Saya kembali! Sempat lama publish karena sibuk dengan tugas. Pertama, balas review!


Kuro 'Kaito' Neko:

Setuju sama Koyuki! XD

Eve dihamili Akai?! OAO*plak

Periksa aja di chapter ini! :3

Saya juga suka senyum sendiri pas baca bagian itu! :3

Maaf, lama update'nya. m(_ _)m


Chalice07:

Seandainya saya ada di sana, saya pasti udah publish foto Len kayak si Gakupo. XD

Len emang rada kejam sama Rinto. -.-a

Siapa 'ya? Periksa aja di chapter ini! X3

Makasih pujiannya! Maaf, lama update. -.-'


nectarinia:

Itu bukan Imitation Black, tapi yang The Lost Memory. :3

Boleh 'tuh! Ntar saya rubah sumarry'nya. :D

Oke, kali ini POV'nya bukan Kaito 'kok.

Oh chanel itu. Emang 'sih… Sayang, cuma fic. ( ._.)


Sekarang, kita mulai aja ceritanya!


Happy Reading!


Normal P.O.V

"Siapa kau?" tanya Kaito datar.

Orang yang berdiri di hadapan mereka hanya tersenyum miring dengan tatapan meremehkan. Kaito, Gakupo dan Kiyoteru mulai bersiap untuk menyerang jika orang di hadapan mereka mulai menyerang.

"Aku Yokune Ruko," jawab orang di hadapan mereka sembari berkacak pinggang.

"Kau pasti penyihir itu 'kan?" tanya Kiyoteru pada orang di hadapannya itu.

"Ya, kau benar," jawabnya tanpa merubah posisinya.

"Kau wanita atau pria?" tanya Gakupo dengan konyolnya.

Pertanyaan Gakupo berhasil membuat semua yang berada di sana sweatdrop, termasuk Ruko. Padahal Gakupo mengatakan itu dengan wajah serius.

"Kau menghinaku 'ya?" tanya Ruko dengan wajah datar.

"Menghina? Tidak. Aku hanya bertanya saja," jawab Gakupo masih dengan wajah seriusnya.

"Psst… Kaito," panggil Len pada Kaito.

"Apa?" tanya Kaito balik pada Len.

"Gakupo boleh kubantai 'gak?" tanya Len dengan wajah kesal yang mendalam.

"Boleh, setelah misi ini selesai," jawab Kaito. Len mengangguk mengerti.

"Aku 90% laki-laki dan 10% perempuan," jawab Ruko dengan senyum miring.

Suasana hening mendadak. Wajah Gakupo perlahan memucat. Kaito, Kiyoteru dan Len hanya bisa melihat Gakupo, menunggu reaksi dari Gakupo.

"Kau transgender yang gagal 'ya?" tanya Gakupo dengan tampang horor.

Suasana hening kembali. Entah apa yang dipikirkan oleh Gakupo, hingga perkataan lancang itu keluar dari mulutnya.

"BWAHAHAHAHAHA~~~"

Tawa Ruko terdengar dengan kerasnya setelah pertanyaan Gakupo terlontar. Kini, perhatian teralih pada Ruko yang mendadak tertawa dengan kerasnya. Harusnya, seseorang akan marah jika diberi pertanyaan seperti itu 'kan? Apa Penyihir paling hebat ini gila 'ya? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

"Dia gila 'ya?" gumam Len sweatdrop.

Tak lama, tawa Ruko berhenti dan berganti dengan sebuah seringai lebar layaknya seekor binatang buas yang menemukan mangsanya.

"Len sembunyi!" pekik Kiyoteru pada Len. Karena Len satu-satunya yang tak memiliki perlindungan di antara mereka berempat.

Len langsung lari menjauh dan berlindung ke balik sebuah pohon besar.

Terlihat, sebuah pedang besar muncul dari telapak tangan Ruko. Tapi, hal ini tak mengejutkan, mengingat Ruko adalah Penyihir yang hebat.

Ruko bergerak dengan cepatnya ke arah Kaito, lalu menebasnya. Kaito sempat bertahan dengan pedang yang dipinjamnya dari Gakupo. Sayang, pedang yang digunakannya untuk bertahan patah dan hancur menjadi debu ketika bersentuhan dengan pedang milik Ruko.

Kiyoteru dan Gakupo yang melihatnya langsung berlari ke arah Kaito dan berusaha menyelamatkannya. Tapi, terlambat. Ruko sudah lebih dulu menebas Kaito dengan pedangnya.

Ruko kembali menoleh ke belakang, di mana Kiyoteru dan Gakupo berada. Keduanya langsung mengeluarkan keringat dingin saat melihat tatapan Ruko yang dilengkapi dengan seringai yang menyeramkan.

Ruko kembali melesat dengan cepatnya hingga hilang dari pandangan. Kiyoteru dan Gakupo berusaha mencari keberadaan Ruko dan berusaha tetap waspada. Hingga-

CRASH

-Ruko menebas Kiyoteru dari belakang.

Gakupo semakin panik saat melihat Kiyoteru yang terjatuh dengan luka tebasan di punggung. Ruko kembali menghilang dari pandangan.

"Kuso! Kerjaannya cuma ngilang!" runtuk Gakupo dengan keringat dingin yang mulai mengalir dari pelipisnya.

Gakupo tetap siaga dan mencari Ruko ke segala arah.

"Gakupo! Belakangmu!" pekik Len dari balik pohon.

Gakupo menoleh ke belakangnya. Namun, karena tak sempat menahan serangan Ruko, Gakupo tertebas pada bagian dada. Len yang melihatnya terlihat shock. Wajahnya memucat.

"Minna…" lirih Len dengan matanya yang terbelalak kaget.

Perlahan, tubuhnya jatuh ke tanah Karena seluruh tubuhnya terasa lemas. Ketiga temannya, tumbang. Pikiran Len kacau.


Len P.O.V

Apa yang harus kulakukan? Aku bisa mati kalau tak melawan. Tapi, aku tak bisa menggunakan senjata. Aku tak bisa melindungi mereka. Apa? Apa? Kepalaku sakit!

Kepalaku… rasanya panas… Perasaan apa ini? Rasanya, sakit!

'Hei…'

Aku mendengar seseorang memanggilku… Aku ingat, ini suara gadis yang ada di mimpiku saat itu. Salah satu Bidadari yang harus kami selamatkan.

'Perlu bantuan…?'

Suara itu… menawarkan bantuan…?

"Ya… Aku perlu bantuan… Aku ingin menolong mereka… Aku ingin jadi kuat…" gumamku pelan.

Aku tahu, ini bukan saat yang tepat untuk santai. Karena Ruko sedang berjalan mendekatiku. Tapi, aku tak bisa melawan jika tak dibantu. Aku memang lemah…

'Tutup matamu… Buka telapak tangan sebelah kananmu… Bayangkan sebuah senjata dalam pikiranmu… Aku akan coba merealisasikan senjata itu…'

Aku mencoba apa yang dikatakan olehnya. Sebuah senjata. Hanya ada satu senjata yang sedari dulu ingin aku miliki…

Aku membuka kedua mataku. Dan aku mendapati benda itu berada di tangan kananku. Benda besar dengan mata pisau yang besar, mengkilat dan tajam.

Sabit.

Sebuah sabit sudah berada di tanganku. Tapi, bagaimana cara menggunakannya? Aku tak tahu. Bagaimana ini?

'Ada masalah lagi?'

"Iya…" Aku menjawabnya pelan.

'Pejamkan matamu…'

Aku pun mulai memejamkan mataku sesuai perintah Bidadari tersebut.


Normal P.O.V

Len memejamkan kedua matanya. Sedangkan, Ruko terus berjalan mendekat ke arah Len dengan pandangan membunuh.

"Kena kau, Kelinci Putih…" ucap Ruko dengan seringai lebar di bibirnya.

Perlahan, terlihat sebuah bayangan tipis seorang gadis di belakang Len. Gadis itu terlihat memiliki sayap. Ia sedang menutupi kedua mata Len dengan kedua tangannya. Bibirnya seakan membacakan sebuah mantra.

Ruko terdiam di tempatnya setelah melihat bayangan itu. Seringainya hilang dari bibirnya, dan tergantikan dengan pandangan kaget.

Gadis itu mulai menarik tangannya dari kedua mata Len. Dan bayangan itu pun perlahan memudar, hingga hilang disapu angin yang berhembus.

Ruko tak tahu apa yang terjadi dengan pemuda di hadapannya. Ia tak tahu apa yang dilakukan Bidadari itu dengan pemuda itu. Tapi, ia tahu, kalau ia harus siaga.

Perlahan, kedua mata Len mulai terbuka. Yang terlihat bukanlah iris aquamarine milik Len. Tapi, sebuah iris berwarna merah darahlah yang muncul. Ruko terdiam sesaat setelah melihat iris dari pemuda itu.

'Ini… Teknik bertarung milik Yellow Angel…' batin Ruko dengan pandangan serius pada Len.

Len mulai bangkit dari posisinya sembari mengangkat sabit berwarna merah kehitaman yang berada di tangannya. Ruko semakin waspada.

Perlahan, Len mulai bergerak dengan lambat. Tapi, gerakkan itulah yang justru diwaspadai oleh Ruko. Karena Ruko sudah tahu, kalau teknik bertarung milik Yellow Angel adalah teknik yang paling sulit untuk dikalahkan ataupun ditebak.

Len yang awalnya bergerak dengan lambat, sekarang sudah menghilang dari hadapan Ruko. Ruko semakin waspada. Seharusnya, ia bisa membaca gerakkan lawan, tapi sekarang situasi berbeda. Gerakkan Len lebih cepat dari gerakkan yang dilakukan Ruko sebelumnya.

'Tch… Kenapa harus Yellow Angel yang membantunya? Teknik bertarung ini lebih sulit untuk dipatahkan dibandingkan dengan teknik Red Angel atau Pink Angel,' batin Ruko dengan gelisah.

CRASH

Ruko terkesiap. Punggungnya terkena tebasan sabit. Ruko mulai khawatir. Pergerakkan Len semakin cepat dari sebelumnya. Bahkan, Ruko sama sekali tak bisa melihat pergerakkannya yang membawa senjata besar itu.

'Kenapa tak terlihat? Padahal, dia membawa sabit yang besar?' batinnya dengan panik.

CRASH


Len P.O.V

Aku di mana? Kenapa semuanya gelap? Apa yang terjadi?

'Hei.'

Aku menoleh ke belakang. Dan mendapati seorang gadis berambut honeyblonde sebahu dengan iris aquamarine, pita putih besar di atas kepala, gaun putih pendek dan sepasang sayap di punggungnya. Siapa dia?

'Kaget 'ya?'

Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya. Kemudian, ia terkekeh pelan.

"Apa yang terjadi? Di mana ini? Bagaimana keadaan teman-temanku?" tanyaku beruntun.

'Sabar. Ini ruang dimensi. Temanmu akan selamat 'kok.'

"Apa yang terjadi? Bagaimana dengan Penyihir itu?" tanyaku lagi. Ia tersenyum sesaat.

'Tubuhmu sedang menghadapinya. Tapi, aku perlu bicara denganmu. Jadi, kekuatanku yang menghadapi Penyihir itu dengan tubuhmu sebagai perantara.'

"Memang, apa yang ingin kau bicarakan?"

'Kau tahu cara menyelamatkan kami? Kami disegel oleh kekuatan sihir 'loh!'

"Ehm… Mungkin dengan ciuman?"

'Hehehe~ Coba saja nanti. Oh ya, namamu siapa?'

"Aku… Len Kagamine."

'Uwaaa~ Putra Leon-san keren sekali!~'

Bidadari itu, berkata demikian sembari memelukku dengan erat. Kurasa, wajahku merah sekarang.

"A-arigatou…"

'Kenapa berterima kasih?'

"Uhh… Pujianmu itu…"

'Itu 'kan kenyataan. Memang, belum pernah ada yang bilang begitu padamu 'ya?'

"Belum."

'Mereka pasti tak bisa membedakan wajah orang 'ya?'

Entah, aku harus berkata apa. Wajahnya manis sekali. Oh ya, aku belum tahu namanya.

"Namamu siapa?"

'Aku? Yellow Angel.'

"Maksudnya, nama asli. Bukan julukan."

'Himitsu!~'

"Kok' gitu?"

'Nanti juga tahu 'kok! Kan sebentar lagi menang!'

"Apanya yang menang?"

'Kau. Kau sudah mengalahkan Yokune-san. Tapi, sekarang kau pingsan.'

"Aku ingin kembali ke tubuhku, bisa?"

'Tentu. Tutup saja matamu.'

Aku mencoba apa yang diperintahkannya. Aku menutup kedua mataku dengan erat.


Normal P.O.V

Kedua mata Len mulai terbuka. Len mengubah posisinya yang tadi tertidur menjadi duduk. Ia mulai mengedarkan pandangan ke segala arah. Dan ia mendapati ketiga sahabatnya masih pingsan di tanah. Dan sebuah tubuh yang terbelah dua…

Len menghampiri tubuh yang terbelah dua itu dengan sedikit berlari. Kemudian mengamatinya lekat-lekat. Perlahan, raut wajahnya berubah pucat.

"Ini… Perbuatanku…?" gumamnya.

Len menggeleng pelan. Ia tahu, perbuatannya adalah benar. Jika si Penyihir tak mati di tangannya. Siapa yang bisa mengalahkannya? Seharusnya, ia berterima kasih pada Yellow Angel 'kan?

Len mulai beranjak dari posisinya. Ia berjalan menuju ketiga temannya yang masih pingsan. Pertama, Kiyoteru.

"Kiyo-sensei~" panggil Len sembari menepuk pelan wajah Kiyoteru.

Karena tak kunjung siuman. Len memiliki inisiatif untuk membangunkan ketiga temannya tanpa repot dalam sekali trik. Len berdehem sesaat, hingga mulutnya terbuka lebar.

"ADA KEPALA SEKOLAH SEKSI MEMBAWA ES KRIM SATU TRUK!~~"

Len memekik dengan nyaringnya. Entah karena apa, ketiga temannya sadar dari pingsannya.

"Kepala Sekolah…?"

"Cewek Seksi…"

"Aisu…"

Yah, begitulah gumamman dari ketiga teman Len yang sadar itu. Len sweatdrop sebentar sebelum akhirnya berjalan menghampiri ketiganya.

"Kalian baik-baik saja 'kan?" tanya Len datar.

"Iya. Entah karena apa, luka kami hilang dalam sekejap!" ucap Gakupo dengan riangnya.

"Bagaimana dengan Penyihir itu?" tanya Kiyoteru.

"Tuh, kebelah dua," jawab Kaito menunjuk tubuh si Penyihir yang sudah terbelah.

"Kok' gak ada darahnya 'ya?" tanya Gakupo dengan tampang sok polos.

"Mungkin karena tubuhnya sudah terlalu tua hingga darahnya sudah hilang," ucap Len ngasal abis.

"Dari pada ngobrol, mending lanjutin perjalanan. Pasti, penghalang itu sudah hilang," saran Kaito.

Ketiganya menuruti saran Kaito. Mereka berjalan mendekati kubah sulur itu. Penghalang itu memang sudah hilang. Tapi, sulur itu belum hilang.

Gakupo mencoba menebas sulur mawar itu. Tapi, berapa kali pun dicoba, sulur itu tumbuh kembali.

"Tak bisa," ucap Gakupo dengan serius, tumben banget.

"Begini saja. Satu orang menebas dengan cepat hingga tembus. Lalu, satu orang masuk ke dalam. Hingga satu orang terakhir, yang di dalam akan menebas sulur itu, lalu orang terakhir yang berada di luar masuk. Bagaimana? Kurasa, sulur ini akan benar-benar hilang jika seluruh Angel sudah bangkit," pendapat Kiyoteru.

"Tumben kau banyak bicara," komentar Gakupo dengan senyum jahil. Kiyoteru hanya memberinya deathglare.

"Bagus juga. Siapa yang akan menebas duluan?" tanya Kaito.

"Aku!~ Aku mau coba~" ucap Len semangat.

"Memang kau bisa pakai senjata? Punya saja tidak," ledek Gakupo dengan senyum meremehkan. Len tersenyum miring, kemudian berjalan ke tempat ia bertempur dengan Penyihir tadi, dan mengambil sabit yang tadi ditinggalkannya. Untung, belum hilang.

"Ini senjataku~" ucap Len riang sembari menunjukkan sabit merah kehitaman dengan ukuran besar pada yang lainnya.

"Astaga…" komentar Kaito sembari melihat sabit itu.

"Besar…" komentar Kiyoteru dengan wajah kagum.

"Dapat dari mana sabit sebesar itu?! Seingatku, kau tak membawa senjata!" ucap Gakupo sembari menunjuk sabit besar itu dengan gaya konyol.

"Hehehe~ Ini hadiah dari Yellow Angel~" ucap Len dengan wajah manis.

"Jangan-jangan… kau yang menebas Penyihir itu 'ya?" tebak Kaito.

"Penyihir Gak Jelas itu?" tanya Gakupo.

"Begitulah!~ Ayo, mulai. Kalian bersiap 'ya!" ucap Len yang bersiap untuk menebas dengan sabitnya.

WUUSH

Kubah sulur terbelah dua. Kaito, Gakupo dan Kiyoteru menatapnya dengan tidak percaya sebelum berlari masuk ke dalam kubah.

"Len, tunggu di sana!" ucap Kaito sebelum sulur mulai membentuk kubah kembali.

Len hanya membalasnya dengan senyum tipis. Ia menunggu terbelahnya kubah sembari memainkan sabit besar yang sudah lama ia inginkan.

WUUUSH

"Len, cepat masuk!" teriak Kiyoteru setelah terbuka sebuah celah.

Len segera berlari melewati celah yang dibuat. Hingga, celah itu tertutup dengan rapat setelah Len berhasil masuk beserta sabit besarnya.

Len yang baru masuk ke dalam kubah, mulai mengedarkan pandangan ke segala arah. Aneh, suasana di dalam kubah terang benderang, sedangkan tak ada celah untuk sinar matahari masuk.

"Satu tahap lagi," ucap Kaito.

"Di mana mereka dikurung?" tanya Gakupo.

"Entahlah, kita cari saja di seluruh tempat ini," jawab Kiyoteru sembari berjalan menjauhi ketiga temannya.

Kaito berjalan menuju paviliun dengan cat putih yang bagian tiangnya dililit oleh sulur mawar. Paviliun itu terlihat bagus dan terawat. Kaito juga menemukan sebuah harpa di paviliun itu. Sebuah harpa yang terbuat dari emas dan terlihat mengkilat.

Gakupo melihat ke semak belukar yang ditumbuhi mawar berbagai warna. Entah insting fotografer atau apa, ia mulai mengeluarkan kamera digitalnya dan memotret mawar-mawar itu.

Kiyoteru berjalan ke arah sebuah pohon yang terlihat paling besar. Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan menemukan sebuah rumah pohon. Karena penasaran, ia naik ke rumah pohon tersebut, dan ia tahu kalau rumah pohon itu adalah kamar tidur para Bidadari karena terdapat kasur.

Len berjalan menghampiri semak mawar yang mengelilingi sebuah danau. Ia menerobos semak mawar dan tiba di tepi danau. Len memainkan air di danau, sebelum tangannya mengenai sesuatu yang lembut. Len mengangkat benda itu, dan terlihat seperti helaian rambut berwarna… honeyblonde…?

"Minna!"

Mendengar pekikkan Len, Kaito, Kiyoteru dan Gakupo segera menghampiri Len yang berada di tepi danau. Kaito berdiri di sebelah Len dengan pandangan heran.

"Ada apa?" tanya Kaito. Kiyoteru dan Gakupo melihat ke arah Len meminta jawaban.

"Ini… rambut 'kan…?" tanya Len sembari menunjukkan benda berwarna honeyblonde di tangannya.

Ketiganya berjongkok dan memperhatikan benda di tangan Len dengan serius.

"Berarti, mereka ada di sini," ucap Kaito diikuti anggukkan setuju dari Kiyoteru.

"Len, yang ini punyamu," ucap Kaito seraya menepuk pundak Len.

"Eh?" Len hanya memandang heran ke arah Kaito.

"Agar lebih mudah, sebaiknya kita menyelam untuk mencari yang mana punya kita," ucap Kiyoteru.

Ketiganya mengangguk setuju. Lalu, mereka berempat langsung melepas atasan dan sepatu mereka, dan menaruhnya di paviliun. Lalu langsung melompat ke danau.

"Dingin!" pekik Len setelah masuk dalam air.

"Apa boleh buat," balas Gakupo yang langsung mengambil nafas dan menyelam untuk mencari 'miliknya'.


Kaito berenang mengitari tepi danau. Ia sempat melihat Bidadari berambut honeyblonde, tapi dilewatinya karena ia tahu, kalau yang itu punya Len. Jadi, Kaito melewatinya.

Kaito berhenti tepat di hadapan Bidadari berambut teal panjang dengan gaun putih dan sepasang sayap.

'Pasti ini dia. Dia mirip dengan Mikuo,' batin Kaito yang kemudian naik ke permukaan untuk mengambil nafas.


Kiyoteru mengitari pinggir danau, sesekali ia naik untuk mengambil nafas. Mungkin, karena tak terbiasa menyelam, jadi nafas yang diambilnya sedikit.

Mata Kiyoteru menangkap sesosok gadis berambut brunette yang dililit dahan. Dan Kiyoteru pun menghentikan gerakannya.

'Pasti yang ini!' pikirnya, kemudian kembali ke permukaan karena nafasnya mulai habis.


Gakupo ikut mengitari pinggir danau sembari berenang dengan cepatnya. Ia sempat melirik ke arah Kaito dan Kiyoteru yang sudah menemukan 'milik' mereka dan kembali ke permukaan. Gakupo hanya bisa merutuk.

'Pasti Bidadarinya jelek! Perangainya saja buruk! Tapi, punya Kaito berambut teal panjang, punya Kiyoteru berambut brunette, punya Len yang honeyblonde. Aku yang mana 'ya? Apa mukanya kayak nenek sihir?' pikir Gakupo penasaran dengan sosok Bidadari tersebut.

Sesosok gadis berhasil memecah lamunan Gakupo. Dengan cepat, Gakupo langsung menghampirinya. Dan terlihatlah sesosok gadis berambut merah muda sepunggung dengan gaun putih yang minim dan sepasang sayap. Sepertinya, Gakupo langsung kembali ke permukaan karena nafasnya langsung habis akibat membuka mulutnya karena kaget akan Bidadari 'miliknya' yang jauh dari perkiraan.


Len langsung menyelam ke tempat ia menemukan rambut tadi. Dan sekarang, Len sudah ada di hadapan Bidadari yang memeluknya secara tak langsung tadi.

'Cantik…' pikirnya saat melihat langsung wajah Bidadari yang ditemuinya.

Len langsung kembali ke permukaan karena ia mengalami nosebleed setelah memandangi Bidadari tersebut dalam waktu cukup lama.

Len masih menutupi hidungnya yang masih mengeluarkan darah. Di tepi, terlihat Kaito, Gakupo dan Kiyoteru yang sedang berunding.

"Ngerundingin apa?" tanya Len pada ketiganya. Ketiganya menoleh serempak ke arah Len.

"Len, kau tahu cara membangkitkan mereka?" tanya Kaito serius. Len menggeleng.

"Kau 'kan yang terakhir menghubungi Bidadari itu…" ucap Gakupo sembari menyipitkan kedua matanya ke arah Len.

"Hah… Aku juga menanyakan padanya tadi, tapi ia tak mau memberi tahuku!" ucap Len diikuti helaan nafas.

"Ada yang punya usul?" tanya Kiyoteru.

"Mungkin kisu?" ucap Len ngasal. Kini, ketiganya memandang Len.

"Kenapa harus kisu?" tanya Kaito menyipitkan sebelah matanya ke arah Len.

"Biasanya, kalau putri tidur atau apalah itu, kalau dikisu langsung bangun," jawab Len dengan wajah polos.

"Aku setuju dengan Len!" ucap Gakupo dengan nafsunya.

"Nafsu banget. Emang, Kau bertemu dengan Bidadari yang mana?" tanya Kaito menaikkan sebelah alisnya.

"Yang cantik, seksi, pokoknya SEMPURNA!" jawab Gakupo dengan lebaynya.

"Ya, sudah, dicoba saja. Tak ada salahnya 'kan?" tanya Kiyoteru yang langsung masuk ke air lagi.

Len ikut menyelam diikuti Gakupo dan Kaito. Keempatnya sekarang tepat berada di hadapan Bidadari. Mereka saling pandang sejenak. Sebelum, Gakupo langsung maju duluan dan langsung mencium Bidadari di hadapannya.

Karena melihat Gakupo yang mulai duluan. Kaito, Kiyoteru dan Len ikut melakukannya. Sayangnya, hanya sebentar. Karena pasokkan udara habis, jadi mereka langsung kembali ke permukaan.

"Apa berhasil?" tanya Len.

"Entah…" balas Kiyoteru.

Keempatnya kembali ke pinggir danau dan naik ke darat. Menyelam cukup menguras tenaga.

"Sepertinya gagal…" ucap Gakupo sambil ngos-ngosan.

"Atau… berhasil…?" tanya Kaito dengan senyum miring.

"Apa maksudmu?" tanya Len dan Gakupo kompak.

"Itu…" ucap Kiyoteru seraya menunjuk ke arah air danau yang mulai mengeluarkan cahaya.

Gakupo dan Len melihat ke arah danau yang mengeluarkan cahaya. Hingga cahaya itu semakin terang.

SRAAAASH

Dan keluarlah empat sosok dari dalam danau. Kaito melihatnya dengan datar, begitupun Kiyoteru. Len melihatnya dengan kagum. Gakupo melihatnya dengan nafsu.

Keempat gadis itu pun menjejakkan kakinya di tanah. Diikuti oleh tatapan dari Kaito, Len, Gakupo dan Kiyoteru.

"Terima kasih sudah menyelamatkan kami!" ucap si rambut teal seraya tersenyum manis dan membungkuk 90 derajat.

"Sudah tugas kami 'kok," balas Kaito ikut membalas senyum gadis teal itu.

"Mana Len-kun?" tanya si gadis honeyblonde dengan riangnya.

Len mengangkat tangannya dengan semangat, beserta senyum mengembang di wajahnya. Gadis honeyblonde itu langsung menoleh ke arah Len dan tersenyum lebar, sebelum menerjangnya dan memeluknya dengan erat.

"Kyaaaa~~~~ Aslinya lebih keren!~~" pekik si honeyblonde dengan riangnya sembari terus memeluk Len dengan erat. Len sendiri sudah blushing berat sambil nahan nosebleed.

"A-ano… Namamu…?" tanya Len dengan gugup. Ya, Yellow Angel 'kan sebelumnya janji soal namanya itu.

"Rin Kagamine! Leon-san yang memberiku marga Kagamine!" jawab Rin dengan riang.

"J-jadi… Tou-san yang memberimu marga Kagamine?" tanya Len. Rin mengangguk.

"Rin… Kau tak sopan! Setidaknya beri dia waktu untuk bernafas," ucap si merah muda dengan tegas.

Rin merengut dan langsung melepas pelukannya dan bangkit dari posisinya.

"Oh ya, nama kalian siapa?" tanya Kiyoteru dengan senyum tipis.

"Sebelum itu, bisakah kalian memakai atasan dulu?" tanya Red Angel diikuti kekehan kecil.

Keempat pemuda itu pun langsung keluar dari semak yang mengelilingi danau menuju paviliun, di mana mereka menaruh atasan mereka.

Mereka langsung mengambil pakaiannya masing-masing dan memakainya. Saat hendak kembali, mereka terkejut karena Bidadari itu sudah berada di belakang mereka.

"Mengagetkan saja…" gumam Len sedikit kesal.

"Len-kun imut!~" pekik Rin seraya memeluk Len dengan death hug.

"Ukh… Se-sesak…" gumam Len pelan dengan wajah merah plus biru.

"Rin, lepaskan!" perintah Teal Angel seraya berkacak pinggang dengan wajah marah.

"Iya…" ucap Rin melepaskan pelukannya dengan wajah cemberut.

PLAK

DUAAAAR

Suara debuman yang cukup keras itu berhasil mengalihkan perhatian semua yang ada di situ, kecuali si pembuat suara, Gakupo dan Pink Angel.

Semua yang berada di situ langsung sweatdrop seketika ketika mendapati Pink Angel dalam Dark Mode dan Gakupo yang tepar dengan telapak tangan di pipi bekas tangan Pink Angel yang menghajarnya.

"Astaga! Luka, kau kelewatan!" pekik Teal Angel dengan wajah kaget. Yah, Pink Angel sepertinya seorang yang labil.

"Kelewatan? Dia mau meng-anggur-anggurkan aku!" pekik si Pink Angel yang dipanggil 'Luka'.

"Maksudnya 'meng-anggur-anggurkan'?" tanya Rin dengan wajah polos.

"Coba kau ubah ke Bahasa Inggris," perintah Luka dengan wajah tsundere.

"Umm… Grape-grape?" ucap Rin polos.

"Huruf 'a' kau ganti 'e'," ucap Luka lagi.

"Grepe-grepe…?" ucap Len menggantikan Rin.

"Astaga, Len. Kenapa kau jawab!" ucap Kaito dengan wajah sweatdrop.

"Umm… Menggantikan Rin," jawab Len polos.

"Pasangan polos," ucap Red Angel sweatdrop.

"Siapa?" tanya Rin dan Len berbarengan.

"Kompak lagi," tambah Kiyoteru dengan senyum miring.

"Woi, Gakupo diapain 'nih?" tanya Kaito menunjuk Gakupo dengan wajah datar khasnya.

"Biarin aja, nanti juga sadar sendiri," ucap Len dengan datarnya.

"Dia mesum 'ya?" tanya Luka pada Len. Len mengangguk semangat.

"Sangat," ucap Len. Luka langsung merinding dengan wajah horor.

"Kami sudah menggunakan atasan, sekarang boleh kami tahu nama kalian?" tanya Kaito sopan tapi menagih janji mereka tadi.

"Aku Miku Hatsune! Yang rambut brunette Meiko, yang rambut pink Luka, yang rambut honeyblonde Rin! Yoroshiku!" ucap Miku dengan riangnya.

"Sekarang, kalian yang memperkenalkan diri!" ucap Rin semangat.

"Aku Kaito Shion. Yang rambut coklat Hiyama Kiyoteru, yang rambut ungu Gakupo Kamui, yang rambut honeyblonde, Len Kagamine," ucap Kaito memperkenalkan satu-persatu dengan sopan.

"Boleh kami tahu cara kalian membangkitkan kami?" tanya Meiko dengan senyum tipis.

"Kisu~" jawab Len dengan senyum dan wajah polosnya.

"Kisu? Serius?" tanya Luka dengan wajah horor. Takut kalau yang menciumnya Gakupo.

"Iya. Ini usul Len, dan kebetulan berhasil," jawab Kaito dengan senyum tipis.

"Ano… Siapa yang kalian kisu?" tanya Miku dengan semburat merah.

"Kaito kisu Miku. Gakupo kisu Luka. Kiyoteru kisu Meiko. Dan, aku kisu Rin," jawab Len dengan tampang polos.

Keempat Angel yang mendengarnya langsung cengo dengan mulut terbuka lebar. Bedanya, Miku, Rin, dan Meiko cengo dengan wajah merah. Kalau Luka, cengo dengan wajah horor.

"Kenapa harus kisu?" tanya Luka dengan tampang menyeramkan.

"Umm… Biasanya, dalam cerita dongeng, putri tidur akan bangun kalau dicium oleh pangeran. Itu pendapatku," jawab Len dengan riangnya.

"Kenapa harus si BaKamui yang menciumku?" tanya Luka lagi dengan dark aura.

"Aku memilih Miku karena ciri-cirinya mirip Mikuo. Terlebih, Mikuo memintaku untuk menjaganya," jawab Kaito.

"Kau ketemu Mikuo-nii?" tanya Miku. Kaito mengangguk.

"Kalau aku, memilih Rin karena Rin sudah memberikanku sabit yang sudah lama kuidamkan!~" jawab Len sembari menunjukkan sabitnya. Rin langsung memeluknya dengan wajah imut. Pasangan yang lagi mesra-mesranya 'nih…

"Aku 'sih, milih Meiko karena dia yang pertama aku temukan di dalam danau," jawab Kiyoteru santai.

"Aku dapet Luka karena Luka itu sisanya dari yang lain~~" jawab Gakupo dengan tampang mesum.

"Yah, Gkaupo yang terakhir menemukan Bidadari. Dan, yang terakhir itu kau Luka," tambah Kaito tersenyum miring.

Luka memasang tampang horor dan berjalan mendekati Gakupo. Lalu, kekerasan dalam rumah tangga pun terjadi dengan hebatnya, bagai perang dunia ketiga.(?)

Setelah itu pun, Kaito dan ketiga temannya bercengkrama dengan para Angel yang baru mereka temukan. Menceritakan mengenai petualangan mereka menuju tempat itu, dan lain sebagainya. Mereka juga sempat tinggal beberapa hari di sana, sebelum kembali pulang dengan Angel yang mereka pilih.


OMAKE


Kediaman Shion

Kaito memasuki pekarangan rumahnya diikuti Miku di belakangnya yang sudah berubah menjadi manusia. Kaito masuk ke dalam mansionnya, sementara Miku di belakangnya dengan wajah kagum memandangi seisi rumah Kaito yang megah dan mewah.

Kaito pun berjalan menuju ruang tamu, ia tahu kalau Tou-san pasti sedang berada di sana sambil nonton TV ditemani cemilan sambal. Aneh? Tou-san Kaito memang aneh dari sananya.

"Tou-san," panggil Kaito dari balik sofa. Tou-san/Akaito menoleh ke balik sofa dan memandang Kaito datar.

"Kok udah pulang? Kenapa gak sekalian gak pulang aja?" tanya Akaito menusuk. Lalu, pandangannya beralih pada belakang punggung Kaito yang terlihat siluet seorang gadis.

"Liatin apaan?" tanya Kaito menyelidik ke arah Akaito yang berusaha melihat ke belakang punggung Kaito.

"Gadis dari mana 'tuh? Pacarmu 'ya?" tanya Akaito menunjuk ke belakang punggung Kaito.

"Oh, ini. Miku, keluarlah. Ini Tou-sanku, suaminya Kaiko," ucap Kaito menarik pelan lengan Miku.

Miku mengeluarkan(?) kepalanya dari balik punggung Kaito dan menatap Akaito sejenak. Begitu pun dengan Akaito.

"Suaminya Kaiko-chan?" tanya Miku sembari menunjuk ke Akaito. Kaito mengangguk disertai dengan senyum tipis.

"Kau kenal dengan Kaiko?" tanya Akaito pada Miku. Miku mengangguk dengan senyum senang.

"Miku Hatsune, yoroshiku," ucap Miku sopan sembari membungkukkan badannya sedikit.

"Oh, jadi kau Miku Hatsune. Dulu, Kaiko pernah cerita! Katanya, dia sudah menunangkan Kaito dengan gadis bernama Miku Hatsune. Jadi, kau orangnya," ucap Akaito dengan senangnya. Miku mengangguk riang. Sementara, Kaito hanya bisa membisu dengan rona merah di wajahnya.


Kediaman Kagamine

Len membuka pintu rumahnya yang cukup megah diikuti Rin yang tersenyum riang. Keduanya jalan beriringan sambil bergandengan tangan.

"Kaa-san! Len pulang!" teriak Len dengan nyaringnya. Rin hanya bisa terus tersenyum lebar.

Tak lama setelah Len berteriak, seorang wanita paruh baya berambut pirang panjang datang dengan cepatnya dan berhenti tepat di hadapan Len dan Rin.

"Len, kau dari mana saja? Kaa-san khawatir tahu! Tunggu, siapa ini? Wajahnya loli sekali~" tanya Kaa-san Len dengan riangnya, Lily Kagamine.

"Namaku Rin! Yoroshiku!" ucap Rin memperkenalkan dirinya dengan riangnya.

"Uwaaaa~ Wajahnya moe sekali!~ Kau dapat dari mana Len?" tanya Lily dengan ceria sembari memeluk Rin.

"Uhh… Gimana ngomongnya 'ya?" gumam Len gugup. Yah, kalau jujur, belum tentu Lily akan percaya 'kan?

"Aku dari danau Bidadari!" jawab Rin menggantikan Len.

"Danau Bidadari? Yang berada di hutan Zephyr itu?" tanya Lily lagi. Rin mengangguk. "Oh~ Jadi, kau orangnya!" pekik Lily kemudian.

"Orangnya apa?" tanya Len heran.

"Leon selalu menceritakan mengenai gadis manis dari danau Bidadari. Katanya, dia yang akan jadi istrimu nanti,"

jawab Lily dengan gembira.

Len dan Rin hanya bisa merona setelah mendengar jawaban Lily.


Kediaman Kamui

Gakupo berjalan di depan diikuti Luka di belakangnya yang memasang wajah cemberut. Yah, Luka 'kan benci orang mesum macam Gakupo. Apalagi, Gakupo pernah bilang kalau dia mengganggu saat Luka sedang mencoba berkomunikasi sebelum di selamatkan.

"Kau tinggal dengan siapa?" tanya Luka dari belakang.

"Dengan Paman dan Bibi," jawab Gakupo sambil terus berjalan hingga tiba di depan pintu rumahnya.

Gakupo membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam diikuti Luka di belakangnya.

"Tadaima~" ucap Gakupo setelah tiba di dalam.

Lalu, dari lantai dua muncul seorang wanita paruh baya berambut hitam pendek dan seorang pria berambut merah muda dengan mata emas. Yah, Bibi dan Paman dari Gakupo.

"Gaku, kau dari mana saja?" tanya Pamannya dengan khawatir.

"Ah~ Paman Yuuma, aku hanya menjemput Luka saja 'kok!" jawab Gakupo dengan santai. Luka hanya sibuk melihat-lihat seisi rumah yang kental budaya Jepangnya itu.

"Menjemput 'kok sampai berhari-hari?" tanya Bibinya dengan heran.

"Tempatnya jauh, Bibi Mizki," jawab Gakupo dengan tenang.

"Lalu, mana yang namanya Luka?" tanya Yuuma dan Mizki bersamaan.

"Ini dia," ucap Gakupo seraya menyingkir dan memperlihatkan Luka yang masih sibuk melihat-lihat seisi rumah itu.

"Cantik," komentar Yuuma.

"Ya, cantik. Tapi…" Mizki menggantung ucapannya, dan membuat Gakupo heran.

"Tapi apa?" tanya Gakupo. Luka ikut memperhatikan Mizki.

"Karena terlalu cantik, jadi gak cocok denganmu yang wajahnya juga rada cantik gitu," jawab Mizki dan Yuuma bersamaan. Gakupo langsung membeku di tempat setelah dibilang cantik.

"Luka Megurine, Yoroshiku," ucap Luka dengan anggunnya.

"Iya, maaf merepotkan 'ya. Gakupo pasti sangat merepotkanmu," ucap Mizki dengan senyum tanpa menyadari Gakupo yang sedang pundung.

"Dia memang MEREPOTKAN 'kok," jawab Luka dengan senyum yang membuat Gakupo makin pundung.


Kediaman Hiyama

"Kau tinggal dengan siapa?" tanya Meiko sambil terus berjalan memasuki pekarangan rumah Kiyoteru.

"Aku tinggal dengan Paman dan Bibi," jawab Kiyoteru seraya membuka pintu rumahnya.

"Paman, Bibi," panggil Kiyoteru.

Tak lama kemudian, keluarlah seorang pria berbadan tegap dengan rambut hitam rapi dan seorang wanita paruh baya berambut hitam pendek.

"Kau sudah pulang, Kiyo? Mana Bidadari yang kau bicarakan?" tanya Bibinya yang bernama Prima.

"Ini, kami baru kembali," jawab Kiyoteru dengan senyum.

"Oh, ini yang kau bicarakan," ucap Pamannya yang bernama Big Al.

"Salam kenal, nama saya Meiko Sakine," ucap Meiko memperkenalkan diri. Sebenarnya, Meiko membuat marganya sendiri.

"Salam kenal juga, Meiko. Semoga kau betah di sini 'ya," ucap Prima dengan ramah.

"Tentu," balas Meiko.

Sepertinya, diantara keempat pejuang ini, kediaman Kiyoteru adalah yang paling normal.


OWARI~


A/N: Selesai! Akhirnya selesai juga! Semoga gak ada typo di chapter ini. Terimakasih bagi yang sudah membaca dan meriview, semoga kalian puas!