HUNHAN | DEPRESSED | CHAPTER 9
Tittle : Depressed
Author : Larasafrilia1771
Genre : Tragedy, Romance, Yaoi
Cast : Oh Sehun
Lu Han
Wu Yifan
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Kim Jinhwan ( Ikon )
A/N :Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^
.
.
Summary
Sehun terpaksa dijodohkan dengan putra dari kerabat orangtuanya bernama luhan. Hal pertaman yang membuat sehun aneh kepada orangtuanya adalah kenapa ia bisa dijodohkan dengan namja yang mengidap depresi seperti luhan?
.
.
.
.
_Sebelumnya_
Luhan mendesahkan nama sehun, menghantarkan suatu getaran yang bergejolak didalamnya. Sehun menantikan moment ini sekarang, dimana matanya tak dapat beralih pada sosok cantik yang kini berada di bawahnya.
Mereka saling mengerti satu sama lain. Sehun terus melakukan apa yang ia inginkan terhadap namjanya. Sentuhan lembut, berserta hembusan napas berat yang saling beradu. Bukan untuk napsu semata mereka mereka melakukan ini. Keduanya saling membutuhkan untuk mengatakan pada semua jika mereka berbahagia dengan status barunya.
Sehun mengeluarkan benihnya di dalam luhan, dan namja cantik itu hanya bisa mendesah hingga titik akhir. Saling merasakan surga dunianya masing – masing.
.
.
.
_Depressed_
Luhan direbahkan secara perlahan kearah ranjang. Seakan mengunci pergerakannya, sosok yang kini tengah berada diatasnya terus saja menatap Luhan, seakan menelanjangi tubuh itu. Namja cantik tersebut menatap lekat obsidian berwarna abu – abu milik Sehun diatasnya. Aroma maskulin menguar saat tubuh kokoh itu memeluknya cukup erat, menghantarkan getaran aneh yang membuat Luhan merinding saat dirasa hembusan napas Sehun menerpa perpotongan lehernya.
"Enghh..Sehunnhh"
Mereka saling berpelukan dengan posisi berbaring. Mendesah lirih saat dirasa sesuatu yang basah dan lembab dengan lihai menjilati daerah sensitifnya tersebut. Luhan mendongkak, berusaha memeluk tubuh tegap itu lebih kuat bermaksud untuk membuat Sehun semakin gencar menandai lehernya.
"Akhhh.."
Luhan mendesah kembali saat Sehun tak lagi menandari lehernya dan beralih untuk mencumbui bibir merah Luhan. Mengecup, menjilat hingga memasukkan lidahnya kedalam rongga hangat namja cantik tersebut.
Sehun terus melakukannya, menggerayangi sekitar tubuh Luhan dari bahu hingga paha dalamnya dimana itulah titik sensitif yang dimiliki. Tangannya meraba kulit putih pendampinya yang terasa sangat lembut saat disentuh membuat Sehun gemas sendiri dan sedikit meremas paha dalam Luhan yang tak terbalut apa – apa, karena hanya memakai kemeja putih polos saja.
"Ughh.. Sehun..geliiiakhhh"
Luhan ketagihan dengan sentuhan yang diberikan Sehun. Membuatnya berulang kali mendesahkan nama sang suami hingga tenggorokannya terasa sakit. Membuka tiga cancing kemeja tersebut, menyibaknya hingga mempertontonkan dua buah tonjolan kecil yang membuat Sehun lapar untuk memakannya. Beralih dari bibir kini namja tampan itu telah mengulum nipple Luhan yang telah tegang disana.
Luhan meremang saat tangan lihai sang suami mulai membuka satu persatu kemejanya hingga kini Luhan telah naked dihadapan Sehun. Namja cantik itu merona malu, dengan tubuh yang agak mengangkang dengan keadaan tanpa sehelai benangpun dengan Sehun yang menatapnya tanpa berkedip.
Luhan bangkit secara tiba – tiba, mencium bibir Sehun yang sedikit terbuka dan memasukkan lidahnya. Posisi berdiri dengan lutut di ranjang dengan keadaan saling berciuman panas. Tangan Luhan menggerayangi dada bidang Sehun, merasakan tekstur itu meski dari luar, hingga lama kelamaan tangannya merayap membantu sang namja tampan untuk membuka helaian benang yang masih membungkus tubuh tegap tersebut.
Luhan ternganga menatap abs yang sudah jadi dihadapannya. Tubuh Sehun terbentuk sempurna, dengan otot perut yang terlihat sangat sexy.
"Kenapa menatapku seperti itu sayang?" Tanya Sehun mulai menggapai pipi Luhan untuk kembali ia kecup. Mencoba menuntun jemari namjanya untuk membuka celana yang nampak sudah sangat sesak dipakai.
"Ughh" Luhan meleguh, memegang sesuatu yang nampak telah tegak dihadapannya sekarang. Sehun maupun Luhan telah benar – benar naked, dan Sehun tak akan bisa untuk berhenti mengagumi sosok Luhan yang nampak sangat sempurna.
Tanpa tunggu lama Sehun merebahkan kembali tubuh yang lebih kecil. Memberi sentuhan – sentuhan yang membuat Luhan terangsang untuk lebih semangat melakukannya.
"Ini akan sakit, kau bisa lampiaskannya padaku"
Luhan mengangguk pasrah dibawahnya membuat libodo Sehun semakin meningkat. Ia kocok dan remas sesaat juniornya, bersiap untuk memasukkanya ke dalam lubang hangat Luhan.
"Shhh"
"Tahan sayang"
JLEBBB
Sehun memasukannya dengan sekali hentakan. Ia tak mau untuk memasuki dengan perlahan karena hanya akan membuat Luhan lebih merasakan sakit.
"Akhhh..Sakit..Ughhh" Luhan terus merintih saat dirasa benda asing itu bersarang dilubangnya. Sensasi panas bercampur dengan perih dan Luhan merasa tubuhnya seperti dirobek secara paksa.
Sehun masih menunggu meski dirinya telah sangat terangsang sekarang. Peluh membanjiri pelipisnya, mengerang secara jantan membuat Sehun semakin terlihat sexy.
Mereka berciuman kembali, lebih kasar dan menuntut membuat Luhan semakin terdorong menekan bantal dengan kuat kebelakang.
Sehun menggenjot lubang itu perlahan bersama dengan rintihan juga desahan Luhan yang membuatnya frustasi untuk melampiaskannya. Hentakan – hentakan yang diberikan Sehun membuat Luhan tersentak cukup kuat saat lama kelamaan genjotan Sehun semakin cepat, membuat Luhan mendesah nikmat karenanya.
"Lebih cepat ..Ughh..Sehun akhh"
"Sabar cantik"
Sehun terus menggenjot Luhan secara brutal dan Luhan hanya bisa mendesah saat cairan spermanya keluar mendahului Sehun.
Masih melakukan itu dan Sehun belum juga mencapai klimaks sedangkan Luhan telah beberapa kali. Luhan terhentak – hentak cukup keras karena genjotan Sehun diatasnya, hingga pada tusuka akhir Sehun menyemburkan spermanya kedalam Luhan. Menghantarkan sesuatu yang menggelitik ke arah perut bagian bawahnya yang terasa penuh juga hangat.
Luhan menatap Sehun penuh pemujaan. Suaminya sangat tampan melebihi siapapun menurutnya, meski Luhan bukan mencintai hanya untuk bentuk fisik saja. Ia merasa beruntung untuk ini membuat Luhan ingin menyentuh wajah tegas itu untuk kembali ia dekatkan kearahnya.
"Saranghae Luhan, ronde selanjutnya"
"ANDWWEEE"
.
.
Luhan terbangun kala itu, membuka matanya lebar karena merasa mimpi yang ia alami tadi adalah dejavu. Tadi malam ia melakukan itu dengan Sehun dan mimpinyapun sama seperti apa yang telah mereka lakukan sebelumnya.
Ialah yang pertama kali terbangun kala itu. Menatap kearah samping hingga ia tak mampu lagi menahan rasa malunya.
Kegiatan semalam terasa sangatlah panjang hingga Luhanpun tak mampu lagi untuk sekedar berkata. Terlalu menakjubkan dan membuat sendi – sendinya menjadi lemah seketika. Gemetar di bawah seorang kuasa Oh Sehun yang dengan teratur menghentakkan tubuhnya untuk memasuki dirinya tadi malam. Namja cantik itu hanya bisa mendesah, kalut akan kenikmatan yang mereka buat sendiri hingga membuat rasa perih yang menjalar akibat aktifitas yang selesai tengah malam. Mulai dari pukul delapan malam hinggatengah malam , empat jam mereka melakukannya.
Luhan belum mau untuk bangkit dari posisinya. Bagian belakangnya terasa masih perih dan ia belum mampu untuk sekedar berjalan kearah kamar mandi. Jangankan untuk itu, sedikit mengubah posisipun rasanya sulit bagi Luhan sekarang. Ini adalah pertama kalinya ia melakukan ini, untuk pertama yang sangat menakjubkan.
Tangan rampingnya mengelus helayan rambut Sehun yang menutupi sebagian wajahnya, lalu dengan seketika matanya tak ingin beralih sedikitpun kearah Sehun yang masih terpejam. Luhan tersenyum atas perlakuannya, perlahan namun pasti ia mulai mendekatkan wajahnya. Mencoba menggapai bibir yang melumatnya habis – habisan tadi malam.
CUPP
Luhan segera menjauhkan wajahnya menatap kaget Sehun yang kini tengah terbangun. Ia tertangkap basah telah mencuri morning kiss dari Sehun.
"Apakah belum cukup juga?" celetuk Sehun, terkekeh sesaat melihat kelakuan suami cantiknya barusan. Luhan disana terdiam, mengubah dengan cepat posisinya untuk memunggungi Sehun meski ia masih meringis untuk itu.
Sehun terdiam sesaat untuk berpikir sebelum lengan kokohnya perlahan merambat untuk memeluk Luhan dari belakang. Tubuh yang lebih kecilnya sedikit gemetar, geli karena sentuhan yang diberikan. Luhan diam saat dirasa Sehun tengah mengecupi punggungnya hingga mengubah posisinya yang semula memunggungi menjadi saling berhadapan.
"Ukhh, bokongku perih" Eluhnya, menyusup pada dada bidang Sehun dan ingin kembali terlelap. "Hey, jangan tidur lagi OK agenda kita banyak hari ini?" Luhan acuh atas ucapan Sehun, malah semakin erat memeluk tubuh polos suaminya yang beraromakan kegiatan intim mereka tadi malam. Asal kalian tahu Luhan sangat menyukai ini.
"Tigapuluh menit lagi, dan aku akan bangun"
Sehun mengangguk, ia paham jika Luhan sangat kelelahan sekali karenanya. Hanya bisa tersenyum malu saat memorinya kembali mengulang kejadian tadi malam, dimana Luhan mendesah dibawahnya dengan ia yang menghentakan tubuhnya hingga titik terakhir. Selama ini ia hanya bisa berfantasi untuk itu, namun sekarang itu tak berlaku lagi karena Sehun memiliki Luhan seutuhnya.
.
.
_Depressed_
"Mau kemana? Kau barusaja sembuh sakit Jinan"
Itu suara Wufan, tengah melihat sang dongsaeng yang nampak sudah rapi dengan pakaiannya. Jinhwan menghiraukan Wufan yang sedari tadi mengomelinya dengan alasan jika dirinya baru saja sembuh, membuat namja blasteran disana mendekat dan menghalangi dongsaengnya untuk pergi.
"Ingat kau baru sembuh sakit" Ucap Wufan penuh penekanan. Jelas dirinya protes dengan sikap Jinhwan yang seenaknya saja, padahal ini menyangkut kesehatannya sendiri bukan orang lain.
"Aku sudah sembuh hyung, sudahlah aku bukan anak kecil lagi" Wufan tetap pada pendiriannya. Mengambil alih tas jinjing bermerk milik sang dongsaeng ketangan dan menaruhnya kembali.
"Tidak, Chanyeol bilang kau harus beristirahan beberapa hari lagi. Tidak untuk sekarang dan kau harus menurut" Hal yang paling dibenci Jinhwan saat ini, dikekang seolah dirinya masih berumur lima tahun yang belum bisa berbuat apa – apa. Dirinya sudah menginjak usia duapuluh tahun dan juga bisa menjaga diri baik – baik.
Namja mungil itu tidak ingin berdebat lagi. Dengan cepat Jinhwan duduk kembali di sofa kamarnya, mengurut sedikit pangkal hidungya karena tiba – tiba saja kepalanya berdenyut sakit. Akibat dari perdebatan konyol ini dan kepalanya terasa ingin pecah.
Wufan mendekati Jinhwan disana, menatap khawatir sang dongsaeng yang nampak terdiam sambil memijit pangkal hidungya. "Kau pusing lagi Jinan?" Tak ada respon darinya dan Wufan segera memeluk sang dongsaeng. Menyandarkan kepala itu pada bahu kokohnya, untuk sekedar meringankan sakit yang dirasa.
"Aku tak apa – apa hyung"
"Kau harus banyak istirahat Jinan"
Mereka berdua terduduk saling memeluk. Jika dilihat dengan baik mereka sama – sama orang yang nampak kesepian dengan kehidupannya. Jinhwan sebenarnya butuh kasih sayang yang lebih dari seseorang mengingat kedua orang tuanya telah tiada, juga Wufan yang masih melajang di umur yang mulai menginjak kepala tiga. Namja mungil itu tak meminta lebih, ia hanya ingin diperhatika oleh orang terkasihnya namun rasanya mustahil karena orang yang ia maksud telah mempunyai orang lain.
"Aku ingin pergi ke pantai sekarang hyung" kata Jinhwan sambil memeluk tubuh tegap Wufan.
"Kita pergi bersama"
Jinhwan segera melepas pelukan itu, menatap lekat hyungnya yang tengah menatapnya. Jinhwan bukannya tidak mau untuk pergi bersama Wufan hyung, hanya saja ia butuh sendiri sekarang.
"Aku ingin pergi sendiri hyung, hanya sebentar aku butuh suasana yang lain" Mencoba berpikir untuk itu dan Wufan mengerti atas ucapan Jinhwan, hingga ia memutuskan untuk memperbolehkan namja mungil itu pergi sesukanya.
"Baiklah, tapi hati – hati OK"
Jinhwan tersenyum manis atas respon mendadak hyungnya, terlanjur senang hingga ia sendiri tersenyum tanpa henti sambil memamerkan mata sipitnya yang semakin menutup ke arah Wufan.
"Duapuluh tahun dan hyung tidak percaya itu" Mereka terkekeh bersama meski pada awalnya Jinhwan menyangkal dan sempat merengut karenanya. Wufan mengizinkan Jinhwan untuk pergi ke pantai sekarang, mungkin dengan ini dongsaengnya akan lebih baik.
.
.
_Depressed_
Untuk kesekian kalinya Chanyeol hanya bisa harap – harap cemas dengan keputusannya untuk datang ke rumah ini. Setelah membaca isi pesan waktu itu ia segera pergi mencari kado untuk Baekhyun. Sempat ada rasa ragu untuk membeli kado yang sekarang tengah ia genggam dengan sebuket bunga mawar. Pasalnya ia tak terlalu banyak mengetahui tentang Baekhyun.
Ia membuang napas sejenak, menetralkan detak jantungnya yang seakan ingin lompat dari tempatnya. Chanyeol memilih cuti beberapa hari untuk beristirahat sejenak hingga sekarang ia tengah berdiri berhadapan rumah Baekhyun untuk menghadiri acara ulang tahun namja manis tersebut.
Tanpa tunggu lama ia melangkah pasti menuju pintu utama yang nampak terbuka. Perlahan suara alunan musik terdengar oleh telinganya dari arah dalam. Membuat Chanyeol semakin pasti untuk melangkah meski ia sempat ragu untuk ini.
Rumah minimalis ini memang tak terlalu besar, namun terasa sangat nyaman untuk dihuni oleh siapapun. Ia mengedarkan pandangannya saat dirasa telah berada di ambang. Ia mencari Baekhyun yang belum juga terlihat, membuat Chanyeol menciut saat belum juga menemukan sosok yang dicari dan merasa jika ia hanya buang – buang waktu untuk ini.
"DOKTERRRRR"
Sebelum Chanyeol berbalik suara khas seseorang menyapu gendang telinganya. Chanyeol menoleh dan terkejut saat dirasa Baekhyun menghampirinya lalu memeluk namja tinggi itu secara tiba – tiba.
"-Dokter kau datang juga, aku pikir kau sibuk dan tak akan datang" Ucapa Baekhyun masih memeluk tubuh Chanyeol erat. Sedari tadi ia hanya bisa merenung, merasa tak berbahagia dengan acaranya sekarang. Namun saat ia melihat ke arah ambang pintu ia langsung terkejut hingga tak bisa mengontrol diri untuk memeluk sosok yang ia rindukan. Namja manis tersebut merasa ulang tahunnya menjadi sempurna karena kedatangan namja yang sangat ia sukai itu.
"Happy Birthday Baekhyun"
"Gumawo"
Mereka masih saling memeluk satu sama lain. Chanyeol terkekeh dengan kelakuan namja manis dipelukannya ini. Saat masih berada di rumah sakit, jujur ia merasa risih dengan keberadaan Baekhyun yang merepotkan namun sekarang entah kenapa tanggapan itu hilang, Chanyeol merasa ia membutuhkan Baekhyun.
"Untukmu" Baekhyun menatap kado juga sebuket bunga yang diulurkan kepadanya. Untuk kali ini Baekhyun serasa ingin melompat tinggi – tinggi, berguling – guling dilatai sangking bahagianya. Mungkin terdengar berlebihan namun jika bisa ia akan melakukan itu.
"-Aku tak terlalu tahu kesukaannmu, tapi kuharap kau menerima kado ini" Chanyeol menggaruk tengkuknya gugup, menatap Baekhyun yang tengah menatap kado darinya.
"Aku akan suka apapun pemberian dari dokter, Gumawo"
Chanyeol tersenyum tampan. Baekhyun ingin membuka kado tersebut sebelum intrupsi seseorang menggagalkan itu. Hanbin sepupu Baekhyun menghampiri keduanya, berucap jika acara inti akan segera dimulai.
Baekhyun mengajak Chanyeol untuk mendekat. Lambat laun mereka mulai merasakan sesuatu yang berbeda saat mereka bersama. Chanyeol tak henti – henti memuji penampilan Baekhyun hari ini, berbekal keberanian yang sempat menciut untuk itu meski pada akhirnya ia merasa kaku dengan ucapan yang terlontar.
Intinya mereka berdua menikmati hari ini, dimana perasaan itu mulai tumbuh dibenak masing – masing. Chanyeol tak mengerti ini, jantungnya berdetap tak karuan saat bersama Baekhyun. Perasaan yang jelas pernah dirinya rasakan saat masih duduk di bangku sekolah bersama dengan seseorang.
"Terimakasih untuk kadonya dokter, nanti aku akan membukanya"
"Panggil aku Chanyeol hyung saja, panggilan dokter terlalu formal" Ujar Chanyeol dan Baekhyun menyanggupi.
"OK, terimasih untuk kadonya Chanyeol hyung"
"Ne, terimakasih juga untuk hari ini yang sungguh menyenangkan"
Baekhyun mengantarkan Chanyeol sampai ke pintu depan. Tak terasa waktu telah menujukkan pukul empat sore dan ia harus segera kembali.
"Aku pulang, aku akan menghubungimu nanti"
"Ne, hati – hati"
.
.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Sehun, hari ini agenda liburan mereka cukup padat. Bermula mengunjungi kebun binatang, museum, pusat perbelanjaan hingga berakhir kembali ke pantai untuk melihat matahari tenggelam.
Namja tampan itu melakukan ini bukan semata – mata untuk bermulan madu saja. Ia menginginkan Luhan merasa senang untuk hari ini juga seterusnya demi kesehatan mental Luhan.
Sehun menatap lekat Luhan yang berada didekatnya. Duduk berdua beralas pasir putih pantai sebari melihat deburan ombak disana, menunggu matahari tenggelam.
"Apakah kau senang Luhan?" Tanya Sehun membuat Luhan menoleh kearahnya, tersenyum manis seraya mengangguk. Sehun bukanlah seorang namja yang romantis untuk masalah percintaan, sangat kaku malah meski ia pernah menjalin hubungan dengan seseorang dulu.
"-Aku tak romantis juga tak peka, jadi kumohon apapun itu ku harap kau berbicara langsung" Sehun mulai terbuka pada Luhan, berbicara tentang apa yang ingin ia ucapkan pada namja cantik tersebut. Yang jelas Sehun percaya dan menyayangi Luhan sepenuh hati.
"-Dan untuk sekian waktu yang telah berlalu, aku baru merasakan sebahagia ini bersamamu"
Luhan menatap Sehun lekat, mencoba melihat adakah kebohongan didalannya namun nihil Luhan hanya melihat ketulusan didalamnya.
"Ku rasa aku mulai mencintaimu" Balas Luhan, membuat Sehun tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiannya "-Untuk itu ku mohon jangan tinggalkan aku, cukup kehilangan sedua orangtuaku saja dan selebihnya aku tak mau orang – orang yang aku sayangi pergi meninggalkanku. Meski terdengar egois namun setiap orang ingin bahagia bersama orang terkasihnya" paparnya membuat Sehun berdiri dari posisi, mengulurkan tangan mengajak Luhan untuk ikut bersamanya. Sebentar lagi matahari akan tenggelam dan inilah yang Sehun tunggu - tunggu.
Mereka berjalan menuju ke arah pantai, berdiri di pinggir dan membiarkan air laut menyapu kulit mereka. Saling berhadapan dan Sehun memegang kedua pipi Luhan untuk mendongkak dan menatapnya.
"Sekarang akulah yang ada disampingmu, bukan orang lain. Aku Oh Sehun yang benar – benar mencintaimu"
Kedua belah bibir mereka menyatu kala itu. Berlatarkan matahari tenggelam mereka berciuman. Sehun menciumi bibir itu lembut, menyalurkan rasa sayang yang ia berikan pada Luhan melalui ciuman panjang. Luhan membalas setiap lumatan yang diberikan, meski hatinya tengah melawan rasa takut yang teramat saat Sehun mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang diucapkan Sehun seperti apa yang diucapkan Chanyeol waktu itu, membuatnya semakin memeluk tubuh Sehun erat karena ketakutan melandanya sekarang. Sehun membalas pelukan itu tak kalah erat, merasa dengan pelukan itu mereka akan menjaga satu sama lain. Mereka menikmati moment itu dan tak menyadari seseorang di ujung sana tengah menatap mereka dengan penuh kebencian.
.
Jinhwan tengah berada disana. Baru saja ia melangkah untuk menuju ke arah pantai dan matanya telah melihat sesuatu yang membuatnya kesal. Tujuannya untuk pergi menenangkan diri pupus sudah bergantikan rasa kesal yang semakin menjadi. Namja mungil itu masih mematung ditempat menyaksikan moment bahagia disana yang sukses menyayat hatinya.
Pantai dipinggir kota ini adalah tempat dimana Sehun juga Jinhwan sering menghabiskan waktu semasa pacaran dulu. Tempat istimewa yang mereka sukai, namun sekarang sosok yang harusnya Sehun peluk bukanlah seorang Wu Jinhwan karena telah tergantikan oleh hyungnya sendiri.
Air mata yang membendung tak bisa ia tahan lagi. Percuma untuk memisahkan mereka berdua karena Jinhwan tak bisa apa – apa dengan keadaan ini. Sudah beberapa kali dan ia harus menyaksikan lagi keduanya yang tengah berciuman mesra disana. Tidak seharusnya Luhan yang dipeluk erat oleh Sehun, dan juga tidak seharusnya Luhan yang harus dicium Sehun karena dirinyalah yang boleh melakukan itu.
Jinhwan berlari semampunya, menjauh dari pantai untuk pergi. Selama ini usahanya untuk menyingkirkan hyungnya belum juga membuahkan hasil. Selanjutnya ia akan melakukan hal yang lebih buruk lagi, menggunakan cara kekerasan mungkin lebih baik.
Berlari sambil memikirkan rencana jahat lain yang harus dilakukan demi Sehun. Menangis sambil terus berlari untuk kembali kearah mobilnya. Namun sebelum itu terjadi, ia sempat menabrak seseorang dan itu membuat dirinya limbung dan kemudian terjatuh ke tanah.
BRUKKK
PRAAKK
"Awhh"
Namja yang ditabrak olehnya segera membantu Jinhwan yang kini telah terduduk beralaskan tanah. Mencoba untuk mengulurkan tangannya namun segera ditepis karena sekarang Jinhwan tengah menangis cukup keras dan membuat namja itu panik bukan main.
"Ya, apakah ka terluka parah?"
Tak ada sahutan, Jinhwan tetap menangis dan membuat namja yang menabraknya bingung.
"-Hey, kau tak apa – apakan?"
Jinhwan tak menyahut lagi, ia semakin menjadi – jadi hingga orang – orang yang berlalau lalang disana melihat kearah mereka. Jujur namja itu sangat kebingungan, ini hanya tabrakan antara manusia biasa dan bukan tabrakan beruntun yang menewaskan beberapa korban.
"-Hey, jangan menangis. Sudah – sudah" Namja itu berjongkok, mensejajarkan posisinya dengan Jinhwan yang tengah terduduk beralaskan tanah disana. Wajah namja mungil itu sudah tak bisa dikatakan baik – baik saja. Matanya memerah, sebam dengan eyeliner yang nampak luntur dan mengotori wajahnya. Intinya Jinhwan sekarang sangat kacau sekali di hadapan seorang namja asing.
Hanbin namja tersebut bingung harus melakukan apa. Tidak mungkin jika ia harus menyeret namja ini pergi karena itu mustahil terjadi. Dengan segenap keberanian yang ia punya, Hanbin mencoba untuk mengangkat tubuh itu perlahan agar berdiri dari posisi yang sangat tidak bagus dilihat tadi.
"Hikss..menyebalkan" Jinhwan meracau dengan genangan air yang membanjiri wajahnya dan Hanbin hanya bisa memandangnya aneh.
"Hey hey kau sebenarnya kenapa?Apakah kau terluka parah? Kakimu patah atau—...
"Aku bisa berdiri bodoh..hiks..hiks"
Jinhwan sesegukan karena terlalu lama menangis, hingga ia baru menyadari siapa namja yang kini berada dihadapannya.
"Kau siapa?" tanya Jinhwan.
"Menurutmu?" jawab Hanbin dan Jinhwan hanya bisa berpikir "-Apakah karena tabrakan tadi membuat seseorang menjadi amnesia mendadak?" Jinhwan makin tidak mengerti dengan ucapan itu. sifat arogannya kembali, membuatnya segera membersihkan sisa – sisa air mata dengan tissue yang dibawanya kemudian kembali melajutkan perjalanannya.
"Hey kau mau kemana?"
"Aku-" Tunjuknya sendiri "-Ingin pulang"
"Setelah kau menjatuhkan ponselku hingga pecah disana" Ujar Hanbin sedikit meninggikan ucapannya, membuat pandangan Jinhwan terarah untuk menatap ponsel yang sudah nampak hancur tergeletak disana. Namja mungil itu mendecil, ingin kembali melanjutkan langkahnya namun seseorang menarik tangannya membuat Jinhwan sedikit tersentak.
"Apa yang kau lakukan, hey lepaskan"
"Ganti rugi dan aku akan melepaskanmu" Mereka berdebat setelahnya. Membuat Jinhwan kualahan dengan ini. Namja tampan itu terus memintanya ganti rugi dan Jinhwan terus mengelak untuk disalahkan. Ia bisa saja memberi uangnya sekarang namun itu hanya bisa membuatnya menjadi kalah sekarang.
"Aku tak bersalah, kau yang menabrakku tanpa meminta maaf"
"Kau yang menabrakku, kenapa terus mengelak sialan"
Mereka terus saja saling menyelahkan. Terlibat pertengkaran di pinggir trotoar membuat mereka menjadi pusat perhatian banyak orang sekarang.
Sosok namja tinggi menghampiri mereka berdua, menyekal tangan Jinhwan untuk berhenti melakukan hal bodoh di tempat umum. Ya, itu Chanyeol yang kini tengah melerai mereka berdua seraya membungkuk meminta maaf pada Hanbin.
"Maafkan sikap teman saya ini" Chanyeol berujar sambil membungkuk dan Jinhwan tak terima itu, ia merasa direndahkan sekali. Hanbin menatap lekat sosok tinggi itu, meyakinkan bahwa namja itu adalah namja yang ia kenal.
"Dokter, bukankah itu kau?"
Chanyeol telah berdiri tegak, menatap Hanbin sepupu Baekhyun dihadapannya.
"Hanbin, shh maafkan atas kecerobohan temanku" Chanyeol berkali – kali membungkuk. Ia merasa tak enak seperti ini. ia mengenal Hanbin beberapa jam yang lalu dan sekarang Chanyeol harus menyimpan apik wajahnya untuk bertemu lagi dengan namja tersebut.
"Aishh Dokter ya sudahlah aku tak akan mempermasalahkannya, tapi kumohon ajarkan teman anda dengan baik. Dia sangat menyebalkan dan tak tahu sopan santun"
Atas ucapan tersbeut Jinhwan mendelik tajam kearah Hanbin. Tak terima dikatai seperti itu oleh orang asing.
"Aku akan ganti rugi untuk ini" Chanyeol mencoba merogoh saku, mengambil dompet untuk meraih kartu kreditnya. Melihat kerusakan parah ponsel Hanbin ia yakin tak cukup jika dibayar dengan lembaran won di dompetnya.
"Ambillah, tanda permintaan maafku" Hanbin mengelaknya mentah – mentah, menyuruh untuk Chanyeol menaruh kembali benda itu. Ia hanya butuh permintaan maaf dari seseorang yang telah menabraknya.
Chanyeol mengintrupsi Jinhwan untuk segera meminta maaf. Jinhwan sempat menolak namun karena paksaan Chanyeol ia melakukannya meski terpaksa.
"Yasudah kami pergi dulu, maafkan kecerobohan temanku ini"
"Ne, hati – hati hyung"
.
.
_Depressed_
Kini mereka telah pindah ke rumah yang telah Sehun beli sebelumnya. Pindah dari aparthemen ke perumahan yang sekiranya cocok untuk mereka berdua.
Sehun membawa koper milinya juga Luhan. Tak pemperbolehkan Luhan untuk membawa barang – barang berat sedikitpun. Namja cantik itu mengeluh, merasa terlalu diistimewakan padahal kondisinya sudah pulih meski beberapa kali ia difonis mengidap anemia dan sempat beberapa kali pinsan karenanya.
Barang – barang telah tertata rapi di dalam rumah yang memiliki dua lantai tersebut. Sehun tak ingin memiliki rumah yang terlalu besar juga mewah karena rumah impiannya adalah bangunan minimalis yang nyaman untuk ditinggali.
"Mulai besok aku tak ingin iku lagi ke rumah sakit" celetuk Luhan saat mereka tengah ber
"Kenapa?"
"Aku tak ingin merepotkanmu, lagipula aku lelah seharian berada di rumah sakit. Tak dapat melakukan apa – apa dan aku jenuh" Luhan mengeluhkan itu saat mereka sedang bersantai di ruangan tengah sambil menonton acara TV. Sehun memeluk Luhan yang merengut seperti balita sekarang. Merasakan hembusan napas sang suami cantik di lehernya juga merasakan tubuh Luhan yang kecil namun pas berada di pelukannya.
"-Aku ingin di rumah saja, melakukan banyak hal yang mungkin akan menyenangkan. Mengurus rumah misalnya"
Sehun mengangguk menyetujui ucapan Luhan. Meski ia akan sangat khawatir jika Luhan ditinggal sendiri di rumah, mengingat kondisi Luhan akhir – akhir ini sering mengalami pusing hingga membuatnya pinsan.
Sehun mengelus perut ratanya, mencoba merasakan sesuatu yang mungkin menjanggal didalam sana. Sudah beberapa hari mereka melakukan itu dan Sehun berharap akan ada calon bayi yang mengisi kekosongannya.
"Kenapa kau mengelus perutku?" Tanya Luhan.
"Kau pernah muntah akhir – akhir ini kan Lu?"
Luhan mengangguk, memegang tangan Sehun yang masih setia berada di perutnya. Akhir – akhir ini ia sering mengalami muntah, pusing dan sebagainya. Ia jelas tak memikirkan sesuatu berlebih, mungkin ia hanya kelelahan dan beakhir dengan kondisinya yang menurun.
"Kau akan pergi jam berapa?"
Sehun menatap jam dinding sekilas sebelum menjawab. "Mungkin sebentar lagi, aku hanya mengambil beberapa barangku yang tertinggal di ruangan. Hanya sebentar OK" Luhan mengangguk, makin bersandar pada dada bidang suaminya. Setelah Sehun pergi nanti ia berencana untuk pergi ke swalayan, berhubung persediaan makanan mereka telah habis.
.
.
Kini Luhan hanya berdiri menghadapa cermin besar di kamar barunya. Melihat penampilannya sekarang yang nampak sedikit berisi dari sebelumnya. Luhan menggembungkan pipi, mencoba melihat apakah ia nampak aneh sekarang.
"Kenapa aku jadi gemuk"
Luhan mengeluh untuk itu. Berjalan pergi ke lantai bawah untuk bergegas. Ia berencana pergi ke swalayan setelah Sehun pergi, ia sengaja tak meminta ijin dahulu karena dipastika suaminya itu tak akan mengizinkannya.
Hanya butuh beberapa menit menaiki bus yang mengantarkannya menuju tempat tujuan. Luhan turun dari bus, berjalan kembali ke arah pintu masuk swalayan dan segera membawa keranjang belanjaannya. Ia berencana untuk membeli kebutuhan mereka sehari – hari sendirian.
.
.
Sedari tadi ia telah berkeliling di swalayan untuk membeli beberapa kebutuhannya. Kakinya telah terasa pegal juga sakit karena terlalu lama berjalan. Luhan menatap belanjaannya itu, sudah cukup dan waktunya untuk pulang. Sehun mungkin akan memarahinya jika ia telat.
Setelah membayar semua belanjaan. Kini namja cantik itu tengah berada di trotoar, menunggu lampu hijau berhenti dan bergantikan dengan warna merah tanda penyebrangan.
Ia menunggu disana, menenteng satu bungkusan yang lumayan besar. Sudah lama sekali ia tak melakukan ini semua, pergi keluar sendiri dan melihat banyak orang yang lalu lalang disekitarnya. Berhenti dengan lamunannya kini Luhan tengah menatap seorang wanita bersama anak laki – lakinya yang tengah merengek. Luhan tak tahu kenapa, namun anak kecil tersebut terus saja memberontak dari pegangan sang wanita tersebut, hingga matanya membulat saat bocah laki – laki itu berlari ke tengah jalan sementara ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya.
Sontak Luhan melepas bungkusan itu. berlari ke arah bocah disana yang nampak masih berlari dengan langkahnya yang kecil. Hingga_
BRAAKKK..
Luhan terpental seraya memeluk erat bocah laki – laki itu. Tergeletak di sisi dengan luka benturan yang ia ia rasakan di sekitar punggungnya karena posisinya sekarang adalah terlentang dengan bocal laki – laki yang berada dipelukan. Ia tak merasakan sakit yang berarti, namun suara sirine mobil yang berbunyi membuat mata namja cantik itu terbuka perlahan. Bocah laki – laki tersebut berada dipelukannya, menatap Luhan dengan pandangan polosnya.
"Nonna tidak apa – apa?" ujar bocah itu.
Luhan mengangguk seraya tersenyum lalu bangkit perlahan. Seorang wanita menghampirinya dengan wajah panik, Luhan bisa menebak jika wanita tersebut adalah ibu dari bocah ini.
"Kau tak apa – apa nak?" Luhan menggeleng, menyerahkan bocah tersebut ke pangkuan sang wanita.
Luhan menatap banyak kerumunan yang memadati ke arah sisi trotoar. Dan ia baru ingat jika ada mobil yang menabraknya barusan. Tanpa tunggu lama Luhan menghampiri kerumunan itu, mencoba untuk melihat kondisi mobil yang nampak cukup parah dihadapannya. Ia merasa bersalah saat melihat kondisi mobil tersebut dan juga seorang namja yang berusaha dikeluarkan dari dalam mobil.
Polisi yang berada disana dengan sigap menangani kecelakaan ini. memerintah untuk semuanya menjauh dari tempat kejadian.
Luhan menatap lekat namja yang kini tengah di bawa ke dalam ambulance oleh para petugas yang baru saja datang. Mobil tersebut hancur dengan kondisi namja yang berada didalamnya sudah tak bisa dikatakan baik – baik saja. Ia menatapnya lekat dan sontak melebarkan matanya saat melihat siapa yang kini tengah dibawa oleh para petugas kedalam mobil ambulance.
"Jinhwan"
TBC...
SAYA gak bisa bilang apa – apa lagi dah. Dalam sejarah hidup saya ini adalah ff terpanjang yang pernahdibuat. masih mau baca silahkan tapi saya juga butuh kritik yang membangun dari kalian ya.
;
.
.
REVIEW PLEASEE~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
