Pada suatu hari...

.

"Nih Kuroba-kun, akan kukasihkan kau sesuatu."

.

Seorang gadis kecil yang tinggal di sebelah rumah mereka...

.

"A... Apa ini, Haibara-chan?"

.

Memberikan sesuatu yang 'mengerikan' kepada seorang Kuroba Kaito...

.


Love Potion

Genre: Romance and Humor? not so sure :/

Rating: T

Pairing: KaiShin

Warning: ONESHOT, AU, OOC, gajeness, and SHONEN-AI ALERT! (don't like? don't read!)

.

Disclamer:

Detective Conan © Aoyama Gosho

Love Potion © S4viRa deMSN

.

Summary: Semua berawal dari pemberian sebuah penemuan baru Ai kepada Kaito. Dan semua berubah disaat Shinichi memakannya. Lalu, apakah yang terjadi?


Sudah lebih dari beberapa jam, Kaito duduk di sofa ruang depan dan terdiam tanpa kata. Sambil memandang sebuah benda yang dianggap misterius karena belum dikeluarkan dari bungkus yang kasar berwarna coklat, yang tertata di meja yang sedikit lebar di depan Kaito. Kaito hanya bisa melihatnya dengan degupan jantung yang tidak teratur. Lalu, ludah yang berada didalam mulutnya, tertelan sendirinya berulang-ulang. Rasa takut pun masih menghantuinya. Maunya Kaito ingin membuka benda yang telah diberikan oleh Ai, tapi dia hanya bisa memikirkan percakapannya... dengan Ai pada pagi itu.

.

xXxXxXxXxXx

*Flashback*

"Nih Kuroba-kun, akan kukasihkan kau sesuatu," gumam Ai sambil memberikan sebuah bungkusan berwarna coklat kepada Kaito.

Pagi-pagi sekali, Ai menghampiri kediaman Kudo hanya untuk memberikan sesuatu kepada Kaito, yang pada saat itu sedang sendirian di rumah yang sedikit besar itu. Tentu saja, hal yang secara tiba-tiba ini malah membuat Kaito pusing beberapa keliling, dan malah berkeliling lagi ketika Ai memberikan sesuatu yang 'misterius' kepadanya.

"A... Apa ini, Haibara-chan?" heran Kaito selagi dia menguntip sesuatu yang tersimpan di bungkusan itu.

"Oh, itu aku namakan 'Love Potion'," jawab Ai datar.

"Love... Potion?" Kaito pun melirik kembali ke Ai dan masih saja bingung setengah mati. Love Potion? Begitu dia mendengarkan 2 kata itu, dia langsung berpikir, apakah gadis kecil yang sedang berdiri di depannya... memberikan sebuah penemuan baru yang telah dibuat dan langsung diberikan kepadanya... untuk dijadikan sebuah 'kelinci percobaan'? Begitu?

"Hmph! Aku tahu kau bakalan bingung dengan maksud dari perkataanku itu," gumam Ai santai.

"Tapi Haibara-chan... Apa maksud dari—"

"Oh itu." Ai pun menyilangkan kedua tangannya untuk mencari sikap yang santai, lalu melanjutkan perkataannya, "Tiga hari yang lalu, aku tidak sengaja menemukan sebuah mineral ketika aku sedang melakukan penelitianku yang masih belum selesai. Begitu aku meneliti mineral itu, ternyata aku menyadari kalau mineral itu mengandung unsur yang begitu unik. Sebuah unsur yang bisa mengikat hati seseorang untuk mencintai."

Kaito hanya bisa terdiam sambil mengalirkan semua perkataan Ai ke dalam otaknya.

"Makanya aku membuat Love Potion ini, untuk hal yang jaga-jaga terhadapmu nanti," lanjut Ai.

"T... Tapi, Haibara-chan... Ka... Kayaknya aku tidak bisa menerima ini, deh," gumam Kaito dengan gugupnya, selagi dia teringat kepada seorang wanita yang tampaknya tidak jauh-jauh dan berkaitan dengan cinta... dan racun.

"Wah bagaimana, ya?" Ai hanya menggaruk-garukkan kepalanya, meskipun tidak ada rasa gatal pada kepalanya. "Selagi aku malah terburu-buru untuk menyelesaikan ini, aku masih belum mencoba penemuan ini kepada siapapun," gumamnya.

"Maka dari itu..." Ai pun mendekati Kaito dengan raut wajah yang terukir senyuman licik, seperti senyuman penjahat. "Kenapa kau tidak mencobanya ke Kudo-kun aja?"

Kaito terkejut akan perkataan itu. Mencoba penemuan baru ini kepada Kudo? Kepada seorang Kudo Shinichi? Sungguh perbuatan yang tak kira-kira dari pikirannya. Sebenarnya dia harus mengakui kalau sudah lama sekali dia telah menyembunyikan perasaan cintanya kepada Shinichi, namun masih saja dipendam begitu saja, apalagi mengeluarkannya langsung kepada Shinichi. Itu hanya bisa membuatnya malu saja.

Tapi setelah Ai datang dan memberikan sebuah err... penemuan yang bernama Love Potion itu, apakah ini saatnya dia akan mengatakan semua perasaannya yang terpendam selama ini?

"A... Aku tidak yakin kalau aku akan mencobanya kepada Kudo," ujar Kaito ragu.

"Kau harus pikirkan itu Kuroba-kun. Bukannya ini sebuah kesempatan untuk mengikat hatinya kepadamu dengan benda itu? Sebenarnya dari dulu aku mengetahui kalau kamu benar-benar mencintai Kudo-kun, kan? Think it again, it's a big chance for you, isn't it?" gumam Ai sampai meninggalkan Kaito yang masih terdiam tanpa satu gerakpun.

Tampaknya, Kaito masih memikirkan sebuah 'kesempatan' yang datang tiba-tiba itu.

.
.

xXxXxXxXxXx

Dan sampai sekarang, dia masih belum bisa memutuskan kesempatan itu.

'Mencobanya kepada Kudo? Kayaknya aku tidak bisa melakukannya,' pasrah Kaito sendirinya.

Dengan gugup, Kaito memasukkan tangannya kedalam bungkusan coklat itu dan mengambil benda yang berada di dalamnya. Ternyata, racun-racun yang diprediksikan bakal mengikat hati tersebut, telah dibuat menjadi butiran-butiran coklat mungil dengan berbentuk hati. Lalu dimasukkan ke dalam toples mungil yang penutupnya berbentuk hati berwarna merah muda. Manis, pikirnya. Namun mematikan juga. Ya tentu saja, namanya juga racun, mana mungkin bisa berubah drastis menjadi racun yang terlihat manis, kan?

'Ka... Kayaknya bakal kulakukan besok saja deh. Mumpung Kudo belum pulang sejak kemarin. Jadi aku bisa bersiap-siap dulu,' pikir Kaito sekali lagi.

Sebelum Kaito memindahkan toples 'mematikan' itu ke tempat yang aman dari Shinichi, tiba-tiba...

*CKLEK*

Pintu utama yang menghubungkan area luar dan dalam rumah itu, terbuka sendirinya. Tampaknya, pintu itu dibuka oleh seorang pemuda yang wajahnya mirip sekali dengan Kaito. Bagaikan saudara kembar, begitu orang-orang memikirkannya. Tetapi sebenarnya bukan. Meskipun mirip, namun rambutnya lebih rapi dibandingkan rambut Kaito yang acak-acakkan. Hal itu membuat Kaito melirik ke arah pintu tersebut, dan pemuda yang sangat dia kenal dengan raut wajah yang sedikit panik.

"Tadaima," sapa Shinichi yang baru saja pulang, lalu menutup pintu dengan perlahan.

"Okaeri! Ku... AAAAAHH!" Kaito hanya bisa menggila sendiri di sofa karena pikirannya masih terbelenggu dengan 'kesempatan' yang dipikirkannya, hingga Shinichi hanya bisa bingung sendiri dan berpikir, 'Ada apa dengan si Kuroba?'

"Oi, kamu kenapa sih?" tanya Shinichi heran.

"Aku? Gak kenapa-napa kok. Ahahahaha~" ujar Kaito was-was.

"Benaran nih?" tanya Shinichi kembali dengan raut wajah yang tidak percaya.
"Benar. Sungguh," jawab Kaito dengan menunjukkan tanda 'peace' kepada Shinichi.

Shinichi hanya bisa memiringkan salah satu alis matanya. Tampaknya dia ingin jawaban yang lebih dari itu, tapi ya sudah. Kayaknya si Kaito tidak ada masalah satupun. Palingan saja, ada sebuah masalah yang muncul di pikirannya. Tiba-tiba, pandangan Shinichi beralih ke sebuah toples mungil yang terisi butiran-butiran coklat yang berada didekatnya. Dengan sigap dia mengambil benda itu tanpa memerhatikan Kaito yang saat itu kembali panik.

"Ku..." Sudah terlambat bagi Kaito untuk mencegahnya.

"Hmm... Apa ini, Kuroba?" tanya Shinichi heran selagi dia melihat sekeliling toples itu.

"Err... Itu erm... Cokelat! Kemarin ada teman datang menghampiriku untuk memberikanku setoples cokelat. Dan kau tahu juga kan, kalau aku ini fanatic dengan cokelat? Ehehehe...," ujar Kaito ragu-ragu.

"Hmm..." Shinichi masih saja curiga dengan toples 'pemberian dari kerabat dekat Kuroba' itu. Sama seperti Kaito, dia masih saja tidak percaya kalau itu benar-benar 'Love Potion' yang disebut Ai.

"Err... Kudo, kamu kenapa sih?" tanya Kaito was-was.

"Apaan sih yang kenapa? Aku kan hanya melihatnya saja, bukan maksud curiga gitu," gumam Shinichi sinis.

"Err... Aku mau bilang kalau itu... itu..." Kaito pun menghentikan omongannya dan berbalik arah dari Shinichi untuk menghilangkan rasa khawatirnya. 'Aku tidak mau bilang kalau itu adalah racun cinta. Tapi sebenarnya sih, aku juga masih belum percaya,' teriak Kaito dalam hati.

Shinichi pun melirik ke Kaito dengan tampang bagaikan seorang polisi yang mau menginvestigasi seorang penjahat. "'Kalau itu'apa?" tanya Shinichi.

"Kalau itu... cuma sekedar cokelat. Ya! It just a piece of chocolate!" seru Kaito ragu-ragu sambil membalikkan kepalanya lagi dan memandang Shinichi yang masih saja curiga.

"Bukannya kau udah mengatakan itu tadi?" gumam Shinichi.

Karena rasa curiga Shinichi semakin menjadi-jadi, tanpa sengaja dia mendorong Kaito ke sofa dengan paksa. Lalu dia mencoba naik ke atas Kaito dan menindihnya, dengan racun yang dipegang di tangan kanannya. Kaito pun kaget, lalu memandang Shinichi yang begitu sinisnya dengan panic to the max. Uh oh, kayaknya bakal ketahuan deh. Pikirnya.

"Ku... Kudo. Apa-apaan, nih?" tanya Kaito cemas.

"Benar nih. Kalau ini cuma sekedar cokelat?" ujar Shinichi curiga.

Kaito tidak bisa berkutik lagi. Degup jantungnya kembali tidak normal. Ludah-ludah yang berada di dalam mulutnya pun kembali tertelan sendirinya. Keringat langsung bercucuran dari pori-pori kulitnya. Sepertinya, dia hanya bisa pasrah saja mengetahui kalau sebenarnya itu sebuah racun yang bakal dicoba ke Shinichi.

"Kau harus tahu, kalau seorang detektif akan membongkar rahasia yang tersembunyi. Terutama rahasiamu, Kuroba," gumam Shinichi.

Karena Shinichi yang semakin curiga terhadap 'cokelat' yang disebut Kaito, dia langsung membuka penutup toples tersebut dan mengambil salah satu butiran 'cokelat' itu. Lalu, diletakkan kembali ke meja dekat mereka. Kaito makin lama makin panik. Bukannya dia yang mencoba ke Shinichi, malahan Shinichi yang ingin mencobanya sendiri. Tanpa aba-aba, Shinichi pun memakan butiran itu dengan sedikit polos dan tentu saja, tepat di depan Kaito sendiri. Lalu, Kaito terbelalak kaget ketika melihat kejadian yang tiba-tiba itu.

'Di... Dia memakannya. DIA MEMAKANNYA!' teriak Kaito lagi dalam hatinya.

Setelah Shinichi memakannya, dia pun mencoba rasa cokelat yang telah dia makan. "Hmm... Rasanya biasa saja. Tidak ada rasa yang lain, deh," komentar Shinichi selagi indera perasanya masih mencari rasa yang lain.

"Be... Benar nih?" tanya Kaito selagi dia berpikir dan berharap kalau Ai cuma bercanda tentang Love Potion itu.

Shinichi pun mengangguk pelan. Tentu saja cokelat mempunyai rasa manis ataupun pahit. Memang ada rasa lain didalam kandungan cokelat seperti rasa asin atau pedas sekaligus? Begitu?

"Ngomong apa sih kau, Ku—"

Namun, Shinichi merasakan hal yang aneh terhadap dirinya. Dia terdiam dan sepertinya jantungnya mulai berdegup kencang. Seperti dia meminum APTX 4869 yang dia minum beberapa tahun yang lalu. Lalu, perutnya terasa aneh sehingga dia ingin memuntahnya. Hal itu dilihat oleh Kaito yang masih saja panik. Bukannya dia panik tentang racun itu, melainkan panik tentang keadaan Shinichi yang down akibat memakan racun itu.

"Uhuk!" Shinichi mencoba menahan rasa sakit dari perutnya dengan menutup hidung dan mulutnya.

"O... Oi Kudo. Kau tidak apa-apa?" tanya Kaito cemas.

Saking cemasnya, Kaito ingin beranjak dari sofa dan mencari minuman untuk Shinichi. Namun dia harus mengetahui kalau dia masih tertindih oleh Shinichi. Kalau tidak bisa beranjak dari sofa, mau bagaimana lagi? Mencari bala bantuan dengan teriak? Tiba-tiba, Shinichi pun melepaskan kedua tangannya dan membebaskan mulut dan hidungnya. Lalu, melirik Kaito dengan pandangannya yang begitu kosong.

"Ku... Kudo. Kau kenapa? Kenapa kau memandangku seperti itu?" Kaito semakin cemas terhadap keadaan Shinichi yang berubah drastis setelah meminum racun itu. " A.. Apa kau benar tidak apa-a—"

"KAITOOOOO~!"

Tiba-tiba, Shinichi pun memeluk Kaito dengan senyuman manis yang belum pernah ditunjukan kepadanya. Kaito yang tadinya panik, malah langsung berubah drastis menjadi bengong sama sekali. Dia bengong, kenapa Shinichi yang tadinya curiga dan memandang sinis terhadapnya, malah berubah menjadi manis dan wajahnya terbaca kalau dia sedang mengalami yang namanya 'jatuh cinta'?

Kaito teringat ketika dia memakan Love Potion itu, dan tersadar akan sesuatu. Apakah itu benar-benar Love Potion yang dikatakan akan mengikat hati untuk mencintai? Apakah ilmuwan cilik yang tinggal di sebelah itu tidak bercanda tentang ini? Dan satu lagi... Apakah ini reaksinya setelah memakan racun itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu masih membelenggu ke dalam otak Kaito. Ketika Kaito melihat Shinichi yang telah melekat kepadanya, dia ingin berteriak lagi, namun dengan kerasnya di dalam hati.

'EEEEEEEEEEEHHHH?'

xXxXxXxXxXx

"Ooh jadi begitu ya? Syukur deh kalau begitu," balas Ai yang berada pada sambungan teleponnya dari Kaito.

"Haah? Apa maksudmu? Bukannya kau cari bantuan, kok malah bersyukur?" balas Kaito dengan was-was, selagi Shinichi masih saja melekat di belakangnya dengan 'rasa cinta ke Kaito'.

"Bukannya kau harus bersyukur kalau racun itu telah bereaksi dengan sempurna?" gumam Ai bosan, "Apalagi, impianmu yang telah lama kau pendam-pendam juga... sudah terwujud kan?"

Kaito hanya bisa tersipu malu ketika mendengar jawaban dari ilmuwan cilik itu. Memang impiannya yaitu bisa mengikat hati Shinichi itu bisa terwujud. Tapi kalau begini, ini lain ceritanya. Shinichi memang telah terikat hatinya, namun ikatan cinta itu terlalu 'berlebihan' untuknya.

"Aku tahu itu, Haibara-chan. Ta—"

"Sudah deh, jangan mengeluh kepadaku dengan suara cemprengmu itu lagi," protes Ai, "Lagipula, sepertinya racun itu tidak akan bereaksi lama deh. Jadi, kamu bisa menikmati waktu berdua bersama Kudo-kun, kan?"

Kaito terdiam sejenak. 'Menikmati berdua... bersama Kudo? Sumpah, gadis kecil ini benar-benar gila sampai mau melakukan ini terhadap kita,' batin Kaito sampai-sampai terdengar sejenak ke Ai.

"Aku mendengar itu!"

Suara Ai yang berasal dari genggaman telepon, bergema sampai telinga Kaito dan Kaito membalasnya dengan panik. "Kayaknya tidak ada yang mau kau bicarakan lagi, ya? Baiklah, have enjoy with Kudo-kun," ujar Ai sebelum dia menutup teleponnya.

"Enjoy? Apa maksudnya? Haibara-chaaaan!"

Sebelum Kaito membalasnya, Ai sudah memutuskan hubungan telepon mereka. Sadis, batinnya. Setelah dia meletakkan ganggang telepon ke tempatnya, dia melirik ke arah Shinichi yang masih saja tersipu-sipu malu akan ketampanan dari Kaito. Shinichi hanya bisa membalas dengan senyuman manisnya lagi ketika Kaito meliriknya. Kaito pun tersipu malu lagi, dia tidak bisa menghadapi Shinichi yang seperti ini.

Tapi Kaito harus berpositive thinking tentang ini, sebab dia telah mengikat hati Shinichi yang sudah lama dia inginkan, kan? Meskipun dengan cara yang tidak sesuai. Jadi dia berpikir, bagaimana kalau berinteraksi dengan dirinya dengan menyentuh pipinya dahulu? Hanya pipi saja, lalu ke bagian tubuh lain.

Sambil menyentuh pipi Shinichi dengan halusnya, Kaito pun ingin meminta maaf, "Maaf ya, Kudo. Kalau semua ini salahku."

"Eh?" Shinichi hanya bingung sampai-sampai raut wajahnya memerah sendirinya.

"Akulah yang telah membuat kau menjadi begini. Karena itu, aku akan menemanimu setelah reaksi racun itu reda darimu."

Shinichi hanya bisa membalasnya dengan pandangan yang berarah lain dari Kaito. Dia pun melepaskan sentuhan dari Kaito itu, lalu memegang tangan Kaito dengan raut wajah yang terbaca 'ada satu keinginan untukmu'. Kaito langsung panik kembali, melihat Shinichi yang langsung memegang tangannya dengan sedikit keras. "Ku... Kudo! Lepaskan!" pekik Kaito.

"Ka... Kaito...," ucap Shinichi.

Baru sekarang Shinichi tidak memanggil Kaito dengan sebutan 'Kuroba', melainkan dengan namanya sekaligus. "A... Apa, Kudo?" tanya Kaito ragu-ragu.

"Aku tidak mau mengatakan ini. Tapi... bolehkah aku menciummu?" pinta Shinichi.

'Haah? Menciumnya? Ini benar-benar serius?' pikir Kaito setelah permintaan Shinichi dialirkan menuju otaknya. Sungguh, dia belum pernah mengalami pengalaman berciuman dengan orang lain, itupun juga hanya ciuman ke pipi bukannya langsung dari bibir ke bibir. Jangankan berciuman ke bibir dengan orang lain, berciuman dengan Shinichi juga belum pernah. Kaito tidak bisa berkutik lagi, ketika Shinichi telah bersiap-siap untuk menciumnya. Astaga, apa yang harus dia lakukan? Menciumnya langsung? Atau menolaknya dengan paksa? It's complicated.

Dengan pasrah, Kaito mencoba untuk 'berpura-pura' mencium Shinichi. 'Hanya sedikit saja. Jangan langsung masuk ke bibir,' batinnya. Muka mereka semakin lama semakin dekat, dan degupan jantung Kaito semakin berdebar-debar. Kaito telah bersiap dengan pengalaman 'ciuman pura-pura pertama'nya. Ketika bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba...

*TING TONG*

Suara bel pintu dari luar pun berbunyi. Kaito langsung lega karena bel pintu itu telah menyelematkannya dari ciuman yang hampir terjadi itu. Kaito bergegas melepaskan cengkraman tangan dari Shinichi lalu bergegas menuju pintu depan. Di lain itu, Shinichi hanya kecewa karena keinginannya untuk mencium orang yang telah mengikat hatinya itu tertunda. Dia hanya bisa melirik Kaito dengan tersipu malu, lagi.

Beberapa menit kemudian, Kaito kembali dengan membawa sebuah kotak yang berisikan sesuatu.

"Ada kiriman paket dari orangtuamu lagi, Kudo," gumam Kaito sambil meletakkan paket itu hati-hati ke atas meja. Lalu, Kaito membuka paket tersebut dan isinya adalah sebotol sampanye yang sedikit besar. Botol yang cocok untuk diminum dengan 2-3 orang sekaligus. Kaito heran saja, sejak kapan orangtuanya Shinichi mengirimkan sampanye kepada anaknya... dan dirinya? Apa mereka pikir karena dirinya dan Shinichi sudah cukup umur untuk meminum sampanye?

Kaito pun melirik Shinichi, sambil bertanya, "Mau minum bareng?"

Shinichi mengangguk pelan, dengan senyuman manisnya itu, lagi.

Kaito hanya bisa embarrassed terhadapnya.

xXxXxXxXxXx

"CHEERS!" seru mereka sambil memantulkan kedua gelas mereka bersama-sama. Kaito belum saja meminum secangkir gelas yang berisi sampanye yang dikirim dari orang tuanya Shinichi, sambil membuka isi lain dari paket tersebut. Ternyata, ada beberapa pasang baju baru dari Amerika untuk mereka dan tentu saja sebuah buku baru untuk Shinichi. 'Orangtua macam apa mereka, memberikan semua barang ini? Apakah mereka worried terhadap kita?' batin Kaito sambil memegang sebotol sampanye, lalu meletakkannya kembali.

"Heh, tapi tidak apa-apa lah," ujar Kaito sambil meminum gelasnya yang terisi oleh sampanye yang telah dipegangnya, "Aku gak pernah komplain dengan sampanye semenjak aku mencobanya tuk pertama kali~" lanjut Kaito dengan senyumannya.

Melihat Kaito tersenyum itu, wajah Shinichi langsung memerah seperti tomat. Dia benar-benar terpesona akan ketampanan dan kharisma dari Kaito. Mengingat kejadian yang telah ditunda tadi, Shinichi langsung meletakkan gelas sampanyenya di meja terdekat.

"Ne, Kaito…"

"Hm? Ada apa, Kudo?" jawab Kaito bingung lalu menghentikan meminum sampanyenya.

"Apa kita tidak akan melanjutkan… yang 'itu' sebelumnya?" tanya Shinichi sambil mendekatkan dirinya ke Kaito, dengan wajahnya yang semakin memerah.

'Melanjutkan… yang itu?' bingung Kaito dalam hati. Dengan paksa, Shinichi mengambil gelas yang dipegang Kaito, lalu diletakkannya tepat disamping gelas miliknya. Kaito kembali panik, tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.

" O… Oi Kudo!" pekik Kaito.

"Emang salah ya…" Shinichi mulai berbicara tepat di depan muka Kaito, "Kalau aku ingin menciummu… untuk pertama kalinya?"

Kaito menggelengkan kepalanya pelan, "Ga… gak kok," jawabnya. Otaknya pun telah berteriak berkali-kali ketika melihat wajah Shinichi dengan tampang innocent terhadapnya.

"Kalau tidak, ayo cepatlah Kai," bujuk Shinichi, "Aku sudah siap, kok~"

Shinichi mulai mendekati Kaito dan mencoba untuk mencium Kaito kembali. Tinggal Kaito yang masih saja tidak tahu harus bagaimana menghadapi Shinichi yang telah terlanjur menjadi begini. Namun dia menyadari, kalau ini bukanlah Shinichi yang dia kenal. Shinichi yang berada di depannya sekarang, telah terbelenggu dan terperangkap dengan racun cinta yang meskipun reaksinya tidak bakal lama. Dengan sigap, Kaito memegang kedua pundaknya. Lalu mendorongnya sambil menolak untuk menerima ciuman dari Shinichi.

"Go… Gomenasai, Kudo!" seru Kaito, "Kudo yang berada di depan mataku sekarang, bukanlah Kudo yang aku kenal! Kudo yang berada di depanku sekarang… sekarang telah terinfeksi dan terbelenggu dengan sebuah obat yang begitu mematikan. Jadinya—"

"Terus kenapa?"

'Eh?' Kaito langsung heran terhadap Shinichi.

Shinichi pun melepaskan kedua tangan Kaito dari pundaknya dengan paksa. "Terus kenapa... KENAPA KAU TIDAK MENGAMBIL SAJA KESEMPATAN TADI?" protes Shinichi.

"Kudo?" Kaito pun khawatir dan terdiam sejenak.

"KALAU KAU TAHU KALAU AKU SEDANG DALAM KONDISI SEPERTI SEKARANG, KENAPA KAU TIDAK MENGAMBIL DAN MENGGUNAKAN KESEMPATAN ITU? Kamu selalu saja…"

"Relax Kudo. Tenanglah sedikit," ujar Kaito sambil menenangkan Shinichi.

"Selalu…" Shinichi pun merendahkan suaranya kembali dan menundukkan kepalanya.

"Sebenarnya… Ada apa dengan dirimu, Kudo? Kenapa kelakuanmu menjadi begini?" tanya Kaito berheran-heran terhadap kelakuan Shinichi hari ini.

Shinichi pun berbicara kembali, "Kau mau tahu kenapa, kenapa dirimu yang selalu saja menolak apapun terhadapku?"

Kaito pun terdiam kembali. Sepertinya ada sesuatu yang telah dipendamkan oleh Shinichi khusus untuknya.

"Kau itu…" Shinichi mulai berbicara dengan perasaan yang begitu sakit, meskipun rona merah di pipinya belum pudar, "Karena kau itu selalu tidak tertarik terhadapku. Kau benar-benar tidak menyukaiku sepenuh hatimu sejak pertama kali kita bertemu. Padahal sebenarnya aku… aku…"

"Kudo… A… apa maksudmu?" tanya Kaito kembali.

"Ah, rasanya aku telah berbuat sesuatu yang sangatlah bodoh dari semua perbuatankus selama ini," gumam Shinichi pasrah, "Aku ingin sekali menyentuhmu, ingin sekali mendekat dengan dirimu, meskipun itu… hanya untuk sementara, meskipun kau selalu menjauhiku. Makanya aku meminta tolong kepada Haibara tiga hari yang lalu. Lalu membuat sandiwara terhadap Love Potion itu dan berakting layaknya aku telah mengalami reaksi dari racun itu. Tapi aku tidak menduga, kalau hasilnya sama seperti biasanya. Kau menolakku dengan mentah-men—"

"Tunggu dulu." Dengan sengaja, Kaito menghentikan perkataan Shinichi yang masih dialirkan ke otaknya. "Jadi… jadi semua kejadian itu hanyalah akting?" tanya Kaito kaget.

"Ya! Kau benar, Kai," jawab Shinichi dengan senyuman alaminya, "Maafkan aku atas semua ini, oke?"

Kaito langsung sweatdrop dan menundukkan kepalanya pasrah setelah mengetahui kalau ini benar-benar akting belaka. Dia merasa kecewa, setelah dia merasa panik terhadap Shinichi yang diduga mengalami reaksi Love Potion yang diberikan Ai tadi pagi, lalu sekarang dia mengetahui kebenarannya. Entah apa yang akan dia lakukan terhadap Shinichi yang telah mempermainkannya hari ini. Apakah dia harus membencinya? Meskipun masih ada rasa cinta terhadap Shinichi yang dia pendam selama ini?

Shinichi hanya bisa tersenyum sendu dengan mukanya yang masih memerah, sambil teringat semua kejadian yang dia lakukan hanya untuk mendekati Kaito, "Kau tahu, kau boleh saja membenciku setelah ini. Kau boleh saja meninggalkanku dari sini. Aku hanya bisa melakukan hal yang begitu bodoh, hanya untuk kau mendapatkan hatiku. Seumur hidupku aku tidak pernah melakukan hal seperti ini. You can hate me from no—"

"Shut up, Shinichi," bisik Kaito sambil mendekatkan dirinya ke Shinichi, lalu menyentuh bibirnya ke bibir Shinichi. Shinichi pun terkejut ketika Kaito menyebut namanya dan melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin dia lakukan selama ini. Setelah Kaito melepaskan ciuman yang kilat itu, dia langsung memeluk Shinichi dengan lembut, dan meminta maaf atas selama ini. Karena Kaito selalu saja mencampakkan Shinichi yang sebenarnya sudah lama sekali… dia memendamkan perasaannya terhadap Kaito. Sama seperti Kaito yang memendam perasaannya terhadap Shinichi.

"Maafkan aku Shinichi. Maafkan aku atas semua ini. Aku pernah berpikir tentang perasaanmu, tetapi selalu saja kugubris dan tidak kusadari selama ini. I'm just a selfish," sesal Kaito, "Tapi… Aku sangat senang Shinichi! Aku tidak menyadari kalau selama ini… ternyata kau mencintaiku juga!" seru Kaito dengan perasaan bahagia yang ingin dia keluarkan selama ini. Mendengar hal itu, Shinichi langsung terdiam dan mukanya lebih memerah seperti biasanya. Dikira Kaito bakal membencinya karena Shinichi telah mempermainkan hatinya Kaito. Namun dugaan itu salah, dia malah membalasnya dengan senang hati.

Setelah pelukan yang mereka lakukan beberapa menit itu, mereka pun melepaskannya perlahan. Lalu menatap satu sama lain dengan perasaan bak bahagia, dan menyentuh bibir mereka satu sama lain. Kali ini, mereka menekan bibir mereka dan mencium dengan perasaan dari hati mereka, bukan dengan sebuah racun yang mengikat hati secara instan. Ciuman yang halus itu, telah membuktikan kalau mereka telah mengungkapkan perasaan mereka dengan hati dan perasaan cinta mereka. Bukan dengan sesuatu yang secara tidak langsung ke hati.

.

Apa yang aku inginkan… Hanyalah ingin menyentuhmu dan berdua denganmu…

.

Dari perasaan cintaku yang halus ini… Just for you...

THE END

xXxXxXxXxXx

OMAKE~~

Keesokan harinya, di Laboratorium Ai…

"Jadi, masalah itu telah terpecahkan? Syukur deh," gumam Ai terhadap Shinichi dan Kaito yang sekarang telah menjadi sepasang kekasih karena kejadian kemarin, "Aku tidak menduga kalau masalah itu bakal terpecahkan secepat ini."

Mereka hanya bisa menatap satu sama lain dengan perasaan bahagia, tidak akan melupakan kejadian kemarin dimana mereka mengetahui perasaan mereka yang dipendam selama ini.

"Untuk merayakannya, aku berikan kalian ini," ujar Ai sambil mengasihkan sebuah bungkusan berwarna cokelat kepada mereka. Mereka pun langsung melirik kembali ke ilmuwan cilik itu, lalu mengambilnya dan langsung membukanya dengan rasa penasaran. Setelah mereka membukanya, mereka langsung tersipu malu ketika melihat benda yang diberikan oleh Ai.

"HAIBARAAAAA!"

"DA… DARIMANA KAU MENDAPATKAN SEMUA BUKTI-BUKTI INI, HAIBARA-CHAAAAN?"

Karena mengetahui kalau dia bakal dicampakkan seperti ini, Ai malah membalikkan badannya untuk menghindari omelan dari mereka.

'Sudah aku duga, harusnya aku tidak usah menstalking mereka kemarin,' batin Ai, 'Tapi, pasti juga mereka akan menikmatinya.'

(another) THE END XD


A/N: kalo pengen tau apa yang Ai berikan kepada mereka, pikirkan sendiri oke? ;) /karena authornya juga gatau XDv

heyyo all, kembali lagi deh dengan another oneshot fic... sebelum semi hiatus karena bakal mengikuti UTS dan pemantapan untuh menghadapi UN 2012 nanti =_=" /tapi, kayaknya aku bisa update yang "Come from Future?" kalau aku bisa memancing waktuku (?) XD *yep, aku telah membikin fic multichapter yang pairingnyajugakaishinXDv*

fic ini... sebenarnya keinspirasi dengan doujinshi yang selalu aku baca di lappieku *bukan anak baik nih XDv*dengan judul yang sama. makanya aku meminta maaf kepada reader yang kayaknya bingung dengan jalan ceritanya-_-"

.

tetapi, sankyuu telah membaca dan mereview oneshot ini :D akhir kata, review?

See ya on another moonlight~!

Love and Peace, S4viRa deMSN a.k.a MSN1412 (I've been thinking to change the penname into MSN1412. Should I?)