Balasan Review :

tctbcxx : Iyah, yang ketemu sama sehun dan dipanggil hyung itu Suho, nah dicerita ini suho bukan Jin, setan, iblis, manusia, penyihir juga bukan dewa, intinya dia makhluk astral langka yang tidak terindentifikasi wujudnya, dia gak baik juga gak jahat. selama ribuan tahun hidup bahkan sebelum ada luxion, sementara waktu yang bisa ngeliat cuman Luhan sama Sehun. gak ada yang tahu keberadaannya karna dia gak boleh dibunuh. :)

misslah : ini next, makasih banyak, iyah semoga banyak yang suka :)

Arifahohse : Fastnya nggak bisa janji, tapi diusahain kok :)

Hwang Cha Sun : iyah, mereka belum kencan,,, kasihan.. baru aja sehun inget :D .. Jangan kencan dulu deh, Luxion dalam bahaya... wkwkwkwk

Park RinHyun-Uchiha : Disini, karakternya Luhan emang keras kepala, soalnya pada dasarnya kodrat sebagai penguasa ada. juga akunya sih gak mau bikin karakter sempurna buat sifat main castnya, wkwkwkwk .. eh, jangan uyel - uyel (?) chanyeol dulu, chanyeol gak semarah itu kok ^^

deerbee : waw, makasih udah coment beberapa kali.. wkwkwkwk . iyah Luhan hidup dalam ribuan Tahun, dan selamat karena udah bisa nyambung sama ceritanya yang radak absurt. :D keep reading yah... ^^

Big thank's buat yang udah Review, makasih banyak udah nyempetin mampir ^^ #Bow

.

ENJOY READING ^^


.

Story Of Fantasi

Luxion Guide

.

Cast : Oh Sehun

Luhan (GS )

and other EXO member,.

.

[ Chapter 9 ]

.

" Takdirpun harus menghadapi resiko yang berbahaya,
Berjanjilah!, dengan tidak terluka disisiku."

-Luhan-

.

.

.

Detik detik jam berjalan amat lambat, setidaknya itu bagi Luhan. Gadis itu telah ratusan kali memeriksa jam tangannya, berharap jam sekolah segera usai. Ia mengingat dengan jelas janji kencannya dengan Sehun, dimana Sehun memintanya menunggu di perpustakaan sepulang sekolah nanti. Luhan mendesah, setiap perkataan Tiffany yang kebetulan mengajar kelasnya hari ini, tak ada satu katapun yang masuk dikepalanya. Luhan sangat merindukan Sehun, mereka belum bertemu karena sehari kemarin sehun pergi untuk membereskan rumah lamanya bersama paman Donghae (menurut Luhan), dan dia menghabiskan waktunya di tempat tidur karena pingsan.

Tiffany menatap Luhan khawatir disela sela mengajarnya di depan kelas, ia sudah berusaha membujuk Luhan ke UKS ketika melihat wajah pucat Luhan dan tubuhnya yang terlihat semakin melemah. Tiffanny dan yang lainnya tidak pernah mempersalahkan Luhan untuk memaksa menyembuhkan Tao yang artinya menguras tenaga Luhan, namun melihat betapa lemahnya Luhan yang berusaha tetap memperlihatkan dia baik baik saja itu sangat menyiksa bagi mereka. Tiffany bahkan berharap Sehun ada disini, dan menyarankan Luhan untuk istirahat setidaknya Luhan tidak akan membantah Sehun.

Bel pun bordering tanda bahagia karena jam pelajaran telah usai, Luhan pun mulai membereskan buku bukunya dan memasukkannya dalam tas. Luhan beranjak secepat kilat meninggalkan kelas, membuat tiffany urung untuk memanggilnya. Gadis itu berlari lari kecil dengan senyum cerah diwajah pucatnya, sesuai janjinya ia akan menunggu sehun menjemputnya di perpustakaan. Pintu perpustakaan itu terbuka oleh tangan mungil Luhan, tak ada siapapun diruangan itu baik siswa maupun penjaga perpus di jam pulang sekolah. Bau bau jendela dunia itu menguar tercium oleh hidung Luhan, saat gadis itu menyusuri buku buku tua sambil berdendang kecil. Pintu perpustakaan terbuka menampakkan seseorang disana, mendengar itu Luhan pun berlari kedekapan pria tersebut.

"Sehun!, aku merindukanmu!" Luhan mendekap pria berwajah Sehun itu erat erat, tanpa menyadari senyuman licik dari si pemilik tubuh.

"Aku juga merindukanmu gadis kecil,, hahaha." Suara itu, itu bukan suara Sehun, Luhan mendongakkan kepalanya dan terkejut ketika orang yang dikiranya Sehun tadi adalah orang lain. Tubuh Luhan bergetar dalam dekapan lelaki itu " Kau bukan Sehun…..!"

Melihat wajah shock Luhan, pria bermata iblis itu tertawa terbahak – bahak, "Cukup menyedihkan melihat Tuan Putri kita yang hebat itu menjadi selemah ini," Luhan mencoba memberontak, menatap nyalang tanpa rasa takut.

"Aku ingin bermain main denganmu, namun jika pangeran bodoh itu datang semuanya akan runyam, jadi ayo kita pergi lalu kita lanjutkan urusan kita setelah aku membawamu ke Ratu Hyorin." Pria itu mendekatkan mulut baunya ke telinga Luhan, berbisik pelan disana lalu menariknya kembali.

Luhan yang merasa jijik dan murka memuncratkan ludahnya tepat ke muka pria itu, "Kau dan Ratumu itu benar – benar menjijikkan, Jonghyun!."

Mendapat siraman air ludah dari Luhan membuat Jonghyun marah, mata merahnya menyala disertai munculnya kuku – kuku tajam dan hitam dijarinya. Ia dekatkan tangannya ke muka Luhan dan menggoresnya disana, membuat darah segar mengalir dari sudut pelipis Luhan. Luhan hanya mampu meronta dan memejamkan matanya meringis menahan pedih, tak lama Luka itu tertutup kembali.

"Oh, kau masih punya sedikit kekuatan rupanya? Bagaimana kalau ku robek seluruh wajah sok cantikmu ini? Aku tak yakin kau masih punya tenaga untuk menyembuhkan dengan Luka sebanyak itu nantinya." Tangan Jonghyun menari nari diatas wajah Luhan memberikan beberapa Luka.

Luhan meronta sekuat tenaganya, mulutnya berdesis tajam. "Lepaskan tangan kotormu itu!"

Senyum Jonghyun semakin lebar, "Tak ada yang akan menolongmu disini, haruskah kurusak wajahmu sekarang? Sehun mungkin akan membuangmu jika kau menjadi jelek,!."

Luhan memejamkan wajahnya pasrah, ia sudah siap jika nantinya tangan Jongyun benar benar menusuk – nusuk wajahnya. Beberapa detik terlewat, Luhan tak merasakan apa apa selain tubuhnya naik keatas (masih dalam rengkuhan Jonhyun) disertai suara gaduh disekelilingnya. Saat Luhan membuka mata, didepannya Tiffany terbang dengan sayap putih dan sebuah cambuk ditangannya. Dibawah mereka Taeyeon terduduk dengan cahaya emas yang mengelilinginya.

Tiffany mengayunkan cambuknya, namun Jonghyun berhasil menghindar. "Cih, Pelayan dewi rendahan sepertimu tak pantas melawanku." Jonghyun melepaskan kuku – kuku tajam nya terbang menuju Tiffany, namun secepat kilat kuku – kuku itu hancur dengan cahaya emas dari Taeyeon. Melihat itu, Jonghyun membawa Luhan turun menapakkan kakinya kelantai, pandangannya terarah pada Taeyeon. "Oh, bahkan nona Golden Angel disini juga, Kau seharusnya hidup tenang dengan rajamu."

Taeyeon tak bergeming, ia menatap muka Jonghyun datar. "Lepaskan gadis itu,." Suara Taeyeon menggema diruangan itu, tak ada kelembutan disana seolah itu perintah mutlak tak terbantahkan.

"Tak semudah itu!." Jonghyun membawa tubuh Luhan naik semakin keatas, diikuti Tiffanny yang terus melesatkan cambuknya. Pertarungan antara iblis dan dewi itu terus berlanjut tanpa ada yang mau menyerah, sementara Luhan merasakan tubuhnya benar benar kesakitan karena cengkraman Jonghyun. Darah – darah segara itu menetes sedikit demi sedikit dari tubuh sang putri, membuat Tiffany dan taeyeon yang juga mendapat beberapa luka ditubuh mereka menatap Luhan iba.

Jonghyun adalah pengawal terbaik Dewa ares dulunya dan sekarang mengabdi pada Hyorin, mereka menyadari jika cukup sulit untuk melukainya. Tiffany sudah mulai kehabisan tenaga, beberapa goresan dan memar terpampang ditubuh mulusnya. Melihat itu Taeyeon berdiri dari posisi duduknya, ia mulai merasa jengah dengan pertarungan ini, Tubuh penuh luka itu berputar, lalu secepat kilat terbang keatas. Kini posisi mereka hanya beberapa jengkal dari langit langit perpustakaan, Taeyeon dan Tiffany saling menatap untuk sementara waktu lalu mengangguk serempak. Mereka berdua berpegangan tangan, dan dalam sedetik tubuh mereka menjadi satu. Dengan sedikit tenaga yang tersisa , mereka menyatukan kekuatan dalam satu tubuh. Wajah penuh Luka itu memunculkan wajah lain yang luar biasa cantik, dengan sayap putih yang semakin besar dan cambuk yang berubah dari warna hitam menjadi emas. Cambuk itu menyala siap untuk mencabik tubuh lawan yang didepannya. Sang Dewi terbang semakin tinggi membobol langit perpustakaan, menyerap kekuatan sang surya sore itu, dengan sekali ayun, ujung Cambuk itu melesat dari atas menuju Jonghyun.

"AAAAAHHHHHHHHHHHHH!" Sebuah Jeritan dari mulut sang putri menguar, percikan darah mencuat kemana mana. Membuat sang pemilik cambuk terkejut ."TIDAK!, PUTRRIIIIII!

Gadis itu, Luhan telah menjadi tameng dengan paksa untuk melindungi tubuh Jonghyun dari cambukan sang Dewi. Tubuh Lemah itu tak menunjukkan tanda tanda kehidupan setelah mengeluarkan jeritan kesakitan. melihat itu sang Dewi merasa bersalah, namun tak ada yang bisa mereka lakukan, tubuh mereka sangat lemah karena memaksakan kekuatan. Kesempatan itu dimanfaatkan jonghyun untuk menyerang mereka dan dalam sekali hempasan kepalan Jonghyun kedua tubuh itu terpisah, jatuh menatap lantai keras lalu tak sadarkan diri.

.

.

.

Pemuda itu memberontak pada tangan tangan mungil yang mencegah tubun penuh emosinya untuk bergerak. Pikiran kacau dan amarah yang meluap membuat keinginannya semakin besar untuk memberikan tonjokan tajam pada pria didepannya. Sementara itu, yang lebih muda masih tetap diam berdiri diposisinya, cukup terkejut mendapat pengusiran sepihak.

Tertuduh, tidak dipercaya adalah pukulan terbesar dalam hidup. Sehun hampir saja akan masuk dalam permainan emosi ini, dan bisa jadi halaman manshion itu menjadi arena baku hantam untuk keduanya. Beri tahu chanyeol bahwa mereka disisi yang sama, tapi itu bukanlah perkara mudah saat ini, dimana salah satu sisi merasa dihianati hingga amarah mengunjunginya dan sisi yang lain terlalu sulit untuk menjelaskan dengan penuh keyakinan. Sehun menundukkan kepalanya, menyesali keterlambatannya untuk menjelaskan semuanya, andai saja dia lebih jujur dan menceritakannya lebih awal, andai saja ia tak mengunjungi ibunya yang membuat ia semakin dicurigai. Sehun merasakan sesuatu menepuk pundak sebelah kanannya dan itu adalah tangan Tao. Jelmaan jam pasir itu menatap Sehun dengan senyuman yakin seolah olah berarti –aku percaya padamu – diikuti dengan Kai yang melakukan hal yang sama pada pundak sebelah kirinya. Sehun maju beberapa langkah mendekati chanyeol dengan perlahan lalu berhenti tepat didepannya.

"Maafkan aku hyung, aku tidak bisa. Kau bisa memukulku semaumu, tapi tidak dengan aku harus meninggalkan Luhan." Sehun berkata dengan penuh keyakinan.

Chanyeol menatap Sehun tersenyum sinis, "Kenapa? Kau ingin membawanya pada ibumu itu? Hah!."

"Aniyo, aku akan melindunginya dari ibuku!" Sehun tak bergeming, ia memutuskan untuk tak menyerah kepada Luhan

Mendengar itu chanyeol mendengus, tangannya mencengkram kerah baju Sehun, "Kau fikir aku akan percaya pada orang yang telah berbohong tentang ingatannya?" Sehun diam, otaknya berputar mencari cara agar chanyeol bisa percaya padanya.

"Kau bahkan terlihat seperti anak ingusan yang tak bisa jauh dari ibumu!." Bogem mentah mendarat kerahang Sehun, menimbulkan sebuah lebam pada sudut bibir sehun.

Sehun terjerembab jatuh ketanah, kesabarannya berangsur terkikis oleh emosi bersamaan dengan munculnya tanda di leher Sehun. Ia harus menahannya, seberapa sakit itu sehun harus menahannya sebelum semuanya menjadu jauh tak terkendali karena tanda laknat itu.

"Maafkan aku, ini salahku karena tak bisa menjauh dari Luhan." Sehun baru saja akan berdiri, namun bogem mentah chanyeol lagi lagi mendarat diwajahnya, kali ini darah segar keluar dari mulut Sehun.

Sehun tak ingin melawan, ia tahu kenapa chanyeol seperti ini dan seberapa chanyeol berusaha melindungi Luhan. Sehun menekan dalam dalam amarahnya, agar tanda itu tak muncul dan menyebabkan dia dan chanyeol jadi saling menyakiti lebih jauh.

"Maafkan aku, aku mencintainya Hyung," Sehun berkata dengan tulus, ia memejamkan matanya bersiap untuk menerima pukulan chanyeol sekali lagi.

Beberapa detik berlalu, Sehun tak merasakan apa apa lagi, tak ada pukulan dari chanyeol yang menyentuhnya atau menyerangnya dengan kata – kata tajam. Sebuah suara cekikikan membuat sehun membuka paksa matanya. Chanyeol sudah tak berada dihadapannya lagi, berpindah tempat dimana Kai dan Tao berada. Sehun sempat berfikir chanyeol akan memukuli Kai dan Tao yang membantunya, namun yang terjadi adalah teriakan ampun mereka karena Chanyeol menjewer telinga mereka masing – masing.

"Kau sudah merekamnya, baek?" Itu suara Xiumin, yang focus pada smartphone ditangan Baekhyun.

Sehun mengernyit heran, karena auranya berubah. "Kau tak merasa memukulnya terlalu keras, dobi?" Kyungsoo bertanya pada chanyeol, sementara tangannya menyentuh wajah lebab sehun dengan tatapan iba yang dibua buat.

"Aku tak bisa mengontrol tenagaku kyung, tapi hasilnya sesuai bukan, bocah itu mengatakannya." Chanyeol menjawab, masih dengan posisi menjewer Kai dan Tao

Sehun semakin heran dengan apa yang terjadi, "Ada apa ini?"

Xiumin yang tau dengan keheranan sehun menjelaskan ." Oh, kami mengerjaimu, dan mereka berdua." Xiumin menunjuk Kai dan Tao dengan kedua dagunya. Sehun masih belum mengerti. "Kami bermaksut memberi hadiah untuk Luhan, tapi kami tidak mungkin memaksa atau memintamu mengatakan kata cinta padanya, jadi kami memanfaatkan keadaan." Lanjut Xiumin dengan wajah tanpa dosa.

Sehun masih mencoba mencerna apa yang terjadi, ia baru akan meminta penjelasan pada Xiumin, namun diurungkan karena suara dari Smartphone Baekhyun. Semua pandangan teralihkan pada saat hasil rekaman suara Sehun, diputar dengan sangat keras oleh Baekhyun.

"Wah, Suara sehun bergetar, terlihat tulus bukan?" Baekhyun memberikan komentarnya dan mendapat tatapan jengah dari sehun.

Sehun yang mulai mengerti maksut merekapun memastikan. "Jadi, chanyeol hyung berpura pura tak mempercayaiku hanya untuk mendengar aku berkata bahwa aku mencintai Luhan?" . Mereka semua mengangguk mantap kecuali Kai dan Tao, sebagai jawaban dari pertanyaan Sehun.

Sehun, menghela napas lalu bertanya lagi. "Jadi, kalian mengerjaiku?". Lagi – lagi mereka mengangguk. "Harus sampai memukulku?". Lanjutnya,

"Pukulan itu hukumanmu, karena tak menceritakan semuanya pada kami dari awal". Kali ini Chanyeol yang menjawab, "Dan jeweran ini juga hukuman karena kalian telah membantu untuk menyembunyikannya." Lanjut Chanyeol sambil melepas jewerannya, dan membiarkan Kai dan Tao mengelus iba pada telinganya masing masing.

Chanyeol mendekati Sehun lalu merangkulnya. "Aku dan lainnya juga percaya padamu, jadi jangan pernah lagi menyembunyikan apapun dari kami, apalagi menanggung semua beban itu sendiri." Chanyeol tersenyum dan dibalas pelukan oleh Sehun. "Terima kasih hyung"

Semuanya telah selesai, mereka bermaksut kembali masuk ke manshion sebelum sehun bertanya lagi. "Kalian benar – benar akan memberikan rekaman itu padanya?"

Xiumin mengangguk, Xiumin bertanya "Kenapa? Luhan sudah lama menunggu kau mengatakannya."

Sehun menghembuskan napasnya, "Aku baru akan mengatakan padanya saat kencan sebentar lagi."

Mendengar kata kencan, Kai ikut bersuara. "Apa? Disaat genting seperti ini kalian berfikir untuk berkencan, aku tidak terima.!"

Mendengar komentar Kai, Baekhyun memutar bola matanya malas. "Kau bicara seolah olah, kau tak sembunyi sembunyi kencan dangan Kyunsoo saja."

Mendengar namanya disebut, Kyungsoo tertunduk malu sementara yang lainnya tertawa tak peduli dengan kai yang mendengus kesal. Mereka akhirnya masuk kedalam manshion bersama sama, duduk santai diruang tengah menunggu Luhan pulang sekolah. Sehun mengusulkan diri untuk menjemput Luhan, namun dilarang oleh kyungsoo karena ia masih terluka oleh perbuatan Chanyeol. Sementara yang lain, sudah berjanji pagi tadi pada Luhan untuk tidak menjemputnya jika Luhan tak meminta. Sehun sibuk mengoles Luka lukanya dengan salep yang diberikan kyungsoo, sebenarnya luka itu bisa cepat sembuh dengar kekuatan Ratu Lay, namun Sehun tak ingin mengganggunya. Mereka masih asyik saja dengan aktifitas masing – masing sebelum mendengar jeritan dan langkah tergopoh gopoh dari pavilion tempat Ratu Lay tinggal. Mereka semua berlari menuju asal suara dan dilihatnya, sang ratu terduduk menahan perih didadanya.

"Tolong!, Luhan dalam bahaya.!" Lay berkata sambil menahan sakit dalam bopongan Kyungsoo dan Xiumin.

"Kita harus menolongnya" Perintah Chanyeol." Tao, kau jagalah Ibunda ratu bersama Kyungsoo dan Xiumin, sementara yang lain ikut aku mencari posisi Luhan." Mereka mengangguk setuju.

.

.

.

Baekhyun, Sehun dan Chanyeol baru saja tiba di gerbang sekolah dengan teleportasi Kai. Chanyeol baru saja akan memerintahkan mereka untuk berpencar mencari posisi Luhan, sebelum Sehun mengingat sesuatu.

"Perpustakaan sekolah." Ucap sehun tiba tiba membuat ketiga orang disana menatapnya . "Kita memiliki janji untuk bertemu diperpustakaan sepulang sekolah, kurasa Luhan disitu." Lanjut sehun.

Tanpa aba – aba Kai membawa mereka bertiga menuju perpustakaan. Setiba mereka disana yang terlihat hanyalah perpustakaan yang terlihat berantakan. Mereka mencoba masuk sambil tetap waspada, perpustakaan itu berubah menjadi sangat gelap gulita seolah ada sihir yang menahan cahaya untuk masuk.

"Baek," Mendengar namanya disebut , Baekhyun mengerti lalu menjentikkan jarinya yang dengan ajaib membuat cahaya cahaya mengelilingi tubuh mereka masing masing.

Sehun dan Chanyeol berjalan menuju sisi kiri, sementara baekhyun dan kai ke sisi kanan. Baru beberapa langkah, jeritan baekhyun dan kai terdengar membuat chanyeol dan sehun berlari menuju mereka.

Pemandangan yang mengerikan, tubuh penuh luka tiffany dan taeyeon tergeletak tak sadarkan diri, sementara di sudut perpustakaan Luhan juga mengalami hal yang lebih parah dengan darah yang terus menetes dari tubuhnya dalam rengkuhan makhluk mengerikan. Chanyeol yang melihat Luhan tak sadarkan diri menjadi murka dan bersiap mengeluarkan phoenix firenya namun dicegah oleh baekhyun.

"Jika kau menyerangnya langsung, Luhan akan terkena imbasnya." Baekhyun menjelaskan.

"Kalau begitu aku akan bertelerport mendekatinya." Usul kai

Baekhyun tak setuju juga ."Jangan, kau akan melukai dirimu sendiri."

Makhluk itu menyeringai, menatap sehun dengan tatapan mengejek. Sehun mengenal makhluk itu, makhluk yang tak penah sejalan dengan dirinya, makhluk yang terus menjilat pada ibunya, makhluk licik yang tak memiliki satupun rupa, Makhluk itu HONG JONGHYUN. Ketiga pria itu mulai frustasi karena tak bisa menyerang makhluk itu takut Luhan ikut terluka, sementara Baekhyun masih tetap tenang seolah makhluk didepannya ini bukan apa apa.

"Sehun,." Mendengar namanya dipanggil oleh Baekhyun, Sehun menoleh. " Aku akan memancingnya, sampai pengawasannya pada Luhan lengah, saat itu kau serang dia." Sehun mengangguk setuju. Baekhyun melanjutkan " Kai, kau bersiaplah membawa Luhan secepat kilat setelah makhluk itu menghiraukan Luhan dan Chanyeol harus melindungik disaat makhluk itu terpancing emosi, kalian mengerti?" . Mendengar taktik Baekhyun, mereka hanya bisa mengangguk setuju.

"Wah, aku tahu kenapa tempat ini gelap." Makhluk itu menoleh, menatap baekhyun yang melangkah maju perlahan. "Karena kau terlihat buruk, kau ingin menutupi wajah jelekmu itu. Benar bukan?" Baekhyun mulai memancing dengan mulut pedasnya.

Makhluk Tak berupa itu menoleh, menatap baekhyun Tajam ,"Cih, pelayan rendahan!"

Baekhyun tertawa mendengar penghinaan dari lawannya, membuat semua orang disana terheran heran apa yang terlihat sangat lucu dan patut untuk ditertawai disaat genting seperti itu, Chanyeol yang sudah mengenal baekhyun dengan baik hanya mendesah pasrah –Bakat alami Baekhyun yang tersembunyi – batinnya .

"Aku seperti mendengar suara pecahan kaca, bahkan suaramu membuat telingaku sakit." Baekhyun berucap dan menatap sang iblis tanpa rasa takut, sementara chanyeol disisinya menatap maklum dengan hobi baekhyun yang membuat orang emosi.

Sang iblis mendengus, ia melemparkan kuku – kuku tajam nya menuju baekhyun, namun kuku kuku berterbangan itu terlebih dulu hangus oleh api chanyeol. Baekhyun menatap ngeri dengan hangusnya kuku – kuku itu, sementara Chanyeol tersenyum bangga seolah berkata -Aku hebat bukan- dan berakhir baekhyun yang memutar bola matanya malas.

"Ah, kau bahkan tak sehebat itu." Baekhyun memulai lagi, seolah serangan tadi bukan apa – apa, ia harus memancing si iblis lebih dalam. "Kau tak tau siapa aku? Aku Baekhyun, si cantik dari Luxion. Makhluk jelek sepertimu, bukan styleku." Mendengar kata – kata ini, seketika membuat Sehun dan Tao ingin muntah, dan berakhir dengan hadia deathglare dari Chanyeol. Dimata Chanyeol Baekhyun memang cantik.

"Kau hanya akan diam disitu?" Baekhyun bertanya, tanpa memerlukan jawaban si iblis. "Ternyata kau selemah itu, gadis lemah itu tak kan kemana – mana, jika kau memang hebat, ayo lawan aku!." Baekhyun semakin menantang.

Mendengar penghinaan dari gadis kecil didepannya, Jonghyun berdiri mendekat, tatapan matanya sepenuhnya teralihkan dari luhan rengkuhan pada Luhannya pun terlepas. Makhluk itu menatap tajam, emosi menguar dimana – mana ingin mencabik tubuh baekhyun sementara yang ditatap mulai mundur perlahan sambil tersenyum disertai tatapan –Kena kau! – .

"Sehun, Kai. SEKARANG!" Baekhyun berteriak saat makhluk itu akan merengkuhnya dalam perlindungan Chanyeol.

Sehun terbang dengan sayap hitamnya, mendorong Jonghyun dan melemparkannya ke tembok membuat tembok itu retak hancur berantakan. Sementara itu, Kai mulai berteleportasi memindahkan Luhan kesamping Baekhyun.

"Lu, tolong sadarlah!." Baekhyun membawa Luhan dalam pelukannya, menepuk nepuk pipi cabi gadis itu namun tak ada respon apapun dari empunya.

Chanyeol dan Kai mengalihkan perhatian mereka dari Luhan, menatap Sehun yang bersusah payah menyerang sambil Manahan rasa sakit. Mereka berdua tahu, Sehun tak bisa mengeluarkan seluruh kekuatannya selama tanda ares itu masih ada, ia akan merasakan kesakitan teramat sangat jika terus memaksa. Jika terus seperti itu, bisa jadi Sehun akan menjadi murka dan kehilangan kendali, Chanyeol dan Kai pun berfikir untuk membantu Sehun.

"Baek, kau disini. Jagalah Luhan, aku dan Kai akan membantu Sehun." Baekhyun hanya membalas dengan anggukan.

Mereka terus menyerang bergantian, Kai memukul dan berpindah pindah tempat semaunya, membuat makhluk ini semakin jengkel dan marah. Sehun terus berusaha menyerang tanpa melewati batasannya, pukulan dan tendangan bertubi tubi ia arahkan pada JongHyun. Disisi lain chanyeol terus melemparkan Pheonix Firenya pada Jonghyun, sambil terus mengawasi Sehun agar tak berlebihan. Pertarungan terus berlanjut bersamaan detik waktu yang terus berjalan. Perpustakaan Luas itu hancur Lebur, kobaran api dimana – mana.

Ketiga pria itu terus focus untuk saling menyerang makhluk keji itu. Tentu saja, satu melawan tiga adalah hal yang tidak sebanding, Hong Jonghyun mulai kewalahan, mustahil baginya untuk memenangkan pertarungan ini, akhirnya ia mengeluarkan kemampuan terakhirnya . Tubuh iblis itu membesar dan terus membesar disertai lendir lendir hitam pekat disekujur tubuhnya, perlahan lahan muncul duri duri kecil diantara lendir lendir tersebut. Duri duri kecil itu semakin besar dengan ujung tajam, melihat itu Sehun, chanyeol dan Kai mundur perlahan sambil tetap focus pada perubahan iblis didepannya.

Dalam hitungan detik, dengan sekali hempas Duri – duri tajam itu terbang kemana – mana terus meluncur dan menusuk apapun yang menghalanginya. Chanyeol terus membakar duri – duri itu dengan apinya, Kai berpindah pindah menghempaskan duri duri yang menuju dirinya. Sementara itu, Sayap Sehun semakin lebar dan dalam sekali hempas duri – duri tajam itu jatuh berserakan ketanah sebelum menyentuh tubuhnya. Tanpa ketiga orang yang sedang bertarung itu sadari, Jonghyun telah melepas beberapa duri menuju Tubuh Luhan, setidaknya sekalipun ia gagal membawa Luhan ke depan Ratu Hyorin, Luhan harus mati ditangannya.

Baekhyun yang berada disisi Luhan adalah satu satunya yang menyadari jika Tuan putrinya dalam bahaya, secepat kilat ia mengeluarkan Lightsabernya untuk menahan duri duri itu. Baekhyun tidaklah lemah, dia salah satu petarung wanita terbaik di Luxion bersama Xiumin dan Kyungsoo, Namun jika ribuan duri duri menyerangnya dari berbagai sisi sementara ia harus tetap waspada agar Luhan tetap terlindungi , itu adalah hal sulit. Baekhyun menahan, menebas duri duri itu sekuat tenaga beberapa duri menusuk bahu dan kakinya membuat sang pemilik Lightsaber itu menjerit kesakitan.

Chanyeol yang menuju jeritan kekasihnya itu, mendekat lalu membantunya menghalangi duri duri itu menuju Luhan. Tatapannya emosi melihat darah mengalir dari bahu dan kaki kanan baekhyun. Bagi Chanyeol, Baekhyun adalah gadis yang kuat baik mulut maupun pribadinya, ia bukan tipe gadis yang akan menyerah begitu saja, Jiwa tangguh sudah mengalir dalam darahnya sedari kecil itulah mengapa Luhan memilih Baekhyun disisinya.

Setelah beberapa duri yang menghadangnya musnah, Sehun terbang dan akan terus menyerang Jonghyun namun suara Chanyeol menghentikannya. "Sehun, Kai cukup!, kita harus pergi dari sini, Luhan dan Baekhyun terluka Parah!"

Sehun terbang dan membawa Luhan dalam gendongannya, lalu menghilang dibalik awan. Sementara kai membawa Tiffany dan Taeyeon yang mulai sadar serta chanyeol bersama baekhyun dalam pelukannya. Mereka menghilang tanpa jejak, Kini tinggalah Jonghyun yang merintih kesakitan didalam reruntuhan perpustakaan.

"Memalukan,! Kau mengatasi mereka saja kau tak becus.! Kembalilah kesini segera!"

Mendengar bisikan itu, Jonghyun menjawab "Baik Ratu" Lalu menghilang bagai asap meninggalkan perpustakaan yang telah hancur itu.

.

.

"Wah, pedangnya menyala"

"Itu Lightsaber, kau bisa menghancurkan musuhmu dengan itu"

"Terima Kasih Tuan putri,
aku akan menjaga pedang ini baik – baik untuk melindungimu,
kau cukup kuat sekarang, tapi aku berharap aku bisa bertarung untukmu, nanti, entah kapan"

"Berhenti memanggilku putri eonni, atau akan kutukar lightsaber itu dengan pisau dapur"

"Tidak mau!,
Dalam Lightsaber ini telah terukir namaku, -Byun BAEKHYUN- "

.

.

.

-TBC-


.

NEXT?

Thank's to all readers

mind to review?

.

.

.

Hy i'm newbie,,,

is my first story,

Dont be plagiat ,

Hope U like,, and

Just Know ''ILY''

-BAMBIE520