Don't like, don't read, u can click "back" icon if u don't like this fanfic
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning!
Sekali lagi saya ingatkan kalau tokoh dalam fic ini OOC dan sarat dengan misstypo -_-
She is Mine
© Yoruichi Shihouin Kuchiki
Kaki jenjang gadis bersurai merah muda itu bergerak cepat di sepanjang koridor sekolahnya. Wajah yang biasanya terlihat begitu manis itu sekarang berubah masam. Tak ayal, hal itu membuat puluhan mata memandangnya dengan perasaan heran. Ditambah lagi, dengan kehadiran seorang pemuda raven yang sedaritadi tampak mengekori gadis musim semi itu.
Pemuda yang notabennya merupakan tunangan Sakura—dengan santai mengikuti kemana kaki gadisnya itu melangkah. Plus gaya khasnya, kedua tangan di dalam saku, tatapan mata tajam bak elang dan langkah santai namun tetap bisa mengimbangi langkah cepat gadis di depannya.
Merasa jengkel terus-menerus diikuti, Sakura berhenti mendadak—membuat sang raven mau tidak mau juga ikut menghentikan langkahnya. Gadis itu menoleh cepat dengan raut wajah jengkel yang sama sekali tidak bisa ditutupi, "Berhenti mengikutiku, Sasuke!"
"Hn..." Sasuke hanya merespon santai.
"Jangan terus-terusan mengikutiku!" bentak Sakura dengan nada nyaring.
"Kalau begitu, berhenti juga bersikap seperti ini padaku," respon Sasuke cepat dan tak mau kalah.
Perempatan siku-siku kembali muncul di dahi lebar Sakura. Gadis itu sekarang sedang setengah mati menahan rasa kesalnya, "Terserah! Ikuti saja terus sampai kau capek!" Sakura langsung melengos.
Sasuke mengangkat bahunya dan menyeringai tipis dan tentu saja tidak terlihat oleh Sakura, "Baiklah kalau itu maumu—"
Bibir Sakura tampak menyunggingkan senyum kemenangan ketika ia mengira pemuda itu menuruti keinginannya. Namun ternyata—
"Karena aku tidak akan pernah lelah untuk mengikutimu." Sasuke melanjutkan potongan kalimatnya yang memang masih menggantung.
Sakura mendelik Sasuke tajam dan malah mendapati seringai khas pemuda itu terpatri jelas di wajah tampannya. Sakura sudah kehabisan kata dan cara untuk membuat pemuda itu menjauh darinya atau setidaknya berhenti untuk mengekorinya. Memang, bisa dibilang gadis musim semi itu sedang sedikit kesal pada Sasuke. Kalau ditanya penyebabnya apa, hanya ada satu jawaban ajaib yang tidak pernah muncul atau bahkan terlintas sebelumnya. Cemburu? Ya! Untuk yang pertama kalinya, satu kata itu berhasil mengacaukan dan meruntuhkan semua pertahanan putri bungsu bermarga Hatake itu.
Lupakan tentang cemburu. Sekarang ini Sakura memang sedang jengkel-jengkelnya dengan pemuda pantat ayam itu. Pasalnya beberapa hari yang lalu terang-terangan Sasuke kepergok sedang jalan berdua dengan Karin. Hei tunggu! Itu sama saja kembali dengan bahasan awal 'kan? Lagi-lagi ce-m-bu-ru.
Sudahlah! Selain itu apa si pantat ayam itu tidak bisa berhenti mengikutinya sejak satu jam yang lalu? Gadis itu risih dengan kehadiran Sasuke yang terus-terusan mengekor di belakangnya. Sayang seribu sayang ketiga kakak-kakak kerennya juga tidak terlihat sejak tadi. Terpaksa Sakura harus meladeni sendirian ketidakwarasan pemuda di belakangnya itu. Sakura terus merutuki ketiga kakaknya yang malah tidak ada di saat-saat genting seperti ini. Seandainya saja Neji atau kakak kembarnya itu tiba-tiba muncul, habis sudah si Uchiha muda itu!
Barulah Sakura hendak menarik pintu geser kelasnya ketika suara yang tidak kalah cempreng darinya kembali ia dengar—
"Sasukeeeee..."
Dan bahkan orang itu kini muncul lagi di depan matanya. Dengan rok pendek di atas lutut yang berkibar-kibar ketika kakinya berlari menghampiri Sasuke sambil melambaikan sebelah tangannya. Serta seragam sekolah Akademi Konoha yang super ketat menampilkan lekukan tubuh indahnya. Dan—hei tunggu dulu! Seragam Akademi Konoha? Sejak kapan orang itu juga memakai seragam yang sama dengan Sakura dan Sasuke.
"Sasuke, akhirnya kita bertemu lagi.." sapa Karin dengan ekspresi genit yang menjadi khasnya.
Raut wajah Sasuke yang semula datar langsung berubah masam melihat kehadiran Karin. Begitu pula dengan wajah Sakura yang tak kalah masamnya.
"Apa yang kau lakukan disini, Karin?" tanya Sasuke sarkastik. "Selain itu darimana kau dapatkan seragam itu, hah?" Sasuke menunjuk seragam sekolahnya yang juga Karin kenakan sekarang.
"Santai saja, Sasuke. Kau tidak perlu marah-marah begitu. Apa begini sambutanmu tiap bertemu denganku?" Karin menyilangkan kedua tangan di depan dada memalingkan wajahnya dan membuat kerucutan di bibir seksinya.
Ingin sekali rasanya Sakura langsung masuk ke dalam kelas dan tidak menonton acara reuni keduanya. Namun niat itu ia urungkan karena Sakura sendiri juga penasaran kenapa Karin bisa ada di sekolahnya. Terlebih lagi dengan seragam yang ia kenakan.
Sasuke menatap bola mata ruby itu horror. "Aku sudah memperingatimu untuk pulang 'kan? Jangan campuri urusanku dan segera kembali ke Amerika!" ucap Sasuke sadis dan penuh penekanan.
Kali ini gantian Karin yang menatap Sasuke dengan tatapan tidak suka. "Aku tidak mau! Dan menolaknya mentah-mentah!" bantahnya kasar.
Alis Sasuke semakin bertaut, perempatan siku-siku sudah muncul di dahinya. Ia sudah cukup menahan kesal pada gadis berambut merah menyala itu. Sejak kedatangannya hubungan Sasuke dan Sakura semakin buruk bahkan hampir tiap hari Sakura selalu mengomel tidak jelas padanya dan sekarang gadis yang juga merupakan tunangannya itu sudah tiga hari diam membisu membuat Sasuke semakin gundah gulana. Pasalnya Sasuke sendiri tidak sadar dengan kesalahannya. Memang pada dasarnya keturunan Uchiha itu berharga diri tinggi, egois dan gengsi selangit.
"Kubilang pulang, Karin!" bentak Sasuke.
"Dan kubilang juga aku tidak mau, Sasuke!" timpal Karin tak kalah sengit.
"Kalau begitu akan kuminta kak Itachi untuk mengembalikanmu ke Amerika secara paksa!"
"Hahaha... Itu tidak mungkin Sasuke beib, kak Itachi tidak akan setega itu padaku." Karin tertawa nista.
"Siapa bilang? Apa yang tidak bisa dilakukan seorang Sasuke Uchiha untuk mendapatkan apa yang dia mau." Sasuke tetap kukuh.
Sementara Karin juga tetap ngotot, "Dan seorang Karin juga bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginannya."
Sementara Sakura hanya bisa sweatdrop menonton adegan adu mulut dua anak manusia berbeda gender itu. Sakura menghela napas panjang sebelum akhirnya mencoba ikut masuk ke dalam pertengkaran sengit mereka. "Anu—ngomong-ngomong Karin, bagaimana kau bisa ada disini dan memakai seragam Akademi Konoha?" tanya Sakura ragu.
Karin menoleh ke arah Sakura dengan tampang judesnya. Matanya terlihat begitu sinis. Ia menaikkan kerah bajunya seolah mau berlagak. "Tentu saja karena mulai hari ini Namikaze Karin resmi menjadi siswi Akademi Konoha," jawab Karin santai.
Sasuke dan Sakura terbelalak kaget mendengarnya. Sedangkan senyum kemenangan terkembang dari sudut-sudut bibir Karin.
Oh, Tuhan! Musibah apa lagi yang akan menimpa mereka berdua setelah ini?
oOo
"Karin Namikaze, kalian semua bisa memanggilku Karin." Tampak seorang gadis berambut merah menyala berdiri di depan kelas dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Seisi kelas tercengang dengan kehadiran si murid baru tersebut. Bahkan para siswa berdecak kagum melihat gadis di depan mereka. Ketimpa duren runtuh ini namanya, batin mereka semua. Baru beberapa bulan yang lalu kehadiran Sasuke sudah cukup membuat heboh dan geger satu kelas bahkan hingga satu sekolah. Pasalnya bukan hanya karena kepopuleran pemuda itu langsung melejit naik hampir mengalahkan ketiga kakak Sakura semenjak kemunculannya, tapi juga ia berani dengan terang-terangan mengumumkan kalau Sakura itu tunangannya di sesi perkenalan dirinya. Bak angin yang berhembus, berita itu pun langsung merebak ke seluruh sekolah bahkan menjadi berita paling santer dan menempati peringkat teratas di buletin sekolah.
Dan hal itu praktis membuat patah hati ratusan umat yang mengantri untuk menjadi kekasih Sakura—gadis yang dikenal paling banyak disukai oleh warga laki-laki Akademi Konoha. Sebelum ada Sasuke pun mereka harus bersusah payah, bahkan kadang babak belur demi mendekati Sakura yang dijaga ketat oleh ketiga kakaknya yang mengidap sister-complex akut dan sekarang ditambah dengan kehadiran Sasuke Uchiha yang berstatus sebagai tunangan gadis itu yang tidak kalah keren dari ketiga kakaknya membuat persentase untuk menjadikan Sakura sebagai milik salah satu dari mereka menjadi hampir 0%. Perjalanan cinta itu memang berat dan butuh perjuangan. Itu yang hampir setiap hari mereka eluhkan.
Tapi tampaknya secercah harapan itu kembali bersinar ketika Karin datang sebagai murid baru yang lumayan mempesona. Cukup untuk membuat para jomblo-jomblowan di kelas Sakura melupakan sejenak cemooh dan eluhan mereka.
"Alasanku jauh-jauh pindah kesini dari Amerika karena aku bertemu dengan pangeranku di sekolah ini..." Karin menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dan mengatakannya dengan mata berbinar.
JGEEEERRR
Bagai petir menyambar di siang bolong. Hati para murid lelaki yang ada di kelas itu kecuali Sasuke dan beberapa temannya yang tidak single seperti tertancap pisau kemudian diiris-iris menjadi serpihan kecil.
Ini penolakan. Sungguh penolakan besar. Bahkan jauh sebelum mereka sempat mengutarakan perasaan mereka. Tapi beberapa saat kemudian ekspresi mereka kembali berubah. Ada yang mesem-mesem sendiri tapi ada pula yang masih menekuk mukanya—kecewa. Sebagian yang punya kepercayaan diri tinggi atau mungkin lebih tepat tidak tahu diri malah mengandai-andai di lamunan mereka masing-masing kalau pangeran yang dikatakan Karin adalah salah satu dari mereka. Gadis itu bilang di sekolah ini 'kan? Berarti masih ada kesempatan. Yah, walaupun tidak akan lebih dari 1%.
Sakura mendengus sebal diam-diam. Ia berpikir kalau pangeran yang dimaksud Karin adalah Sasuke. Ya, sejak awal Karin juga datang ke Jepang karena Sasuke. Jadi tidak menutup kemungkinan. Lagipula untuk apa dia harus repot-repot pindah sekolah kalau bukan karena Sasuke. Yang Sakura tahu, Karin juga nampaknya belum mengenal siapapun disini selain dirinya dan Sasuke—juga mungkin keluarga pemuda itu.
"Pangeranku itu..." Karin memicingkan matanya ke sembarang arah. Rona merah mulai menjalar di pipnya. Suasana kelas tiba-tiba berubah senyap. Semuanya menunggu kalimat lanjutan dari bibir gadis cantik itu. Entah sejak kapan sesi perkenalan ini malah berubah menjadi ajang curhat umum bahkan wali kelas mereka—Maito Guy, ikut nimbrung memperhatikan dengan seksama curhatan cinta murid barunya ini. "Memiliki rambut merah menyala sama sepertiku," lanjutnya sambil menggerakkan tangannya membentuk lengkungan di atas kepala.
Kalah telak. Tidak ada satupun dari mereka yang memiliki warna rambut senyentrik itu.
Sakura yang daritadi tidak acuh langsung menatap iris ruby gadis bermarga Namikaze itu. Rambut merah? Pikirnya. Setahu Sakura di Akademi Konoha ini tidak ada lagi siswa berambut merah selain—
"Hei, jangan-jangan..." Sasuke tiba-tiba berbisik membuat Sakura terpaksa menoleh ke arahnya. Ino yang duduk di samping kiri Sakura juga menolehkan kepalanya—ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Sakura kembali memandang Karin. Ia diam, mengelus dagunya dan nampak berpikir. Perasaannya tidak enak.
oOo
Sakura menyedot sekotak kecil susu coklatnya. Ia duduk bersandar di bangku kantin sekolah dengan kaki kanan disilang di atas kaki kirinya. Di seberangnya nampak Ino juga sedang asyik menikmati roti isi kesukaannya dengan lahap.
"Sasuke mana?" tanya Ino memulai pembicaraan.
Sakura mengangkat bahunya, bersikap tak peduli dan lebih memilih untuk terus meminum susu kotaknya hingga kempot.
Ino menghela napas pelan, "Kalian masih bertengkar?"
"Tidak juga," jawab Sakura singkat.
Ino memasukkan potongan roti terakhirnya ke dalam mulut. "Lalu?"
Sakura meletakkan dengan kasar kotak susu kosong tersebut di atas meja kantin, "Maksudmu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Kau masih cemburu pada teman lamanya itu—Karin?" tanya Ino agak ragu-ragu.
"Tidak kok. Lagipula kepindahannya kesini bukan karena Sasuke." Tanpa sadar Sakura menjawab seperti itu. Ino yang mendengarnya pun menyeringai.
"Ciee, jadi karena itu sudah tidak bertengkar lagi?" goda Ino.
Semburat merah mulai menjalar pipi ranum Sakura. "Enak saja!" Ia berusaha mengelak tapi itu malah membuat Ino tertawa terpingkal-pingkal.
"Dan ngomong-ngomong kalau yang dikatakan Karin tadi benar..." Ino memangku dagunya dengan kedua tangan dan berubah serius menatap emerald Sakura. Sakura balik menatap iris aquamarine gadis itu. "Jangan-jangan..."
"Sakura!"
Keduanya batal melanjutkan kalimat mereka yang masih menggantung dan menoleh ke sumber suara.
"Kak Sasori, Kak Gaara..."
Sasori menghampiri meja adiknya lalu mengambil kotak susu yang ada di meja tersebut, "Tumben kau tidak bersama si pantat ayam itu." Ia mengocok kotak susu tersebut—memastikan masih ada isinya atau tidak. "Ah, sudah habis..." gumamnya sambil melempar kotak itu ke keranjang sampah di dekatnya.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak bersama Sasuke?" Sakura balik tanya.
Sasori memindahkan kedua tangannya ke belakang kepala. "Itu lebih bagus, dengan begitu tidak ada yang bisa mengganggumu." Kakak kembarnya itu kemudian tertawa terbahak-bahak sendiri padahal ia sedang tidak mengguraukan sebuah lelucon atau yang lainnya. Sakura, Ino dan Gaara hanya menghela napas melihat tingkah Sasori.
"Ah Sakura, kak Neji bilang tadi kalau dia masih ada urusan sepulang sekolah nanti. Jadi kau harus pulang duluan dengan kami," imbuh Gaara.
"Aaa..." Sakura mengangguk mengerti.
"Ah, sayang sekali. Tidak bisa pulang bareng dengan Sasuke kalau begitu 'kan?" sahut Ino menggoda Sakura. Ia memain-mainkan sebelah alisnya genit dan berhasil mendapat tatapan horor dari kedua kakak kembar Sakura.
"Ino!" bentak Sakura.
Gadis barbie itu menyadari ucapannya dan buru-buru mengelak, "Ah, t—tidak kok Kak Sasori, Kak Gaara. Tenang saja..." lanjutnya sambil tertawa dibuat-buat dengan kedua telapak tangan yang ia goyang-goyangkan di depan wajah.
"Jangan macam-macam ya, Sakura! Kau harus pulang bersama kami nanti," ancam Sasori dengan tatapan horornya.
Sakura mendengus sebal dan menatap malas sepasang iris hazel kakaknya, "Iya Kakak. Kau tenang saja," jawab gadis itu sedikit kesal.
"Kami akan menjemputmu ke kelas nanti." Sasori membalikkan badan dan melangkah menjauhi adiknya itu.
"Kami kembali ke kelas dulu." Gaara mengelus pelan pucuk kepala Sakura membuat wajah gadis itu sedikit bersemu. Perlakuan inilah yang paling ia sukai dari Gaara tidak seperti Sasori yang notabennya kasar. Walaupun Sakura tahu kalau Sasori juga tidak kalah sayang kepadanya.
Sakura tersenyum dan mengangguk kemudian menatap punggung kedua kakaknya yang semakin menjauh.
"Senangnya..."
Sakura menoleh—Ino sedang mengamati adegan romantis kakak-adik itu sambil menopang dagunya. Wajahnya ia tekuk, bibirnya pun mengerucut—iri.
"Maksudmu?" tanya Sakura bingung.
Ino menghela napas panjang kemudian menyenderkan tubuhnya di bangku. "Memiliki kakak yang super keren, baik dan perhatian seperti mereka. Kau itu sangat beruntung, Sakura. Tidak semua orang bisa bernasib sama sepertimu..." gumam gadis ponytail itu. Ia kemudian mengaduk-aduk orange juicenya dengan sedotan.
"Kau berpikir begitu karena kau tidak merasakannya, Ino." Sakura mengangkat bahunya dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Ya, karena kau yang merasakannya," timpal Ino cepat.
Suara decitan sepatu tiba-tiba terdengar menggemuruh di antara suara riuh siswa-siswi lainnya di kantin itu. Suara gesekan antara sepatu dengan lantainya itu terdengar semkin jelas dan dekat. Bahkan kali ini umpatan-umpatan kecil keluar dari beberapa mulut siswa yang ada disana. Suara itu kian jelas dan dekat. Hingga akhirnya—
BRAAAKKK
Sakura dan Ino sontak kaget ketika seseorang menggebrak kasar meja mereka secara tiba-tiba. Keduanya menoleh secara bersamaan.
"Jelaskan!"
Dua pasang viridian itu kini membulat sempurna. Murid baru itu datang menghampiri mereka tiba-tiba. Sakura dan Ino tahu dia habis berlari-lari tadi, terlihat dari keringat yang menetes dari ujung pelipisnya.
"Jelaskan bagaimana kau bisa mengenal pangeranku, Sakura Hatake!" pekik Karin. Sorotan matanya nampak tajam.
Sakura dan Ino bergeming, kemudian keduanya saling pandang. Tak kalah terkejut dengan Karin.
oOo
"Jadi pangeran berambut merah yang dimaksud Karin itu adalah kak Gaara?" Sasuke masih tidak percaya.
Sakura mengangguk pelan. Kini keduanya sedang duduk berhadapan di dalam kelas. Guru yang mengajar pelajaran selanjutnya masih belum datang sehingga mereka punya kesempatan untuk mengobrol sebentar.
Sakura menghela napas panjang kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja Sasuke, "Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa?"
Sasuke melirik sekilas ke tempat duduk Karin kemudian pintu kelas mereka, memastikan kalau orang yang sedang mereka bicarakan tidak ada disini. "Apa mereka sebelumnya sudah pernah bertemu?"
"Tidak tahu. Kak Gaara tidak pernah cerita kepadaku," jawab Sakura pelan.
Sasuke menghela napas berat kemudian bergumam, "Dia masih belum berubah."
Sakura menoleh kepada pemuda itu, alisnya mengkerut, "Maksudnya?"
"Karin memang begitu. Dulu juga seperti ini saat masih gencar-gencarnya mengejarku." Sasuke menyenderkan badannya di tempat duduk lalu melipat kedua tangannya. Sakura membangunkan kepalanya kemudian menelengkannya—pertanda bahwa ia tidak mengerti.
"Pertama kali aku bertemu dengan Karin saat kelas 2 SMP dan saat itu aku sekelas dengannya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertarik padaku dan secara tiba-tiba langsung menyatakan cintanya kepadaku di pertemuan pertama kami."
Refleks, Sakura memajukan wajahnya tepat di depan wajah Sasuke sampai-sampai ia mengangkat setengah badannya. Emeraldnya makin membulat. Ia terbelalak, "Menyatakan cinta kepadamu di pertemuan pertama?" tanyanya sekali lagi, memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.
Sasuke memejamkan matanya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Lalu kau jawab apa?" tanya Sakura penasaran dengan cerita Sasuke.
Pemuda itu membuka matanya, "Tentu saja kutolak mentah-mentah di depan kelas," jawabnya datar tanpa ekspresi sedikit pun. Malahan raut wajah Sasuke saat itu terlihat begitu angkuh dan bangga akan perbuatan masa lalunya itu.
"APA?! Kau ini makhluk kejam!" protes Sakura tidak terima. Sakura tidak habis pikir bagaimana bisa pemuda itu berkata dan bersikap seperti itu tanpa ada raut bersalah sama sekali dari wajahnya. Seolah-olah dia tidak pernah menyesali atas apa yang telah diperbuatnya itu. Hei! Bukankah itu sama saja kau mempermalukan seseorang di depan umum tuan Uchiha?
"Kau belum tahu bagaimana kelanjutan ceritanya tahu!" imbuh Sasuke cepat membuat Sakura spontan langsung terdiam.
"Dia itu gadis yang pantang menyerah dan tak kenal kapok..." ada nada frustasi yang terselip di tengah-tengah ucapan Sasuke. Sakura kembali memasang telinganya dan kembali mendengarkan cerita Sasuke. "Keesokan harinya dia malah semakin medekatiku bahkan terus-terusan mengatakan 'Aku cinta Sasuke-beib' berulang kali di depan teman-teman sekelas hampir setiap menit. Hal itu membuat teman-teman sekelasku menjadi ngeri padaku dan malah ikut-ikutan menjauhiku," lanjut Sasuke penuh dengan penghayatan membuat wajahnya malah terlihat depresi sendiri. Sakura menatap lurus pemuda itu.
Sasuke diam sejenak untuk menarik napas kemudian melanjutkan kembali ceritanya, "Bahkan Karin dengan berani membuntutiku sampai ke rumah dan masuk ke dalam. Parahnya lagi, ayah, ibu serta kak Itachi sialan itu malah dengan senang hati menyuruhnya masuk dan seenak jidatnya memaki-makiku yang sempat mengusirnya pulang." Sasuke memijit-mijit keningnya yang entah kenapa tiba-tiba terasa sakit.
"Lalu?" Sakura makin penasaran.
Sasuke berhenti memijit keningnya, "Kak Itachi sialan itu malah akrab dengan Karin dan jadilah aku bulan-bulanan mereka berdua."
Tiba-tiba Sakura merinding sendiri mendengarkan cerita Sasuke, "Karin mengerikan..." gumamnya pelan.
"Begitulah..." timpal Sasuke singkat.
Sakura menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Jadi selama ini dia terus-terusan mengejarmu?"
"Tidak. Dia pernah berhenti mengejarku selama kurang lebih satu bulan," sanggah Sasuke.
"Eh? Benarkah?"
Sasuke mengangguk, "Ya, waktu itu dia sempat naksir dengan teman lesnya dan beralih mengejar pemuda itu." Sasuke kemudian tersenyum miring, "Tapi dia ditolak lagi."
"Aaa, kasihan sekali Karin..." raut muka Sakura berubah menjadi iba.
"Ya, dia sempat patah hati dan murung karena kembali ditolak." Jeda sejenak. "Tapi keesokan harinya dia kembali lagi mengejar-ngejarku. Seolah peristiwa kemarin itu tidak pernah terjadi di dalam hidupnya." Sasuke tertawa hambar.
Mendengar penuturan Sasuke, gadis musim semi itu hanya bisa sweatdrop. Ia tak habis pikir kalau Karin adalah tipe orang yang seperti itu. Yang Sakura pikirkan sekarang adalah Gaara. Bagaimana kalau nantinya Karin mendekati Gaara seperti yang dulu pernah ia lakukan pada Sasuke. Tentu saja sebagai seorang adik, Sakura tidak rela kalau sampai kakak kesayangannya itu yang menjadi korban. Terlebih Gaara itu masih polos dan cuek terhadap masalah perempuan apalagi percintaan. Bisa-bisa itu malah membuat Karin semakin leluasa untuk melakukan sesuatu pada Gaara.
Pikiran-pikiran negatif mulai membayangi pikiran Sakura. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menepis semua prasangka buruk.
"Kau tenang saja." Sasuke memandang datar tunangannya itu.
Gadis itu pun tersadar dari lamunannya. "Hah? Maksudmu?"
"Selama ini Karin hanya kesepian. Dia itu anak tunggal, kedua orangtuanya sibuk bekerja hampir tidak pernah berkumpul sebagai satu keluarga. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Kalau dipikir-pikir wajar saja dia jadi seperti itu." Sasuke memindahkan kedua tangannya ke belakang kepala.
Pemuda itu mendengus kecil kemudian memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, menatap dedaunan yang gugur dari batangnya, "Walau begitu Karin itu gadis baik, ia hanya sedikit kesepian." Tanpa sadar Sasuke tersenyum tipis membuat Sakura sedikit tercengang.
Entah kenapa hatinya sedikit berdenyut tapi perasaannya tetap senang. Sasuke begitu mengenal Karin bahkan sangat mengerti gadis itu. Selama ini Sasuke memang menolak Karin tapi ia sama sekali tidak pernah keberatan gadis itu terus-terusan menempel padanya. Pemuda itu bukannya tidak peduli pada Karin. Ia hanya bersikap seakan-akan tidak peduli padanya namun selalu mengawasi dan menjadi sandaran gadis itu. Sebab Sasuke sadar, gadis itu sebenarnya rapuh—terlalu rapuh.
oOo
TEEENGG TEEENGG TEEENGG
Dentang bel yang berbunyi menandakan telah usainya seluruh pelajaran di hari itu. Seluruh murid yang tadinya sibuk belajar kini beralih memasukkan semua buku-buku dan peralatan tulis mereka ke dalam tasnya masing-masing.
"Baiklah anak-anak, kita ketemu lagi minggu depan dan jangan lupa kerjakan tugas kalian." Lelaki berambut lurus sebahu dengan perawakan kecil itu membereskan buku-bukunya.
"Baik, Pak Kimimaro!" jawab para murid serentak.
Lelaki itu tersenyum tipis kemudian keluar meninggalkan kelas tersebut. Tak lama berselang, murid-murid yang lainnya juga keluar dari kelas. Membuat suasana di kelas itu semakin sepi dan hanya menyisakan beberapa orang saja.
Sakura semdiri masih sibuk membereskan buku-bukunya yang berserakan. Lagipula ia masih harus menunggu kedua kakaknya yang akan menjemput gadis itu ke kelas. Yang Sakura harapkan saat ini kakaknya Gaara tidak juga ikut-ikutan ke kelas agar tidak bertemu dengan Karin. Tapi itu tidak mungkin, kedua kembar itu selalu bersama-sama.
SRAAAKK
Terdengar suara pintu kelas itu digeser dengan kasar. Tak lama kemudian dua kepala merah menyembul dari balik pintu geser tadi. "Ayo pulang, Sakura," ajak Sasori tanpa basa-basi sama sekali.
"Ah, i—"
"Pangeranku..."
Buku-buku yang ada di genggaman gadis berambut merah itu langsung terjatuh. Matanya berbinar, senyumnya begitu merekah, tatapannya hanya tertuju pada satu orang. Salah satu diantara kedua pemuda berambut merah menyala sama sepertinya.
"Eh?" Sasori dan Gaara menatap gadis itu bersamaan—bingung.
"KYAAAA! PANGERANKUUU!" Gadis itu—Karin, langsung menghambur ke orang yang ia panggil 'pangeran' itu sampai-sampai pemuda itu hampir terjatuh kalau ia tidak bisa menahan bebannya sendiri dan gadis tersebut.
Sakura menepuk jidatnya, Sasuke mendengus pasrah, Ino melongo, Sasori kaget bukan main, terlebih lagi si korbannya—Gaara yang tampak kebingungan dengan perlakuan Karin.
Gadis itu mengeratkan pelukannya seakan-akan Gaara itu adalah guling yang bisa ia peluk semaunya, "Aaa, pangeranku akhirnya ketemu juga. Aku sudah lama sekali mencarimu dan akhirnya kita bertemu, aku sangat senang sekali," ucapnya sambil tetap memeluk Gaara.
Gaara tidak membalas pelukan Karin. Ia justru mengernyit bingung dan tidak mengerti sama sekali. Yang ada dipikirannya malah Karin adalah gadis tidak waras yang tiba-tiba mengclaimnya sebagai seorang pangeran. Hei! Gaara bukan pangeranmu!
Gaara melepaskan pelukan Karin, menjauhkan gadis itu dari tubuhnya kemudian menatapnya datar, "Maaf, aku tidak mengerti maksudmu, Nona," ucapnya sopan.
"Ini aku! Aku! Kau tidak ingat aku?" Seolah tidak mau menyerah Karin masih tetap ngotot pada Gaara.
Si kembar bungsu Hatake semakin mengernyit bingung, "Siapa?"
Karin meletakkan tangan kanannya di depan dada, "Apa kau benar-benar tak ingat? Sore itu aku tak sengaja menabrakmu di depang gerbang sekolah ini lalu kau menolongku," jelas Karin. Wajahnya tampak memelas, entah itu memang sudah bakatnya atau apa. Tapi Karin saat ini memang sungguh-sungguh berharap Gaara mengingatnya.
Gaara terdiam sejenak, nampak berpikir dan mencoba mengingat-ingat. Ya, pada dasarnya Gaara memang tidak terlalu peduli dan memperhatikan lingkungan sekitarnya atau detil-detil kejadian yang pernah ia alami.
Pemuda berambut merah itu mengelus-elus dagunya, berusaha keras untuk mengingat Karin.
1 menit.
2 menit.
5 menit.
Semuanya pun ikut hening menunggu jawaban Gaara sambil berharap-harap cemas.
"Aaa..." Ekspresi itu nampak begitu meyakinkan, membuat mereka semua kembali memasang mata dan telinganya.
"Kau mengecat rambutmu sama sepertiku agar kita juga kembar ya?" jawabnya datar kemudian.
Oh my Gaara! Kau bahkan menipu mereka semua dengan ekspresi kelewat polosmu itu! Baik Sakura, Sasori, Sasuke atau Ino todak berkomentar banyak menanggapi jawaban konyol kakaknya itu.
"Kau ini bagaimana sih Gaara! Memangnya dimana kau bertemu dengan gadis itu, hah?" Sasori mengguncang-guncang tubuh adiknya—sebal. Bagaimana tidak? Sasori iri karena seumur hidupnya ia tidak pernah didatangi oleh gadis cantik yang tiba-tiba langsung memeluknya dan mengakui perasaannya. Sasori tidak terima! Apalagi kalau ia harus kalah soal perempuan dengan adiknya yang bahkan sama sekali tidak mengerti urusan percintaan.
Gaara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil menggulirkan iris jadenya ke sembarang arah. "Mana aku tahu, aku benar-benar lupa. Lagipula banyak sekali orang yang sering aku tabrak di depan gerbang sekolah," jawabnya polos.
"Kau ini kelewat polos atau bagaimana sih sebenarnya, hah?" Sasori makin kuat mengguncang-guncang tubuh adiknya karena geram.
"Kak Sasori hentikan! Jangan perlakukan kak Gaara seperti itu!" protes Sakura tidak terima kakak kesayangannya disiksa oleh kakak yang paling menyebalkan baginya.
Gaara melepaskan tangan Sasori dari tubuhnya kemudian kembali memandang Karin yang masih menatapnya dengan penuh harap. "Maaf ya, Nona. Tapi aku benar-benar tidak mengenalmu. Mungkin kau salah orang."
"Itu tidak mungkin! Aku tidak mungkin salah orang! Jelas-jelas pangeranku itu adalah kauyang kutemui sore itu sepulang kau sekolah." Karin tetap ngotot dan bersikeras. Ia msih belum menyerah, akan ia buat Gaara mengingatnya.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak ingat. Maafkan aku." Gaara menundukkan kepalanya.
Suasana kembali hening. Karin terdiam. Penglihatan gadis itu mulai memburam karena cairan bening yang sudah menggenang di matanya.
Gaara membalikkan badannya kemudian melangkah keluar kelas tanpa pamit. Sasori pun mengikuti dari belakang. Sebenarnya pemuda itu merasa kasihan dengan Karin karena menjadi korban kebodohan adik kembarnya. Tapi mau apa lagi? Sasori juga tidak bisa melakukan apa-apa. Masalahnya, ingatan Gaara itu memang benar-benar parah.
"Ayo pulang, Sakura," ajak Sasori sambil berlalu meninggalkan kelas adiknya itu.
Sakura mengambil tasnya dan menyelempangkannya asal. Ia berniat lari mengejar kedua kakaknya namun urung ketika ada tangan lain yang menarik tangannya. "Kau harus tanggungjawab."
"Eh?" Sakura menoleh.
Karin. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah seram membuat Sakura merinding menatap gadis itu. "Kau harus tanggungjawab," jelas Karin sekali lagi.
"A—apa maksudmu?" tanya Sakura takut-takut. Perasaannya tidak enak.
"Karena kau adiknya maka kau harus membantuku untuk mendekatinya dan membuatnya ingat padaku," jawab Karin dengan tatapan mengancam.
"A—apa?"
Karin melepaskan tangannya, gadis itu menunduk, tubuhnya tampak bergetar. Tapi baik Sakura, Sasuke dan Ino malah sama-sama ketakutan ketika melihat ekspresi tidak biasa Karin.
"Lihatlah..." gumamnya lirih.
"Pangeranku..." gumamnya lagi.
"AKU PASTI AKAN MEMBUATMU TUNDUK KEPADAKU! HAHAHA..." Gadis bermbut menyala itu berkacak pinggang. Iris rubynya berkilat tajam. Tawanya menggelegar. Ia hampir frustasi mungkin.
Sakura, Sasuke dan Ino makin merinding melihat Karin yang persis seperti orang kesurupan.
Karin mengibas-ngibaskan tangannya di depan muka, "Lihatlah, pangeran pasti akan menjadi milikku. Akan kujamin itu. Hohoho..." Tatapannya kini berganti menjadi sorot mata penuh keangkuhan dan mengintimidasi.
Sakura meneguk ludahnya dalam-dalam. Ia yakin setelah ini semuanya tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Karena bukan hanya kakaknya yang akan jadi korban tapi juga dirinya. Firasatnya benar. Semuanya akan kembali berubah sulit.
~TBC~
Author's Note :
AAAAAA, aku mau minta maaf sebesar-besarnya untuk siapa saja yang sudah menunggu apdetan fict ini. Ya saya akui fict ini sudah 5 bulan terlantar karena saya tidak punya waktu untuk ngetik kelanjutannya. =A="
Saya sendiri ragu apa masih ada yang ingat dengan fict satu ini mengingat udah lama banget gak saya apdet.. T^T
Sebenarnya chapter ini aku bagi dua karena kalau gak dibagi jadinya bakalan panjang banget. Jadi part 2 dari chapter ini bakalan dipublish di chapter 10. Sebelumnya aku juga mau berterima kasih banyak-banyak untuk yang sudah mereview di chapter sebelumnya :
Wijiati UchiHaruno, Sami Haruchi, Yuuko Misaki, hasnistareels, Azakayana Yume, Tsurugi De Lelouch, Kiki RyuEunTeuk, , mari-chan.41, Haruno Yuna, uchihana rin, sasuchan, miyank, Scy Momo Cherry, Himetsuka, sasusaku aiko, me, zetta hikaru, Nona Cokelat, chakis, Hira-kun, Khairi, Runa Haruno, hiruma hikari, Ucucubi, Momo Haruyuki, Sindi 'Kucing Pink, Hany-chan DHA E3, mitchiru1312jo, Uchiha Annisuke, Kithara Blue, CN Bluetory, Anka-Chan, Icha yukina clyne, A I – I, namira-chan
Maaf saya belum bisa membalas review kalian satu-satu lewat PM. :(
Dan untuk yang udah nagih2 lewat PM, janjinya dah aku tepatin ya untuk apdet lagi chapter 9..
#plaaakkk
XDDD
Akhir kata THANKS FOR READING GUYS N MIND TO GIMME SOME REVIEW FOR THIS CHAPTER?
:D
