Disclaimer: Naruto and everything related to it belong to Masashi Kishimoto. Hikaru, Kenji, Asuna, Minato, Rin, Neji, dan the missing-nin are mine though.
.
.
'Sakura-chan? Hikaru?'
"Hokage-sama!" seruan itu mengembalikan fokus Naruto, sang Hokage, kembali ke dunia nyata. Dari manik aqua-nya, sosok Sai nampak berlari mendekatinya. Raut wajah pria pucat itu tampak serius, membuat kedua alisnya sendiri mengernyit. Ia pun menurunkan Minato yang berada di atas kedua bahunya dan menyuruh anak itu untuk kembali ke ruangannya semula dan menunggu dirinya di sana, mengabaikan protes anak itu.
Minato akhirnya menurut meski wajahnya merungut. Bocah berusia 6 tahun itu melangkah sebal kembali ke ruang kerja sang ayah.
"Sai, ada apa?" tanyanya kemudian ketika Minato telah berada di luar jarak pendengaran.
"Anak buahku baru saja melapor telah menemukan jejak aktivitas orang-orang tak teridentifikasi di perbatasan luar wilayah dataran Konoha ke arah utara, persisnya sekitar kurang dari 100 kilometer di selatan desa Yugakure. Kami menduga itu adalah aktivitas dari missing-nin yang selama ini dicari-cari karena—"
"Apa katamu? Perbatasan utara Konoha? Yugakure? Missing-nin?" potong sang Hokage dengan postur menegang.
"Benar. Kami mencurigai bahwa tujuan mereka adalah Konoha. Oleh karena itu aku meminta untuk secepatnya diberikan izin mengirim pasukan ANBU untuk melacak keberadaan mereka dan—"
"B-Bukankah jalur utama menuju Kumogakure berada di sekitar sana?" potong Naruto lagi, kali ini tergagap.
"Iya, itu benar, tapi—"
"Sai! Setelah ini secepatnya aku minta kau kirim tiga orang ANBU untuk pergi menyusulku! Lalu katakan pada Kakashi-sensei untuk menggantikanku sementara aku tidak ada! Dan kalau nanti ada kabar yang datang dari Sakura atau Shikamaru, minta Kakashi-sensei mengirim Pakkun untuk mengabariku! Apa kau mengerti?"
Sai hanya mengangguk pelan sambil berusaha untuk mencerna dan mengingat apa-apa saja yang barusan diperintahkan sang Hokage padanya. Ketika ia sampai pada intinya, paras yang biasanya tanpa ekspresi itu kini menegang, terlarut dalam keterkejutannya.
"Tunggu dulu! Maksudmu kau akan—Hokage-sama! Hei, tunggu, Hokage-sama—NARUTO!"
Namun, dalam sekelebat sosok dengan jubah putih bermotif api merah Konoha itu telah menghilang dari pandangan.
.
.
.
Solicitous
by Yuuto Tamano
.
.
.
Di dalam pandangannya yang memburam, punggung menyebalkan berbalut vest abu kecokelatan itu nampak begitu tangguh, bagaikan berdiri di hadapan sebuah benteng, sampai-sampai melihat puncaknya pun dagunya harus angkat menengadah. Situasi itu ia rasakan ketika ia tengah terbaring telentang tak berdaya, darah berkucuran dimana-mana, dan Kenji berdiri kokoh membelakanginya. Meskipun terasa sakit, sosok sang rekan sesama tim tujuh itu tak ayal membuatnya dahinya berkerut.
"Ke... napa... kau bisa... berada... d-di sini... Sia...lan?" tanyanya terbata-bata, terhalangi gumpalan darah yang memenuhi tenggorokannya, membuatnya batuk sejenak.
Mendengarnya, Kenji menggerutu. Bisa-bisanya bocah itu memanggilnya 'sialan' dengan kondisinya yang menyedihkan seperti itu. "Kau yang sialan! Kalau aku tidak cepat datang, kau pasti sudah tamat dihabisinya! Kau seharusnya berterima kasih padaku!"
Saat Hikaru tak kunjung membalas, Kenji mengira antara kesadaran bocah itu telah lenyap atau dia tak sudi barang mengucapkan terima kasih padanya. Emosinya sedikit tercubit karena alasan yang terakhir itu, namun ia masih sadar, bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mempermasalahkannya.
"Hei, Hikaru, apa kau masih bisa mendengarku?" tanyanya kemudian.
Geraman Hikaru menjawabnya.
"Baguslah," Kenji tak dapat memungkiri bahwa di dalam sudut hatinya ada rasa lega, "dengar, sekarang ini aku akan mengambil alih perhatiannya. Selama itu, kita harus mengurusi luka-lukamu itu. Sakura-sama tak lama lagi pasti akan datang menyusul kita."
"Ap—" kata-kata Hikaru terhenti oleh batuknya.
"Kau jangan berani macam-macam. Hanya untuk saat ini, kita harus menghentikan perseteruan di antara kita dan bekerja sama untuk menghadapi musuh itu. Sekarang aku tanya, siapa di antara kita berdua yang saat ini masih bisa berdiri? Kau atau aku?"
Geraman kedua Hikaru—kali ini penuh dengan tekanan—pun membalasnya. Ia kesal. Apa Kenji serius menanyakan hal itu? Apa dia ingin mengejeknya?
"Nah," lanjut bocah berambut jabrik kecokelatan itu, "karena kita berdua sama-sama tahu bahwa jawabannya itu adalah aku maka kaulah yang harus mendengarkan dan melakukan apa yang kubilang. Apa kau mengerti?"
Cih, Hikaru meludahkan darah yang mengumpul di dalam mulutnya. Beraninya bocah sialan itu memanfaatkan keadaannya saat ini untuk menyuruh-nyuruhnya. Meskipun, rencana yang diutarakan Kenji cukup logis dan dapat diterima oleh akal sehatnya, namun ia masih sangsi. Bagaimana Kenji bisa mengambil alih perhatian missing-nin itu jika ia sendiri kerepotan menghadapinya di tengah kabut seperti ini? Apa dia ingin mati bunuh diri?
Seakan-akan mendengar keraguannya, Kenji pun dengan santai berujar, "Kau jangan khawatir. Sekarang akan kuperlihatkan senjata rahasiaku."
Dahi Hikaru mengernyit melihat Kenji menurunkan ransel besarnya—yang awalnya ia kira hanya akan mengganggu perjalanan mereka saja—dan membuka resletingnya. Betapa terkejutnya ketika ia mendapati Kenji mengeluarkan sekanvas lukisan—itukah senjata rahasianya!? Sayangnya, jarak pandang yang terbatas karena terhalang oleh punggung rekan satu timnya itu membuatnya tak dapat melihat lukisan macam apa yang dibawanya itu.
"Lukisan...?" tuturnya lemah, sekaligus bingung. Ia tak begitu mengerti bagaimana sebuah lukisan dapat menyelamatkan mereka di situasi seperti ini.
"Aku tidak membawa ransel besar dan berat ini dengan sia-sia—Hei, jangan kira aku tidak menyadari pandangan meremehkanmu padaku tadi pagi itu, Sialan—dan instingku rupanya tepat sekali untuk membawa senjata rahasiaku ini," jawab Kenji tenang, sambil menyeringai pada Hikaru. "Kau tahu bahwa keluargaku, Kurama, terkenal secara turun temurun mewarisi sebuah kekkei genkai berupa genjutsu? Ibuku adalah pewaris kekkei genkai terkuat di keluarga kami, dengan menggunakan lukisan yang dilukisnya sendiri untuk menciptakan genjutsu."
Kedua mata hitam Hikaru melebar. Ia nampaknya menyadari apa yang dimaksud Kenji itu.
"Kau benar. Lukisan yang kubawa ini adalah lukisan karya ibuku dan, jangan terkejut ya, belum lama ini aku menemukan bahwa ternyata aku juga mewarisi kekkei genkai itu."
Kenji sontak berdiri. Ia pun mengangkat lukisan itu dan mengarahkannya ke arah sang musuh mereka, yang masih tak terlihat sosoknya akibat kabut putih yang semakin menebal.
"Sekarang lihat dan perhatikan ini dengan kedua matamu sendiri, Hikaru! Kekkei genkai aliran klan kami! KURAMA-RYU GENJUTSU: TORA!"
Dengan kedua matanya sendiri, seperti apa yang bocah itu inginkan, Hikaru melihat dan terbelalak. Tanpa sadar ia menahan napasnya melihat seekor mahluk seperti macan raksasa dengan kobaran api yang melingkupi tubuhnya tiba-tiba saja keluar dari lukisan itu, lalu menghilang di balik kabut. Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Seandainya saja ia tak memfokuskan indera penglihatannya pada kanvas itu, bukan tak mungkin ia akan melewatkan jurus itu. Inikah kekuatan sesungguhnya dari seorang Kurama Kenji, rivalnya itu?
Ia merasa terpuruk.
Lalu tiba-tiba saja, kabut yang memenuhi sekeliling mereka lenyap. Benaknya baru saja hendak memproses apa yang baru saja terjadi ketika ia melihat sosok sang missing-nin tengah berdiri terkaku di ujung sana, layaknya seseorang yang sedang terjebak genjutsu. Macan bertubuh api itu tak terlihat dimana-mana.
BRUG. Ia kemudian mendengar suara seseorang terjatuh. Sungguh ia tak begitu terkejut saat mendapati bahwa sumber bunyi itu ternyata berasal dari Kenji, yang saat ini tengah menumpukan badannya ke tanah. Napasnya sedikit tak beraturan dan tetes demi tetes keringat meluncur jatuh dari pelipisnya. Namun, bocah itu sama sekali tak mengatakan apa-apa. Lalu, berikutnya yang ia tahu, iris mata cokelat bocah itu pun tertuju padanya dan bibirnya kembali menguratkan sebuah seringai puas.
"Sebentar lagi Sakura-sama pasti akan kemari. Dengan menghilangnya kabut ini, Sakura-sama pasti akan dengan mudah menemukan kita dan menyembuhkan luka-lukamu itu," ujarnya.
Dahi Hikaru kembali mengernyit mendengar nama ibunya tersebut.
"Oh, ayolah, sekarang bukan saatnya kau bersikap kekanak-kanakan seperti itu, Hikaru sialan!" Kenji berseru sambil melemparkan segenggam rumput padanya, membuatnya kesal setengah mati dan ingin rasanya ia berdiri lalu menghajar bocah tengik itu hingga jera, yang sayangnya tak mungkin bisa ia lakukan karena tubuhnya menolak. Ia pun menggeram kesal.
Kemudian, benar seperti apa kata Kenji, sosok merah muda itu terlihat tengah berlari menuju mereka. Paras wanita itu menegang melihat sosok Kenji yang tadi tiba-tiba saja menghilang dari sisinya dan terlebih, pada sosok sang anak sulung yang terkulai lemah tak berdaya. Luka-luka dan lebaman yang masih segar memenuhi setiap bagian kulit yang dapat terlihat. Pakaian yang dikenakannya tampak sobek di beberapa sisi dan memerah ternodai darah.
"HIKARU-KUN!" teriak wanita itu. Ia pun mempercepat larinya dan segera menghampiri Hikaru, menempatkan kepala bocah itu pada pangkuannya. Kedua iris hijau emerald-nya mengawasi lekat-lekat tubuh sang anak, dengan cepat meneliti satu persatu luka-luka yang terdapat di seluruh tubuhnya. Setelah itu, manik-manik indah itu kembali menatap Hikaru. "Apa yang sesungguhnya telah terjadi padamu?"
Hikaru tak kunjung membalas. Sakura pun beralih menatap Kenji, yang direspon bocah itu dengan mengarahkan telunjuknya pada sosok musuh yang masih kaku berdiri.
"Missing-nin!? Jangan bilang kamu bertarung menghadapinya seorang diri hingga babak belur seperti ini?" seru Sakura kalut. Diarahkannya tatapan tajam kembali pada sosok musuh tersebut. Apa yang sedang dilakukan seorang missing-nin di tempat seperti ini? Apakah kabut yang tadi itu adalah perbuatannya? Siapakah missing-nin itu? Mengapa dia menyerang Hikaru? Dan mengapa dia berdiri kaku seperti itu? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Fokusnya pun kembali pada Hikaru ketika ia mendengar sebuah erangan keluar dari bibir anak itu. Ternyata, tanpa sengaja saat benaknya masih mempertanyakan akan missing-nin tersebut, ia sedikit mengeratkan pegangannya pada Hikaru, tepat di bagian tubuh anak itu yang membiru. Cukup panik, ia pun lalu meminta maaf dan segera mengalirkan chakra hijaunya pada sang anak.
"Biarkan saat ini ibu menyembuhkan luka-lukamu dulu, setelahnya baru kita semua pergi dari sini. Lalu, Kenji-kun," ucapnya sambil mengalihkan perhatiannya pada Kenji, "bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya—astaga, kamu kenapa?"
Ia melihat Kenji mencengkeram erat dadanya. Mimik bocah itu terlihat seperti yang sedang menahan rasa sakit. Keringat kini telah membanjiri seluruh wajahnya dan anak itu pun nampaknya tak sadar telah dipanggil oleh dirinya.
Kini ia tak tahu apa yang harus dilakukannya; di satu sisi ia ingin menghampiri Kenji dan menghilangkan rasa sakit yang dirasakan anak itu, tapi di sisi lain, ia masih harus menyembuhkan Hikaru yang kini berada di pangkuannya, membuatnya tak bisa bergerak kemana-mana untuk sementara.
Karena itu untuk ia hanya bisa memanggil-manggil nama Kenji.
Entah sudah panggilan yang keberapa, anak itu akhirnya menoleh padanya. Saat ia bertanya apa yang terjadi padanya, Kenji hanya berucap, "Tidak apa-apa, Sakura-sama. Ini sedikit efek samping akibat aku menggunakan genjutsu pada missing-nin itu."
Genjutsu! Saat ia melirik kembali tubuh sang musuh yang terkaku itu, akhirnya ia cukup menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Kenji. Ia ingat mengenai kekkei genkai klan Kurama. Klan itu memiliki kemampuan genjutsu yang sangat kuat sehingga haruslah ahli genjutsu yang juga sangat kuatlah yang dapat menyaingi mereka. Dan ia masih ingat, ibu Kenji, Yakumo, adalah pewaris klan yang menggunakan genjutsu melalui lukisannya, dengan menciptakan apapun yang dilukisnya menjadi sebuah kenyataan, atau lebih tepatnya adalah sebuah ilusi yang terasa sangat nyata, hingga dapat benar-benar membunuh siapapun yang terjebak di dalamnya.
Namun, untuk sebuah jurus yang sangat kuat, harus pulalah dibayar dengan kondisi fisik yang sangat lemah. Itu yang terjadi pada diri Yakumo.
Lalu bagaimana halnya dengan Kenji? Saat pandangan Sakura menangkap sebuah lukisan tak jauh dari anak itu, ia dengan singkat menyimpulkan bahwa Kenji juga mewarisi kekkei genkai klannya itu, meskipun sekuat apakah genjutsu yang dimiliki anak itu—apakah sama kuat seperti ibunya atau tidak—ia masih belum tahu. Yang ia tahu adalah bahwa kekkei genkai itu memiliki resikonya tersendiri dan nampaknya itulah yang saat ini tengah dialami oleh Kenji.
"Kalau begitu, aku akan cepat-cepat menyembuhkan Hikaru-kun lalu mengurus rasa sakitmu, Kenji-kun. Aku harap kamu mau bertahan sebentar lagi. Lalu setelah itu, kita semua harus segera pergi dari sini dan kembali ke Konoha—"
Kata-katanya terhenti ketika ia tangannya yang berpendar chakra kehijauan itu tiba-tiba saja digenggam Hikaru. Tatapan tajam manik hitam anak itu kepadanya membuat dirinya tanpa sadar menahan napasnya dan menegukkan ludah dalam-dalam.
"Aku tidak akan pergi dari sini dan kembali ke Konoha begitu saja. Aku masih punya urusan yang belum terselesaikan dengan missing-nin itu."
Sakura membelalakannya matanya, "Apa yang kamu katakan, Hikaru-kun!? Kamu ingin menghadapi missing-nin itu lagi seorang diri? Kamu harus ingat kalau kamu itu masih genin—"
"Aku tidak peduli kalau aku masih genin atau tidak! Aku ingin mengalahkan orang itu!" tegas Hikaru sambil berusaha bangkit dari pangkuan sang ibu. Saat ia telah berhasil berdiri, ia pun memerhatikan luka-luka di tubuhnya yang sebagian besar sudah menutup, walaupun masih ada beberapa lebaman yang belum sempat terurus. Namun, setidaknya, kondisi dirinya yang sekarang sudah lebih dari cukup untuk kembali bertarung. Ia dapat merasakan aliran chakra-nya kembali mengalir seperti sedia kala dan staminanya pun sudah lumayan kembali padanya, terima kasih sebanyak-banyaknya untuk sang ibu. Teringat itu, ia pun menoleh pada sang ibu.
Sesungguhnya dadanya terasa melekit melihat bagaimana ekspresi yang dipancarkan sang ibu padanya—antara merasa cemas dan tak percaya—namun bagaimana pun juga ia harus meyakinkan sang ibu untuk dapat membiarkannya melakukan apa yang akan dilakukannya.
"Kau tahu, Ibu, missing-nin itu membenci Konohagakure. Dia sendiri yang mengatakannya padaku. Kurasa dia dan komplotannya yang entah dimana berniat mengincar desa kita. Makanya tadi dia menyerangku, karena aku adalah seorang shinobi Konoha. Aku tak bisa membiarkan dia berbuat seenaknya. Karena itu, mumpung dia hanya seorang diri sekarang, aku akan menghabisinya! Aku tak akan membiarkan diriku kalah darinya!"
"Tapi," Sakura masih berusaha menyangkal, "kita masih bisa meminta bantuan ANBU dari Konoha untuk menangkapnya, jadi kamu tidak perlu bertarung! Saat ini dia sedang terkena genjutsu. Kita bisa manfaatkan kesempatan itu untuk segera kembali ke Konoha dan—"
"Kabur, begitu?" potongnya kesal. "Seorang shinobi Konoha tidak akan pernah melarikan diri. Setidaknya bukan aku! Aku tidak akan melarikan diri! Missing-nin itu telah melukai harga diriku! Aku harus membalasnya dengan kedua tanganku sendiri!"
"HIKARU-KUN!" Sakura nyaris saja hendak berargumen bahwa menyelamatkan diri—bukan melarikan diri—juga termasuk salah satu strategi dalam bertarung hingga tiba-tiba saja ia mendengar erangan Kenji. Otomatis, duo ibu dan anak itu mengalihkan perhatian mereka pada sang bocah berambut cokelat jabrik itu dan cukup terkejut mendapati betapa pucat wajahnya.
"M...Maafkan aku, Sakura-sama... sepertinya aku sudah tidak tahan lagi..." lirih sang bocah.
Baik Hikaru dan Sakura sama-sama melompat menghindar ketika mendadak sebuah capit raksasa menerjang mereka. Wanita itu bahkan juga sempat menggendong Kenji untuk bersama-sama menghindar. Serangan itu membuat sekeliling mereka kini dipenuhi debu. Pada permukaan tanah yang menjadi sasaran empuk capit tersebut telah terbentuk lubang yang cukup besar dan cukup dalam.
"Capit apa itu...?" gumam Sakura ketika debu-debu itu telah menghilang dari pandangan. Yang ada hanyalah sosok sang missing-nin dengan capit-capit raksasa keluar dari balik jubahnya yang cukup terbakar pada beberapa sisi.
Wajah kurus sang missing-nin keras diluputi amarah.
"Siapa? Siapa yang telah berani menyerangku dengan genjutsu? SIAPA!?"
Pandangannya pun fokus pada Sakura dan Kenji di gendongannya.
:::::::
"Kai!" seru Shikamaru, memfokuskan chakra-nya pada segel tangan yang dibuatnya.
Ketika pemandangan di sekeliling mereka berubah, ia segera melemparkan kunai miliknya pada suatu arah tertentu. Ajaibnya, baru setengah jalan melesat, kunai itu serta merta menghilang dari pandangan, seperti tertelan ke dalam suatu kekuatan yang tak terlihat. Pemandangan di sekeliling mereka pun tak lama kemudian kembali seperti semula. Menyaksikan sendiri peristiwa itu, membuat Asuna menganga dalam keheranan.
"Genjutsu macam apa ini, Sensei? Sebagai putri seorang ahli genjutsu, aku tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya," tuturnya bingung.
Gelengan pelan sang guru menjawab pertanyaannya. "Entahlah. Apapun itu, yang penting kita harus menemukan cara untuk bisa keluar dari sini."
"Tapi... bagaimana—"
"Asuna," panggil sang guru tiba-tiba, "seperti yang kamu bilang tadi, sebagai putri dari seorang ahli genjutsu, apa saja yang kamu ketahui tentang teknik itu?"
Sang gadis pun menatap Shikamaru dengan mengangkat kedua alisnya, merasa heran. Di saat seperti ini apakah sang guru hendak mengetes pengetahuannya? Meskipun benaknya kini dipenuhi berbagai macam argumen, Asuna tetap berusaha memuaskan keinginan Shikamaru.
"Sejauh yang aku tahu," mulainya, "genjutsu adalah teknik yang memanipulasi aliran chakra di dalam otak korbannya, menyebabkan gangguan pada sistem inderanya, sehingga menciptakan ilusi atau trauma. Karena itu, serangan-serangan yang diterima korban yang berada di dalam pengaruh genjutsu tidak akan berakibat secara fisik."
Shikamaru mengangguk. "Lalu, bagaimana caranya untuk bisa keluar dari pengaruh genjutsu?"
"Hmm, dengan menghentikan aliran chakra dalam diri sang korban, lalu mengeluarkan sejumlah chakra dalam jumlah besar untuk mengganggu aliran chakra pengguna genjutsu—seperti yang sensei lakukan tadi—yaitu 'genjutsu kai'. Atau, dengan cara lain, yaitu dengan menciptakan rasa sakit yang bukan berasal dari genjutsu sehingga mengembalikan seluruh kemampuan panca indera korban menjadi seperti semula—Sensei, kau tidak berencana untuk melakukan itu 'kan?"
Shikamaru menyeringai. "Well, yang penting kita bisa keluar dari sini, bukan?"
"SHIKAMARU-SENSEI—"
"Asuna," panggil Shikamaru lagi, kali ini dengan intonasi serius. "Serang aku sekarang."
Sang gadis hanya terdiam dan menegukkan ludah. Ragu-ragu ia mengambil kunai dari dalam tas ninjanya. Kemudian, ditatapinya sosok sang guru lekat-lekat dan diangkatnya kunai tepat di depan matanya.
"Maafkan aku, Sensei!"
Dengan langkah cepat, Asuna segera menerjang ke arah Shikamaru. Tatapannya fokus pada lengan pria itu. Lalu hanya dalam hitungan detik, senjata itu telah tertancap cukup dalam di otot bisep Shikamaru. Wajah pria itu mengeras menahan rasa sakit.
Darah merah segar mulai mengalir membasahi lengan pakaiannya.
Pada momen itulah, tiba-tiba saja Asuna terjatuh ke tanah. Ia merasa heran mengapa dirinya bisa terjatuh, padahal genggamannya pada batang kunai itu sangat erat. Kedua matanya terbelalak saat ia berbalik ke belakang dan menyadari sosok sang guru telah menghilang entah kemana.
"Shikamaru-sensei?" tanyanya, menoleh ke kiri dan kanan.
Crack.
Seluruh bulu kuduk sang gadis sontak berdiri ketika bunyi patahan itu terdengar olehnya. Ia mencoba untuk mencari sumber bunyi tersebut dan betapa terkejut dirinya mendapati bahwa pada pemandangan di sekelilingnya telah terdapat retakan-retakan. Seakan-akan dirinya tengah berada di dalam sebuah tabung kaca yang hendak pecah. Seiring berjalannya waktu, retakan-retakan itu pun semakin lama semakin besar, semakin banyak, dan Asuna merasa apa-apa yang ada di sekelilingnya seperti akan meledak.
Panik, ia pun menelungkupkan tubuhnya. Kedua tangannya berusaha melindungi dirinya sendiri dari pecahan-pecahan itu.
Praang.
"Kyaa!"
Sedetik. Dua detik. Tiga detik pun telah berlalu. Namun, ia sama sekali tak merasakan apapun pada dirinya setelah mendengar bunyi pecahan itu. Dengan keberanian yang entah didapat darimana, ia pun membuka kedua matanya. Melirik sejenak untuk mengetahui apa yang sebenarnya baru saja terjadi di dekatnya.
"Asuna! Fokus! Kita harus segera mengejar orang itu!"
Belum sempat ia mencerna apapun itu yang baru saja dialaminya, ia menangkap sosok sang guru yang tengah berlari dan melempar beberapa shuriken ke arah sosok kehitaman di kejauhan. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun segera berlari mengejar sang guru sambil mengeluarkan beberapa senjata ninja miliknya untuk dilesatkan pada sosok tersebut, yang dikiranya adalah pelaku yang telah menjebak dirinya dan sang guru ke dalam genjutsu.
"Kagemane no jutsu!" seru Shikamaru. Bayangan pria itu melesat dengan kecepatan tinggi untuk mengejar sosok itu.
Blaar. Sebuah bom cahaya mendadak meledak, menghilangkan bayangan Shikamaru dan untuk sementara membutakan penglihatan pria itu dan Asuna. Saat cahaya menyilaukan itu menghilang dan mereka berdua akhirnya dapat kembali melihat, sosok kehitaman itu pun, tak mengherankan lagi bagi keduanya, turut menghilang. Tanpa bersuara. Tanpa jejak. Seolah-olah telah menghilang ditelan bumi.
"Sial, kita kehilangan dia," kutuk Shikamaru. Pria itu pun menghela napasnya pasrah seraya berucap, "yah... apa boleh buat."
Masih berusaha untuk memproses apa yang telah terjadi, Asuna pun bertanya, "apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah dia adalah shinobi yang telah menjebak kita ke dalam genjutsu?"
"Tidak salah lagi. Benar-benar merepotkan," respon Shikamaru sambil mengangguk. "Hanya saja masih belum terpikirkan olehku motifnya untuk menjebak kita ke dalam genjutsu. Tapi, apapun itu, yang terpenting sekarang kita harus mencari Hikaru-kun dan yang lainnya atau—"
Ucapan pria itu terpotong ketika tiba-tiba saja terdengar suara semak-semak yang berbunyi gemerisik. Secara naluriah, dilesatkannya sebuah shuriken pada sumber bunyi itu, hanya untuk berakhir dengan ditangkis oleh sang sasaran. Kemudian, betapa terkejut dirinya dan sang murid saat mengetahui siapa yang telah menangkis serangan shuriken itu.
"Kau...?"
::::::::
Genjutsu.
Sejauh yang telah diketahui, teknik itu hanyalah sebuah ilusi. Sampai kapanpun tidak akan pernah menciptakan luka fisik pada korban yang terjebak di dalam teknik tersebut.
Maka, ketika macan raksasa bertubuh api itu datang menghadapinya dan bertarung dengannya, pada momen-momen awal ia segera tahu bahwa dirinya saat itu sedang berada di dalam pengaruh genjutsu. Ia berani bertaruh bahwa mahluk itu hanyalah sebuah genjutsu. Bagaimana ia bisa tahu? Jawabannya adalah, untungnya, selama ini ia sudah terlalu sering bersparring dengan seseorang yang notabene adalah ahli genjutsu. Terlalu sering bahkan. Sehingga, ia pun tahu cukup dalam mengenai teknik itu; mengenai apa yang harus diantisipasi dan apa yang harus dilakukan.
Ia sangat tahu bahwa macan api itu adalah ilusi. Namun, mengapa—mengapa?—ketika ia cukup lengah dan akhirnya telak terkena cakaran api dari macan sialan itu, rasa terbakar yang saat itu ia rasakan sungguhlah nyata, bukan lagi ilusi semata. Penasaran, ia pun membiarkan dirinya sekali lagi terkena serangan mahluk itu—untuk kembali merasakan sensasi yang sama untuk yang kedua kalinya.
Hal berikutnya yang ia tahu: macan itu berbahaya.
Berbagai jurus ia keluarkan—Aoriashi dan Kiri—untuk menghindari sekaligus membalas serangan macan sialan itu. Namun, apapun yang ia lakukan, semuanya percuma. Yang ada malah dirinya yang semakin terbakar dan terbakar.
Bagaimana bisa sebuah ilusi dapat memberinya luka secara fisik?
Sungguh, siapakah orang sialan yang telah mengirimkan macan itu padanya? Apakah dia teman bocah tengik tidak tahu diri itu? Apakah dia adalah orang Konohagakure juga?
Benaknya menggelap saat mengetahui bahwa dia yang dimaksud ternyata hanyalah seorang genin.
Konohagakure pula.
"YATTSU NO AORIASHI!" seru pria itu kalap. Kedelapan capit raksasa itu secara serentak menyerang Sakura dan Kenji.
Dengan kecepatannya, Sakura segera melompat menghindari serangan itu. Ia meneguk ludahnya dalam melihat permukaan tanah yang tadi dipijaknya kini telah hancur berlubang. Apapun itu, capit-capit itu sungguhlah berbahaya. Belum sempat dirinya menghela napas bersyukur, capit-capit itu kembali menyerangnya. Ia pun melompat menghindar. Batang pohon yang tempatnya tadi berpijak pun hancur seketika.
Saat ia hendak menghindari serangan senjata itu untuk yang ketiga kalinya, ia melihat Hikaru dan klon-klon bayangan dirinya datang menendang rantai badan capit-capit tersebut, membuat benda itu terjungkal menjauh dan memberi dirinya kesempatan lebih baik untuk semakin menghindar.
"Ibu," ucap Hikaru kemudian, "capit-capit itu akan terus menyerang Kenji, sebaiknya Ibu segera membawanya pergi dari sini dan biarkan aku yang menghadapinya—"
"Sendirian? Tidak, Ibu tidak akan membiarkanmu bertarung seorang diri lagi! Kita bertiga sudah terlanjur terjebak dalam situasi ini maka mau tak mau kita juga yang harus menghadapinya!"
Respon dari sang Ibu pun membuat dirinya tanpa sadar mengguratkan sebuah seringai. Setidaknya, untuk saat ini, duo ibu dan anak keras kepala itu akhirnya memiliki pandangan yang sama. Meskipun sedikit mengganggu harga dirinya, ia sendiri menyadari bahwa bertarung sendiri tidaklah akan membuatnya berada dalam keberuntungan. Kini ia punya ibunya dan Kenji yang akan bertarung bersama-sama.
Damn, Kenji sialan itu. Harus tak berdaya di saat-saat begini.
"Ibu, sementara aku akan mengalihkan perhatiannya, sebaiknya Ibu segera menyembuhkan bocah itu. Dia hanya akan menghalangi pergerakan kita saja jika terus tak berguna seperti itu. Tiga kekuatan akan jauh lebih baik daripada dua, bukan?" usulnya, mengabaikan kata-kata kutukan yang keluar dari mulut bocah jabrik itu.
"Hikaru-kun, jangan berkata seperti itu pada temanmu... atau nanti akan Ibu adukan pada ayahmu."
Sakura tersenyum geli melihat si sulung mengabaikan ucapannya dan segera melesat menghadapi capit-capit raksasa itu. Untuk saat ini, ia perlu menaruh rasa percaya pada anaknya, meskipun ia masih merasa cemas. Tapi, ucapan Hikaru benar, tiga kekuatan akan lebih baik daripada dua.
"Ku...rang ajar... bocah itu..." gumam Kenji yang berada di dalam gendongannya.
Sakura hanya menggeleng pelan, lalu membaringkan sang bocah di atas permukaan tanah dengan chakra kehijauan miliknya berpendar di atas dadanya.
Di saat yang sama, Hikaru masih terus berusaha untuk menghalangi capit-capit itu agar tidak menyerang ibu dan rekannya. Ini adalah yang kedua kalinya ia menghadapi senjata menggelikan itu. Setidaknya, untuk kali ini ia sudah dapat membaca pola-pola pergerakan rantai itu dan melihat beberapa kelemahan yang dimilikinya. Karena itulah, tadi ia dan klon-klonnya mampu menendang telak capit-capit tersebut.
"Kau... Kau lagi! Kau masih tidak menyerah juga rupanya, Bocah!" seru sang missing-nin, melihat bagaimana rantai-rantainya dihadang oleh bocah berambut hitam yang sama dengan yang sebelumnya nyaris akan ia kalahkan.
Hikaru menyeringai, "Tentu saja. Sekarang ini aku tidak akan kalah olehmu untuk yang kedua kalinya!"
"Teruslah bermimpi, Bocah! Aku akan mengalahkanmu lagi dengan cara yang sama seperti sebelumnya!" Pria itu pun melakukan segel tangannya serta berseru, "KIRI!"
Hikaru sudah dapat mengantisipasi bahwa sang musuh akan kembali untuk menggunakan jurus kabutnya. Jujur, ia masih belum terbayang bagaimana cara mengalahkan pria itu dan kabut asapnya. Namun, satu hal yang ia tahu, sang musuh tak akan menggunakan dua jurus kebanggaannya dalam waktu yang bersamaan; artinya jika ia telah menggunakan Kiri, maka ia tak akan menggunakan Aoriashi.
Pemikirannya itu terbukti ketika ia hanya menerima hantaman tinju dari sang musuh.
Hikaru kembali mengeluarkan sebuah seringai; inilah yang ia inginkan! Dengan begini, tidak akan ada lagi capit-capit yang akan menyerang Sakura dan Kenji. Ibunya akan dapat menyembuhkan Kenji tanpa terganggu.
Tapi, tentu saja, strategi ini juga beresiko besar, selama ia masih belum mengetahui bagaimana cara melacak keberadaan sang musuh di tengah kabut seperti ini. Seingatnya, pria itu mengatakan bahwa jurus ini membuat tubuhnya menyatu dengan kabut, atau membuat tubuhnya berubah menjadi kabut. Entahlah yang mana yang benar. Ia harus segera mencari tahu jawabannya.
Ugh, seandainya saja, ia memiliki kekkei genkai penglihatan seperti Byakugan, mungkin ia tak akan kesulitan di tengah situasi seperti ini.
Atau mungkin sesuatu yang lebih hebat dari Byakugan.
Namun, ia hanya bisa berharap.
Momen-momen berikutnya dihabiskan Hikaru untuk sebisa mungkin menghindari serangan sang musuh, meskipun sebagian besar dari serangan-serangan itu telak mengenai dirinya. Ia tak bisa membiarkan dirinya jatuh pada situasi yang sama seperti sebelumnya. Namun, sial, mesti bagaimana agar hal tersebut bisa terjadi? Mesti bagaimana agar situasi ini berpaling pada pihaknya?
"HIKARU! FOKUS BODOH!" Sebuah teriakan itu menyadarkannya dari perhelatan dalam pikirannya sendiri sehingga ia sempat untuk melompat menghindari serangan. Damn, lagi-lagi ia tak sadar bahwa ia sudah terdistraksi.
Sebuah—tidak, dua buah sosok kehitaman datang mendekatinya. Ia menghela napas lega ketika melihat Sakura dan Kenji datang mendekatinya. Ketiganya pun saling membelakangi masing-masing hingga membentuk pola segitiga, masing-masing saling waspada agar bisa mengantisipasi setiap serangan yang akan datang.
"Bagaimana kau bisa menemukanku di tengah kabut ini?" tanya Hikaru kemudian pada rekan satu timnya, memecahkan keheningan di antara mereka. Sesungguhnya, pertanyaan itu memang sudah sedari tadi berada di ujung lidahnya, mendesak untuk keluar. Sebelumnya... dan sekarang juga...
"Bodoh! Tutup hidungmu! Kabut ini hanyalah halusinasi!" seru Kenji, seakan-akan itu adalah pertanyaan bodoh baginya.
'Apa?' Jawaban Kenji pada awalnya terdengar seperti sebuah candaan baginya. Namun, ketika ia mencoba untuk menutup hidungnya, rasanya seperti sebuah keajaiban telah terjadi. Kabut itu menghilang.
"Bagaimana...?"
"Teknik ini mirip dengan genjutsu, walaupun bukan genjutsu. Teknik ini meracuni indera penciumanmu hingga membuatmu melihat halusinasi... benar begitu, Kenji-kun?" tanya Sakura, meyakinkan. Wanita itu sendiri baru saja mengetahui rahasia di balik teknik ini ketika Kenji memberitahunya tadi. Bagaimana bocah itu bisa mengetahuinya, itu masih tanda tanya.
Hikaru masih hendak memproses informasi yang baru saja diketahuinya—dan fakta bahwa Kenji mengetahuinya sedangkan ia tidak—ketika ia dengan jelas—kali ini sangat jelas—melihat sang musuh hendak menyerang dirinya, ia segera melayangkan tendangannya pada sang musuh hingga pria itu terjungkal. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Tak memberikan kesempatan bagi sang musuh untuk sekedar berbicara, Hikaru dan Kenji segera melesat—sambil tetap menutup hidung masing-masing—dengan kompaknya memberikan hantaman dan tendangan secara bertubi-tubi pada pria itu. Sakura pun membantu dengan menempatkan tinjunya telak pada titik chakra sang musuh, membuat kabut di sekitar mereka benar-benar menghilang tanpa perlu menutup hidung, dan juga membuat pria itu terseret hingga bermeter-meter jauhnya.
Hikaru dan Kenji menatap wanita itu dengan mulut ternganga.
"Baiklah, serahkan ini padaku. Kalian berdua sebaiknya—" Belum sempat Sakura menyelesaikan kalimatnya, missing-nin itu telah kembali menyerang mereka, membuat ketiganya mau tak mau mengambil langkah mundur.
"Cih," Missing-nin itu meludahkan darah yang berkumpul di dalam mulutnya. "Aku tidak menyangka kalian bisa menemukan rahasia di balik teknik Kiri milikku. Kalau begini aku sudah tidak bisa menggunakannya lagi. Kalau begitu, bagaimana dengan ini?"
Ketiganya terkejut ketika tiba-tiba saja dari bawah tanah menjulur rantai-rantai tanpa capit yang hendak membelit ketiganya. Untungnya, Sakura dan Hikaru masih sempat melompat menghindar, kecuali Kenji. Anak berambut jabrik itu terjebak dalam belitan rantai-rantai hingga tak bisa bergerak.
"Kenji-kun!" teriak Sakura.
"Ini adalah pengembangan dari jurus Aoriashi-ku. Terimalah! SHIN-AORIASHI!"
Bagaikan akar-akar liar, rantai-rantai besi itu menjulur keluar dengan bebas dari dalam tanah, bergegas mengejar sosok Sakura dan Hikaru. Duo ibu dan anak itu hanya bisa menangkis setiap kali rantai-rantai itu mendekati mereka. Namun, entah mengapa rasanya jumlah rantai itu semakin lama semakin banyak. Sedikit saja kelengahan dapat menyudutkan masing-masing dari mereka.
Dari sudut matanya, Hikaru dapat melihat bagaimana Kenji yang menahan sakit akibat belitan rantai besi yang semakin lama semakin mengerat. Rahangnya berubah mengeras. Ingin rasanya ia pergi menyelamatkan bocah itu namun saat ini ia sendiri pun sedang sibuk menahan rantai-rantai yang menyerangnya.
Apa yang harus ia lakukan?
Kurama Kenji. Sebesar apapun ia membenci bocah yang tak pernah bosan menjahilinya itu, namun dia tetaplah rekan. Apalagi bocah menyebalkan itu sudah pernah menyelamatkan nyawanya. Bukankah ia selalu diajarkan oleh sang ayah untuk selalu membalas budi?
Tidak. Ini semua lebih kepada harga diri.
Ia tidak rela harus berhutang budi pada bocah menyebalkan itu—atau itulah alasan yang paling dapat diterima olehnya.
Karena itulah, meninggalkan logikanya sejenak, setelah menendang habis rantai-rantai yang mengincarnya, ia pun segera melesat menghampiri sosok Kenji. Dengan genggaman sekuat tenaganya, ia mencoba menarik rantai-rantai yang membelit rekannya.
"A... pa... yang... kau lakukan... bodoh... ja... ngan... kemari..."
"Berisik!"
Dengan sekuat tenaga, ia masih berusaha untuk menarik rantai itu agar terlepas dari tubuh Kenji.
"Dasar bodoh..." Samar-samar, ia mendengar suara sang missing-nin berucap.
Tiga buah rantai menjulur keluar dari balik permukaan tanah.
"Kenji-kun! Hikaru-kun!"
Baru saja ia menyadari adanya rantai yang hendak menyerangnya, rantai itu telah terlanjur berada sangat dekat dengan dirinya hingga ia tak sempat melarikan diri. Secara naluriah, ia menutup kedua kelopak matanya, bersiap-siap menerima serangan yang ditujukan padanya.
Akan tetapi, untuk yang kedua kalinya pada kondisi yang sama, ia tak merasakan apapun.
Ketika ia akhirnya membuka mata, hanyalah percikan darah yang mampu terlihat olehnya. Hanya saja, darah itu bukanlah darahnya. Sama sekali bukan darah yang keluar dari tubuhnya.
Melainkan darah ibunya. Darah Sakura.
Hikaru menatap horor sosok ibunya yang tertusuk dua buah rantai itu di kedua belikatnya dan sebuah rantai mengikat kakinya.
Ia tak bisa melakukan apa-apa selain menatap tubuh sang ibu yang terjatuh ke tanah. Kedua mata emerald itu menatapnya sendu, sebelum bibir pucat itu berkata, "Lari..."
Mendadak ia merasakan rasa takut yang teramat dahsyat. Secara otomatis, kedua kakinya menemukan tenaga mereka dan pergi menjauh dari tempat itu. Napasnya terengah-engah dan keringat membanjiri dirinya yang penuh luka-luka.
'Apa yang baru saja terjadi?'
Tiba-tiba saja ia merasa lemas. Dirinya pun tersungkur jatuh. Suara rantai-rantai yang mengejarnya semakin lama semakin terdengar. Lalu, tepat di hadapan kedua mata hitamnya, ujung-ujung tajam rantai bersiap menikam dirinya.
'Apa yang baru saja terjadi?'
Suara erangan Kenji terdengar di kedua telinganya, rantai-rantai itu semakin erat membelit dirinya.
'Apa yang baru saja terjadi?'
Suara ibunya yang memerintahkannya untuk lari. Sosok ibunya yang tergeletak berlumuran darah. Ibunya... Ibunya... Ibunya...
'Apa yang baru saja terjadi?'
Dan suara tawa yang menggelak mengisi sekelilingnya.
"Kuhabisi kau!"
'Kurang ajar'
'Kurang ajar'
'Kurang ajar'
'DEG!'
Saat itulah, ketika amarah telah memuncak di dalam dirinya, semua yang terlihat di dalam kedua matanya mendadak berubah. Semua yang memiliki spektrum warna sontak menggelap. Yang terlihat hanyalah garis putih, membentuk benda—rantai-rantai tajam itu—dan chakra yang mengalirinya.
Tanpa disadarinya pula, simbol-simbol berwarna hitam mulai menjalari kulitnya dari balik tengkuk hingga menutupi seluruh permukaan wajahnya.
'DEG!'
Berikutnya yang ia tahu, ia sudah bergerak dengan lihai menghindari rantai-rantai itu. Aliran chakra dari ujung-ujung rantai memanjang dan tenggelam ke dalam tanah, hanya untuk muncul kembali di bawah kumpulan aliran-aliran chakra besar yang menjadi pusatnya.
Dalam sekejap, pusat chakra itu telah menjadi sasarannya.
Ia pun berlari, menghindari serangan rantai-rantai yang entah mengapa terasa sangat lambat baginya, seakan-akan waktu berputar lebih lambat dan berefek pada semua kecuali dirinya. Setelah semua rantai-rantai tersebut berhasil diatasinya, dalam fokus pandangannya nampaklah suatu jalur lurus yang menghubungkan antara dirinya dan pusat chakra itu.
'DEG!'
Kedua tangannya pun serentak melakukan sebuah segel. Monkey. Dragon. Rat. Bird. Ox. Snake. Dog. Tiger. Monkey.
Cuit. Cuit. Cuit. Cuit.
Ledakan chakra kebiruan berwujud petir-petir listrik itu melingkupi tangan kanannya, perlahan-lahan membuat sedikit kulitnya terkelupas. Namun, ia tak peduli, karena yang ada dalam fokusnya hanyalah pusat chakra itu.
Semakin dekat. Semakin dekat.
Hingga akhirnya keduanya bertatapan mata. Cokelat bertemu merah. Pusat aliran chakra yang membentuk tubuh seseorang itu mendadak berdesir tak beraturan, seakan-akan berubah mengeras, seakan-akan menegang. Pusat aliran chakra itu tak menyangka akan datangnya sebuah horor yang berada di hadapannya, yang akan menyerang dirinya pada momen berikutnya, dengan ledakan petir yang ada di tangannya.
"Ti... Tidak mungkin... S-Sharingan!"
Cuit. Cuit. Cuit. Cuit.
"CHIDORI!"
Kemudian, yang berikutnya Hikaru tahu, sang musuh telah terhempas sangat jauh jaraknya, menghantam batang-batang pohon yang menghalanginya. Pada saat itu pulalah, tiba-tiba saja rasa sakit yang amat dahsyat menyerang kepalanya. Ia hanya mampu berteriak, lalu menarik helai-helai rambutnya, hendak menghilangkan rasa sakit yang teramat sangat itu.
Dirinya pun terjatuh ke permukaan tanah.
Pemandangan yang gelap itu lama-lama mulai memancarkan warna. Merah, merah muda, dan hijau. Adalah wajah sang ibu yang saat itu dapat dilihatnya.
"Hikaru-kun..."
Lalu, wajah ibunya sudah tak lagi dapat terlihat.
to be continued
A/N: Bah... akhirnya beres juga chapter ini. Dua chapter full pertarungan benar-benar melelahkan. Menulisnya membuat saya kesal sendiri karena si missing-nin nggak kalah-kalah juga. Mungkin para pembaca juga sama kesalnya ya? Untungnya, chapter berikutnya sudah bukan pertarungan lagi. Oh ya, rasanya di chapter ini banyak sekali diungkit-ungkit tentang genjutsu ya. Padahal saya juga tidak begitu mengerti tentang teknik itu, jadi maklumi ya kalau ada fakta-fakta yang keliru. Memang ada beberapa yang saya karang sendiri.
Saya senang sekali banyak para pembaca Solicitous yang menyukai maupun memberikan respon positif untuk karakter Hikaru. Hikaru juga OC favorit pertama saya. Yang kedua adalah Minato. Doakan saja semoga saya berhasil mengembangkan karakter Hikaru lebih dalam lagi.
Nantikan chapter berikutnya ya! Special thanks to: lutfisyahrizal, Kuro Shiina, Eysha CherryBlossom, Saladin no jutsu, dwi2, oka, Rinzu15 the 4th Espada, Uchizuma Angel, Tsurugi De Lelouch, Subarashii Shinju, Bernessa Edrys, Guest, fetwelve, Opung, dan pembaca-pembaca Solicitous lainnya.
