Judul : Nyanyian Rumah Sunyi
Chapter : 9
Author : KyuuGa C'Orangan sawah
Pairing : Naruhina, Narusaku.
Semua chara dalam Naruto adalah milik om Masashi ^_^, aku hanya pinjem!
Chapter sebeumnya: Naruto terperangah saat melihat Hinata, gadis yang semalam dia temui terbaring koma di depannya. Neji pun memberikan tugas untuk Naruto agar mengawasi Hinata selama dia beraada di Konoha. Akankah Hinata yang terbaring koma bisa membuat Naruto melupakan sakura dan meluluhkan perasaan Naruto padanya? Cek it out!
oOo
"Hinata!"
Semua yang mendengar Naruto tiba-tiba menyebut sebuah nama sontak langsung menatap heran padanya.
"Hinata? Siapa itu, Naruto?" Tanya Sai penuh selidik.
"Apa dia pacar barumu?" kini giliran Kiba terdengar mengejek.
Naruto tak perduli pada candaan teman-temannya, dia hanya berdiam diri mengabaikan candaan Kiba padanya. Pacar? Pacar apanya, bertemu saja baru kemarin. Lagian bagaimana bisa dijadikan pacar, teman aja belum tentu iya.
"Hinata? Sepertinya aku pernah mendengar namanya," gumam Gaara mencoba mengingat nama itu, sedangkan lainnya kini mengalihkan pandangan mereka ke arah Gaara yang masih berpikir, termasuk Naruto.
"Apa itu dari Sasuke?" tebak Shino dan dibalas anggukan pelan dari Gaara.
Naruto terperangah kaget mendengar nama Sasuke, dia seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Sontak ada rasa miris yang mengganggu perasaannya.
"Naruto, apa mereka adalah gadis yang sama?" nada bicara Shikamaru terdengar sedikit menyidik. Naruto tersentak kaget mendengar pertanyaan Shikamaru, dia menyadari sesuatu.
"Ahahaha, mungkin mereka adalah gadis yang berbeda. Kebetulan saja nama mereka sama," elak Naruto disela tawanya mengusir perasaannya.
"Hn, jika mereka adalah orang yang sama, nasibmu memang selalu didahului oleh Sasuke."
Wajah Naruto seketika menggodok mendengar kata-kata Sai, "Yah, itu benar. Jika mereka adalah orang yang sama aku orang yang kurang beruntung, selalu berada dibawah bayangan Sasuke," sahut Naruto seraya berdiri, dan sepertinya Gaara tahu apa yang dirasakan oleh Naruto.
"Naruto," Gaara mencoba menahannya.
"Aku ingin istirahat," sahut Naruto mengabaikan Gaara dan yang lainnya seraya berjalan meninggalkan kedai, dia bahkan tak meminta maaf pada dua gadis yang terus menatap heran padanya.
Dari jauh samar-samar Naruto mendengar Gaara memarahi Kiba dan Sai, dia hanya tersenyum berat dan terus melangkah menjauh meninggalkan kedai. Dia berjalan ditengah-tengah keramaian kota, menikmati tiap keramain di sudut kota.
Menikmati langit Suna yang mulai di penuhi kumpulan awan cumulus, menggumpal membentuk bunga kapas raksasa. Dia melangkah pelan, mencoba mengusir perasaan galau yang melandanya.
Tes, tes, tes!
Tetesan hujan berjatuhan membasahi tanah Suna yang gersang, membasahi tubuhnya yang goyah, membekukan perasaannya yang dingin.
Angin bertiup pelan menerpa wajahnya menyisahkan sensasi dingin, keheningan seketika mengelilingi Naruto. Semua orang berlari menghindari deraian hujan, hanya tinggal dia seorang yang berdiri dibawah deraian hujan.
Hening, dan sunyi.
Perasaan Naruto seketika aneh, ada yang lain dari kesunyian ini. Kesunyian ini seperti, —.
"Hinata," ingatannya membawanya pada Hinata.
"Apa ini yang dia rasakan? Kesepian seperti ini? Ini, ini terlalu sakit!" lanjut Naruto seraya meramas dada kirinya.
Dia kemudian melanjutkan langkahnya, dan kembali menikmati guyuran hujan yang membasahi tubuhnya. Terus melangkah, dan melangkah dengan perasaan yang makin kacau.
Ddhuuuuaaarrr!
Suara gemuruh kilat terdengar bagai ledakan bom atom tepat di atas kepalanya. Naruto menghentikan langkahnya, jantungnya berdegub kencang karena terkejut. Dia semakin meremas kuat dada kirinya.
Entah apa yang dipikirkan Naruto hingga membuat dia berlari kencang menerobos guyuran hujan yang kian deras menerpa tubuhnya. Dia terus berlari hingga napasnya tersengal-sengal, dia tidak peduli pada kakinya yang kesakitan karena sering menendang sesuatu yang keras ditangah jalan.
Naruto terus berlari, dan berlari menuju satu tempat yang saat ini tengah dia pikirkan, menemui seseorang yang saat ini sangat dia khawatirkan. Seseorang yang selalu dalam kesepian.
Kini, gapura masuk kompleks Konoha yang sunyi mulai terlihat. Dia makin mempercepat laju larinya, dan akhirnya dia berhenti di salah satu rumah yang sederhana namun terlihat elegan. Dari dalam rumah itu samar-samar terdengar suara nyanyian yang tak asing lagi baginya.
Naruto mengeluarkan kunci dari saku celananya dan membuka pagar, kemudian membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Dia tidak peduli pada bajunya yang basah kuyup, dia tidak peduli jika hasil dari perbuatannya lantai jadi tergenang air.
Dia berlari menaiki lantai dua, dan dengan cepat dia membuka pintu yang paling ujung. Serentak aroma obat-obatan tercium saat pintu itu terbuka, penerangan yang kurang membuat Naruto mau tak mau harus masuk ke dalam kamar dan memastikan apa yang dia khawatirkan.
Clek!
Lampu kamar menyala menerangi ruangan yang luas itu, kini bisa dilihat dengan jelas seorang gadis yang terbaring lemah dan tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Naruto menghela napas lega, dia mendekati tempat tidur dan menutupi jendela kamar yang selalu terbuka.
Dia perhatikan wajah Hinata yang tak sadarkan diri, dia perhatikan seulet wajah pucat itu. Akh! Kenapa dia masih teringat pada Sakura dan Sasuke? Rasa sakit dan benci pun kembali menghampiri perasaannya.
Hujan masih saja menguyuri tanah suna yang gersang, membasahi tanah yang berdebu, menghilangkan debu di tanah yang tandus. Berharap setelah itu, tanah Suna semakin subur.
…..
Hari makin menggelap, sementara hujan pun tak kunjung reda. Setelah mengganti seragam basahnya dengan baju yang entah dia temukan dimana, Naruto merebahkan tubuhnya yang kedinginan di sofa dekat tempat tidur Hinata. Diraihnya selimut yang tersedia di sofa, dan membungkus tubuhnya.
Naruto perhatikan wajah pucat Hinata, berharap Hinata menggerakan matanya. Atau membuka matanya, yah. Dia berharap Hinata segera sadar dari komanya.
"Apa setiap hari kau seperti ini? Berdiam diri, sendirian di kamar yang sepi dan gelap ini? Apa kau tak bosan?" Tanya Naruto entah pada siapa, yang pastinya tak ada yang menjawab pertanyaannya.
"Aku sedih melihat mu seperti ini, Hinata. Apa kau tak memiliki teman hingga kau betah tidur seperti ini terus?" lagi, Naruto memberikan pertanyaan yang tak mungkin dijawab oleh gadis indigo itu.
"Ayolah, Hinata. di luar sana sedang hujan, kau tahu. Hujan di kota Suna ini adalah hal yang langka, apa kau tak ingin menikmati momen langka ini?" Naruto tak peduli jika Hinata tetap mendiamkannya dalam kebisuan.
"Ne, Hinata-chan! Cobalah, sekali-kali kau balas pertanyaannku, masa sedari tadi aku jawab sendiri!" rengek Naruto karena sedari tadi dia hanya aktif sendiri.
"Haaaaa~~~, baiklah. Aku tidak akan memaksamu, Hinata-chan. Aku akan terus bercerita hingga telingamu tak mampu mendengarnya!" mengapa Naruto terdengar ngambek? Seharusnya di sadar jika aksinya itu percuma saja.
Naruto menyadari itu percuma saja, dia sadar Hinata tidak akan meresponnya. Dia rapatkan sofa ke tempat tidur, dan menggenggam tangan Hinata, mersakan tangan Hinata yang dingin.
"Apa kau kesepian, Hinata?" Tanya Naruto meski dia tahu Hinata tak akan bisa menjawabnya.
"Aku tahu kau kesepian, aku tahu kau tak ingin ditinggal sendiri. Iya kan, Hinata?"
Hening, hanya suara deraian hujan mulai mereda. Naruto pun tak melanjutkan kata-katanya.
"Huaaaammm~~~!" Naruto mulai menguap. "Aku ngan—."
Naruto menahan kata-katanya saat terdengar suara deringan tanda adanya pesan masuk di hpnya.
1 pesan dari Kiba.
'Naruto, kau dimana? Apa kakekmu tak menyimpan nomor mu hingga harus menghubungi ku?'
Naruto menepuk jidatnya, dia lupa memberitahukan kakeknya. Naruto kemudian mengetik beberapa kata di layar ponsel, dan kemudian mengirimnya. Tak lama kemudian hp Naruto berdering tanda pesan masuk.
Naruto tersenyum puas membaca pesan dari Kiba, namun senyumnya itu tertahan begitu gambar screen saver menampilkan gadis bersurai pink yang tersenyum manis padanya.
"Sakura," Naruto kembali teringat pada gadis pujaan hatinya yang meninggalkannya demi seorang Uchiha, gadis yang dia dapatkan dengan penuh perjuangan, dan rela mengorbankan segalanya demi mempertahankan sang gadis pujaan.
Tapi, apa daya. Sang gadis pujaan telah memilih untuk melepaskannya, melepaskan semua pengorbanannya. Sungguh miris.
Naruto menarik napas berat, seberat melepas pujaan hatinya. Suara alat pendeteksi jantung yang berbunyi mengalihkan pikiran Naruto pada Hinata yang masih saja terbaring tanpa peduli pada Naruto yang tengah galau. Tapi sepertinya Hinata tak bisa mengalihkannya dari sakura, dia masih saja terpikirkan akan sakura. Sakit, sungguh sakit mengingat apa yang sakura lakukan padanya. Ingin rasanya dia berteriak melepas sesak didadanya.
"Hinata, kau mendengar ku? Jika kau mendengarnya sebaiknya kau berpura-pura tak mendengarnya, aku akan malu jika kau mendengarnya."
"Ada seorang gadis yang manis, dia telah mencuri hatiku saat pertama kami bertemu. Dia adalah gadis yang ku dambakan, aku sangat mencintainya," Naruto terdiam sejenak, menarik napas pelan dan kemudian melanjutkan ceritanya.
"Kau tahu, kini dia telah pergi meninggalkan ku. Dia pergi bersama sahabatku sendiri, kau bisa bayangkan betapa hancurnya hatiku saat mengetahuinya?"
Hening, Naruto terdiam. Entah apa yang dia tunggu dari kesunyian itu, apa dia berharap Hinata menanggapi ceritanya? Tapi sepertinya itu sia-sia, karena Hinata tak peduli sama sekali dengan ocehan Naruto.
"Mungkin sekarang mereka sangat bahagia bersama," Naruto tersenyum pahit. Dia membuka ponselnya dan melihat gambar-gambar dirinya bersama Sakura. Dia tertahan disebuah gambar, gambar saat pertama dia dan Sakura jadian. Gambar seorang gadis bersurai indigo panjang yang berdiri membelakangi mereka.
"Siapa gadis ini? Aku belum pernah melihanya di sekolah?" Tanya Naruto pada dirinya sendiri.
"Eh, gadis ini mengingatkan ku pada surat misterius di dalam lokerku. Kau tahu Hinata, sampai sekarang aku tidak tahus siapa pengirimnya. Dan satu lagi, bento misterius yang tiap pagi ada di mejaku. Aku tidak tahu siapa yang memberikannya, sungguh misterius. Meski pun pernah diganti, tapi aku tahu bento itu dibuat oleh orang berbeda, karena rasanya pun berbeda."
Naruto mulai berceloteh dengan semangatnya, melupakan kemelut hatinya yang mengobrak-abrik persaannya.
"Apa maksudnya ini? Apa itu artinya ada yang diam-diam menyukaiku?" Naruto mencoba membuat sebuah spekulasi. "Ahahaha, apa itu benar Hinata? apa mungkin ada seseorang diluar sana yang diam-diam menyukaiku? Ahahaha, aku rasa itu tidak mungkin," Naruto tertawa lepas, dia tertawa karena tidak mungkin ada yang menyukainya dengan diam-diam.
"Ahaha, iya kan Hinata?" Naruto menghentikan tawanya, dia terdiam, kembali dia melihat wajah pucat Hinata yang tenang.
"Ne, Hinata. seperti apa orang yang kau sukai itu?" Tanya Naruto pada udara kosong, hening. "Apa tipe orang yang kau sukai itu seperti Sasuke?" lagi, Naruto bertanya mungkin dia berharap bisa mengetahui tipe cowok Hinata.
"Sasuke itu tipe cowok yang banyak di gandrungi cewek-cewek, buktinya, pacarku sendiri memutuskan aku karena dia," hening. Tak ada respon sama sekali dari Hinata, dia tetap setia mendengarkan cerita Naruto tanpa bereaksi apa-apa.
"Ne, Hinata. ehehehe, boleh aku bertanya?" Naruto cengengesan sendiri, "Eto, jika Sasuke bukan tipe cowok idamanmu. Apa aku ada dalam daftar katagorimu?" entah apa yang ada dalam pikiran Naruto hingga dia ajukan pertanyaaan yang membuat dia tersipu sendiri.
"Sudahlah, kau tak perlu menjawabnya. Dilihat dari saudaramu, Neji. Pasti tipe mu juga tinggi sama seperti dia," akhirnya Naruto menyerah.
Sementara di luar hari telah menggelap, jam dinding menunjukan pukul 9 malam. Dia harus segera pulang, kalau tidak dia akan kena marah oleh kakeknya.
"Hinata, hari sudah larut dan hujan pun sudah reda. Aku harus segera kembali," kata Naruto seraya beranjak berdiri dari sofa. Setelah memastikan semua aman, Naruto pun berjalan keluar kamar. Dia melangkah pelan meninggalkan lantai dua.
Tanpa dia sadari, seperti biasa. Gadis bersurai indio panjang berdiri di depan pintu kamar Hinata menatap sedih pungung Naruto yang bergerak turun ke lantai satu. Iris amethysnya bergetar, kolam jernihnya basah. Dia tidak ingin Naruto pergi, dia tidak ingin Naruto meninggalkannya sendirian. Dia ingin Naruto terus berada disisinya, memegang tangannya, mendengarkan ceritanya, mendengarkan suara tawanya.
"Naruto-kun."
Naruto menghentikan langkahnya menuruni tangga, telinganya menangkap suara seseorang memanggil namanya.
"Hinata," Naruto memalingkan wajahnya menatap pintu kamar Hinata yang tertutup. Percaya atau tidak, Naruto berpikir jika yang memanggilnya adalah Hinata.
Naruto berdiri cukup lama, dia kembali menatap tangga turun. Gadis indigo transparan itu menunduk sedih, dia sedih karena tak bisa menahan Naruto untuk lebih lama dengannya. Suara derap lanagkah terdengar, dia tahu Naruto akan tetap mengabaikannya. Tanpa menoreh pada Naruto, gadis itu berpaling masuk ke kamar.
Klek!
Gadis itu terperanjat kaget, dia kaget saat tangan Naruto menembus tangannya membuka pintu kamar Hinata. Dengan gaya patah-patah, dia mencoba melihat wajah Naruto yang tersenyum tepat didepan matanya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya.
"Apa kau tak ingin aku pergi?"
Degh!
Gadis tersentak dari keterlenaannya, bisa mendengar dengan jelas jantungnya berdetak kencang, dia bisa merasakan kalau tubuhnya merespon perkataan Naruto. Setetes air jatuh dari kolam jernih transparannya, dia tersenyum bahagia meski Naruto kemudian menutup pintu dengan keras didepan wajahnya.
Dia pun menerobos pintu, dan mendekati Naruto yang saat ini telah duduk di sofa sambil bercerita, tak lepas senyum khasnya yang membuat gadis itu tetap bertahan karenanya.
Sepanjang malam gadis itu hanya memandang Naruto dengan tatapan bahagia, dia sama sekali tidak jenuh, atau pun bosan. Berada sedekat ini dengan Naruto baginya adalah sebuah anugrah yang tak terbalas.
….
Suara hp berdering tanda adanya panggilan masuk terdengar nyaring hingga mengusik tidurnya. Antara sadar dan tak sadar, tangan Naruto bergerak sembarangan mencari ponselnya.
"Moshi moshi," kata Naruto begitu dia berhasil mengambil ponselnya yang tertindih tubuh Hinata.
"Naruto, kau dimana? Kenapa semalam kau tak pulang?!"
"Kakek?"
"Kakek apaan?! Ini aku Kiba, semalam kau tidur dimana?"
"Hmmm, aku tidur di rumah kok. Memangnya kenapa?" Tanya Naruto diantara rasa kantuknya.
"Kau jangan bohong Naruto, kau dimana sekarang?!" Naruto menyengrit heran.
"He eh? Kenapa suara Kiba berubah jadi suara Gaara?"
"Ini aku Gaara, Naruto. Jika kau semalam tidur di rumah, kenapa kakekmu mencari mu di sekolah?"
Naruto tersentak kaget, dia serentak bangun. Seketika rasa kantuknya hilang dalam sekejap.
"Kakek?" Naruto baru menyadari dia melupakan perihal kakeknya.
Tiiiittttt, tiiiiittt.
Sementara itu di sekolah, Gaara menatap aneh pada ponselnya.
"Nih, sepertinya ponsel mu sudah rusak," kata Gaara serya menyerahkan ponsel pada Kiba, Kiba mengambil ponselnya dari Gaara dengan tatapan aneh, kemudian dia coba dengarkan suara dari ponselnya, sesaat kemudian dia mendengus kesal seraya mendeatglare Gaara.
"Otak mu yang rusak!"
…
Naruto berlari dengan tergesa-gesa menuju gerbang sekolah, napasnya tersengal-sengal, keringat pun membasahi wajah dan surai pirangnya. Dia berlari memutari gerbang sekolah mengambil jalan pintas agar tidak tertangkap satpam, mengingat dia terlambat hampir setengah jam. Untungnya juga saat ini di kelas tidak ada guru, jadi dia selamat.
Setibanya di kelas, Naruto mulai dikerumi oleh teman-temannya, dia hanya bisa cengengesan melihat ekspresi teman-temannya yang terlihat gerah.
"Semalam kau dimana, Naruto?" Tanya Kiba membuka introgasi dengan nada menyelidik bak seorang petugas polisi.
"Eto, aku—, aku—," Naruto tampak kebingungan menanggapi pertanyaan Kiba. Dia keberatan menceritakan penyebab dia terlambat, dia tidak yakin dengan reaksi teman-temannya jika mengetahui penyebabnya.
"Ada apa Naruto?" giliran Shikamaru yang mulai mencurigai gelagat Naruto.
Naruto makin terdesak, dia tidak tahu harus menjawab apa. Apa dia harus ceritakan keberadaan Hinata di rumah Neji? Tapi, apakah itu tidak apa-apa? Bagaimana jika Neji marah? Akh! Kenapa serumit ini?!
Pikiran Naruto terus berkemelut dalam pilihan yang mendua, apakah dia harus menceritakan keberadaan Hinata atau tidak? Iris biru safirnya terus bergerak tak beraturan ke kiri dan kanan, menandakan pikirannya sedang kacau.
Prak! Gaara memukul meja dengan keras, sepertinya Gaara mulai gerah dengan sikap Naruto yang ambigu.
Naruto terbelak kaget dari pikirannya, keningnya mengerut melihat tangan Gaara yang memerah di atas mejanya.
"Eh, hari ini tidak ada bento?" Tanya Naruto saat menyadari di mejanya tak ada bento.
Perempatan muncul beraturan di kepala Gaara karena diabaikan begitu saja oleh Naruto. Sementara Naruto masih terdiam, sekarang tambah satu lagi pertanyaan yang harus dia cari jawabannya, 'kenapa tak ada bento hari ini?'
"Naruto, apa yang kau pikirkan! Baka!" geram Gaara kesal.
"Eh," Naruto tersadar dari pikirannya. "Gomen, aku belum bisa memberitahu kalian saat ini," balas Naruto dengan tampang tanpa dosa.
Yang lainnya hanya bisa mendegus kesal mendengar jawaban Naruto.
….
Jam pelajaran terakhir hampir mendekati selesai, Gaara dan Shikamaru tampak tak tenang melihat Naruto yang resah sejak masuk jam terakhir, mereka berdua sedari tadi saling lirik berbagi kode.
suara bel tanda pelajaran berakhir terdengar disahuti suara dengungan diseluruh kelas, begitu selesai membereskan perlengkapan belajarnya, Gaara kembali melirik tempat duduk Naruto. Kosong.
"Dia sudah pergi," kata Shikamaru yang juga memperhatikan Naruto.
"Sejak diputuskan Sakura, Naruto terlihat lebih banyak murung," tambah Sai ikut bergabung.
"Apa baik-baik saja membiarkannya sendirian?" Tanya Kiba khawatir dengan psikologi Naruto.
….
Naruto berlari dengan cepat menuju kompleks konoha, entah apa yang ada pikirannya hingga membuat dia menyiksa dirinya seperti itu.
Dari jauh, nyanyian sunyi samar-samar terdengar. Dia makin mempercepat larinya hingga napasnya tersengal-sengal, dia tidak peduli pada kakinya yang kelelahan atau tubuhnya yang kedinginan.
Sementara itu, di rumah Neji. Tampak gadis indigo transparan duduk termenung di depan pagar, wajah pucatnya terlihat murung. Sesekali matanya melihat ke jalan, berharap yang ditunggu datang.
Tapi, sejauh ini yang ditunggu tak kunjung datang.
Tap, tap, tap. Suara derap langkah yang tak berturan dengan tempo yang cepat terdengar mendekatinya, sontak gadis itu melompat dari tempatnya dan berlari menuju pagar. Tubuhnya yang transparan dan dingin semakin mendendingin begitu melihat sosok bersurai pirang berlari menuju ke arahnya.
"Naruto-kun," akhirnya wajah pucat gadis itu kembali ceria, dengan penuh kebahagian yang tak tekira dia memanggil nama Naruto. Senyum gadis itu makin melebar ketika Naruto makin mendekat dan melihat ke arahnya.
"Naruto-kun, aku menung—," gadis itu menahan kata-katanya, terasa syok, terpaku dan tak berdaya saat Naruto terus berlari melewatinya, melewati rumah sunyi itu, tanpa peduli pada Hinata yang menunggunya.
Tap, tap, tap.
Suara derap laju lari Naruto terdengar makin menjauh, meninggalkan jejak aroma lemon di udara. Meninggalkan kelaraan di hati gadis indigo, menyisahkan penantian yang hampa pada Hinata yang terus menunggunya.
"Na, Naruto-kun, kau—."
Terasa berat, sakit. Itu yang gadis indigo rasakan, dadanya terasa sesak. Dia ingin menangis melihat Naruto terus berlari, dan tak berhenti di rumahnya. Bukannya Naruto telah berjanji untuk kembali?
Sementara itu, di kamar lantai dua. Di kamar Hinata, tampak Hinata yang tak sadarkan diri terbaring tak berdaya. Dari sudut matanya sesetes air bening mengalir membasahi telinganya.
…..
TBC
Akhirnya bisa up date juga, maaf kalo terlama lama. Bahkan terlalu lama sampe chpa 1nya aja udah jamuran. Oke, lupakan!
Hm, chap kali ini ceritanya sedikit lebih pendek dari sebelumnya. Semoga kalian tetap menyukainya!
Oke, saatnya balas review!
Uchiha kagami: yosh, sangkyuu ne!
Blue-senpai: woke! Sangkyuu ne dah read fic gaje ku, ^_^
Kazehaya Sakazuki: waduh, kok gitu. Suka banget liat naruto disakiti ma Sakura? Kan kasihan narunya… ^o^7
August Atcherryd: Hai, August! Salam kenal juga. Makasih dah RnR fic gaje ku ini. Emg dari awal aku ga ada rencana buat fic yang serius, tapi seiring tangan berjalan di keyboard dan imajinasi terbang tak kendali, terciptlah fic seperti ini.
Tapi makasih yah, atas masukannya. Aku sangat suka dan itu sangat membantuku, akan ku perbaiki selanjutnya.
Kobaysen: OK, nih dah ku usahain up date cepat. Tapi hinatanya kenapa belum dijelaskan di chap ini.
Guest: OK.
: eheheh, iya yah. Kejam banget si authornya! #lha, bukannya aku sendiri?
Sakura? Iya, dia selingkuh ma sahabat pacarnya sendiri. Ngapain Tanya ma rumput yang bergoyang, mereka juga gak tahu fic ini ada, ^o^v
Hm, yang ngirim bento itu bukan Neji, ga ada kerjaan banget Neji ngirim naruto bento, bukannya dia paling ga suka naruto?! #lah kok balik nanya?
#Reader: au ah, gelap.
Hinata ga mati kok, kan kasihan naru-channya. Udah ditinggal Sakura jangan hinata lagi dong, ^_^
Jangan marah, yang sabar aja. Sakura emang sakit, tapi hal itu masih disembunyikan dari naruto. Dan Sasuke sebenarnya yang pertama menyukai hinata, tapi sepertinya dia di tolak. #duh, kasihan Sasuke.
Sin, hye jung: gomen, gi sibuk di dunia nyata. Jadi mau ngetik mau up date aja curi-curi waktu. ^_^7
Oni: sangkyuu… nih, aku lagi usahain.
Thanks semuanya dah RnR fic gaje ku….
