Title : Remember

Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,

Rating : T

Genre : Romance, Drama, Fluff, Hurt / Comfort (bisa jadi)

.

.

Tidak ada yang bisa menyalahkan perasaan cinta

Karena cinta tak bisa salah dalam memilih

.

.

Remember

[Chapter 9]

.

Pulang?

Kemana aku bisa pulang?

.

.

Dokter berpostur tinggi dengan rambut pirang gelap ini menerima surat hasil tes milik lelaki mungil di sampingnya dengan senyuman lebar. Terlampau senang hatinya saat dia melihat beberapa hasil tes laboratorium yang mengatakan bahwa Suho dalam keadaan sangat baik dan tidak ada masalah yang memerlukan perawatan khusus.

Saat Suho dan Kris kembali ke kamar, namja mungil berambut hitam kecoklatan ini tidak mengatakan sepatah katapun. Dia yang sembuh, namun Kris yang bahagia.

"Kau sembuh Joonmyun, kau bisa kuliah dan melihat dunia luar lagi."

Suho tertegun. Kris menarik tangannya dan membawanya ke kamar, wajahnya sumringah dengan senyum lebar.

"Dunia luar?"

Kris mengangguk kecil "Kau bisa makan enak lagi, tidakkah kau senang?"

Namja mungil itu menggigit bibir. "Senang?"

"Iya! Dan kenapa kau terus mengulangi kata-kataku, kau tidak merasa bahagia?"

"Bahagia? Apa Yifan merasa bahagia aku keluar dari sini?"

Keadaan berbalik, dokter ini tertegun, memandang wajah yang punya pipi chubby ini dengan heran, sekaligus khawatir.

"Kau tidak senang?"

Suho perlahan menggeleng. Dia tidak mengerti.

"Waeyo? Ada yang salah?"

Suho mengusap pipinya "Entahlah, aku tidak merasa senang sekarang."

"Suho?"

"Aku.. aku takut. Meskipun kata Baekhyun dunia luar sangat menyenangkan, Kyungsoo bilang kalau aku bisa makan apapun yang aku mau dan Chanyeol mengatakan padaku kalau aku bisa pergi ke tokonya setiap hari saat aku keluar dari sini, tapi…"

Namja manis itu menarik nafas panjang.

"Tapi aku takut."

Tak berapa lama kemudian isakan kecil mulai muncul, buliran air mulai turun membasahi pipi tembam yang putih itu. Semuanya membuat Kris terkesiap dan melupakan kegembiraannya barusan.

"Aku takut kalau tidak bersamamu, aku takut sekali…"

Kris mendekati tubuh Suho, memeluknya seraya mengelus punggung sempitnya, berbisik menenangkan Suho yang menangis lebih keras sampai sesenggukan.

"Aku tidak tahu… hiks, kemana aku akan pulang…" Suho berucap ditengah deru nafasnya dengan susah payah, mencengkram jas milik Kris dan membiarkan kemeja dokter itu basah.

"…aku, aku tidak mau pulang sendirian. Aku sudah terlanjur bahagia dan merasa nyaman denganmu, aku menyukaimu…"

Kini Kris mengerti mengapa Suho terlihat gelisah, sedih sekaligus ketakutan saat dia tahu kalau dia sudah bisa keluar dari ruangan berdinding putih ini.

"Joonmyun, dengar… dengarkan aku…"

Suho menggeleng keras-keras "Aku ingin terus bersamamu, aku… tidak bisa, kalau sendiran."

"Suho, tunggu! Dengarkan aku!"

Saat Kris membentak Suho, baru namja mungil itu terdiam, ketakutan.

"Aku, juga sudah terlanjur bahagia denganmu, aku juga lelah sendirian terus, asal kau tahu, aku juga sangat membutuhkanmu. Tapi, kau sehat, lebih penting. Karena sehat bukan sesuatu yang mudah didapatkan seenaknya. Paham?"

Namja berkulit pucat ini tertunduk. Kris benar, dia seharusnya bersyukur kalau dia sehat.

"Lalu, aku tahu, aku juga sangat mencintaimu, tapi orang tuamu juga mencintaimu Joonmyun, beritahu dia, dan bertanya apa yang harus kau lakukan. Mereka berkorban lebih banyak dariku dan mereka juga mencintaimu. Telepon dia, dan bicaralah dengannya baik-baik, kemana kau akan pulang setelah ini dan bagaimana nanti kedepan, kau harus bicara dengan mereka. Karena aku tidak punya hak untuk ini. Mengerti?"

Suho mengangguk kecil.

Kris merunduk, tersenyum seraya mendekatkan wajah, mengelus rambut lembutnya.

"Good boy! Jangan menangis ne?"

Lagi-lagi, Suho mengangguk, memeluk tubuh atletis Kris sambil terisak. Sifat Kris yang lain sekarang diketahui oleh Suho. Selain hangat, tegas dan suka melindungi, Suho tahu, Kris orang yang sangat bijaksana.

Membuatnya makin menyukai namja jangkung itu.

.

.

"ANAKKU SUDAH PULANG ?"

Begitulah teriakan Nyonya Kim saat Suho meneleponnya siang ini. Sangat kencang membuatnya harus menjauhkan ponselnya dari telinga.

"Eomma, kemana aku akan pulang? apa aku punya rumah di sini?"

Terdengar di seberang sana Nyonya Kim tertawa "Tentu saja kau punya sayang, mana mungkin tidak?"

"Oh oh, aku akan pulang kesana?"

"Hum, tapi agak berbahaya mengingat kau amnesia. Begini saja, berikan teleponmu pada Yifan, eomma ingin bicara padanya."

"Yifan?"

"Dia ada di dekatmu?"

"Eh, iya, dia ada di sebelahku."

Suho melirik Kris yang tengah mengepak kembali pakaian Suho dan membersihkan kulkas di dekatnya berdiri sekarang.

"Berikan saja, eomma ingin bicara dengannya."

Suho menurut saja, lalu menjelaskan pada Kris kalau eommanya mau bicara. Suho sendiri tak tahu apa yang keduanya bicarakan, namun ketika Kris selesai bicara, Suho bertanya pada ibunya.

"Eomma? Ada apa?"

"Eomma dan Appa akan mengunjungimu 2 hari lagi."

"Eh?"

"Pulanglah ke rumah dokter Yifan sementara selama 2 hari itu dan jangan masuk kuliah dulu. Tunggu eomma dan appa pulang, kami akan memikirkan untuk kedapannya. Eomma tidak bisa membiarkan anak amnesia sepertimu berkeliaran sendiri. Yifan sudah tahu dan jangan merepotkannya."

"Eh eh? Eomma?"

"Eomma hanya ingin memastikan kalau anakku sehat dan ada yang melindungi. Appa dan eomma sayang padamu, jaga diri ya?"

Suho mengangguk, "Joonmyun sayang eomma, Appa juga, cepat pulang ya!"

"Senang sekali anak eomma sudah sembuh. Eomma tutup dulu, nanti appa akan gantian meneleponmu, dia sekarang masih sibuk."

Untuk kedua kalinya, Suho mengangguk. Dia lalu menutup telepon, disimpannya telepon genggam itu di kantungnya sebelum menatap Kris yang ternyata juga menatapnya, dia tersenyum, bahkan mengusakkan tangannya ke kepalanya yang terlapis rambut lembut.

"Yifan…"

"Senang dengan apa yang kau dengar?"

Suho mengangguk kencang. "Aku senang. Terima kasih."

Kerutan muncul pada dahi Kris "Padaku? Kau seharusnya berterima kasih pada eommamu."

Tanpa aba-aba, Suho menerjang tubuh Kris membuat dokter berambut pirang gelap itu sedikit terdorong ke belakang.

"Kau mau pulang sekarang?"

Suho menganguk kencang "Denganmu!"

"Anak manja."

Suho tertawa, lalu memeluk perut Kris. Dibalasnya pelukan itu dengan membungkus tubuh ringannya dengan jas yang dia pakai. Tertawa bersamaan sebelum menepuk punggungnya.

"Itu berarti kau tidak akan tinggal di rumah sakit lagi?" tanya Suho sambil tetap berada di pelukan Kris.

"Aku tinggal disini karenamu, menurutmu, aku akan tetap tinggal kalau kau sudah pulang?"

Namja mungil itu menggeleng, "Kau akan pulang denganku!"

"Aku yang akan membawamu pulang, Joonmyun," Kris terkekeh, dia lalu meraih sebelah tangan kanan Suho, membelainya lembut membuat namja berambut hitam kecoklatan itu mendongak menatapnya.

Dilihatnya jemari panjang Kris memainkan jari-jarinya yang pendek. Perlahan pipi Suho memanas, wajahnya memerah saat Kris menautkan jemari mereka.

"Kau begitu lembut…"

Suho tersenyum, dia merasakan Kris meraba telapak tangannya.

"…halus dan sangat kecil."

"Yifan?"

Kris menghentikan usapannya di tangan Suho namun tetap memegangnya dengan erat. Suho bahkan masih menautkan jemarinya di tangan Kris sambil tersenyum.

"Ya?"

"Aku… sungguh berterima kasih. Karena sudah menjagaku, maafkan aku juga sudah jadi bebanmu selama disini. Aku ingin ingat lagi tentangmu, tapi aku belum bisa melakukannya, mian."

Dokter jangkung itu menggeleng pelan. "Tak perlu minta maaf. Kau bukan beban, aku juga berterima kasih padamu karena sudah ada di hidupku."

"Tapi, aku bahkan tidak melakukan apapun," cicit Suho perlahan, dia merasa sedikit bersalah, juga agak heran.

"Kau bahkan melakukannya dengan baik…"

Namja mungil itu tertegun saat Kris malah mensejajarkan wajah mereka berdua. Menangkup kedua belah pipi tembamnya dan mengusapnya dengan ibu jari. Dokter itu tersenyum, mencium dahi Suho sebelum bicara tepat di depan wajahnya.

"…karena kehadiranmu saja, sudah membuatku lebih kuat dan bersemangat untuk hidup."

.

.

"Berhentilah bergerak di dalam mobil Suho, aku tidak mau kehilangan kaki atau tangan kalau sampai kecelakaan!"

Saat Kris bicara dengan nada mengintimidasi seperti tadi, Suho baru bisa diam. Sedikit merasa gugup kala dokter muda itu memasangkan sabuk pengaman dan mulai menjalankan mobil berwarna putih itu. Ini memang sudah sore, tak heran dia melihat langit mulai gelap dan lampu-lampu halaman sudah dinyalakan. Beberapa menit kemudian, Kris dan Suho sudah turun ke jalan raya, membawa keduanya keluar dari gedung rumah sakit.

Mata bening beriris hazel itu mengerjap saat dia melihat jalanan penuh dengan lampu warna-warni. Banyak toko yang menarik perhatiannya dan pohon-pohon tinggi di samping jalanan. Tanpa disadari, Suho mulai menempelkan tangan dan wajahnya ke kaca mobil, membuat Kris yang melirik hal tersebut terkekeh ringan.

"Kau menakuti pengguna jalan kalau menempelkan wajah seperti itu."

Suho tak bergeming, tapi saat Kris berbelok ke jalanan lain, dia baru berhenti menempelkan wajahnya dan kini melihat lurus kedepan. Mengagumi dunia luar yang benar-benar indah dan sangat menarik perhatiannya.

Tak sampai 10 menit, Kris menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berdinding putih dengan 1 lantai yang sederhana itu. Di depannya ada kebun dan pagarnya terbuat dari kayu berwarna hitam.

"Ini rumahmu?"

Belum sempat Kris menjawab, dia sudah menyuruh Suho melepaskan sabuk penganman dan bersiap turun.

"Masuklah dulu, aku akan masukkan mobil ke garasi. Jangan kemana-mana!"

Suho mengangguk kecil, terselip rasa kecewa karena Kris tidak menjawab pertanyaannya barusan. Dia mengambil koper kecil serta ranselnya dan segera masuk ke teras rumah. Dia mencium bau khas mint dari halaman rumah dan melihat berbagai tanaman ada di halaman depan rumah yang terlihat sangat sederhana, tapi sangat cantik.

"Kau sudah hampir 2 minggu tidak pulang, tapi kenapa rumahmu masih terlihat bagus?" tanya Suho saat Kris sudah kembali dan mengambil koper dari tangan Suho. Diambilnya kunci dari sakunya lalu pintu rumah pun terbuka.

"Aku meminta sepupuku di kota sebelah untuk membersihkannya."

Kris menggandeng tangan Suho dan membawanya masuk.

"Kau membayarnya?"

Sambil menyalakan lampu, Kris mengangguk "Tidak masalah sih, lagipula dia sudah berjanji tidak akan mencuri apapun kecuali makanan dari dalam kulkas."

Suho ternganga begitu melihat rumah dengan dominasi warna putih dan abu-abu muda ini. Ruangannya terlihat rapi dan begitu lembut. Ada akuarium yang menyala dengan beberapa ikan di dalamnya. Lalu sofa berwarna krem dan rak buku dengan buku-buku kedokteran di dalamnya. Banyak benda lain juga yang membuat Suho melebarkan mata.

"Aku punya 3 kamar disini, kau mau yang mana?"

Suho tak menjawab dan asik mengamati akuarium yang menyala-nyala hijau elektrik. Baru saat Kris menariknya untuk melihat kamar yang ingin dia tempati, Suho mau pergi dari sana.

"Ini kamarku, tapi di sebelah kamarku ada satu kamar lagi, kau bisa tempati kalau mau."

Kris membiarkan Suho mengekor di belakangnya setelah melihat kamar pribadinya dan dia beralih dari menuju kamar tamu di sampingnya. Sedikit lebih kecil namun rapi dan bersih.

"Kau mau tidur disini?" tawar Kris sambil menunjuk kamar tamu tersebut, dia menoleh kebelakang namun dia terkejut saat tak mendapati Suho di sana.

"Joonmyun?"

Suho memang benar-benar seperti anak kecil, bisa hilang kapan saja kalau tidak dijaga dan dilihat benar-benar. Sedikit menyusahkan memang.

"Suho?"

Dokter jangkung itu sedikit terkejut saat dia melihat tubuh kecil berbaring telungkup di atas kasur di kamar pribadinya. Membuat Kris terkekeh.

"Bau Yifan," Kris bisa mendengar Suho bergumam, segera dihampirinya tubuh mungil yang tengah telungkup dengan tangan terlentang. Menguasai seluruh isi tempat tidur.

Bau kamar itu memang mirip Kris karena sudah lebih dari 5 tahun dia tinggal dan tidur disana setiap harinya. Baunya sendiri seperti teh, mint dan sedikit lavender. Bercampur aroma maskulin yang selalu tercium di tubuhnya.

Tubuh mungil itu sedikit meronta saat Kris menarik pinggangnya dan membuatnya duduk, sepertinya Suho enggan diajak menyingkir dari tempat tidur itu. Suho menoleh dan menatapnya dengan memelas.

"Aku mau tidur disini! Pokoknya disini!"

Tanpa aba-aba, Suho mengklaim secara sepihak kamar tidur yang paling luas di rumah ini. Bahkan Suho meronta-ronta saat Kris menarik pinggangnya menjauh dari kasur. Dipukulnya lengan kokoh Kris membuat namja jangkung itu sedikit terkejut.

"Tapi ini kamarku."

"Tapi Yifan punya tiga kamar. Aku mau disini!"

Kris membalas cemberut di bibir Suho dengan mengerutkan kening "Lalu? Aku?"

"Pilih saja kamar yang lain!" susah payah Suho keluar dari pegangan Kris dan kembali menguasai tempat tidur. Dia sudah berlagak seperti yang punya rumah.

"Ya! Kenapa kau jadi jahat begini?"

Namja beriris hazel itu tak menggubris perkataan Kris yang memandang Suho dengan tatapan datar. Dia tahu, rumahnya sudah diambil alih oleh seorang bocah amnesia sekarang. Nampaknya Suho sudah mulai jadi anak nakal, dia malah tertawa-tawa seraya menggulungkan tubuhnya di atas kasur.

"Kau tidak bisa mengambil tempat tidurku juga! Ya!"

Suho tak peduli, dia meronta-ronta saat kris menarik tubuhnya untuk menyingkir dari kasur. Bermaksud membuat dia menyerah. Yang benar saja, Kris sudah terlanjur sayang juga dengan kamarnya.

"Kau tidur denganku saja. Bagaimana?"

Namja manis itu berhenti bergerak saat Kris sudah tidak menggelitikinya, dia mempertimbangkan tawaran tidur berdua di ranjang berukuran besar ini.

"Ayolah, di rumah sakit kau bahkan tidur denganku, masa kau tidak mau berbagi di rumahku sendiri? Hum?"

Cukup lama mempertimbangkan tawaran si pemilik rumah, akhirnya dia mengangguk kecil membuat Kris menarik hidungnya gemas. Suho menggeleng-gelengkan kepala berusaha menghentikan tarikan Kris di hidungnya.

"Kau bisa membuat hidungku melar!" protes Suho sambil mengerucutkan bibir.

"Itu membuatmu sedikit lebih mancung."

Dengan hati-hati, Kris meletakkan Suho di atas ranjang, namja mungil itu berdiri di atas kasur empuk itu dengan Kris yang berdiri di depannya, saat Kris berbalik bermaksud ingin pergi ke dapur. Suho tanpa peringatan langsung menghempaskan tubuhnya di punggung Kris sambil tertawa tidak berdosa.

"Ya! kau mau membuatku jadi pendek ya?"

"Yifan saja yang terlalu tinggi! Dan jangan turunkan aku!" dengan manja, Suho melingkarkan lengannya di leher Kris dan tangan besar itu langsung menyangga tubuh di belakang punggungnya.

"Meskipun kau meminta aku tidak berniat melakukannya."

Namja bermarga Kim itu tertawa senang karena Kris berlari menuju dapur membuatnya merasa nyaman di punggung lebar Kris. Bahkan saat Kris berputar-putar, Suho tertawa makin kencang.

Tanpa Suho ketahui, di tengah tawanya, Kris tersnyum ringan. Seperti menemukan orang yang sudah lama dia rindukan, Suho memang akan tetap jadi Suho. Tak peduli dia amnesia, atau tidak.

.

.

"Kenapa kau masak ini?"

"Yifan, omelet harus pakai keju juga ya?"

"Susu kan diminum, kenapa kau masukkan juga?"

"Yifan…"

"Yifan…"

Ingin rasanya Kris menyumpal mulut mungil ini dengan serbet sekaligus mengikatnya di kursi ruang makan. Suho cerewet sekali dan terus mengitarinya saat Kris sedang sibuk membuat omelet untuk makan malam mereka berdua.

"Karena kalau tidak memakai bahan itu tidak jadi omelet Suho, dan jangan mainkan telurnya, aku tidak mau itu pecah menimpa kepalamu!"

Setelah meletakkan telur, Suho malah bermain dengan bubuk merica.

"Kalau terkena mata rasanya perih. Letakkan kembali mericanya!" Kris menjadi tidak tenang saat dia mengocok telur dan susu karena melihat Suho yang selalu berulah di sebelahnya.

"Berikan tepungnya, jangan dibuat mainan, kau mau makan tidak?"

Suho cemberut, menyerahkan tepungnya pada Kris dan kini beralih bermain dengan pisau dan daun bawang di sebelah kanan Kris.

"Aduh!"

Bukan karena jemarinya tersayat pisau, Suho meringis karena Kris menggeplak kepala kecil Suho dengan punggung tangannya, namja mungil itu jadi mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.

"Kau mau jarimu terpotong? Aku tidak mau makan omelet jari, letakkan dan jangan bermain di area dapur."

Kemudian Kris menyuruh Suho mengembalikan sisa bubuk tepung itu ke dalam kulkas daripada Suho terus-terusan berkeliaran seperti gasing di dapur tanpa bisa berhenti. Tidak rela karena dokter itu barusaja memukulnya, Suho menerima mangkuk itu dengan setengah hati. Namun, memang dasarnya Suho yang susah diatur dan bertingkah layaknya anak kecil, dia mengendus tepung itu dan meyebabkan hidungnya tergelitik.

"HATCHI!"

Brush!

Suluruh bubuk putih itu terbang dan membuat wajah mungil itu putih bersih. Kaget mendengar suara bersin, Kris mematikan kompor lalu berbalik menatap Suho. Begitu terkejutnya dia saat melihat tepung berhamburan dan mangkuknya jatuh tepat di ujung kaki milik namja manis ini.

"Suho?"

Tak bisa untuk menahan tawanya, kini namja jangkung itu benar-benar tertawa. Suho bingung, namun saat dia menoleh ke arah kulkas dan melihat pantulan bayangannya dari lapisan permukaan kulkas yang mengkilat, sontak suho terkejut.

Dia terlihat sangat… konyol.

"Yifan!" Suho melolong nyaring, ini menggelikan. Dan Suho paling tidak suka ditertawakan.

"Sudah aku bilang, jangan bermain dengan makanannya. Kau sih!"

"Huwee!" Suho sontak menangis dan berteriak, memaksa Kris berhenti mentertawainya. Namja jangkung itu mendekat, tertawa-tawa kecil sambil mengusuk rambut Suho yang ikut terkena tepung, membuat buliran tepung itu terbang dan rambutnya menjadi sedikit lebih bersih.

"Kenapa menangis? Kau ini lucu!"

Suho menangis, tapi lebih terdengar seperti merajuk (karena suho menangis tanpa mengeluarkan air mata) pada Kris yang membersihkan bubuk putih itu dari wajah dan kepalanya. Bisa dipastikan Suho tak akan mau lagi berurusan dengan benda halus ini. Apalagi Kris mentertawainya begitu saja. Memalukan.

"Ugh!"

Dipukulnya lengan Kris dan kini dia malah melemparkan bubuk tepung ke sekujur tubuh tinggi itu. Dia kesal, dan tidak ingin jadi bahan tertawaan terus.

"Ya ya! Kenapa aku juga?" Kris tak bisa mengelak saat Suho mengacak-acak rambut pirangnya dengan brutal menyebabkan rambut itu kusut.

"Yifan menyebalkan! Huwee.."

Kris sama sekali tidak mengerti. Siapa pihak yang bersalah sekarang, namun melihat Suho menangis dia mengerti kalau Suho sedang kesal padanya. Cara namja ini merajuk benar-benar membuat Kris cukup kebingungan, dia tahu, kalau sudah begini kris tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Mian, aku tidak akan mentertawaimu lagi. Kan aku sudah bilang, jangan dimainkan. Kau sih, tidak mendengarkanku."

Dengan lembut Kris mengusapkan ujung ibu jarinya pada bibir Suho yang menjadi putih. Namja kecil itu diam, tak bergerak dan membiarkan Kris membersihkan bibir dan pipinya dari tepung.

"Lain kali, dengarkan aku. Mengerti tidak?"

Suho mengangguk dan sedikit terkesiap saat Kris mendekatkan wajah, menciumnya di bibir sambil melumatnya lembut, membuat taburan tepung itu menghilang saat Kris melepaskan ciumannya.

"Kita bersihkan ini lalu makan. Kau lapar kan?"

Lagi-lagi, Suho hanya bisa mengangguk tidak bertenaga melihat Kris membersihkan tepung yang menempel di wajah dan bajunya. Namja jangkung ini tersenyum, seraya berkata bahwa ini semua tidak apa-apa.

"M..mian."

Kris menoleh menatap tubuh kurus yang berdiri di dekat meja makan sambil tertunduk menyesal seperti tengah berdoa. Dibelainya puncak kepala Suho sambil menggeleng, kemudian digenggamnya tangan mungil tersebut dan menuntunnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

.

.

Kris berbaring seperti orang mati saat Suho keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi. Tubuh tinggi dengan piama berwarna hitam itu terlentang. Sama sekali tidak bergerak dengan mata terpejam menyebabkan suho berfikir apakah Kris masih bernafas atau tidak.

Namja pendek itu menaiki ranjang dengan perlahan dan berbaring di samping tubuh besar Kris. Suho sebenarnya punya niat untuk langsung tidur dan tidak menganggu Kris, namun dia tersentak dan bisa saja terjungkal dari kasur saat mendengar suara bass yang sangat dikenalnya.

"Kau sudah mengantuk?"

Pertanyaan itu membuat Suho memutar posisi tidurnya dari memunggungi tubuh Kris menjadi menghadap namja yang kini membuka matanya, masih dengan posisi terlentang.

"Sedikit."

"Entahlah suho, aku tidak bisa tidur," kris meregangkan tubuhnya, menghadap Suho dengan raut wajah gelisah, keningnya berkerut.

Namja bermarga Kim itu tertegun sebelum mengusap pergelangan tangan Kris dan bertanya lembut, "Kau minum kopi tadi?"

Kris menggeleng kecil. Dia hanya minum teh dan sedang tak berselera minum kopi.

"Mungkin kau sedang banyak pikiran. Apa yang kau pikirkan akhir-akhir ini?" Suho menaruh tangan kirinya di pundak Kris dan memijitnya perlahan. Tersenyum dan sesekali menyibak rambut keemasan milik Kris.

"Hanya kau dan pekerjaan. Itu saja."

Pipi Suho bersemu merah entah kenapa dan kini memukul lengan kris dengan gemas. Namja jangkung ini mulai bersikap cheesy lagi seperti ini.

Keduanya diam untuk beberapa saat sebelum Kris membuka sebuah percakapan lagi.

"Aku rasa kau tidak perlu digendong untuk tidur sekarang."

Dengan wajah bersemu, Suho menggeleng, di rumah sakit dia memang susah tidur dan baru bisa tertidur dengan lelap kalau dokter ini menggendongnya sambil berkeliling kamar. Yah, sebenarnya Suho ingin, tapi dia terlalu takut untuk meminta.

"Kau suka rumahku?" tanya Kris seraya menaikkan selimut sampai ke batas perut. Sebelum Suho menjawab Kris menyela "Sepertinya iya, kau mengklaim kamarku tadi."

"Aku suka, baunya," Suho tersenyum tipis, membau aroma yang tersebar di kamar yang cukup luas ini, dengan langit-langit yang dipasangi lampu berwarna putih.

"Oh, aku menaruh beberapa pengharum aroma lavender memang."

Lantas Suho menggeleng, "Bukan. Tapi aku suka baumu, bau Yifan."

"Aku?"

"Rasanya sangat familiar, dan entah kenapa, aku menyukainya. Seperti aku sudah menyukainya sejak lama."

Kris tertegun, dia melihat Suho yang tersenyum ke arahnya, tanpa sadar ucapan Suho barusan membuatnya terpikir banyak hal. Hal yang sangat dia inginkan meskipun dia sendiri tidak bisa melakukannya.

Berharap Suho mengingatnya, tak lebih dari hal sekecil itu.

"Yifan.."

"Ya?"

"Aku ingin mengingatmu!"

Kris tersenyum kecil, "Kau sudah berusaha. Tidak apa-apa, nanti akan ingat juga."

Dahi Suho berkerut, "Nanti? Kapan?"

"Aku tidak tahu, yang jelas, kalau tidak bisa ingat itu tidak apa-apa, masa lalu biarlah tidak kau ingat tapi kau ada bersamaku sekarang. Disini, bersama-sama Itu lebih baik, aku bisa menjagamu."

"Harusnya kau yang punya nama Suho, bukan aku. Aku tidak cocok jadi malaikat pelindung," keluh namja mungil itu seraya mengatupkan bibirnya.

"Kau bisa melindungiku…"

Suho tertegun saat Kris meletakkan sebelah telapak tangannya ke dadanya membuat dia merasakan gemuruh dan detak jantung Kris yang beraturan tersebut.

"Eh? Bagaimana?"

"Tidak perlu menjaga tubuhku, kau hanya perlu, menjaga perasaanku…"

"…karena menjaga perasaan bisa lebih sulit dari menjaga tubuh seseorang."

Perlahan, Suho mengerti maksudnya, menjaga perasaan bisa diartikan dengan tidak menghianati. Suho dan Kris sudah bilang saling menyukai, dan yang perlu Suho lakukan, hanya menjaga perasaan suka itu. Terlihat sangat mudah namun dilain sisi juga sangat riskan.

"Dengan begini, kau akan tetap jadi guardian."

Dengan senyuman kecil, Suho mengangguk. Diciumnya bibir tebal namja yang ada dihadapannya ini sambil meringkuk dalam rengkuhan Kris. Dia melepaskan ciuman itu saat Kris menggigit bibir bawahnya.

"Aku benar-benar menyukaimu," desis Suho perlahan. Menyembunyikan wajahnya yang merah di dada Kris yang langsung menepuk kepalanya ringan. Memejamkan mata dan membiarkan tubuhnya dipeluk erat, membuatnya lekas tertidur.

"Aku juga akan menjaga perasaanmu, terima kasih sudah suka padaku, Joonmyun."

"Yifan, semua ini… tidak salah kan?" Suho bergumam di saat matanya sudah terpejam.

Kris mencium puncak kepala Suho dan mengelus rambutnya sebelum ikut memejamkan mata saat rasa kantuk tiba-tiba menyerang tubuhnya, berbagi kehangatakan ditengah cuaca yang hampir menyentuh musim dingin.

"Tidak ada yang bisa menyalahkan perasaan cinta Suho, termasuk perasaanku padamu…"

"…"

"…karena cinta tidak bisa salah dalam memilih."

.

.

.

TBC

.

.

Annyeong !

Rae mau berterima kasih nih, karena akhirnya Rae dapet beasiswa di SMA . #sujudsyukur. Tapi karena sekolahnya Rae berasrama, dan mulai tgl 5 besok sudah MOS, Rae jadinya gk bisa nulis ff sebelum liburan hari raya idul fitri T_T tapi Rae janji akan terus melanjutkan cerita ini.

Terima kasih yang sudah mendoakan, berkomentar dan mendukung Rae selama ini dan Rae sungguh berterima kasih karenanya /bow/ untuk kesalahan yg Rae perbuat mohon maaf ya, Rae akan berusaha sekuat tenaga jadi lebih baik di setiap chapternya.

Terima kasih bagi semuanya dan sampai jumpa di chapter selanjutnya :D

Kamsahamnidaa! Annyeong !

.

.

SungRaeYoo^^