Naruko dan Kurama menatap Naruto yang tersungkur di lantai, pria itu bahkan tak bergerak. Mereka berdua hanya menatap Naruto, mengira bila pria itu sedang berusaha meminta maaf dan tak akan bangkit berdiri hingga dimaafkan.

"Bangunlah. Kau membuatku semakin kesal bila terus berlutut seperti itu." Ujar Naruko dengan sinis.

Tak ada jawaban maupun reaksi dari Naruto dan Kurama melirik Naruto yang masih berlutut di lantai. Kurama mendekati tubuh Naruto dan berjongkok serta menepuk punggung Naruto.

"Bangunlah, Naruto-nii."

Masih tak reaksi dan Naruko mendekati tubuh Naruto serta mengangkat kepala pria itu. Mereka berdua terkejut melihat mata Naruto yang telah terpejam.

"Naruto-nii, bangunglah. Jangan tertidur disini." Kurama mengeraskan suara nya dan mengguncang tubuh Naruto.

"Kurasa dia pingsan. Cepat luruskan tubuh nya." Ujar Naruko sambil menyentuh kaki Naruto dan Kurama memegang badan Naruto serta meluruskan tubuh Naruto.

Naruko tersentak saat ia tanpa sengaja melirik kaki Naruto yang terdapat sebuah luka yang sepertinya belum benar-benar sembuh. Ia memberanikan diri menyentuh luka itu dan mengernyitkan dahi. Kapan dan mengapa pria itu terluka?

Kurama mengeluarkan ponsel nya dan memanggil ambulance agar datang ke apartment mereka. Kurama menyingkap pakaian Naruto tanpa sengaja dan luka-luka maupun bekas luka di tubuh Naruto terlihat.

"Naruto-nii berkelahi dengan orang?" Gumam Kurama dengan suara yang cukup keras untuk dapat didengar Naruto.

"Mungkin tidak. Setahuku dia bukan tipe orang yang suka berkelahi."

"Mengapa dia tidak pernah mengatakan apapun pada kita mengenai pekerjaan nya?"

Naruko mengangkat bahu nya dengan jengkel. Ia sedang kesal dengan sang kakak dan begitu kecewa setelah pria itu menipu nya selama bertahun-tahun. Ia begitu marah, kesal dan jijik pada Naruto. Ia tak mengira bila kakak nya adalah seorang pelacur, pria panggilan murahan tanpa harga diri.

"Mana kutahu. Aku muak padanya. Kurasa dia hanya menjadikan kita berdua sebagai alasan agar ia dapat menjual diri dan mendapat banyak uang. Dia berpura-pura menjadi kakak yang baik. Sungguh munafik."

Naruko mengungkapkan kekesalan nya dengan umpatan. Suasana hati nya sangat buruk hari ini, ia kehilangan kekasih nya dan 'ilusi' dari sang kakak yang dibanggakan nya di saat yang sama. Ia benar-benar terpuruk saat ini.

"Kurasa kau benar, Naruko-nee. Aku tak tahu apa alasan nya, namun ia tak seharusnya mempermalukan kita seperti ini."

Kurama menatap iris sapphire Naruko dan mengungkapkan ide nya. Ia sendiri juga merasakan kekesalan dan kekecewaan yang sama dengan Naruko, bahkan mungkin lebih sejak ia begitu mengagumi Naruto.

"Bagaimana bila kita berdua pergi saja dari rumah ini? Kita bisa bekerja sambilan dan sementara menggunakan uang tabungan kita serta menjual sedikit emas milik okaa-san." Usul Kurama.

Naruko berpikir sejenak, ia ingin menerima usulan Kurama. Namun ia tak ingin menjual sedikit perhiasan milik okaa-san nya. Bagi nya prhiasan itu adalah kenangan akan orang tua nya dan ia lebih memilih hidup miskin dibandingkan hidup nyaman untuk sementara dengan uang hasil penjualan perhiasan itu.

"Aku setuju, namun aku tak ingin menjual perhiasan. Untuk sementara kita tinggal di asrama dan kembali ke rumah lama kita. Kuharap 'dia' tidak menjualnya."

"Kita mempersiapkan barang dan pergi sekarang, Naruko-nee?"

Naruko menggelengkan kepala. Bagaimanapun Naruto pernah menjadi kakak yang baik untuk mereka. Pria itu pernah tidak tidur semalaman ketika Naruko dan Kurama sedang sakit. Maka kali ini ia akan berusaha mengembalikan kebaikan pria itu dengan mengantar pria itu ke rumah sakit dan pergi setelahnya.

"Tidak, kita pergi setelah mengirim pria itu ke rumah sakit." Jawab Naruko sambil melirik Naruto yang terbaring di lantai.

Terdengar suara bel di depan pintu apartment dan Kurama segera membuka nya. Terlihat tiga orang petugas medis datang sambil membawa kasur dorong. Salah satu petugas medis itu melirik Naruko dengan ragu.

"Saya Namikaze Kurama yang tadi menelpon. Tolonglah, kakak laki-laki saya mendadak pingsan."

Ketiga petugas itu masuk ke dalam apartment dan Kurama segera menutup pintu. Ia sangat panik dan bahkan tak mengingat untuk meminta ketiga petugas itu memperlihatkan identitas mereka.

Kurama segera mengantar ketiga petugas itu menuju ruang keluarga tempat dimana Naruto pingsan. Ketiga petugas itu segera menghampiri Naruto dan berusaha memberikan pertolongan pertama.

"Nafas nya berhenti." Ujar salah seorang petugas itu.

Naruko dan Kurama saling berpandangan. Mereka berdua berusaha untuk meyakinkan diri mereka sendiri agar tak peduli, namun hati kecil mereka menjerit. Mereka takut dan khawatir bila sesuatu yang buruk terjadi pada Naruto.

Kurama dan Naruko sangat bergantung pada Naruto, bisa dikatakan bila Naruto adalah pelindung mereka yang menggantikan kedua orang tua mereka. Bila diibaratkan sebuah rumah, Naruto adalah pondasi.

"Denyut nadi nya masih ada, namun sangat lemah." Ujar petugas medis lain nya.

Jantung Naruko dan Kurama berdebar lebih cepat. Mereka masih sangat marah dan membenci Naruto, namun mereka juga tak siap bila harus kehilangan pria itu selama-lama nya. Bila pria itu mati, seharusnya tidak dengan cara seperti ini.

Petugas itu berusaha memberikan nafas buatan. Naruko memberanikan diri menatap ke arah petugas yang berusaha menyelamatkan Naruto. Tangan nya tergenggam dan ia menundukkan kepala.

Kurama bahkan mengalihkan pandangan, mulut nya terus menggumamkan 'Aku tak seharusnya merasa khawatir' berkali-kali. Ia masih marah dan ia membenci Naruto. Ia tak boleh mengkhawatirkan seseorang yang dibenci nya.

Ketiga petugas medis itu mengangkat tubuh Naruto dan memindahkan nya ke atas kasur dorong serta memberikan masker oksigen untuk Naruto. Kurama dan Naruko menundukkan kepala, hati mereka seolah tersayat menatap Naruto yang terlihat begitu lemah. Mereka berdua mempersilahkan petugas medis keluar terlebih dahulu dari apartment.

"Kurasa kita harus menghubungi Sasuke-san untuk sekadar memberitahu nya."

"Bagaimana? Kita bahkan tidak memiliki nomor telepon nya."

" 'Dia' pasti menyimpan nomor telepon Sasuke-san di ponsel nya. Kita lihat saja ponsel nya."

Kurama mengangguk dan berjalan keluar dari apartment bersama dengan Naruko. Mereka berdua segera menuju elevator mengikuti ketiga petugas medis itu. Mereka berdua terus menundukkan kepala, tak tega melihat sosok sang kakak yang terbaring lemah.

.

.

Sasuke baru saja tiba di rumah setelah kembali dari café untuk bertemu dengan teman nya. Sudah lama ia tak menghabiskan waktu dengan salah sedikit orang yang dianggap nya sebagai teman dan ia merasa sedikit lebih nyaman.

Gaara adalah teman yang cukup dekat dengan Sasuke, mereka berdua dapat dikatakan sebagai sahabat. Mereka berdua memiliki kepribadian yang hampir sama dan status kekayaan yang tak jauh berbeda, hanya saja Gaara bukanlah seorang pria kejam seperti dirinya. Setidaknya pria itu masih memiliki hati dan perasaan meskipun hanya sedikit.

Untuk pertama kali nya Sasuke meminta pendapat seseorang mengenai sikap nya pada Naruto. Ia memilih untuk meminta pendapat Gaara dan ia tak pernah mengira bila pria itu cukup dewasa dan memberikan pendapat yang menurut nya cukup bijak. Dengan hati-hati pria itu mengatakan bila apa yang dilakukan Sasuke adalah hal yang salah.

'Hanya binatang tanpa akal budi yang dapat melukai sesuatu yang tak bersalah. Bahkan tak semua binatang seperti itu'

Ucapan Gaara terngiang di benak nya, membuatnya kembali bertanya pada diri nya sendiri. Apakah yang dilakukan nya pada Naruto salah? Ia menderita ketika ayah nya memberikan hukuman fisik ekstra keras, namun hanya sementara karena ia menganggap hal itu sebagai latihan untuk menguatkan diri.

Gaara secara tidak langsung mengatakan bila apa yang dilakukan nya adalah suatu kesalahan dan merupakan hal yang biadab. Sasuke cukup pintar untuk mengetahui maksud Gaara yang sebenarnya dibalik kata-kata nya yang terkesan netral. Sejak beberapa hari ini ia mulai dihinggapi perasaan bersalah, hati kecil nya seolah menjerit dan menentang apa yang dilakukan. Inilah alasan mengapa sikap nya pada Naruto tadi pagi terkesan begitu baik. Ia melakukan nya untuk menenangkan diri nya sendiri.

Ponsel Sasuke berbunyi dan ia melirik nya dengan malas. Sebuah telepon dari Naruto, tak pernah sekalipun pria itu menelpon terlebih dahulu. Merasa yakin bila telepon itu penting, Sasuke segera menerima telepon itu.

"Moshi-moshi." Ujar Sasuke dengan nada datar.

"Konbawa, Sasuke-san. Bisakah aku meminta waktu mu sebentar? Aku adalah Naruko, adik dari Naruto."

Suara di seberang telepon terkesan ragu dan takut. Tak ingin membuat sang penelpon merasa takut, ia berusaha melembutkan suara nya agar tak terkesan menakutkan.

"Hn. Ada apa?"

Usaha Sasuke tampaknya gagal. Orang di seberang telepon terlihat semakin ragu dan kini terkesan gugup. Orang itu memberanikan diri untuk menjawab Sasuke.

"Bila kau memiliki waktu, bisakah kau datang ke Konoha Hospital? Naruto pingsan dan kini sedang berada di UGD."

Sasuke terdiam. Ia terkejut dan hampir menjatuhkan ponsel yang sedang digenggam nya.

"A-" Sasuke mengatupkan mulut nya. Ia hampir mengatakan 'apa?' tanpa sadar meskipun ia mendengar ucapan Naruko dengan jelas. Ia merasakan sebuah perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Ia merasa tak ingin bila Naruto mati.

"Aku akan segera datang." Ujar Sasuke dengan perasaan takut dan khawatir yang berkecamuk di hati dan pikiran nya.

"Arigato gozaimasu, Sasuke-san."

Naruko menjawab dengan sopan sebelum mematikan telepon. Sasuke segera memasukkan ponsel ke dalam saku celana nya dan bergegas meninggalkan rumah nya. Jas nya yang sedang disampirkan di bahu nya dilempar ke kasur dan ia hanya mengenakan kemeja hitam ketat yang memperlihatkan tubuh nya yang ramping dan sexy.

Tak ada seorangpun di rumah dan Sasuke merasa lega karena ia tak perlu repot menjelaskan tujuan kepergian nya kepada orang tua nya. Sasuke meninggalkan rumah dengan sangat tergesa-gesa sehingga menimbulkan tanda tanya di para pelayan yang melihat nya.

Sasuke berlari menuju mobil nya yang terparkir dan membuka pintu mobil dengan menekan tombol. Sasuke mendekati pintu mobil dan pintu itu tak terbuka.

"Kuso!"

Sasuke berniat menendang pintu mobil nya, namun membatalkan nya. Mobil itu adalah mobil sport mahal kesayangan nya yang berhasil dibelinya setelah mengumpulkan gaji nya selama satu tahun pertama bekerja.

Sasuke kembali menekan tombol dan kali ini pintu mobil itu terbuka. Sasuke masuk dan menutup pintu mobil itu dengan cepat. Rasa bersalah kembali menghantui benak nya. Ia takut bila Naruto pingsan akibat perbuatan kasar nya selama ini saat bercinta.

Petugas security bergegas menghampiri gerbang dan membuka pintu sehingga mobil Sasuke dapat keluat. Petugas itu terlihat bersalah dan membungkuk hormat pada Sasuke yang berada di dalam mobil.

Setelah keluar dari gerbang, Sasuke mempercepat laju mobil nya hingga mencapai angka seratus dua puluh kilometer per jam. Beruntunglah perumahan elite tempat tinggal nya sangat sepi dan tak hanya Sasuke yang mengemudi dengan kecepatan tinggi di perumahan itu sehingga guara mesin mobil yang dikemudikan dengan kecepatan tinggi bukanlah hal yang aneh.

Sasuke menginjak rem secara perlahan dan kecepatan mobil semakin berkurang ketika mobil nya keluar dari kompleks perumahan. Jalan-jalan utama di kota Konoha masih cukup ramai meskipun saat ini merupakan pukul delapan malam dan bukan hari libur.

Lampu-lampu terang yang berkerlap-kerlip dan gedung pencakar langit terdapat di sepanjang jalan yang dilalui Sasuke. Seharusnya pemandangan itu adalah pemandangan yang cukup indah dan dapat dinikmati, namun Sasuke tak memiliki waktu untuk menikmati pemandangan. Ia berdecak kesal ketika mobil nya terpaksa berhenti di lampu merah.

Mobil Sasuke berhenti dan Sasuke memijit pelipis nya sendiri. Kepala nya terasa sakit mendadak akibat pekerjaan kantor yang belakangan ini menumpuk dan ditambah dengan kondisi Naruto. Sasuke menelantarkan pekerjaan nya akibat menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bercinta dan mengikuti 'dorongan hasrat' . Ia berencana untuk bergadang dan mengerjakan tugas-tugas kantor malam ini. Namun rencana nya terpaksa dibatalkan.

Sejati nya, Sasuke bukanlah seorang pria maniak seks. Sebelumnya ia baik-baik saja tanpa melakukan seks rutin dan baginya masturbasi ialah suatu tindakan bodoh yang takkan dilakukan nya seumur hidup, sama seperti menggunakan narkoba. Terkadang ketika ia sedang membutuhkan penyaluran hasrat, ia akan mencari seorang gigolo untuk one night stand. Namun ia juga jarang melakukan nya karena jarang yang bertahan dengan gaya seks nya yang kasar dan menyakitkan. Sasuke melakukan nya bersama dengan Naruto hampir setiap hari dan baginya pria itu berbeda dengan pria-pria lain yang pernah bercinta dengan nya.

Sasuke tak pernah mengkhawatirkan seseorang hingga seperti ini. Apakah mungkin ia jatuh cinta pada Naruto? Sepertinya tidak mungkin karena ia tak merasakan ciri-ciri orang yang jatuh cinta. Atau mungkin ia mengalami nya dan sama sekali tidak sadar? Memikirkan nya membuat kepala nya semakin pusing.

Lampu merah kembali menjadi hijau dan tangan Sasuke kembali menyentuh kemudi. Mata nya yang menerawang kembali menatap jalanan dengan tajam, berharap agar ia dapat tiba di rumah sakit secepat mungkin.

.

.

Kurama dan Naruko duduk diluar ruang UGD sambil menatap sekeliling. Iris sapphire mereka berusaha mencari-cari sosok Uchiha Sasuke, namun sosok pria itu masih juga belum terlihat.

Perasaan Kurama dan Naruko berkecamuk. Sudah hampir dua jam Naruto berada di ruang UGD dan masih belum juga keluar. Kurama duduk sambil menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi dan meletakkan kepala nya di bahu Naruko.

"Eh? Kurama?"

Naruko menatap Kurama yang tiba-tiba saja bersandar di bahu nya. Kurama terlihat lelah, namun ia tak biasanyaa bermanja seperti itu pada Naruko. Biasanya Kurama akan bermanja pada Naruto dan menyandarkan kepala nya di bahu pria itu atau bahkan sesekali meminta gendong. Naruto tak pernah menolak meskipun terkadang ia mengeluh bila tubuh Kurama semakin berat dan ia tidak kuat menggendong.

"Gomen ne, Naruko-nee." Kurama segera mengangkat kepala nya dan menyandarkan kepala nya ke belakang, membiarkan kepala nya bersentuhan dengan dinding yang keras.

"Naruko-nee, apakah kau yakin ingin pergi dari apartment? Tiba-tiba aku merasa khawatir."

"Tentu saja, Kurama. Bayangkan apa yang terjadi bila 'dia' sudah sadar? Kita pasti akan merasa canggung dan hubungan kita takkan kembali seperti dulu."

"Uh… maksudku kita tak pernah tinggal terpisah sebelumnya. Aku merasa takut, Naruko-nee."

"Tenang saja. Naruko-nee akan berusaha melindungimu. Tak perlu merasa khawatir."

Naruko mengelus rambut merah Kurama yang sama dengan ibu nya. Tangan Naruko tak berhenti mengelus rambut Kurama meskipun ia sendiri juga merasakan kekhawatiran yang sama.

Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dan Naruko serta Kurama segera duduk dengan tegak. Sebuah kertas yang dilipat tergenggam dengan erat di tangan Kurama.

Sasuke tiba di ruang UGD dengan kemeja yang sedikit kusut dan ketat. Pria itu tetap terlihat tampan, menawan sekaligus menakutkan dengan iris onyx nya yang menatap dengan tajam.

"Bagaimana keadaan Naruto?" Tanya Sasuke tanpa berniat berbasa-basi.

"Tidak tahu. Petugas medis masuk ke ruang UGD sejak dua jam yang lalu dan masih belum keluar hingga sekarang."

Sasuke menatap Naruko dan Kurama lekat-lekat. Dalam hati ia bertanya-tanya bila kedua anak itu sudah makan malam atau belum dan berniat membelikan makan malam untuk mereka. Bukan berarti ia peduli dengan Kurama dan Naruko yang bukan siapa-siapa baginya. Hanya saja ia telah berjanji untuk tidak melukai kedua anak itu dan entah kenapa ia malah peduli dengan hal yang bukan urusan nya.

"Mengapa Naruto pingsan? Apakah ia memiliki penyakit tertentu?"

"Penyakit? Sepertinya tidak. Naruto-nii sangat jarang sakit." Jawab Kurama sambil menggelengkan kepala.

"Tadi kami memiliki sedikit masalah dan bertengkar. Kemudian dia pingsan." Jelas Naruko pada Sasuke.

Sasuke menatap Naruko dan Kurama dengan antusias. Ini bukanlah masalahnya, namun ia merasa penasaran. Sasuke tak pernah bertengkar secara langsung dengan sang kakak, namun ia menyimpan kekecewaan di dalam hati nya. Ia marah pada Itachi atas ketidakpedulian pria itu pada dirinya, namun ia tak pernah sekalipun berniat untuk membahas perasaan nya pada Itachi dan memilih bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi.

Kurama merasa gugup. Namun ia memberanikan diri untuk menatap Sasuke dan menundukkan kepala.

"Sasuke-san, bolehkah kami meminta bantuanmu?"

"Hn? Bantuan apa?"

"Bisakah kau memberikan ini pada Naruto-nii ketika kondisi nya sudah stabil?" Kurama menyerahkan kertas yang tadi digenggam nya.

"Berikan saja sendiri."

"Umm… kami tak berani menemui untuk sementara." Ujar Naruko dengan ragu.

Sasuke menerima surat yang dipegang Kurama dan menganggukan kepala. Ia tak ingin bertanya lebih jauh dan tak ingin menolak. Ia memang ingin bertemu dengan Naruto meskipun tanpa harus menyerahkan surat itu.

"Hn."

"Arigato gozaimasu, Sasuke-san." Ujar Kurama dan Naruko. Mereka berdua bangkit berdiri dan melambaikan tangan.

"Mata ashita ne, Sasuke-san."

"Hn. Mata ashita ne."

Sasuke mengernyitkan dahi. Naruko dan Kurama terlihat terburu-buru, entah apa yang ingin mereka lakukan. Sasuke tak memiliki pilihan lain selain berada di rumah sakit dan menunggu hingga Naruto tersadar.

.

.

Naruto telah keluar dari ruang UGD dan dibawa ke ruang perawatan biasa. Dengan terpaksa Sasuke mengurus administrasi rumah sakit karena tak mengetahui keluarga Naruto selain Kurama dan Naruko.

Kondisi Naruto mulai stabil dan Sasuke memutuskan untuk pulang setelah Naruto dibawa ke ruang perawatan biasa. Sasuke bahkan meninggalkan nomor telepon nya dan meminta dokter untuk segera menghubungi nya.

Sasuke berangkat ke kantor keesokan pagi nya dengan perasaan berkecamuk. Kemarin malam ia memberanikan diri untuk memandang wajah Naruto yang terlihat lemah dihadapan nya. Wajah nya terlihat tenang, namun terlihat menyedihkan seolah penuh penderitaan entah kenapa.

Sasuke berusaha berfokus dengan pekerjaan nya, namun ia tak bisa sepenuhnya berkonsentrasi. Konsentrasi nya terpecah dan ia meninggalkan kantor dengan segera saat jam makan siang.

Sasuke berusaha mengemudi secepat mungkin menuju rumah sakit dan ia segera menuju ruang perawatan Naruto. Ia yakin bila rasa bersalah yang membuatnya bertindak seperti ini

.

.

Aroma obat yang kuat merupakan aroma yang dihirup Naruto pertama kali nya setelah ia tersadar. Tatapan nya tertuju pada ruangan serba putih dimana ia berada dan jarum infus yang ditancapkan di tangan nya. Nafas nya stabil, namun kepala nya masih terasa pusing dan tubuh nya terasa sakit. Beberapa bagian tubuh nya yang terluka telah dibalut dengan perban.

Pintu ruangan Naruto terbuka dan ia segera mengalihkan pandangan yang semula ditujukan ke arah langit-langit ruangan menjadi tertuju pada orang yang baru saja membuka pintu ruangan nya.

Sasuke mengunjungi Naruto dan membawa satu dus berisi minuman isotonic dalam kaleng . Dokter mengatakan pada Sasuke bila Naruto pingsan akibat pukulan di kepala dan anemia akibat kekurangan darah. Itulah yang membuat Sasuke merasa semakin bersalah. Ia telah membuat seseorang hampir mati.

"Sasuke-san, maaf aku tak bisa melayani mu sekarang." Ucap Naruto dengan suara pelan. Ia yakin bila Sasuke mengunjungi nya, maka ia akan meminta pelayanan seks. Hubungan mereka berdua sebatas 'tuan' pemakai jasa dan pelayan seks.

"Dobe. Apakah aku mengatakan ingin meminta mu melayaniku?" Ujar Sasuke sambil menatap tajam, tatapan yang membuat Naruto merasa takut.

Rasa takut mulai menyerang Naruto dan ia menggeleng dengan pelan. Ia tak ingin Sasuke memukulnya, ia tak dapat menghindar dalam kondisi selemah ini. Bila Sasuke memukulnya, maka ia hanya dapat pasrah.

"Tidak. Gomenasai, Sasuke-san."

Sasuke mengambil sekaleng minuman isotonic dari dus yang dibawa nya dan membuka sekaleng minuman serta meletakkan nya di nakas yang terletak di samping kasur Naruto.

"Minumlah itu bila kau mau, pelacur idiot."

Ucapan Sasuke terdengar menyakitkan, namun tidak bagi Naruto. Ucapan itu sama sekali tidak menyakitkan jika diucapkan Sasuke, namun sangat menyakitkan ketika diucapkan oleh Kurama dan Naruko. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Kurama dan Naruko. Sejak tadi ia tak melihat kedua adik nya dan rasa khawatir mulai menyeruak di pikiran nya. Apa yang akan terjadi pada mereka ketika ia tidak ada? Apa mereka berdua baik-baik saja tanpa diri nya di rumah? Apakah mereka masih marah padanya?

Perlahan Naruto membuka mulut nya yang tadi terkatup. Ia tak peduli bila Sasuke akan melukai nya akibat sikap lancang nya, ia merasa perlu untuk mengetahui keadaan Kurama dan Naruko.

"Sasuke-san, apakah kau bertemu dengan kedua adikku?"

"Ya, aku bertemu dengan mereka."

Tanpa menunggu sedetikpun, Naruto segera bertanya, "Bagaimana keadaan mereka? Kapan kau bertemu dengan nya, Sasuke-san?"

Sasuke tersentak, ia hampir membuka mulut nya akibat terkejut. Naruto yang biasanya pasif dapat bersikap seperti ini karena kekhawatiran nya terhadap Naruko dan Kurama. Ia bahkan seolah melupakan kondisi nya sendiri dan lebih memikirkan kedua adik nya.

"Sepertinya mereka baik-baik saja. Aku bertemu dengan nya kemarin malam."

"Kemarin malam? Apakah mereka pulang ke rumah hari ini?"

Naruto terlihat panik, Sasuke dapat melihatnya dengan jelas. Sasuke memilih untuk tidak peduli. Naruko dan Kurama bukan siapapun baginya. Namun sulit baginya untuk tidak peduli mengingat kondisi Naruto dan reaksi nya saat ini.

Menyadari ekspresi wajah Sasuke, Naruto kembali membuka mulut nya untuk meminta maaf. Ia merasa tidak enak dengan melibatkan Sasuke dalam masalah pribadi nya. Pria itu pasti tidak peduli dan tidak ingin tahu.

"Kurama menitipkan surat ini untuk diberikan padamu."

Sasuke mengeluarkan sebuah kertas putih yang dilipat dan menyerahkan nya pada Naruto. Naruto segera membuka lipatan kertas itu dan membaca isi surat itu. Ia mengenali tulisan Kurama dan Naruko di surat itu.


To : Naruto-nii

Aku dan Naruko-nee benar-benar kecewa padamu. Kami tak mengira bila kau adalah pelacur dan kini menjadi pria simpanan seorang pria kaya. Seharusnya kau tidak perlu menjadikan kami sebagai alasan bila kau ingin mendapat uang dengan cara instant.

Kau tahu bagaimana perasaan kami saat ini? Pasti tidak. Mungkin kau juga tidak akan peduli dan terus menggunakan kami sebagai alasan atas apa yang kau lakukan. Kau tahu betapa malu nya aku ketika seseorang memberitahukan profesi mu yang sebenarnya padaku? Aku sedih, kecewa dan tak ingin percaya. Aku tak pernah mengira bila sosok yang kukagumi adalah pria yang seperti ini.

Kami berdua memutuskan untuk pergi dari apartment dan memulai kehidupan kami sendiri. Kami tak ingin menjadi alasan atas perbuatan kotor yang sebetulnya memang ingin kau lakukan. Untuk yang terakhir kali, kami ingin mengucapkan terima kasih karena telah merawat kami setelah kematian okaa-san dan otou-san hingga saat ini. Selanjutnya, kami berharap agar tak bertemu lagi. Hapuslah kami dari kehidupanmu.

Bila kau menerima surat ini, maka aku dan Kurama telah meninggalkan apartment. Tidak perlu mencari kami. Hiduplah dengan baik, kuharap kau berbahagia.

-Dari Naruko dan Kurama, kedua adikmu yang pernah menyayangi dan mempercayaimu-


Iris sapphire Naruto berkaca-kaca setelah membaca surat itu. Hati nya seolah remuk, isi surat itu menyakitkan hati nya. Ia merasa semakin bersalah pada kedua adik nya, ia tak seharusnya membohongi mereka dan menggunakan topeng, bersikap seolah segalanya baik-baik saja. Ia seharusnya tak bersikap munafik dengan mengajarkan moralitas pada kedua adik nya ketika ia sendiri adalah sampah tak bermoral.

Rasa khawatir semakin memenuhi pikiran Naruto. Bagaimana keadaan Naruko dan Kurama saat ini? Apakah mereka memiliki tempat tinggal dan memiliki uang cukup untuk menyewa penginapan? Naruto memang telah memasukkan uang dalam jumlah besar ke rekening Naruko dan Kurama seminggu yang lalu. Namun Naruko memerlukan banyak uang untuk biaya sekolah, kursus persiapan masuk universitas dan biaya masuk universitas.

Naruto tak ingin melanggar sumpah yang dibuatnya di hari kematian kedua orang tua nya. Ia telah bersumpah untuk menjaga Naruko dan Kurama dengan baik menggantikan orang tua nya. Bila roh kedua orang tua nya melihat hal ini, mereka pasti akan kecewa dan tak bisa beristirahat dengan tenang.

Dengan kasar Naruto melepaskan perban di tangan nya dan menarik jarum infus. Ia mengerakkan kaki nya dan berusaha menginjak lantai keramik. Sasuke mencengkram kedua pergelangan tangan Naruto dengan erat hingga tenaga Naruto bagaikan terisap oleh Sasuke. Pergelangan tangan Naruto memerah akibat cengkraman Sasuke.

Sasuke menampar wajah Naruto dengan keras hingga wajah nya memerah. Sasuke membentak Naruto dengan keras, "Apakah kau sudah kehilangan kewarasanmu, pelacur sialan?"

Naruto seolah kehilangan control atas diri nya. Ia bahkan tak lagi merasa takut untuk menatap iris onyx Sasuke.

"Aku masih waras."

"Masih waras? Lihatlah dirimu sendiri, kau seperti orang gila, brengsek!"

"Menurutmu apakah aku bisa berbaring dengan tenang di rumah sakit sementara kedua adikku tidak pulang ke rumah, Sasuke-san? Aku gagal menjaga mereka dan malah mengecewakan mereka. Aku khawatir bila sesuatu terjadi pada mereka dan aku tak bisa melindungi mereka." Balas Naruto dengan suara meninggi.

Untuk pertama kali nya, Sasuke menemukan seseorang yang berani melawan nya seperti itu selain ayah nya. Bahkan Itachi tak pernah melakukan hal itu. Ia menampar wajah Naruto dengan sangat keras hingga wajah pria itu semakin memerah dan kesakitan.

"Apa yang bisa kau lakukan saat ini, idiot?!" Bentak Sasuke.

Naruto terdiam dan menyentuh pipi nya yang memerah dan sakit. Rasa takut yang sempat hilang kembali muncul dan ia menundukkan kepala, bersiap minta maaf pada Sasuke.

"Maafkan aku karena telah melawanmu, Sasuke-san. Aku khawatir hingga bersikap seperti ini."

Sasuke menarik kertas yang dipegang Naruto dengan kasar hingga kertas itu hampir sobek dan membaca isi nya. Ia tak tahu apa yang terjadi pada Naruto dan kedua adik nya hingga Naruto bersikap seperti ini, namun setidaknya ia sedikit tahu setelah membaca surat itu. Kedua adik Naruto telah mengetahui rahasia Naruto dan pergi dari rumah.

"Beristirahatlah, brengsek. Kau akan tetap disini hingga kau benar-benar sembuh." Ucap Sasuke sambil menatap tajam dengan nada suara yang terkesan seperti mengancam.

Sasuke berjalan meninggalkan ruang perawatan Naruto dan meminta dokter yang kebetulan berpapasan dengan nya untuk merawat Naruto dengan baik sambil memberikan tatapan tajam yang mengintimidasi, membuat dokter itu hanya bisa mengangguk akibat rasa takut.

Sasuke harus menemukan Naruko dan Kurama dengan cepat serta memberikan sedikit 'pelajaran' pada siapapun yang telah membocorkan rahasia Naruto pada Kurama dan Naruko hingga mereka berdua pergi dari rumah.

-TBC-


Author's Note:


Apakah di chapter ini perubahan Sasuke nya terlalu drastis? Sebetulnya author pengen buat Sasuke yang berubah secara perlahan, tapi malah jadi gini. Oh ya, ada reader yang bilang chapter kemarin kurang panjang. Apakah words nya kurang? Soalnya setiap chapter author bikin 3k words sih... hehe

Mengenai update, sorry nggak bisa update cepet soalnya author sibuk bulan ini. Ada test masuk universitas & sidang karya tulis...

Thanks buat review para readers...


Reply to review (Guest):


- Guest1 : Lah, kalau fict belum kelar di fin malah terkesan nanggung kan?

- Cicak di dinding : lagi WB sih. Di chapter ini dibahas kok kalau Sasuke berubah mendadak gara" ngerasa bersalah & dinasehatin teman nya gitu... alur nya kecepetan ya?

- di4napink : Thanks... semoga chapter-chapter di fict ini ga ngecewaiin. Oh ya, aku udah baca cerita kamu, cerita nya bagus kok. Sorry ga review di fict nya soalnya aku baca di hp & males nulis review... _

- Sasuke Choi : iya... lagi kena WB khusus bwt fict ini...

- Guest2 : Kesan nya berlebihan, ya? Soalnya aku ngebayangin diri aku sendiri kalau di posisi Naruko & Kurama, aku mungkin bakal bersikap kayak mereka karena kecewa.

- Sadako Aoi : Ah... ngerasa awkward judul fict sendiri dijadiin pertanyaan bwt author... Please love me, Aoi-san... #digamparbalik