Cap delapan : love
Hinata tidak bisa menahan laju air matanya. Tubuhnya begetar antara takut dengan perubahan Sasuke dan takut pada sosok makhluk bersayap di hadapannya. Pria yang bermesra dengannya sekarang berubah menjadi makhluk mengerikan.
Makhluk itu memiliki sayap dengan tubuh hitam, auranya menyeramkan dan ia merasa terintimidasi dan sulit bergerak…inikah sosok Sasuke sesungguhnya? Kenapa Sasuke seperti ini? Banyak sekali yang ingin Hinata tanyakan, tapi mulutnya tidak mau terbuka apalagi mahkluk itu menyeringai ke arahnya.
Hinata mundur, merangkak menjauh. Ia benar-benar ketakutan. Namun monster itu menangkap kakinya dan membantingnya dengan keras ke atas lantai rumah kayu. Ia memekik. Monster itu tertawa. Tawa yang menakutkan.
Wanita itu merasakan sakit di area punggungnya, ia bersusah payah berusaha bangun. Tidak peduli pada tubuhnya yang telanjang. Ia berdiri berusaha lari, benar-benar harus pergi dari sana. Namun sayang sekali kakinya kembali ditarik dan dibanting sekali lagi ke lantai.
BRAK—Rasanya tulang punggungnya jadi remuk. "UHHHHH…!"
Kemudian makhluk berwarna hitam itu merenggangkan pahanya. Perempuan itu ketakutan dan berontak. Monster itu menahan tubuh sang gadis dan mencekik lehernya. Matanya kemudian berubah merah dan mengirim ninjutsu pada perempuan itu.
Hinata segera mengantisipasinya dengan byakugan. Ia terlepas dari jurus ilusi namun lehernya masih dibelenggu oleh tangan itu. Ia sulit bernafas. Tidak ada cara lain bagi Hinata selain mengeluarkan jurusnya. Sial ini bukan Sasuke… mahkluk apa yang menguasai tubuh lelaki ini?
Ia menghantam telapak tangannya. Namun lelaki itu bahkan tidak bergerak sama sekali. Jutsu itu sama sekali tidak ada pengaruh pada tubuh monster itu. Mahkluk itu memandangnya tajam. Hinata merinding pada pandangan tajam moster itu…mata itu…mata yang begitu dirindukannya… mata….
Tidak…! Ia tidak boleh terpengaruh oleh jutsu Sasuke. Hinata menggelengkan kepalanya…ia harus menyelamatkan Sasuke. Sekarang baru ia mengerti kehebatan mata klan Uchiha…jutsu yang tak bisa kau lawan. Tapi ia adalah Hyuuga…klan yang bisa menyeimbangi kekuatan klan itu.
"Maafkan aku Sasuke." Ia terpaksa mengunakan jutsu itu lagi…demi menyelamatkan pria yang baru saja ia cinta.
Urat-urat disekitar matanya bermunculan lagi, dengan menggunakan kedua tangannya ia menciptakan jutsu… mencoba mengendalikan aliran darah pria itu…
Sedangkan di luar makhluk dengan tubuh dua warna menciptakan segel di tanah. Mereka focus pada titik tengah segel itu—segel itu melingkar dan memanjang pada pohon kemudian menuju rumah pohon yang di buat oleh Hinata, segel itu melingkari rumah pohon itu seperti tubuh ular.
Segel yang melingkar di tempat duduk makhluk berwajah dua warna itu pelan-pelan pudar dan…mulai goyah. Zetsu tahu. Perempuan di dalam sana berusaha menarik kesadaran Sasuke kembali.
"Sial!…Zetsu hitam lakukan sesuatu pada perempuan Hyuuga itu. Atau apa yang kita lakukan ini akan berakhir sia-sia"
"Apa aku perlu mengunakan cakra Kyubi?"
"Tidak! Jangan sekarang. Kalau kita menggunakan itu kemungkinan Kyubi akan sadar. Dan akan mengudang banyak shinobi ke sini."
"Hei Zetsu putih aku tidak ingin gagal lagi seperti Madara. Setelah apa yang kita lakukan bertahun-tahun lamanya." Sebelah wajah itu menyeringai.
"Tentu saja. Kali ini kita tidak akan gagal. Kita akan membangkitkan Tuan kita."
YOU'LL BE IN MY HEART
Rating : M
Pairing : Sasuhina
Genre : Drama/angst
Warning : CANON, OOC, typo, abal, gaje, ide pasaran, dan lain-lain
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
"Jadi Hogake-sama untuk apa kita disini?" Shizune memandang tidak mengerti pada gurunya dan komplek klan yang mungkin tidak ia sukai. Gurunya tidak menjawab tetapi terus berjalan.
Perempuan kepercayaan Hokage itu merasa jengkel dengan suara yang menganggu pendengarannya, lalu dengan cepat menggunakan tangan untuk memusnahkan suara yang menganggu.
PLAK…! Dan ia harus menyesal dengan tindakannya karena dengan cepat salah satu shinobi muncul tepat di depan mukannya.
"Kau baru saja membunuh serangga." Shizune tersenyum kaku sedikit gementar dengan aura yang muncul di muka shinobi itu. Hokagenya hanya melirik saja.
"Jangan melakukan hal sembarangan, kita lagi di tempat klan Aburame." Wanita itu mengangguk, sial ia memang tidak suka ada di komplek ini. Suasananya terlihat sangat suram.
Kemudian Tetua klan itu muncul di hadapan mereka. Tatapan mengerikan yang ia punya langsung di arahkan pada wanita disamping Hogake mereka, membuat perempuan itu langsung menciut.
Hogake sedikit faham dengan tingkah orang-orang di klan ini. Mereka memang tidak menyukai orang yang membunuh peliharaan mereka.
"Hokage-sama kurasa anda tidak akan memperoleh apapun bila bila ingin bertemu denganya. Ia sudah sangat tua dan pikun, anda tidak lupa kalau umurnya setara dengan Nidaime Hokage. Kan?"
Tsunade paham, tapi kemungkinan besar orang itu tahu tentang masalah Hyuuga. Apapun itu ia tidak ingin ada perselisihan klan lagi di Konohagakure. Ia tidak ingin perjuangan Naruto demi kedamaian dalam dunia ninja menjadi sia-sia.
"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya." Tetua klan Aburame itu mengernyit heran. Ia memang penasaran tapi ia tahu ia mungkin belum boleh ikut campur.
"Tetua kami kemungkinan tidak bisa memberikan informasi apapun pada anda. Hogake-sama." Tsunade kembali mengangguk. Kemudian Tetua Klan Aburame membawa mereka pada salah satu perumahan.
Perempuan yang menjabat sebagai Hogake itu tidak yakin dengan langkahnya ini. Tapi mengambil kesimpulan tanpa tahu apa-apa akan menyulitkan pengantinya nanti. Makanya ia perlu memastikan sesuatu ada hubungan apa diantara dua klan? Hyuuga dan Uchiha.
Harapannya muncul ketika ia ingat seseorang yang masih tinggal. Teman adik kakeknya terdahulu. Teman Nidaime Hokage yang masih hidup.
"Ini ruangannya Hokage-sama." Perempuan itu mengangguk. Kemudian mereka masuk ke dalam…terdengar kekehan nyaring di dalam sana. Shizune mulai merasakan perasaan tidak enak.
Akhirnya perasaan itu bergejolak di perutnya dan naik dengan cepat menuju tenggorokannya. Dan tenggorokannya tidak dapat menampung segala isinya. Shizune bergegas keluar….HUEEEEK…
Tsunade menggelengkan kepalanya prihatin. Untuk orang pertama bertemu pria tua itu juga pasti akan seperti Shizune. Tsunade kembali melihat kedepan di sana duduk orang yang paling dihormati oleh seluruh klan Aburame.
Wajah pria itu tidak terlihat sepenuhnya. Mulutnya terbuka dengan banyak serangga keluar-masuk dalam rongga mulut dan hidungnya. Bahkan serangga itu menutupi wajah dan menyisakan matanya saja.
"Tetua-sama. Hogake-san ingin berbicara dengan anda." Tetua klan Aburame itu memberi hormat dengan cara duduk bersila dan menundukkan kepalanya kebawah sampai menyentuh lantai. Demi menghormati Tsunade ikut juga menundukkan kepalanya.
Namun pria sangat tua itu tidak merespon sama sekali. Wajahnya masih seperti tadi dengan mulut terbuka lebar. Melihat hal itu Tsunade berinisiatif membuka suara.
"Kentako Aburame-san saja Tsunade cucu dari Hashirama senju." Ia berharap pria ini akan sedikit memperhatikannya kalau tahu ia cucu dari temannya.
Tetua klan Aburame itu terbelalak, dengan cepat seluruh serangga masuk kembali ke dalam mulut dan hidungnya , Shizune yang baru masuk harus kembali keluar—HUEEEEK—dan memuntahkan kembali apa yang ia makan tadi pagi.
Tsunade tersenyum dengan reaksi pria tua itu. Ah memang gampang kalau kalau pria tua itu diingatkan pada sahabatnya. Namun ia terkejut dengan kehadirannya yang begitu cepat disampingnya. Biarpun lelaki itu sudah sangat tua. Tapi kecepatannya, memang luar biasa. Tsunade kembali tersenyum klan Aburame memang shinobi yang hebat.
"Hashirama tidak kusangka kau punya dada—kupikir dulu kau laki-laki…ternyata kamu…khe…khe…" Tsunade berkedut kesal dengan tangan pria tua itu di payudaranya . lelaki tua itu terus menekan daerah itu dan terkekeh, orang yang menjabat Tetua di Aburame sekarang… menepuk jidatnya.
DUAKH!—lelaki itu terlempar ke dinding ruangan itu dengan kepala duluan yang menghantam papan kayu.
"Aku cucunya…! cucunya…!dasar masih mesum seperti biasanya."
"AKU TAHU…KAMU BUKAN HASHIRAMA KAU MIKO! SUDAH KU BILANG JANGAN MENIKAH DENGAN WANITA KASAR ITU! HIDUPMU SUDAH MAMPUS HASHIRAMA." Kali ini kedutan di dahi Tsunade bertambah banyak. bukan karena pria tua yang teriak-teriak dengan suara tidak jelas.
DUAHK—itu karena lelaki yang sudah uzur itu kembali menyentuh dan meraba-raba tubuhnya.
Tsunade berdehem—lelaki tua itu sudah duduk kembali dengan mulut terbuka lebar dan serangga kecil kembali keluar-masuk di daerah tersebut. Shizune menyerah, wanita itu memutuskan untuk di luar saja.
"Aburame-sama ada hal yang ingin aku tanyakan padamu?" lelaki itu melihat lurus ke arah Tsunade, ia mengernyit bingung.
"Kau siapa?" wanita yang menjabat sebagai Hokage itu mengusap dahinya. Memang sulit bicara dengan kakek tua yang pikun. Sedangkan Tetua yang bersama Hokage menyilangkan kedua tangannya.
"Sudah saya bilang akan sulit menggali informasi darinya." Wanita itu menghela nafas.
"Aku ingin tahu tentang Hyuuga dan Uchiha."
Lelaki itu menutup mulutnya lagi. Pandangannya lurus kedepan. Tsunade diam. Pria yang seumur dengannya yang menjabat sebagai Tetua Aburame juga ikut diam sekaligus penasaran. Ia sendiri tidak tahu kisah dua klan itu.
"Klan bermata putih itu aneh…" Tsunade sedikit mendekat.
"Ceritakan padaku Aburame-san kenapa mereka aneh…kalian klan yang paling dekat dengan klan Hyuuga selain Inuzuka. Iya kan?" pria itu membuka mulutnya dan seluruh serangga mulai keluar dari mulutnya dan berterbangan kemudian serangga itu menempel di dinding dengan sangat banyak. sampai dinding yang terbuat dari kayu tertutupi.
"Kami tidak dekat dengan klan itu. Mereka hanya memanfaatkan kami demi menyingkirkan Uchiha."
"Apa mereka sangat membenci Uchiha?" Tsunade mendekat lagi sejengkal…ia begitu penasaran. Lelaki itu diam. Hokage masih menunggu, namun ia jadi jengkel ketika mendengar dengkuran kasar si lelaki uzur itu.
"Sudah saya bilang. Hokage-sama."
…
Kuil suci di selatan barat tempat berdiri perumahan Hyuuga. Dibangun oleh pendeta bernama Hyuuga. Sejak ia kehilangan seorang yang sangat ia cintai ia sudah menetapkan marga untuk keturunannya.
Kuil itu adalah lambang cintanya pada wanita itu.
Seorang lelaki memasuki kuil itu, rambutnya sudah memutih. Pertanda umurnya yang sudah lansia. Ia memang yang paling tua di klannya. Orang yang dipercaya untuk memelihara kuil Hyuuga. Sekaligus tetua klan itu.
Ia memasuki aula pemujaan yang di khususkan untuk Byakuya. Dewi air itu dipercaya oleh klan Hyuuga pemberi rahmat sekaligus ibu dari semua anak-anak Hyuuga. Kemudian ia memasuki lebih ke dalam sampai di area terlarang. Ruangan itu tidak boleh dimasuki oleh siapapun bahkan oleh Hyuuga sendiri. Hanya tetua Hyuuga yang boleh dan penerusnya nanti.
Ruangan itu agak remang-remang walau lebih menjurus ke gelap. Tapi biarpun ruangan itu berumur ribuan tahun ruangan itu tetap bersih dan rapi. Karena hampir tiap hari Tetua Hyuuga membersihkan tempat itu.
Ruangan itu bisa dibilang kosong, karena tidak ada perabotan di sana. Hanya ada rambut yang yang sangat panjang di lantai. Memenuhi ruangan kosong itu, bahkan tidak menyisakan sedikit ruang untuk benda yang lain. Rambut itu milik seorang yang ada di ruangan kosong itu.
Seseorang itu adalah perempuan berkulit putih dengan sayap berbentuk angsa berwarna putih. Pandangannya kosong dengan tubuh tanpa jantung. Itu terlihat karena di dada bagian kirinya terbuka dan menampakkan isi di dalamnya.
Wanita itu tidak membusuk ataupun menyusut, walaupun tidak bernyawa. Ia hanya butuh jantungnya kembali. Wanita itu sang dewi air—Byakuya. Dewi yang dipuja oleh klan Hyuuga—
Ia membersihkan jari-jari tangan wanita itu dari debu. Itu adalah pekerjaan rutinitasnya. Kemudian ia mengecup jari itu. "Selamat malam. Sayang."
Lalu kemudian menyisir rambutnya yang panjang. Tangan pria itu gemetar, semenjak dari tadi perasaannya tidak enak. Gemetarnya tidak hilang tapi bertambah parah…sesuatu di lubuk hatinya memberitahu tentang perpisahan lagi.
Seperti bapak moyangnya yang ditinggalkan Byakuya. seperti ibunya yang meninggalkan ayah dan dirinya…perasaan seperti itu muncul lagi. Kemudian ia menangis—menangis tersedu-sedu.
Pria itu jatuh berlutut, memeluk kaki perempuan itu yang sedikit lebih besar daripada wanita umumnya…tubuh Byakuya memang. Untuk versi manusia, wanita itu bisa disebut raksasa.
"Jangan tinggalkan kami…jangan tinggalkan Hyuuga…kumohon."
"Jangan…datang padanya. Tetaplah disini." Perasaan di dadanya sesak, memori dimasa itu kembali hadir dalam otaknya.
Saat itu ia menggendong tubuh kecil adiknya…matanya bengkak karena habis menangis semalaman, adiknya juga tidak pernah berhenti menangis. Suaranya serak karena terus memanggil ibunya. Senja itu menjadi senja yang paling menyedihkan dalam hidupnya. Ia melihat tubuh ibu yang berlumuran darah dalam pangkuan ayahnya. Dibagian kiri dada ibunya ada lubang yang besar. Senja itu para lelaki dalam klan Hyuuga mengalirkan air mata, bahkan Tetua yang terkenal tegas dan kaku hari itu juga ikut menangis.
Ia ingat kata-kata yang keluar dari setiap laki-laki yang ada di sana.
"Byakuya. Jangan tinggalkan kami." Padahal ibunya tidak bernama Byakuya.
"Kenapa…kami yang selalu ditinggalkan?"
"Byakuya. Jangan tinggalkan kami.
Senja yang benar-benar menyedihkan.
"Byakuya. Jangan tinggalkan kami." Ia menyentuh jari-jari kaki di tubuh tanpa nyawa itu. Lalu menciumnya.
"Jangan…jadikan kami selalu yang ditinggalkan."
…
"ARRRRRARRRGGGGGRRR!" Hinata mengerakkan tangannya sehingga mahkluk itu ikut mengikuti gerakannya. Ketika ia ingin melemaskan otok-otot monster itu dengan cara menyempitkan pembuluh darahnya. Makhluk hitam itu melolong lebih keras dan dengan gerakan cepat tangannya melayang ke pipi Hinata hingga ia terlempar ke dinding.
Pipinya panas di sudut bibirnya keluar darah. Matanya sedikit berkunang-kunang dan jutsunya terlepas. Diluar Zetsu menyeringai. Segel yang ia buat, ia perkuat dengan cakra, segelnya bertambah tebal…ia memang menarik sisi dalam Sasuke yang jelmaan Tuannya…walaupun ia bukan reinkarnasinya.
Sekarang ia berusaha mengirim jutsu ilusi pada wanita Hyuuga itu, agar tidak terus berontak. Wanita Hyuuga itu adalah wadah tempat lahir Tuannya… Uchiwa—ia tidak sabar menanti kelahiran Tuannya.
Hinata semakin ketakutan apalagi mata mahkluk itu berwarna merah. Ia menggunakan jutsu yang sama dengan Sasuke. Monster itu mendekat, Hinata hanya bisa bergeser. Tubuhnya lemas rasanya seperti ada yang menahannya untuk tidak bergerak.
Mahkluk itu membuka pahanya, dengan sayap ia membuka kewanitaan Hinata. Cairan yang ada di sayap itu memasuki di tempat sensitifnya. Rasanya panas dan kesadarannya samar-samar menghilang.
Ketika kejantanan monster itu mengesek kewanitaannya. Dengan kesadaran yang masih hadir walaupun tipis, ia berusaha memanggil kekasihnya.
"Sasuke ini…aku Hinata. Sadarlah…aku Hinata."
"Aaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggg!" mahkluk itu melolong lagi. Tangannya yang berkuku tajam mencengkeram kepalanya. Urat-urat di sekitarnya nampak menonjol bergaris biru…perlahan warna hitam di tubuhnya memudar.
Zetsu yang menggunakan segel…panik ketika segel yang ia buat perlahan menghilang, ketika ia ingin menambah jumlah cakra.
BLARRRRR… BUMHH!
Cakra itu meledak dan membuat tubuhnya terlempar sejauh beberapa meter.
"Sial." Lelaki dengan dengan tubuh dua warna itu mendecih. Bahkan sebelah kakinya hancur. Namun karena tubuhnya terbuat dari tumbuhan ia dengan mudah menumbuhkannya kembali.
"Zetsu putih apa sebaiknya kita menggunakan cakra Kyubi saja?"
"Tidak…tidak usah terburu-buru kita masih punya banyak waktu." Zetsu hitam mendecak.
"Aku tidak bisa bersabar."
"Apa Kau ingin gagal seperti apa yang kita lakukan pada Madara?!"
"Cih…madara terlalu mencintai adiknya…hingga ia merelakan perempuan Hyuuga itu."
"Kurasa kita harus pergi dari sini…sebelum bocah Uchiha itu menyadari kehadiran kita."
…
Stunade menghela nafas lagi sudah lebih sejam ia menunggu, dan lelaki tua yang ada di hadapannya hanya terkekeh dan semenit sekali ia akan lupa dengan perempuan itu dan tertidur.
"Jadi…?" Hokage berusaha sabar.
"Waktu itu Harashima mengatakan pada kami kalau ia sudah menemukan tanah untuk membuat desa. Kami bersorak bahagia karena mencari tanah kosong dan tempat yang cocok tidaklah gampang."
Stunade diam…apa lelaki ini sudah ingat.
Dulu Hashirama Senju merasa sedih melihat petempuran antar klan. Banyak orang yang mati tanpa alasan. Ia punya cita-cita mewujudkan perdamaian dengan bersatunya para klan.
Akhirnya ide itu terwujud ketika salah satu klan terbesar dan terkuat. Uchiha punya pemikiran yang sama. Bersatunya dua klan besar. Kuat dan selalu bertentagan itu. Membuat klan-klan di bawahnya memilih ikut bersama klan Uchiha dan Senju membangun sebuah desa dan mengikralkan perdamaian dalam dunia ninja.
Klan Aburame. Inuzuka. Yamanaka. Nara dan Akamichi kemudian juga ikut bergabung bersama Senju dan Uchiha. Tetapi ternyata tidak mudah untuk mencari tanah untuk dijadikan desa.
Banyak daerah yang tidak menerima kehadiran klan ninja. Saat itu mereka sempat putus asa. Yang pada akhirnya membuat Hashirama dan Madara mencari tanah kosong jauh dari mata manusia. Walaupun pencarian itu tidak mudah. Namun tanah itu akhirnya mereka temukan.
Kami merasa bahagia…kami menamai tanah itu sebagai Konoha tanah harapan(daun yang tersembunyi) namun siapa sangka ada penghuni di tanah itu. Mereka adalah …klan Hyuuga.
Karena tanah ini sudah ditetapkan. para klan yang telah bergabung menolak untuk mencari tanah yang baru. Para petinggi klan menyuruh Hashirama Senju untuk berbicara dengan pemimpin dari klan Hyuuga. Kami tidak mengira ini akan mudah. Klan itu dengan suka cita menerima kami. Dengan syarat tidak boleh ikut campur dalam urusan mereka.
Pembagunanpun dilakukan…segala bentuk stuktur desa dibangun. Pemerintah. Keamanan,bahkan pasar semua di bentuk agar desa tetap damai dan bebas gangguan dari luar. Walaupun ada sedikit masalah ketika pemimpin desa diangkat. Namun terselesaikan ketika para petinggi lebih memilih Hashirama Senju menjadi Hokage pertama.
Tapi puncak permasalahan itu terjadi ketika hari jumat yang aneh. Para wanita dalam klan Hyuuga berlari seperti orang ketakutan ke dalam komplek perumahan mereka. Ketika kami semua ingin tahu. Tetua mereka muncul dan meminta hal yang aneh.
Waktu itu Kentako Aburame berdiri diantara petinggi klan. Tetua Hyuuga menyuruh Hashirama untuk mengusir klan Uchiha dari desa yang tentu saja ditolak oleh Hokage. Tetua itu marah ia mengusir para ninja dari Konoha. Semua menolak. Karena kalah jumlah Hyuuga mengalah. Sejak saat itu kami tidak pernah melihat satu perempuan pun dari klan mereka, berada di tempat-tempat umum.
Walaupun Hyuuga tidak terlihat melakukan apapun. Tetapi klan mereka diam-diam membentuk sekutu dengan klan yang juga tidak menyukai Uchiha termasuk Aburame. Uchiha selalu mempermalukan Aburame di medan perang. Ketika punya kesempatan seperti itu. Aburame berniat membalas dendam pada Uchiha.
Para sekutu berhasil membuat Uchiha terpojok. Dengan menyebar rumor kalau Uchiha adalah klan yang terkutuk. Sehingga mereka sedikit tersingkir dari orang-orang yang ketakutan tentang kutukan mereka.
Klan Hyuuga terus-terus mencari cara agar klan Uchiha terusir dari konoha. Termasuk memprovokasi bahwa Madara lebih baik memimpin desa ketimbang Hashirama. Seakan-akan mereka mendukungnya. Masalah semakin bertambah ketika Tobirama dan Izuna menyukai wanita yang sama dalam klan itu. Klan Hyuuga tentu lebih memilih Tobirama dibandingkan Izuna, membuat lelaki Uchiha itu menyerah.
Namun itu semua adalah cara licik Hyuuga. Pada akhirnya wanita itu tidak pernah bersama Tobirama. Karena Hyuuga lebih memilih wanita itu menikahi pria dalam klannya sendiri. Izuna marah, ia mengira Tobirama hanya main-main dengan wanita itu, dan menghancurkan perasaannya.
Perkelahian tidak dapat dielakkan antara Tobirama Senju dengan Izuna Uchiha yang diakhiri kematian Izuna. Madara marah ia menuduh penduduk desa bersekongkol untuk membunuh adiknya. Madara membuat kudeta. Dan perang saudara terjadi secara besar-besaran. Kemenangan memang berada dipihak kami. Namun perang saudara itu memberi bekas yang panjang. Biarpun Harashima selalu menjunjung tinggi perdamaian tapi itu selalu sulit dalam dunia ninja.
Setelah kejadian hebat itu dan Madara dikalahkan. Para petinggi klan dikejutkan dengan kabar bahwa kematian Izuna bukanlah perbuatan Tobirama melainkan wanita yang dicinta Izuna sendiri. Tidak ada yang tahu motif dari wanita itu. Bahkan Tobirama tidak mau membuka mulut. Suasana desa menjadi cekam, sedangkan klan Uchiha semakin mencurigakan. Banyak klan lain yang mulai tidak percaya pada kesetian Uchiha.
Ditengah kemelut itu. Konoha kemudian dihadapkan pada perang ninja. Ternyata setelah lahir desa ninja bernama Konoha. Banyak dari shinobi dari klan-klan terkuat juga melakukan hal yang sama. Sekarang masalah menjadi beda. Dulu para klan melakukan pertarungan untuk mempertahankan ke ekstansi klan mereka. Agar klan mereka tidak punah. Sekarang peperangan dilakukan untuk mempertahankan desa dan memperluas daeranya.
Belum lagi untuk membuktikan kekuatan pada para orang kaya dan damnyo. Agar desa mereka memperoleh permintaan. Peperangan memang tidak pernah bisa dicegah.
Setelah tiga tahun berlalu memang tidak banyak terjadi di desa karena peperangan di luar desa semakin banyak. namun setelah tiga tahun kematian Izuna dan Madara kami dikejutkan pada pada tangisan yang menyayat hati di makam Uchiha pada malam yang gelap saat bulan berwarna merah.
Dan secara tiba-tiba kaum laki-laki dari klan Hyuuga berbondong lari datang pada makam. Saat itu kami lihat perempuan klan Hyuuga merenggang nyawa dengan jantung di atas tubuh Izuna yang membusuk. Tubuhnya berlubang di bagia dada. Darah mengalir deras di tanah mengambarkan peristiwa tragis di desa ini. Klan Hyuuga maupun Uchiha tidak bicara apa-apa.
Entah apa yang terjadi diantara klan itu. Tidak pernah ada yang tahu.
Stunade mengenggam kedua jarinya. Pandanganya memandang pada orang yang usia sangat panjang di hadapannya. Pria itu kembali tertidur dan ribuan serangga keluar masuk di dalam mulutnya yang terbuka. Seakan-akan tubuhnya adalah sarang dari serangga itu.
Kemudian ia bangkit keluar dari ruangan itu diikuti oleh Tetua Aburame. Lelaki tua itu tidak bicara seakan ia juga larut dalam lamunan. Shizune yang ada di luar mengangguk. Kemudian mereka permisi.
"Hokage-sama apa yang akan anda lakukan sekarang?" Perempuan dengan wajah remaja itu terdiam. Lalu mengusap mukannya.
"Bagaimana dengan Hinata?"
"Gadis itu di rumahnya. Tadi anbu melaporkan sendiri padaku."
" Apa sudah dipastikan?"
"Ia berada di dalam komplek klannya. Mau memastikan seperti apa?" Tsunade menghela nafas.
"Shizune aku tidak bisa membiarkan Uchiha ada di Konoha lagi. Hyuuga…klan itu, aku tahu mereka akan melakukan apapun untuk membunuh bocah itu." Perempuan itu memandang bingun.
"Tapi, Hokage-sama…?"
"Setelah hukumannya selesai. Sasuke akan tinggal di Suna. Kurasa orang Suna tidak akan menolak. Aku tahu mereka pasti akan dengan senang hati menerima klan sehebat Uchiha."
"klan Uchiha adalah klan terkuat di desa kita. Apa anda yakin guru? Kurasa sebagian klan maupun Naruto pasti tidak akan menyetujuinya."
Stunade menyentuh hidungnya. Ia juga tahu para petinggi klan walaupun tidak menyukai Uchiha, mereka pasti tidak setuju menyerahkan klan sehebat itu pada desa lain.
"Hm…mungkin kita bisa mengikatnya? Jadi Uchiha masih terikat dengan Konoha."
"Dengan…siapa?"
"Kita bisa menikahkan Haruno dan Sasuke. Sekalian menjauhkan dari takdir Uchiha dan Hyuuga di masa lalu."
"Anda gila Hokage-sama. Bagaimana dengan Naruto?" Tsunade menghela nafas lagi. "Naruto serahkan saja padaku."
Shizune hanya memandang guru sekaligus Hokage yang dihormatinya secara diam. Ia menghembuskan nafas tidak suka, ia juga bingun.
…
" Sasuke, kau baik-baik saja?" lelaki yang menyandarkan kepalanya di dinding mengangguk. Agar wanita yang berselimut dengan bajunya tidak khawatir. Hinata memperbaiki baju yang menyelimuti tubuh telanjangnya agar tidak terlalu menampakkan tubuhnya secara terbuka. Walaupun tidak tertutup sepenuhnya.
Ia bergeser dan menyentuh tubuh Sasuke yang ada di sampingnya. Beda dengannya yang memilih menutup tubuh telanjangnya. Pria itu malah memutuskan tidak menutupi apapun tubuhnya. Hinata memerah dengan memandang itu.
"Apa yang terjadi… tadi?"
"Entahlah…seperti ada yang mengendalikanku." Lelaki itu tersenyum lalu memajukan wajahnya dan mencium bibir wanita itu. "Aku baik tidak usah khawatir."
Wanita itu merona lagi. Tapi wajahnya berubah murung. Ia tahu malam ini terakhir kali bersama pria itu. Besok Sasuke akan pergi. Ia melihat lagi kesamping pada tubuh bidang terbuka Sasuke. Dadanya bagus.
Dan ia merona untuk kesekian kalinya. Saat memikirkan kejadian sebelumnya , tentu saja minus Sasuke yang berubah… itu tidak akan ada dalam ingatannya. Kemudian pria itu berbaring di lantai kayu dan menarik Hinata dalam pelukannya. Lagi-lagi wanita itu memerah.
Ia memejamkan mata tidak kuat harus berhadapan dengan tubuh telanjang lelaki itu. Entah kenapa terasa berani baginya. Mereka berdua hanya menatap dinding rumah yang terbuat daun rumbia. Sasuke tersenyum memikirkan bagaimana cara gadis ini membuat rumah pohon ini. Mereka diam tidak bersuara hanya mendengar suara nafas masing-masing. Aneh…tapi Hinata menyukainya.
Sesekali Sasuke akan memiringkan muka dan mencium pipinya dan Hinata memerah lagi. Ini seperti sepasang kekasih yang terpisah dan bertemu lagi. Tapi rasanya berlebihan…bertemu apa? Mereka akan berpisah. Lalu ia mendesah kecewa. Sasuke meliriknya sekilas.
"Hinata, boleh aku bertanya?" wanita itu membalikkan tubuh. Dan pria itu menariknya agar Hinata memeluk tubuhnya. Jujur saja telanjang begini di rumah yang seperti ini membuat udara dingin menusuk tulangnya. Dengan malu-malu Hinata menaruh tangannya di dada pria itu.
"I-iya." Entah karena keberanian atau udara yang dingin membuat Hinata secara tidak sadar menaruh kakinya di paha pria itu. "Tentang apa?".
Sasuke sedikit melebarkan matanya namun wajahnya kembali ketempat semula. Ia lalu menarik bajunya yang menyelimuti tubuh terbuka wanita bermarga Hyuuga itu dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Ia mendorong punggung wanita itu lebih rapat dengan tubuhnya. Sehingga tubuh telanjang mereka bergesekan. Hinata bahkan bisa merasakan kejantanan Sasuke mengesek kewanitaannya.
"Ah…" dan ia menyesal mudah terangsang seperti itu. Malu pada dirinya sendiri. Sasuke menyeringai. Ia medorong kepala perempuan itu menabrak dada bidangnya dan jari-jari tangannya menjamah kejantanannya sendiri dan menepuk-nepuk pada benda pribadi perempuan itu. Sukses membuat Hinata mengigit bibirnya agar tidak mendesah terlalu liar.
"Kenapa menangis waktu itu?" Hinata mendadak bingung pada pertanyaan dan pada tarikan di tangannya. Ulah Sasuke yang membawa tangannya pada kejantanan pria itu. Hinata mulanya agak ragu. Namun kemudian memutuskan untuk memainkan jari. Ia mengusap dan menekan urat-urat yang menonjol di bawah sana. Dan kemudian menusuk-nusuk lubang kencing pria itu. Membuat Sasuke menggeram.
"Menangis?" Hinata membawa tangannya sebelah lagi. Ia mengurut-mengurut daerah itu, menarik urat yang menyelimuti kejantanan Sasuke ke bawah dan ke atas…Sasuke mengeram lagi dan menarik rambut biru perempuan itu.
"Yahg…waktu…hujan….gah…" Hinata menarik kulit itu kebawah membuat lubang kencing Sasuke terbuka. Kemudian menusuknya dengan kelingkingnya. Sasuke menepis tangan itu ketika rasa sakit ia rasa. Ia mengirim tatapan tajam ke arah perempuan itu. Hinata terkejut lalu merasa sangat malu.
"M-maaf." Sasuke menghirup udara pelan, lalu membawa tangan wanita itu kesamping ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu bermain-bermain dengan area pribadinya lagi.
"Jadi…? Penyebabnya Naruto?" sebenarnya Sasuke malas menyebut nama orang itu, saat wanita ini bersamanya. Hinata memandangnya. Ia tidak bisa membaca pandangan perempuan itu. Apa ini? Perasaan macam apa ini? Rasanya begitu tidak enak.
"Ku dengar kau menyatakan perasaanmu padanya."
"Kau mengetahuinya…?" mendadak muka wanita itu memerah pekat. Sasuke tidak menyukai warna di muka perempuan Hyuuga itu.
"Kau mencintainya?" wanita itu mengangguk…Sasuke mengeram dalam diam. Kalau perempuan ini mencintai lelaki lain, kenapa ia mengajak ke tempat istimewanya. Mau menginap bersamanya. Telanjang di depannya dan rela di sentuh olehnya…apa yang wanita ini pikirkan?
"Kalau kau mencintainya kenapa tidak datang padanya dan meminta membalas perasaanmu. Kenapa kau di sini bersamaku?" Suaranya berat saraf akan kemarahan. Namun ia berusaha menahan dirinya. Hinata sampai terbengong mendengar kalimat panjang pria bermarga Uchiha itu. Ia kemudian tersenyum.
"Perasaanku pada Naruto-kun itu mahal. Dan mengharap balasannya adalah kemewahan yang berlebihan bagiku." Sasuke mendecak
"Karena cintaku sejati aku tidak pernah mau Naruto berkorban perasaan untukku. Bagiku, dia mengetahui semua yang kurasakan sudah cukup. itu saja sudah mewah."
"Aku mencintai Naruto-kun tanpa menuntut beban apapun padanya. Itu caraku mencintainya."
Sasuke diam wajahnya memandang datar pada Hinata dengan telunjuk ia menyentuh dahi perempuan itu.
"Wanita aneh. Mana ada orang yang mencintai tanpa menuntut apapun." Hinata tersenyum lalu menyentuh jari Sasuke di dahinya.
"Sasuke-kun juga mencintainya, kan?" sasuke kembali berdecak. "Berlebihan."
Wanita itu mengusap muka Sasuke namun pria itu menghindarinya. Ia masih tidak suka pada kekasihnya yang mencintai lelaki lain.
"Semua orang mencintai Naruto. Percaya padanya. Ia adalah orang yang akan mewujudkan mimpi kita. Ia adalah orang yang akan menyelamatkan kita dari jurang bernama kesepian dan penderitaan"
Sasuke kembali menatap datar wanita yang terus berceloteh mengenai lelaki lain di hadapannya. Sedikitnya ia kesal. Tapi ia memang tidak bisa membantah kalau Naruto memang orang yang bisa berbuat seperti itu. Ia juga percaya pada sahabatnya itu.
"Lalu posisi apa yang kau berikan padaku?" lelaki itu mengusap dahinya…ia sadar tertalu banyak berharap pada perempuan ini. Berharap perasaan perempuan itu sama dengan perasaannya. Hinata membalikkan punggungnya. Sehingga membelakangi Sasuke.
"A-ku tidak akan menjawab." Rasa kecewa menjalar di hatinya. Ia memang sudah terlalu berharap banyak pada wanita ini. Ia memandang punggung wanita itu redup. Merasa tidak ada pergerakan sang Uchiha. Hinata kembali membalikkan badannya. Dan terkejut melihat wajah lesu pria itu. Apa ia berkata salah.
"A-ku m-mengizinkan kau bersamaku. Melihat t-tubuhku dan membiarkanmu m-menyentuhku. M-menurutmu p-posisi s-seperti apa?" ia menutup mukanya karena malu. Ia bahkan tidak percaya mengatakan kata-kata vulgar seperti itu.
Pria itu tersenyum…ia lega. Ia memandang Hinata yang menutup mukanya. Ia memerah sempurna ia cantik sekali berlaku seperti ini. Ia kembali mendekap wanita itu lalu mencium keningnya, memindahkan tangan wanita itu dan mendaratkan sebuah ciuman di mata sang gadis. Hinata membuka matanya…wajah Sasuke terlihat lebih dekat. Alis mata pria itu terbentuk cantik cocok dengan kulit putihnya. Sasuke sangat tampan.
Sasuke memindahkan kain yang menutup tubuh mereka. Membiarkan angin dingin menerpa tubuh telanjang mereka. Tangannya kemudian bermain di daerah payudara wanita itu. Menekan, meremas sekali-kali menarik putingnya.
"Ahh…!"
Jeritan pelan lepas dari bibir Hinata yang basah karena air liur yang sedikit merembes. Jari-jari masih bermain di sana. Ketika ia memandang lurus. Wajahnya langsung terasa panas ketika melihat tatapan memelas dan memohon dari sang gadis, serta bibirnya yang lengket oleh air liur.
Ia tahu bahwa gadis ini perlu perhatian lebih. Ia menarik kepala Hinata dan segera melumat bibir pink itu yang tidak sabar menunggu. Meraup cairan manis yang ada dalam rongga mulut perempuan itu. Lidah mereka saling bertaut dan mendorong satu sama lain.
"Mmn…!"
Gadis itu mengepalkan tangannya ketika bibir Sasuke menjelajah turun melewati dagu, leher dan akhirnya sampai di dada.
"Nhh…!"
Hinata mengangkat satu tangannya dan mengigit jari manisnya agar tidak menjerit sekuat mungkin ketika Sasuke menjilat putingnya. Tubuhnya melengkung menunjuk dada lebih berani dihadapan Sasuke. Pria itu langsung memasukkan benda menonjol itu kedalam mulutnya. Dan menghisapnya pelan-pelan. Seperti penikmat kopi yang menyesap pelan-pelan kopinya agar ia dapat merasakan detailnya dan teksturnya secara nyata.
Rangsangan yang diterima Hinata membuat ratusan syaraf di ujung payudaranya menegang. Puting dadanya mencuat dan berdiri sempurna. Kepalanya melengos ke kanan dan ke kiri karena kenikmatan yang tak tertahankan membuatnya terus ingin menggeram. Ia tidak percaya bahwa ada sesuatu yang menyenangkan seperti ini. Ia pikir Sasuke tidak berniat lagi melakukannya. Setelah insiden (berubah wujud) tadi.
"AHHHNN…!SASUKE…!"
Jeritan itu akhirnya keluar secara bebas dari mulut Hinata, ketika Sasuke memutuskan menggigit puting itu menggunakan gigi depannya. Gema jeritan masih terdengar kemudian disusul rintihan-rintihan panjang ketika gigi Sasuke menambah tekanannya. Tubuhnya mengejang dan tegang seperti ia menerima jutsu petir ketika melawan shinobi waktu ia melakukan misi dengan tim terdahulu. Bedanya waktu itu seluruh badannya sakit seperti terbakar. Tapi yang ini sakit tapi nikmat yang menjalar diseluruh system saraf tubuhnya.
Sasuke bangun dan memutuskan meninggalkan kedua dada wanita itu yang mengiurkan, sebenarnya ia masih mau bermain dengan mulutnya. Tapi mengingat tadi banyak kejadian. Ia tidak ingin mengulang kegagalannya lagi.
Malam semakin larut. Bulan berwarna sedikit merah di langit. Seperti wajah Sasuke yang sedikit mabuk, lelaki itu duduk di antara dua paha Hinata. Ia kembali melihat ke arah wajah perempuan itu yang terengah-engah. Bibirnya terbuka dan matanya yang besar memandang berkaca-kaca seakan-akan mengirim tatapan memohon padanya.
Ia memainkan jarinya di kewanitaan Hinata. Membuat perempuan itu menggeliat bak cacing kepanasan, ketika Hinata sedikit lebih tenang. Ia mendorong jarinya memasuki lubang hangat perempuan itu. Hinata merintih kecil.
'Sempit.' Ia berguman dalam hati ketika jarinya berhasil memasuki lubang itu. Ia mendorongnya lebih dalam dan menyadari kalau jarinya di hisap secara cepat ke dalam sana. Kemudian ia mendorong dan mengeluarkan secara pelan-pelan jarinya.
"Ahh…!" begitu mendengar desahan itu…Sasuke lalu melakukan gerakan cepat keluar-masuk dengan jarinya, menghasilkan suara becek yang membuatnya semakin semangat.
"Ah…Ah…Ah…" ia kembali melihat wajah sang gadis yang memejamkan mata menikmati pemainan jarinya. Ia tersenyum lembut…rasanya ia seperti melihat kehidupannya yang akan datang. Perempuan itu akan terus bersamanya, kan? Walaupun harus berpisah untuk sementara. Gadis itu akan menunggunya kan?
Sasuke lalu menarik jari. Hinata langsung membuka kelopak mata indahnya.
"Hinata, besok aku akan di kirim ke Iwa." Hinata memandang sendu, ia kemudian menarik tangan pria itu. Sasuke melemaskan tubuhnya dan membiarkan Hinata menarik bebas tubuhnya dan menimpa tubuh perempuan yang di bawah. Lalu memeluknya. Walau terasa berat.
"Aku tahu…aku hanya membuat kenangan." Sasuke tersenyum kemudian menekukkan pahanya, agar Hinata tidak terlalu tergencet dengan tubuhnya.
"Lalu, apa kau akan menceritakan penyebab tangisanmu itu." Hinata memandang Sasuke bertanya? Ia tidak mengerti pikiran pria itu.
"D-di kondisi seperti i-ini?" Sasuke kembali tersenyum, lalu mengesekkan kejantanannya di lubang sang Hyuuga. Hinata kembali merona dengan pipi merah pekat.
"Kalau begitu kita selesaikan ini dulu." Dan Hinata tidak sempat membalas. Ia tercekat ketika Sasuke memaksa masuk. Ketika lubangnya bergesek dengan kejantanan pria itu, ia menjerit pilu. Perih dan panas di kewanitaannya.
"S-sakit." Mendadak Sasuke khawatir ia menarik bendanya lagi.
"Kau tidak apa-apa?" Hinata menggeleng. "Sedikit sakit."
"Tidak apa-apa kalau kuteruskan?" Hinata memandang wajah pria tampan itu yang penuh harap. Ia tahu Sasuke pasti kecewa bila ia bilang 'jangan'. Maka ia mengangguk saja. Kemudian berdebar dan siap menerima rasa sakit.
Sasuke menduduki tubuhnya dan mengumpulkan air liur kemudian di ludahkan pada lorong wanita itu. Mengusap daerah itu membuat lubang Hinata semakin licin, sedikit melupakan rasa sakit pada wanita itu.
Ia kembali mendorong ujung penisnya. Kali ini cukup pelan dan hati-hati. Hinata memejamkan matanya dahinya mengernyit menahan perih. Rembesan darah mengotori pahanya dan milik Sasuke. Lelaki itu menyadari ini adalah kehormatan perempuan itu, ia terhormat menjadi yang pertama untuk Hinata.
Ia menyentuh darah itu dan mengusap disekeliling lubang yang ia masuki, dengan sedikit dorongan ia memasuki lebih dalam.
"Ahhhhh…!" darah merembes semakin banyak. kemudian ia mendiamkan gerakannya agar Hinata menyesuikan keadaannya. Dada perempuan itu naik-turun secara cepat. Ia masih meringis namun perlahan-lahan mulai agak tenang.
Sasuke mulai bergerak maju kemudian mundur…Hinata kembali meringis dan mendesah. Tubuhnya bergerak seirama gerakan Sasuke. Ketika gerakan itu berubah cepat Hinata menahan dadanya sendiri yang bergerak secara liar.
Sasuke mengambil tangan gadis itu dan menaruh di pundaknya. Kedua tangannya sendiri menjadikan payudara Hinata sebagai tempat pegangan.
…
"Ah…!Ah…!"
Tikaman demi tikaman terus dilancarkan oleh Sasuke di lubang licin itu dan Hinata hanya bisa mendesah kemudian menjerit bila Sasuke menarik dadanya dan menghujam terlalu dalam. Ia tidak perlu khawatir tidak ada yang mendengar jeritannya di sini kecuali binatang buas tentunya.
Ia memejamkan mata…rasanya semua system saraf dan tenaganya menjadi lemah. Sekarang hanya rasa nikmat yang bisa ia rasakan.
"Hinata" Sasuke memangilnya dengan suara serak, agar kesadaran wanita itu tidak cepat hilang. Sedangkan punggungnya terus melakukan sentakan dan sodokan dengan tidak mengurangi kecepatannya.
Ia menarik wanita itu hingga mereka sama-sama terduduk. Dan tubuh wanita itu benar-benar merosot. Sasuke benar-benar tidak ingin Hinata kehilangan kesadarannya saat mereka sudah pada ujungnya.
"Ahhh…! Sasu…!"
"Ya…terus memanggilku Hinata…!" ia mengusap peluh di dahi perempuan itu. Sekarang gerakannya menyodok ke atas karena Hinata berada di pangkuannya.
"Ah…! Ah. Ahh!...~Sasu~" Hinata mencengkram bahu Sasuke kencang ia tidak bisa menahannya lagi kepalanya terlempar ke belakan dengan lidah sedikit terjulur. Tubuhnya melengkung dan cairan cintanya merembes di sela kejantanan sang pria yang menyumbat lubang perawannya. Membersihkan darah disekeliling lubang itu.
Pria itu menyeringai…lalu mendorong pinggulnya dan menghantam lubang Hinata secara keras meloloskan jeritan panjang dari mulut kecil perempuan itu.
"Ah…! Ah…! Uh!" ia mendesah putus-putus karena Sasuke tidak mengurangi tempo. Mungkin karena Sasuke juga ingin mencapai puncaknya. Dengan jarinya ia mendorong kepala sang pria dan menyumbat mulutnya sendiri dengan bibir lelaki itu, agar tidak terus menjerit sampai ia kehilangan suaranya.
Sasuke menjatuhkannya kembali ke lantai dan membalas ciuman Hinata. Pinggulnya terus keluar-masuk dengan tempo yang masih sama. Ketika sesuatu mendesak di ujung lubang kencingnya. Ia mendorong tubunya semakin kedalam, membuat tubuh Hinata terdorong ke depan dan menabrak dinding kayu. Dengan tangan ia menahan kepalanya agar tidak terus menabrak dinding bila Sasuke mendorong lagi.
Rasa berat di dadanya juga mulai terasa karena payudaranya bergerak secara tidak beraturan. Sasuke semakin menggila. Ia belum mencapai klimaknya.
"AAAAAAH...!" lolongan panjang keluar dari mulut Hinata. Sekali lagi ia mencapai puncaknya. Dan pria itu belum sama sekali. Sasuke makin gencar mendorong kejantanannya. Hinata meringis sedikit geli saat lubangnya menjadi kering dan terus di pompa.
Panas…lubangnya panas. Ia mendorong dada bidang Sasuke…sekarang gerakan pemuda itu tidak sanggup ia imbangi. Belumkah? Sasuke belum mendapatkannya? Rasanya hinata lelah sekali.
"Gh…G-Guh..!" secara cepat Hinata memandang raut wajah lelaki itu. Entah kenapa ia ingin melihat wajah terpuaskan pria itu. Lelaki itu memerah, wajah ia tengadahkan dengan mata terpejam dan Hinata bisa merasakan cairan pria itu yang menyiram lubang keringnya.
Pria itu memandang kembali ke arahnya dan mereka bertemu pandang saling mengucap terimakasih dalam diam. Lalu ia melepaskan diri dan cairan cintanya keluar dari lubang kenikmatan wanita itu.
Dengan sisa tenaganya yang terkuras habis ia menjatuhkan dirinya ke samping. Lalu menarik sang gadis yang masih terengah-engah dan kembali mencium bibirnya.
Mereka sama-sama mengistirahatkan tubuh dari rasa lelah. Sasuke mengusap dadanya yang lengket lalu melihat wanita di sampingnya yang masih memejamkan mata. Ia mengambil anak rambut perempuan itu yang lengket karena keringat lalu menciumnya membuat Hinata membuka matanya.
"Kau masih lelah?" Hinata menutup mulutnya. Jangan-jangan Sasuke berpikir untuk terus lanjut. Ia menatap pria itu ngeri tubuhnya masih sangat lemah.
"Sasuke-kun. K-kau tidak b-berpikir seperti tokoh utama pria di novel, kan?" Sasuke terkekeh kecil.
"Kau sering baca hal begituan." Hinata cemberut, ia tidak tahu harus membela dirinya seperti apa dari rasa malu pada pandangan jahil pria yang baru saja menjadi kekasihnya.
"A-aku s-sudah dewasa." Hanya itu yang ia pikirkan, membuat Sasuke menambah volume tertawanya.
"Maksudku tentang yang tadi." Wajah Hinata sukses memerah lebih pekat…ah kenapa pikirannya seperti itu?
"Tapi kalau kau mau…aku masih punya tenaga ektra." Ia mengedipkan matanya dengan nakal membuat Hinata semakin malu ia memukul dada bidang itu. Ketika Hinata bisa mengatur nafasnya ia berdiri memperlihatkan tubuh indahnya pada pria itu. Sasuke hanya meliriknya saja.
Kemudian ia menuju sisi sudut rumah pohon itu, di sana ada lemari kecil kemudian ia mengeluarkan selimut . karena tergesa-gesa tadi ia bahkan melupakan selimut yang membuat mereka tidak masuk angin.
Lalu kembali mendekat, Sasuke membantunya kemudian tidur bersebelahan lagi dan saling mendekap.
"Sasuke kau tahu kadang wanita tidak punya alasan untuk menagis." Sasuke hanya diam. Tapi jarinya mengelus sayang rambut wanita dalam dekapannya.
"Tapi, kau punya alasan, kan?" Sasuke yakin Hinata bukanlah perempuan cengeng yang menangis tanpa alasan. Perempuan itu menghela nafas. Sebenarnya ia tidak mau memberitahu Sasuke alasannya. Karena alasan itu alasan yang paling bodoh dalam pikirannya.
Tapi ia juga ingin berbagi dengan lelaki itu…entah kenapa?
"Mungkin bisa di sebut sebagai pewaris yang tidak bertanggung jawab." Sasuke memandang Hinata dalam diam. Menuntut Hinata menceritakan lebih detai.
"Biarpun aku pewaris utama di klan ku. Tapi sebenarnya aku yang paling lemah Sasuke…sekuat apapun aku berusaha…tapi pada akhirnya aku gagal."
"Kau tidak lemah." Ia mendekap perempuan itu lebih erat. Gadis itu tersenyum mendengar kata penghibur dari sang pria.
"Aku begitu menderita dalam klan. Merasa tersisihkan walaupun mereka sudah tidak mengabaikanku seperti sebelumnya…tapi aku tahu mereka tidak sepenuhnya percaya padaku." Sasuke diam. Dia tahu perasaan terabaikan seperti itu. Dulu sekali ia pernah merasakannya.
"Aku tidak mau menjadi pewaris…beban itu terasa berat. Rasanya ingin mati."
"Apa sebegitu beratnya." Hinata tersenyum tertahan.
"Alasan konyol, kan…? Aku hanya pewaris yang tidak bertanggung jawab."
Uchiha itu tetap diam. Namun tangannya masih aktif mengelus rambut Hinata.
"Aku ingin keluar…dari rasa sesak ini. Tapi aku tidak ingin menyakiti orang-orang terdekatku dan memberi beban pada siapapun." Kali ini Sasuke memandang Hinata tepat di matanya…ia kembali merasa kagum.
"Kalau kau menjadi istri orang dan berganti marga. Berarti kau bebas dari takdir pewaris, kan?" Hinata memandang penuh arti pada perkataan pria itu.
"Dan… itu tidak akan menyakiti siapapun." Boleh Hinata berpikir kalau Sasuke melamarnya. Mukanya lalu berubah merona.
"Tunggu aku. Setelah itu aku akan datang pada orang tuamu." Hinata mengangguk… perasaannya benar-benar bahagia…rasanya ini lebih lega daripada ketika ia mengucap cinta pada Naruto pria yang begitu di kaguminya. Lebih senang ketika tahu Neji-niisan berhasil diselamatkan.
…
Hinata mengendap-endap memasuki kamarnya…untunglah tidak ada menyadari kehadirannya. Ia menyesal tidak bisa lebih lama lagi bersama kekasihnya. Padahal nanti pagi Sasuke akan berangkat.
Ketika sampai di kasurnya ia segera menghilangkan bushin yang serupa dengan dirinya di atas ranjang. Ia bersyukur dulu cakra Kyubi Naruto masih tersisa di tubuhnya jadi bushinnya benar-benar mirip dengannya…tanpa ada perbedaan sama sekali…cakra maupun aura shinobinya.
Orang banyak tertipu dengan bushin ini. Jadi kemungkinan orang rumahnya tidak akan curiga. Lalu ia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Lalu menagis. Ia berusaha tegar di hadapan Sasuke tadi, tapi sebenarnya ia tidak rela lelaki itu pergi.
Tbc
Terimakasih kepada : Rini Andriani Uchiga . sasuke wujud dari siluman gagak... Samael D'Lucifer, salam kenal juga. Ni cap 9. Dewi Natalia. Ah dirimu datang lagi dewi-chan…sekarang full lemonnya. Renita Nee-Chan. ni cap 9 sorry telat lagi. Luluk Minam Cullen. Ya seperti saya bilang heppy versi saya. lovelychrysant. Terimakasih. anniewez, baca saja ^^. Sasu'ai'hina. Boleh juga idenya…ayo bikin fic ^^. ariefafelov, karena sasuke wujudnya adalah siluman gagak…jadi secara naluri sayap itu muncul karena pengaruh cakra dari zetsu juga. Untuk proses pemindahan cakra pada janin hinata…gimana ya gomongnya sebenarnya ini kuambil dari movie barat yang ceritanya iblis yang ingin menjadikan perawan sebagai wadah terlahir bingung ya? Aku sulit menjelaskannya. Guest, lihat saja nanti. CloverLeaf Ifa-chan, terimakasih. re, biarpun ini angst tapi kayaknya gx sampai bikin anda nangis…saya kemungkinan gx pandai buat seperti itu. hanay, ^^. hinatauchiha69, lihat saja ya. Syuchi Hyu, hmm. .39750, ^^. J. Vicko, kali ni gx gagal lagi. Alfiyahhime,rencana sih sampai 10 cap…tapi gx mungkin…tenang gx sampai 15, beneran. Abrakadabrak, ^^. yukiko miyuki, lihat saja nanti. wiendzbica, mudah-mudah seperti yang di harapkan ya. amenyx, itu karangan saya doank…yang benar uchiha anak dari rikudo dari keturunan indra #baca komik naruto. irnapriatnha. Emm.
