Avow
Taehyung mengigau lagi malam ini. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Jimin mendengar Taehyung bermimpi buruk dan teriak-teriak di tengah tidurnya. Jimin segera menenangkan Taehyung dengan menepuk-nepuk pundaknya pelan sampai pria itu berhenti mengigau.
Setelah gumamannya berhenti, Jimin terkejut karena temannya itu tiba-tiba terbangun. Taehyung menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu lalu menyadari Jimin ada disana.
"Aku membangunkanmu lagi, ya? Maaf." Katanya tulus.
"Kau sudah lama tidak mengigau begini. Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Jimin menebak. Melihat Taehyung akan membantah, dia melanjutkan, "Kau selalu mendapat mimpi buruk tiap kali kau memendam sebuah masalah. Ayolah, ceritakan apa yang sedang mengganggu pikiranmu."
"Tidak ada."
"Apa kau merindukan orangtuamu? Aku bisa minta Namjoon hyung mengantar kita besok."
Lagi-lagi Taehyung hanya menggeleng. "Apa kita punya persediaan hot coklat instan?" Taehyung mendudukkan dirinya dan bersandar ke kepala ranjang.
"Seingatku tidak ada. Kalau kau mau~"
"Tidak, tidak apa. Itu bisa besok saja. Kau tidurlah, aku sudah tidak mengantuk jadi aku tidak akan berisik lagi." Taehyung berjalan ke lemari bukunya, mengambil beberapa koleksi manga yang sudah dibacanya ribuan kali.
Tentu saja Jimin tak sampai hati meninggalkan Taehyung disaat seperti ini. Ia kemudian mengambil benda-benda itu dari tangan Taehyung dan mengembalikannya ke tempat semula. Jimin lalu menarik tangan Taehyung ke ruang tengah. "Kita akan menonton sepuasnya malam ini." Katanya ceria.
Sementara Jimin memutar salah satu film yang baru dibelinya beberapa hari lalu, Taehyung pergi mematikan lampu ruang tengah padahal mereka akan menonton film bergenre komedi.
"Kita bukannya mau menonton film horror, Taehyungie."
"Tapi aku suka suasana bioskop." Sahutnya polos membuat Jimin terbahak-bahak.
Setelah menonton setengah bagian, Jimin menyadari teman di sebelahnya tak banyak bereaksi. "Yah! Kau sudah mengantuk lagi?" Taehyung menggeleng. Dia menundukkan kepalanya sekarang. "Kau kenapa? Ceritakan padaku sebelum aku marah." Taehyung menghembuskan napas berat, seolah ada beban besar yang dipikul di atas bahunya sekarang.
"Aku tidak mengerti." Taehyung akhirnya mau bicara. "Tidak pernah sebelumnya aku merasa terganggu sampai seburuk ini pada sebuah bau. Kau tidak lihat ponselku, layarnya sudah terbelah dua setelah aku melemparnya ke dinding hanya karena sebuah artikel. Dan terakhir aku hampir menendang kucing tidak bersalah yang kebetulan melintas di depanku. Menurutmu, apa aku sudah gila?"
"Kita ini remaja yang kebetulan baru beralih menjadi dewasa. Wajar kalau kita mengalami perubahan mood seperti itu. Sesekali menjadi pria sensitive itu tidak masalah." Jimin menjawab bijak.
Suara televisi pun dikecilkan agar mereka bisa mengobrol lebih leluasa. Jimin mengambil ponsel Taehyung dari kamarnya lalu kembali lagi ke ruang tengah. "Woah, ini benar-benar hancur! Sebenarnya artikel apa yang kau baca?"
"Ada sebuah foto hasil jepretan paparazzi yang menampilkan dua orang sedang berciuman di klub, mereka bilang itu Sae Hee." Taehyung menyebutkan nama seorang aktris cantik yang sedang naik daun di korea.
"Apa kau ada hubungan dengan Sae Hee?" Taehyung menggeleng cepat lalu tertawa, mengatakan hal itu tidak mungkin. Lalu apa masalahnya?!
Kemudian Jimin berusaha mengingat kalimat Taehyung sebelumnya. "Lalu tadi kau bilang sensitive bau, memangnya bau apa?"
"Vanila. Seolah-olah bau itu melayang, menyebar kemana-mana dan mengikutiku."
Apa yang salah dengan bau vanilla? "Dan kenapa kau jadi membenci kucing? Kupikir sebelumnya kau menyukai binatang." Taehyung terdiam, memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya ke bahu sofa. "Vanila, kucing, dan foto ciuman Sae Hee di klub." Jimin terus menggumam.
"Aku ini laki-laki sejati, Jimin-ah." Gumam Taehyung.
Jimin menggeleng lalu memutar bola matanya, merasa jengah. "Memangnya ada yang bilang kau wanita, eh?"
"Laki-laki sejati harusnya mengencani seorang yang cantik, berambut panjang, atau yang imut dengan bikini, yang pastinya seorang gadis. Lalu kenapa yang ada di kepalaku sekarang adalah laki-laki? Aku sudah gila, Jimin… Aku sudah gila!"
Meski tidak terlalu jelas dengan apa yang didengarnya karena suara Taehyung teredam bantal kecil di pinggir sofa, tapi Jimin bisa memahami apa yang sedang dibicarakan teman gilanya ini. "Kau masih menyukai Hoseok hyung, eh? Aku tidak benar-benar kencan dengannya, tapi dia memang sudah berkencan dengan seorang gadis, jadi berhentilah mendekatinya, Taehyung. Aku tidak mau kau terluka karena dia."
Lama Taehyung terdiam dengan posisi yang sama. Jimin mengira pria itu sudah tidur, tapi saat ia akan membangunkannya untuk menyuruhnya pindah ke kamar, Taehyung sudah mengambil posisi duduk tegap.
"Jimin-ssi, kupikir kau mengenalku dengan baik. Aku bahkan tidak pernah memikirkan Hoseok hyung lagi, bodoh!" Jimin balas menatapnya dengan tersenyum senang.
Tapi senyumnya meredup beberapa detik kemudian. "Ja-jadi… apa laki-laki yang kau maksud itu~ Aish! Tae-taehyung-ah… bu-bukan aku, kan?" tanyanya gagap.
"Tidak, untungnya bukan kau!" Balas Taehyung lalu tertawa terbahak-bahak. Jimin mengambil bantal kecil itu dan menggunakannya untuk memukuli kepala Taehyung.
"Lalu siapa?! Cepatlah, aku penasaran!" lalu Jimin teringat pembicaraanya dengan Hoseok. "Jangan-jangan perkiraanku tepat sasaran, ya?"
"Apa?"
"Kau- sudah pasti yang kau bilang itu Kookie, kan? Kau menyukai Kookie. Aku benar, kan?" Melihat reaksi Taehyung yang hanya melongo seperti ayam kekenyangan, Jimin melonjak kegirangan di atas sofa. "seratus persen benar!" Tambahnya lagi.
Satu persatu teka-teki Taehyung akhirnya tertangkap olehnya. Jimin juga sering mencium bau vanilla dari Jungkook. Lalu ciuman di klub, anak ini pasti benar-benar terpikat pada Jungkook sejak kejadian ciuman mabuk itu. Lalu kucing…
"Kenapa kucing?" tanya Jimin penasaran.
"Karena dia menggemaskan, seperti anak kucing. Aku tak terlalu suka menyebutnya kelinci, dia juga begitu, jadi aku mengatakan dia itu anak kucing." Katanya menjelaskan. "Tapi aku tidak menyukainya dengan cara seperti itu. Pasti bukan. Mungkin- lebih seperti adik yang lucu?" tambahnya ragu-ragu.
Jimin mendengus. "Woah, Taehyungie!" Jimin berlari memeluk Taehyungi. "Kau sudah dewasa rupanya. Adik yang lucu pantatmu! Aku akan membantumu mendapatkannya kalau kau mau."
"Jimin! Sudah kubilang aku ini laki-laki dan dia juga laki-laki!" geramnya kesal. "Kau mungkin tidak mempermasalahkan hubungan yang seperti itu. Kau menyukai Yoongi dan membiarkan Jin dan Namjoon berpasangan layaknya pasangan biasa. Tapi aku tidak bisa seperti itu!"
Jimin tidak marah apalagi kesal. Dia mengerti dilemma yang dirasakan Taehyung. Tidak ada yang bisa dilakukannya selama Taehyung masih bersikeras dengan prinsipnya itu. Ia juga tidak ingin menambah masalah temannya itu dengan mengatakan siapa orang yang disukai Jungkook. Itu sudah pasti akan membuatnya semakin frustasi.
"Maafkan aku, Maaf, Taehyung-ah." Jimin mengelus puncak kepala Taehyung lembut, berusaha membuatnya lebih tenang. Mereka akhirnya tidak mengatakan apa-apa lagi dan sama-sama tertidur di sofa.
*
Hoseok sudah sampai lima belas menit lebih cepat dari perjanjian mereka. Dipikirnya gadis itu akan membutuhkan waktu lama untuk berdandan dan sebagainya jadi ia memesan minum lebih dulu untuk mengurangi kegugupannya.
Lain dari tebakannya, ternyata gadis itu muncul tepat saat minumannya datang, dan masih ada sepuluh menit tersisa sebelum jam sepuluh. Haruna tampil kasual tapi juga cantik. Dia memakai kaus putih dan rok biru tua dengan make up seadanya. Tepat seperti apa ingin dilihatnya dari seorang Haruna.
Mereka memesan makan dan minuman lalu bercanda tentang bermacam hal. Sampai ketika tiba-tiba Haruna membicarakan temannya Yuiko, "Dia tertarik dengan Jimin-san, tapi sepertinya temanmu itu tidak berpikir sama."
"Kenapa kau bilang begitu?"
"Karena Yuiko bilang, Jimin-san belum pernah menghubunginya sama sekali." Haruna bertopang dagu sambil pelan-pelan mencicipi minumannya.
Hoseok meletakkan garpunya dengan gemas. "Tidak perlu bicarakan tentang mereka. Sekarang hanya kita berdua, Haruna." Gadis itu balas memandang Hoseok. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak begitu cepat. Tepat di saat itu suasana restoran tempat mereka makan berubah karena musiknya berganti menjadi lagu romantis.
Pipi gadis itu memerah, Hoseok bisa dengan jelas melihat kegugupan di mata Haruna. Dia sendiri mengalami hal yang sama. Dia meraih tangan kiri gadis itu di atas meja, menggenggam dengan kedua telapak tangannya. "Aku mau kau jadi pacarku." Katanya tegas. Lalu ia membuka kepalan tangan Haruna dan meletakkan sesuatu di atasnya. Sebuah bola ukuran super mini dengan gantungan dari perak. "Apa kau mau, aku jadi pacarmu?"
Dengan cekatan Haruna langsung memakaikan hiasan itu ke ponselnya. "Aku sama sekali tak sanggup menolakmu, Hoseok oppa." Balasnya dengan mata berbinar-binar. Hoseok girang bukan main dengan jawaban gadis itu. Akhirnya Hoseok berdiri dari kursinya dan berteriak sekencang-kencangnya. "Gadis ini menerima cintaku! Dia mau jadi pacarku!"
Haruna menyembunyikan mukanya dengan syal, merasa malu tapi juga senang. Orang-orang di dalam restoran bertepuk tangan memberikan selamat dan sebagian lain terkekeh sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hoseok.
"Terimakasih, Haruna." Bisik Hoseok di telinga gadis itu. Detak jantungnya yang tadi berdebum bak gendang, sekarang seolah membeku tak bersuara. Belum lagi Hoseok tersenyum manis memandangnya, Haruna merasa dunianya berputar dalam lingkaran kecil, yang hanya ada dia dan pria ini didalamnya.
Haruna mengaitkan tangannya di lengan Hoseok. Pria itu benar-benar tahu caranya memanjakan wanita. Ia tak akan pernah menyesal menyukai pria ini walaupun suatu saat nanti mungkin mereka tidak berjodoh. Oh, betapa dia ingin terus bersama Hoseok sepanjang hidupnya.
"Sekarang giliranmu, Haruna."
"Baiklah," kata gadis itu lalu mengangkat kedua tangannya. Hoseok hampir saja pingsan melihat jumlah jari yang akan ditunjukkan Haruna dengan tangannya, tapi kemudian gadis itu hanya mengeluarkan dua jari telunjuknya.
"Jadi kau sudah pacaran dua kali di tahun ini? Wah, kau hebat!" Balas Hoseok pura-pura merengut. Haruna menyapit kedua bibir Hoseok dengana jarinya lalu tergelak melihat bagaimana wajah pria itu sekarang.
Mereka sedang berjalan-jalan di taman wisata sekarang dan tengah beristirahat di bawah pohon besar dan lebat dengan akar bergelantungan dari atas. Orang-orang yang lewat terkikik melihat pemandangan dua orang muda-mudi yang tengah dilanda kasmaran dan duduk di bawah pohon itu saling cubit mencubit lengan masing-masing.
Ponsel Haruna bergetar menandakan ada pesan masuk. Gadis itu membacanya, ada satu pesan dari Yuiko. Temannya itu benar-benar ingin tahu tentang Jimin dan ingin Haruna menanyakannya pada Hoseok.
"Kenapa kau memilih bola ini?" Tanya Haruna begitu menyadari bentuk segilima yang tercetak di atas bentuk bulat bolanya.
"Karena aku tahu kau lebih suka bola dibanding bunga atau coklat, atau apapun di dunia ini." balasnya dengan nada dibuat sepuitis mungkin. Lalu ia menambahkan, "Ah! Sepertinya kau sekarang lebih suka aku dibanding bola."
"Percaya dirimu kadang bisa jadi melebihi batas, oppa!"
"Woah, aku suka panggilan itu. Oppa? Coba bilang lagi."
"Aku menyukaimu, oppa!" teriak Haruna di telinga pria itu dan tubuhnya langsung melayang karena Hoseok sudah menggendongnya lalu berputar-putar sambil meneriakkan nama kekasihnya.
*
Banyak siswa yang berkeliaran di sekitar ruang media. Banner setinggi pintu dipasang dekat tiang yang berdampingan dengan jendela ruangan itu. Namjoon dan Min Yoongi mendekat kesana untuk melihat isi tulisan di banner.
Youth Piano Competition
"Kau harus ikut kali ini. Kalau kau tidak mendaftar juga, aku yang akan mendaftarkanmu." Tegas Namjoon.
Wajah Yoongi masih datar seperti biasa, tak tampak tertarik sama sekali. "Terserah kau saja." Dia berbalik meninggalkan Namjoon yang malah memilih masuk ke ruang media.
Ia pergi ke kantin dan duduk di meja paling sudut dengan sebuah apel di tangan sebagai makan siangnya. Seorang pria yang dikenalnya datang dan duduk di kursi yang ada didepannya.
"Sunbae-nim!" Jungkook menyodorkan kotak bekal berisi kue beras yang dibuatnya kemarin "Kau tidak akan keracunan hanya dengan satu atau dua potong." Katanya bergurau.
Yoongi menurut. Ia tersenyum menunjukkan ibu jarinya ke depan Jungkook memuji makanan itu. "Aku yakin sekali ini pasti buatanmu lagi, kan?"
"Nde. Ibuku suka sekali kue beras. Waktu itu ulangtahunnya hampir tiba dan aku ingin memberikan kue beras buatanku sendiri sebagai hadiah, jadi aku belajar sampai berminggu-minggu sampai aku bisa. Tapi orang-orang malah sangat menyukainya, jadi aku sering membuatkan ini sampai sekarang."
"Lalu kenapa kau memilih jurusan seni?"
"Karena disini tidak ada jurusan memasak." Candanya lagi.
"Tapi kau bisa mengambilnya di sekolah tinggi lain."
Jungkook terdiam sejenak memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk dikatakan. "Aku lebih suka musik, sunbae."
Dan Yoongi masih saja mengeluarkan pertanyaannya yang tak tertebak. "Lalu bagaimana kau bisa masuk ke sekolah ini? Ujian masuk Oasis itu sangat ketat, kau harus punya kemampuan, bukan hanya kemauan."
"Sunbae, sepertinya sesekali aku harus menyombongkan sesuatu padamu." Yoongi mendongak, mulutnya penuh makanan. "Aku lihat sunbae penikmat musik juga."
"Nde. Piano adalah cinta pertamaku, tapi aku tak keberatan belajar alat musik lain."
"Partitur itu… Ballade?"
"Kau tahu?" Sahut Yoongi sedikit terkejut, tangannya masih saja menggapai-gapai kue beras dalam kotak bekal.
Jungkook merenung, "Ibuku, dia menyukainya."
Tiba-tiba Yoongi berhenti mengunyah. "Sepertinya kau sangat menyayangi ibumu, ya? Dimana dia sekarang?"
"Sunbae, kau mau minum apa?" Jungkook sudah berdiri dan hendak pergi ke counter minuman. Setelah mendengar pesanan Yoongi, dia langsung berlari meninggalkan pria itu terdiam di mejanya.
Tadinya Yoongi sempat melihat wajah sedih anak itu dan berubah ceria dalam beberapa detik. Ia yakin sekali Jungkook menyembunyikan banyak hal. Mereka memang belum mengenal lama, jadi ia tidak bisa memaksanya untuk menceritakan hal itu.
Lima menit kemudian, Jungkook kembali dengan dua kaleng soda dan dua bungkus roti. "Omong-omong, kenapa sunbae ada di kampus? Kupikir kalian libur?"
Kue berasnya sudah habis, dan Yoongi ganti menyobek bungkus roti yang diberikan Jungkook. "Namjoon mengajakku ikut lomba. Kurasa sekarang dia sedang mendaftarkan namaku disana." Ia menunjuk ke ruang media yang mana banyak sekali muda-mudi antre di depan pintu.
"Oh! Itu lomba piano, bukan? Aku sempat melihatnya tadi. Baguslah, aku akan datang ke pertunjukanmu, sunbae."
Yoongi terkekeh. "Itu bukan pertunjukanku, dasar kau! Ini perlombaan. Tapi kau boleh menontonku, tentu saja. Sudah pasti aku akan memenangkannya, kau bisa jamin itu."
"Woah, percaya dirimu menyilaukan." Jungkook pura-pura menutupi matanya dengan telapak tangan.
"Kau tidak percaya? Begini saja. Kau boleh ikut denganku ke studio nanti malam. Disana kau boleh menyombongkan kemampuanmu tadi dan aku akan memamerkan kemampuanku, bagaimana?"
"Studio kampus?" Yoongi mengangguk. "Tapi kenapa malam?"
"Karena isi kepalaku hanya akan bekerja di malam hari. Di waktu lain, aku lebih suka tidur." Jungkook dan Yoongi sama-sama tergelak.
"Terdengar seperti vampir. Vampir? Vampir! Vampir!!" Seru Jungkook pura-pura menjauh ketakutan lalu mereka tertawa lagi.
"Tenanglah, aku tidak minum darah lagi." Yoongi tersenyum kecil. "Tapi aku masih terbiasa menggigit, kau mau jadi mangsaku hari ini?" Dan Jungkook langsung lari begitu ia melemparkan bungkusan rotinya ke wajah seniornya yang terbatuk-batuk karena tertawa saat mengunyah makanan.
Dari jauh Jungkook sempat berteriak menanyakan jam berapa mereka akan ke studio. Yoongi mengangkat tujuh jarinya dan Jungkook kembali berlari keluar kantin.
*
