan bergumam: Oh, sungguh menyentuh.
Rasanya seperti menaiki roller coaster, atau bahkan lebih buruk lagi. Perut mereka bergolak dengan tidak nyaman; isinya memaksa keluar, tapi mereka berdua tetap tenang. Namun demikian, menjaga indera keseimbangan bukanlah hal mudah–tidak dengan ruang dimensi yang menyimpang dari kenyataan di mana mereka tak bisa lagi mengartikan atas dan bawah, kiri dan kanan.
Setelah beberapa menit yang menegangkan, diacak-acak dengan kasar di jalan ruang dan waktu yang berwarna pelangi, dimensi seperti kaleidoskop itu mendadak terhisap masuk ke dalam suatu titik. Tak berdaya, baik Kuroro maupun Kurapika tak bisa melakukan apapun demi mencegah mereka ikut terhisap ke dalam 'lubang hitam' itu.
Perjalanan mereka melewati 'lubang hitam' hanya bertahan selama sepersekian detik, sebelum Kurapika mendapati dirinya menatap warna biru langit yang cerah di atasnya, sementara Kuroro mendapati dirinya menatap pepohonan hijau yang lebat di bawahnya. Sebelum mereka bisa mencerna segalanya dengan baik, hukum gravitasi menerapkan akibatnya kepada mereka dan dengan cepat mereka ditarik menuju ke Bumi.
Kurapika terhenyak kaget begitu sesuatu yang tajam menggores pipi dan lengannya. Dalam sekejap, pemandangan langit biru yang cerah tertutupi dengan warna coklat dan hijau ranting dan dedaunan. Menyadari bahwa dia jatuh mendekati tanah yang keras, dia membalikkan tubuhnya di udara dan mendapati dirinya menatap tanah yang terlihat seperti sedang mendekat dengan cepat. Dia baru saja memperhatikan Kuroro memposisikan tubuhnya ke atas seolah dia sengaja melompat turun, saat Kurapika mengeluarkan Rantai Nen-nya.
Menjulurkan rantainya ke segala arah, Kurapika memastikan semua rantai itu melilit batang besar pepohonan di sekelilingnya dengan kencang sebelum menjalinnya menjadi jaring logam raksasa untuknya mendarat daripada tanah keras dan padat di bawahnya. Ketika dia mendarat di jaring logam itu, dia terhenyak ketika napasnya terhalangi. Seolah mereka sudah jatuh dari ketinggian yang cukup. Telentang di atas jaring untuk sesaat sambil menarik napas, Kurapika mengamati sekitarnya. Hutan itu terlihat cukup familiar, seolah dia pernah ke sana sebelumnya.
"Itu benar-benar sesuatu," kata sebuah suara yang berasal dari bawah.
Menyampingkan badannya, Kurapika melirik tanah yang ada di bawah. Kuroro berdiri santai dengan kedua tangan di dalam saku, sementara di sekelilingnya ada kabut debu tipis yang berputar ketika dia mendarat dengan kaki yang menapak tanah lebih dulu. Kurapika mengetahui hal ini, dan dia merengut iri–dia belum menguasai kemampuan seperti itu; yang sama persis ditunjukkan Presiden Netero ketika dia melompat turun dari balon udara bertahun-tahun yang lalu saat Babak Kedua Ujian Hunter.
"Apanya?" Kurapika bertanya, terdengar tenang saat dia melenyapkan Rantai Nen itu dan mendarat dengan selamat di samping Kuroro.
Bukannya menjawab, Kuroro memberinya tatapan yang tak bisa benar-benar dia tafsirkan. Campuran rasa senang dan ironis, juga perasaan lainnya lagi.
"Ketika kau di atas sana," akhirnya dia berkata dengan seulas senyum yang sangat tipis, membuat Kurapika mengernyit, "Kau terlihat seperti laba-laba."
Dengan cepat Kurapika mengetahui bahwa yang Kuroro maksudkan adalah waktu dia berbaring di atas Rantai Nen-nya yang dia jalin untuk mencegahnya langsung jatuh ke tanah. Namun, dalam sekejap matanya berubah merah begitu suatu perasaan lama muncul di dalam dirinya. Menghubungkannya dengan laba-laba! Berani-beraninya dia! Kurapika hampir mengucapkan pemikirannya itu kepada Kuroro, saat pria tersebut menambahkan :
"Atau lebih tepatnya, kupu-kupu yang terjebak di jaring laba-laba?" Seulas senyum lebar menghiasi sosoknya sewaktu dia bertanya, "Kau pilih yang mana?"
Melihat senyuman itu, seolah Kurapika disadarkan kembali ke dunia nyata. Dia tahu senyuman itu. Senyuman yang selalu ada kapan pun Kuroro bermaksud memprovokasinya ketika dia ingin. Sambil merengut tidak senang, Kurapika menenangkan kepalanya yang mendidih karena emosi, berusaha mengembalikan warna matanya ke semburat warna aquamarine.
"Tidak satu pun. Jadi diamlah," Kurapika menanggapi dengan membentak, seperti seekor kucing yang siap menggigit tangan siapa pun juga yang mendekat.
Kuroro hanya angkat bahu atas tanggapan Kurapika yang kejam, tapi meskipun demikian dia merasa puas bisa memicu Mata Merah walau hanya sesaat. Di dalam hatinya, dia merindukan Mata Merah itu–Mata Merah paling memukau yang pernah dia lihat hingga saat ini. Bahkan Mata Merah Meta sulit dibandingkan dengan Mata Merah Kurapika.
Ngomong-ngomong...
"Kau tahu tempat ini?" Kuroro bertanya dengan suara netral.
Kurapika mengamati sekitarnya sekilas. "Tempat ini terlihat familiar, tapi..." Dia mengernyit dalam dan menoleh kepada Kuroro. "Itu bukan Cincin Peri, ya?"
Matanya; kini dalam semburat warna biru samudera, menatap langsung ke mata obsidian pria itu, menantangnya untuk menjawab. Kurapika tahu bahwa seharusnya Kuroro pun menyadarinya, karena mereka pernah melakukan perjalanan melalui Cincin Peri didampingi Una, Ging, dan Anansi. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya berjalan melewati Cincin Peri, seolah peristiwa itu baru terjadi kemarin.
"Aku yakin itu bukan Cincin Peri," perlahan Kuroro menggelengkan kepalanya.
"Tepat!" kata suara ceria dan jahil; terdengar familiar, tiba-tiba sampai ke telinga mereka.
Dalam sekejap, kedua petarung terlatih itu langsung memasang posisi bertahan–yang sebenarnya sungguh tidak diperlukan. Namun, reaksi mereka awalnya memang tidak disebabkan oleh sikap hati-hati terhadap pihak yang tidak dikenal. Kalau pun iya, tepatnya karena mereka tahu siapa pemilik suara itulah hingga mereka jadi lebih berhati-hati daripada biasanya.
Berdiri di hadapan mereka tak lain tak bukan adalah Seiryuu dalam penampilan sebagai Shishin sepenuhnya–Empat Makhluk Kayangan Penjaga Empat Mata Angin. Pakaiannya yang berwarna biru tua berkilau mewah, dengan hiasan kepala bermotifkan naga yang megah bertengger di kepalanya, Seiryuu masih tetap makhluk aneh yang sama, tak bisa diberitahu, yang mereka kenal–atau setidaknya sejak terakhir kali mereka melihatnya dan rekannya yang lain sekitar enam tahun yang lalu.
"Kurapika-chaaan! Masih tetap manis seperti bi–"
Kurapika memukul wajah Seiryuu dengan kepalan tangannya ketika dia menyergap ke arahnya dengan kedua tangan terbuka lebar secara berbahaya, hendak memeluknya. Kuroro hampir terkekeh geli melihat Kurapika gelagapan saat wanita itu melihat jelmaan naga tersebut menghampirinya tanpa tahu malu, ketika tiba-tiba dia merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Dan kau masih tetap tampan seperti biasanya, Kuroro-san~" Suara menakutkan lainnya lagi yang terdengar familiar bicara di belakangnya begitu sepasang tangan berotot diletakkan di kedua bahunya.
"Lama tak bertemu, Suzaku," Kuroro menanggapi dengan begitu dingin dan terkendali saat dia menyelinap keluar dari sentuhan phoenix Asia itu, meskipun sebenarnya tidak demikian.
"Mereka masih tetap sama," Suzaku berkomentar sambil mengamati Kurapika dan Seiryuu–Kurapika berteriak karena menganggapnya bermaksud melakukan pelecehan seksual sementara Seiryuu berteriak padanya atas usaha pembunuhan dengan cara yang paling fantastis.
"Kalian juga sama saja," Kuroro menanggapi sambil mendengus.
"Meskipun begitu..." Suzaku berbalik menghadap Kuroro dan mengamatinya dari kepala sampai kaki. "Sepertinya kau berhasil menghancurkan kutukan itu, ya?"
"Ya, kami berhasil melakukannya," Kuroro mengangkat bahunya.
"Mmhmm..." Sang Phoenix mengangguk namun seulas senyum penuh arti menghiasi wajahnya yang feminin. "Lalu?"
Kuroro menatapnya bingung, di dalam hati bertanya "Apalagi yang ingin kau tahu?"
"Kurasa yang terjadi lebih dari itu, iya 'kan?"
"Itu bukan urusanmu," kata Kuroro dingin. Dia baru saja akan berbalik pergi ketika menyadari sesuatu dari perilaku Suzaku. "Tapi bagaimana pun juga," dia mulai bicara dengan hati-hati, "Sepertinya kau tahu lebih banyak dariku mengenai apa yang sedang terjadi sekarang."
"Oh ya?"
Kuroro mengernyit padanya, merasa sedikit tidak senang, sementara di saat yang sama berusaha mencari petunjuk lain dari tatapan dan sikap tubuh makhluk mistis itu. Sayangnya, tak ada petunjuk apapun yang menunjukkan bahwa Suzaku menutupi sesuatu tentang apa yang terjadi, kecuali kegirangan dan pengharapan tersembunyi di matanya yang keemasan.
"Sepertinya kita sengaja dilempar ke sini dengan sihir Anansi," tiba-tiba Kurapika bersuara dari sebelahnya.
Ketika Kuroro menoleh melihatnya, raut wajahnya penuh kemenangan sementara Seiryuu menampakkan raut wajah kesal–seolah dia baru saja kalah bermain atau bertaruh. Lalu Kuroro mengira bahwa entah bagaimana Si Kuruta sudah mengancam jelmaan naga itu untuk membocorkan semuanya. Hal tersebut terbukti benar ketika Suzaku menatap Seiryuu dengan tatapan menegur.
"Apa lagi yang berhasil kau korek darinya?"
"Kau bicara seolah aku sudah menyiksanya untuk mendapatkan jawaban," Kurapika sedikit memelototinya.
"Oh, tapi bukankah memang begitu?"
"Diam," Kurapika berkata dengan merengut.
Kuroro hanya terkekeh pelan, tapi meskipun demikian dia bertanya lagi: "Jadi apa yang dia katakan?"
"Seperti yang kubilang, Anansi membuat kita datang ke sini melalui portal ajaib atau apapun itu. Tampaknya Lucian diperintahkan untuk mengelabui kita. Yang tidak aku mengerti adalah kenapa Una tidak berkata apa-apa mengenai portal yang sebenarnya bukan Cincin Peri," Kurapika mengernyit memikirkannya.
Seolah Una sudah mengkhianati mereka, tapi mengenal Una dengan sangat baik–karena Una sudah tinggal dekat dengannya selama lima tahun terakhir–dia tahu lebih dari sekedar memiliki prasangka seperti itu. Sepertinya Una tahu banyak. Atau mungkin dia sudah dihubungi Anansi sebelum mereka mendatanginya? Tapi... Untuk alasan apa? Kenapa Anansi melalui seluruh masalah ini?
"Tak ada alasannya?"Kuroro bertanya.
Kurapika menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah menanyainya, tapi dia bilang mereka pun tidak tahu."
"Para Shishin mengikuti perintah dari Anansi? Itu sungguh membuatku bertanya-tanya." Kuroro melirik Suzaku, yang berdiri di dekat mereka.
Suzaku, tidak terpengaruh dengan ucapan Kuroro, hanya memberikan senyumnya yang menawan.
"Kami hanya melakukannya atas dasar menghargai orang yang pernah memiliki tingkat kedudukan lebih tinggi daripada kami," Suzaku menanggapi dengan tenang.
Tatapan bingung tampak di wajah Kurapika, sementara wajah Kuroro sedikit memucat. Kurapika baru saja membuka mulutnya hendak menanyakan apa maksud Suzaku, tapi dicegat oleh ucapan Seiryuu.
"Hei, karena kalian sudah di sini, kenapa kalian tidak mengunjungi teman lama?"
Kurapika menoleh padanya, sedikit mengernyit heran.
"Kuil Fushimi Inari Taisha dekat dari sini, kau tahu," Seiryuu berkata dengan menyeringai lebar sambil menggerakkan kepalanya ke arah tertentu.
Saat mendengarnya, sesuai terbersit di benak Kurapika dan wajahnya jadi lebih berseri-seri.
"Kuzunoha!"
"Kurapika-san! Kuroro-san!"
Saat pandangannya tertuju pada pasangan itu, Kuzunoha dari Kuil Fushimi Inari Taisha bergegas menghampiri mereka dengan kedua lengan yang terbuka lebar. Dia memeluk Kurapika, membuatnya terkejut dengan pelukan yang begitu erat. Dia tak pernah membayangkan seorang wanita sopan seperti Kuzunoha akan memeluk siapa saja dengan cara yang kekanak-kanakan begitu. Namun, kepada Kuroro, dia hanya membungkukkan badannya sopan dan memberikan seulas senyum selamat datang yang hangat–yang dengan ramah dibalas Kuroro melalui sikap tubuh yang sama.
"Kalian baik-baik saja? Apakah semuanya utuh?" Dia menanyai Kurapika sambil memeriksanya dari kepala sampai kaki.
"Utuh?" Kurapika balik bertanya dengan mata terbelalak.
"Sihir Anansi-dono bukanlah sihir yang paling aman di luar sana. Bahkan kenyataannya, dia bermaksud menjatuhkan orang ke laut," Seiryuu menjelaskan kepada mereka dengan seringai lebar di wajahnya.
Di dalam hati, Kuroro mendengus geli. Itu sangat mirip dirinya, dia berpikir.
Jadi andai tadi terjadi sesuatu yang salah, kami bisa saja hancur berkeping-keping? Pikir Kurapika gemetar.
"Bagaimana pun juga, ada pesan dari Anansi-sama. Tapi!" Kuzunoha menekankan kata terakhir begitu dia melihat Kurapika membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. "Mari kita minum teh sambil kalian beritahu kami apa yang sudah terjadi selama enam tahun terakhir ini, bagaimana?"
"Kuzunoha!" Protes Kurapika.
"Kami tidak punya waktu untuk hal ini," Kuroro bertanya dengan nada suara yang tegas.
"Oh, tentu kalian punya banyak waktu." Senyuman kukuh yang sama menghiasi wajahnya yang bagai porselen. "Aku pastikan itu. Lagipula, aku tak akan memberitahu kalian apapun hingga kalian menceritakan semuanya."
"Dia mulai lagi," Seiryuu berbisik kepada Suzaku. "Saat dia tersenyun tenang seperti itu, pikirannya tak akan berubah."
"Kalau begitu kita akan mendengar cerita yang menarik," Suzaku berkata sambil menempelkan jari telunjuk ke pipinya sementara seulas senyum cerah, hampir terlihat kekanak-kanakan, mengembang di wajahnya.
"Tentu," Seiryuu menjawab dengan antusiasme yang sama begitu dia melihat pasangan tersebut tengah dipaksa mengikuti Kepala Pendeta Kuil Inari masuk ke bangunan utama.
Mereka berdua sepakat memutuskan untuk menjaga semuanya berjalan dengan singkat dan baik - baik saja, maka mereka menyimpulkan segalanya seringkas mungkin. Mereka tidak menjadi bosan dengan semua rinciannya, hanya mengambil kesimpulan secara garis besar mengenai apa yang telah terjadi dalam enam tahun terakhir. Kuzunoha sungguh merasa tidak puas dengan itu, tapi untuk beberapa alasan dia putuskan tidak mendesak mereka lebih jauh.
"Jadi apa pesan Anansi?" tanya Kurapika tak sabar.
Kuzunoha memanyunkan bibirnya tak senang, namun dia mengalah.
"Anansi - sama memberitahuku untuk menyampaikan pesan ini kepada kalian berdua : Pertama - tama, mohon maafkan Lucian yang menipu kalian karena akulah yang membuatnya melakukan hal itu."
Dengan mengancamnya, pikirKuroro dan Kurapika bersamaan.
"Kedua, seharusnya sekarang kalian berdua sudah tahu bahwa Meta ada bersamaku, dan aku bisa tegaskan dia aman terkendali."
Kurapika menghela napas lega.
"Ketiga, mau tahu di mana aku sekarang, Kuroro. Jadi pergilah bersama Kurapika untuk menemukanku." Kuzunoha berhenti sejenak, dan kemudian dengan ceria dia menambahkan : "Itu saja."
Keheningan memenuhi ruangan itu.
"Itu saja?" Kuroro bertanya dengan mengangkat sebelah alis matanya.
"Kau berharap lebih?" dengan lembut, Kuzunoha balik bertanya.
Kuroro tak bersuara saat dia memikirkannya kembali, dan kemudian dia angkat bahu begitu saja sambil bergumam : "Tak ada yang khusus."
"Baiklah kalau begitu," Kuzunoha melirik cepat kepada Kurapika, yang terlihat seolah dia memikul beban seluruh dunia di pundaknya—secara teknis iya, beban dunianya berada di pundaknya saat ini—maka Kuzunoha pun beranjak dan undur diri. "Sepertinya kalian perlu privasi untuk membahas tentang masalah ini. Kalau begitu aku pamit."
Kuzunoha membuat suatu gerakan cepat dengan tangannya, dan dua orang miko kuil itu masuk ke dalam ruangan.
"Tolong dampingi mereka ke kamarnya," dia memberitahu dua orang miko muda itu, dan kemudian meninggalkan ruangan setelah membungkuk sopan kepada tamunya.
Kuroro dan Kurapika mengikuti kedua miko yang bersikap diam itu tanpa saling bicara sepatah kata pun; masing - masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Bagi Kurapika, dia tengah merenungkan situasi saat itu. Meta masih tetap bersama Anansi, namun dia tidak tahu apakah dirinya harus menganggap hal tersebut sebagai hal yang baik atau buruk. Ini adalah Anansi; ayah angkat Kuroro—terlepas dari penyangkalan keras pria itu terhadap fakta sepele tersebut—dan sudah jelas dia bukan manusia. Hanya Dewa di Surga di atas sana yang tahu apa yang akan dia lakukan pada anak berumur empat tahun itu. Kurapika hanya bisa berharap, dia tak akan mempengaruhi anak itu dengan impian - impian yang tidak manusiawi. Ini adalah alasan dari kekhawatirannya : dia tidak mengenal Anansi secara pribadi, jadi dia tak punya dasar untuk menilai situasi dengan jernih. Kurapika betul - betul khawatir.
"Kenapa raut wajahmu seperti itu?"
Lamunannya pecah oleh suara tenang yang tiba - tiba terdengar seolah menciprati wajahnya dengan air dingin untuk membuatnya bangun, mencegahnya tenggelam dalam kegelisahan. Ekspresi wajah pria itu sangat terkendali, tapi Kurapika tahu betul bahwa dia pun memikirkan banyak hal. Pria itu hanya benar - benar ahli menunjukkan kepribadian menyesatkan, menipu orang lain yang mudah tertipu tentang kepribadian diri yang sebenarnya.
"Sebenarnya, Anansi itu apa?" Kurapika bertanya dengan suara pelan.
Dengan menaikkan sebelah alis matanya, Kuroro duduk bersila di lantai tatami. Dia tempatkan kedua siku di pangkuan dan menautkan kedua tangan di depan mulutnya.
"Jadi kau sedang khawatir tentang apa yang akan dia lakukan pada Meta?"
Kurapika sedikit tersentak. Kuroro ahli membaca arah pikiran orang bahkan hanya dengan bercakap - cakap bersama mereka sebentar saja. Seringkali, hal itu membuatnya takut. Pada waktu - waktu tertentu, keahlian Kuroro itu membuat hal - hal menjadi lebih mudah karena Kurapika tak perlu menjelaskan tentang banyak hal padanya. Dengan masih berdiri, Kurapika menatap ke arah Kuroro, menunggunya mengatakan sesuatu tentang masalah itu. Kuroro telah memejamkan matanya, nampak sedang berpikir dalam - dalam.
"Jadi?" Tanya Kurapika tak sabar setelah beberapa menit berlalu.
"Dia tak akan menyakitinya; itu pasti. Namun..." Kuroro membuka matanya dan menatap lurus ke arah Kurapika. "Aku bisa hampir merasa yakin bahwa dia akan mengajarinya beberapa hal...yang baru." Itu dia, Kuroro bisa menyimpulkan dari pengalamannya sendiri bersama pria itu.
Kurapika bahkan tidak mau repot untuk menutupi erangan putus asa yang dia suarakan. Hal terakhir yang dia inginkan adalah anaknya mempelajari hal - hal aneh dari makhluk yang aneh pula. Semuanya sudah menggila; sudah pasti tak ada pentingnya untuk membuat segalanya menjadi lebih rumit lagi. Dengan kedua bahu terkulai, Kurapika beranjak duduk di lantai tatami tapi lebih terlihat seperti kakinya menyerah pasrah dan berubah menjadi jeli.
Kuroro memanfaatkan waktunya untuk mengamati gadis pirang itu. Dia lebih kurus dari biasanya, dan rambut pirangnya menjadi sedikit lebih gelap. Dia terlihat lelah, gelisah, dan hampir depresi—dia tampak seolah dia bisa hancur kapan saja. Namun, meskipun terlihat begitu lemah dan rapuh, Kuroro bisa melihat tekad dasar yang tak terpadamkan di dalam dirinya. Seolah satu - satunya hal yang membuatnya tetap bertahan adalah tekadnya yang tampak samar—kebulatan tekad untuk menemukan anaknya yang hilang walau apapun yang terjadi.
Sementara si pria berambut hitam belum menempa ikatan ayah - anak bersama Meta, alasan kenapa dia memutuskan untuk mencari Meta tak lain tak bukan adalah karena kenyataan bahwa baginya, anak itu merupakan pribadi yang begitu penuh intrik. Dia ingin mempelajari anak itu lebih jauh. Merasa terusik, ada alasan kecil yang justru mungkin adalah alasan utama kenapa dia mengikuti semua ini. Dia hanya ingin berada di dekat Kurapika sedikit lebih lama. Dia ingin memuaskan hatinya sedikit lagi, setelah lima tahun ketidakhadiran gadis itu.
Sesederhana itu.
"Anansi pernah punya kedudukan yang lebih tinggi dari Para Shishin?" Tiba-tiba Kurapika berbisik entah pada siapa, seolah dia hanya menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Jangan tanya aku. Aku juga tidak tahu," kata Kuroro tanpa ekspresi sambil angkat bahu.
Kurapika tidak menanggapi sikap Kuroro yang tidak menyatakan apapun. Di dalam benaknya, pemikiran yang mengganggu itu terus mengusiknya. Dia merasa seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya, saat mengelilingi setengan bagian dunia waktu menjalankan tugas Hunternya. Apakah dia mendengar nama itu waktu mengunjungi suku yang terancam punah? Kalau memang iya, kapan? Di mana? Mungkin saja itu adalah petunjuk ke mana pria tersebut membawa Meta, tapi semakin dia menggali ingatan yang hampir terlupakan itu, ingatan tersebut semakin lolos dari cengkeraman pikiran sadarnya. Hal itu membuatnya sangat kesal.
Setelah sesaat berusaha menggali ingatannya, akhirnya dia mengambil istirahat sejenak. Tak ada hasilnya, memaksa dirinya sendiri melakukan hal itu. Saat waktunya tiba, ingatan itu akan kembali padanya. Semoga. Lalu dia memutuskan untuk mengambil jalan lain.
"Menurutmu ke mana Anansi akan membawa Meta?" Dia bertanya kepada Kuroro dengan setengah hati, seolah dia sama sekali tak mau bertanya padanya namun tak punya pilihan lain.
"Satu-satunya tempat yang bsia kupikirkan adalah Ryuusei-gai," Jawab pria itu dingin. Jawabannya begitu cepat, seolah dia sudah memikirkannya tadi.
"Ryuusei-gai... tempat itu terletak di belahan lain dunia ini," gumam Kurapika sedih.
Diam-diam Kuroro mengamati Kurapika, sebelum menambahkan : "Sebagai catatan, sepertinya itu terlalu mudah dan langsung kalau dia benar-benar membawa Meta ke Ryuusei-gai."
Sebuah kernyitan terbentuk di kening Kurapika, dan kemudian dia mendongak menatap Kuroro dengan tatapan kesal yang intens terlihat di sepasang mata berwarna biru samudera itu.
"Apa kau menyarankan kita mencari di setiap sudut dan celah di seluruh dunia ini untuk mencari mereka?"
"Setidaknya ke tempat-tempat yang pernah kita datangi."
"Maksudmu tempat-tempat yang pernah kau datangi," Kurapika menegaskan begitu dia teringat akan pesan Anansi.
"Ketiga, kau tahu di mana sekarang aku berada, Kuroro." Itulah yang dia katakan, dan dalam hal ini yang dia maksudkan hanyalah Kuroro.
"Dan tetap saja tempat-tempat itu banyak sekali," Kurapika melanjutkan sambil menggerakkan sebelah tangan menelusuri puncak kepala pirangnya dengan lesu. Rasanya berminyak dan kotor—singkatnya, sangat tidak terawat. "Kita tidak punya waktu untuk mendatangi semua tempat itu."
"Jadi, Ryuusei-gai?"
Kurapika terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia menghela napas.
"Itu tempat yang bagus untuk memulai. Setidaknya, masuk akal."
Sebelum Kuroro bisa menanggapi—sebenarnya, bukannya dia memang mau menanggapi—ada ketukan pelan di pintu geser kamar mereka. Suara lembut miko pun memasuki pintu yang tipis itu, memberitahu mereka bahwa senja telah tiba dan Kepala Pendeta menyarankan agar mereka bermalam di kuil.
Meninggalkan Kuroro menanggapi perkataan miko tersebut, Kurapika berdiri dan melangkah menghampiri jendela. Dia mengintip keluar dan, benar juga, dia melihat langit mulai gelap dan bintang-bintang mulai berkedip lemah dari jauh di angkasa sana. Tiba-tiba, melihat hari itu akan segera berakhir, Kurapika merasa teramat sangat lelah.
Terlalu banyak hal yang terjadi hanya dalam satu hari.
"Anansi..."
"Hmm?" Pria itu menanggapi dengan gumaman yang bernada sambil menunduk melihat anak kecil yang sedang memegangi tangannya.
Sensasi yang aneh, tangan akan manusia menggantung di tangannya dengan nyaman seolah tangan itu memang sudah seharusnya di sana. Si Jelmaan Laba-laba jarang memiliki interaksi apapun dengan manusia, kecuali dengan Kuroro Lucifer dan beberapa orang lainnya. Dan lagi, ini pertama kalinya seorang manusia menyentuhnya dengan rela dan penuh semangat. Tak ada rasa takut, kehati-hatian, tak ada apapun—yang ada hanyalah kemurnian, rasa ingin tahu, dan rasa aman dari anak berumur empat tahun itu.
Ngomong-ngomong tentang hal yang luar biasa... Dia bergumam dalam hati.
"Kenapa kita ada di sini?" Anak itu bertanya ingin tahu sambil melihat sekeliling.
Tempat itu suram; dingin dan tampak tertutup. Meskipun ada rasa kosong di sana, tempatnya bersih tanpa ada debu yang melapisi tempat itu. Bahkan, sangat bersih—hampir steril—memberi sensasi yang menyeramkan. Dinding batu yang kokoh berdiri dengan luasnya, selaras dengan jalan yang mereka ambil berdua. Tak ada hiasan apapun di sepanjang dinding itu. Secara keseluruhan, gambaran tentang tempat itu adalah 'kosong'.
Meta bisa saja menanyakan pertanyaan itu kepada Ishtar, namun roh tersebut sekarang tengah bergentayangan di tempat lain. Ishtar jarang meninggalkan Meta sendirian, tapi dia percaya Anansi akan menjaganya. Meta juga terlihat cukup nyaman ditinggalkan sendirian bersama Anansi, meskipun dia baru mengenalnya beberapa jam saja.
"Agar orangtuamu bisa menemukanmu," jawab Anansi sekilas. Jika mereka berdiam di 'ruang' yang diciptakan Anansi dengan menggunakan kekuatannya, Kuroro dan Kurapika tak mungkin bisa menemukan mereka.
Anak itu tak berkata apa-apa dan hanya menatap kakinya sambal berjalan di samping pria tersebut. Lengannya—yang berpegangan dengan tangan Anansi—mulai mati rasa tangannya dipegangi begitu lama. Anansi sangat tinggi, sementara dirinya begitu mungil. Tadi Meta memaksa bahwa dia ingin berpegangan tangan dengan pria yang sebelumnya adalah Dewa itu, dan Anansi pun mengalah. Bahkan dia lebih dari sekedar senang bisa mengabulkan permintaan Meta.
"Kau lelah?"
Meta mengangguk perlahan. Mereka sudah berjalan entah sudah berapa lama, dan kedua kaki kecilnya harus berjalan dalam derap langkah paling cepat yang dia bisa sementara sayangnya Anansi berjalan dalam derap langkah paling lambat yang dia bisa. Dengan seulas senyum di wajah bengisnya, Anansi menggendong anak itu dan berjalan kembali dengan langkah yang lebih cepat bersama anak kecil terlindungi dalam gendongannya.
"Anansi," anak itu mulai bicara lagi.
"Ya?"
"Kenapa Mom dan Dad hidup terpisah?"
Anansi tidak langsung menjawab.
"Kenapa mereka tak bisa hidup bersama? Apakah memang sebegitu sulitnya?"
Pria berkulit ochre itu menoleh ke anak tersebut dan menatap kedua mata safirnya dalam-dalam. Sepasang mata yang penuh dengan pertanyaan dan rasa heran, dan di balik semburat warna biru tua itu, Anansi bisa melihat ada kerinduan di sana. Kerinduan akan sebuah keluarga yang utuh.
"Aku tidak tahu," Anansi menggelengkan kepalanya walau sangat perlahan, rambut emas platinanya berayun di belakangnya laksana tirai benang laba-laba yang halus. "Tapi Meta…"
Anak itu, yang tadi membenamkan wajahnya ke bahu telanjang Anansi, mendongak. Bukan memandang ke arahnya, Anansi menatap ruang kosong di hadapannya; ke koridor sepi yang tampak meluas tanpa batas. Ada tatapan jauh di dalam matanya, dan Meta bisa merasakan sesuatu yang sama untuk disesali tercurah dari Si Jelmaan Laba-laba melalui kemampuan empatinya.
"Kurasa mereka punya alasan sendiri…"
Itulah penjelasan terbaik yang bisa Anansi berikan kepada Meta pada saat itu.
TBC
A/N :
Just wanna say that I'm back, and the truth is… I WILL BACK COMPLETELY.
Miss you all… semoga masih ada yang ingat fic ini dan mau review T,T
Leave your review please…?
~KuroPika FOREVER~
