Laundry
Mingyu x Wonwoo
.
.
Hujan yang awalnya hanya gerimis mengundang, kini sudah menjadi bulir bulir besar yang sakit saat mengenai permukaan kulit.
Ketiganya basah kuyup saat memasuki rumah Mingyu. Ia menawarkan rumahnya sebagai tempat berteduh sementara dan dengan alibi akan memasakan sesuatu yang hangat untuk di nikmati disaat hujan. Awalnya Seungcheol menolak, pria yang lebih tua itu ingin langsung kerumah Wonwoo saja, berdua dengan Wonwoo tanpa harus ada si Kim -Penganggu- itu. Namun usahanya sia-sia saat Wonwoo menyatakan ingin sekali memakan masakan Mingyu.
"Please~ Seungcheol hyung~ dirumah Mingyu ya? Ya ya ya?" Wonwoo menarik-narik Long Coat basah itu dengan semangat.
"Baiklah" balas Seungcheol pasrah. Dan disinilah mereka bertiga. Di rumah Kim Mingyu.
"Tunggu sebentar, akan aku ambilkan baju ganti" Mingyu berjalan dengan langkah panjang menuju kamarnya dan mengambil beberapa pakaian untuk kedua temannya itu -Mingyu tidak tahu pasti bisa menyebut Seungcheol teman atau tidak, karena baru pertama kali bertemu.
"Ini untuk Wonwoo hyung"
"Dan ini untuk..." jeda sebentar sebelum Seungcheol memperkenalkan dirinya.
"Choi Seungcheol" Mingyu tersenyum singkat lalu memberikan celana training hitam dan T-shirt hitamnya.
"Hyung bisa pakai kamar mandi bawah. Wonwoo hyung kamar mandi atas"
"Lalu kau?" tanya Wonwoo.
"Ada 2 kamar mandi di lantai atas" Seungcheol mengangguk dan menuju kamar mandi bawah dan Mingyu, Wonwoo berjalan bersama menaiki tangga untuk menuju ke tujuan masing-masing.
"Kamar mandinya di ujung sana"
"Aku takut" Wonwoo malah menyembunyikan wajahnya di balik bahu lebar milik Mingyu.
"Tidak ada apa-apa hyung. Atau kau mau yang di dalam kamar itu?" Wonwoo menggeleng.
"Baiklah" Mingyu menarik Wonwoo menuju kamar mandi yang ada di kamar atas.
"Eh- kita ganti berdua?"
"Lalu mau bagaimana lagi? Lihatlah jari-jariku dan jari-jarimu, terlihat berkerut karena kedinginan"
"Tapi aku malu" Wonwoo menutup wajahnya dengan tangan cantiknya dan menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Semburat merah juga terlihat di pipi putihnya itu.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak hyung, kau hadap ke utara, aku menghadap selatan. Paham?" Wonwoo mengangguk dan memasuki kamar mandi dengan ukuran yang cukup luas. Wonwoo meletakan pakaian gantinya di gantungan yang ada di depan. Dengan cepat, Wonwoo melepas atasannya dan mengambil T-shirt putih itu dan memakainya.
Tidak butuh waktu yang lama untuk Wonwoo berganti pakaian, karena dalam situasi seperti ini, ia harus cepat tanggap.
"Kalau sudah selesai, hyung bisa keluar duluan"
"Ah iya" Wonwoo dengan mata terpejam, berusaha untuk tidak melihat Mingyu yang ia ketahui sedang half-naked itu.
"Untung sudah lihat sedikit tadi" batinnya. Dan langsung keluar kamar mandi dengan langkah terburu-buru.
"Astaga, Mingyu ternyata memiliki tubuh yang bagus" Wonwoo berjalan sambil menyembunyikan wajahnya dibalik handuk yang ia pegang. Sementara itu Mingyu hanya terkekeh pelan dan melanjutkan mengganti pakaiannya.
"Bagaimana bisa aku berganti dengan santai sedangkan ada bunny yang sedang berganti pakaian juga. Huh! Aku bisa gila"
.
Wonwoo berjalan mendekati Seungcheol yang sudah ada di sofa bawah dengan handuk yang ada di kepalanya -seperti domba.
"Pipimu merah, kau sakit?" tanya Seungcheol lalu menarik Wonwoo untuk duduk di hadapannya.
"Tidak"
"Sini handuknya" Seungcheol meraih handuk itu dan meletakan di atas kepala Wonwoo, selanjutnya ia mengusap-usap handuk tersebut guna mengeringkan rambut basah Wonwoo.
"Nanti kau bisa sakit"
"Iya, terima kasih Seungcheol hyung" Seungcheol tidak menjawab, ada getaran-getaran aneh di dalam tubuhnya saat melihat Wonwoo mengatakan terima kasih sambil tersenyum tulus.
"Sungguh! Ada apa denganku! Ada apa Choi Seungcheol!"
Ditengah kegiatan mereka, Mingyu muncul sambil membawakan dua cangkir berisikan coklat panas yang sangat cocok di nikmati dikala hujan deras menguyur kota Seoul.
Mingyu meletakan dua cangkir itu di meja lalu berpamitan lagi ke dapur.
"Aku akan memasak"
"Aku ikut!!" teriak Wonwoo senangnya bukan main.
"Tunggu sebentar" Wonwoo menoleh ke arah Seungcheol yang saat ini sudah berdiri.
"A-aku ikut juga" dengan nada yang terpatah-patah, Seungcheol berhasil mengalahkan gengsinya.
"Ti-tidak mungkin kan aku bertindak seperti boss?"
"Itu mungkin saja sih, tapi kalau mau membantu, aku persilahkan" balas Mingyu dengan senyuman kecil.
"Kalau begitu, Ayo!" Sebelah tangan Wonwoo menggandeng Seungcheol dan sebelahnya lagi menggandeng tangan Mingyu. Disini Wonwoo sangat bersemangat dan tidak mengetahui bahwa pria-pria yang ada di dekatnya ini sedang berperang batin.
"Baiklah kita memasak apa!" tanya Wonwoo semangat sambil memasanh clemek berwarna biru muda untuk dirinya.
"Kenapa aku diberi warna pink?" Seungcheol tidak terima. Wonwoo mendapat biru muda, Mingyu berwarna putih, dan dirinya berwarna pink? Yang benar saja Choi Seungcheol, pria 22 tahun berpenampilan manly dan berani harus menggunakan clemek berwarna pink?
"Sudahlah hyung, terima saja" Wonwoo buru-buru menganbil clemek tersebut dari tangan Seungcheol dan memakaikan clemek itu pada yang lebih tua.
"Berhubung kau sudah memakaikan, aku tidak protes lagi" Seungcheol terlihat senang dan bangga. Nilainya 1 - 0 sekarang.
"Kita akan memasak sundubu-jiggae" Mingyu mengeluarkan beberapa bahan yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Hyung, tolong potong dadu tahu ini" Mingyu memberikan plastik persegi panjang berisikan 8 kotak tahu putih yang siap olah.
Seungcheol dengan senang hati menerima dan mulai memotong dadu tahu tersebut.
Dapur Mingyu sangatlah luas, jadi mereka tidak perlu berdesak-desakan saat mengerjakan tugasnya masing-masing.
"Wonwoo hyung, tolong potong kecil-kecil daun bawang ini dan tomat"
"Siap!" sedangkan Mingyu, sedang menyiapkan kompor dan memanaskan air, sambil memotong beberapa sayur yang akan di olah juga.
Wonwoo memotong asal daun bawang itu. Dengan tidak professional nya ia memotong dengan ukuran yang sangat besar.
"Hyung, bukan seperti itu" Mingyu beranjak dari tempatnya. Dengan gerakan tiba-tiba, Mingyu meletakan tangannya diatas tangan Wonwoo yang sedang memotong tersebut.
"Seperti ini" Wonwoo tersenyum kecil sambil sesekali melirik ke arah Mingyu yang ada di belakangnya.
"Jangan pernah takut dengan pisau, selagi hyung bisa mengusainya, ia tidak akan melukai" Mingyu mengajarkan tips trik untuk Wonwoo, dan lagi-lagi mereka tidak sadar bahwa masih ada manusia lagi disana.
Seungcheol melihat dengan geram. Tangannya masih memotong dadu tahu-tahu itu. Hingga dengan cerobohnya pisau itu melukai tangannya.
"Aw-" teriak Seungcheol cukup nyaring. Darah segar banyak mengalir, Wonwoo yang panik segera mengambil tissue yang ada di situ dan membalut sementara lukanya agar tidak mengeluarkan darah lagi.
"Mingyu, aku akan mengurus Seungcheol hyung. Maaf tidak bisa membantu" Mingyu tersenyum mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
"Dia ceroboh atau cemburu? Dasar!"
.
Wonwoo membuka kotak P3K itu dan mengeluarkan alkohol untuk membasuh goresan itu.
"Aw- pelan pelan"
"Hyung kenapa ceroboh!"
"Tidak tahu"
"Haishhh-" Wonwoo memberikan tetesan betadine dan membalut luka itu dengan handsaplast bermotif singa.
"Hyung, lihatlah. Ada motif singa"
"Lalu?"
"Seperti dirimu! Hyung mirip singa, Rawr~" Wonwoo menggerakan tangannya seperti kucing yang lucu.
"Sudah sudah, tanganku masih kaku"
"Benarkah?"
"Aku kehabisan setengah darah gara-gara tadi!"
"Hyung yang serius! Jangan bercanda! Apa aku harus lapor polisi?" Wonwoo mode panik langsung mengambil ponselnya dan ingin menelfon polisi Seoul.
Tapi belum sempat mengetik nomornya, ponsel itu sudah ada di tangan Seungcheol.
"Dimana-mana, kalau sakit ke rumah sakit, bukan polisi!" Wonwoo hanya memberikan cengiran polos.
Mingyu hanya melihat miris dari arah dapur, melihat betapa senangnya bunny saat tertawa dengan oranglain. Masakan sudah selesai, Mingyu tinggal menaruh masakan itu dari wajan ke mangkuk dengan ukuran besar. Namun, karena perang batin yang ia alami. Jari telunjuk Mingyu tidak sengaja menyentuh wajan panas itu hingga telunjuknya melepuh.
"Sial!" Mingyu berpura-pura menahan sakit di telunjuknya dan memanggil Wonwoo dan Seungcheol untuk menuju meja makan.
Di meja makan pun yang aktif berbicara hanya Wonwoo. Sementara yang lainnya hanya menanggapi sesekali lelucon-lelucon garing pemuda bermata rubah ini.
"Kita nanti lanjut nonton filmnya ya! Mingyu harus lihat, ini film lucu sekali!" teriak Wonwoo excited.
1 jam telah berlalu, dan film yang mereka tonton sudah menayangkan bagian credit tittle. Disini yang menikmati film di awal hanya Wonwoo. Pria-pria di sampingnya ini sungguh sedang dalam perang batin dan dalam egonya masing-masing.
Susah bagi Seungcheol mengatakan "Aku tahu Wonwoo mengatakan bahwa kau orang yang disukainya. Tapi apa kau pernah berfikir adanya celah disitu?" Seungcheol rasa tidak baik juga membicarakan hal seperti itu padahal mereka berdua baru saja berkenalan.
"Won-" Mingyu terkejut saat Wonwoo menjatuhkan kepalanya di pundaknya.
"Biar aku yang mengantar ia pulang, karena aku yang izin keluar bersamanya pada Bibi Jeon" Mingyu tersenyum tipis dan membiarkan Seungcheol membawa Bunny nya.
Wonwoo sekarang ada di punggung Seungcheol. Wonwoo tidak terusik sama sekali saat Seungcheol dengan susah payah menggendong tubuh bongsornya.
"Aku permisi" Seungcheol pamitan kepada Mingyu, namun sebelum benar-benar melangkah pergi dari rumah itu, Seungcheol berujar.
"Ah- Mingyu, apa kau tahu kata-kata dari Debbi Fields?"
"Aku tidak tahu"
"Hal yang paling penting adalah tidak merasa takut untuk mengambil kesempatan. Kegagalan terbesar adalah tidak mau mencoba. Ketika kamu menemukan sesuatu yang kamu cintai, maka lakukanlah yang terbaik" Mingyu masih tidak memahami maksud Seungcheol.
"Aku harap, aku bisa melakukan hal yang terbaik untuk Wonwoo. Aku permisi" Pria berkulit pucat itu sudah hilang dari arah pandangan Mingyu. Kini Mingyu tahu maksud ucapan Seungcheol.
Seungcheol berusaha merebut Wonwoo darinya.
.
.
.
.
TBC
Author note's : Haiii~ allhamdulilah aku bisa up Laundry '3' maaf kalau chap kali ini rada gaje dan banyak typo(s). Aku bakal update di ffn setelah aku update di wp /apasih/?Maaf juga kalo chap-chap selanjutnya bakal pendek-pendekㅠㅠ doain laptop saya nggak marah lagi yaa~C U next chap~
