SQUEEZE
.
.
.
Discalimer!
Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi
Original Story by Kiki Z
Cast
Akashi Seijurou
Kuroko Tetsuya
Midorima Shintarou
.
.
Warning!
BL, Typo, Antar Pargraf tidak Sinkron, Tidak sesuai EYD, OOC, AU
Rate: M
Genre: Drama, Romance, Hurt
.
.
No Flame! DLDR, saya sudah mengingatkan!
.
.
.
"Cium Aku!" tidak ada keraguan dalam tatapannya, meski bibir mungil merahnya bergetar hebat, tak ada niatan sedikitpun untuk mundur bahkan hanya mengendurkan genggamannya pun tidak.
Jari jemari rampingnya kian erat memegang sepasang kerah putih jas dokter shintarou. menariknya, memaksa dokter tampan itu kian mendekat, memutus jarak yang hampir tak ada.
Sepasang lazuali indah miliknya terlihat berkaca-kaca, diantara begitu banyak emosi yang berkecamuk disana, kesungguhan untuk menuntut bukti jika cinta diantara keduanya memang ada, dan masih hingga kini lah yang paling mencolok.
Shintarou menatap diam, rasa kaget akan tindakan tiba-tiba tetsuya yang menerobos ruangannya hingga sikap dominan yang ditunjukkan sang mantan masih terlihat jelas di wajahnya, ia sadar betul jika ada sesuatu yang tidak beres dengan mantan kekasihnya itu, Tetsuya tidak akan pernah memulai sesuatu yang lebih intim dari hanya sekedar berpelukan.
"Tetsuya, tenangkan dirimu" tangan besar memegang lembut sepasang lengan tetsuya, Shintarou amat begitu hati-hati, takut-takut salah ambil tindakan karena ia sendiri tak tahu pokok masalahnya seperti apa.
"Ada apa? Hm" telapak tangannya berpindah ke wajah, menangkup rahang bawah, pipi putih hingga kebelakang telinga. Tatapannya melembut, sementara satu tangan yang masih memegang lengan tetsuya perlahan membawa tangan putih itu melepaskan rematan pada kerah jasnya.
"Hei, ada apa?" ucapnya ulang, begitu pelan dan lembut, kening yang semula berjarak disatukan membuat tetsuya akhirnya menyerah, melepas genggamannya lalu memeluk tubuh yang jauh lebih tinggi darinya itu, erat. Sangat erat hingga wajah cantik itu hampir tak terlihat karena sempurna tenggelam pada dada bidang shintarou.
Punggung ringkih tetsuya bergetar pelan. Isakan tak bersuara itu nyatanya tak bisa disembunyikan.
Hafal akan setiap gejolak emosi sang mantan, Shintarou tak lagi menuntut jawaban, ia memilih membalas pelukan dari tangan kecil itu, menenangkan si biru muda adalah satu-satunya jawaban yang bisa diproses otaknya.
Telapak tangannya mengusap lembut punggung ringkih yang masih bergetar, berharap afeksi yang disalurkan mampu memberikan ketenangan.
"plakk plakk plakk. . ." suara tepukan tangan berat terdengar dari arah pintu, lambat dengan jarak suara yang konstan, senada dengan langkah kaki yang semakin mendekat. Membuat dua orang yang tengah berpelukan itu tersadar dari dunia mereka, Netra hijau shintarou membulat sempurna begitu melihat sosok yang menjadi penganggu itu, meski ia masih belum melepas pelukan Tetsuya.
"Bagus sekali" ucap seijurou dingin. Tatapannya menajam pada dua objek yang masih setia dengan posisi awal meraka meski tetsuya sudah tak lagi menyembunyikan wajahnya. Si biru muda malah terlihat memeluk makin erat, tatapannya datar, tidak peduli dengan entitas merah yang seolah ingin membunuh dirinya dan shintarou.
Seijurou makin mendekat, dalam gerakan yang tiba-tiba ia menarik tetsuya hingga terlepas dari pelukan shintarou dan kini berada dalam rengkuhannya.
Tubuh tetsuya menempel sempurna dengan dada bidangnya, pinggang ramping ditekan hingga lebih mendekat, tetsuya mendongak. Membalas tatapan intimidasi itu dengan sorot mata penuh benci.
"Kau nakal sekali ya" satu sudut bibirnya terangkat, senyum sinis ia lemparkan bulat-bulat tepat didepan mata tetsuya yang hanya berjarak beberapa senti dari dirinya.
"Dan kau pasti tahu kan sayang-" manik heterocromenya mengunci lazuali bulat itu, hingga tetsuya merasa dirinya tak berkutik seakan membeku.
"setiap perbuatan nakal akan dapat hukuman" ucapnya sinis. Tetsuya tersentak, jujur dalam hatinya ia merasa takut dengan tatapan seijurou kali ini. Meski wajahnya masih terlihat datar.
"hmpptttttt"
Bibir tetsuya dilumat tiba-tiba, kasar, begitu posesif. Sikap dominan yang begitu menuntut itu membuat tetsuya tak sanggup menolak. Tubuh kecilnya meronta namun seijurou lebih dari cukup tenaga untuk menahan, mengunci semua pergerakan dari tubuh kecil itu.
"Hmppppptt" tetsuya masih berusaha melepaskan diri, tangannya mendorong tubuh seijurou sekuat tenaga namun tetap gagal, sementara seijurou masih terus melahap bibir manis itu, tak peduli dengan tetsuya yang hampir kehabisan nafas ataupun keberadaan shintarou yang menyaksikan adegan panas yang seolah sengaja ia pertontokan, menunjukkan jika tetsuya sepenuhnya adalah miliki Akashi Seijurou.
Puas dengan apa yang dilakukan, bibir merah yang telah ia buat bengkak sempurna dan kini semakin merah menyala, jalinan benang saliva yang terbentuk masih menghubungkan mulut keduanya, seijurou kembali memutus jarak. Namun kali ini hanya menjilat bibir bengkak itu. Membersihkan sisa-sisa saliva yang entah milik siapa. Meninggalkan efek mengkilat pada bibir yang telah ia klaim paksa menjadi miliknya.
"Bagaimana sayang?"
"Kau suka hmm!" sudut bibir kembali melengkung, satu alisnya terangkat.
"Aku membencimu!" Tetsuya menatap tajam, bibirnya diusap kasar seolah menujukkan betapa jijiknya ia pada lelaki itu.
"Ya ya, aku juga sangat mencintaimu sayang" tubuh tetsuya dilemparkan hingga jatuh terduduk membuat si mungil meringis kesakitan.
Reaksi refleks dari shintarou, tubuhnya membungkuk, tangannya terulur hendak meraih tubuh kecil itu untuk kembali berdiri. Namun berhasil dicegat seijurou.
"Kau masih belum sadar rupanya" ucap seijurou sinis.
"Sepertinya aku harus memberimu pelajaran kembali ya, shintarou" nada sinisnya masih melekat disetiap kalimat yang dia ucapkan.
Jantung tetsuya berdetak resah, ia menggeleng pelan. Firasat buruk yang dulu pernah ia rasakan kembali menyeruak dalam dadanya.
Belum sempat ia bangun, tetsuya harus terkejut melihat pemandangan di depan matanya saat sebuah gunting menancap begitu dalam pada lengan shintarou, mengucurkan noda merah yang mengenai jas putih serta tangan si pemilik gunting.
"Akhhhh" pekiknya tertahan.
"Bukankah sudah kukatakan padamu hm" gunting itu semakin ditekan masuk lebih dalam.
"Sebagai seoarang ahli bedah, harusnya kau menjaga baik-baik tanganmu" Suara Seijurou memberat seolah mengejek.
Tangannya kian berlumuran darah saat ia semakin menekan genggamannya pada gunting lalu mencabut gunting itu tiba-tiba. Tak peduli dengan suara kesakitan dari sauadara angkatnya.
Air mata lolos begitu saja, membasahi pipi putih tetsuya ketika kembali melihat orang yang dicintainya dengan ekspresi yang begitu menyakitkan.
Shintarou memegang lengannya yang berdarah, matanya menyipit hampir terpejam, menahan rasa sakit.
Seolah belum puas, seijurou mengangkat telapak tangan shintarou yang terlihat lemas, kemudian menggoreskan pelan gunting yang telah berlumuran darah, menekannya hingga membentuk luka sayatan cukup panjang, membuat shintarou kembali meringis kesakitan.
"Tangan berbakat milikmu ini harusnya kau gunakan dengan baik saat di meja operasi-" seijurou menjeda.
"Bukan untuk menyentuh milikku!!" tanpa ada rasa kasihan dia menekan lebih dalam, membuat luka sayatan itu menganga, Shintarou kembali memekik kesakitan.
"Hantikan hiks" sepasang lengan kecil melingkar pada pinggang seijurou, membuatnya menghentikan tindkan sadisnya, kepalanya sedikit menoleh.
"Kumohon hentikan" suaranya nyaris tak terdengar, namun masih bisa ditangkap dengan baik oleh seijurou.
"Kau bisa lakukan apapun padaku, jadi jangan sakiti orang lain lagi" suara tetsuya semakin terdengar berbisik. Ia berusaha menahan isaknya yang lolos disela-sela kalimatnya. Tatapan Seijurou kian dingin, kemudian ia berbalik pada tetsuya.
"Kau kejam sekali sayang" ucapnya dengan nada suara yang masih tak berubah. Telapak tangannya yang berlumuran darah menodai pipi putih tetsuya, mengusapnya penuh emosi.
Wajah cantik itu ia angkat, memaksa sepasang lazuali dengan air yang tak kian mereda itu balas menatapnya.
"Aku tidak akan menahan diriku lagi, Akashi Tetsuya!" ucap seijurou dengan tatapan datar namun syarat akan emosi.
.
.
.
Tetsuya menatap kosong pada cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya, sekosong dirinya yang terasa begitu hampa.
Tangannya bergerak bak robot, mengancingkan biji-biji kancing sembarangan, tak peduli jika kancing piyama memasuki lubangnya tak tepat.
Seijurou memeluk tubuh yang sudah bersih itu dari belakang, mencium aroma vanilla yang menguar dari setiap inci tubuh yang terbungkus hanya bagian atasnya. Sementara dia sendiri dalam keadaan topless dengan bagian bawah hanya tertutup celana piyama.
"Kau harum sekali" hidung mancungnya kian rakus mengendus wewangian yang membuatnya candu itu. Namun Tetsuya masih tak peduli, ia membatu, membiarkan seijurou melakukan apapun yang dia inginkan. Menghindar pun tak lagi berguna. Ia sudah terikat kesepakatan untuk melemparkan dirinya pada seijurou.
Telapak tangan kiri Seijurou menelusup ke balik piyama bagian depan, meraba lembut pada bagian perut hingga ke bagian atas. Mencubit nakal sepasang nipple yang mulai menegang lalu bermain lincah disana. menggoda suara merdu tetsuya untuk keluar dari bibir merahnya.
Lidahnya menjilati cuping telinga, sesekali menggigitnya gemas. Tangan kanan mulai bergerilya, membuka kancing yang belum lama terpasang.
Tangan tetsuya refleks menahan, meski ia sudah merelakan dirinya diumpankan namun insting untuk bertahan tetap ada, gerakan tangan seijurou yang membuka kancing ditahan, namun hanya sekejap hingga seijurou berhasil menyingkirkannya. Begitu seterusnya hingga seijurou berbalik menahan tangan putih itu dengan tangan kirinya yang sebelumnya asik bermain dengan sepasang nipple yang kian mencuat.
Aktivitas membuka kancing terhenti hingga pada 3 kancing terbawah yang masih menutupi perut rata tetsuyq. Seijurou menarik piyama lengan panjang itu kebelakang, membuat punggung mulus tetsuya terkespos. ia meneguk ludah kasar melihat bagaimana sajian indah di depannya, ia tak bisa membayngkan bagaimana jika tubuh itu polos sempurna.
Jemari panjang seijurou kembali menggoda, mengusap seduktif tengkuk hingga ke punggung yang terlihat setengahnya berlang kali dengan gerakan dari atas ke bawah dan sebaliknya.
"Tubuhmu mulus sekali" manik heterecome semakin berkabut, rasanya ia sudah tidak tahan lantaran menahan cukup lama namun ia masih enggan untuk cepat-cepat menyudahai kegiatan intim yang akan ia ingat sepanjang hidupnya.
Lidahnya kembali mendarat pada tubuh tetsuya, kali ini dia memulainya dari tengkuk hingga ke bahu, mencium hingga menggigit pelan namun, ia tak sanggup untuk tidak memberi tanda pada permukaan mulus itu. hingga terciptalah beberapa ruam keunguan pada sekitar leher hingga ke bahu.
Puas bermain-main, seijurou membalik tubuh tetsuya hingga berhadapan dengan dirinya, menatap wajah cantik yang sudah mendingin itu penuh kasih.
"Kau akan jadi milikku seutuhnya sayang" tangannya mengusap pipi empuk itu posesif, kemudian beralih pada dagu lalu menariknya mendekat.
Satu kecupan ringa di layangakan hanya untuk menggoda bibir yang menguarkan zat adiktif yang membuatnya candu.
Kecupan diulang hingga berkali-kali, sampai seijurou mulai menjilat, menggigit lalu melumatnya penuh nafsu.
Tetsuya merasa tubuhnya makin melemas, ia benci dengan keadaannya yang begitu lemah hingga tak berdaya ketika seijurou mempermainkan tubuhnya.
Tubuh yang sudah melemah dibawa dalam gendongan, menuju ranjang empuk yang akan menjadi perpaduan cinta keduanya-meski hanya seijuroulah yang menganggap seperti itu.
.
.
"Kau cantik sekali sayang" seijurou menatap takjub pada sosok jelmaan malaikat yang tengah terbaring tak berdaya dibawah tubuhnya.
Dia tahu tetsuya amat menolak apa yang akan mereka lakukan, namun reaksi tubuh yang kadang tersentak saat beberapa bagian ia sentuh cukup membuat seijurou untuk tidak mengendurkan tekadnya meniduri sang isteri.
"Jangan gigit bibirmu sayang" seijurou mengecup bibir peach yang berdarah, menjilat cairan amis besi itu sementara dibawah sana pinggulnya masih terus bergerak, memburu rasa nikmat yang tak berujung.
Setiap ia bergerak masuk-keluar-masuk-keluarnya, miliknya yang cukup besar bergesekan dengan lubang sempit penuh candu, memijat-mijat nikmat seakan memeras sari yang tersimpan di dalamnya, menyalurkan rasa nikmat luar biasa yang baru pertama kali ia rasakan meski nyatanya ini bukanlah hubungan badan yang pertama Seijurou lakukan.
Rasanya seperti baru pertama, ia masih belum bisa melupakan bagaimana gugupnya dirinya saat mencoba memasuki lubang sempit yang sudah dipastikan virgin itu. Lalu kini, degupan jantung yang tak juga memelaan meski ia sudah memasuki permainan inti dan hampir akan mencapai puncak dalam sepersekian menit lagi.
Wajah menolak itu nyatanya memerah, meski bibirnya terus tergigit dan tak henti mengeluarkan cairan merah namun tubuhnya tak mengikuti pikirannya.
Setiap sentuhan seijurou bagaikan aliran listrik yang menyengat, memberikan efek menyenangkan. Membuat tetsuya makin benci pada dirinya sendiri. Ia benci tubuhnya yang berhianat dengan akalnya.
"Ahhhhhhhhhhhh" lenguhan panjang disertai gerakan menusuk yang dalam menjadi pertanda tercapainya ujung kepuasan. Seluruh benihnya sudah ia pastikan tertanam dalam tubuh tetsuya meski ada sebagian yang tumpah karena tak tertampung. sangat banyak.
Tetsuya yang merasakan semburan hangat pada lubangnya ikut mencapai puncak, bibir yang sudah terluka akibat gigi gigi putihnya masih tergigit, jemari tangannya semakin pucat. Meremat kuat seperai dari kain terbaik itu hingga kusut tak beraturan. Ia mencapai puncak yang belum pernah ia bayangkan sama sekali, dan tak berharap didaki bersama lelaki brengsek macam seijurou. Hatinya remuk, ketika harus menerima kenyataan jika hal paling berharga miliknya direnggut oleh lelaki yang sangat ia benci.
Tubuhnya lelah, ditambah rasa kantuk yang menyerang, memaksanya terseret dalam alam mimpi yang tak mampu menghapus kesedihanya. Tetsuya menangis, terisak dalam lelapnya.
TBC
Sorry maksa lime nya ya
Dan sorry juga masih nge-drama
Karena genrenya memang Drama. . hihi
