Summary : Byun Baekhyun. Seorang gadis liar penggila seks yang tidak peduli dengan komitmen. Namun suatu kejadian membuatnya harus terjebak dalam suatu ikatan yang disebut pernikahan. Sanggupkah dia menjalankannya?
"Accidentally Married"
2016©Byun Min Hwa
Main Cast :
Byun Baekhyun ― Park Chanyeol
Genre : Romance ― Drama
Rated : M
Category : Genderswitch
Length : Chaptered
Warning : Mature Content ― Typo(s) ― AU ― OOC
DON'T LIKE ― DON'T READ ― DON'T BASH
Chapter 8 : The Reasons
Chanyeol telah berpenampilan rapi ketika mengepak seluruh barang-barang yang ia perlukan untuk menunjang segala aktifitasnya selama berada di Spanyol. Tanpa menggubris Baekhyun yang masih terus menggrundel di belakang tentang ketidaksetujuannya untuk ikut dengan pria itu ke luar negeri.
Sebenarnya, ada beberapa alasan yang membuat Chanyeol ingin memboyong Baekhyun terbang bersamanya ke Spanyol.
Pertama, yang paling sederhana dan mendasar, Baekhyun adalah istrinya. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang jika ia tidak mengikutsertakan Baekhyun bersamanya? Ia bisa di cap sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.
Kedua, karena wanita itu sedang mengandung anaknya. Chanyeol ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa keadaan Baekhyun beserta anaknya akan baik-baik saja selama bersamanya.
Terakhir dan yang paling penting, karena percakapannya dengan seseorang yang terjadi kemarin pagi sebelum ia sampai di kantornya. Seseorang yang sangat mengganggunya.
.
.
"Aku menolak untuk ikut ke Spanyol!" Baekhyun masuk ke dalam kamarnya sendiri, memunggungi Chanyeol yang menyusulnya dari belakang kemudian menutup pintu secara perlahan.
"Aku tahu kau terkejut dengan berita mendadak ini."
Baekhyun mendengus dengan menyilangkan lengan di depan dada.
"Terkejut kau bilang? Aku lebih dari terkejut! Berita kejutanmu ini membuatku ingin mencekik lehermu sekarang juga, Yeol!"
Chanyeol mengacak-acak rambutnya frustasi. "Ku mohon kecilkan suaramu. Mereka masih bisa mendengar suara kita, Baek."
Demi Tuhan, Chanyeol telah mengundang seluruh anggota keluarganya dalam rangka untuk pamit dan kini mereka semua tengah berkumpul di ruang tamu. Walaupun perdebatan mereka terjadi di lantai atas, tidak menutup kemungkinan jika mereka bisa mendengar pertengkarannya dengan Baekhyun jika wanita itu berteriak begitu keras.
"Aku tidak hmmphh―" Chanyeol langsung membekap mulut Baekhyun dengan salah satu telapak tangannya.
"Ku mohon, Baek. Kita bisa bicara secara baik-baik." Baekhyun melepaskan tangan pria itu dari mulutnya, kemudian mendorong dadanya hingga Chanyeol agak menjauh.
"Persetan!"
Jika sudah sekalut ini, maka Chanyeol terpaksa melakukan hal yang bisa membungkam Baekhyun. Chanyeol menarik bagian belakang leher Baekhyun, kemudian menyumpal mulut istrinya itu dengan bibirnya. Baekhyun tampak ingin memberontak untuk kembali berteriak, tapi kesempatan itu langsung dimanfaatkan oleh Chanyeol untuk melesakkan lidahnya ke dalam mulut Baekhyun.
Baekhyun masih terkesiap dengan apa yang diperbuat oleh Chanyeol. Pria itu menggerakkan lidahnya sendiri untuk menyentuh langit- langit mulut Baekhyun, kemudian mencoba meraba-raba lidah Baekhyun―menggunakan lidahnya, bermaksud untuk menggoda.
Aroma gairah yang sempat terjadi di atas altar beberapa hari yang lalu kembali menguar begitu saja. Chanyeol sampai menutup mata, refleks efek dari rasa nikmat yang ia rasakan dari bibir Baekhyun.
Tangannya dengan kuat mencengkram kepala Baekhyun untuk semakin membuat tubuh mungil itu merapat pada tubuhnya. Di bawah alam sadarnya, entah kenapa tiba-tiba Chanyeol begitu menginginkan Baekhyun berbaring telanjang dibawahnya dan ia yang bergerak di dalam tubuh istrinya.
Oh, shit
Sedangkan tangan Baekhyun sendiri saat ini sudah menempel di dada Chanyeol. Yang awalnya ingin mendorong tubuh tegap itu untuk menjauh, namun kini tangan Baekhyun justru bergerak membentang naik secara perlahan kemudian melingkar di leher Chanyeol. Baekhyun mulai kewalahan ketika rasa amarahnya bisa berubah dengan begitu cepat, tergantikan dengan gairah yang sudah membuncah.
Rasanya Baekhyun begitu ingin melepaskan, atau jika perlu merobek setelan klasik Chanyeol kemudian menghempaskan tubuh pria itu ke atas ranjang untuk melampiaskan segala rasa nafsunya yang sudah mencapai ubun-ubun.
Namun jika dilihat dari situasi dan kondisinya sekarang, rasanya tidak mungkin jika mereka berdua melakukan pergumulan itu sekarang. Dengan nafas yang masih terengah-engah Chanyeol melepaskan tautan bibir diantara keduanya. Dahi mereka masih saling bersandar satu sama lain, mencoba menormalkan kondisi tubuh yang sudah bergetar akibat hawa nafsu.
"Ku mohon ikutlah denganku," Mengambil nafas sejenak. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini sendiri, terlebih dengan adanya dia di dalam perutmu, Baek."
Chanyeol berbisik pelan di telinga Baekhyun dengan nada seduktif, sementara salah satu tangannya bergerak ke dalam kemeja yang digunakan oleh istrinya itu. Kemudian tangannya bergerak untuk menyentuh kulit perut Baekhyun, hingga wanita itu merasakan gelenyar aneh semacam sengatan listrik kecil yang juga mempengaruhi organ intimnya.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya, untuk mencegah erangan atau mungkin desahan yang hampir lolos dari mulutnya.
"Aku berjanji kita akan pulang satu bulan sekali untuk mengurus pekerjaanmu disini, please."
Chanyeol menggesekkan hidung bangirnya pada telinga Baekhyun, berlanjut pada pipinya, kemudian berakhir turun ke relung leher wanita itu. Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya untuk memberikan akses lebih pada Chanyeol yang sedang mengeksplorasi kulitnya yang kini terasa meremang.
Merasa kalah dan lemah akibat sentuhan dari suaminya, akhirnya Baekhyun mengangguk dan berujar lemah. "Hm, baiklah. Aku akan ikut denganmu, asalkan kau benar-benar menepati janjimu."
Chanyeol tak bersuara. Bibirnya mengecup leher Baekhyun cukup lama sebagai jawaban.
"Aku akan mengambilkan air untukmu. Tunggu disini sebentar." Ujar Chanyeol setelah menghentikan kecupannya.
Baekhyun mengangguk, kemudian membiarkan pria itu berjalan keluar dari kamar.
.
.
Tangan Baekhyun sibuk melempar beberapa bajunya ke dalam koper secara asal. Kemudian kakinya melangkah tergesa ke dalam kamar mandi untuk mengambil segala macam peralatan mandi yang sekiranya ia perlukan. Ia lempar pula peralatan mandi itu ke dalam kopernya yang tampak berantakan.
Walaupun tubuhnya sibuk berseliweran kemana-mana, mengambil semua kebutuhan untuk keberangkatannya menuju Spanyol, tapi pikiran Baekhyun sibuk memikirkan hal lain. Cincin emas yang tersemat di jari manisnya mengalihkan otak Baekhyun yang sedang sibuk berfikir. Hembusan nafas keras terdengar keluar dari mulutnya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"
Kyungsoo muncul ke dalam kamar yang ditempati oleh Chanyeol dan Baekhyun yang sempat digunakan kedua pasangan itu untuk bertengkar beberapa menit yang lalu.
Chanyeol meninggalkan Baekhyun sendirian dan pergi ke dapur, mengambilkan segelas air minum untuk Baekhyun. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Kyungsoo untuk mengintrogasi sahabatnya. Kyungsoo pernah bertekad akan menanyakan langsung pada Baekhyun tentang pernikahannya, ingat?
"Maksudmu?" tanya Baekhyun seraya bangkit dari tempat tidur dengan tampang sok polos tak berdosa.
"Maksudku, pernikahanmu dengan Chanyeol, Baek." Sahut Kyungsoo.
"Aku tidak mengerti."
"Oh, ayolah, Baekhyun. Harus berapa kali lagi ku bilang. Pernikahanmu dengan Chanyeol terlalu mendadak, dan aku rasa kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari kami."
Baekhyun bergeming. Masih bingung memikirkan alasan apa yang tepat untuk ia ucapkan pada Kyungsoo.
"Aku mengenal kalian berdua dengan baik untuk tahu ada yang mengganjal dari pernikahan ini. Jelaskan padaku alasan yang sebenarnya, Baekhyun."
Baekhyun bisa merasakan telapak tangannya yang mulai berkeringat. Dia menepis keraguan dalam hatinya dan berusaha menunjukkan sikap sesantai mungkin di depan Kyungsoo.
"Kau tahu, Kyung? Sebenarnya aku dan Chanyeol telah lama memiliki hubungan khusus. Kami hanya tidak ingin merasa canggung di depan kalian jika mengetahui hubungan kami. Chanyeol merasa melalui pernikahan inilah jalan yang tepat untuk memberitahukannya pada kalian." Baekhyun kembali pura-pura sibuk membenahi kopernya yang sudah rapi.
Kyungsoo masih terlihat agak ragu. "Begitukah?"
Baekhyun mengangguk dengan kelewat semangat. Dalam hatinya Baekhyun berharap Chanyeol lekas kembali dari dapur dan datang menyelamatkannya dari introgasi Kyungsoo yang mulai membuat Baekhyun bergerak cemas.
Untung saja ia masih berdiri membelakangi Kyungsoo. Jika tidak, bisa dipastikan Kyungsoo akan menangkap basah gelagat anehnya dengan mudah.
"Kenapa kau berubah pikiran? Kau selalu mengatakan padaku kalau sebuah ikatan dalam hubungan adalah hal terakhir yang tercantum dalam list hidupmu."
Kali ini Baekhyun merutuki sifat sahabatnya yang super cerewet dan over protektif itu. Jika sampai Baekhyun merasa buntu dan tak tau harus menjawab apa lagi mungkin Baekhyun terpaksa harus menyumpal mulut wanita bermata burung hantu itu menggunakan kain pel.
Tapi, tidak. Baekhyun masih waras. Apa jadinya jika ia benar-benar melakukan khayalan absurdnya?
Demi menetralkan degup jantungnya yang masih bertalu cepat Baekhyun memejamkan mata. Ia hirup secara rakus asupan gas oksigen yang ada di sekelilingnya. Setelah ia hembuskan udara itu keluar Baekhyun kembali menghadapkan tubuhnya pada Kyungsoo.
Seulas senyum tipis―yang tentunya tidak natural―ia tunjukkan pada sahabatnya.
"Kyung, ku mohon jangan berasumsi yang aneh-aneh. Aku menikah dengan Chanyeol karena aku merasa iri padamu dan juga mereka semua yang memiliki keluarga."
Ada jena sejenak. Otaknya terus ia paksakan untuk memikirkan jawaban yang akan ia berikan selanjutnya.
"Ya, menikah adalah list terakhir yang ku inginkan dalam hidupku. Tapi sekarang pemikiran kolot itu tidak berlaku lagi buatku. Semakin kesini ada sesuatu yang mengusik pikiranku."
Drama kembali berlanjut,
"Jika aku hidup tanpa keluarga, rasanya apapun yang ku gapai tidaklah berarti karena tidak ada yang ikut bahagia dalam kebahagiaanku, tidak akan ada seseorang yang menyemangati saat aku jatuh terpuruk, dan tidak ada tempat untuk ku jadikan tempat berbagi keluh kesah."
"Sekarang aku sadar bahwa yang ku butuhkan adalah sebuah keluarga. Apakah itu salah? Apakah menurutmu aku tidak pantas memiliki keluarga yang hangat dan menyenangkan sepertimu?"
Baekhyun semakin menyempurnakan aksi berbohongnya dengan menundukkan kepala seraya membekap mulut. Menunjukkan gesture seolah ia akan menangis saat itu juga.
Dan sepertinya usaha gadis mungil itu tak sia-sia. Sontak Kyungsoo terkesiap ketika mendapati tubuh Baekhyun yang bergetar. Buru-buru ia dekap tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya. Sedikit ini Kyungsoo telah merasa bersalah kepada Baekhyun.
"Maafkan aku, Baek. Aku tidak bermaksud untuk melukai hatimu."
'Akulah yang seharusnya minta maaf, Kyung.'
"Aku hanya tidak habis pikir. Bagaimana bisa kalian menikah begitu terburu-buru dengan pemberitahuan yang mendadak pula. Bagaimana pun juga kami adalah keluargamu, Baekhyun. Sebelum maupun sesudah kau menikah dengan Chanyeol." Ujar Kyungsoo sambil mengusap usap pelan lengan Baekhyun, mencoba meredakan kegetiran yang dirasakan oleh sepupu iparnya itu.
"Chanyeol memintaku ikut ke Spanyol sebagai istrinya. Dia tidak ingin meninggalkanku sendirian disini."
Kyungsoo menghela nafas menerima alasan yang dilontarkan oleh Baekhyun. Sepupunya itu memang sering berpergian ke luar negeri. Kiprah dari perusahaannya yang melebarkan sayap hingga ke beberapa belahan benua itu mau tidak mau membuat Chanyeol harus sering bolak-balik dalam dan luar negeri.
"Aku bersyukur sepupuku itu memilihmu sebagai pendamping hidupnya." Kyungsoo tersenyum cerah, "Asal kau tau saja, Baek, dia selalu bekerja tanpa henti seperti orang gila yang tak ingat waktu dan tempat. Dengan adanya dirimu paling tidak akan ada yang mengawasi serta menjaganya."
Baekhyun masih bergeming mendengarkan segala curahan hati Kyungsoo tentang Chanyeol.
"Dan aku juga bersyukur karena kau memilih Chanyeol untuk menjadi kepala keluargamu. Aku yakinkan padamu Chanyeol adalah orang yang bertanggung jawab."
"Dia akan selalu melindungi dan menjagamu. Kalian berdua sangat beruntung telah dipertemukan satu sama lain." Kyungsoo tersenyum lebar kepada Baekhyun yang hanya membalas tersenyum miris.
'Semoga keberuntungan yang kau maksud membawa kami ke arah yang benar.'
Baekhyun mencoba untuk mengontrol emosinya. Sebenarnya bagi Baekhyun berbohong adalah salah satu dari sekian juta hal yang masuk ke dalam daftar hal yang ia benci.
Disaat kau mengucapkan satu kebohongan, maka hingga seterusnya kau akan berdusta untuk menutupi kebohongan-kebohongan yang lain. Persepsi itu kurang lebih membuat Baekhyun ingin menjambak rambutnya sendiri karena merasa frustasi dalam merangkai kata-kata untuk meyakinkan lawan bicaranya.
"Hai,"
Tiba-tiba Chanyeol muncul dari balik pintu dengan satu gelas air putih di tangannya. Pandangan pria itu hanya terfokus pada Baekhyun yang kini juga tengah memusatkan perhatian padanya. Di tempatnya berdiri Baekhyun bisa merasakan permintaan maaf yang tersirat jika ditilik dari sorot mata Chanyeol yang begitu kentara.
Sebenarnya sejak beberapa saat yang lalu Chanyeol telah berdiri di balik pintu kamar. Menyadap semua obrolan yang diperbicangkan oleh istri serta sepupunya. Kebohongan yang diungkapkan oleh Baekhyun pun tak luput dari pendengarannya hingga membuat hati Chanyeol sedikit pilu.
Tak ada sedikit pun niat dari hati Chanyeol untuk menyakiti wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu. Chanyeol hanya tak menyangka jika sekarang wanita yang dulunya angkuh itu kini bisa menjadi begitu rapuh. Kedua bola mata sipitnya menatap Chanyeol penuh harap seolah meminta dukungan serta sokongan dari dirinya.
Perlahan Chanyeol berjalan menghampiri kedua wanita yang masih berdiri berhadapan itu.
"Minumlah."
Chanyeol menyodorkan satu gelas air putih yang tadi ia bawa untuk Baekhyun. Tangannya bergerak menangkup pipi Baekhyun, dengan maksud menyalurkan kehangatan di bagian itu yang sudah mengucurkan keringat dingin.
Chanyeol mengambil alih gelas yang sudah tandas isinya dari tangan mungil Baekhyun. Setelahnya ia letakkan benda kaca itu diatas meja nakas terdekat.
Tanpa aba-aba apapun ia giring kepala Baekhyun untuk bersandar di dada bidangnya. Baekhyun yang tak siap oleh aksi Chanyeol barusan hanya mampu terdiam kaku tanpa melakukan perlawanan. Kyungsoo sendiri yang masih berada dalam satu ruangan bersama mereka berdua merasakan keterkejutan yang sama.
Butuh waktu hingga beberapa detik bagi Baekhyun untuk pulih dari rasa keterkejutannya. Setelah berhasil menetralkan degup jantungnya yang berdetak secara kurang ajar Baekhyun membalas pelukan Chanyeol, walaupun dengan gerak yang teramat kaku akhirnya ia berhasil melakukan hal itu.
Baekhyun semakin menelesupkan kepalanya pada pada dada bidang suaminya. Ia hirup dalam-dalam aroma menyegarkan yang menguar dari tubuh Chanyeol untuk melepaskan beban dan tekanan yang melanda dirinya baru saja.
'Kali ini saja, aku sangat membutuhkan ini,' monolog Baekhyun dalam hati.
"Baiklah, aku akan keluar. Aku dan Jongin akan menunggu kalian dibawah." Kyungsoo tersenyum kecil pada pasangan suami istri itu kemudian beranjak keluar dari kamar.
"Tiba-tiba aku ingin dipeluk Jongin," gumam Kyungsoo seorang diri seraya menutup pintu itu secara perlahan.
Chanyeol sendiri kini semakin mengeratkan pelukannya terhadap Baekhyun. Dengan maksud ingin menyalurkan sebuah rasa ketenangan pada istrinya itu.
Bibirnya ia tempelkan pada puncak kepala Baekhyun. Sesekali ia layangkan kecupan-kecupan ringan dengan penuh kelembutan.
"Maafkan aku," bisik Chanyeol lirih namun tetap dapat tertangkap oleh indra pendengaran
Baekhyun.
.
.
Seluruh anggota keluarga dari garis keturunan Park―terkecuali Jongin―telah berkumpul di ruang tamu ketika sepasang suami istri itu tiba. Jaejong yang tengah berbincang-bincang bersama Kyuhyun dan Sungmin pun kini memusatkan perhatiannya pada putra beserta menantunya.
"Oh, sudah siap?"
Chanyeol mendekat pada ibunya yang duduk anggun pada sebuah sofa single, kemudian sedikit menunduk untuk menyamakan posisi tubuhnya dengan ibunya.
"Hem." Chanyeol hanya menganggukkan kepala seraya memamerkan senyum manisnya.
Baekhyun sendiri kini memilih untuk duduk di sofa yang lainnya bersama dengan Kyungsoo. Jongin tak dapat hadir saat itu dikarenakan urusan pekerjaan. Baekhyun mencoba untuk tersenyum senang ketika Kyungsoo merangkul pinggangnya.
"Sampai berapa lama kalian akan singgah di Spanyol?"
Suara berat Kyuhyun yang menyapa gendang telinganya membuat Chanyeol menoleh pada pria paruh baya itu.
"Barangkali sekitar tiga bulan, Paman." Sahut Chanyeol seadanya.
"Whoaa lama sekali kau meninggalkan rumah ini." Itu suara Kyungsoo.
Chanyeol tersenyum maklum. "Bukankah sudah biasa seperti itu? Aku sudah menyerahkan semuanya pada Jiyeon dan maid lainnya."
"Em. Itu tak masalah. Mungkin Ibu juga akan berkunjung kemari untuk beberapa waktu." Timpal Jaejong kemudian.
"Sebenarnya Ibu kurang setuju jika kau membawa Baekhyun ikut serta bersamamu ke Spanyol."
Kalimat yang keluar dari mulut Jaejong baru saja menyebabkan pandangan seluruh orang disana memusatkan perhatian padanya, tak terkecuali Baekhyun. Wanita itu mengerutkan alisnya dalam karena tak mengerti maksud dibalik ucapan ibu mertuanya.
"Jangan salah paham dulu," Jaejong menghela napas, kemudian menatap Chanyeol "Maksud Ibu, kau bisa saja menitipkan Baekhyun pada Ibu. Ibu tak akan keberatan untuk menemaninya disini."
Diam-diam Baekhyun menghembuskan napas lega setelah Jaejong mengklarifikasi maksud dari ucapannya. Pasangan Kyuhyun dan Sungmin pun kini menganggukkan kepala pertanda menyetujui kakak perempuannya.
"Benar, Yeol. Lagipula masih ada kami yang akan menjaga Baekhyun." Imbuh Sungmin.
"Aku juga." Kyungsoo tak mau kalah menunjukkan eksistensinya.
Chanyeol terkekeh setelah itu. "Aku sangat menghargai niat baik kalian. Tapi sayang, Baekhyun benar-benar harus aku culik sekarang." Ujarnya bercanda.
Semua orang tertawa, tapi tidak dengan Baekhyun. Ia hanya diam menyimak seluruh percakapan mereka.
Chanyeol melirik pada arloji yang tersemat di pergelangan tangannya, kemudian memandang seluruh orang disana.
"Ah, sepertinya sudah saatnya kita menuju bandara. Kita harus tiba disana 2 jam sebelum pesawat lepas landas."
"Baiklah kalau begitu." Jaejong berdiri, diikuti yang lainnya.
Kyungsoo memeluk erat tubuh Baekhyun. "Hati-hati, Baek. Kalau ada apa-apa lekas hubungi aku."
"Ndeeee." Sahut Baekhyun dengan nada manja yang membuat Kyungsoo terkekeh geli.
Acara perpisahan itu berakhir setelah seluruh anggota keluarga saling memeluk Chanyeol dan Baekhyun. Sebelum pasangan itu benar-benar keluar dari rumah, Jaejong kembali menghadang Chanyeol dan memeluk putranya itu sekali lagi.
"Ibu titipkan Baekhyun padamu." Bisiknya pelan.
Chanyeol mengangguk-angguk dalam pelukan ibunya. Kemudian ia bersama Baekhyun keluar dari ruangan itu untuk menghampiri supir yang akan mengantarkan mereka menuju bandara.
.
.
Baekhyun terlihat merasakan gugup yang amat kentara ketika wanita itu telah menduduki kursi pesawat. Raut wajahnya tampak tegang dengan telapak tangan yang terkepal kuat.
Bukannya bagaimana. Hal ini karena untuk pertama kalinya ia pergi jauh dari kampung halaman. Jauh dari rumah.
Chanyeol yang baru saja kembali dari toilet memandang lekat seorang pria yang letak tempat duduknya bersebelahan dengan Baekhyun. Lelaki itu tampak memandangi Baekhyun dengan tatapan mesum. Bagaikan seekor predator buas yang siap menerkam mangsanya.
Padahal jika dilihat, Baekhyun hanya berpenampilan sederhana. Wanita itu hanya mengenakan t-shirt longgar dengan model kerah leher yang berbentuk 'V' atau V-neck, dengan balutan cardigan katun berwarna dark brown. Tidak terlalu mengundang birahi, kan?
Wajah cantiknya pun hanya terpoles dengan make up natural. Mungkin yang terlihat menggoda adalah leher jenjang Baekhyun yang kini terpampang dengan nyata dikarenakan kepala wanita itu kini tengah berpaling ke arah kaca pesawat mengamati pemandangan gumpalan-gumpalan berwarna putih yang menyerupai kapas di luar pesawat.
Chanyeol bergegas kembali duduk disamping istrinya. Kemudian menggamit telapak tangan Baekhyun erat. Secara sengaja Chanyeol mengangkat telapak tangan itu untuk memamerkan satu pasang benda bulat keemasan yang terpasang di jari manis mereka masing-masing.
Tatapan matanya berkilat geli ketika memandang pria yang masih saja menatap lapar pada Baekhyun. Dengan memamerkan cincin pernikahan itu seolah Chanyeol ingin menyampaikan 'Dia milikku, bung. Tolong jaga mata liarmu itu.'
Pria yang duduk di seat samping mereka berdua pun buru-buru kembali memfokuskan atensinya pada sebuah koran yang tadinya ia baca. Hal itu tak ayal membuat Chanyeol menyeringai puas karena telah berhasil melindungi istrinya dari incaran pria hidung belang.
"Ada apa, Yeol?" Baekhyun mengernyit menatap Chanyeol yang masih terkekeh geli. Ia pikir suaminya ini sudah gila.
Kemudian pandangannya terlempar pada tangan Chanyeol yang masih menggamit telapak tangannya erat.
"Tidak apa-apa. Aku rasa kau membutuhkan ini sekarang," ujar Chanyeol seraya melirik pada telapak tangan mereka yang saling menggengam.
"Kita akan pulang secepatnya, Baek. Aku janji." Tambahnya setelah terdiam beberapa saat.
Baekhyun hanya menyunggingkan senyum kecil pada Chanyeol. Atensinya kembali ia pusatkan pada pemandangan di luar yang di dominasi oleh warna putih. Mengabaikan Chanyeol yang kini semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Kebisuan masih menyelimuti diantara keduanya ketika tidak ada topik pembicaraan yang mereka temukan.
"Ehem,"
Hingga suara deheman Chanyeol membuyarkan lamunan Baekhyun dan membuat wanita itu memusatkan seluruh perhatiannya pada lelaki bergaris keturunan Park itu.
"Kau haus?" Baekhyun bertanya dengan lugunya.
Chanyeol menggeleng.
"Lalu?"
Lelaki itu mengubah posisi duduknya agak menyamping hingga dapat menyaksikan wajah Baekhyun secara jelas dengan menempelkan tangan yang ia genggam pada pipinya.
"Terimakasih, Baek." Ujar Chanyeol pelan.
Baekhyun menyatukan kedua alis. Gagal paham, "Untuk apa?"
"Karena kau mau menjadi istriku." Sungguh, jawaban Chanyeol barusan membuat Baekhyun semakin tidak mengerti akan sikapnya.
"Tidak perlu seperti itu, Yeol. Justru aku merasa sudah merusak rancangan hidup yang mungkin sudah kau susun untuk masa depanmu kelak," terjadi perubahan yang kentara pada mimik muka Baekhyun,
"Aku tidak tahu akan jadi seperti apa nantinya jika laki-laki yang aku minta untuk menikahiku adalah orang lain. Mungkin mereka akan langsung menendangku begitu saja setelah aku mengaku jika di rahimku telah tumbuh anaknya, terdengar lebih masuk akal, kan?"
"Lagipula, bukankah aku yang memintamu untuk menikahiku? Sudah sepantasnya aku yang berterimakasih padamu." Ujar Baekhyun.
"Emm ya, itu memang benar. Kau yang memintaku untuk menikahimu. Tapi bagaimanapun juga aku memang patut bertanggung jawab atas bayi yang kau kandung."
Chanyeol tersenyum samar,
"Namun sepertinya aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Apa kau benar-benar telah memaafkanku setelah aku mengataimu sekeji tempo hari? Apakah itu sungguh tidak apa-apa bagimu?"
Baekhyun mendengus seraya menahan senyum. "Tidak apa-apa. Mungkin saat itu kau terlampau lelah dengan urusan pekerjaan atau masalah apapun itu yang tidak aku ketahui."
"Ku pikir awalnya kau manusia berhati batu yang tidak akan mengakui kesalahannya," tambah Baekhyun dengan nada dibuat-buat mencemooh.
Chanyeol melotot tidak terima. "Eiyyy, apakah aku terlihat sekejam itu? Kau belum tahu saja jika disini," Chanyeol menunjuk pada ulu hatinya. "Tersimpan jiwa malaikat yang akan membuatmu sepenuhnya tertarik padaku."
Decakan lirih keluar dari tutur sang istri. "Percaya diri sekali."
"Jika aku tidak percaya diri maka aku tidak akan bisa menghadapi seluruh pesaing perusahaanku."
Baekhyun memutar bola matanya lelah. "Ya ya. Sudahlah. Intinya aku sangat berterima kasih kau masih mau menerimaku."
Chanyeol mengangguk, kemudian tersenyum tipis hingga seulas cekungan tunggal timbul di pipinya. Ia giring punggung tangan Baekhyun menuju pada bibirnya. Mengecup permukaan kulit yang halus itu dengan lembut dan penuh kehati-hatian.
Baekhyun pun hanya terdiam membiarkan Chanyeol melanjutkan kegiatannya. Tak bisa ia pungkiri, bahwa perlakuan Chanyeol baru saja menimbulkan sensasi gelenyar aneh yang mengirimkan sinyal ke seluruh sel-sel dan saraf di tubuhnya. Tak terkecuali payudaranya yang terasa membengkak dan menegang karena sensitif.
"Tidurlah. Kau membutuhkan istirahat setelah mengalami semua kejadian yang menguras emosimu hari ini."
Baekhyun menurut. Perlahan ia pejamkan matanya untuk menjemput alam mimpinya. Diikuti dengan Chanyeol yang menyamankan posisi duduknya untuk menyusul Baekhyun.
.
.
Setelah menempuh perjalanan udara selama 3 jam dari Bandar udara Internasional Incheon akhirnya pasangan suami istri itu telah tiba di Brajas Airport, Madrid. Baekhyun yang masih merasa mual dan pusing efek dari jet lag pun memilih untuk menjatuhkan bokongnya pada sebuah kursi tunggu selagi menunggu Chanyeol yang masih sibuk dengan urusan visa mereka.
Pandangan Baekhyun tentu tak hanya terpekur mengamati heels yang ia kenakan. Matanya berpendar ke segala penjuru area dari Bandar udara itu yang mana arsitekturnya di dominasi oleh warna kuning cerah. Yang menarik perhatiannya adalah pylons-pylons―tiang baja berukuran besar sebagai penyangga―yang berwarna warni membentuk sebuah atap bergelombang dengan lapisan bambu yang saling mendukung.
Rasa kagum dan antusias Baekhyun atas arsitektur dari bangunan itu harus terputus ketika seseorang yang duduk di sebelahnya mengajaknya berbicara dengan menggunakan bahasa kebangsaan Spanyol. Baekhyun hanya mampu mengernyitkan dahi, atau sesekali membuka dan menutup mulut tanpa tahu harus menjawab seperti apa karena memang ia tak paham dengan bahasa orang itu.
"Baekhyun!" seru Chanyeol dari bagian pemeriksaan dokumen. Tak lama kemudian lelaki jangkung itu pun berjalan menghampiri Baekhyun.
Ketika telah sampai di hadapan Baekhyun tanpa komando apapun Chanyeol segera menarik lengan wanita itu dan menyeret kopernya secara asal. Bermaksud untuk menjauhi seorang pria tua yang baru saja mendekati Baekhyun. Padahal pria tua yang sempat menegur Baekhyun itu hanya bermaksud untuk mengajak berbincang tanpa niatan buruk sedikitpun. Heh.
Terdengar dengan amat jelas Chanyeol berdecak kesal, ketika mengetahui kenyataan bahwa istrinya menjadi santapan empuk mata liar para kaum adam yang kebetulan sempat berpapasan dengan mereka berdua saat berjalan. Otaknya sudah sibuk malang melintang memikirkan cara bagaimana untuk mengurung istrinya sehingga tidak akan ada lagi mata-mata liar yang memandangnya dengan tatapan sebegitu mesum. Protektif sekali, kan?
"Chanyeol!" Baekhyun berteriak ketika lelaki itu berjalan beberapa langkah di depannya namun tetap belum melepas genggamannya. "Jangan buru-buru! Hey!" semakin keras suara yang ia keluarkan. "Aku memakai high heels jika kau belum buta, ck!" Baekhyun semakin berdecak kesal karena Chanyeol tak menggubris ocehannya.
Merasa terusik oleh segala nyanyian Baekhyun pun akhirnya Chanyeol menolehkan kepalanya ke belakang,
"Siapa suruh kau memakai sepatu setinggi itu. Aku tidak pernah memberitahumu bahwa kita akan pergi ke pesta, kan?" sindir Chanyeol.
"Lalu apa masalahmu!" Serius. Baekhyun tak mengerti dengan perubahan sikap lelaki itu.
Beberapa saat yang lalu ia masih terlihat baik-baik saja bahkan bersikap lemah lembut dan penuh perhatian kepadanya. Dan sekarang disaat tidak ada angin, hujan maupun badai Chanyeol telah bertranformasi menjadi monyet yang menyebalkan.
"Masalahnya kita harus mengejar mobil jemputan yang menunggu sebelum dia meninggalkan kita hanya karena sepatumu yang menyebalkan itu, Baek." Sengit Chanyeol.
Baekhyun menghembuskan napas kasar. Sedikit ini napasnya sudah terasa berat dan tersengal-sengal.
"Mereka akan tetap menunggu. Itu sudah menjadi tugas mereka!" balas Baekhyun tak kalah sengit.
"Aku bukan tipe orang yang suka menyusahkan orang lain." Chanyeol tak henti membalas.
Baekhyun semakin kesal.
"Tapi kau menyusahkanku, idiot!"
Chanyeol melepaskan genggaman tangannya, kemudian ia kibaskan. "Terserahlah. Aku akan jalan duluan."
Lelaki itu benar-benar mengaminkan ucapannya ketika ia berjalan tergesa mendahului Baekhyun yang melotot marah padanya.
"Pergi sana yang jauh! Tinggalkan saja aku bersama sepatuku disini!" Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya pertanda merajuk karena Chanyeol tetap berjalan tanpa menggubrisnya sedikitpun.
"Aww… Sakit…Ish!" ringis Baekhyun kemudian menghentikan hentakan kakinya.
.
.
Dengan langkah yang terseok-seok Baekhyun menghentikan kakinya tepat di hadapan seorang pria bertubuh gempal. Di tangan pria bertubuh gempal itu tergenggam sebuah kertas bertuliskan Mrs. Park untuk memberitahukan bahwa orang itulah yang akan mengantarkan Chanyeol dan Baekhyun menuju apartemennya.
Pria itu langsung menyambar koper yang dibawa oleh Baekhyun untuk ia masukkan ke dalam bagasi mini van-nya. Setelah selesai dengan urusan koper dan semua barang bawaannya Baekhyun langsung masuk ke dalam mini van itu.
Ia menatap kesal pada Chanyeol yang duduk di sudut mobil dengan posisi kepala bersandar pada kaca mobil dengan mata terpejam. Kedua lengan lelaki itu pun ia lingkarkan di depan dada saking merasa lelah.
Baekhyun sengaja mengambil tempat duduk agak menjauh dari Chanyeol. Bermaksud membuat jarak diantara keduanya. Aura kekesalan yang masih terpancar diantara dua orang itu mau tidak mau membuat si sopir mengernyitkan dahi ketika melihat sepasang suami istri itu dari balik kaca spion.
Selama perjalanan tidak ada yang berniat untuk memulai percakapan. Chanyeol masih asik dengan aktivitas tidurnya, sedangkan Baekhyun memilih untuk mengamati pemandangan hiruk pikuk kota Madrid sore hari itu.
Sesekali ada hal yang merampas perhatian wanita itu hingga sulit mengalihkan pandangannya. Salah satunya adalah ketika ia mengamati seorang lelaki bergitar yang mengamen di salah satu emperan toko bersama dengan seorang wanita penari yang menjadi pelengkap dari pertunjukkan tersebut.
Banyak orang yang berkerumun untuk menikmati tarian si gadis muda seraya bertepuk tangan riang. Dari jenis gerakannya, jika Baekhyun tak salah menebak, tarian yang dilakukan oleh wanita itu adalah Tari Flamenco. Yaah, sekedar pengetahuan umum yang ia tahu.
Di tengah perjalanan Baekhyun mulai merasa kelaparan. Dan tiba-tiba perutnya mengumandangkan bunyi berisik yang menyebalkan. Ia lirik Chanyeol yang masih asik memejamkan mata. Baekhyun menggigit bibir bawah, merasa gengsi untuk memulai percakapan terlebih dahulu dengan Chanyeol.
Entah mendapat feeling dari mana, tiba-tiba Chanyeol membuka matanya dan menggerakkan tubuhnya untuk mendekat pada si supir.
"Puede nosotros al restaurante? Esposa hambre." (Bisakah kita berhenti di depan resoran? Istriku lapar.) ujar Chanyeol dalam bahasa Spanyol.
"Sí señor." (Iya, Tuan.)
Chanyeol kembali bersandar di kursinya, dan kembali memejamkan mata tanpa menoleh sedikit pun ke arah Baekhyun.
.
.
Mini van itu pun transit di sebuah bar bernuansa tradisional yang sangat kental yang terletak di pusat kota Madrid, bernama El Neru. Bar tersebut dipenuhi oleh para pelancong yang bersorak kagum ketika melihat para tour guidenya yang mempraktikkan cara menuangkan minuman bernama Sidra.
Pertunjukkan tersebut memang cukup menarik bagi orang awam. Dimana satu tangan yang memegang botol Sidra diangkat setinggi mungkin kemudian minuman itu dituangkan ke dalam gelas yang dipegang tangan lainnya begitu rendah.
Orang-orang kembali bersorak dan tertawa, berbeda dengan kondisi Baekhyun yang hanya duduk canggung di dalam restoran itu. Chanyeol sendiri kini tengah sibuk mengabsen satu persatu menu makanan yang tercantum pada buku menu.
Baekhyun tersenyum tipis pada seorang pelayan pria berambut pirang yang memperkenalkan beberapa menu andalan restoran mereka dengan bahasa Spanyol pada mereka berdua. Baekhyun hanya terdiam, Chanyeol yang mengerti dengan perkataan pelayan itu tampak mengangguk-anggukkan kepala.
"Su orden, Señora?" (Pesanan Anda, Nyonya?)
Baekhyun terperangah, tidak mengerti sedikit pun apa yang dikatakan oleh si pelayan.
"Kau ingin memesan apa?" Chanyeol bertanya pada Baekhyun.
Baekhyun memajukan tubuhnya kemudian menutup sebagian wajahnya dari si pelayan dan berbisik pada Chanyeol,
"Aku sama sekali tidak mengerti isi menunya. Katakan padanya aku pesan apapun yang mengenyangkan."
Chanyeol hanya mendesah melihat mata Baekhyun yang melotot penuh tuntutan. Chanyeol pun kembali menghadap pelayan itu.
"Tortilla de Patatas, El Pistó y Croquetas Una de Las porciones." (Satu porsi Tortilla, Pisto, dan Croquetas)
"Señor bíen." (Baik, Tuan)
Sepeninggal pelayan pria itu keadaan kembali sunyi. Dalam konteks dianta Chanyeol dan Baekhyun saja. Baekhyun mencoba mencari kesibukan dengan membolak-balikkan kain serbet yang ada di depannya, merasa gusar akibat tatapan Chanyeol yang tak pernah lepas darinya.
"Apa lihat-lihat?" Ketus Baekhyun karena sudah merasa tidak tahan.
"Tidak ada." Chanyeol mengedikkan kedua bahunya cuek.
"Kalau begitu, kenapa kau terus melihatku seperti itu?"
"Hanya mencari perubahan pada dirimu. Aku dengar, ketika hamil perut wanita akan membesar." Jawab Chanyeol dengan lugunya.
"Ya, tapi belum untukku. Hal itu akan terjadi saat kehamilan menginjak usia kurang lebih 8 minggu. Itu pun tergantung pada ketebalan kulit perut si ibu."
Chanyeol mengangguk-angguk kecil. "Lalu kehamilanmu sudah berusia berapa minggu?"
"Entahlah." Baekhyun mengedikkan bahu. "Aku sedikit lupa. Mungkin… sekitar lima atau enam minggu." Ujarnya tak yakin.
Bibir Chanyeol membentuk huruf 'o' panjang pertanda mengerti. Matanya masih belum bisa lepas dalam mengawasi perut Baekhyun.
"Bolehkah aku menyentuhnya?"
Belum sempat Baekhyun memprotes, lelaki itu sudah menggeser letak kursinya menuju sisi Baekhyun. Sekonyong-konyong tangan besarnya menyelusup masuk ke dalam t-shirt yang digunakan oleh Baekhyun.
Chanyeol merebahkan jari-jarinya di perut Baekhyun, hingga membuat tubuh Baekhyun mendadak tegang ketika merasakan sentuhan lelaki itu.
"Kenapa aku tidak merasakan apa-apa?"
Baekhyun memutar bola mata. "Belum waktunya, Chanyeol." Ujar wanita itu jengkel. Chanyeol menengadahkan kepalanya untuk menatap mata Baekhyun.
Mereka berdua hanya terdiam saling memandang. Jantung Baekhyun sudah berdetak begitu tak keruan di dalam posisi seperti saat ini.
'Kruyuk'
Namun, suasana yang sudah terbangun senyap itu berubah menjadi ledakan tawa ketika perut Baekhyun kembali berbunyi dengan suara yang bisa dibilang tidak pelan.
"Bwahahaha!" Chanyeol tertawa terpingkal-pingkal hingga membuat Baekhyun cemberut.
Kedua pipi ibu hamil itu terlihat merah padam karena menahan rasa malu. Mulutnya menggerutu sebal merutuki perutnya sendiri yang tidak kenal dengan situasi dan kondisi.
"Aquí está su pedido. Por favor." (Ini pesanan Anda, Tuan. Silahkan.)
Si pelayan datang membawakan beberapa porsi makanan dan minuman sesuai pesanan Chanyeol kemudian pergi meninggalkan meja yang mereka tempati.
Chanyeol menghapus air matanya yang mengalir akibat terlalu banyak tertawa, kemudian mengelus pipi Baekhyun penuh kelembutan.
"Makanlah sebelum bayi kita kembali menghentakkan drumnya."
Dengan tampang malu sekaligus kesal, Baekhyun langsung memasukkan makanan-makanan itu secara ganas ke dalam mulutnya. Mengabaikan Chanyeol yang masih terus menahan senyum karena melihat tingkahnya.
Di sela aktifitasnya menyantap hidangan itu, Chanyeol kembali teringat percakapannya dengan seseorang tempo hari yang membuatnya bertekad untuk membawa Baekhyun terbang bersamanya ke Spanyol.
Flashback
Di tengah perjalanannya menuju kantor Chanyeol menepikan mobilnya di tepi jalan yang berdekatan dengan track yang biasanya digunakan oleh penduduk kota untuk lari pagi. Bukan tanpa alasan Chanyeol melakukan hal itu. Pasalnya semenjak beberapa saat yang lalu ia telah mengintai sosok yang tak asing baginya tengah melakukan gerakan stretching di pinggir taman.
Bergegas ia melepas seat belt yang masih membelit di tubuhnya dan keluar dari mobil. Tungkainya mengalun secara perlahan namun pasti menghampiri sesosok pria yang mengenakan jaket biru dengan bahan parasut untuk melindungi tubuh atletisnya dari sengatan matahari pagi.
Kala itu Sehun tengah membungkukkan badan seraya mengulur-ngulurkan kedua tangannya ke bawah sebagai pemanasan. Sehun menghentikan aktivitasnya setelah netranya menangkap sepasang sepatu pantofel hitam mengkilat berhenti tepat di hadapannya. Ia mendongak dan seketika bertemu pandang dengan mata bulat nan tajam yang menatapnya secara intens.
Kehadiran seniornya yang cukup mendadak membuat pria berkulit pucat itu mengerutkan dahi. Mendung kelam yang sarat oleh banyak pertanyaan terlihat jelas menaungi sepasang alisnya. Untuk apa ia kemari, pikirnya. Ia tegakkan tubuhnya hingga kini kedua pria dewasa itu saling berdiri berhadapan. Keduanya pun saling melempar tatapan mematikan yang mereka punya.
"Ada apa?" Sehun bertanya tanpa basa-basi.
"Aku minta satu hal padamu, dan itu sangatlah mudah."
Sehun menaikkan satu alis, pertanda penasaran dengan permintaan yang akan diajukan oleh Chanyeol.
"Katakan."
"Aku minta kau menjauhi Baekhyun." Tandas Chanyeol tepat pada sasaran.
"Hmpfft―" Sehun membekap mulutnya ketika ia menahan tawa. Dan hal itu kurang lebih sedikit menyulut emosi Chanyeol karena merasa diremehkan.
"Ada yang lucu?"
Sehun segera menghapuskan ekspresi gelinya, kembali pada poker facenya seperti biasa.
"Atas dasar apa kau menyuruhku menjauhi Baekhyun?"
"Karena kau sudah mengganggunya."
"Aku tidak."
"Kau iya."
Sehun memutar bola mata penuh kejengahan. "Katakan, bagian mananya yang bisa dibilang bahwa aku telah mengganggu Baekhyun? Apakah dia merasa terancam oleh kehadiranku saat bersamanya?"
"Baiklah, kau memang tidak mengganggunya. Tapi kau sangat menggangguku."
"Aku tidak pernah menyentuhmu, sunbae."
"Kau menyentuh Baekhyun, dan itu sama saja dengan menyentuhku. Dia adalah istriku, jika kau tidak terkena amnesia." Chanyeol mulai memamerkan seringai kemenangannya. Setidaknya, ia berada satu level diatas Sehun.
Sehun geleng-geleng kepala. "Oh, ya? Tapi sepertinya Baekhyun tampak lebih nyaman bersamaku daripada denganmu. Apakah aku salah?"
Gigi Chanyeol bergemeletuk. Adik tingkatnya semasa kuliah ini memang pandai bersilat lidah. Tak sia-sia Sehun mengambil jurusan hukum. Mungkin itu pula yang membuatnya sukses menjadi pengacara professional yang sudah terkenal pamornya dalam membantu permasalahan yang dihadapi semua clientnya.
"Kau tidak bisa menyimpulkan secepat itu, anak muda," Chanyeol tak gentar untuk terus mengintimidasi Sehun. "Baekhyun hanya belum mengetahui sifat busukmu."
Sehun menyeringai. "Eyy, santai saja bung. Apakah kau takut denganku?"
Karena Chanyeol tak segera menjawabnya, Sehun kembali menambah. "Kau tenang saja, aku hanya berniat menjalin pertemanan dengan Baekhyun."
"Baguslah kalau begitu."
Sedikit ini Chanyeol sudah merasa lega dengan jawaban yang diberikan oleh Sehun. Namun ketika pria berkulit pucat itu mendekat dan berbisik tepat di telinganya, Chanyeol terhenyak dengan emosi yang sudah menuju puncak.
"Tapi jika kau tak bisa menjaganya dengan baik, maka jangan salahkan aku jika suatu saat Baekhyun akan jatuh ke tanganku."
Deg. Sehun menyeringai, Chanyeol terpaku dengan posisi jari yang terkepal erat. Jika sekarang ia berada di dalam ring pertinjuan, barangkali Sehun telah babak belur dihabisi olehnya.
Chanyeol berusaha mengontrol emosinya mengingat saat ini ia berada di depan umum. Tak mungkin ia membunuh Sehun di tempat jika ia tak ingin mencoreng nama baiknya.
Sehun masih tersenyum senang. Dengan mengusap-usap bahu Chanyeol seolah menyingkirkan debu yang menempel di jas pria kantoran itu Sehun kembali berkata,
"Aku tidak bercanda, sunbae."
Setelah itu ia lari begitu saja meninggalkan Chanyeol yang telah mengeluarkan aura kelam dari tubuhnya. Lelaki jangkung itu meninju angin di hadapannya sebagai pelampiasan emosinya.
Namun, satu detik kemudian, Chanyeol menyeringai tak kalah menyeramkan daripada Sehun.
"Aku tidak akan membiarkanmu menjatuhkanku untuk kedua kalinya, Sehun."
Flashback off
"―yeol? Chanyeol?" Baekhyun mengibaskan telapak tangannya di depan wajah lelaki itu yang tampak melamun.
Chanyeol tersentak kemudian menggeleng pelan sebelum menanggapi Baekhyun.
"Ah, ya? Ada apa?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kau hanya diam dan tidak memakan makananmu?"
"Aku sudah kenyang, Baek." Kilah Chanyeol.
Baekhyun mencebik. Kenyang dari mananya? Jika lelaki itu saja baru memasukkan 3 suapan ke dalam mulutnya. Namun, rasa lapar Baekhyun lebih memenangkan perhatian wanita itu daripada rasa pedulinya pada Chanyeol. Tanpa pikir panjang lagi Baekhyun kembali menyantap hidangan di depannya.
Sementara Chanyeol kini meraih gelas minumannya untuk meloloskan ludahnya yang tersangkut di tenggorokan. Tanpa Baekhyun sadari pula, cengkraman tangan Chanyeol pada gelas itu mengerat keras.
.
To Be Continue
[A/N] :
Hallo! Ada yg kangen saya? Nggak? Beneran nggak ada? Yowis aku pulang /angkat kaki/ /kesandung/
Dear teroris yang pada suka ngebom lewat PM, Pc Line bahkan IG minta update nih udah saya jabanin! XD /sosor satu-satu/
Ngomong-ngomong mulai sekarang judul, summary, dan segala unsur/? yang berkaitan tentang info FF ini gaya penulisannya aku buat kaya diatas ya. *Fix ini nggak penting :v*
Eh itu flashbacknya sengaja aku taro di belakang biar greget wkk :v /gananya/ Ini baru pembukaan setelah CB sampe di Spain, jadi belum banyak moment ya. Dan kemaren beberapa kali ada readers yg nanya ini bakalan ada konfliknya atau enggak. Jawabannya ya udah pasti ada wks. Salah satu tersangkanya ya itu /tendang maknae/ Rumah tangga chanbaek tanpa konflik itu nggak syahdu. Mereka kan sering berantem juga kekeke.
Walaupun dedek thehun disini karakternya aku buat amat menyebalkan―kasarnya sebut saja PHO, bukan berarti aku ngasih hint kalo konflik utamanya dari dia lho :v /smirk/ /ditempeleng readers/ Entah konfliknya ringan ato berat siap-siap wae aku bikin serangan jantung ya HAHA! /ketawa setan/ /ditempeleng lagi/
Dan maapin kalo saya updatenya kaya keong, kejedot sama aktivitas di real life itu nggak bisa dihindari lagi, kan? T^T /pinter ngeles/
Last, mau promo FF Yaoi wansut terbaruku judulnya 'Punishment', yg blm baca silahkan serbu dan tinggalkan jejak ya fufufu~
Cukup sekian karena rasanya saya udah banyak cingcong kekeke.
P.S : Update jamaah lagi bareng author senpai lainnya ▶ Baekbychuu, RedApplee, Railash61, Exorado, Baekhyeol, Sigmame, Flameshine, JongTakGu88, Oh Yuri, Cactus93 jangan lupa baca story mereka juga ya!^^
P.S.S : Silent readers apa kabar? :)
Special thanks to :
Dee Stacia ǁ ooh aah umh ooh ahh yeahh ǁ chanbaek00 ǁ fvirliani ǁ enno96 ǁ Byunara ǁ parkobyunxo ǁ Real Paochan ǁ phantom. d'esprit ǁ okkiaines ǁ Yunna Park ǁ panypany ǁ elfviliebe ǁ Fanyssi ǁ parkchanchan ǁ azurradeva ǁ fairylovess ǁ choi96 ǁ narsih. hamdan ǁ ChanBaekGAY ǁ Kimkimkim ǁ Shengmin137 ǁ nabilahsahda ǁ ChanBMine ǁ bebekJail ǁyeolbeeeeee94 ǁ BabyByunie ǁ hunnaxxx ǁ LittleJasmine2 ǁ Keys13th ǁ whey. k ǁ exindira ǁ memel ǁ jdc21 ǁ Meli Channie ǁ parkbyunCBKHKHnHS ǁ yasminrizqia ǁ Nevan296 ǁ mrsbunnybyun ǁ yousee ǁ kajedetroll ǁ diauthie ǁ rly ǁ Guest(1) ǁ Chanbaekhunlove ǁ yeolshii ǁ wu6hun ǁ gspghea ǁ RufEXO ǁ pcyyeoja ǁ PeppermintSugar ǁ Luhanssi ǁ Adorahttr ǁ HuffleZiy ǁ rizkaa ǁ shellapcys18 ǁ ieznha. asmaulhaq ǁ devitailz ǁ Maksute925 ǁ restuuexcbyn ǁ yeollo ǁ ColdThunderxx ǁ FearlessDelight614 ǁ Guest(2) ǁ ExChan ǁ iwinnmagnaemochi ǁ sebeyeolxo ǁ ByunJaehyunee ǁ Byun Sehyun ǁ NaomiRB ǁ sugar9um ǁ Guest(3) ǁ Guest(4) ǁ silvamiac28 ǁ anaknyachanbaek
Mohon maaf kalau ada salah pengetikan nama
With Love,
-Byun Min Hwa-
