Naruto©Mr Masashi Kishimoto

Love In Silent

SASUHINA

Rate M

Happy reading

Hari sudah menunjukan pukul 8 pagi, tapi pasangan muda ini masih betah bergelung dengan selimut, tubuh yang masih sama-sama tanpa pakaian itu saling memeluk, beruntung hari ini adalah hari minggu, mereka tidak perlu repot untuk bangun pagi dan pergi ke sekolah.

Hinata terbangun, tangan suaminya masih setia memeluk perutnya, wanita itu tersenyum, sudah dua minggu sejak malam pertama mereka lakukan, dan yang tadi malam entah untuk yang keberapa kali mereka lakukan, Sasuke selalu meminta jatah di setiap malamnya.

Hari ini merasa benar-benar malas, entah kenapa Hinata enggan untuk bangun seluruh tubuhnya terasa remuk dan kaku, bahkan kepalanya terasa pusing, Hinata kembali berbaring karena merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.

Entah sudah berapa lama Hinata tertidur, kecupan di bahunya membuatnya kembali tersadar, tapi Hinata merasa lebih malas dari sebelumnya, sentuhan di telapak tangannya membuat Hinata harus mengartikanya, Sasuke memberikan bahasa isyarat melalui telapak tangan Hinata dengan cara menyentuhkan jemarinya.

'Sayang, ini sudah jam 11, mau sampai kapan kau tidur, aku sudah lapar'

Kira-kira seperti itulah yang di ucapkan Sasuke, Hinata mencoba membuka mata walaupun kelopak matanya terasa berat.

"Sasu,...maafkan aku, sepertinya aku sakit, aku malas untuk bangun" ucap Hinata dengan suara yang serak, Sasuke menyentuhkan punggung tangannya di kening Hinata, dan ternyata benar Hinata demam suhu tubuhnya memanas.

Sasuke merawat Hinata dengan telaten, merasa deja vu waktu itu Hinata yang merawatnya saat demam, walaupun saat itu Sasuke bersikap dingin padanya, Sasuke menyesal telah mengabaikan Hinata waktu itu.

Hinata membuka matanya saat satu kecupan terasa di keningnya, Hinata menatap Sasuke yang duduk di sampingnya.

"Mau kupanggilkan dokter?" bahasa isyarat Sasuke di lihat Hinata, wanita itu hanya menggeleng lemah.

"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat saja." ucap Hinata dengan suara yang lemah, Sasuke menganggukan kepalanya.

"Maaf...kau pasti lelah karena melayaniku."Hinata tersenyum bahkan sedikit tertawa saat membaca gerakan tangan Sasuke.

"Aku hanya tidak menyangka ternyata kau begitu mesum, Sasuke." Sasuke memasang wajah kesal saat mendengar ucapan Hinata.

"Aku ingin makan buah yang rasanya segar tapi tidak dingin, aku ingin buah yang belum di masukkan ke dalam lemari es." ucap Hinata tiba-tiba, Sasuke mengernyitkan alisnya.

"Keinginanmu itu sangat aneh, tapi sepertinya di dapur masih ada, memangnya kau ingin makan buah apa." tanya Sasuke.

"Apa saja tapi yang rasanya sedikit asam." jawab Hinata.

"Kau ini sedang sakit, kenapa ingin makan yang asam?"

"Justru itu kepalaku pusing jadi aku ingin makan sesuatu yang sedikit asam dan segar, ayo cepat ambilkan aku ingin memakannya." Hinata masih berbaring dan Sasuke pergi ke dapur untuk mengambil buah yang diinginkan Hinata.

Sudah satu minggu akhirnya Hinata sudah tidak demam lagi, tapi Sasuke semakin khawatir Hinata malah sering muntah di pagi hari, bahkan Hinata pernah sampai pingsan.

Akhirnya hari ini Hinata pergi ke dokter, tapi Sasuke tidak mengantarnya karena harus sekolah, saat pulang ke apartemennya Sasuke merasa ada yang janggal lampu rumahnya gelap, Sasuke memang pulang malam karena Sasuke harus pergi ke kantornya atas permintaan Kakashi.

Sasuke khawatir apa mungkin terjadi sesuatu pada Hinata, pemuda itu mencari saklar lampu, karena gelap, Sasuke juga tidak bisa memanggil Hinata karena kebisuanya, saat lampu sudah menyala, Sasuke berbalik untuk melihat keadaan dan Sasuke terkejut di depannya ruang tamu di penuhi balon berbentuk hati dengan warna merah dan putih di bagian dinding juga ada yang tertata dengan indah.

Dari arah dapur Hinata muncul dengan kue tart di kedua tangannya, lilin dengan angka 18 sudah menyala di atasnya, rasa haru di rasakan Sasuke saat ini, Hinata menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya, istrinya begitu cantik malam ini dia berdandan.

Sasuke tidak tahu harus berbuat apa, selama ini dia tidak pernah merayakan ulang tahunnya.

"Ucapkan harapanmu dan tiuplah lilinnya." ucap Hinata dan menatap Sasuke mesra, pemuda itu hanya menurutinya, memejamkan mata kemudian meniup lilin sampai padam.

"Hari ini tanggal 23 juli, itu artinya hari ini adalah hari kelahiranmu." Hinata mengecup sayang pipi suaminya kemudian memeluknya erat.

"Terima kasih untuk kelahiranmu, terima kasih kau sudah hadir di dunia ini, dan terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidupku, aku sangat...sangat...sangat mencintaimu" ucap Hinata dalam pelukan Sasuke.

"Aku yang berterima kasih, kau sudah hadir dalam hidupku ini, aku beribu kali lebih mencintaimu." Hinata tersenyum melihat gerakan tangan Sasuke, saat pelukannya sudah terlepas.

Mereka berdua duduk di meja makan untuk makan malam bersama, Sasuke sangat bahagia walaupun dirayakan dengan sederhana tapi semua itu sangat berarti baginya, Hinata pasti menyiapkan semua sepanjang hari dan Hinata melakukannya sendiri, Hinata bahkan memasak untuk makan malam.

"Mm,...Sasuke, aku ingin memberi sesuatu untukmu, kuharap kau mau menerimanya." ucap Hinata dengan menyerahkan sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu berwarna coklat dengan ukiran unik di bagian sisinya pada Sasuke, kali ini mereka tengah duduk di sofa ruang tv, Sasuke menerima kotak kecil tersebut kemudian membuka penutupnya.

Pada awalnya Sasuke tidak mengerti hadiah apa yang di berikan Hinata, tetapi tatapannya berubah tak percaya, di dalam kotak kecil tersebut ada benda putih yang di tengahnya terdapat tanda positif dan hal itu menunjukan bahwa Hinata memberikan hadiah yang sangat berharga untuknya.

"Mm, ...aku, aku sedang mengandung bayimu Sasuke." ucap Hinata sambil menggigit bibir bawahnya, Hinata masih menunggu respon Sasuke.

Sasuke menatap Hinata, senyumnya berubah mengembang, tanpa ragu Sasuke merangkul tubuh Hinata, mengusap punggung Hinata dan Sasuke mengecup perpotongan leher Hinata, tapi wanita itu malah terisak.

"Apa kau mau menerima bayi ini?" tanya Hinata di sela tangisanya, anggukan dari Sasuke terasa di pundaknya, Sasuke melepaskan pelukannya dan berganti memberikan kecupan di seluruh bagian wajah istrinya.

"Aku sangat bahagia, ini adalah hadiah terindah dalam hidupku, terima kasih, aku lebih bahagia karena kau yang jadi ibu dari bayi ini, aku sangat mencintaimu Hinata." rasa haru di rasakan Sasuke tanpa di sadarinya, satu tetes air mata mengalir dari kedua matanya.

Sasuke dan Hinata akan kedatangan anggota baru dalam keluarga kecil mereka, padahal usia mereka masih terlalu muda untuk menjadi orang tua, tapi mereka berdua berjanji akan selalu saling menguatkan.

"Ada satu hal lagi, ..." Hinata menghentikan ucapanya dan membuat Sasuke penasaran.

"Dokter bilang bayi kita ini kembar 3, apa kau siap mempunyai 3 bayi sekaligus." Sasuke membulatkan matanya, namun wajahnya tetap memperlihatkan kebahagiaan.

Mereka berdua tertawa dan saling memeluk, walaupun tertawa tanpa suara tapi Sasuke benar-benar merasa bahagia, dalam kesunyian Hinata memberinya kehangatan, lagi pula rumah mereka akan ramai dengan tangisan 3 bayi sekaligus.

Love In Silent

Suasana ramai terdengar di beberapa sudut apartement milik keluarga kecil Uchiha, apalagi di balkon, bau daging yang di bakar tercium di pembakaran yang berada di sudut balkon, di dapur tepatnya di meja makan juga terdapat banyak camilan dan juga minuman.

"Wah, ini menyenangkan, Hinata, sering-sering ya mengadakan barbeque seperti ini, lagi pula kita bisa tetap bersama-sama." Naruto berkata dengan girang sambil memasukan potongan daging meggunakan sumpitnya.

Saat ini Sasuke dan Hinata mengundang para sahabat untuk acara barbeque di apartement mereka, Sasuke memberi kejutan untuk Hinata, karena istrinya pasti kesepian, sudah tiga bulan Hinata berhenti sekolah di sekolah umum, Hinata memilih home schooling untuk pendidikannya, jadi Hinata bisa tetap bersekolah dan menjaga kehamilannya.

Kandungan Hinata sudah memasuki bulan keempat, postur tubuhnya sedikit berubah, selera makannya juga sedikit bertambah, Sasuke tidak akan lupa selama tiga bulan kebelakang dia kesulitan menghadapi Hinata yang rewel di masa ngidamnya, sifat manjanya bertambah berkali lipat.

"Apa kau tidak terganggu dengan bau daging berbumbu?" tanya Sasuke, Hinata menggelengkan kepalanya.

"Kau aneh, saat mencium bau parfumku kau hampir muntah, aku juga ingat bau sabun mandi dan bau lemari pakaian kau juga tidak menyukainya." Hinata masih menyimak.

"Tapi bau daging tidak membuatmu merasa mual."

"Kau bahkan tidak kuat mandi dengan air dingin, kau mandi dengan air hangat itupun tengah hari." Sasuke tersenyum, menurutnya hal itu sangat lucu.

"Itu karena bayi kita laki-laki." ucap Hinata, sambil mengelus perutnya yang tidak lagi rata.

"Menurut sebagian orang, bayi laki-laki atau perempuan punya pembawaan yang berbeda untuk ibunya, bayi laki-laki punya bawaan anti pada sesuatu yang berbau harum, bahkan selera makan pun berbeda bagi bayi perempuan sang ibu lebih menyukai sayuran dan buah juga menyukai semua yang berbau wangi." ucap Hinata panjang lebar.

"Itu benar, sedangkan untuk laki-laki, bawaan untuk sang ibu adalah malas mandi, dan menyukai makanan seperti daging, atau ikan." kali ini Sakura ikut berbicara.

Sasuke memeluk Hinata dari belakang, tangan besarnya melingkari perut Hinata memberi pelukan hangat pada ketiga calon bayinya, Sasuke merasa memeluk empat orang sekaligus.

"Kau membuatku iri Sasuke, aku juga ingin menikah muda."

"Sakura-chan, ayo cepat menikah denganku." Naruto berteriak pada Sakura yang berada di dapur, semua orang tertawa karena tingkah Naruto.

Sasuke, Hinata, Naruto, Sakura, Ino, Tenten dan Shikamaru berkumpul di balkon, udara memang dingin karena sudah memasuki awal musim dingin.

Sasuke memakaikan selendang hangat untuk Hinata, karena udara semakin dingin.

"Mmmmm...kau romantis sekali Sasuke."

"Oh ya Hinata apa ayah dan kakakmu sudah tau tentang kehamilanmu?" Sakura bertanya pada Hinata yang sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke.

"Ya, bulan lalu aku sudah memberi tahu mereka lewat email karena ayah dan kak Neji berada di luat negri." jawab Hinata.

Ting-tong.

Suara bel berbunyi, padahal ini sudah pukul sepuluh malam.

"Biar aku yang membuka " ucap Ino, gadis itu di temani Shikamaru, untuk membuka pintu.

Sasuke dan Hinata saling melirik, siapa kira-kira tamu yang datang.

"Hinata..." senyuman Hinata melebar saat sang kakak Hyuga Neji memanggilnya, dia beranjak dari duduknya dan segera memberi pelukan pada kakaknya.

"Kak Neji!" Hinata berteriak karena bahagia bertemu dengan keluarganya.

"Bagaimana kabarmu adikku tersayang." tanya Neji, pemuda itu mengusap kepala adiknya dengan sayang.

"Aku baik-baik saja, apa kakak datang sendiri?" tanya Hinata.

"Dia bersamaku." seorang pria dewasa yang berkharisma muncul dari arah pintu rumah, pria dengan mata yang sama dengan Hinata.

"Ayah..." Hinata juga memeluk ayahnya.

"Bagaimana kabar ayah?" Hinata bertanya dengan tangisan yang menghiasi wajahnya.

"Hn,..seperti yang kau lihat, aku ingin bicara denganmu dan suamimu sekarang." ucap Hiashi dengan penuh penekanan.

Di ruangan kerja Sasuke sudah ada Hiashi, Hinata dan Sasuke sendiri, suasana tegang dirasakan Hinata, entah kenapa firasat buruk di rasakannya saat melihat tatapan ayahnya.

"Hinata aku ingin bertanya padamu." ucap Hiashi dingin, Hinata hanya menganggukan kepalanya.

"Apa benar kau sedang mengandung?" tanya Hiashi.

"I-iya ayah aku sedang mengandung." jawab Hinata.

"Berapa usia kandunganmu itu."

"Memasuki empat bulan." jawab Hinata lagi.

"Apa?,...Kenapa kau tidak memberi tahuku sejak awal, berita sepenting ini baru kutahu satu bulan kebelakang, apa kau sudah tidak menganggapku sebagai ayahmu, lagi hah?" suara Hiashi sedikit meninggi, membuat semua teman Hinata mendengarnya, Neji yang sedang berbicara dengan Tenten pun terkejut saat mendengar Hiashi berteriak.

"Berapa usiamu sekarang, apa kau pikir memiliki anak itu adalah hal yang mudah? kau tidak tahu untuk menjadi seorang ibu sangatlah sulit."

"Dan kau Uchiha, aku kecewa padamu, dalam perjanjian kau berjanji tidak akan menyentuh putriku, tapi kau mengingkarinya dan sekarang kau membuat putriku hamil di usia muda." Hiashi masih mengeluarkan emosinya.

"Ayaah,...hentikan, kami saling mencintai, kami sudah menikah, apa salahnya kalau sekarang aku hamil, lagi pula aku menyayangi bayi ini." Hinata berteriak dan menangis, Sasuke berusaha menenangkannya, lagi-lagi Sasuke merasa tidak berguna karena tidak bisa mengatakan apa-apa.

"Kau naif sekali Hinata, apa kau lupa siapa suamimu?, dia seorang Uchiha, mereka menurunkan kecacatan pada anggota keluarga lainnya." Sasuke membulatkan matanya, bagaimana dia bisa lupa tentang itu, sedangkan Hinata hanya menutup mulut karena tidak percaya ayahnya tega mengatakan hal itu.

"Aku tidak ingin memiliki cucu yang tidak sempurna."

"Dia sendiri sudah cacat, bagaimana dengan bayi kalian nanti, dia bisa saja, buta, tuli atau tidak memiliki tubuh yang sempurna."

"Cukup ayah, jangan menghina Sasuke seperti itu, aku tidak terima." Hinata kembali berteriak.

"Lihatlah Hinata, dia bahkan tidak mampu memberi penjelasan,,dan apa kau hanya ingin membuat malu keluarga Hyuga?" Hiashi masih saja berkoar.

BRAAK

Neji membuka pintu dengan kasar, terlihat pemuda itu marah.

"Ayah, apa yang ayah lakukan kau menyakiti mereka berdua." ucap Neji pada ayahya.

"Diam Neji jangan ikut campur, dengar Hinata aku tidak mau tahu kau harus ceraikan Sasuke secepatnya, mengenai bayimu kita akan bicarakan lagi nanti, aku tidak ingin kau menderita." Hiashi pergi diikuti Neji yang masih berdebat dengannya.

Hinata melihat Sasuke yang terdiam, dengan segera Hinata memeluknya erat.

"Lakukan sesuatu, aku tidak ingin berpisah denganmu, Sasuke." Hinata terisak di pelukan Sasuke, pemuda itu hanya memeluknya erat, tapi kemudian Hinata tak sadarkan diri.

Sasuke panik, dia menggendong Hinata ke kamar mereka, semua temannya juga ikut panik, mereka segera membantu Sasuke, wajah mereka semua tampak khawatir.

Saat tengah malam, mereka semua pamit karena tidak ingin mengganggu, lagi pula Hinata dan Sasuke punya masalah, Hinata tersadar dari pingsannya, Sasuke bernapas lega karena Hinata baik-baik saja, tapi wanita itu kembali menangis.

Sasuke menangkupkan kedua telapak tanganya, gestur meminta maaf, Hinata mengernyit karena tidak mengerti.

"Maaf, bagaimana mungkin aku bisa lupa, aku sangat bahagia saat kita akan memiliki bayi, tapi semua yang di katakan ayahmu benar."

"Setiap anggota keluarga Uchiha-..."

"Sudah cukup jangan di teruskan, jangan meminta maaf, aku mencintaimu, apapun yang kau berikan itu sangat berharga untukku." gerak tangan Sasuke berhenti karena ucapan Hinata.

"Tapi, bagaimana jika mereka bertiga tidak sempurna?" Sasuke menitikan air matanya, beberapa saat yang lalu dirinya masih bahagia karena akan menjadi seorang ayah, tapi rasa bahagianya hancur begitu saja karena ucapan ayah mertuanya.

"Dengarkan aku, bukankah sudah kukatakan kita akan saling melengkapi." Hinata menggenggam tangan Sasuke.

"Aku tahu, tapi aku tidak mau kalau kau akan hidup bersama orang-orang yang cacat." Sasuke masih bersikeras dengan pemikirannya.

"Sasuke aku mohon, aku sedang mengandung, paling tidak berikanlah aku dukungan, kau harus menguatkanku, aku sangat mencintai mereka, aku tidak ingin terjadi apapun pada mereka."

"Kalian berempat, kau dan bayi kita adalah kebahagiaanku."

Sasuke mengerti Hinata lebih sensitif saat ini, mood Hinata selalu berubah, Hinata bisa lebih manja dari biasanya.

Pasangan muda ini tengah berbaring, setelah pembicaraan yang menguras emosi, akhirnya Hinata bisa menenangkan dirinya, Hinata berbaring dengan tangan Sasuke sebagai bantalnya, Hinata tidak ingin Sasuke melepaskan pelukannya, Sasuke hanya mengusap lembut helaian rambutnya, mereka terdiam namun mata mereka masih saling menatap.

"Nyonya Uchiha, berapa usiamu sekarang?"tanya Sasuke sambil mengelus pipi kiri Hinata.

"Mm,...bulan depan aku berusia 18 tahun." jawab Hinata masih dengan menatap onyx suaminya.

"Kau masih sangat muda." gerak tangan Sasuke, Hinata tersenyum.

"Kau ini mau bicara apa?" tanya Hinata di selingi tawa.

"Aku tidak tahu aku bingung, apa kau baik-baik saja? kau tampak bahagia.?" Hinata menganggukan kepalanya.

"Aku juga tidak tahu, aku hanya merasa senang kalau kau berada di sisiku." ucap Hinata, tangan mungilnya mengusap surai hitam Sasuke.

Ciuman mereka begitu menggebu, pasangan muda ini merasakan rindu seakan sudah lama tidak bertemu, Sasuke berpikir mungkin karena Hinata hamil, hormonnya sedikit berbeda, Hinata terlihat begitu bergairah.

Perut Hinata yang sedikit besar terlihat sexy di mata Sasuke apalagi saat ini Hinata tidak mengenakan pakaian, sama seperti dirinya yang telanjang bulat, tubuh mereka bergumul di atas kasur kigsizenya, Sasuke lebih banyak bekerja dari pada berbicara, tentu saja Sasukekan bisu, hanya insting lelakinya saja yang berbicara, tapi desahan dan erangan keluar dari bibir Hinata membuat ranjangnya terasa panas.

Hinata benar-benar menikmatinya, siapa yang peduli, yang menginginkan perceraian adalah ayahnya bukan dirinya, Hinata bisa mengambil keputusan sendiri dan yang di inginkannya adalah bersama Sasuke.

Beberapa kali Hiashi mengirimkan surat cerai yang harus di tanda tangani oleh Hinata dan Sasuke tapi surat itu kembali dengan menjadi robekan-robekan kecil karena perbuatan Hinata.

Hiashi semakin marah pada Hinata yang keras kepala, sepertinya dia harus menyusun sebuah rencana baru.

Usia kandungan Hinata sudah memasuki bulan ke tujuh, Sasuke sedang bersama Hinata di dokter kandungan, Hinata sedang melakukan test USG, Sasuke tampak terharu melihat bayangan ketiga bayinya di layar hitam putih tersebut, Sasuke jauh lebih terharu saat mendengar suara detak jantung mereka yang terdengar nyaring, Hinata memperhatikan wajah Sasuke yang bahagia, suaminya itu tidak menyadari kalau tengah diperhatikan karena terlalu fokus melihat bayi-bayi mereka.

"Dokter bagaimana apa mereka sehat?" tanya Hinata antusias, tangannya di genggam Sasuke erat, dokter itu menghela napasnya.

"Dua bayimu tampak sehat dan aktif tapi satu dari mereka tampak sangat lemah." ucap dokter Sizune, Hinata tampak syok.

"Entah dia bisa bertahan atau tidak, dia..."

"Tidak ketiga bayiku baik-baik saja." Hinata memotong perkataan dokter tersebut.

"Dengar kau masih sangat muda, di tambah kehamilanmu jarang terjadi, setiap bayi kembar umum itu jumlahnya dua, tapi bayimu ada tiga, jadi satu di antara mereka jarang tumbuh dengan maksimal, walaupun mereka sehat tapi mungkin saja dia terlahir cacat." Dokter itu berbicara fakta, Hinata menangis di pelukan Sasuke.

Hinata ingin ketiga bayinya lahir selamat, Hinata takut satu diantara bayinya tidak bisa hidup, Hinata sangat mencintai ketiga bayinya, buah cintanya dengan Sasuke.

Sasuke membawa nampan berisi makanan, bubur, buah dan juga air putih untuk Hinata, sejak pemeriksaan Hinata tidak mau turun dari ranjangnya, dan juga tidak mau makan.

Hinata bersandar di kepala ranjang air matanya setia turun, Sasuke menggenggam tangan Hinata, wanita itu mengalihkan tatapannya pada sang suami.

"Makanlah,...dari kemarin kau tidak makan." Hinata menggelengkan kepalanya saat bahasa isyarat Sasuke terbaca di telapak tangannya.

"Maafkan aku Hinata, kau pasti kecewa."

"Maaf atas ketidak sempurnaanku ini, kau selalu menderita karena diriku." Satu tetes air mata meluncur di pipi Sasuke.

"Sungguh aku tidak ingin mereka sepertiku, aku tidak ingin mereka terlahir cacat, aku ingin mereka sehat dan juga selamat saat lahir nanti."

Hinata merasakan sesak di dadanya, melihat Sasuke menangis hatinya jauh lebih sakit, Hinata lupa bahwa Sasuke juga terluka.

Hinata menggeser tubuhnya ke depan untuk memeluk Sasuke.

"Maafkan aku Sasuke, aku sudah bersikap egois, aku tidak berpikir kau juga terluka." Hinata mengusap air mata Sasuke, sedangkan Sasuke mengecup tangan Hinata yang mengusapnya.

Hinata mengelus perutnya dengan sayang, Sasuke juga ikut menyentuhnya.

"Kita serahkan semua pada Tuhan, kita hanya perlu berdoa dan minta padanya agar putra kita baik-baik saja." ucap Hinata dan Sasuke menganggukan kepalanya.

Hinata memutuskan untuk menerima apapun takdir Tuhan, Hinata hanya perlu menunggu proses kelahirannya.

...Di lain tempat...

"Hiashi -sama tamu anda sudah datang." ucap seorang maid perempuan pada Hiashi.

"Hm,...suruh dia masuk." maid itupun pergi dan memlersilahkan tamu Hiashi masuk.

"Selamat siang Hiashi-san." ucap tamu tersebut.

"Hm,...selamat siang Sabaku-san."

To be continue

Chap 9 up date...

Waduh hampir sebulan fict ini nganggur, gomenne reader...semua fictku telat update...huhu...

Tapi aku pasti tamatin ko, jangan khawatir.

Thank's to ana yang udah ngasih ide anak Sasuhina kembar tiga...hehe...

Semoga chap ini menghibur, chap kemarin emang bener tuch agak maksa klimaks nya tapi liat lagi chap2 berikutnya..ok..

Yah, aku mau nutupin muka soalnya g bisa bls review, soalnya update kilat baru tadi nulis dan langsung ku publish...lagian reviewnya banyak lagi ...

Pokoknya terima kasih banyak untuk semuanya reviewer kesayanganku, yg fav and foll, silent reader juga...semoga hari kalian menyenangkan...

Salam aisyaeva...