Tittle: Bestfriend
Author: Lee Hae Eun
Genre: Romance, School life, Friendships
Rating: PG-15
Cast: XI Luhan, Oh Sehun, Kim Jongin, etc.
Lee's note: Hiks, annyeong reader-nim *melambaikan tangan dengan lesu tak berdaya* Mianhae ne baru update sekarang, walopun sebenranya Lee tau gak ada lagi yg nunggu ni FF tapi Lee tetap aja merasa bersalah karena gak lanjut ni FF. Nah, sebentar lagi udah mau tamat kok dah mau END, tapi Lee gak tau cara yg pas untuk menamatkan(?) sebuah FF. Kalo reader-nim bersedia ngasih tau caranya sma Lee, Lee pasti berterima kasih banget deh. OK fix, baca aja ya lanjutannya ini~
Thanks to: Sanshaini Hikari, PUuPpyyto, laxyovrds, Kachimato kalian penyemangat sayaaa /kiss n hug atu-atu/
Happy Reading~~
.
Pip! Pip!
Chanyeol terdiam sejenak lalu melepaskan pelukannya pada Jongin.
"Fiuh, untung kau melepaskannya tepat sebelum aku pingsan." Desah Jongin. Dia memegang dadanya yang naik turun karena baru bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya. Pelukan Chanyeol sama sekali bukan main-main.
Sehun melirik Chanyeol yang sedang berjalan menjauh dari mereka dengan ponsel yang melekat di telinganya. Dia penasaran siapa yang menelepon Chanyeol sampai-sampai namja itu sok rahasia pada mereka. Sehun mengalihkan perhatiannya pada Jongin saat merasakan tumbukan pelan di bahunya. Dia memberikan tatapan 'ada apa?' pada sahabatnya itu.
"Jadi kau mau berteman dengan namja idiot itu sekarang?" Jongin menunjuk Chanyeol dengan dagunya.
"Kau tidak mau, Kkam?" balas Sehun bertanya.
Jongin menggedikan bahunya. "Kalau kau iya maka aku ikut saja." Lalu dia menatap Chanyeol yang sedang berjalan cepat ke arah mereka. "Lagipula, ke-idiotannya itu mungkin saja berguna nanti. Mungkin ya."
Sehun tertawa kecil. Jongin lumayan jahat, pikirnya geli.
"Ya! Ya! Ya!"
Suara baritone itu kembali terdengar dari bibir Chanyeol. Jongin merengut tak suka, "Bisa tidak kau sekalii saja tak menggunakan nada itu pada kami?"
Chanyeol menggeleng kuat-kuat, "Tak ada waktu untuk itu, Jong-ah." Jongin sedikit merasa aneh saat mendengar Chanyeol memanggilnya Jong-ah. "Ada yang harus kita urus sekarang."
"Ada apa, Park? Bisa tidak bicara yang lengkap?" sahut Sehun tak sabar. Jongin mengiyakan, "Sempat saja jika itu adalah hal idiot lain yang kau karang." Ancamnya.
"Tidak, tidak." Chanyeol menelan ludahnya susah payah. "Ini tentang Luhan."
Sehun dan Jongin serentak memasang telinga mereka.
"Tadi Baekkie telepon, katanya.. katanya.. Luhan… Demam tinggi."
Chanyeol yakin dia tak salah lihat. Tapi melihat Sehun dan Jongin yang segera berlari setelah dia menyelesaikan kalimatnya itu sungguh kejadian yang langka.
.
"Luhan.. Luhan.. Hannie-ya.." panggil Sehun pada Luhan sambil menggenggam erat tangan yeojanya. Luhan masih belum sadar dengan peluh keringat akibat demam tingginya. Di sebrangnya ada Jongin yang juga menggenggam tangan Luhan yang satunya, tapi namja itu tak mengucapkan apapun. Dia hanya menatap Luhan khawatir.
"Hun-ah.." suara Jongin akhirnya terdengar. Dia memanggil Sehun lirih. "Menurutku kita harus melapor pada Park saem. Kasihan Luhan hanya dirawat seperti ini."
Sehun memandang wajah pucat yeojanya. Perlahan dia mengusap rambut Luhan. "Baiklah. Itu yang terbaik kan?"
Jongin menghela nafas. Dia lupa sesuatu tentang Luhan. Dulu, dulu sekali sewaktu mereka masih kecil, Luhan juga pernah demam seperti ini. Saat itu dirinya dan Sehun bertengkar di hadapan Luhan yang menangis. Dan malamnya Ibu Jongin memberitahu bahwa Luhan sedang demam tinggi. Mereka sudah seperti saudara, bahkan lebih. Karena hanya bertiga dari kecil, ikatan batin mereka sudah terjalin sangat erat. Jongin memang mempunyai tiga kakak perempuan dan Sehun juga punya seorang hyung, tapi karena Luhan adalah anak tunggal, Sehun dan Jongin sangat berharga baginya. Pasti begitu, yakin Jongin dalam hati.
"Aku keluar sebentar, ne? Kami berempat akan memberitahu Park saem."
Jongin dapat melihat anggukan kecil Sehun, maka dia pun melepaskan genggamannya pada jari-jari Luhan dan beranjak turun dari ranjang. Dia membuka pintu kamar dengan suara sepelan mungkin agar tak mengusik keheningan yang Sehun bangun. Di luar, ada tiga sekawan yang langsung menatapnya begitu dia melangkahkan kaki di luar. Tapi yang paling diperhatikannya adalah sepasang mata bulat lucu yang menggemaskan.
"Jadi bagaimana?" tanya Baekhyun cepat. "Kalian sudah memutuskannya?"
Jongin mengangguk, "Kita beritahu Park saem sekarang."
Jongin sedang kalut sekarang. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Luhan. Dan sekarang dia ada bersama tiga orang lain yang dulu dibencinya. Memikirkan semua ini, kepalanya terasa berdenyut. Tapi ketika sosok mungil berambut pendek ada di sampingnya, dia tak berpikir dua kali untuk menggenggam tangan kecil itu.
.
Ya ampun. Tak ada satupun yang bisa menjadi contoh keadaan Sehun sekarang. Pikirannya lelah, jasmaninya lelah, tubuhnya terasa seperti ikut merasakan demam yang dialami Luhan.
Tentang Luhan, Sehun merasa menjadi seperti seorang idiot yang tidak bisa menjaga dengan baik apa yang menjadi miliknya. Dan sekarang dia sudah melihat hasil dari perbuatannya dengan jelas, dia kehilangan senyum bak cahaya mentari itu. Tapi Sehun sudah menyadari kesalahannya dan berniat mengembalikan lagi senyum itu. Harus kembali.
"Hannie.." lirih Sehun di telinga Luhan. "Kau harus bangun, ne? Cepat bangun dan kita akan bermain di pantai bersama Jongin." Sehun merasa dirinya gila karena telah bicara sendiri tapi dia tetap melanjutkan. "Baiklah kalau kau ingin bersama Kyungsoo, Baekhyun dan juga Chanyeol. Sesuai keinginanmu, kita berenam akan bermain di pantai." Genggamannya pada jari-jari Luhan semakin mengerat. "Makanya, kau cepat sembuh ne?" Suaranya terdengar semakin pelan.
"Oh Sehun membutuhkanmu.."
Sehun menunduk setelah mengucapkan itu. Matanya berlinang tapi tak sanggup untuk mengeluarkan air mata. Bagaimanapun, tak sepantasnya seorang pria menangis bukan?
Tiba-tiba Sehun membulatkan matanya. Dia seperti merasa… Lalu dengan cepat Sehun melihat keadaan Luhan. Kelopak mata yeojanya mulai bergerak-gerak. Itu artinya—!
Cklek.
Sehun menoleh dan memandangi empat orang yang tengah berjalan masuk ke dalam kamar.
"Park saem bilang dia akan segera ke sini dengan perawat UKS, untung saja dia ikut bersama kita." Kata Jongin saat melihat Sehun yang terus memandangi mereka bergantian.
Sehun menggeleng, "Bukan itu." sahutnya. "Aku tadi merasa jari Luhan bergerak, dan kelopak matanya juga bergerak-gerak." Jelas Sehun tak yakin.
"Benarkah?" seru Baekhyun. Memang hanya dia yang berseru, tapi Kyungsoo juga ikut buru-buru naik ke ranjang dan mengambil posisi di samping Luhan. Merasa risih dengan perlakuan dua yeoja itu, Sehun hendak melepaskan genggamannya pada Luhan dan beranjak turun. Tapi dia mendengar sebuah suara yang menghalanginya.
"Jangan pergi, Sehunie.."
Sehun masih syok tak percaya. Lain halnya dengan Kyungsoo dan Baekhyun yang serentak memekik tertahan saat mata Luhan mulai terbuka. Dan yang pertama dilihatnya adalah raut terkejut Sehun. "Jangan pergi, Sehunie.." ulangnya dengan lebih keras.
"Tentu saja." ujar Sehun bahagia saat dia bisa menatap mata rusa itu lagi. "Aku tak akan pernah jauh darimu, sayang."
Luhan baru saja mau menyahuti perkataan Sehun saat Kyungsoo mengingatkannya lebih dulu, "Lulu, kau masih sakit. Jangan terlalu banyak bicara." Lalu Kyungsoo menatap Sehun, "Mian, Sehun. Tapi kurasa kau harus keluar dari kamar ini sebentar. Perawat UKS tadi bilang, kami harus mengganti baju Luhan supaya suhunya lebih cepat turun."
"Benarkah?" gumam Sehun. "Hannie, aku akan keluar dulu, ne?"
Luhan mau menjawab tidak tapi kepalanya terasa berdenyut keras dan mau tidak mau dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Sehun tersenyum tipis dan mencium kening Luhan. Dia hendak berdiri tapi Luhan kembali menghalanginya.
"Mana Jongin?" tanya Luhan susah payah. Dia baru teringat pada sahabatnya itu. Tidak mungkin kan Jongin tidak ada di sini?
"Tenang saja," Sehun menunjuk Jongin yang berdiri di samping ranjang dengan dagunya. "Dia sama khawatirnya denganku saat melihat keadaanmu."
Luhan melihat Jongin dan sontak tersenyum. "Jongin.." desahnya senang.
"Selamat datang kembali, Nona Xi." Salam Jongin, dia juga tidak dapat menahan senyumnya.
"Ya ampun, ya ampun." Gerutu Baekhyun. "Aku tahu kalian pasti saling merindukan satu sama lain. Tapi sekarang, Luhan belum sembuh total, mengerti? Kalian bisa melepas rindu nanti, saat Luhan sudah segar bugar."
Jongin menghapus senyumnya dan menatap Baekhyun tak suka. "Arraseo, Nyonya Park. Kami pasti akan keluar sekarang juga." Dan senyumnya kembali terukir saat menatap Luhan. "Nanti kita cerita lagi, oke? Sekarang aku dan pacarmu, juga sebenarnya pacar Nyonya Park ini, harus keluar. Tidak mungkin kan kau membiarkan kami disini saat mereka membuka bajumu?" gurau Jongin.
Luhan dan Sehun tertawa. Sedangkan Baekhyun merengut. "Bisa tidak kau segera keluar saja? Dan berhenti memanggilku Nyonya Park!" dari sudut ruangan terdengar suara Chanyeol menyahut, "Jadi kau tidak suka dipanggil dengan margaku, Baek?"
Jongin tertawa mendengarnya sedangkan Baekhyun semakin menekuk wajahnya. "CEPAT KELUAR DARI SINI!"
Para namja segera menuju pintu setelah suara cetar membahana Baekhyun terdengar. Sehun tidak lupa mengucapkan salam perpisahan yang manis pada Luhan, dan anehnya Jongin malah berkedip pada Kyungsoo yang langsung merona melihatnya. Beda dengan Baekhyun yang mencubit pinggang Chanyeol lebih dulu sebelum membiarkan pacarnya itu keluar kamar.
.
"Lebih baik kita kembali ke kamar kita saja." usul Chanyeol. "Sekarang sudah mulai gelap dan kita harus mandi sebelum berkumpul jam 7 nanti."
Jongin menatapnya aneh, "Tumben kata-katamu tak mengandung unsur idiot?"
"Heee~" Chanyeol tersenyum 5 jari. "Mungkin efek cubitan Baekkie tadi?"
"Sama sekali tidak ber-efek apapun, ternyata." Ucap Jongin sangat pelan. Senyum 5 jari itu membuktikan bahwa kadar idot Chanyeol memang selalu tinggi.
"Aku duluan mandi ya." pesan Sehun. "Aku harus cepat kembali ke sini dan melihat Luhan."
"Dasar. Kau kira aku tak mau melihat Luhan?" sahut Jongin. "Aku yang harusnya terlebih dulu mandi. Karena aku yang paling cepat waktu mandinya."
"Siapa yang lebih dulu sampailah yang akan lebih dulu mandi." Dan Chanyeol langsung berlari menuju kamar mereka setelah mengatakan hal itu.
Sehun dan Jongin bertatapan. "Ya! Park idiot!" lalu mengikuti jejak Chanyeol untuk berlari.
.
To Be Continue
Huuaaa :'( HunHan Hard Shipper-yaa *hug* Lee tau perasaan kalian teman-teman(?) karena Lee juga merasakannya. Lu-luhan... OK, kita lapang dada aja menerima keputusan Luhan-ge. Itu hak dia, ingat? Kita harusnya bisa setegar fans Kris dan KrisTao shipper, karena smpe sekarang mereka gak berhenti support Kris. Jadi kita harus jadiin mereka inspirator kita, ne? Lee juga sedih pertama dengernya tapi kita hanya fans kan? Pokoknya tetap support Luhan=ge aja. Dia pasti punya lasan kuat dibalik ini semua *sok tegar*
Dan ehm, mungkin agak aneh ya kenapa Jongin kok di cerita ini mudah banget maafin HunHan ya kan? Itu karena pada dasarnya, Kim Jongin adalah seorang Bestfriend-complex. Jadi mau digimanainpun Jongin gak bisa jauh atau marah lama2 sma HunHan, atau dia bakalan sakit sendiri karena menjauh dari HunHan. Oke? Udah dapat menerima alasan kenapa Lee buat Jongin dengan mudah menerima tawran damai Sehun kan?
Anyway, Lee juga punya FF lain, judulnya Four Flower Petals, buat yang mau baca, kunjungin akun Lee yah! /elah promosi/
Annyeong!
Dont forget to review, reader-nim~
