Bleeding Love
"Jangan seperti ini! Nanti kau akan semakin menyayangiku!"
"Kau minta maaf untuk sakitku yang di mana? Hatiku? Atau tubuhku?"
Author : uL!eZha
Disclaimer : Kentarou Miura & Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rate : M
Pairing : Gakupo Kamui & Hyuuga Hinata
Warning : AU; Typo(s); OOC; Hinata's PoV; dll.
Chapter 9
Cukup lama aku berdiri di depan pintu apartemenku, ragu untuk mengetuk pintu. Bingung, resah, dan takut. Entah emosi apalagi yang berkecamuk di dalam hatiku saat ini. Saat aku menggerakkan tanganku untuk menekan bel, tiba-tiba pintu terbuka.
"Hinata!" panggil Tenten terkejut.
"Aku pulang," ucapku pelan, sambil tersenyum masam.
"Baiklah, aku pamit dulu," ucap Sasuke kepada Tenten, lalu menoleh ke arahku, memandangiku dengan tatapan setajam sembilu. "Kau lama sekali," ujarnya ringan, sambil mengusap kepalaku pelan.
"Maaf," ucapku lirih, tak enak hati.
"Masuklah! Ini sudah larut," pinta Sasuke dengan nada perintah. "Aku akan kemari lagi besok," tambahnya kemudian.
"Hn, hati-hati di jalan," ujarku berpesan.
Sasuke tidak menyahut. Dia hanya menggumam sebagai tanggapan. Setelah dia keluar, aku melangkah masuk ke dalam. Tenten masih berdiri di depan pintu, melambaikan tangannya kepada Sasuke yang aku yakin sudah berlalu. Sejenak kemudian kudengar pintu ditutup dan anak kunci diputar.
"Hinata, kita perlu bicara," ujar Tenten dengan nada tegas.
"Tenten, a-aku..., ehm...," suaraku tercekat di tenggorokan.
"Duduk dulu, akan kubuatkan teh hijau panas untukmu," pinta Tenten datar, lalu dia berjalan menuju ke pantry.
Tak berani membantah, aku segera menuju ruang santai dan duduk di atas sofa. Sambil menunggu, kuambil ponsel pintarku dari dalam tas, memeriksa apakah ada pesan masuk atau panggilan tak terjawab. Namun ternyata tidak ada notifikasi apapun pada layar.
"Ini, minumlah dulu," ujar Tenten mempersilakan sambil mengulurkan secangkir teh hijau panas kepadaku.
"Terima kasih," ucapku sambil tersenyum tipis, lalu meletakkan cangkir itu setelah menyesapnya sedikit.
"Sasuke bertanya kepadaku, siapa pria berrambut ungu yang menemuimu di coffee shop tadi," kata Tenten membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
"Hn, lalu kau jawab apa?" tanyaku dengan suara gemetar, gusar.
"Aku hanya bilang dia seorang kenalan dari kampus KIA," jawab Tenten datar.
"Lalu, Sasuke bertanya apa lagi?" tanyaku penasaran.
"Tidak ada," jawab Tenten singkat. "Tapi aku ingin bertanya kepadamu," lanjutnya dengan wajah serius.
"Tanya apa?" aku langsung balik bertanya.
"Sejak kapan kau berhubungan lagi dengannya?" tanya Tenten frontal.
Aku terdiam membisu. Menanti jawaban dariku, Tenten duduk di atas sofa, di seberang meja. Dia menatapku dalam-dalam, seakan mencoba mengorek isi hatiku. Ada amarah di dalam kedua mata coklatnya yang bening itu. Membuat nyaliku ciut dan menunduk bagai seorang pesakitan.
"Sekitar sebulan yang lalu," jawabku seadanya.
"Apa saja yang telah dia lakukan kepadamu?" tanya Tenten lagi, kian tajam.
"T-t-tidak ada," jawabku terbata-bata, takut bukan kepalang.
"Hinata!" Tenten memanggil namaku dengan nada membentak.
"Tenten, aku..., a-aku...," lidahku mendadak kelu.
Kepalaku rasanya berputar-putar saat ini. Jantungku mendadak berdebar cepat. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Saat ini, rasanya lebih baik ditelan bumi daripada diintimidasi seperti ini. Aku sedikit mendongak, melihat Tenten yang masih menatapku tajam. Dengan jelas dapat kulihat, Tenten tidak mempercayai jawabanku tadi.
"Jawab aku!" Tenten kian memaksa.
"Kami melakukannya," ucapku tanpa sadar.
"A-apa?! Hinata, maksudmu melakukan apa?" tanya Tenten mendesakku.
"Aku mencintainya, Tenten," desisku lirih.
Tenten beranjak dari posisinya, berjalan mendekatiku lalu duduk di sampingku. Dia memegang kedua pergelangan tanganku dengan kasar sambil menatapku dengan wajah dingin. Sepertinya aliran darahku melambat karena genggaman jemari Tenten membuat nadiku tersumbat. Dan itu juga membuat tanganku terasa nyeri.
"Apa maksudmu mencintainya?" tanya Tenten geram.
"Lepaskan aku, Tenten," pintaku sambil memutar tanganku. "Tanganku sakit," tambahku merintih.
"Cinta macam apa itu, Hinata?" tanya Tenten retoris. "Apakah mencintai harus ditunjukkan dengan cara semacam itu?" dia bertanya dengan nada sinis, kini kedua tangannya sambil mencengkeram kedua lenganku.
"Tenten, cukup," pintaku pelan.
"Apakah cintamu kepada pria itu lebih besar daripada cintamu kepada Neji, sampai-sampai kau sanggup menyerahkan kesucianmu begitu saja?" tanya Tenten tanpa tedeng aling-aling.
"T-...,Tenten?" aku memanggil sahabatku itu dengan nada tanya.
Aku terhenyak mendengar pertanyaan itu. Rasanya seperti petir yang ditusukkan langsung ke telingaku. Rasanya seakan jantungku direnggut, diremas lalu dicabut dari tempatnya. Kedua mataku terasa memanas seketika. Penglihatanku mendadak kabur. Sedetik kemudian, air mataku berjatuhan tanpa sempat kubendung.
"Tenten...," suaraku mendadak serak, karena aku mulai terisak.
"Oh, Tuhan..., maafkan aku...," ucap Tenten sambil melepaskanku, kemudian dia mendekapku dengan erat.
"Cukup, Tenten..., kumohon...," tangisku kian menjadi saat kusandarkan kepalaku ke pundak kurus Tenten.
"Aku tahu, maafkan aku...," bisik Tenten sambil mengusap punggung pelan. "Seharusnya aku tidak pernah menanyakan hal seperti itu. Maafkan aku, Hinata...," lanjutnya sambil mencium keningku lembut.
Aku tak dapat berkata apapun lagi. Pun tak mampu merasakan apapun sama sekali. Yang terjadi saat ini hanyalah dadaku terasa sesak hingga aku sulit bernafas. Air mataku mengalir deras hingga membasahi pakaian Tenten. Sejenak kemudian, aku melepaskan diriku dari pelukannya.
"Tenten, apakah aku salah?" tanyaku pelan sambil menatapnya mengiba.
"Hinata, apakah kau yakin saat melakukannya?" Tenten justru balik bertanya.
"Aku sudah melakukannya," jawabku tak menjawab pertanyaannya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Tenten kemudian.
"Entah..., aku sedang tidak ingin berpikir tentang apapun," jawabku pelan, masih terisak walau tertahan. "Kepalaku rasanya seperti mau meledak," lanjutku sambil menggeleng berulang kali.
Tenten segera menghentikanku dengan cara memegangi wajahku, lalu membelai rambutku pelan. Kudengar dia menghela nafas, begitu pula diriku. Kemudian dia mengusap wajahku, menghapus jejak air mataku. Dia memandangiku dengan tatapan cemas. Sementara aku, membalasnya dengan perasaan yang tak menentu.
"Tadi, ada perlu apa dia denganmu?" tanya Tenten lagi, ingin tahu.
"Dia minta bantuanku untuk membuat blog," jawabku apa adanya.
"Itu saja?" tanya Tenten memastikan.
"Hn," gumamku sambil mengangguk pelan.
"Hn, ya sudah, kau mandilah dulu! Akan kusiapkan makan malam untukmu," ujar Tenten pada akhirnya, menutup pembicaraan.
"Iya," sahutku singkat, lalu beranjak dan menuju kamarku. "Tenten, terima kasih," ucapku pelan, tepat sebelum membuka pintu kamarku.
Tenten hanya tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. Kulihat dia berjalan menuju pantry. Aku masuk ke dalam kamarku untuk mengambil handuk. Beberapa saat kemudian aku keluar dari kamar dan langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, aku menghampiri Tenten yang masih sibuk menyiapkan makan malam.
"Perlu bantuan?" tanyaku menawarkan.
"Tidak, sudah hampir selesai, kok!" jawab Tenten spontan. "Tapi jika kau memaksa, tolong buatkan teh hijau, ya!" pintanya kemudian.
"Tidak masalah," sahutku ringan.
Dengan sigap aku mengambil dua buah cangkir dari dalam kabinet. Kuisi kedua benda cekung itu dengan sejumput teh hijau kering, menyeduhnya dengan air panas, lalu menutupnya agar uapnya tidak menguar. Setelah itu, kuletakkan kedua cangkir itu ke atas meja makan.
Sambil menunggu Tenten selesai, aku duduk bertopang dagu dengan tatapan kosong. Begitu Tenten selesai, kami langsung menyantap hidangan yang tersaji di atas meja makan. Seperti biasa, masakan Tenten yang lezat selalu mengingatkanku pada masakan rumah.
"Hinata, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Tenten di sela-sela kesibukannya mengunyah makanan.
"Iya," jawabku singkat.
"Ehm, nanti saja. Habiskan dulu makan malammu," ujar Tenten urung bertanya.
Aku hanya menggumam, bingung melihat sikapnya. Sepertinya dia ingin sekali menanyakan banyak hal kepadaku, tapi tak bisa mengungkapkannya. Entah karena bingung, atau mungkin tak ingin aku tersinggung. Aku tersenyum tipis, lalu melanjutkan makan malamku hingga tandas tanpa sisa.
"Terima kasih, Tenten. Ini lezat sekali," ucapku sambil berdiri, lalu membereskan alat makanku dari meja.
"Aku senang kau suka," balas Tenten sambil tersenyum.
Setelah selesai mencuci piring bersama, aku dan Tenten menuju ke ruang santai. Kali ini aku terpaksa merelakan sofa panjang untuknya, karena sudah lama dia tidak bermalas-malasan di sana. Sementara aku duduk di sofa single sambil menikmati teh hijauku.
"Tadi kau bilang ingin menanyakan sesuatu," kataku membuka pembicaraan.
"Ah, iya! Aku lupa!" ucap Tenten sambil bangkit dan duduk lebih tegak. "Kalau boleh tahu, mengapa kau memutuskan untuk melakukannya?" tanya Tenten tanpa tedeng aling-aling.
"Tenten, memang ada banyak cara untuk menunjukkan perasaan kita pada orang yang kita cintai, tapi cara itu tidak sama untuk setiap orang," ujarku pelan. "Dan untuk Kamui-san...," ucapanku tercekat di tenggorokan.
"Kau pikir, melakukannya adalah satu-satunya cara?" tanya Tenten retoris.
Aku mengangguk pelan, lalu menggumam sambil menelah ludah. Perlahan kutundukkan kepalaku untuk menghindari tatapan mata coklat Tenten yang seolah ingin menelanjangiku.
"Dari mana kau belajar hal senaif itu?" Tenten bertanya lagi, dengan nada penuh ironi.
"Sakura," jawabku lirih, apa adanya.
"Apa?! Sakura yang mengatakannya?" Tenten begitu terkejut hingga dia nyaris berteriak.
"Tenten...," panggilku pelan, bermaksud agar dia juga memelankan suaranya.
Tenten mengusap keningnya sambil memijatnya pelan. Tampak poni pendeknya ikut bergerak-gerak. Kedua matanya terpejam erat, dan kudengar dia mendenguskan nafasnya dengan keras.
"Hhh! Cukup sudah! Lebih baik kau menjauh dari Sakura," ucap Tenten tiba-tiba.
"A-apa maksudmu, Tenten?" tanyaku bingung.
"Aku bilang, lebih baik kau menjauh dari gadis itu. Titik!" tandas Tenten, lebih tegas.
"Tapi dia sahabatku, Tenten. Lagipula kami bekerja di tempat yang sama," kilahku ingin menolak.
"Hinata, kumohon," pinta Tenten dengan intonasi datar yang tak bisa kubantah lagi.
"Ba-baiklah," ucapku pasrah.
"Hn, sudah malam. Tidurlah, kau pasti sangat lelah," ujar Tenten sambil berdiri, mengusap pundakku pelan, lalu melangkah menuju kamarnya sendiri.
Sedangkan aku, masih terduduk terpaku di sofa sambil berusaha mencerna permintaan tak masuk akal dari Tenten sejenak tadi. Tak ingin tenggelam dalam resah, aku beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka agar lebih segar. Setelah itu, aku langsung menuju ke kamarku. Kuhempaskan tubuhku yang terasa lunglai ke atas ranjang, lalu terpejam. Teringat kembali saat Kamui-san meminta bantuanku untuk membuat blog tadi.
Flashback on, Author's PoV
"Pertama, masukkan emailmu sebagai sarana konfirmasi," pinta Hinata begitu membuka laman pendaftaran blog.
"Email-ku sudah tidak aktif. Tolong sekalian kau buatkan email baru untukku!" sahut Gakupo sekenanya.
Hinata menghela nafas. "Baiklah, kau ingin membuat email di yahoo atau google?" tanya Hinata kemudian.
"Menurutmu lebih gampang di mana?" Gakupo menanyakan pendapat Hinata.
"Punyaku di yahoo," jawab Hinata singkat.
"Kalau begitu di yahoo saja," jawab Gakupo spontan.
Hinata segera membuka laman baru untuk mengakses yahoo. Kemudian dia langsung menekan tombol sign up. Sejenak kemudian terbuka sebuah laman berisi data kosong. Hinata memutar notebook milik Gakupo hingga layar monitor menghadap tepat pada pria di sampingnya.
"Silakan kau isi dulu semuanya," ujar Hinata sambil sedikit bergeser, lalu bersandar pada kursinya.
Tanpa bertanya apapun, Gakupo segera melakukan apa yang diminta Hinata. Dia mengisi data itu satu per satu. Saat sampai pada kolom tanggal lahir, Gakupo berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Hinata.
"Harus tanggal lahir asli?" tanya Gakupo tiba-tiba.
"Terserah kau, tapi jika bukan yang asli, lebih baik kau hafalkan," jawab Hinata ringan.
"Hn, kalau begitu, kau akan tahu tanggal lahirku," ujar Gakupo pelan.
"Apakah itu menjadi masalah besar untukmu?" Hinata balik bertanya, sedikit ketus.
"Sama sekali tidak," jawab Gakupo sambil tersenyum.
Akhirnya Gakupo mengetikkan tanggal lahir aslinya. Sekilas dia melirik ke arah Hinata saat melakukannya. Jengah, Hinata melihatnya sambil menyilangkan kedua tangan ke depan dada. Gakupo kembali tersenyum melihat sikap defensif gadis di sampingnya. Padahal jelas sekali manik pucatnya bergerak ke arah angka yang baru saja tertulis pada layar.
"Sudah aku isi semua datanya," ujar Gakupo kemudian.
"Klik sign up," pinta Hinata spontan.
"Sudah, tapi selalu kembali ke laman semula," sahut Gakupo dengan wajah bingung.
"Coba lagi," pinta Hinata sambil bergeser mendekat. Tanpa sengaja lengannya bersentuhan dengan lengan kekar Gakupo.
Gakupo menoleh, lalu tersenyum tipis. Hinata hanya diam sambil mengecek data Gakupo satu per satu. Password tidak diterima karena terlalu lemah. Hinata tersenyum tipis. Kemudian jemarinya menari di atas keyboard dengan lincah, lalu menekan tombol sign up dan berhasil.
"Wah..., apa yang kau ketik barusan?" tanya Gakupo penasaran.
"Deretan atas, dari angka 1 sampai 0. Nanti kau bisa menggantinya sendiri," jawab Hinata datar.
"Hn, terima kasih. Lalu sekarang kembali ke blog?" tanya Gakupo.
"Iya, masukkan alamat email barumu tadi," pinta Hinata sambil bergeser menjauh lagi.
Gakupo mengetikkan alamat email barunya pada kolom yang telah tersedia, lalu mengisi semua data yang diperlukan. Setelah selesai, dia menekan tombol sign up. Sejenak kemudian, muncul halaman dashboard blog yang akan ditulis.
"Setelah ini, bagaimana?" tanya Gakupo sambil memutar notebook-nya menghadap ke arah Hinata.
"Klik new blog, isikan judul blog, alamat website yang kau inginkan, lalu ketik deskripsi mengenai blog yang akan kau buat," jawab Hinata panjang lebar.
"Tunggu! Satu per satu!" tukas Gakupo sambil memutar kembali notebook-nya, lalu mulai mengisi data tentang blog barunya.
"Tuliskan judul blog yang akan kau buat di sini," ucap Hinata sambil menunjuk sebuah kolom kosong.
Gakupo mengarahkan kursor pada kolom yang ditunjuk oleh Hinata. Kemudian dia mengetikkan 'Savagethno Percussion' di sana. Setelah itu dia menoleh ke arah Hinata.
"Lalu?" tanya Gakupo mulai antusias.
"Ketikkan alamat URL yang kau inginkan di kolom ini," jawab Hinata sambil menunjuk kolom kosong di bawahnya.
Gakupo menoleh kembali, menatap layar monitor notebook-nya. Kemudian dia mengetikkan alamat web blog-nya. Saat Hinata melihat keterangan di bawahnya bahwa address available, gadis itu meliriknya sambil mengangguk pelan. Merasa sudah tidak ada yang kurang, Gakupo segera menekan tombol save.
"Sekarang kau bisa langsung menulis blog," ujar Hinata pelan. "Kau tinggal menge-klik tombol new post, dan..., nah, kau bisa langsung menulis pada kolom ini. Kau juga bisa meng-upload foto ke dalam blog yang kau tuliskan," jelas Hinata panjang lebar, sambil menunjukkan caranya kepada Gakupo.
"Apakah kita bisa melihat blog orang lain?" tanya Gakupo tiba-tiba.
"Tentu saja! Kau juga bisa saling berkomentar dengan temanmu, atau menambahkan mereka sebagai author pada blog-mu," jawab Hinata apa adanya.
"Hn, begitu rupanya," gumam Gakupo pelan.
Hinata hanya mengangguk pelan. Sementara Gakupo mulai mengutak-atik blog barunya. Jengah, pun lelah, Hinata kembali bersandar untuk meregangkan punggungnya. Dia memperhatikan Gakupo yang masih asyik dengan mainan barunya. Tak lama, pria itu menekan tombol sign out.
"Masih ada lagi?" tanya Hinata.
"Tidak ada," jawab Gakupo singkat, kemudian dia menutup semua laman dan memutuskan koneksi internet. "Terima kasih atas bantuanmu," ucap Gakupo sambil menoleh ke arah Hinata dengan tatapan lembut.
"Sama-sama," balas Hinata pelan.
"Kalau begitu, aku pulang dulu, ya?" pamit Gakupo tanpa basa-basi. "Ini untuk espresso-nya," tambahnya sambil meletakkan beberapa lembar uang kertas di atas meja.
"Kau harus membayarnya ke kasir," ujar Hinata pelan.
"Tolong kau saja! Aku terburu-buru, Savagethno ada latihan malam ini," tukas Gakupo sambil berdiri, lalu memasukkan notebooknya yang telah padam ke dalam tas.
Hinata hanya mengangguk, enggan memperpanjang pembicaraan. Melihat persetujuan tersirat pada wajah ayu gadis itu, Gakupo tersenyum tipis. Tak lama kemudian, pria itu keluar dari coffee shop dan meninggalkan Hinata yang masih berdiri terpaku menatap punggung pria jangkung itu.
Flashback off, back to Hinata's PoV
Penasaran dengan isi blog milik Kamui-san, kunyalakan laptopku. Setelah terkoneksi dengan jaringan internet, segera kuketik alamat website-nya dan menekan tombol enter. Beberapa detik kemudian, terbuka sebuah halaman penuh warna berisikan beberapa foto event kemarin malam.
Kubaca satu per satu setiap kata pada caption masing-masing foto. Terus kutarik halaman blog itu ke bawah hingga ke bagian komentar. Hanya ada satu nama di sana. Namun telah di-reply berulang kali oleh sang author. Rasa ingin tahu yang mengganggu, membuatku menekan tombol see more comments.
Entah itu sebuah 'perang komentar' atau lebih tepat dianggap sebagai sebuah percakapan ala 'chatroom'. Hanya ada nama si komentator, dan nama Gakupo Kamui sebagai sang author. Hatiku mendadak terasa sakit. Dengan tangan gemetar, kubuka profil si komentator.
Sejenak kemudian, tampak sebuah halaman berisi data profil lengkap dengan foto profil di sana. Seorang gadis berwajah manis bertubuh langsing dengan rambut panjang berwarna pink tergerai indah sedang memegang sebuah kamera. Seorang gadis yang masih kuliah di almamater kampusku, tapi pada fakultas dan program studi yang berbeda, bernama Megurine Luka.
_ T B C _
AN:/
Ah...finally updated...
Maaf, kemarin saya menuliskan 'Fin' di akhir cerita, tapi sebenarnya ini masih bersambung.
Sekali lagi maaf... *disekrup Mas Neji*
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca fanfic ini dan menyempatkan diri untuk meninggalkan jejak di kotak review.
Salam,
uL!eZha
