Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Shiho cute : Untuk saat ini baru bisa sekali seminggu dan ceritanya belum akan selesai, makanya penulis pengin ceritanya cepat selesai. XD
Ezly-san : Chizue = nangis, Shiho = belum tahu. XD
Phia-chan : Nggak. Ceritanya bakal end setelah Shiho inget semuanya. XD
Shiho Dragneel : Iya, Chizue diancam. Boleh, tapi sepertinya fanfic AU. XD
Yukio Hisa : Soalnya Shinichi tahu Chizue cinta mati sama Kaito, jadi dia tidak punya cara lain. XD
Byzan : Karena Shinichi tidak punya cara lain. Shiho akan ingat lagi nanti setelah menikah. XD
Aiwha-san : Iya, Shinichi memang agak 'gila'. Ran nanti bakalan dateng ke Jepang untuk memberi kejutan pada Shinichi. XD
Misyel : Chizue memang akan merasakan sakit, begitu juga dengan Shinichi dan Kaito. Tidak akan ada yang bahagia diantara mereka sampai Shiho ingat kembali. Ran-nya masih ada di Amerika sampai dia kembali ke Jepang. XD
ArdhyaMouri : Tapi Kaito nggak akan tahu perjanjian antara Shinichi dan Chizue, setidaknya sampai Shiho ingat kembali. Dan Shiho akan memotong rambutnya saat dia sudah ingat kembali. XD
Septi-san : Iya, kalau udah nikah. He he he. Isi amplop itu adalah bukti kalau Kaito = Kaitou KID. XD
Mora-san : Wah, terima kasih banyak. Itu karena Shinichi putus asa dan agak 'gila'. XD
Nasumichan Uharu : Semuanya sah dalam cinta dan perang (kata pepatah). XD
Elba-san : He he he. Tapi urutannya nikah dulu, baru inget.
Atin-san : Iya, itu bukti kejahatan Kaito. Shinichi tahu Chizue cinta mati sama Kaito, jadi dia memang harus memakai cara itu. XD
ShinYi : Nanti munculnya kalau Shiho sudah inget lagi. XD
Femy-san : Shinichi yang di sini memang agak 'gila' jadi harap maklum. KaitoxChizue-nya nggak bakal banyak lagi kalau Chizue sudah nikah sama Shinichi. XD
Momo ShinKaI : Iya, amplop itu isinya data-datanya Kaito. Aku satu spesies dengan Shiho. XD
Himetarou Ai : Iya, ada 'itu'-nya. XD
Ryuta-san : Wah, jangan dibunuh dong. XD
Rawr-san : Soalnya itu theme song-nya. Benarkah ada kesalahan seperti itu? Sepertinya pas ku-proofread, semuanya kelihatan baik-baik saja. Mungkin karena proofread yang biasanya beberapa kali jadi berkurang menjadi 2-3 kali karena kesibukan sehari-hari. Mohon dimaklumi saja. He he he. Kalau kata gentlemen, aku memakai kata itu karena kata itu tidak menunjuk pada Kaito tapi pada laki-laki secara umum (kata itu merujuk pada gaya/style). Tapi kalau salah ya apa boleh buat, XD. Shinichi membawa Chizue ke rumah Profesor Agasa setelah membuat Chizue kelelahan dan tertidur. Nanti kalau Shiho sudah ingat lagi, dia akan memotong rambutnya. Kaito menjadi pencuri bukan karena dia suka mencuri atau hidup dari mencuri, tapi karena dia punya misi menemukan pandora dan pembunuh ayahnya. Anak buahnya Shinichi pergi ke Hokkaido untuk menyelidiki Chizue, namun ternyata mereka mendapatkan jackpot lain (Kaito = KID), selain menemukan bahwa Chizue memang Shiho. Sekian jawabanku. He he he.
Waktunya curcol!
Akhirnya saat-saat yang ditunggu pembaca (atau tidak?), wedding time. Tapi jangan mengharapkan yang tidak-tidak karena ini bukan pernikahan yang biasanya. Yang tidak-tidak kemungkinan baru akan terjadi di chapter depan. XD
Selamat membaca dan berkomentar!
Tidak Ada yang Terjadi
By Enji86
Tears fall without me realising
I wiped my tears because I didn't want you to be washed away
Could have erased you, could have forgotten you
It makes me cry to think about the days without you
You left me without saying anything, I wish it wasn't you, please
It's okay if you return, it's okay if you return
It must be just a dream where we were apart for a short time
Nothing happened, nothing happened
When the night is over, if I wake up, I'm with you again
Repeatedly telling with my heart, telling with my mouth
I remind myself so many times because I don't want to lose you
Could have erased you, could have forgotten you
It makes me cry to think about the days without you
You left me without saying anything, I wish it wasn't you, please
It's okay if you return, it's okay if you return
It must be just a dream where we were apart for a short time
Nothing happened, nothing happened
If I wake up after tonight
It's okay if you return, it's okay if you return
I still love you, please, please
Nothing happened, nothing happened
When the night is over, if I wake up, I'm with you again
(Nothing Happened – Jung Yeop)
Chapter 9 – Pernikahan
"Aku akan menunggu kabar baik darimu secepatnya," ucap Shinichi setelah dia menghentikan mobilnya di halte Ekode.
Chizue tidak mengatakan apapun dan segera melepas sabuk pengamannya. Saat dia akan membuka pintu, Shinichi menahannya sejenak untuk mengecup pipinya. Setelah itu, Chizue segera keluar dari mobil Shinichi dan berlari pulang sambil berlinang air mata.
"Apa yang harus kulakukan? Apa?" ucap Chizue dalam hati dengan frustasi.
Sebelum memasuki rumahnya, Chizue menenangkan dirinya terlebih dahulu dan mencoba bersikap seperti biasanya.
"Aku pu...hmmph," ucapan Chizue saat memasuki rumahnya langsung terpotong karena seseorang langsung memeluknya dengan erat.
"Chizue, aku senang sekali hari ini, kau tahu?" seru Kaito dengan bersemangat.
"Kaito-kun, kau hampir saja membuatku sesak nafas," omel Chizue saat dia sudah berhasil melepaskan diri dari pelukan Kaito.
Kaito tidak mempedulikan omelan Chizue dan terus tersenyum lebar seperti orang bodoh.
"Coba tebak kenapa aku senang sekali hari ini," ucap Kaito.
"Mmm, kau berhasil merayu dua puluh orang wanita dalam satu hari?" tebak Chizue sehingga Kaito langsung mengerutkan keningnya padanya.
"Bagaimana bisa kau bilang begitu? Aku kan pacarmu," ucap Kaito.
"Tapi dulu kan kau selalu senang sekali dan selalu pamer padaku kalau kau berhasil merayu lima orang wanita dalam satu hari? Jadi kalau kau sesenang ini, mungkin hari ini kau berhasil merayu dua puluh orang wanita," ucap Chizue dengan geli.
"Chizue, aku tidak seperti dulu lagi. Sekarang aku hanya mencintaimu dan hanya kau satu-satunya wanita yang akan kurayu seumur hidupku," ucap Kaito dengan mimik serius.
Chizue sudah hampir tersenyum manis pada Kaito kalau saja dia tidak teringat pada Shinichi.
"Benarkah? Tapi aku lebih suka kau merayu wanita lain," ucap Chizue sambil berlalu menuju sofa.
"Hei! Hei! Kau tidak serius dengan ucapanmu barusan kan?" tanya Kaito dengan wajah agak kesal sambil mengikuti Chizue ke sofa.
"Entahlah. Jadi apa kabar baiknya?" jawab Chizue sekaligus balik bertanya saat mereka berdua sudah duduk di sofa.
Kaito melemparkan pandangan kesal ke arah Chizue sejenak sebelum wajahnya kembali berseri-seri dan senyum lebar kembali menghiasi wajahnya.
"Aku mendapatkan kontrak," jawab Kaito.
"Benarkah?" tanya Chizue dengan tatapan tidak percaya sekaligus gembira.
"Iya. Kau tahu, nilai kontraknya benar-benar besar dan kalau penampilanku memuaskan dan menarik banyak pengunjung, nilai kontraknya akan semakin besar," jawab Kaito dengan gembira.
"Itu bagus sekali. Selamat Kaito-kun. Akhirnya kau berhasil," ucap Chizue dengan tulus sambil tersenyum.
"Terima kasih, Chizue. Sekarang kau tidak perlu bekerja pada Kudo-tantei lagi atau mencari pekerjaan lain. Kau hanya perlu tinggal di rumah untuk merawat Jii-chan setelah Jii-chan dioperasi nanti," ucap Kaito sambil tersenyum senang. Lalu dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan menatap ke atas, ke langit-langit rumahnya sambil tersenyum puas sehingga dia tidak menyadari bahwa senyuman langsung lenyap dari wajah Chizue setelah dia menyebut-nyebut tentang Shinichi.
"Aku akan naik ke kamarku," ucap Chizue sambil bangkit dari sofa.
"Baiklah," sahut Kaito yang masih tersenyum-senyum sendiri.
Chizue bergegas pergi ke kamarnya, lalu dia langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya setelah dia mengunci pintu kamarnya. Dia membenamkan wajahnya di bantalnya lalu mulai menangis kembali.
XXX
"Kenapa kau mengunci pintu kamarmu?" tanya Kaito saat Chizue yang sudah mandi dan berpiyama membukakan pintu untuknya.
"Yah, aku tidak mau seorang lelaki mesum seenaknya memasuki kamarku di saat yang tidak tepat," jawab Chizue sambil berbalik dan melangkah menuju tempat tidurnya.
Kaito pun kembali mengerutkan keningnya pada Chizue sambil menutup pintu di belakangnya. Dia agak heran karena Chizue bersikap lebih sinis padanya daripada biasanya sejak tadi.
"Ada apa ya? Apa ada hal tidak menyenangkan yang terjadi padanya? Tapi kalau dia tidak cerita berarti dia belum mau menceritakannya. Jadi lebih baik aku tidak memaksanya dan mencoba membuatnya rileks dan senang," pikir Kaito.
Kaito segera menghampiri Chizue lalu duduk di samping Chizue di atas tempat tidur Chizue dan menarik Chizue ke dalam pelukannya.
"Bagaimana harimu? Apakah menyenangkan?" tanya Kaito.
"Iya," jawab Chizue.
"Lalu, apa Kudo-tantei sudah sembuh?" tanya Kaito lagi.
Chizue terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Iya, dia sudah sembuh," jawab Chizue dengan suara pelan.
"Baguslah kalau begitu," komentar Kaito.
Setelah itu hening menyelimuti mereka berdua.
Kaito lalu menarik Chizue ke pangkuannya. Dia memegang dagu Chizue agar Chizue menatap wajahnya dan dia melihat ada warna kesedihan di mata Chizue. Dia pun tidak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak bertanya, tapi ketika dia akan membuka mulutnya, Chizue sudah menutup mulutnya dengan sebuah ciuman.
Kaito akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya dan membalas ciuman Chizue dengan harapan Chizue akan merasa lebih baik setelah itu.
Tak lama setelah mereka berdua bermesraan di tempat tidur, Chizue tiba-tiba menangis sehingga Kaito langsung mengakhiri ciumannya dan mendekap Chizue sambil berusaha menghibur Chizue.
"Maafkan aku, Kaito-kun," gumam Chizue masih sambil terisak.
"Kenapa kau minta maaf? Sebenarnya ada apa?" tanya Kaito dengan agak khawatir.
"Maafkan aku," gumam Chizue tanpa menjawab pertanyaan Kaito. Dan dia terus mengatakannya sampai dia tertidur.
Kaito terus membelai rambut Chizue yang sudah tertidur dan menatap wajah Chizue yang sembab dengan prihatin dan sedih.
"Chizue, ada apa sebenarnya? Apa yang sudah terjadi?" tanya Kaito dalam hati.
XXX
Keesokan harinya, Chizue kembali berdebat dengan Kaito sebelum berhasil membujuk Kaito agar mengijinkannya pergi ke rumah Shinichi untuk bekerja. Shinichi sudah mengancamnya agar dia tidak berhenti bekerja sehingga dia harus terus bekerja pada Shinichi.
Sesampainya di rumah Shinichi, dia kembali bekerja seperti biasa sehingga membuatnya merasa agak lega. Tapi begitu Shinichi tiba kembali di rumah pada sore hari, dia merasa benar-benar bodoh karena merasa lega. Setelah mandi, Shinichi memanggilnya untuk menemaninya duduk-duduk dan bicara yang berakhir dengan bermesraan di atas sofa.
Chizue benar-benar membenci dirinya sendiri. Padahal dia adalah kekasih Kaito dan dia mencintai Kaito, tapi dia tidak bisa mengingkari bahwa dia menikmati semua sentuhan Shinichi. Dia benar-benar merasa seperti wanita murahan. Padahal dia sudah berusaha bersikap sepasif mungkin, tapi kadang-kadang tubuhnya bereaksi dengan sendirinya terhadap sentuhan Shinichi dan dia benar-benar membenci hal itu. Oleh karena itu, dia langsung menangis begitu Shinichi melepaskannya sehingga Shinichi langsung memeluknya dan menghiburnya.
Kalau saja Chizue tidak terlalu sedih dengan semua ini, dia pasti akan merasa aneh dan mungkin juga merasa lucu karena orang yang membuatnya sedih dan terluka juga berusaha menghiburnya dan dia menerimanya.
Saat berada dalam taksi yang menuju ke rumahnya sepulangnya dari rumah Shinichi, Chizue menerima telepon yang mengabarkan bahwa Kaito masuk rumah sakit setelah pingsan saat pertunjukan sulap. Chizue pun langsung memberi tahu sopir taksinya untuk pergi ke rumah sakit.
XXX
Siang itu, Chizue berdiri mematung di salah satu sudut taman rumah sakit yang sepi dengan wajah sembab. Dia benar-benar putus asa dan dia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Sepertinya nasib buruk memang selalu mengikutinya kemana-mana.
"Seharusnya aku menyadarinya dari dulu. Seharusnya aku sadar kenapa Kaito-kun mudah sekali kelelahan dan kadang-kadang sering pingsan. Bahkan aku seharusnya menyadari perutnya yang membuncit itu. Sekarang darimana aku akan mendapatkan donor hati untuk Kaito-kun beserta biaya operasinya?" pikir Chizue sementara air mata kembali mengalir membasahi pipinya.
Tiba-tiba ada seseorang yang melingkarkan lengannya di pinggang Chizue dan memeluknya dari belakang sehingga Chizue tersentak.
"Kau harus berhenti menangis, Chizue-san. Shiho-ku hampir tidak pernah menangis, tidak peduli apapun yang terjadi, karena hidupnya sudah sangat malang sejak dia masih kecil dan dia tahu menangis tidak akan membantunya. Dia adalah wanita yang sangat tegar," ucap Shinichi sambil menghapus air mata di pipi Chizue dengan ibu jarinya.
"Kudo-tantei, bagaimana anda bisa...," ucapan Chizue dipotong oleh Shinichi.
"Aku akan selalu tahu dimana wanita yang kucintai berada," ucap Shinichi sehingga wajah Chizue yang sudah merah itu semakin merah.
"Tapi saya bukan Shiho, jadi saya akan selalu menangis setiap ada hal buruk yang terjadi pada saya," ucap Chizue dengan nada menantang.
"Begitukah? Kalau menurutku malah sebaliknya. Shiho tidak akan peduli meskipun aku memohon padanya. Dia selalu mendorongku sampai batasku dan membuatku putus asa sebelum dia memberikan apa yang kuinginkan. Dia benar-benar tahu bagaimana cara menyiksaku. Kau pun juga begitu," ucap Shinichi.
Chizue merasa agak merinding. Benarkah dulu dia wanita yang seperti itu? Tapi kalau dia dulu selalu membuat Shinichi menderita, kenapa Shinichi begitu mencintainya dan terobsesi padanya sampai seperti ini?
"Lalu kenapa anda masih mau bersamanya? Bukankah dia selalu membuat anda menderita?" tanya Chizue.
"Karena dia benar-benar tahu cara menyenangkanku setelah dia menyiksaku habis-habisan sehingga pada akhirnya yang kurasakan hanyalah rasa senang," jawab Shinichi.
Mata Chizue pun membesar. Bukankah itu agak mirip dengan yang dirasakannya sekarang? Dia merasa Shinichi selalu melukainya dan membuatnya sedih, tapi dia bahkan tidak bisa membenci Shinichi meskipun dia juga tidak merasa senang. Tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia selalu merasa lebih baik setelah Shinichi memeluknya.
"Aku akan mengurus semuanya, termasuk operasi pamanmu. Lalu sehari sebelum operasi pencuri sial itu, kita akan menikah," ucap Shinichi, kemudian dia melepaskan Chizue dan melangkah pergi.
Chizue pun menoleh untuk melihat kepergian Shinichi. Dia terus menatap punggung Shinichi sampai Shinichi menghilang dari pandangannya, lalu dia membersihkan sisa-sisa air mata di pipinya. Dia memang harus berhenti menangis karena dia pun tahu menangis tidak akan membantunya.
XXX
Chizue akhirnya menceritakan semuanya pada pamannya setelah Shinichi mengurus semuanya. Pamannya pun langsung merasa marah dan tidak setuju pada keputusannya. Pamannya bahkan menolak untuk dioperasi. Tapi setelah dia memohon pada pamannya dan meyakinkan pamannya bahwa hanya pamannya yang bisa menjaga Kaito setelah dia pergi, pamannya akhirnya setuju dengan berat hati. Dia juga minta pada pamannya agar merahasiakan semuanya dari Kaito.
Jii hanya bisa memeluk Chizue sambil mengutuk dirinya sendiri yang tidak berguna. Dia merasa seperti sedang menjual keponakannya sendiri pada orang kaya demi mendapatkan uang.
Chizue juga memohon pada Aoko untuk menjaga Kaito karena dia tidak tahu lagi harus minta tolong pada siapa. Dia menceritakan semuanya pada Aoko sehingga Aoko akhirnya berjanji akan melakukannya kalau pacarnya yang sekarang tidak keberatan.
Aoko memang baru saja menjalin cinta lagi setelah putus dengan Kaito. Pacarnya itu adalah sahabat baiknya yang merupakan anak buah ayahnya. Pacarnya itu selalu berada di sampingnya setelah Kaito pergi dan pacarnya itu juga sudah menyatakan cinta padanya dari dulu. Namun saat dia akan berpaling, Kaito tiba-tiba kembali sehingga dia tidak jadi berpaling. Sekarang dia jadi agak menyesal karena dia tidak berpaling dari dulu. Akhirnya dia menyadari bahwa dia sebenarnya sudah tidak menyukai Kaito lagi. Dia sudah tertipu dengan egonya sendiri, yaitu karena dia sudah menunggu Kaito dengan setia, maka dia berhak mendapatkan Kaito. Sekarang dia lebih bahagia bersama pacarnya ini daripada saat-saat bersama Kaito.
Chizue pun sangat berterima kasih pada Aoko dan meminta Aoko merahasiakan semuanya dari Kaito.
Chizue juga meminta pada Shinichi agar mengijinkannya menghabiskan waktu bersama Kaito sebelum mereka berdua menikah dan Shinichi pun mengijinkannya sehingga Chizue merasa sangat berterima kasih.
XXX
"Bagaimana perasaanmu? Apa kau tegang?" tanya Chizue sambil tersenyum.
"Sedikit. Tapi aku sudah siap. Kalau ini satu-satunya cara agar aku bisa sembuh, aku akan melakukannya. Aku tidak akan mau mati sekarang setelah kau jadi milikku," jawab Kaito sambil tersenyum juga.
"Iya, kau tidak boleh mati. Awas ya, kalau kau sampai mati. Aku tidak akan memaafkanmu," ucap Chizue sambil berusaha menahan air matanya dan tetap tersenyum.
"Tenang saja. Aku pasti akan kembali padamu hidup-hidup seperti biasanya. Aku janji," ucap Kaito sambil nyengir.
"Baiklah, aku akan memegang janjimu itu," ucap Chizue.
"Tapi aku penasaran dengan donatur yang baik hati itu. Nanti setelah aku sehat kembali, kita harus mencarinya. Aku benar-benar ingin tahu siapa orang itu," ucap Kaito sehingga Chizue tertegun sejenak.
"Yah, setahuku dia dulu penggemar ayahmu dan sekarang dia juga penggemarmu," ucap Chizue.
"Hmm, begitu ya? Dia pasti penggemar berat karena dia sampai berbaik hati seperti ini. Aku akan menanyakannya pada Jii-chan nanti. Siapa tahu Jii-chan mengenalnya," ucap Kaito.
Lalu seorang dokter dan suster datang untuk menginformasikan bahwa Kaito harus dikarantina untuk persiapan operasi.
"Chizue, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi nanti," ucap Kaito.
Chizue kemudian mengecup bibir Kaito sehingga wajah Kaito memerah.
"Mmm. Berjuanglah, Kaito-kun," ucap Chizue sambil tersenyum.
Setelah itu, Kaito pun dibawa pergi. Lalu saat Chizue keluar dari kamar rawat Kaito, dia langsung bertemu dengan Shinichi di luar pintu.
"Apa kau sudah siap?" tanya Shinichi.
"Iya," jawab Chizue.
"Ayo kita pergi," ucap Shinichi sambil menggandeng tangan Chizue. Lalu mereka berdua melangkah pergi.
XXX
Setelah pernikahan, Shinichi menyuruh asisten lapangannya untuk mengantar Chizue pulang, sementara dia pergi ke tempat lain. Chizue pun heran dengan semua ini, tapi dia tidak mengatakan apapun. Saat malam semakin larut, Chizue pun semakin penasaran karena Shinichi tidak kunjung kembali meskipun dia juga sedang khawatir tentang Kaito. Dia akhirnya keluar dari kamar pengantinnya yang tanpa dekorasi dan pergi ke kantor. Dia akan bertanya pada asisten lapangan Shinichi yang dari tadi berjaga di kantor. Dia mengenal asisten lapangan Shinichi itu karena mereka pernah beberapa kali bekerja bersama untuk membantu Shinichi memecahkan kasus.
"Seiji-san," ucap Chizue saat memasuki kantor sambil membawa kopi.
"Oh, Chizue-san. Ada apa?" tanya Seiji.
"Saya bawakan kopi untuk anda," jawab Chizue sambil menghidangkan kopi yang dibawanya.
"Ah, anda tidak perlu repot-repot dan bicara sopan pada saya seperti itu. Anda kan istrinya Kudo-tantei," ucap Seiji sambil tertawa kecil.
Kemudian Seiji mengamati kopi itu sambil menyipitkan matanya sehingga Chizue harus menahan tawa. Rupanya kasus pembunuhan berantai itu benar-benar mempengaruhi Seiji.
"Tenang saja. Saya tidak memasukkan racun tikus ke dalamnya kok," ucap Chizue sambil nyengir.
"Uh, oh, tentu saja tidak," ucap Seiji dengan pipi agak memerah karena malu.
"Ngomong-ngomong, apa anda tahu kemana Kudo-tantei pergi?" tanya Chizue setelah Seiji meminum kopinya.
"Lho, Kudo-tantei tidak memberitahu anda?" Seiji balik bertanya dengan kaget.
"Memberi tahu apa?" Chizue balik bertanya dengan bingung.
"Kalau Kudo-tantei tidak memberi tahu anda berarti beliau tidak mau anda tahu. Maaf, tapi saya tidak bisa memberi tahu anda," jawab Seiji sehingga Chizue semakin penasaran.
"Anda harus memberi tahu saya," ucap Chizue mendesak.
"Maaf, tapi saya tidak bisa," ucap Seiji.
"Tapi aku istrinya dan dia meninggalkanku begitu saja setelah menikah," seru Chizue dengan tidak sabar.
Seiji pun menatap Chizue dengan kaget dan wajahnya kembali memerah karena implikasi dari ucapan Chizue barusan.
Wajah Chizue juga memerah karena malu setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan. Dia jadi terlihat seperti mengharapkan malam pertama dengan Shinichi padahal dia tidak menginginkannya sama sekali.
"Ah, maafkan saya. Saya benar-benar tidak peka. Sepertinya anda memang harus tahu kenapa suami anda sampai melewatkan malam pertamanya," ucap Seiji dengan wajah masih merona. "Beliau sekarang sedang menyelamatkan nyawa seseorang. Beliau sekarang sedang dioperasi di rumah sakit karena beliau mendonorkan sebagian hatinya untuk seseorang. Hanya itu yang saya tahu. Makanya malam ini beliau meminta saya untuk menjaga anda," lanjutnya.
Mata Chizue pun langsung membesar.
"Jangan-jangan...," ucap Chizue dalam hati.
"Seiji-san, antar aku ke rumah sakit sekarang juga," ucap Chizue.
XXX
Saat Shinichi membuka matanya, dia langsung disambut oleh sebentuk wajah cantik yang sangat dikenalnya. Dia pun tersenyum tapi wajah cantik itu malah berubah menjadi wajah mengerikan.
"Dasar detektif bodoh! Apa yang sudah anda lakukan? Apa anda sudah gila?" seru Chizue dengan marah.
"Shiho, kenapa kau memarahiku? Aku kan sedang sakit," keluh Shincihi dengan manja.
"Saya bukan Shiho," bentak Chizue.
"Ya, ya, baiklah," ucap Shinichi. Kemudian dia mengerang karena badannya terasa sakit semua, terutama di bagian perut, sehingga Chizue pun langsung melunak dan menatap Shinichi dengan khawatir.
"Anda baik-baik saja? Saya akan segera memanggil dokter," ucap Chizue sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak, jangan pergi," ucap Shinichi sambil memegang pergelangan tangan Chizue sehingga Chizue mengurungkan niatnya dan duduk kembali.
"Kenapa anda melakukan semua ini? Anda benar-benar tidak waras," ucap Chizue setelah hening sejenak.
"Iya, aku memang sudah gila. Tapi akhirnya aku mendapatkanmu kan," ucap Shinichi sambil nyengir sejenak sebelum kembali meringis kesakitan.
"Kudo-tantei...," ucap Chizue dengan nada benar-benar tidak habis pikir.
Chizue kemudian bangkit kembali dari kursinya lalu mencium kening Shinichi.
"Eh?" ucap Shinichi dengan kaget dan wajah memerah.
"Saya akan memanggil dokter," ucap Chizue. Kemudian dia melangkah keluar dari kamar Shinichi. Setelah menutup pintu kamar Shinichi, dia menoleh ke pintu kamar yang ada di sebelah kamar Shinichi, yang diketahuinya sebagai kamar Kaito, selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi untuk mencari dokter.
XXX
"Aoko, kenapa Chizue tidak pernah menjengukku?" tanya Kaito.
"Dia sedang sibuk," jawab Aoko datar. "Sudahlah, jangan menanyakan dia terus dan makanlah agar kau segera sembuh," lanjutnya.
"Aku tidak mau makan. Katakan padanya kalau dia tidak datang ke sini, aku tidak mau makan," ucap Kaito dengan wajah cemberut.
Aoko pun menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakan padanya kalau dia sudah salah memilih laki-laki karena laki-laki pilihannya hanyalah laki-laki manja dan tidak berguna," ucap Aoko sehingga Kaito menatapnya dengan kaget.
Kaito selalu berpikir kalau Aoko membenci Chizue, tapi sepertinya dia salah. Yah, Kaito memang belum tahu apa yang sudah dilakukan Chizue untuk menyelamatkannya, karena hal itulah yang membuat Aoko tidak membenci Chizue lagi. Aoko akhirnya sadar bahwa Chizue benar-benar lebih berhak mendapatkan cinta Kaito daripada dirinya.
"Aoko, aku...," ucapan Kaito langsung dipotong oleh Aoko.
"Dia sedang sibuk mengurus pamannya, jadi berhentilah menjadi laki-laki egois untuk sementara," ucap Aoko.
"Maafkan aku. Baiklah, aku akan makan sekarang. Terima kasih, Aoko," ucap Kaito.
"Aoko benar. Aku harus segera sembuh. Kalau Chizue tidak bisa menemuiku karena sibuk, maka aku yang harus menemuinya," ucap Kaito dalam hati.
XXX
"Hati-hati," ucap Chizue sambil membantu Shinichi naik ke tempat tidur.
"Ah, senang sekali bisa pulang ke rumah. Aku benar-benar tidak suka rumah sakit," ucap Shinichi setelah dia berbaring dengan nyaman di tempat tidurnya.
"Yah, kalau anda memang tidak suka rumah sakit, anda harus berhenti melakukan hal-hal bodoh yang bisa mengantarkan anda ke rumah sakit," ucap Chizue dengan nada memperingatkan sehingga Shinichi tertawa kecil.
"Kau tahu, hal yang paling membuatku membenci rumah sakit adalah karena Shiho selalu mengacuhkanku di tempat itu. Dia selalu sibuk dengan pasien-pasiennya," ucap Shinichi.
"Jadi Shiho-san seorang dokter?" tanya Chizue.
"Iya, dia seorang dokter," jawab Shinichi, kemudian dia kembali tertawa. "Lucu sekali mendengarmu memanggil dirimu sendiri dengan Shiho-san," ucapnya saat dia melihat Chizue menaikkan alisnya padanya.
"Tapi saya bukan Shiho," ucap Chizue.
"Kau Shiho. Kalau kau tidak percaya, kita bisa mengecek golongan darahmu dan kita bahkan bisa mengecek DNA-mu," ucap Shinichi.
"Tapi saya tidak ingat apapun lagi tentang Shiho, jadi meskipun saya benar-benar Shiho, saya bukan dia," ucap Chizue.
"Lalu kenapa? Kau pasti akan mengingatnya lagi suatu saat nanti. Kalau pun tidak, kau bisa jatuh cinta padaku lagi kan? Itu tidak akan sulit," ucap Shinichi dengan sombong sehingga Chizue memutar bola matanya.
"Lalu bagaimana dengan anda?" tanya Chizue.
"Bagaimana apanya?" Shinichi balik bertanya dengan bingung.
"Apa anda juga bisa mencintai saya sebagai Chizue? Anda mencintai saya karena saya Shiho kan?" jawab Chizue sambil balik bertanya.
Shinichi pun tertegun. Dia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Dia selalu melihat Chizue dan Shiho sebagai orang yang sama meskipun kepribadian mereka lumayan berbeda. Dan mungkin dia akan terus berpikir begitu karena Shiho dan Chizue memang orang yang sama.
"Kemarilah! Berbaringlah di sebelahku," ucap Shinichi.
Chizue pun menurut dan naik ke tempat tidur untuk berbaring di sebelah Shinichi.
"Apa kau ingin aku mencintaimu sebagai Chizue?" tanya Shinichi sehingga kali ini giliran Chizue yang tertegun.
"Saya tidak tahu," jawab Chizue pelan setelah terdiam selama beberapa saat.
"Baiklah. Aku akan memanggilmu Chizue dan menganggapmu Chizue sampai kau menjadi Shiho kembali," ucap Shinichi.
"Eh?" ucap Chizue dengan agak terpana dan wajah agak memerah sementara Shinichi hanya tersenyum.
"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa senang kalau Kudo-tantei menganggapku Chizue dan bukannya Shiho? Apa perasaan yang kurasakan ini? Apa aku sudah jatuh cinta pada Kudo-tantei? Tapi aku mencintai Kaito-kun, jadi bagaimana bisa?" pikir Chizue dengan bingung.
Shinichi kemudian berusaha berbaring menyamping lalu menarik Chizue mendekat dan mencium bibirnya.
"Ouch," Shinichi berseru kesakitan sambil mengakhiri ciumannya beberapa saat kemudian.
"Makanya jangan banyak bergerak dulu. Anda ini bagaimana? Anda bisa mencium saya sepuasnya nanti kalau anda sudah sembuh," omel Chizue sambil membantu Shinichi berbaring telentang kembali.
Ucapan Chizue membuat Shinichi nyengir.
"Benarkah aku bisa menciummu sepuasnya nanti saat aku sudah sembuh?" tanya Shinichi dengan nada menggoda.
Wajah Chizue langsung memerah.
"Uh, itu...," ucap Chizue dengan gugup.
"Kenapa aku terus mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kukatakan?" omel Chizue pada dirinya sendiri.
"Saya mau mencuci dulu. Anda harus istirahat," ucap Chizue, berusaha melarikan diri, tapi Shinichi langsung memegang tangannya.
"Jangan pergi dulu. Aku ingin tidur dalam dekapanmu. Nanti kalau aku sudah tidur, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan," ucap Shinichi.
Chizue pun menghela nafas.
"Baiklah," ucap Chizue.
Bersambung...
