Warning : gaje-latte! *banget! Apalagi kalo author nya saya, ya salah udeeh XD*, maaf kalo pemilihan kalimatnya masih kurang baik + masih banyak Typo disana sini ekekekek ._.v maap lagi kalo author sarap XP #kaborr XD*

Disclaimer : Kuroshitsuji akan selamanya milik Yana Toboso-sensei. Tapi fanfict ini akan selamanya jadi milik sayaaa! HAHA *evil laugh* #upss hehee. ._. *author di arak keliling kampung kemudian di hempas kelaut*

MY SECRET ADMIRER

Kuroshitsuji © Yana Toboso

Chapter IX : The Conversation Between Us

*Alois POV*

Hangat mentari pagi menyentuh pori – pori kulitku. Hangat... membiaskan warna ceras disana... pertanda hari sudah pagi...

Hari sudah pagi...

Hari yang baru lagi...

Aku masih bisa merasakan napas mengalir lewat hidungku...

Syukurlah...

Aku baru saja hendak membuka mataku, ketika samar-samar kudengar suara tangis dari luar kamar rawatku...

Itu suara tangis ibu yang khas...

"Dokter bilang kondisi Alois memburuk... dia bilang, mungkin... sebentar lagi... dia harus pergi... mungkin... waktunya tidak akan bisa lebih dari sebulan..."

Itu suara ibu... itu suara cemas ibuku...

"Ibu... sudahlah jangan menangis... bagaimana kalau kakak dengar nanti?"

Kemudian berganti suara Luka... tak kalah paniknya.

"Saya... turut prihatin mendengar berita ini... tapi... semoga Alois bisa bertahan lebih lama..."

Itu... suara Mr. Sebastian? Mau apa dia kemari sepagi ini?

Suara pintu kamarku berdecit, kemudian terbuka perlahan. 3 orang yang sangat kukenal muncul.

"Kakak... selamat pagi" Luka segera berlari ke tepi tempat tidurku, kemudian tertawa riang.

"Bagaimana perasaanmu? Sudah merasa lebih baik?" ibu tersenyum manis kepadaku. Aku menganggukkan kepala kuat-kuat.

"Aku merasa sedikit lebih baik." Aku memasang senyum lebar... yang sebenarnya hanya sebuah senyum paksaan...

Mereka bisa membohongiku dengan tawa palsu mereka, maka akupun berusaha untuk menyamakan apa yang telah mereka perbuat. Aku tidak salah kan?

"aaaah... ibu senang mendengarnya..." ibu menghela napas lega... ralat. Maksudku, menghela napas seolah-olah ada kelegaan dalam kata-kataku. Aku tahu, sebenarnya dia pasti takut...

"Ibu... bisa tinggalkan aku dan Mr. Sebastian berdua saja? Aku pikir kami butuh waktu untuk bicara berdua..." kataku setengah memohon.

"Tapi... sekarang waktumu untuk sarapan..."

"Jangan khawatir, bu. Saya yang akan memastikan Alois menyantap habis sarapannya..." Mr. Sebastian mencoba meyakinkan ibuku.

"... baiklah... aku mengerti... ayo kita keluar, Luka. Ibu rasa kau juga harus segera mencari sarapanmu..." ibu menggandeng tangan Luka dan segera keluar dari kamarku.

Tinggal aku berdua dengan Mr. Sebastian disini... aku baru saja hendak membuka mulut ketika Mr. Sebastian perlahan menggumam.

"Aku akan meluangkan waktuku sampai nanti siang untukmu. Jadi, tidak usah terlalu terburu-buru kalau memang ada yang ingin kau sampaikan padaku. Dan lebih baik... kau habiskan dulu sarapanmu sebelum kita memulai pembicaraan."

Aku tak jadi melayangkan pertanyaan padanya. Sebagai gantinya, aku mengambil sebuah kotak makan di atas meja tepat disamping tempat tidurku. Selama aku makan, sama sekali tak ada kata yang diucapkan oleh Mr. Sebastian padaku, barang sedikitpun. Ia justru membuang pandangannya jauh ke luar kamarku, lewat jendela yang setengah terbuka.

"Mr. Sebastian..." panggilku pelan, setelah aku menenggak habis susu yang di sediakan rumah sakit dan menyantap sarapanku.

"Hmmm?"

"Kau... tahu tentang kondisiku yang sebenarnya kan?" tanyaku.

"Ya... aku tahu kalau kau sebenarnya sehat... hanya saja..."

"Tolong katakan yang sejujurnya!" pandanganku meremang, tertutup air mata yang sudah siap merembes keluar.

"kau mau tahu apa?" Mr. Sebastian balik bertanya padaku.

"aku... mendengar pembicaraanmu dengan ibu tadi pagi..." jawabku jujur.

"kalau kau dengar itu, maka itulah kenyataannya... setidaknya, itulah yang dokter katakan tentangmu. Tapi belum tentu itu yang akan terjadi padamu... tinggal seberapa kuat keinginanmu untuk mempertahankan hidup..." Mr. Sebastian mengalihkan pandangannya ke arahku. Menatapku tegas, namun lembut...

"lalu, kenapa ibu dan Luka harus berbohong? Kenapa mereka harus berpura-pura kalau semuanya baik-baik saja dihadapanku? Kenapa mereka harus menyembunyikan kecemasan dan air mata mereka di depanku, kemudian bertindak seolah mereka benar-benar tegar menghadapi semuanya?"

Aku... merasa lemah... ketika harus ada air mata yang jatuh.

"Apa kau tidak sadar kalau mereka... kami semua yang mengenalmu... dan tahu keadaanmu... sedang mencoba untuk memberikan sesuatu yang terbaik untukmu?"

Apa maksudnya?

"Kami berusaha untuk sekuat tenaga kami, menyemangatimu untuk tetap hidup bersama kami... apa kau tidak merasakannya? Terutama ibumu, dan Luka. Apa kau tidak tahu betapa terlukanya ia ketika setiap hari dokter terus menerus berkata padanya kalau harapan bagimu untuk hidup lebih lama itu nyaris tidak ada? Kau tidak pernah tahu rasa tertekan yang dirasakan oleh keluargamu setiap saat, rasa takut kehilanganmu... kau mungkin tidak tahu, butuh pengorbanan bagi mereka untuk sedikitnya memasang senyum palsu mereka untuk memberimu harapan yang baru setiap dokter itu memupuskannya... butuh perjuangan bagi mereka untuk menyeka habis air mata mereka di belakangmu, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk tertawa lagi di depanmu, seolah semuanya memang baik-baik saja. Mungkin... tak bisa terhitung lagi setiap doa mereka agar mereka bisa melihatmu membuka mata dan menghela napas yang baru setiap paginya..."

Air mataku menderas. Apa-apaan ini?

"Mungkin kau tidak tahu... tapi tadi pagi, ibumu bilang kalau seandainya ia mampu, ia ingin sekali menukar jiwanya dengan milikmu. Ia ingin sekali kau bisa melanjutkan hidup, meskipun harus ia yang menderita..."

Ibuku... benarkah dia berkata seperti itu? Aku...

"Lalu... aku harus bagaimana?" tanyaku pelan.

"lakukan apa yang ingin kau lakukan... selagi waktumu masih ada... selagi semuanya masih sempat dan belum terlambat... setidaknya, cobalah nikmati hidupmu... ini adalah waktumu untuk bersenang-senang." Mr. Sebastian berjalan ke arah bangku di sisi tempat tidurku, kemudian duduk disana.

Aku menyeka kedua mataku, mencoba menghentikan air mata yang mengalir dari sana.

"Sejak kau tidak lagi masuk sekolah, Ciel merasa sangat kesepian. Aku bisa langsung tahu kalau dia merindukanmu teramat dalam..." gumam Mr. Sebastian lagi. Segaris senyum tipis tertarik keluar dari bibirku. Aku rasa wajahku pasti kelihatan sangat bodoh saat ini.

"benarkah?"

"Kuharap dalam waktu dekat ini kau mau menemuinya. Kalau kau memang tidak bisa pergi, biar Ciel yang ku suruh datang kemari untuk menemuimu."

"Tidak... aku janji aku akan segera menemuinya. Hanya saja... tolong rahasiakan kondisiku dari Ciel... aku tidak mau dia melihat aku yang selemah ini."

"Kau ini... sudah seperti ini masih saja ingin terlihat sok keren di depan Ciel, ya? Dasar bodoh..." kulihat Mr. Sebastian mengulum senyum.

"Terserahlah..." jawabku hendak tertawa kecil.

"Aku ingin... setidaknya kau bisa menikmati hari-harimu bersama Ciel. Aku ingin Ciel tertawa.. aku ingin dia bahagia. Aku tidak ingin dia terlihat sedih... setidaknya, temui dia dan buat dia tersenyum..." kali ini kata-kata Mr. Sebastian seolah permohonan. Aku mengalihkan pandanganku ke arahnya, mencoba membaca ekspresinya. "Hanya kau yang bisa melakukannya..."

"Aku? Aku yakin kau juga bisa.. tidak, maksudku... kau tahu kalau kau pasti bisa membuatnya tertawa juga..." dalihku.

"Mungkin aku memang bisa. Tapi bahagianya bersamamu jauh berbeda dengan bahagia yang ia rasakan padaku... kau tahu, kan, kalau gadis itu adikku? Tapi sebenarnya, kami bukan kakak beradik yang kandung. Dan... aku... mencintai gadis itu juga... sama sepertimu."

Aku kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan Mr. Sebastian. Aku... tidak salah dengar kan?

"Tapi... sepertinya seluruh hatinya telah tercuri olehmu. Ia bahkan tak memberiku celah sedikitpun untuk mengisi hatinya, meskipun ia sendiri tahu kalau kami tidak ada ikatan darah dan aku bebas untuk mencintainya kapanpun yang aku mau... tawa malu-malunya setiap kali habis bertemu denganmu... aku tidak bisa berbohong kalau... aku cemburu... tapi, akhirnya kuputuskan selama gadis itu bahagia, akupun demikian. Dan nyatanya, dia bahagia bersamamu..." Mr. Sebastian menghela napas dalam. "Aku serahkan Ciel padamu, Alois..."

Dadaku berdesir halus. Kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Mr. Sebastian seolah bergema disana...

"Aku... mencintainya, Mr. Sebastian... dari pertama kali aku bertemu dengannya..." nyatanya, hanya itu yang sanggup terucap olehku.

"ya... aku tahu... terima kasih telah membuat Ciel merasakan hal yang sama..." gumam Mr. Sebastian kemudian.

Rasanya... aku telah menemukan alasan untuk tetap bertahan disini...

"Selamat sore Alois..." ibu tersenyum simpul ketika ia masuk ke ruang rawatku. Aku berusaha membalas senyumnya. Sesaat, aku teringat kata-kata Mr. Sebastian pagi tadi...

"Mungkin kau tidak tahu... tapi tadi pagi, ibumu bilang kalau seandainya ia mampu, ia ingin sekali menukar jiwanya dengan milikmu. Ia ingin sekali kau bisa melanjutkan hidup, meskipun harus ia yang menderita..."

Maka yang kulakukan selanjutnya adalah membalas senyum ibu dengan lebih tulus, lebih ikhlas dari sebelumnya. Dan... ternyata aku merasakan seolah nuansa kamarku berubah menjadi lebih nyaman karenanya.

"Kakak... sudah merasa lebih baik?" Luka melongokkan kepalanya dari arah pintu luar sebelum akhirnya ia benar-benar masuk ke dalam kamarku. Lagi-lagi, aku teringat kata-kata Mr. Sebastian.

"kau mungkin tidak tahu, butuh pengorbanan bagi mereka untuk sedikitnya memasang senyum palsu mereka untuk memberimu harapan yang baru setiap dokter itu memupuskannya... butuh perjuangan bagi mereka untuk menyeka habis air mata mereka di belakangmu, sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk tertawa lagi di depanmu, seolah semuanya memang baik-baik saja."

Si bodoh Luka... bibirnya tersenyum, tapi matanya sembab karena termakan air mata. Bahkan jejaknya pun tak habis di sekanya. Aku bisa menduga, ia habis menangis sepanjang siang.

"Jauh... lebih baik dari sebelumnya.. bahkan aku merasa sangat sehat." Aku mengelus kepala Luka pelan ketika adikku itu duduk di tepi tempat tidurku. Kali ini, aku benar-benar merasa berstamina dan aku sama sekali tidak berbohong.

"Aaaaah... syukurlah..." Luka menarik napas lega. Lakunya membuatku setengah tertawa.

"Bu.. boleh aku tanya sesuatu?" aku menatap ibu lama.

"hmmm... apa itu?"

"Apa... pembicaraan ibu dan Mr. Sebastian tadi pagi itu... benar?" tanyaku pelan.

Ibuku sontak terdiam. Wajahnya menegang. Aku tahu pasti ibu bingung hendak menjawab apa.

"Katakan yang sebenarnya bu... aku siap mendengar apapun yang ibu katakan nanti.." aku memasang senyum gemetar.

"Itu... benar, Alois.." ibu berhenti sesaat. "Tapi aku akan terus mengusahakan apapun untuk membuatmu tetap bertahan hidup."

Aku tertawa kecil... "Aku tahu ibu akan melakukan apapun untukku... jadi, berapa lama lagi aku bisa bertahan bu?"

"Tak akan lama... hanya... kira-kira sebulan lagi.." air mata ibu meleleh, begitu pula dengan Luka.

"Aduh... sebentar lagi ya?" mataku menerawang ke arah langit langit kamar.

"Tidak... kita akan memperlama waktunya... kita pasti bisa, kak.." Jawab Luka di sela tangisnya.

"Hei... kenapa kalian berdua harus menangis sih? Ayolah... mengapa kalian begitu serius menanggapinya..." aku tertawa dan berusaha untuk bersikap santai, meskipun dalam hati aku setengah menangis.

"Tapi..."

"Aku akan baik-baik saja... aku akan berusaha untuk hidup sedikit lebih lama lagi... aku tidak akan pergi kemana-mana untuk kalian. Lalu kenapa kalian harus menangis?" tawaku pelan. Justru mendadak membuat tangis mereka menderas.

"Bu... ceritakan sesuatu tentang masa kecilku... entah kenapa aku merasa rindu..." pintaku.

Pertamanya, ibu nampak ragu, sampai sesaat sebelum ia memulai ceritanya. "Dulu, kamu begitu susah dilahirkan... ibu perlu mendapat injeksi beberapa kali sebelum melahirkanmu. Tapi semua sakit ibu saat melahirkanmu terbayar dengan rasa bahagia ketika buah hati ibu dan ayah yang pertama lahir. Dulu, kamu begitu manis..."

"Jadi, maksud ibu sekarang aku tidak lagi manis?" aku memasang tampang cemberut, membuat senyum ibu sedikit terangkat.

"Bukan begitu.. hanya saja ibu merasa kamu ketika masih bayi memang lebih manis dan pendiam. Menginjak usia 3 tahun, kamu makin tidak bisa diam. Maunya berlari terus. Ibu sampai lelah mengejarmu setiap hari. Lalu, kamu meminta pada ibu untuk masuk sekolah. Setiap hari, kamu selalu merengek pada ibu untuk hal itu, sampai ibu bingung bagaimana harus menenangkanmu. Makin besar kamu makin menjadi anak yang aktif dan ceria..." ibu tersenyum kecil. "masuk SD, kamu selalu meminta pada ibu untuk belajar musik. Ibu merasa, kamu makin mirip ayahmu yang meninggal tidak lama setelah Luka lahir. Maka ibu mulai menyuruhmu berlatih musik... piano, biola, gitar, semua kamu pelajari dengan baik dan tanpa mengeluh... kemudian kamu makin besar..."

Aku terkesiap mendengar tiap kisah yang keluar dari bibir ibu... betapa membangkitkan kenangan...

"semakin besar, kamu semakin membuat ibu rindu pada ayah.. melihatmu beranjak dewasa seakan membuat ibu melihat ayahmu ketika ia masih remaja, saat kami berdua bertemu. Saat itu ibu benar-benar memutuskan untuk menjagamu sama seperti ibu menjaga kenangan dan cinta ibu hanya untuk ayahmu seorang... sikapmu sekarang benar-benar mirip ayahmu. Teduh, menenangkan, membuat ibu nyaman... mungkin jika ibu masih muda, ibu akan jatuh cinta lagi kepadamu..."

Ibu mulai tertawa kecil bersama Luka, kemudian aku kembali melipat alis.

"setiap melihatmu, ibu kemudian berkhayal, sebentar lagi kamu akan segera menamatkan pendidikanmu, mencari nafkahmu sendiri, lalu pergi meninggalkan ibu untuk mencari calon pendamping hidupmu, kemudian kembali lagi ke rumah saat kau sudah menggandeng seorang wanita yang akan kau panggil dengan sebutan 'istri', dan memberikan ibu seorang cucu yang tidak kalah manisnya darimu... ketika sadar, kamu sudah dewasa dan dalam beberapa tahun lagi mungkin kamu tidak akan bersama ibu lagi untuk membangun keluargamu sendiri... entah kenapa, ketika mengingat itu rasanya ibu sedih sekali... sekaligus bahagia karena tandanya tugas ibu membesarkanmu sudah nyaris selesai.. di satu sisi, ibu takut sekali kehilanganmu..."

Raut wajah ibu kembali sendu...

"Aku janji, suatu saat aku akan membawakan cucu untuk ibu..." entah kenapa saat menggumamkan kalimat ini, diriku seolah kembali dialiri listrik.. aku kembali bersemangat untuk terus ada di tengah-tengah mereka yang menyayangiku.

"kenapa bicaramu dewasa sekali? Sebelum itu, kau harus fikirkan dulu bagaimana caranya kau bisa lulus dari sekolahmu dulu, tahu..." akhirnya Luka angkat bicara.

"Tenang saja... aku tahu kok..." kataku sambil menjulurkan lidahku. Selama beberapa menit, kami bertiga sama-sama tertawa.

"Memiliki kalian berdua adalah sebuah anugerah bagi ibu... tak terhitung jumlahnya kebahagiaan yang kalian bagi dalam kehidupan hidup setiap harinya... maka dari itu, ibu benar-benar menyayangi kalian berdua..."

Aku terenyuh mendengar setiap kata yang ibu katakan.

"Maka akupun demikian, bu. Aku sayang kalian. Entah bagaimana jadinya aku tanpa kalian yang selalu menyayangiku... terima kasih untuk setiap kasih yang masih bisa kalian berikan padaku... aku benar-benar merasa berharga bisa hadir dalam hidup kalian..."

Aku menghela napas berat.

"Jadi apapun yang akan terjadi nantinya, jangan tangisi aku... karena aku bahagia pernah bisa menjadi kenangan milik kalian, dan semua orang. Maka aku tak perlu banyak orang menangis untukku.. aku hanya butuh mereka mengingatku sampai kapanpun, bahwa aku pernah hadir dalam kehidupan semua orang..." aku tersenyum. Aku merasa sedikit beban dari pundakku kemuddian seolah terangkat, dan aku bersyukur...

Kulihat ibu dan Luka mulai mengusap wajah mereka, menghilangkan bekas air mata mereka satu persatu.

Ya... aku merasa benar-benar bahagia di tengah kelemahanku saat ini...

Author's Note :

Fwaaaah akhirnya apdeeet.. gomen lamaa ~.~ authornya lagi agak sibuk kmrn~~~

Semoga lanjutannya memuaskan ya ^^

Anyway, arigatou buat reviewnya :

Kuro Ao : arigachu sudah menunggu.. maaf lama apdet ya hehe makasih juga buat masukannya. Semoga bisa jadi bahan perbaikan buat author ^^

Fetwelve : waaaaa…. Kapan sembuh yaa? Tunggu episode selanjutnya ^^ anyway, terimakasih buat saran pairingnya hohoho

Untuk yang lainnya, terima kasih sudah mau baca fanfic ini.. yang berkenan boleh minta reviewnya yaaa ^^

Jaa, matta-nee

~Ryuka