[8]
25. 21. 13. 1
dari SarahAmalia
(id: 5732935)
VY2 Yuuma, Megpoid Gumiya, Hibiki Lui
.
Hari itu, 10 November. Yuuma mengajakku pergi ke suatu tempat, saat itu pertama kalinya aku melihat senyuman sahabatku yang biasa bersikap dingin tersebut. Aku sendiri tidak mengerti kenapa ia begitu senang hari ini. Bahkan ini adalah pertama kalinya ia banyak berbicara.
"Hee? Jadi kau punya adik?" Aku mengerjapkan mataku saat Yuuma menceritakan sosok yang akan kami temui. Sosok yang menjadi alasan mengapa ia begitu senang hari ini.
"Iya." Dia mengangguk sambil tetap memandang lurus ke depan. "Lebih tepatnya adik sepupu .…"
"Ooh .…" Aku sedikit tersenyum mendengarnya.
Senyuman itu masih setia terukir di wajahnya yang mulai menghangat. Sebagai seorang sahabat aku pun turut merasa senang. Mungkin adik sepupunya tersebut yang ia maksud sebagai 'motivasinya untuk belajar'. Aku juga tidak tahu apa maksudnya dan setelah bertemu dengan orang yang dia maksud aku pun mengerti.
"Apa sekolah menyenangkan?"
"Iya, tentu saja. Di sana juga ada perpustakaan yang memiliki banyak sekali buku tentang dunia."
Aku tertawa kecil saat melihat cara bicara Yuuma yang tidak biasa. Ia bercerita pada adiknya dengan gestur tubuh yang aneh.
"Bagaimana dengan kakak Gumiya?" Anak itu menoleh padaku sambil tetap tersenyum.
"Eh? Aku?" Aku mendapati diriku menunjuk wajah sendiri, sedikit terkejut saat ia berbicara padaku. Padahal sejak tadi ia sibuk mengobrol dengan Yuuma.
Anak itu mengangguk, membuatku tanpa sadar kembali mengulum senyum lalu menjawab, "Yah … setidaknya kehidupanku lebih baik dibanding Yuuma. Aku ini terkenal lho!"
"Pembohong." Yuuma memukul lenganku dengan wajah kesal yang dibuat-buat. Dan percakapan antara kakak beradik itu kembali berlangsung.
Hibiki Lui, adik sepupu Yuuma. Ia baru saja pulang dari Tokyo, menjalani perawatan. Sejak kecil ia hanya bisa terbaring di atas kasur tanpa tahu seperti apa dunia luar. Untuk alasan itu Yuuma belajar dengan tekun, bukan hanya karena ia ingin menjadi dokter namun juga karena ia ingin berbagi ilmu pada Lui yang tak pernah sekolah.
Diabanding Yuuma, Lui tampak lebih antusias untuk belajar dan mengetahui seperti apa dunia luar yang sering ia lihat di layar televisi. Kadang-kadang, Yuuma membawa kamera ke rumah sakit, memutar beberapa rekaman yang memperlihatkan betapa indahnya Okinawa dan beberapa rekaman konyol yang dilakukan oleh teman-teman sekelasku.
Setiap hari aku dan Yuuma tak pernah absen mengunjungi rumah sakit untuk bertemu Lui. Dan Lui juga tak pernah absen untuk menyambut kami dengan serentetan pertanyaan seputar ilmu pengetahuan. Aku kagum pada kegigihan Lui yang meskipun tak sanggup untuk berdiri ia tetap tekun belajar melalui perantara kakaknya.
"Taaraaaa!"
"Waaah …! Terima kasih banyak kak Gumiya!"
Aku mengangguk tatkala tangan Lui meraih buku sejarah dunia dengan antusias. Yuuma juga merogoh sesuatu dari tasnya yang sudah kuketahui berisi komik yang diisi dengan pengetahuan tentang biologi dan matematika.
Lui menerima kedua hadiah itu dengan sama antusiasnya. Dan ia membaca buku-buku tersebut sambil sesekali bertanya pada kami saat ada sesuatu yang tak ia mengerti. Atau melontarkan tebak-tebakan seputar biologi pada kami seakan ingin mengetes sampai mana kemampuan kami
Beberapa kali aku terkagok-kagok menjawabnya karena ada beberapa materi yang aku lupakan sejak duduk di kelas dua SMA. Sedangkan di sebelahku Yuuma menjawab semua pertanyaan dengan lancar tanpa hambatan. Bahkan mereka saling melempar pertanyaan seperti pembawa acara quiz yang biasa aku tonton di salah satu channel televisi.
Hingga jam besuk habis pun aku masih tetap melihat Lui yang memeluk ketiga bukunya dengan sayang. Sejak saat itu, aku yang biasanya agak malas saat belajar menjadi termotivasi sama seperti Yuuma. Aku tak ingin kalah oleh Yuuma dalam quiz berikutnya. Bahkan teman-temanku menjadi sedikit heran melihat perubahan sikapku yang signifikan.
"Dua buah benda bermuatan listrik masing-masing muatannya adalah 10C dan 30C, pada jarak 6 meter. Besar gaya yang terjadi adalah…"
"Mudah! Itu kan pelajaran anak kelas 3 SMP!" aku menjentikkan jari, memamerkan cengiran khasku padanya. "Jawabannya adalah 75x109N (75x10 pangkat 9 Newton)!" seruku dengan semangat berapi-api, disambut dengan anggukan Lui yang tampak senang.
"Hoo … memang bagaimana cara penyelesaiannya senior?" Yuuma memandangku (sok) kagum.
"Tinggal pakai hukum Coulumb kok …." Aku menjawabnya dengan tatapan merendahkan, bangga karena bisa menjawab dengan benar.
"Kak Gumiya memang hebat‼" Lui bertepuk tangan dengan senyuman lebar. "Baiklah … pertanyaan berikutnya‼"
.
.
Suasana kelas ramai seperti biasanya ketika bel istirahat telah berdering. Aku membuka buku biologi, mempelajari kembali pelajaranku saat masih SMP untuk menghadapi quiz berikutnya dari Lui. Memikirkan hal itu aku tertawa ringan, rasanya seperti akan menghadapi ujian sekolah saja.
"Iya! Mulai tahun depan adikku akan duduk di kelas 3 SMP!"
"Oh … adikmu yang laki-laki itu kan?"
"Memangnya siapa lagi?"
Mendengar percakapan anak-anak perempuan di kelasku aku jadi sedikit kepikiran. Lui itu… seharusnya saat ini kelas berapa ya? Kalau kulihat dari tubuhnya yang mungill dan wajahnya yang mirip seperti anak kecil seharusnya ia masih kelas 2 SMP. Tapi kalau dia dapat dengan mudah mengerti pelajaran yang berada satu tingkat di atasnya itu berarti dia jenius dong?
"Lui?" Aku mengangguk saat Yuuma mengulangi nama Lui. "Memangnya kenapa dia?"
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya-tanya. Saat ini dia seharusnya sudah kelas berapa …."
"Ooh .…"
Yuuma berjalan ke arah drink machine dan membeli sebuah kopi kalengan. Aku mengikutinya namun memilih minuman yang berbeda.
"Kelas berapa ya .…" Yuuma membuka kopinya lalu meminumnya. "Kalau tidak salah tahun ini dia berumur lima belas tahun."
"Berarti satu tingkat di bawah kita dong?"
"Iya ..."
Aku manggut-manggut, namun aku segera menggeleng. "Berarti aku salah dong?! Harusnya aku belikan dia buku anak kelas 1 SMA, bukannya anak SMP‼"
Yuuma tertawa lalu menepuk bahuku ringan. "Nggak apa-apa, lagi pula jam belajar dia kan tidak normal seperti kita."
Mendapati tawa Yuuma yang seperti itu membuatku merasa sedikit terkejut. Sepertinya ia menjadi sedikit terbawa kebiasaannya saat bertemu Lui. Baguslah … kurasa.
.
.
.
.
3 Desember, sudah hampir satu minggu aku tidak melihat Yuuma di mana-mana. Dan sudah tiga hari pula aku tidak menjenguk Lui karena kudengar ia harus beristirahat total akibat kondisinya yang menurun sejak empat hari lalu. Entah mengapa aku merasa sepi menjalani semuanya. Tak ada Yuuma rasanya aneh.
Aku sudah beberapa kali pergi ke rumahnya, namun tak ada orang sama sekali di sana dan aku selalu pulang tanpa mengetahui apapun.
"Nggak ada yang tahu dia kemana. Nomornya juga tidak bisa dihubungi."
"Terima kasih .…"
Aku menghela napas. Sudah lima belas hari tak ada kabar dari Yuuma, itu artinya sudah dua minggu ia alfa dari sekolah. Orang-orang yang kupikir cukup dekat dengan Yuuma —selain diriku tentu saja—selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Tidak tahu .…
"Sebenarnya kemana sih anak itu?!"
Mendengar omelanku Lui tertawa pelan. Tawanya tak lagi sama seperti saat terakhir kali aku menjenguknya.
"Mungkin kak Yuuma sedang ada masalah .…" katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku baru yang kubeli sebagai hadiah pertama karena dapat bertemu dengannya lagi. "Dia kan orangnya begitu. Sok sibuk."
Aku tertawa kecil mendengar sindiran Lui. "Mungkin tak lama lagi dia akan pulang."
Benar saja, tiga hari kemudian Yuuma kembali masuk dengan aura yang sedikit lebih suram. Bahkan dia hanya tersenyum tipis saat aku menanyakan keadaannya. Teman-teman juga menjauhinya entah karena alasan apa. Tak hanya itu, bahkan guru-guru seakan enggan untuk berbicara dengannya lagi.
Aku tidak mengerti sekaligus tidak percaya. Yuuma sendiri hanya diam tanpa melakukan apapun. Ia bahkan berhenti megunjungi Lui. Jelas saja aku heran, namun sayangnya tiap kali aku bertanya ada apa Yuuma selalu menggeleng dengan disertai senyum tipis.
"Masa sih?" Lui menurunkan bukunya, menatapku dengan wajah herannya yang lucu.
"Iya," aku menggangguk, "dia itu jadi berubah 180 derajat!"
Meletakkan jari telunjuknya di dagu, Lui bergumam,"Kenapa ya… kak Yuuma nggak biasanya begini."
"Apa dia ada masalah keluarga?"
Lui menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaanku. "Setahuku tidak ada masalah," katanya. "Bagaimana dengannya di sekolah?"
"Semuanya jadi takut," kataku sambil menghela napas. "Soalnya aura dia suram banget, seakan-akan dia bisa saja membunuh siapapun kapan saja."
"Oh .…"
Hari-hari berikutnya masih saja sama seperti sebelumnya. Yuuma semakin menjauh dari yang lainnya, termaksud diriku yang notabene adalah sahabatnya. Dia benar-benar berubah. Padahal, meskipun sebelum Lui pulang ke Okinawa, Yuuma tak pernah bersikap demikian — sedingin apapun dia pada teman-temannya.
Tapi kali ini benar-benar berbeda. Dia yang biasanya duduk di bangku kedua dari depan kini pindah ke bangku paling pojok belakang, tempat yang penerangannya paling minim. Dia juga sering kali melamun dan terkadang berbicara sendiri dengan bisikan pelan. Wajar saja yang lain jadi takut padanya.
"Sudah tiga minggu kau tidak menjenguk Lui!" Aku melipat kedua tanganku, berbicara padanya dengan nada marah yang dibuat-buat. "Hari ini kau harus menjenguknya! Kau kan saudaranya yang paling dekat! Lui menunggumu tahu, dia khawatir."
Yuuma menatapku tanpa mengangkat kepalanya yang tertunduk. Baru kusadari rambutnya yang semakin memanjang, benar-benar bukan tipikal Yuuma yang biasa rapi. Tatapannya kosong, seperti hantu. Dan itu membuat tubuhku bergidik. Namun aku melihat kepalanya mengangguk pelan dan dia pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.
Yuuma kembali menjenguk Lui semenjak aku memarahinya. Tapi ia lebih sering terdiam, hanya sesekali ia menimpali percakapan kami. Itu pun hanya sekedar kata 'iya' ataupun 'tidak'. Seterusnya ia hanya melamun.
"Kakak?" Lui memanggil, menggenggam tangan Yuuma dengan ekspresi khawatir. "Ada apa?"
Yuuma diam, ia hanya menatap Lui dalam waktu yang cukup lama. Lalu tersenyum sedih dan menggeleng. "Tidak."
"Kau kenapa sih?"
"Tidak." Yuuma melepas genggaman tangan Lui lalu berdiri sambil meraih tas sekolahnya. "Aku harus segera pulang."
Aku dan Lui berpandangan. Belum sempat Lui mengatakan apapun Yuuma sudah pergi lebih dulu, keluar dari ruangan dengan langkah lesu.
Keesokan harinya Yuuma datang ke sekolah dengan beberapa lebam di tangan dan wajahnya, seperti habis berkelahi. Aku tak berani mendekatinya karena saat itu ia seperti tengah marah besar. Jadi aku hanya memerhatikannya masuk dan menaruh tasnya lalu duduk dan melamun.
"Ayah butuh bantuanku hari ini, kau saja yang menemui Lui. Sampaikan salamku."
"Tidak bisa. Ibu membutuhkanku."
"Maaf, kalau aku tak segera pulang ayah bisa marah."
Aku hanya bisa mengangguk dan berkata 'tidak apa-apa' setiap harinya ketika ia memberikan berbagai macam alasan tiap kali aku mengajaknya pergi. Entah itu menjenguk Lui ataupun sekedar refreshing. Aku menghela napas, kurebahkan tubuhku di atas kasur. Aku baru saja pulang dari rumah sakit seperti biasanya.
Sambil menatap langit-langit aku memikirkan keadaan Yuuma. Ia makin sering bersikap aneh. Tiap kali berbicara pandangannya tak pernah fokus dan ia juga jadi lebih mudah panik dibanding biasanya. Ada apa ya …?
Ping.
Aku segera meraih ponselku ketika mendengar bunyi dari benda kotak itu. Sebuah pesan dari nomor yang tak kukenal terbuka.
Rm hk skarg tlon g . – ma
Aku mengerutkan kening bingung. Pesan tidak jelas itu kutatap sambil mencoba memahami artinya. Tak ada nama pengirim, hanya ada tanda garis dan kata ma yang kuyakini seharusnya merupakan nama sang pengirim. Mungkinkah orang itu menuliskan pesan ini dengan terburu-buru? Tapi kenapa?
"Ah, sudahlah. Iseng mungkin." Aku mematikan ponsel lalu berguling menghadap ke arah pintu kamarku dan mulai tertidur.
.
.
.
Keesokannya aku hanya dapat terdiam diguyur hujan. Kepalaku menunduk karena telah mengetahui kebenarannya. Sirene mobil polisi terdengar semakin menjauh. Aku menatap sebuah rumah yang adalah rumah sahabatku, Yuuma. Tak ada orang lagi di rumah ini, semuanya sudah pergi.
Aku baru tahu, ternyata akhir-akhir ini terjadi pertikaian di dalam keluarganya. Kedua orang tua Yuuma menjadi sering bertengkar. Alasannya adalah karena ayah Yuuma yang ketahuan sering kali mabuk-mabukkan dan juga berjudi. Pertengkaran itu semakin memanas tatkala ibu Yuuma tahu suaminya menjadikan dirinya dan juga anaknya sebagai bahan taruhan. Keduanya saling berteriak, saling mencaci, bahkan ayahnya kerap kali melakukan tindak kekerasan.
Berdasarkan kabar yang kudengar. Yuuma selalu berusaha melerai mereka, namun sayangnya justru ia yang terkena pukulan ayahnya. Jadi itu sebabnya ia seringkali datang ke sekolah dengan tubuh penuh luka .… pikirku kala itu.
Meremas setangkai bunga melati di tanganku, aku menunduk.
Seandainya aku menyadarinya lebih cepat. Seandainya aku tidak membiarkan dia pulang saat itu. Seandainya aku dapat menangkap pesan aneh yang datang padaku hari itu.
.
.
.
.
.
Yuuma tidak perlu mati.
.
[Korban ditemukan tewas di kamarnya. Diduga bunuh diri akibat depresi tentang keadaan keluarganya. Korban menggantung dirinya sendiri dan meninggalkan pesan ini.]
.
.
.
.
.
Lui menangis sambil memelukku setelah aku mengabarkan semuanya. Suaranya yang lemah memanggil nama Yuuma. Yang bisa kulakukan saat itu hanya membalas pelukannya, mengusap punggungnya untuk membuatnya tenang. Dan memandang langit-langit rumah sakit dengan pandangan kosong.
Aku masih tak percaya hingga saat ini. Aku tak percaya saat melewati rumahnya yang telah diberi garis polisi. Aku masih tak percaya saat mendengar kabar tewasnya Yuuma dari para tetangga. Aku masih tak percaya saat berlari secepat mungkin untuk mengantar kepergiannya.
Apa benar itu Yuuma? Apa benar seseorang yang telah menutup matanya di dalam peti itu adalah Yuuma? Sahabatku, teman terbaikku. Yuuma, benarkah dia yang telah meninggalkan kami?
Berkali-kali aku mempertanyakan hal itu meski aku tahu jawaban yang aku dapat akan sangat mengecewakan. Tetapi, aku hanya … masih tidak bisa menerimanya.
Teman-teman di sekolah juga berduka, para guru menyayangkan kepergiannya yang tiba-tiba sebagai murid berprestasi. Teman segengnya menatapku dengan pandangan tidak percaya — sama seperti diriku sebelumnya.
Aku menghela napas, bayangan tentang hari-hari yang kuhabiskan bersama Yuuma muncul dalam benakku. Di atap sekolah, aku menatap sehelai kertas putih yang telah kuremas hingga tak berbentuk. Surat terakhir Yuuma. Untuk kedua orang tuanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kuharap Ayah dan Ibu bahagia —Yuuma
