White Lotus
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.
Pairing: Uzumaki Naruto/Hyuuga Hinata. Genre: Adventure/Romance. Rating: T. Other notes: post-canon. alternative time.
(Di sinilah semuanya yang baru dimulai. Kehidupan baru, asam-manis kehidupan yang baru pun telah siap dikecap. Apa saja yang akan terjadi setelah pernikahan Sang Hokage dan Sang Pewaris Souke?)
#8
"HINATA!" panggil Naruto kembali, menggeram garang sambil memukul-mukul dinding tempat Hinata terakhir kali terlihat tadi. Ada tetes-tetes darah yang jatuh ke lantai gua seiring dengan pukulannya yang bertubi-tubi menghujam dinding bebatuan, membuat Kiba dan Neji yang berada paling dekat dengannya langsung berupaya menahan tubuhnya.
"Kendalikan dirimu, Naruto!"
Naruto berontak, wajahnya frustasi. Dengan gampang dia melepaskan diri dari Neji dan Kiba, seolah mereka adalah dua ninja tanpa daya yang memegangi seekor singa garang. Dia berbalik memunggungi keduanya, bahkan dia melewati Sasuke—sahabat yang sering dijadikannya pelarian jika dia sedang terpuruk dalam tugasnya sebagai Hokage.
Sakura dapat mendengar Naruto mendengus. Ino merapat sedikit ke Sai, mengintip sekilas ekspresi Naruto membuatnya bergidik dan berusaha meraih perlindungan apapun yang terdekat dengannya.
Shikamaru menghela napas. Kiba mengacak rambutnya, tampaknya juga terkena dampak stres yang serupa dengan Naruto; mengingat Hinata adalah sahabat terdekatnya. Bahkan dia berani bertaruh bahwa dia mengenal Hinata lebih banyak di rentang waktu yang jauh lebih dulu dari Naruto mengenal Hinata.
"Kita ditipu oleh anak kecil brengsek itu," Naruto mengangkat kepalanya. Dia menoleh; akhirnya mau memperlihatkan wajahnya pada orang-orang di gua itu. "Kita sudah dipermainkannya sejauh ini," suaranya berat dan parau.
Di saat itulah semuanya bisa melihat mata Naruto telah berganti menjadi pupil rubah, kemerahan dan buas. Hei, bukannya Naruto sudah belajar mengendalikan kekuatan Kurama bertahun-tahun lalu? Saat ini dia hanya terlihat seperti anak dua belas setengah tahun yang masih belum tahu bahwa di dalam dirinya tertanam sebuah kekuatan yang bisa meruntuhkan desa hanya dengan sekali mengayunkan cakar.
PLAK!
Tamparan melayang di pipi Naruto.
"Kendalikan dirimu, dobe."
Sekali lagi, semuanya menyaksikan perubahan pada mata Naruto. Dia kembali jadi normal, matanya kembali memancarkan cahaya kebiruan sekaligus aura kekosongan dan seribu sinar pertanyaan.
"Ninja adalah makhluk yang menahan perasaan," suara Sasuke datar, namun Sakura—di sisi lain—bisa dengan jelas membaca bahwa lelakinya sedang tegas dan serius untuk menolong sahabatnya.
Naruto diam sesaat, sorot matanya mulai menunjukkan 'nyawa' lagi, dan dapat dipastikan bahwa dia telah tersadar kembali.
Pemuda pirang itu mendecih kesal. Dia membuang muka dari Sasuke. Berkas kemerahan masih tersisa di pipinya.
"Menahan perasaan, katamu? Tapi perasaan untuk Hinata dan dari Hinata-lah yang membuatku bangkit, membuatku bisa berdiri lagi, bahkan untuk waktu-waktu yang tak kusadari," suara tinggi Naruto memecah keheningan.
"Sejak aku kecil, dialah yang datang padaku di saat aku perlu. Saat ujian chuunin, dia memberiku semangat. Saat Obito nyaris menjerumuskanku, ada dia. Aku bahkan tak bisa menyebutkan hal-hal kecil lainnya. Sayangnya, aku tidak jenius sepertimu, teme. Aku bahkan baru menyadari itu baru-baru ini, bahwa dia telah banyak membantu hidupku dari belakang, mendukungku sebagai bayangan. Aku menyayanginya, dan rasa sayang itulah yang membuatku semakin tangguh sekarang agar aku bisa melindunginya, juga melindungi Konoha, desa yang kucintai dan juga dicintai Hinata."
Sasuke tak memberikan tanggapan, namun dia masih bersitatap dengan Naruto. Sepertinya dia siap untuk melawan Naruto kalau kegegabahan lawan bicaranya itu tidak muncul lagi.
"Perasaan pada Hinata itu sangat penting untuk hidupku. Keberadaannya sama dengan ayah ataupun ibuku; memberiku pencerahan dan jalan. Sekarang kau minta aku untuk menahan perasaan itu, lalu pulang dengan tangan kosong, begitu? Kau lebih dari cerdas untuk memahami ini, Sasuke!"
Tidak ada yang mengimbangi mendidihnya Naruto. Bahkan Sasuke sekalipun. Dia tak bereaksi.
"Tapi sayangnya, kalimat terakhirmu itu benar, Naruto," Shikamaru sepertinya rela mempertaruhkan nyawanya untuk mengkontradiksikan diri dengan Naruto yang sedang panas. "Kita harus mundur dulu."
"Apa katamu?" Naruto memandang Shikamaru dengan kelopak mata yang merendah. "Kupikir kau adalah orang yang paling jenius di sini, Shikamaru."
"Kita bisa apa di sini?" Shikamaru mengajukan gagasan, dia masih tetap tenang. "Kita tidak bisa mendapatkan info apapun tentang kemampuan musuh dan teknik yang dia gunakan untuk melarikan diri kalau bukan di Konoha. Di sini hanya ada kita dan kita tidak tahu apa-apa. Di Konoha kita bisa lebih tenang, mengumpulkan info dari orang-orang yang berpengalaman serta mengatur strategi."
"Di saat seperti ini, gunakanlah otakmu dulu ketimbang emosimu, Naruto," Kiba tampaknya bisa mengendalikan diri lebih baik dari Naruto kali ini. Padahal, dia adalah tipe yang cepat meledak pula seperti Naruto.
Naruto berdecak. Tampaknya dia tidak tenang, gelisah, ingin melangkah tapi ragu, ingin diam tapi dirinya berontak, dan semua kekacauan emosi itu terlampiaskan pada tangannya yang semakin mengacaukan rambutnya.
"Kau tahu strategi perang yang baik?" Neji dengan suara bijaknya mencoba mengencerkan suasana. "Strategi gerilya. Maju menyerang secara mendadak, namun mundur tiba-tiba ke kegelapan untuk mengatur strategi dan kemudian menyerang lagi dengan cepat, untuk menang."
"Kita akan melakukan itu," Shikamaru berada di pihak Neji, dia menyetujui Neji secara gamblang. "Kita mundur sekarang. Tetapkan tenggat waktu agar kita tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu di Konoha, dan bisa segera mengungkapkan rahasia ini, juga menyerang balik."
Akhirnya, Naruto bisa lebih tenang.
"Lagipula, anak itu menyayangi Hinata-sama. Dia hanya dikendalikan oleh rasa posesifnya. Dia tidak mungkin membunuh Hinata-sama," tambah Neji. "Kita diuntungkan oleh poin ini. Dia menculik bukan untuk apa-apa selain keinginan memiliki semata."
"Nah, Neji sudah menyimpulkannya," Shikamaru mengakhiri. "Neji, tolong bawa kami pulang. Sesampainya di Konoha, ada waktu untuk istirahat maksimal setengah jam, kutunggu kalian semua di ruang rapat bawah tanah gedung Hokage. Maaf kalau aku akan terlambat sekitar lima belas menit karena aku akan mencari buku di rumah dan di perpustakaan dulu sebagai bahan pertimbangan strategi."
"Kenapa kita tidak langsung berkumpul di ruang rapat saja setelah pulang dari sini?" Kiba bertanya.
"Kau tidak lihat tanganmu, Kiba? Kalau perlu, periksa juga kakimu," Shikamaru mengendikkan dagunya.
Kiba pun menyipitkan mata, memperhatikan tangannya. Benar saja, ada yang aneh di sana. Ada beberapa bagian yang membiru. Ketika Kiba menyentuhnya, memang ada yang tidak sakit, tapi sebagian yang lain cukup untuk membuatnya mengaduh. "Apa ini?"
"Aku baru menyadari bahwa melintasi ruang melalui portal ini bisa mengakibatkan tubuh kita mendapat efek tertentu. Penyebab pastinya belum kuketahui, kemungkinan itu karena ruang lingkup lintasan portal itu bereaksi seperti sihir. Dia bisa membuat kita menempuh jarak panjang dalam waktu singkat, bukan? Bisa jadi ada pemanfaatan gelombang cahaya di dalamnya, yang punya efek samping untuk kulit kita. Satu-satunya jalan terbaik untuk menghindari kemungkinan terburuk hanyalah dengan beristirahat sebentar setelah ini, karena kita akan bertarung kembali setelahnya."
Yang lain mengangguk mengerti—minus Naruto. Neji pun maju, siap untuk mengkonsentrasikan diri lagi agar portal barusan bisa terbuka dan mengantarkan mereka kembali ke Konoha.
Ketika semuanya maju untuk masuk, Naruto tertinggal di paling belakang. Sasuke meliriknya, tatapannya sudah siap berubah menjadi sharingan untuk mengintimidasi Naruto—tapi laki-laki itu masih menunduk.
"Naruto," panggil Neji.
Terdengar tawa yang menyedihkan sebagai jawaban. Langkah yang lain berhenti semua, dan mereka menoleh ke arah laki-laki yang masih mematung itu.
"Naruto?" kedua alis Ino terangkat.
"Haha, aku hanya menertawakan diri sendiri. Maaf kawan-kawan, aku terdengar bodoh," suaranya parau, masih ada tawa yang terselip. Tawa yang benar-benar miris. "Aku masih belum bisa mengendalikan diri. Hokage macam apa aku ini?"
Sakura tertawa kecil. "Sebenarnya, aku bisa saja meninjumu sekuat-kuatnya tadi, Naruto. Tapi kausudah terluka di dalam, kupikir aku tidak setega itu," jeda sebentar, "Itulah namanya cinta. Orang-orang, siapapun, pasti bisa kehilangan kendali karena cinta, bisa jadi seperti gila. Sesekali melampiaskan itu tidak apa-apa."
Naruto mengangkat kepalanya. Senyuman tipis menggantung di wajahnya. "Itu memalukan, sebenarnya."
"Kau malu karena rasa cintamu?" Sasuke menyeringai. "Kalau begitu, kau menyedihkan."
"Apa kau bilang, Sasuke-temeeee?!" tinju Naruto melayang kepada Sasuke, tapi bisa ditangkis Sasuke dengan tangkas, "Awas kau nanti kalau tiba di Konoha!"
Sepertinya, ada yang sudah menjadi 'baik-baik saja'. Untuk sementara, setidaknya.
Kelopak teratai itu merekah lebar, cahaya menyeruak dari hampir semua sisi helai-helai kelopaknya. Teratai itu begitu besar dan kuat, hingga mampu menopang satu orang untuk berdiri di atasnya. Maka keluarlah para ninja itu satu per satu, kembali pulang dengan tangan hampa namun masih punya rencana lain untuk mendobrak pertahanan musuh.
Mereka memang belum tahu apa-apa tentang cara menembus dinding gua dimana Hinata dibawa melaluinya, tapi setidaknya mereka masih punya harapan. Mereka semua bisa sedikit tenang setelah melihat tatapan mata Shikamaru terlihat masih tenang, alisnya tidak berkedut bingung ketika mereka semua berpisah jalan—pertanda bahwa laki-laki itu pasti punya ide di kepalanya. Si jenius itu adalah otak dari rencana ini, bukan?
Efek berwarna biru yang muncul di kulit mereka—yang semakin banyak setelah mereka kembali pulang—membuat mereka yakin bahwa mereka semua memang butuh istirahat.
Kecuali Naruto.
Ketika yang lain pulang dan beristirahat, dia menghilang dari kediaman Hyuuga.
Menuju ke suatu tempat. Hanya sendirian.
Tap.
Sebuah tangan mendarat di pundaknya, Naruto terpaksa berhenti untuk menoleh. "Ayah?"
"Kau mau kemana? Mana Hinata?" pertanyaan Hiashi sarat dengan harapan, membuat nada suaranya begitu berat.
Ketika matanya membalas pandangan Hiashi, sekilas dapat Naruto lihat beberapa orang dari keluarga Bunke Hyuuga—kesemuanya adalah wanita—berlalu-lalang di dalam rumah, dari pintu bisa terlihat bagaimana kekacauan yang ada di dalam. Mereka terlihat panik. Sebuah kewajaran ketika seseorang yang didaulat menjadi ketua klan menghilang tanpa sebab yang jelas. Oh Tuhan, Naruto merasa semakin bersalah karena Hinata belum berhasil dia bawa pulang.
"Naruto."
Naruto mencoba tenang. "Maaf."
Hiashi melepaskan tangannya dari bahu Naruto, kemudian berjalan maju, menatap kolam sambil memunggungi sang menantu. "Aku mengerti."
"Maaf—"
"Kalau kau masih akan mengatakan maaf lagi, simpan saja. Katakan itu untuk Hinata."
"Aku tahu," Naruto mengembuskan nafas panjang. "Dia dibawa lari dengan cara aneh oleh penculiknya. Menembus dinding ... semacam itu. Dinding gua, bukan kekkai, bukan pula cuma hanya berkamuflase dengan merapat ke dinding. Kami masih mau berusaha mencari tahu penyebab itu dengan kembali ke Konoha, kami tidak bermaksud mengulur waktu tapi cuma inilah yang bisa kami lakukan."
Hiashi tidak menjawab untuk sekian lamanya. Naruto menebak mungkin inilah waktunya untuk menarik diri, kembali ke tujuannya semula.
"Kalau Hinata tidak selamat, kurasa aku tidak akan bisa memaafkan siapapun."
Naruto terkesiap. Ketakutan sekaligus rasa kaget dan lega tiba-tiba langsung membanjiri benaknya. Takut—sebab kalimat tadi terdengar seperti ancaman kematian untuk tim penyelamat Hinata, terlebih untuknya, si lelaki yang baru saja menyandang gelar sebagai suami Hinata. Kaget—ternyata dia bisa mendengar hal seperti itu dari Hiashi yang dia kira hatinya sedingin dan sebeku es. Lega—sebab akhirnya dia bisa menemukan sosok ayah yang sebenarnya dari Hiashi, yang selama ini dia kira berbeda dengan ayah-ayah lembut di luar sana.
Hiashi menyimpan kasih sayang yang sama untuk Hinata, ternyata, namun penyampaiannya berbeda. Perangainya memang keras, membuat penyampaian kasih sayangnya jadi terlihat seperti sebuah kedisiplinan tingkat tinggi seolah anaknya terbuat dari baja yang tak berhati.
"Dia api harapan ibunya yang begitu menginginkan seorang anak perempuan yang manis dan seperti tuan putri untuk memimpin klan. Dia sangat mengharapkan seorang wanita yang penyabar dan tenang, namun punya kekuatan tersembunyi yang besar. Berbeda denganku yang ingin seorang anak perempuan yang tangguh dan berpendirian keras."
Naruto bertaruh bahwa ini adalah kali pertama dia mendengar kalimat yang begitu panjang dari Hiashi.
"Mungkin aku tidak bisa memaafkan dunia jika satu-satunya peninggalan istriku, yang sama persis dengan dirinya, pergi juga dengan cara yang tidak terhormat."
Senyum tipis yang sesamar kabut muncul di wajah Naruto.
"Kau tidak perlu menjahati dunia dengan cara seperti itu, Ayah," Naruto melangkah maju, berdiri di samping Hiashi. Kepalanya sudah berani terangkat tinggi, langit akhirnya bisa menemukan matanya lagi memandang ke atas dengan mantap. "Karena aku akan membawa pulang Hinata dalam keadaan selamat."
Berlawanan dengan Naruto, Hiashi memusatkan tatapan ke bawah, ke kolam yang jernih. Beberapa koi menari di bawah air, berkejaran, sesekali bersembunyi di bawah daun-daun teratai yang lebar.
"Kautahu kenapa aku langsung menyetujui Hinata yang ingin menikah denganmu?"
Naruto menoleh. Kedua alisnya terangkat.
"Bukan karena kau Hokage, bukan karena kaupahlawan, bukan karena kauadalah putra Hokage keempat."
"Karena ... apa?"
"Karena kau adalah Naruto, laki-laki yang dicintai Hinata. Istriku pernah bilang, bahwa kekuatan terbesar seorang wanita itu akan terlihat jika sudah dihubungkan dengan laki-laki yang dia cintai."
Jubah Naruto berkibar, terangkat oleh punggung angin yang lewat begitu saja. 'Kekuatan terbesar', eh? Itu membawanya lagi pada ingatan di ujian chuunin babak pertama, dimana Hinata bangkit lagi untuk melawan Neji meski dia telah sekarat karena teriakan Naruto sendiri yang menyemangatinya.
(Naruto takkan menyadari hal ini jikalau Sakura tidak tegas menjelaskan padanya tentang Hinata yang selalu bisa jadi tangguh setelah ditopang oleh Naruto lewat determinasi yang dia berikan.)
"Aku ingin dia menjadi kuat seperti yang diinginkan ibunya jika dia bersama dengan laki-laki yang dia sayangi sedari kecil."
Naruto pun tersenyum.
Hiashi menyetujui pernikahan mereka, alasan utamanya adalah demi Hinata. Baguslah. Itu sebuah jawaban luar biasa yang tak pernah ia nantikan, namun dia begitu senang mengetahuinya. Lelaki ini begitu mencintai putrinya. Mendengar bahwa orang yang dia cintai juga dicintai oleh orang lain tentu sudah membuat Naruto lega—apalagi begitu mengetahui bahwa 'orang lain' itu adalah seseorang yang dia kira hanya menyimpan rasa kecewa untuk Hinata.
"Kauternyata benar-benar mencintai Hinata, ya?"
"Apa terlihat seperti itu?"
"Tentu saja, terlihat jelas dari sini," cengiran Naruto secerah warna rambutnya. Bohong kalau matahari siang tidak merasa iri karena Naruto akhirnya bisa memperlihatkan senyuman lebarnya yang begitu cerah.
Hiashi tidak mau melanjutkan topik ini lagi, rupanya. Dia pun mulai menata langkah untuk meninggalkan Naruto. "Selamatkan Hinata. Dia paling mengharapkanmu. Biarkan harapan ibunya tetap hidup. Dengan kedatanganmu padanya, dia pasti akan mengerahkan kekuatannya untuk membebaskan diri."
"Kh," Naruto tertawa kecil, "Sekarang kau boleh duduk tenang dan menikmati tehmu, serta memandangi ikan-ikan koi ini, Ayah. Tugasmu sudah selesai. Hinata sudah punya seseorang yang akan selalu melindungi dan menjaganya. Hinata bukan lagi gadismu, dia wanitaku."
Ada senyuman tipis yang sama sekali tidak bisa dilihat Naruto.
Hiashi menjauh, Naruto juga keluar dari komplek perumahan Hyuuga, menanti waktu pertemuan dengan caranya sendiri. Dia tidak butuh istirahat atau menyembuhkan diri seperti yang sedang dilakukan kawan-kawannya saat ini, yang dia perlukan hanya tempat untuk melepaskan beban hatinya.
Bukan tempat biasa.
"Bu, apa Ayah dulu berkorban banyak untuk Ibu?"
Satu kelopak bunga putih melayang jatuh ke atas tanah, tepat ke depan batu putih tinggi yang menjulang di tengah-tengah hutan, di atas bukit kecil yang sepi dan agak lembab.
"Bu, tidak cuma Ayah dan Ibu yang punya cerita yang mengharukan sekaligus bersejarah di hari yang seharusnya menjadi hari penting yang istimewa bagi kalian."
Satu kelopak lagi jatuh.
"Kalian harus mengorbankan diri tepat di hari kelahiran anak pertama yang kalian tunggu-tunggu. Aku mengalami hal yang kurang lebih sama. Di malam pernikahanku, istriku diculik. Menyedihkan sekali."
Kelopak lain ditarik paksa oleh jari-jari Naruto, membuat kelopak lain jatuh kembali, menemani kawan-kawannya yang sudah terlebih dahulu digugurkan ke tanah.
"Apa Ibu bisa mengerti? Duniaku seperti berhenti, Bu. Dia wanita yang begitu kucintai setelah ibu. Dia banyak memberi cahaya untukku. Dia paling baik untukku. Dia pilihanku. Ibu pasti ingat dia, 'kan? Dia yang selalu mengantarkan mawar putih untuk Ibu waktu itu, dia yang kuajak berdoa sama-sama di sini sebelum kami menikah, dia Hyuuga Hinata, dia wanitaku."
Sesaat, Naruto tertawa dan berhenti menyobek kelopak bunga.
"Aku sudah membayangkan untuk memilikinya sepenuhnya di malam itu, menyentuhnya karena dia sudah benar-benar jadi milikku ... tapi penculik brengsek itu menghancurkan segalanya. Aku mengakui hal ini gila ... tapi aku sempat ingin menghancurkan segalanya begitu tahu Hinata menghilang di hari yang benar-benar penting untuk kami berdua. Dan lebih konyolnya lagi, penculiknya anak kecil, Bu! Anak kecil! Dan dia kelihatannya menginginkan Hinata-ku. Bu, bayangkan, saingan anakmu adalah seorang bocah!"
Bunga mawar putih liar yang didapatkan Naruto secara tak sengaja di hutan itu pun telah luruh seluruhnya, hanya meninggalkan tangkai. Kelopaknya sudah habis dia tanggalkan semua. Seandainya dia masih utuh dan bisa bertingkah seperti manusia, mungkin bunga itu akan tertawa mendengar betapa posesifnya Naruto menggambarkan kata 'Hinata' dalam curhatnya pada sang ibu.
"Tapi tenang saja, Bu," tambah Naruto.
Tangkai bunga yang sudah gundul itu pun diletakkan Naruto dengan hati-hati di depan batu putih yang dingin itu.
"Aku adalah laki-laki yang bertanggung jawab seperti ayah. Aku pasti akan memperjuangkannya kembali, membawanya pulang dan kami akan berbahagia di sini, membangun keluarga yang pasti akan membanggakanmu juga."
Senyum tipis disertakan ketika kalimat itu diakhiri.
"Aku pulang dulu. Shikamaru akan mengadakan pertemuan untuk merencanakan hal selanjutnya. Sebenarnya masih banyak yang ingin kuceritakan tentang hari bahagiaku dan tentang Hinata ... tapi nanti saja, aku akan datang lagi dengannya dan kami akan bercerita bersama."
Kalimat itu dijadikan Naruto sebagai penutup. Dia pun berbalik setelah mengelus batu penanda makam ibunya sekali lagi sebagai tanda pamitan.
Ketika dia berjalan, angin—yang entah mengapa, bertiup lebih kencang kali itu—seperti membisikkannya sesuatu yang memintanya untuk berpaling.
Ya, Naruto mengikuti intuisi itu dan menoleh.
Dia seperti melihat helai-helai merah berayun di udara, hanya melintas lewat dan ketika dia mencoba menangkap sosok pemiliknya, angin menelannya.
"Aku tidak menemukan banyak hal di dalam buku ini."
Kalimat pembuka dari Shikamaru memang bukan awal yang baik, memang bukan permulaan yang akan mencerahkan wajah-wajah yang telah mulai kelelahan itu.
Naruto mencoba untuk tetap tenang walaupun dia merasa sudah akan berteriak lagi tadi. Dia tidak ingin dikatai tidak dewasa dan sama sekali tidak becus menjadi pemimpin sebuah desa ninja besar cuma karena darahnya yang cepat mendidih untuk suatu hal yang seharusnya bisa dihadapi dengan kepala dingin.
Lagipula, berlama-lama di depan makam ibunya tadi telah memberikannya suatu inspirasi, bahwa ia adalah seorang anak harapan kedua orang tuanya yang mengorbankan diri di hari kebahagiaan mereka, mana mungkin dia melakukan kekonyolan di usianya yang tak lagi bisa digolongkan sebagai bocah ini, 'kan? Dia adalah Hokage, orang dewasa yang patut ditiru, sifat cepat marah cuma akan membuatnya terlihat tak layak.
"Tapi bukan berarti tidak ada petunjuk sama sekali," Shikamaru menepuk-nepuk buku tua tepat di hadapannya, buku yang sama dengan sumber dimana dia menemukan hal tentang teleportasi sebelumnya.
Semuanya diam mendengarkan. Hening menjadi selimut suasana untuk beberapa saat ketika Shikamaru mencoba menyusun kata-katanya agar lebih mudah dipahami dan lebih singkat.
"Beberapa halaman buku ini hilang karena sudah terlalu tua. Kupikir halaman yang hilang itu punya penjelasan yang lebih detil tentang perpindahan ruang dan waktu yang menggunakan media padat sebagai perantara."
Yang lain menanti dengan tegang. Sambil memperhitungkan waktu, mereka berharap bahwa Hinata di sana memang tidak apa-apa sesuai dengan kalkulasi mereka. Sepertinya penjelasan Shikamaru akan panjang.
"Aku hanya membaca sekilas isi buku ini, tapi ada jenis perpindahan yang mengandalkan benda padat sebagai perantara. Ada juga yang menggunakan udara bebas, mungkin jurus Hokage keempat bisa digolongkan dalam jenis ini," mata orang-orang yang duduk di sana langsung mengarah otomatis pada Naruto. "Dengan menggunakan medium benda padat, mereka bisa menciptakan kunci khusus untuk membuka jalan. Jurus teleportasi ini digunakan untuk bertarung di dalam sebuah benteng atau bangunan kerajaan."
"Apa bedanya jurus perpindahan yang ini dengan teleportasi di teratai putih itu?"
"Mereka tidak perlu pintu dan terowongan chakra untuk ini," geleng Shikamaru, "Si pengguna akan langsung terbawa ke lokasi tujuan tanpa perlu melewati lorong yang mempengaruhi tubuh kita. Kalian tahu? Terowongan chakra yang kita masuki itu mengisap chakra kita sendiri dari titik-titik tertentu di tubuh, makanya kita mendapat bekas biru ini."
Yang lain pun memperhatikan tubuh mereka. Memang, sudah berkurang sedikit tapi tetap saja ada bagian-bagian yang masih jelas-jelas memperlihatkan bekas seperti lebam.
"Aku tidak akan menjelaskan secara panjang lebar tentang ini. Semua akan kita ketahui kalau kita bisa menemukan mereka. Sekarang, yang jadi pertanyaan adalah kunci apa yang dia gunakan waktu itu sehingga dia bisa langsung pergi. Tidak kusangka, dia sehebat itu padahal dia masih sangat kecil. Aku ragu dia hanya bertindak sendiri. Pasti ada seseorang yang berdiri di balik tirai."
"Aku memikirkan hal yang sama," ucap Naruto. "Tapi lebih baik jika kita mengesampingkan itu dulu dan memikirkan apa kunci yang dia gunakan agar kita bisa langsung menyusulnya. Secepatnya."
"Tidak segampang itu, Naruto," sanggah Shikamaru. "Tidak semua orang bisa membuka kunci teleportasi milik orang lain."
"Lalu kita harus bagaimana?" Naruto mulai tidak sabar. Pintu kendali dirinya nyaris jebol.
"Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar jurus memindahkan diri ini dapat dilakukan. Pertama, si pengguna harus menuliskan sepasang kertas mantra yang sama dan diberi segel tertentu, kemudian ditempelkan pada dua tempat yang berbeda. Keuntungannya, pengguna bisa pergi kemana pun yang dia mau karena pasangan kertasnya hanya ada satu di muka bumi. Cukup merugikan juga karena bentuknya mencolok dan gampang dicurigai musuh."
Dentang waktu berlalu sesaat tanpa ada suara yang mengisi suasana.
"Cara kedua, hanya dengan menggambar pola secara spontan di permukaan benda padat yang ingin dijadikan medium. Ini sama dengan yang kertas, pengguna akan langsung menuju ke tempat dimana ada suatu kertas mantra atau apapun yang menggambarkan pola yang sama dengan yang digambarnya dengan jarinya. Kelihatannya ini lebih menguntungkan dan praktis, tapi resikonya lebih besar. Dia akan menyerap banyak sekali chakra dari orang yang berpindah dimensi ruang dan waktu dengan cara ini. Malah ... mungkin bisa sampai pingsan," jeda sesaat, "Tidak ada kertas mantra atau semacamnya di dinding gua tadi. Aku bisa memastikannya. Jelas kalau anak itu memakai cara yang kedua."
"Berarti ada kemungkinan sekarang ..." Naruto menahan napasnya agar emosi tidak langsung muncul ke permukaan, "Hinata sekarang dalam keadaan lemah?"
"Bisa dibilang begitu ..."
"Tsk," Naruto memukul meja dengan tinjunya. Tidak terlalu keras memang, namun cukup mengejutkan yang lain.
"Jangan pikirkan keadaan Hinata dulu, Naruto. Pikirkan cara untuk mendapatkan Hinata kembali," Shikamaru menegur. "Adakah yang sempat melihat pola apa yang dibentuknya di dinding sebelum membawa Hinata pergi, agar kita bisa mempelajarinya dalam waktu singkat, menirunya dan langsung mempraktekkannya agar semua cepat beres?"
Hening.
Namun, Sakura tersenyum bangga. "Aku."
Seluruh perhatian tertuju untuk Sakura.
"Aku yakin, kalau Sasuke-kun dan Sai-kun melihatnya juga tadi, mereka pasti langsung dapat mengenalinya," dia masih mempertahankan senyumnya. "Pola itu mirip dengan peta suatu daerah perkebunan kecil di desa tersembunyi yang tidak punya nama di perbatasan antara Mizugakure dengan Konohagakure. Pola kebun itu tidak biasa. Kami bertiga pernah dikirim ke desa itu untuk misi tingkat B sewaktu Naruto belum jadi Hokage."
Ini adalah sebuah harapan cerah yang melegakan benak semua orang.
"Dan tahukah kalian," Sakura masih tersenyum. Lebih tipis kali ini. "Pola kebun itu mirip dengan bunga teratai, dan pada kenyataannya, kebun itu adalah kebun aneh yang punya bunga mirip sekali dengan teratai."
tbc.
A/N: ...kabar gembira! chapter depan adalah chapter terakhir! =)) ada epilognya kok. jadi, ini bagian puncak sebelum cerita berakhir. yap, seperti yang kubilang, fic ini nggak panjang-panjang banget, ngga usah nyinetron soalnya ini genrenya bukan drama wahahaha. daaan, sudah ada yang bisa nebak musuhnya siapa. buat kamu yang di sana, kamu jeli! karena cerita ini adalah trilogi, musuh aslinya sebenernya sudah diungkap dari awal di rangkaian cerita, tinggal jeli nggaknya aja buat nemuinnya. (siapakah dia yang tebakannya benar? nah, iya, itu kamu, iya, kamu yang ngerasa! xD cek aja deh review chapter kemaren~)
biggest thanks to those who has reviewed in the previous chapter:
utsukushi hana-chan, Bunshin Anugrah ET, leontujuhempat, gue 2nd princhass, m. u. albab, Belindattebayo1, Hyuuga Divaa Atarashii, Mchsyafii, AF Namikaze, Uzumaki 21, Ruqi No Hiken, Vicestering, hanazonorin444, kensuchan, anggraxl, Amu B, Guest, bala-san dewa hikikomori, mangetsuNaru, asuriacchi, Durara, Anyone, Misti Chan, foxx, dany, 7th ChocoLava, K, Blue-senpai, Karizta-chan, arip. scarlet, NaruGankster, juanda. blepotan, Guest, Ayzhar, eliza. halianson, goGatsu no kaze, arisaarishima27narutouzumaki10, El Ghashinia
and those who have favorited plus followed this fic! here, lemme give you my biggest gratitude!
