SURPRISEEEEEE!
A new year...a new chapter!
Aaaah...tak terasa sudah setahun saia berkarir sebagai author di sini~
.
.
.
CHAPTER 9
.
.
.
"Dan setelah itu dia mendiamkanku selama 5 hari ini," keluh Changmin pada Kyuhyun yang mendengarkan dengan tekun. "Jika dia belum berbicara sampai hari ketujuh aku akan memperkosanya."
Kyuhyun melirik Changmin dengan tatapan malas.
Memikirkan ini membuat Changmin jadi teringat pembicaraan setelah ia mengucapkan kata "sakral" itu.
"Tinggallah bersamaku."
"Kamu serius?"
"Tentu saja. Apa aku terlihat bercanda?"
"Bagiku…ajakanmu itu sama saja dengan melamarku untuk menikahimu."
Changmin tak akan lupa bagaimana ekspresi Yunho saat mengatakannya. Suaranya juga sangat serius, tegas dan mengancam seperti mengatakan akan-kubunuh-kau-jika-menarik-ucapanmu-itu-dengan-alasan-apapun.
Kini Changmin jadi menggigiti jarinya kan karena mengingat kejadian itu.
Kyuhyun memutar kedua bola matanya. "Changmin-ah...kamu lupa dia itu juga laki-laki?"
Changmin mengerutkan alisnya, antara bingung dan kaget.
"Kamu laki-laki dan dia laki-laki, walau sifat kalian bertolak belakang tapi psikologis laki-laki kurasa dimana-mana sama saja. Apalagi kamu pernah bilang Yunho itu pride-nya tinggi sekali, egonya besar," jelas Kyuhyun santai. "Dengan ajakanmu itu seolah-olah memperlakukannya seperti perempuan saja. Lagipula tinggal bersama juga bukan semudah yang dibayangkan kan?"
"Sekali kalian tinggal bersama maka tak akan sama lagi. Semuanya lebih rumit," lanjut Kyuhyun begitu bijaknya. Changmin sempat merasa ada sinar berpendar dibalik badan sahabatnya yang ajaib itu tapi mungkin itu perasaannya saja.
"I know."
Sebuah jawaban yang tidak membuat Kyuhyun lega karena diucapkan dengan mengeluh.
Seketika Changmin merasa gagal jadi seorang pacar yang luar biasa. Kyuhyun benar. Dia hanya berpikir ajakan tinggal bersama adalah hal yang tepat dan sudah dia pikirkan ke depannya, tapi dia lupa satu hal yaitu memikirkan dari sudut pandang Yunho. Seharusnya jangan meminta tapi bertanya apakah dia bersedia atau tidak.
"Karena itu aku tidak tinggal bersama Seo-baby," lanjut Kyuhyun tiba-tiba karena hening.
Changmin melirik malas Kyuhyun yang sibuk dengan cappuccino-nya. "Hei, kalian sama-sama idol."
"So what? Tidak tertulis di kontrak kok."
"Dan kurasa orangtua Seo-baby-mu itu akan mencincangmu jika kau semakin merusak anaknya."
"Hahaha…pintar sekali! Kamu memang sobatku kawan," tahu-tahu Kyu sudah merangkul gemas Changmin.
"Cih..kamu kan mudah ditebak."
Tawa Kyuhyun mereda dan ia kembali serius. "Jadi kenapa tak melamarnya saja?"
Changmin tersenyum penuh misteri dan tetap diam meski Kyuhyun menunggu jawabannya lama. "Haish! Berhentilah bermain-main."
"Aku serius Kyu. Apa kamu pernah melihat aku seperti ini sebelumnya?"
Kyuhyun diam tapi membenarkan dalam hati pertanyaan Changmin itu. Selama 5 tahun berteman ia belum pernah melihat anak itu galau tiga hari tidak dihubungi pacar atau uring-uringan dengan pertengkaran sepele. Tapi anehnya dia juga jauh lebih santai karena Yunho bisa menjinakkan mood swing-nya dengan mudah, tidak seperti pacar sebelum-sebelumnya.
Tapi sama juga sih….Yunho memang tidak seperti pacar sebelum-sebelumnya Changmin.
Dia tipe orang yang akan kuhindari, pikir Kyuhyun.
"Daripada berpikir mau memperkosanya lebih baik kamu ke sana sekarang sebelum dia mencoba bunuh diri karena galau," putus Kyuhyun pada akhirnya untuk menghindari pembicaraan terlalu pribadi.
Changmin sebenarnya agak heran dengan temannya itu, apakah dia cenayang?
"Aku hanya dianugerahi kemampuan profilling diatas rata-rata," jawab Kyuhyun masih dengan santai. "Haish...bahkan aku bisa menebak arah pemikiranmu kan."
"Kamu tidak minta king crab lagi kan?"
"Tentu saja tidak," jawab Kyuhyun yang tetap membuahkan tatapan curiga dari Changmn. "Tapi aku ingin merasakan makan truffle."
"Kalau itu kamu harus menunggu sampai kami menandatangani surat nikah."
Kyuhyun tidak menahan tawanya mendengar jawaban Changmin yang mengucapkannya dengan bersungut-sungut. Mereka lalu say goodbye karena Kyuhyun sudah dipanggil leadernya untuk kumpul di studio dance.
Jangan meminta tapi bertanya? Bagiku itu tidak ada bedanya, batin Changmin bingung.
.
.
.
Kyuhyun tidak tahu ucapannya tentang Yunho itu benar-benar terjadi.
Bukan bunuh diri kok, hanya galau maksimal.
Ya, Yunho sedang menggalau di tempat lain di saat yang bersamaan dengan Changmin sesi curhat bareng Kyuhyun. Menggalau dengan menyeret salah satu teman perempuannya di geng Gwangju, Han Ye Won. Dia adalah satu-satunya teman Yunho yang tahu hubungannya dengan Changmin dan untungnya dia pintar menyimpan rahasia itu.
"Jadi?"
Ye Won menahan nafasnya melihat Yunho menenggak lagi kaleng birnya. Menanti jawaban yang sebenarnya sudah dapat dia tebak.
"Aku tidak tahu."
Tuh kan, batin Ye Won malas.
Saat ini mereka sedang makan di kedai tepi jalan sambil mengobrol. Tentu saja nama Changmin disamarkan. Yunho sudah menceritakan kegalauannya "dilamar" untuk serumah dengan Changmin, termasuk mengutarakan segala macam pertimbangan yang malah membuat Ye Won pusing. Perasaan dirinya yang wanita saja tak berpikir serumit itu.
"Kamu menyukainya kan? Selama ini juga baik-baik saja kan? Ya sudah pindahkan saja barang-barangmu ke tempatnya."
"Tapi…kamu tahu kan statusnya dan gerombolan yang selalu mengekornya itu."
Itu kan resikomu pacaran dengan artis, lagi-lagi Ye Won hanya berani membatin dalam hati.
"Katamu dia menawarkan untuk pindah ke tempat lain yang lebih privat kan?"
Yunho hanya mengeluarkan helaan nafas panjang lalu hening lagi. Memang sih Changmin sudah mendiskusikan untuk pindah apartemen yang lebih privat. Tadinya dia menolak karena merasa terlalu terbebani dengan segala pengorbanan itu. Selama ini Changmin begitu mudahnya melepas uang atau barang demi dirinya tapi sebenarnya itu malah membuat Yunho merasa tak nyaman, apalagi dengan pendapatan yang timpang. Seolah-olah dia seperti sengaja mengeruk keuntungan.
Tapi Changmin meyakinkannya kalau kepindahan itu bukan semata-mata karena keputusan tinggal bersama. Sudah dia pikirkan jauh sebelum bertemu Yunho.
Sebenarnya aku masih sering merasa sedih di sini saat sendirian karena teringat para hyungie. Selama bertahun-tahun tempat ini selalu ramai, sekarang berkat kamu aku ingin sepenuhnya melupakan kenangan itu.
Akhirnya ruang hampa itu dipecahkan suara kehebohan meja sebelah. Ada tiga perempuan menggerombol, mahasiswa sepertinya. Ternyata sibuk menggosipkan Changmin. Ya, Changmin-nya Yunho.
"Aku juga nonton serialnya! Tidak ada yang terlewat. Sepertinya dia good kisser. Aaang~ kapan aku bisa menciumnya ya?"
"Betapa beruntungnya cewek yang bisa jadi pacarnya. Aku tak rela! Lebih baik dia dengan cowok saja."
"Jangaaaan….aku pengen punya kesempatan juga. Tolong jangan dengan laki-laki ya oppa."
"Eh, kalian mau nonton konser Hallyu minggu depan tidak? Aku mau datang. Biarin deh tugas kampus dikerjain temenku. Changmin oppa lebih penting."
Lalu sahut-sahutan dan cekikikan para gadis itu membuat pembicaraan terlalu memusingkan untuk diikuti Yunho lagi. Mereka juga sudah mulai memelankan suara dan ganti menggosipkan artis lain. Yunho heran sendiri betapa cepatnya wanita mengubah pembicaraan.
Ye Won hanya menaikkan alisnya dan memandangi Yunho yang sudah jelas arahnya kemana. "Kamu tidak cemburu?"
"Nggak."
"Karena sudah terbiasa?"
"Bukan. Karena sudah jadi konsekuensi. Lagipula Chang…eh dia itu selalu bisa membuatku percaya," Yunho berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan menyeringai. "Tapi kalau obyek pembicaraan mereka itu aku, dan dia mendengar nya, pasti mereka pulang tidak utuh."
"Wah…kamu sangat sabar ya. Kalau aku pasti sudah pergi dari sini cari tempat lain."
Yunho memilih mengunyah makanannya tapi sebenarnya juga sadar tiba-tiba Ye Won menatapnya agak aneh. "Kamu mencintainya kan?"
"Seharusnya aku cemburu ya?" tanya Yunho balik dengan rasa tidak yakin yang kentara. Sekarang dia merasa aneh sendiri. Seakan-akan itu kata asing yang baru diketahuinya sekarang.
"Memangnya sejauh ini kamu belum pernah cemburu padanya?" Ye Won jadi sangat tertarik sekarang.
"Yang jelas aku marah saat ada gosip dia dengan Victoria."
"Selain itu?"
"Hmm….sebenarnya aku tidak terlalu mengetahui orang-orang di sekitar dia, kecuali yang pernah kutemui. Kami sama-sama sibuk jadi ja…"
"Yunnie…." potong Ye Won cepat dan menatap tajam pada Yunho yang langsung waspada. "Kurasa kamu harus menyanggupi ajakannya. Harus. Itu yang terbaik untuk kalian."
Yunho termangu sesaat, mencari keyakinan dari saran itu.
"Memangnya kenapa kalau tidak?"
.
.
.
Akhirnya Yunho menyingkirkan egonya, perasaan seolah-olah menjadi pria lemah yang hidupnya disokong orang lain, walau itu pacarnya sendiri, dan segala macam konsekuensi lainnya. Dia juga sudah mengatakan pada Changmin kalau baginya tinggal bersama adalah sama dengan menikah. Sangat serius. Karena saat mengajak seseorang masuk terlalu jauh ke dalam hidup maka dia juga harus bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya, termasuk jika nantinya gagal.
Namun Changmin tidak mengubah keputusannya. Yunho bisa melihat keyakinan bulat di sorot mata Changmin saat mengatakannya.
Saat itu Yunho belum memberikan jawaban karena teringat ada momen yang lebih pas. Ulang tahun pertama hubungan mereka. Jadi ia menyimpannya untuk saat terbaik itu. Sekali-sekali bikin kejutan lah.
Tapi kenyataan memang sering tak sejalan dengan skenario…
"Batal?"
"Sebenarnya aku tak ingin membatalkan ini. Aku tahu kita sudah susah payah akhirnya bisa dapat malam ini tapi ini penting banget. Tolong mengertilah hyung."
Yunho benar-benar menyumpah-nyumpah di dalam hati. Selama ini Changmin memang biasa membatalkan acara mereka secara mendadak dan juga tiba-tiba bisa muncul kapan saja. Itu membuat Yunho kerap merasa tidak punya pekerjaan dan menjadi tempat pelampiasan kebosanan Changmin. Yunho suka pertemuan yang tertata tapi Changmin malah suka memberikan kejutan.
Kata dia sih itu kejutan. Malam ini tampaknya juga salah satu dari kejutan itu.
"Tidak bisakah kamu membatalkannya? Ganti hari mungkin?"
"Aku benar-benar nggak bisa. Sudah mentok hyung. "
"Acara kita ini penting. Kamu sendiri kan yang ngotot padahal sejak awal aku sudah bilang tidak usah. Lalu sekarang?"
"Hyung…please, jangan mulai. Aku akui memang ini salahku tapi…"
"Siapa yang mulai?"
"Bukan itu maksudku…haish!"
Rasa-rasanya Yunho ingin mematikan ponselnya saat itu juga tapi ditahannya.
"Aku tetap akan menunggumu di sana. Sesuai perjanjian kita. Jam berapapun. Titik," potong Yunho telak dan langsung mematikan ponselnya. Enak saja dia!
Mereka memang sudah lama menyusun janji makan malam di hotel untuk merayakan 1st anniversary, bahkan Changmin sudah memesan kamar untuk bermalam romantis. Perayaan ini juga sudah diundur jauh dari tanggal yang semestinya karena pekerjaan Changmin. Molornya hingga 1 bulan.
Yunho sendiri sejak awal sudah merelakan tidak ada perayaan tapi malah Changmin yang bersikeras. Mungkin bermaksud menunjukkan perhatiannya. Karena itulah sekarang Yunho benar-benar emosi.
Changmin sendiri tidak kalah emosi di seberang sana. Dibanding takut, ultimatum itu seperti sebuah ledakan bom atom kemarahan. Kesal betapa Yunho tidak menghargai usahanya merayu manajer untuk memindah hari. Seolah-olah semua hal dalam kendalinya, padahal sebagai artis dia berada di genggaman agensi yang diwakili manajer. Kalau begini barulah dia benci dengan pekerjaannya.
Akhirnya yang didapatkan Changmin hanya sekedar diskon waktu sehingga dia bisa pulang lebih awal satu jam yang notabene itu adalah jam 2 dini hari. Saat itu Changmin berharap Yunho diare atau apapunlah sehingga memilih mendekam di apartemennya. Tapi Changmin serasa ingin melompat dari jendela hotel saat menelepon pihak hotel dan diberi laporan Yunho masih berada di bar. Bahkan semula dia duduk di meja yang sudah dipesannya dari pukul 8 malam, sesuai perjanjian.
Dalam keadaan capek luar biasa Changmin tiba dengan tergopoh-gopoh di bar hotel. Ia melihat Yunho yang mengenakan jas terbaiknya terlihat sama lelahnya meski masih tetap tampan. Ia benar-benar menyisir rapi rambutnya dan tetap bertahan setelah sekian jam. Sebenarnya Changmin sangat mengapresiasi pemandangan itu.
Yunho hanya memberikan senyuman capek ketika Changmin menghampirinya, tanpa ciuman atau pelukan karena berada di tempat umum. Changmin ingin sekali sekedar memegang pergelangan tangan Yunho tapi melihat wajahnya yang hambar membuatnya urung.
"Coba tebak berapa kali aku digoda?"
"…"
"Sepuluh kali."
Changmin merasa ucapan itu hambar sehingga diam saja, tidak merespon karena takut Yunho makin marah. Tanpa sadar kini ia semakin lihai harus mengatasi Jung Yunho.
"Tahu tidak? Aku itu kesal sekali dan itu membuatku ingin minum sampai mabuk, tapi kupikir aku tidak boleh mabuk. " Yunho mengucapkannya datar sambil menyesap lagi rokoknya. "Karena aku tidak mau berakhir di tempat tidur orang lain hanya karena mabuk."
"Lalu kita…" Yunho memberikan gestur gerakan ledakan dengan membuka kepalan tangannya. "Selesai."
Yunho sudah tidak peduli Changmin kaget menunjukkan emosi yang seperti ini atau melihat asbaknya yang dihuni 7 batang rokok sisa. Yunho memang tak pernah sekalipun merokok di hadapan Changmin karena dia pernah bilang benci orang yang merokok.
"Hal seperti ini akan lebih sering terjadi jika kita tinggal bersama. Kekecewaan."
Changmin merasa seperti ditampar. Rasa lelahnya menguap sudah.
"Aku akan jadi lebih menuntut. Kamu juga akan lebih menuntut. Ketika salah satu diantara kita bilang 'pulanglah sekarang' maka itu harus dituruti, tidak bisa seenaknya, setiap melangkah harus dibicarakan. Kalau satunya tidak setuju maka tidak boleh dilanjutkan, dalam hal apapun. Lebih terikat daripada sekarang. Kita juga akan melihat sisi lain dari diri kita. Seperti ini misalnya."
"Aku dulu perokok berat tapi berhenti tepat saat masuk tim dance-mu, jadi masih ada kemungkinan kambuh lagi. Aku nanti juga harus menerima dirimu yang tidak aku ketahui. Mungkin aslinya kamu melempar barang atau memukulku saat marah. Ya hal-hal kecil seperti itu lah."
Changmin tahu itu benar dan sudah memikirkannya juga, tapi memang tidak menyangka Yunho merokok. Selama setahun lebih yang dia tahu hidupnya sangat sehat, jauh lebih sehat daripada dirinya. Sebersit rasa kecewa mampir di hati Changmin karena ternyata tak terlalu mengenal Yunho, tapi itu ia tepis sekarang.
"Yunho-yah….mungkin kita nanti akan mengalami kesulitan tapi aku sudah siap karena aku yakin kamu juga sudah siap". Changmin sebenarnya merasa ragu dengan ucapannya itu, rasanya seperti mengucapkan naskah dialog yang sudah dihapalnya. Tapi toh itu tetap dia teruskan, entah kenapa.
"Aku tidak pernah mengajak orang lain tinggal bersamaku karena aku lebih nyaman hidup sendirian, tapi kamu berbeda dan aku yakin tidak salah pilih."
Yunho menghembuskan kembali rokoknya dengan wajah yang masih berpikir keras. "Baiklah. Aku akan tinggal bersamamu."
Changmin masih mematung mencerna kata-kata itu. Rasa-rasanya kok seperti tidak benar. Apakah harus melangkah mundur lalu berlari menjauh?
"Ini bukan keputusan emosional. Aku sudah mendapat jawaban ini tepat setelah kamu bertanya," Yunho mematikan rokoknya. "Rencananya aku ingin memberimu kejutan dengan mengatakannya saat dinner, tapi malah jadinya begini. Mianhe."
Entah kenapa kalimat itu membuat Changmin merasa cukup lega. Dia langsung memeluk Yunho begitu mendengarnya. "Gomawoyo Yunho. Gomawoyo. Aku yakin kita akan lebih bahagia."
Yunho memberikan tepukan ringan dan tersenyum.
"Tapi ada satu syarat."
Changmin langsung mengurai pelukannya dan waspada. Kenapa orang ini selalu membuatnya jantungan?!
"Ingat aku bilang ajakan sama saja dengan mengajakku menikah?"
Changmin mengangguk sambil menelan berat ludahnya, dia dapat meraba arah pertanyaan itu.
"Kita hanya akan tinggal bersama jika orangtuamu dan orangtuaku memberikan restu. Dua-duanya."
Changmin sudah dapat membayangkan orangtuanya dan adiknya, itu bukan hal yang sulit. "Baiklah."
"Aku ingin kita menemui orangtuamu dulu."
"Tunggu…kenapa yang pertama harus orangtuaku?"
"Karena, percayalah, kamu pasti sebisa mungkin ingin menemui orangtuaku di urutan terakhir."
"Wae?"
"Karena aku anak yang kabur dari rumah."
Detik itu juga Changmin mendapat jawaban dari penasarannya selama ini kenapa Yunho tak pernah mau membicarakan keluarga dan masa sekolahnya.
.
.
.
Pembicaraan itu berlanjut hingga mereka di dalam kamar.
Ya, akhirnya Changmin memutuskan tetap buka kamar karena sudah terlanjur datang dan sebentar lagi pagi tiba, apalagi mood Yunho sedang butuh pelukan dan penghiburan seperti ini. Namun Changmin memahami bahwa tidak ada seks malam ini, hanya berpelukan di tempat tidur sambil mengobrol.
"Hubunganku dengan ayah sangat buruk. Kami tidak akan bisa bicara tanpa bertengkar walau hanya 10 menit. Ibuku dan Jihye sudah menyerah dan membiarkan kami begini meski masih berusaha mendamaikan," cerita Yunho pelan sambil menyandar ke headboard, menerawang ke tembok meski Changmin menatapnya. Tangannya sudah menggenggam miliknya sedari tadi.
"Ayah menentangku jadi dancer dan terus-terusan mendikteku, makanya aku kabur setelah lulus SMA. Hingga kini aku tak meminta uang sepeser pun darinya."
"Sejak itu kamu putus kontak dengan orang rumah?"
Yunho menggeleng. "Aku masih bicara dengan ibuku tapi tidak pernah dengan ayah. Aku hanya bicara dengannya setahun sekali saat Chuseok, itupun hanya beberapa menit. Kalau di rumah benar-benar seperti tidak kenal."
Changmin menerawang mendengarkan cerita itu sambil tangannya masih memainkan rambut Yuhno yang kini sudah memilih bersandar di bahunya. Hal itu tak terbayangkan baginya yang tumbuh di keluarga penuh kasih sayang dan ramai meski sikap ayahnya agak dingin. Bahkan mereka bisa bercanda dengan bahasa yang aneh. Sekarang ia jadi sangat bersyukur.
"Jadi…keluargamu tidak tahu kamu gay?"
Yunho melepaskan diri dari Changmin dan duduk memandanginya. "Menurutmu? Tentu saja tidak tahu."
Changmin bersyukur lagi. Walau sempat diawali perang besar namun kini ayah dan ibunya tidak mempermasalahkan orientasi seksnya. Yang terpenting bagi mereka adalah putranya segera tobat kelayapan dengan settle bersama satu orang, siapapun dia.
Seharusnya orang itu adalah kamu hyung.
Tanpa sadar Changmin langsung menghembuskan nafas pendek. "So I will be a dead meat."
"Mianhe…"
"No. It's okay. We will be fine," ucap Changmin tenang dan penuh keyakinan padahal di dalam hatinya dia panik. Bagaimanapun dia tidak pintar dengan orang tua, apalagi menaklukkan yang sulit seperti ini.
"Matamu berbicara lain. Kamu tidak yakin," Yunho tak menutupi nada kecewa dalam kalimatnya, namun sejurus kemudian dia tampak berpikir keras. "Aku akan membantumu."
"Percayalah padaku. Aku pasti bisa melakukannya, entah bagaimana caranya," sahut Changmin yang kali ini sudah mengumpulkan tekadnya. "Karena niatmu baik."
"Bertahun-tahun kamu membiarkan hubunganmu dengan ayah buruk dan sekarang ingin memperbaikinya, itu karena aku kan?"
Semula Changmin hanya berniat menggoda saat mengatakannya agar suasananya sedikit ceria tapi Yunho malah membuatnya speechless. Dia mengangguk, bibir dan matanya tersenyum. Mata itu tidak berbohong sedikitpun.
"Karena cuma kamu yang bisa Min."
Yunho kemudian memberikan ciuman lembut di bibirnya yang terasa begitu lama bagi Changmin.
"Yes, I will."
Ibu jari Yunho membelai pipi Changmin lembut dengan dihiasi senyuman. Ada kekuatan yang terselip di sana.
Because we accept love that we think we deserves it.
.
.
*TBC*
.
.
.
.
A/N:
Hola!
Akhirnya….akhirnya saia sampai di sini juga saia nulisnya…
Rasanya seperti bertahun-tahun bisa nyampe part ini. Sudah gatel pengen cepet nyampe sini dari dulu XD sejak memulai ini saia emang sudah ngeplot karakter Yunho akan jadi seperti ini. Berat sekali rasanya me-maintain karakternya. Semoga tidak ada yang kecewa ya, karena nantinya dia akan menjadi pria yang semakin luar biasa XD
Tenang saja….petualangan baru yang bikin makin gregetan akan dimulai setelah mereka serumah ;)
Siapa ya yg dulu minta ini jadi endless chapter? Sepertinya saia akan mewujudkannya...hohohoo~ Kita lihat saja berapa lama ini akan bertahan, yg pasti saia udah ada stock sampe nomer 15. Kayaknya saia juga tidak bisa bikin banyak fic lainnya lagi, tapi semoga bisa tetap meneruskan ini hingga entah kapan.
Terima kasih untuk reader yg udah komen *kasih permen atu-atu* semua komen saia baca kok.
Terima kasih juga untuk yang telah mem-follow maupun mem-favorit-kan *ketjup basah*
Ano….lupapassword, apakah aku harus memanggilmu begitu? Lain waktu beritahulah namamu krn ga enak panggil "mbak lupa password", hehhehe….terima kasih sudah meninggalkan jejak. Sampaikan terima kasih saia pada cicimu telah ikut mempromosikan fic ini.
Terima kasih untuk semua yang telah menyebarkan ini dari mulut ke mulut ^o^
See u next chapter~
