Bukan Rahasia
Disclaimer Masashi Kishimoto
By Deera Dragoneella
Inspired from Secret by Fuyutsuki Hikari
Beberapa Drakor, GSD, de-el-el karena lupa XD
.0.
Previous Chapter~
Sasuke dan Naruto sedang menikmati coklat panas di pantry kala mendengar suara bel berbunyi. Keduanya saling tatap dengan wajah bingung.
Siapa yang datang malam-malam begini?
"Biar aku saja," Sasuke beranjak dari kursi dan melangkah menuju pintu. Naruto tidak bisa menahan diri untuk mengikuti pemuda itu. Bukan apa-apa, hanya saja tidak banyak orang yang tahu tempat tinggalnya ini. Dan rasanya, berkunjung di jam seperti ini bukanlah tindakan yang menyenangkan. Cenderung kurang sopan –atau tidak malah- dan Naruto tidak akan segan untuk mengusir tamu tak diundang itu, yang bisa saja mengganggu istirahatnya –jika saja dia masih terlelap dan tidak terbangun oleh mimpi buruk tadi tentunya.
Ceklek – Pintu terbuka dan menampakkan sosok yang membuat Sasuke mematung dan Naruto yang melotot tak percaya, menatap sosok yang menatap keduanya dengan seringai setan yang seakan minta di pukul dengan godam saking menyebalkannya.
"Hello, Sista." Sapanya riang dengan wajah yang masih minta dihajar bagi siapa saja yang melihatnya.
"Arashi," Desis Naruto dengan wajah menggelap dan aura mengerikan yang membuat Sasuke mengernyit, sedikit terkejut, sedangkan pemuda yang tampak serupa dengan sosok gadis disampingnya hanya cengengesan tak jelas.
"What are you doing here?" tanya Naruto dengan tatapan tajam yang diabaikan oleh pemuda yang dipanggilnya Arashi itu.
"Uh, oh. Tidakkah kau ingin mempersilahkan diriku masuk dulu, Naru?" mengabaikan pertanyaan Naruto, ia justru memasang wajah polos dengan mimik letih yang terlihat sekali jika dibuat-buat.
"Aku capek sekali, tahu! Baru sampai dan langsung-"
"Masuk!" Potong Naruto memerintah sambil berbalik pergi meninggalkan keduanya masuk ke dalam.
"Ck, Dia benar-benar tidak berubah." Arashi masuk ke dalam dengan cuek, mengabaikan sosok Sasuke yang mengamati tingkah kedua orang itu dengan penuh penilaian. Menutup pintu apartemen, ia pun mengikuti Arashi yang kini berjalan beberapa langkah dibelakang Naruto yang sedang berdiri memunggungi mereka.
"Naru-"
Bugh
Kata-kata Arashi terpotong ketika tiba-tiba saja Naruto melancarkan tendangan tepat kearah kepalanya, yang syukurlah bisa ditahannya dengan tangan kanannya. Tapi sakitnya itu, euy~ Apalagi dia dalam keadaan tidak siap, jadi tidak bisa menyiapkan tenaga lebih untuk mengurangi efek tendangan Naruto yang dilancarkan dengan wajah penuh dendam itu.
Ugh, sepertinya pria muda itu mulai menyadari kesalahannya.
"Naru, aku-"
Bugh, bugh, bugh.
Kali ini Naruto melancarkan pukulan tidak hanya dengan kakinya, namun juga kedua tangannya. Membuat Arashi kerepotan, karena memang kemampuan bela dirinya tak sebaik gadis itu.
"Oh, please, Naru. Biarkan aku bicara dulu-"
Bugh.
Telak, Naruto membanting tubuh Arashi ke lantai dan berdiri menjulang dengan wajah dingin, mengabaikan rintihan pemuda itu yang merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Naruto benar-benar-
"Ugh, sakit! Kau mau membunuhku, ya?" Protes Arashi sambil berusaha duduk, mengernyit merasakan nyeri pada tangan dan punggungnya.
"Kau sudah mati, jika aku benar-benar ingin membunuhmu, Moron!" Ucapan bernada datar itu membuat Arashi bergidik ngeri. Astaga~ sepertinya dia sudah berbuat kesalahan besar mengikuti keinginan Daddy-nya. Atau mungkin, karena dia bertindak semaunya tanpa bertanya apa yang harus dilakukannya ketika sampai kemari? Entahlah, Arashi sedang tidak dalam mood untuk berfikir.
"Oke, oke… Aku menyerah," Mengangkat tangannya dengan mimik wajah kalah dan nelangsa. Sungguh, hanya kakaknya seorang yang bisa membuatnya merasa benar-benar teraniaya seperti ini. Dia, dia adalah Ootsutsuki Arashi, adik bungsu Naruto.
"Lepaskan silicon sialan itu, sebelum aku benar-benar membunuhmu, Moron." Dengan segera Arashi melepas penyamarannya kala menyadari kesalahan fatal apa yang telah dilakukannya kala berhadapan dengan sosok Hime-nya itu. Tidak menyadari wajah pias kakaknya, tepat ketika melihatnya di depan pintu apartemennya tadi, meski hanya sejenak.
Kini tampaklah wajah pemuda berusia delapan belas tahun berambut merah dengan wajah rupawan yang merupakan copian Sang Ayah. Membuang topeng silicon dengan rambut pirang, serta melepas contact lens sapphire yang menyembunyikan irish violetnya, pemuda itu menghela nafas panjang sebelum mendongak menatap wajah Naruto dengan muka memelas, seperti kucing kecebur got.
Memejamkan matanya sejenak untuk mengendalikan perasaannya yang campur aduk, Naruto segera membuka matanya dan membantu Arashi berdiri. Membawa pemuda itu duduk di sofa panjang dan berlalu pergi untuk mengambil kotak P3K. Di sisi lain, Sasuke mengamati tingkah keduanya dengan kedua tangan bersidekap. Cukup terhibur dengan interaksi keduanya. Meski hanya bisa berasumsi mengenai apa yang telah terjadi, juga hubungan keduanya.
.0.
"Jadi, dia adikmu?" Sasuke bertanya setelah mendudukkan dirinya di single sofa dihadapan keduanya.
"Hm," Naruto hanya bergumam sambil mengobati luka Arashi dengan telaten, sementara pemuda itu meringis menahan nyeri karena lebam yang ada di lengan kanannya tidak main-main, dua tiga kali pukulan di tempat yang sama kala menahan tendangan Naruto.
"Pelan-pelan, Naru-chan- AAU!" Pekik Arashi di akhir yang dibalas delikan maut Naruto. Gadis itu tidak segan-segan menekan kuat luka lebam Arashi.
"Ha'i, ha'i Nee-chan~" Bisik Arashi dengan kedua bahu yang merosot kalah, juga lelah. Well, Naruto memang tidak suka jika adiknya itu bersikap kurang ajar dengan hanya memanggil namanya saja. Bagaimanapun, mereka keluarga bangsawan Ootsutsuki, meski mereka tinggal di Inggris. Adat timur tetap di pegang teguh oleh keluarga mereka dalam hal sopan santun, sebagaimana yang diajarkan oleh Mom & Dad tersayang mereka.
"Sekali lagi kau ulangi, kau akan terima akibatnya." Arashi menganggukkan kepalanya patuh, menyadari Naruto tidak pernah main-main. Apalagi sepertinya mood-nya sedang sangat buruk. Apa… Karena penyamarannya tadi? Sial.
"Kenapa kau emosi sekali? Lagi PMS, ya?" Tanyanya tak bisa menahan diri.
Naruto mendelik geram, menahan diri untuk tidak lagi menghajar adik kurang ajar yang sayangnya sangat disayanginya itu. Meski kelakuannya kali ini membuatnya ingin mencekik leher pemuda kurang ajar itu hingga mati.
"Jangan bercanda denganku, Arashi." Desis Naruto penuh ancaman. "Apalagi di hari yang sialan penuh dengan orang sial yang harus ku temui hari ini."
Arashi mengangguk paham. Ah, sepertinya dia memang harus hati-hati jika ingin menggoda dan bercanda dengan kakak perempuan tersayangnya ini. Bagaimana pun, kota ini memiliki banyak hal sensitif yang bisa membangkitkan sisi gelap kakaknya itu.
Pemuda itu menyenderkan punggungnya lemas ke sofa, bergerak berbaring, meluruskan tubuhnya yang lelah –benar-benar lelah karena belum beristirahat sejak landing tadi pagi- juga sakit akibat pukulan kakaknya tadi. Hah, mungkin dirinya memang terlalu bodoh dan ceroboh. Ah, tidak, dirinya memang sangat ceroboh. Dan karena inilah, Daddy-nya sangat jarang memberikannya tugas.
"Kau siapa?" tanya Arashi kemudian, bangkit dari tidurannya, duduk dengan menumpukan kedua sikunya di atas lutut, tatapannya lurus dan serius. Pemuda itu baru menyadari jika ada pria dewasa yang tinggal satu apartemen dengan kakaknya. For God Sake! Apa yang kakaknya itu pikirkan kala membiarkan laki-laki asing tinggal seatap dengannya?
Tiba-tiba, insting protektif-nya bangkit. Bagaimana pun, Naruto adalah Hime-nya. Satu-satunya kakak perempuan yang dimilikinya, kini. Dan dirinya telah bersumpah untuk melindungi kakaknya dengan nyawanya, meski dirinya yakin Naruto lebih dari mampu untuk menjaga dirinya sendiri. Oh, ingatkan dirinya dengan siapa kakaknya itu bergaul, batinnya sebal.
Sasuke menaikkan alisnya tanpa minat. Meski begitu, dijawabnya juga pertanyaan itu mengingat apa status sosok dihadapannya. "Sasuke," ujarnya singkat.
"Ck, aku tak bertanya namamu, dude. Meski aku juga ingin tahu." Arashi memutar matanya sebal. Oh, kenapa hari ini menyebalkan sekali? Ini masih pagi –dini hari lebih tepatnya- dan harinya sudah dimulai dengan kesialan? Oh, sepertinya dia harus banyak mengakui dosa-dosa masa lalunya. Yeah, dia tahu dirinya menyebalkan, hingga membuat keluarga besarnya sering frustasi akan tingkahnya. Tapi, uh, tidak harus semengenaskan ini juga, kan?
"Aku orang kepolisian," jawab Sasuke singkat.
"Oh," Arashi mengangguk mengerti dan menegakkan punggungnya. "Kau yang menangani masalah Karin-chan, atau Okaa-sama?" tanya Arashi penasaran.
Sasuke menatap pemuda dihadapannya sejenak. "Keduanya," Singkatnya seraya berdiri. Dirinya sudah cukup lelah dan sedang malas menjelaskan permasalahan yang terlalu panjang untuk dijelaskan. Dan pemuda dihadapannya, jelas membutuhkan istirahat setelah apa yang dialaminya. Sasuke tidak yakin pemuda dihadapannya mengerti semua masalah saudarinya, mengingat pemuda itu masih bertanya padanya.
"Yak! Hei, kau mau kemana? Aku butuh penjelasanmu, sialan!" teriak Arashi yang diabaikan Sasuke. Biar saja pemuda itu berteriak sesukanya, toh kamar-kamar disini kedap suara. Dia hanya tinggal masuk kamar, mengunci pintu dan tidur nyenyak di kasurnya. Pagi ini tugasnya sudah banyak menanti. Dan dia butuh banyak tenaga dan kesadaran penuh untuk melakukan pekerjaannya yang lain.
.0.
Naruto termenung di dalam kamarnya yang gelap. Waktu telah menunjukkan pukul empat pagi, dan dirinya belum juga bisa kembali memejamkan mata. Tidak, lebih tepatnya, dia takut untuk memejamkan mata.
"Nee-chan…" gumam Naruto lirih, penuh kesedihan. Matanya terpejam, menahan rasa sesak didadanya, juga air mata yang kini mulai menggenang di pelupuk matanya.
Melihat kehadiran Arashi dalam penyamarannya tadi, telah sukses membuatnya hampir serangan jantung. Rasa sakit yang dulu pernah dialaminya, seperti hadir kembali. Dirinya seperti bercermin, ketika melihat wajah Arashi yang diiringi senyuman polos yang begitu diingatnya. Dengan wajah serupa, dengan senyuman yang serupa. Seperti dirinya di masa lalu. Begitu polos, lemah dan tidak berdaya. Sesuatu yang sangat disesalinya, karena telah mengakibatkan dirinya kehilangan belahan jiwa dan orang yang disayanginya.
"Nee-chan…" tangannya meremat rambutnya erat, menahan setiap kesedihan, rasa bersalah dan kehilangan yang tak pernah mau hilang dari ingatannya.
"Maafkan aku…" air matanya mengalir deras tanpa mampu ditahannya, lagi. Di saat seperti ini, kenapa dirinya seperti kembali diingatkan akan rasa sakit kehilangan Naruko, pada musuh-musuh yang berusaha membunuh atau menjatuhkan keluarganya, juga pada masa lalu Ibunya? Seakan belum cukup menggoreskan belati pada luka yang masih terbuka, penuh darah, dan penuh duka. Membuat nafasnya sesak, seakan dadanya dihimpit beban berat tak kasat mata. Tak bisa dihilangkan, meski dia sudah berusaha. Atau belum bisa.
.0.
"Kau harus tetap di sini!" Perintah tegas Naruto pada adiknya itu sambil memakai jaket kulit hitam panjang kesayangannya, hadiah ulang tahun dari First dua tahun yang lalu. Rambut merah gadis itu telah kembali pirang, namun sepasang sapphire-nya tertutup oleh contact lens buram yang membuat matanya tampak lebih kelabu. Gadis itu tidak ingin ada orang yang mengenalinya sebagai bagian dari Namikaze di bandara nanti. Cih, mana sudi dirinya menjadi bagian dari Namikaze? Meski darah dan daging di tubuhnya tak bisa terlepas dari Namikaze.
"But, Sista~" Rengek Arashi yang di balas delikan maut dari Naruto.
"Ini hukumanmu karena telah membuat hariku yang buruk semakin buruk, Moron." Arashi menundukkan kepalanya, tanda menyesal. Meski dirinya sangat badung, tapi pemuda itu sangat takut pada kakak perempuan dan kedua orang tuanya. Di luar itu? Hah, jangan harap Arashi mau berikap sopan jika tidak dipaksa ketiganya. Bahkan Hagoromo dan keluarga Senju hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikapnya yang benar-benar menjengkelkan untuk anak seusianya. Ah, mungkin satu lagi orang yang bisa membuatnya takut tak berdaya, kakak tertua mereka di Inggril sana.
"Ah," Naruto berbalik menatap adiknya dari balik sunglasses dior-nya.
"Sebaiknya kau menemui Paman dan Bibi, juga Karin. Temani dia sampai keadaannya benar-benar membaik, dan berhati-hatilah." Arashi mengangguk mengerti. Dia akan mencari detailnya nanti. Karena kini, kakaknya sedang ada urusan lain yang tidak bisa diganggu bersama teman-temannya.
.0.
"A-Arashi?" Kurama menatap sepupunya terkejut ketika membuka pintu rumah.
"Yo, Kurama." Sapa Arashi sambil menyengir kuda. Dibelakang pemuda itu, tampak Sasuke yang menatapnya datar.
"Kalian kemari bersama?" tanyanya tak mengerti sambil menatap keduanya bergantian.
"Tentu saja. Dia kan-"
"Kau urus anak ini, Ku. Aku ada banyak urusan." Potong Sasuke cepat. "Dan jangan percaya apa pun yang dikatakannya." Pesannya sebelum pergi meninggalkan kediaman Uzumaki.
"Apa? Hei! Kau kira aku pembual? Tukang bohong?!" Teriak Arashi tidak terima, yang diacuhkan Sasuke. Pria itu segera masuk mobil dan melajukannya tanpa mau repot menanggapi Arashi yang dianggapnya bocah labil.
"Bukannya kau memang suka membual?" ejek Kurama yang menyandarkan punggungnya pada bingkai pintu dengan tangan bersidekap.
"Apa?!" Arashi melotot tak terima. "Enak saja. Aku ini selalu jujur, tahu!" kalau sedang ingin, tentu saja, tambahnya dalam hati.
"Jujur dari Hongkong?!" Kurama memutar matanya bosan.
"Haish! Sudahlah. Biarkan aku masuk dan bertemu dengan Karin-chan. Aku rindu sekali dengannya." Ucap Arashi dengan wajah sebal. Sikapnya benar-benar masih kekanakan, meski usianya sudah 18 tahun.
"Dia di masih di rumah sakit, jika kau belum tahu."
"APA?!" Arashi melotot tidak percaya. "Bagaimana bisa? Ceritakan padaku apa yang terjadi!" Tuntutnya. Arashi tidak menyangka jika sepupu kesayangannya itu sampai di rawat di rumah sakit. Pemuda itu hanya mengira, ketika Naruto menyuruhnya untuk menjaga Karin, bahwa Karin hanya sedang patah hati dan butuh teman bermain untuk mengembalikan suasana hatinya. Jika seperti ini, maka masalahnya jelas lebih serius.
Lalu, apa Daddy-nya tahu? Jika iya, kenapa tidak memberitahunya langsung? Bukankah kehadirannya disini juga untuk membantu kakak perempuannya?
Pemuda itu menggelengkan kepalanya keras. Sudahlah, batinnya. Dia akan tahu nanti. Yang terpenting sekarang adalah bertemu Karin. Memastikan keadaannya dan menunggu perintah dari sang Daddy atau Naruto. Dia tidak ingin salah langkah lagi, yang bisa berakibat buruk bagi rencana mereka.
.0.
Berlin, Jerman.
Setelah perjalanan selama 9 jam dengan menggunakan pesawat jet pribadi Art One Airlines, anak cabang perusahaan AO Group milik First, Naruto sampai di Berlin Schonefeld International Airport. Gadis itu segera menuju private parking yang ada di sana, dimana mobil yang menjemputnya telah menanti. Sebagai mana pesan yang diterimanya, tepat setelah pesawat mendarat.
Aku menunggumu di parkiran, Honey – Second
Naruto hanya mendengkus membaca kalimat alay pesan itu. Sudah biasa, batinnya. Orang kedua dalam 7D itu sangatlah kekanakan, apalagi padanya. Pria 27 tahun itu kadangkala menganggap Naruto adalah sosok adik yang perlu dilindungi, namun adakalanya pula, Naruto akan menjadi mainannya. Benar-benar mencari mati.
Gadis itu segera masuk ke dalam mobil berlogo Dragneel yang sudah menunggunya, dan tanpa banyak kata, mobil itu segera melaju meninggalkan pelataran parkir khusus bandara.
"Ku kira, kau akan berangkah bersamanya." Ucapan pria yang merupakan 7D kedua itu hanya dibalas dengkusan oleh Naruto. Tak ada gunanya menjawab, batinnya malas.
"Aku melihatnya semalam, ketika dia memasuki kamarmu dan-"
"Silent, Moron." Desis Naruto dengan mata menyipit. Gadis itu mengepalkan tangannya menyadari kelalaiannya. Shit! Teman-temannya pasti memasang beberapa CCTV di apartemennya, tanpa seijinnya, tentu saja. Benar-benar kurang ajar.
"Aku tidak menyangka jika kau akan membiarkannya tinggal denganmu. Ouh, mereka sangat berharap banyak padanya, kau tahu." Kembali, pria itu mengucapkannya dengan nada menggoda khas dirinya. "Aku tidak sabar kau menjadi-"
"Eagle," desis Naruto. "Sekali lagi kau membicarakannya, aku tak akan segan menghajarmu di BC." Dan ancaman Naruto hanya dibalas tawa renyah oleh pria yang enam tahun lebih tua darinya itu. Benar-benar sialan sekali.
"Ha'i ha'i…" kekeh Obito, sang Naga kedua, pemilik Infinite Inc. "Aku tak akan membuatmu semakin marah dan berakhir dengan kita yang tidak jadi sepupu ipar."
"Eagle Rarier!" Teriak Naruto murka. Wajahnya sudah merah padam, benar-benar ingin mencekik wajah pria yang sudah dianggapnya kakak dan paling mengerti jalan pikirannya –bahkan tanpa diberi tahu itu. Pria yang benar-benar menyebalkan diantara yang paling menyebalkan dalam 7D, atau bahkan keluarganya sendiri. Jika saja pria itu bukanlah orang yang berarti dalam hidupnya, Naruto bersumpah tidak akan segan untuk mencincang wajah menyebalkan pria itu.
Sementara Eagle hanya tertawa lepas melihatnya. Benar-benar. Pria itu sangat suka menjahili anggota paling muda 7D itu. Gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya itu, terkadang terlalu serius, dan tenggelam dalam kesakitan masa lalunya. Karenanya, Eagle lebih suka melihat wajah memerah marah Naruto, dari pada wajah datar tanpa ekspresi namun menyembunyikan luka yang sangat dalam itu.
Eagle tidak suka melihat Naruto tenggelam dalam pekerjaannya hanya untuk mengalihkan kesakitannya. Dialah yang paling sering melihat Naruto melampiaskan kesakitannya ketika menangani pekerjaan mereka, atau pun ketika mereka sedang berlatih tanding bela diri di BC (Base Camp), sebuah mansion mewah yang terletak di beberapa daerah terpencil nan asri. Dan dirinya pulalah, yang paling senang mendengar informasi dari Zetsu yang mengatakan jika sepupunya menangani permasalahan Naruto. Pria itu, entah kenapa memiliki firasat, jika sepupunya bisa menarik Naruto dari pusaran kesakitan masa lalunya. Meski dirinya cukup terkejut mendengar siapa sebenarnya sepupunya itu.
Ah, mungkin tidak seharusnya begitu. Toh, bukan hanya sepupunya saja dalam keluarganya yang memiliki rahasia, kekehnya dalam hati.
.0.
Sara keluar dari kantor polisi dengan menyembunyikan wajahnya diiringi beberapa bodyguard dan pengacaranya. Wanita itu hanya diam ketika para wartawan yang sudah menunggunya di depan kantor polisi menyerbunya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Sara-san! Benarkan bahwa Andalah pelaku sebenarnya dari kecelakaan Deidara-san?"
"Mengapa Kushina-san yang saat itu ditangkap dan dijadikan tersangka?"
"Apakah benar bahwa Uzumaki-san hanya dijadikan kambing hitam untuk menyelamatkan Anda?"
"Kenapa Anda begitu tega membiarkan saudari Anda menjadi korban untuk menyelamatkan Anda?"
Ya, kenapa? Kenapa dirinya begitu tega? Kenapa dirinya begitu pengecut untuk mengakui kesalahannya?
"Bagaimana reaksi keluarga Anda dan Jiraiya-sama mendengar hal ini?"
Murka. Pria senja itu benar-benar murka padanya. Bahkan sama sekali tidak sudi melihatnya sampai masalah ini selesai.
"Mengapa baru sekarang keluarga Kushina-san menggugat Anda?"
"Apakah ini berhubungan dengan kecelakaan yang menimpa Uzumaki Karin-san?"
"Apakah benar putri Anda terlibat dalam kasus pelecehan Uzumaki Karin-san?" Pertanyaan mengenai putrinya itulah, yang akhirnya membuat Sara menghentikan langkahnya dan mendongak menatap tajam para wartawan.
"Jaga bicara kalian. Aku tidak akan segan memasukkan kalian ke bui karena pencemaran nama baik putriku." Tegasnya tajam. Sara sangat menyayangi putrinya, meski gadis itu sangat suka membuat kepalanya pusing dengan tingkah liarnya.
Demi Tuhan! Satu masalah belum selesai, dan kini putrinya juga terlibat masalah?! Apakah ini salah satu bentuk balas dendam kakak angkatnya karena perbuatannya dulu? Jika iya, maka Sara tidak akan tinggal diam. Dia sudah berusaha menguatkan dirinya untuk mengakui kesalahan masa lalunya, demi ketenangan hatinya, meski hal itu bisa menghancurkan keluarganya.
Tapi, jika seperti ini cara Kushina membalasnya, Sara tidak akan tinggal diam. Ini adalah masalah mereka, dan putrinya sama sekali tidak ada sangkut pautnya.
Namun, bagaimana jika memang putrinya membuat ulah? Bukankah putrinya satu sekolah dengan keponakan Kushina? Jika hal itu benar, bagaimana cara bagi dirinya agar mampu mengangkat wajah pada Kushina nanti? Oh, tidak. Mereka tidak akan mungkin bertemu. Karena Kushina sudah meninggal. Meninggalkannya dengan rasa bersalah yang akan dibawanya sampai mati nanti.
Bukankah hidupnya sangat menyedihkan? Kekehnya dalam hati, meninggalkan para wartawan yang masih mencercanya dibelakang sana.
.0.
Royal Infinite's, Berlin
Tepat pukul tujuh malam, tujuh buah mobil berlogo Dragneel dengan berbagai tipe dan warna berhenti di depan restoran bintang tujuh, Royal Infinite's, milik Sixth. Dari ketujuh mobil itu, keluarlah tujuh orang secara bersamaan.
Berdasarkan urutan tempat parkir khusus restoran, dari sisi paling kiri, mobil sport berwarna hitam, keluar seorang pria tampan berambut hitam yang dipotong rapi dengan setelah jas hitam yang rapi. Dialah First, Kirito Kei. Pria berusia 32 tahun itu adalah pemilik Art One Group, perusahaan yang bergerak di bidang transportasi - baik darat, laut maupun udara - ritel, farmasi dan teknologi medis.
Di tempat kedua, dari sebuah mobil berwarna merah marun, keluar seorang pria tampan berambut hitam cepak dengan pakaian santai, kaos putih berouter kemeja merah marun dan sepasang sepatu kets berwarna putih bergaris hitam merah. Dialah Second, pria berusia 27 tahun bernama Eagle Rarier, pemilik Infinite Inc. yang bergerak di bidang konstruksi, perancangan dan pengembangan.
Di tempat ketiga, dari mobil berwarna putih, keluarlah seorang pria berambut putih berkacamata hitam dengan pakaian semi formal, kemeja hitam yang dimasukkan dalam celana jeans abu. Dialah Thrid, Zetsu White. Pria berusia 29 tahun itu adalah pemilik Black One Inc. yang bergerak di bidang konsultan manajemen, investasi, keamanan, dan telekomunikasi.
Di tempat keempat, dari mobil berwarna silver, keluarlah seorang pria berambut dirty grey dengan pakaian semi formal, kemeja putih berbalut vest cream dengan celana kainnya. Dialah Fourth, Hidetora Kakuzu. Pria berusia 27 tahun itu adalah pemilik Freedom Corp. yang bergerak di bidang industri barang konsumen (makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga), industri barang dan jasa.
Di tempat kelima, dari mobil sport berwarna biru, keluarlah seorang gadis berambut dirty blonde sebahu dalam balutan dress biru selutut yang mengembang dan membuatnya tampil semakin cantik dan segar. Dialah Fifth, Lucy Clyne. Gadis berusia 25 tahun pemilik Eternal Inc. yang bergerak di bidang design, hiburan dan media. Menjadi penanggungjawab dalam bidang advertising 7D.
Di tempat keenam, dari mobil berwarna merah terang, keluarlah seorang gadis berambut merah panjang dalam balutan gaun brokat berwarna hitam dengan lengan panjang yang membuatnya tampak anggun dan menawan. Dialah Sixth, Scarlet Belzerion. Gadis berusia 26 tahun pemilik Eileen Corp. yang bergerak di bidang Perhotelan, restauran, dan produk kecantikan.
Dan di tempat terakhir, dari mobil berwarna kuning terang, keluarlah Ootsutsuki Naruto, sang Sevent, pemilik Dragneel Group. yang bergerak di bidang Software dan Teknologi, serta otomotif.
Keenam orang itu menoleh menatap Naruto yang hanya dibalas gadis itu dengan menaikkan salah satu alisnya, bertanya.
"Ootsutsuki Naruto," Kei berjalan menghampiri gadis itu dengan langkah panjangnya.
"Miss me?" tanyanya sambil merentangkan tangan. Membuat Naruto mendengus, namun tak urung segera menghampiri Kei yang hanya berjarak tiga langkah darinya, dan masuk dalam rengkuhan hangat pria itu.
Kirito Kei, bagi Naruto bukan hanya sebagai seorang kakak. Namun juga bagai orang tua. Sikap Kei yang dewasa membuat Naruto begitu nyaman, meski tidak semua hal bisa gadis itu ceritakan padanya.
"Kau harus menceritakan semua yang telah terjadi setelah ini pada kami," ujar Kei setelah mengeratkan pelukannya sejenak.
"Hmm," Naruto bergumam sambil menutup mata.
"Kau tak ingin memelukku, Sweety?" Suara merdu Lucy membuatnya tertawa kecil sambil melepaskan pelukannya.
"Oh, ku kira kau sedang cemburu padaku, Dolcezza," jawab Naruto menggoda gadis berdarah Italia yang juga adalah kekasih Kei.
Lucy memutar matanya, "Oh, come one, sweety." Dan Naruto segera menghampiri Lucy sambil tertawa. Gadis itu sangat dekat dengan Lucy, karena gadis itu mengingatkan Naruto pada Stella, bahkan sikap dewasanya.
"Guys, aku sudah lapar. Bisakah kita masuk ke dalam dan makan dulu? Kurasa, kita bisa temu kangen setelah ini, you know?" Suara bariton bernada menyebalkan itu menyela.
"Astaga, Obito!" Kakuzu menggeplak kepala second dengan keras karena kesal.
"Don't call me with that name again, Fourth." Desis Obito tajam.
Pria yang bernama asli Uchiha Obito itu memang sangat suka merusak suasana, karena memang sudah menjadi sifat alaminya sejak dulu. Obito merubah namanya menjadi Eagle Rarier, karena dirinya sudah dinyatakan meninggal sejak lima tahun yang lalu, akibat kecelakaan terencana oleh musuh keluarga Uchiha. Karenanya, Obito memilih menarik diri dari keluarganya dan merubah identitasnya, untuk melindungi keluarganya dari balik layar.
"Sudahlah," Zetsu menatap bosan pertengkaran keduanya. "Cherie, ayo, kita masuk dan selesaikan ini segera."
Naruto menatap datar Zetsu. "Kita harus segera menyelesaikan semuanya, sebelum waktumu habis, bukan?"
Pertanyaan itu memukul telak dirinya. Menarik nafas panjang, Naruto pun mengangguk. Zetsu selalu bisa membuatnya terpojok. Karenanya diantara semuanya, Naruto tidak terlalu akrab dengan pria itu.
"Ya, kau benar. Mr. White."
-TBC-
Oke, Guys. Maaf baru bisa update dan ini benar-benar langsung up begitu jadi
So, harap maklum jika banyak typo bertebaran
saya sedang terburu-buru pagi ini, jadi... Harap maklum dan selamat membaca
Semoga tidak mengecewakan :)
Jaa ne~ :*
