Pairing : France X England— Mention : America x England
Rating : T
Lie To Me
Suatu hari memanggil ke sebuah ruangan, dimana hanya mereka berdua duduk berhadap-hadapan dan membicarakan hal yang aneh dan gila, dasar katak sialan. Itulah si Francis Bonnefoy, personifikasi negara yang dikatakan negara yang memiliki segala bentuk cinta.
"England menikahlah denganku!"
"Tidak mau"
Tiba-tiba meminta hal yang mustahil seperti itu, dengan wajah pucat pasi seperti itu. Apa maunya sih?
"Tunggu, kajam sekali kau! Kenapa langsung menolak?!"
"Aku masih cukup waras. Sudah jadi rahasia umum kalau kau harus menolak pak tua brewokan macam dirimu"
Si personifikasi negara yang dulunya pernah menjadi bajak laut, mengoceh di balik bibirnya yang menempel dengan cangkir. Dia bahkan tidak mau repot- repot melihat lawan bicaranya, dia terlalu sibuk menikmati tehnya.
"Arthur, aku bisa mati!," pria Prancis itu terdengar lebih depresi dan tertekan, tentu saja yang dimaksud dengan 'pernikahaan' bukan pernikahan yang dianggap 'bahagia' oleh yang lainnya "Karena terusan Suez aku—"
"Berhenti," si mantan bajak laut meletakan cangkirnya dan menatap tajam lawan bicaranya "Asal kau tahu, meskipun kau menjadi budakku selama 100 tahun pun. Aku tak akan menikahimu. Kau tahu sejarah kita," berdiri, dia tersenyum kecil terlihat seperti sedang meremehkan "Kalau kau butuh pinjaman uang, mungkin masih bisa kupikirkan"
Dengan itu, Arthur melangkahkan kakinya hendak meninggalkan ruangan namun Francis lebih cepat menarik tangannya "Tunggu!," cegahnya dan berhasil membuat pria Inggris menoleh padanya "Kenapa kau begitu menolakku?," tanyanya. Di dalamnya seperti ada rasa kecewa, marah, dan juga kesal. Tatapan Arthur terlihat sama sekali tidak bersimpati pada semua emosi yang di tunjukan Francis, namun dia tetap menjawabnya "Tidak ada—"
"—Karena tidak ada 'cinta' disana," jawabnya begitu saja lalu menarik tangannya yang di genggam Francis "Aku pulang. Bye"
Sang personifikasi pirang itu melambaikan tangannya lalu menghilang di balik pintu.
OXO
Seperti biasa dalam rapat negara sekutu, America bertindak seenaknya. Dengan ide konyolnya yang tentang Hero atau apapun itu, seingat England dia tidak pernah membesarkan anak seperti itu. Tapi kalau untuk personifikasi negara di sana itu...
England melirik France yang dari tadi mengoceh tidak karuan tentang America yang seenaknya. Biasanya dia juga begitu, bahkan malah akan membentak si negara bebas tersebut. Namun untuk hari ini, dia tidak merasa ingin membentak anak itu, rasanya semua tenaganya hilang semenjak dia berbicara denga France hari itu.
Karena tidak ada rasa 'cinta' di sana, maka karna itu aku tidak menerimamu
Tidak patut untuk diakuinya jika dia mengagumi France. Sejak dulu, personifikasi negara 'cinta' tersebut memiliki charm yang indah. Sementara dia hanyalah personifikasi yang di ganggu oleh kakak-kakaknya dan juga tidak indah.
France suka mengoda perempuan, bermain di sana dan disini. Dia tidak pernah serius menjalin suatu hubungan— dalam masalah sexsual— dan meskipun si katak itu melamar England secara politik, tetap saja itu membuat si mantan bajak laut kesal sekali.
Tapi hebat juga, masih bisa mengomel panjang seperti itu meskipun keadaaan ekonominya sedang buruk, kalau aku mungkin sudah berbaring di ranjang.
Pikir England, masih dengan tatapan malas dan sama sekali tidak memperdulikan sekelilingnya. Sampai akhirnya Russia memperhatikan kalau dia sedang melamun dan akhirnya bertanya "Kenapa da?"
England melonjak sedikit karena memang dia sedang melamun "Oh, tidak ada" jawabnya agak cangung lalu untuk menghindari tatapan Russia dia melihat cangkir tehnya dan memegangnya "Ha— hari ini juga si America bertindak seenaknya, huh"
"Begitulah da, kau tidak membentaknya seperti biasa da? "
England menghela nafas panjang lalu menyingkirkan cangkirnya kesamping dan meletakan kepalanya di meja "Sedang tidak Mood," jawabnya malas "Biarkan saja dia, apalagi kita akan melakukan semuanya dengan cara sendiri"
"Kalau kau bicara begitu aku mulai penasaran sebenarnya rapat ini untuk apa da"
...
"Ada dengan wajahmu?"
Ketika rapat berakhir yang lainnya segera pulang, sedangkan England masih mengemasi barang-barangnya dengan alis yang saling menaut. Mungkin karena menyadari keanehan pada mantan 'ayah'nya, America mendekatinya.
"Hmm?...kau tidak pulang?," tanya England seraya menutup tasnya lalu melihat America tepat di mata "Kupikir kau sudah melesat entah kemana"
"Huh?, entah kenapa hari ini kau lelet sekali," America menaikkan salah satu alisnya "Bukannya biasanya kau datang paling awal dan membuat coret-coretan di papan?"
"Dan hari ini aku tidak berargumen denganmu," tambah England lalu berdiri dari tempatnya. Di saat bersamaan England akan keluar, America mengulurkan tangannya untuk mencegah namun tidak berhasil "Aku sedang tidak mood" kata si pirang yang lebih pendek saat dia menjauh
"...Apa karena kau baru saja menolak France?," karena tindakan tidak berhasil akhirnya hanya tinggal kata-kata. Memang akhir-akhir ini berita tersebut menyebar, dan tidak aneh jika negara besar seperti America dan terlebih lagi sekutu mereka berdua tidak mendengar kabar ini. England mengalihkan pandangannya lalu memutar tubuhnya "Tidak ada hubungannya dengan sialan itu"
Kelihatannya memang England tidak ingin membicarakan France untuk saat ini. Pria beralis tebal tersebut sudah menyentuh gagang pintu dan berniat untuk kabur sebiasa mungkin, namun America tidak bisa membiarkannya begitu saja. Personifikasi yang lebih muda namun besar tersebut menahan pintu dengan tangannya, dan membuat England semakin menciut "Hei England, mungkin daripada Canada...aku mengenalmu lebih baik," ujarnya mendekat ke telinga England
"Dan aku mengenalmu cukup baik, kupikir kau tidak akan mengurusi urusan orang lain. Semenjak aku selalu mengurusi urusanmu di masa lalu"
"Begitulah, tapi karena ini urusanmu aku harus ikut campur"
"Pembalasan?"
"...Entahlah"
America di masa lalu, si tanah baru tersebut benar-benar manis. Saat dia bersanding dengan France yang 'cantik' dunia rasanya begitu bersinar, dan entah kenapa sekarang mereka jadi seperti ini. Anak manis tersebut menjadi pemuda gendut yang suka makan makanan 'sampah' sementara pemuda yang fashionable itu menjadi pak tua brewokan. Entah dia harus senang karena mereka berdua menjadi sama-sama buruk dengannya atau apa...
"Darimanapun aku melihat, kau...menyukai France"
Wajah Arthur memerah padam bahkan sampai ke telinga, England menoleh ke belakang dan mendorong America untuk menjauh darinya "Mana mungkin!" teriaknya lalu keluar begitu saja, bahkan sampai melupakan tasnya.
Pintunya di banting ke wajahnya, dan America hanya bisa menghela nafas pada kelakukan manis si mantan bajak laut "Ah...dia benar-benar menyangkalnya," gumamnya sambil memungut tas yang tertinggal "Meski begitu, si katak sialan itu beruntung sekali huh"
OXO
"Apan-apaan sih, Alfred sialan itu!"
England mengomel sepanjang jalan menuju hotelnya. Rapat kali ini diadakan di di tempat katak sialan itu, cepat atau lambat dia akan bertemu pak tua tersebut.
"Mengada-ada tentang masalah seperti. Sebenarnya seperti apa dulu aku mengajarinya?," merasa lelah sekali akhirnya dia duduk di bangku taman di dekat pancuran. "...Tapi...bahkan dia juga sudah dewasa huh," diam, matanya memperhatikan rumah si katak sialan yang dari tadi membebaninya. Bagaimana keadaanya ya? Bukannya dia sedang krisis? Namun sejauh dia melihat, taman ini baik-baik saja. Hanya saja terlalu sepi...
"Hei, apa yang kau lakukan?"
Suara yang familiar terdengar, itu suara yang sedang tidak ingin dia dengarkan sekarang. England menoleh ke arah sang pemilik dan cemberut, menunjuk wajah paling kesal yang dia punya "Sama denganmu. Bukannya seharusnya kau sudah di rumah dan menikmati winemu?"
"Maunya sih begitu," balas Francis lalu duduk di sebelah Arthur "Tapi karena seseorang aku jadi tidak bisa tenang menikmatinya deh"
"Hmm...boleh aku tahu seseorang itu? Pasti dia membuatmu sebal sekali" England menimpali dengan nada agak menyindir, tentu saja jika dia membuat France tidak tenang begitu juga sebaliknya "Saat ini aku sedamg sebal dengan seseorang"
"Hou, apakah itu adalah orang yang kau tolak. Seharusnya dia yang sebal sekarang"
"Tebak saja kenapa aku sebal dengannya"
France menyandarkan dirinya dan meyilangkan lengannya "Hmm...kalau begitu," mereka saling bertukar pandang. Rasanya waktu terasa seperti berhenti, karena suasana yang tanoa sengaja muncul diantara mereka. Manik Violet France yang indah tersebut terasa menusuk manik Emerald England dengan intens "Kurasa karena kau menyukainya"
"Heh, kau tahu siapa yang ku maksud 'seseorang' itu?"
"Aku tahu, karena itu adalah diriku," dengan percaya diri France menjawabnya, dan itu memunculkan tanda siku-siku pada wajah England "Percaya diri sekali huh. Kau mau bilang kalau aku menyukaimu?," geramnya
"Apa aku salah?"
Mulanya England sudah ingin beranjak pergi dari tempat ini. Kembali ke hotel dan tidur kasur yang empuk, namun dia mengurungkannya. Untuk terakhir kali dia akan bertanya "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?," suaranya bergetar. Dia benar-benar marah sekarang, pertama Alfred lalu sekarang orangnya sendiri yang percaya diri sekali.
"Karena saat aku melamarmu. Kau menolakku, karena tidak ada 'cinta' bukan?. Kupikir karena kau takut aku—"
"Aku hanya mengada-ada!" England menyela dengan kasar "itu hanyalah alasan acak untuk menolakmu, jangan menganggapnya serius!"
Kali ini benar-benar Arthur beranjak berdiri "Kau bisa mencari negara lain bukan? Kurasa aku bukan orang yang cocok, maksudku... kita tidak cocok"
"He—hei Arthur!"
Francis mengulurkan tangannya untuk menangkap lengan Arthur, namun gagal. England sudah pergi, meninggalkannya sendirian di taman yang sepi ini.
...
Dia tidak akan pernah serius dengan satu orang saja. Kami bersama dan bertengkar banyak di masa lalu, tentu saka aku tahu kalau si brengsek itu masih belum. Pergi kesana kemari dengan wanita manapun, bahkan kelihatannya juga dia sangat menginginkan Italy dan juga Canada. Sebenarnya berapa banyak yang ingin dia ambil?
Begitu sampai di hotel, England segera berbaring dan tengelam dalam pikirannya. Dia bahkan tidak mau repot-repot untuk melepas sepatunya, meskipun di masa lalu dia selalu mengomel pada America karena tidak melepas sepatu sebelum tidur.
"Ah...tapi entah kenapa aku benar-benar lelah. Oh tentu saja, kemarin aku bergadang karena itu bukan?," dia mengalihkan pandangannya ke atas meja. Untuk beberapa saat dia membeku, dia tidak menemukan tasnya! "Ba-bagaimana...dimana tasku!?" segera dia meloncat turun dari kasur dan mendekati meja tersebut "Jangan-jangan ketinggalan?"
Dia mengingat kembali saat dia mendorong America dan menjatuhkan barangnya "Pasti masih di ruang rapat..." segera dia membenahi pakaiannya dan berlari keluar, dia memastikan mengkunci kamarnya sebelum benar-benar berlari sekuat tenaga sebelum tasnya— yang sangat penting— itu menghilang.
Dia melewati taman yang sebelumnya, spontan dia memperlambat larinya. Tanpa sadar dia mencari sosok France, mungkin saja si penggila wine tersebut masih berada di sana.
Matanya menemukan sosok yang di carinya. Jika dia sadar kalau dia sedang tersenyum, dia mungkin akan menampar dirinya sendiri. England benar-benar menghilangkan kecepatannya sekarang, dari berlari sekarang dia berjalan. Untuk beberapa saat saja dia ingin melihat Francis, atau mungkin itu adalah pilihan yang buruk.
Si pirang berambut panjang tersebut bersama dengan seorang wanita dewasa yang cantik. Francis mengecup pungung tangan wanita tersebut dan mereka berbicara akrab sekali, tertawa bersama dan berdekatan seperti itu.
Kita tidak cocok— England ingat betul apa yang dia bilang sebelumnya, kalau mereka tidak cocok. Tentu saja, mereka saling mengolok, berperang, saling menjebak. Itu karena meraka adalah England dan France, bahkan banyak ungkapan france dalam bahasa inggris yang bermaksud mengolok.
"Hmm...kelihatannya wanita itu bukan Country mungkin memang seharusnya begitu" maupun secara politik ataupun sexsualitas— tidak, dia hanya bermain-main denganku...
Tanpa sadar, sekarang dia malah berhenti. Untung saja dia tidak melihat ke arah mereka berdua, melainkan arah gedung rapat yang sebelumnya adalah tujuannya. "Benar juga, aku harus mengambil tasku atau bos ku akan memarahiku"
"Kalau yang kau maksud tas ini, aku bermaksud ke hotelmu tadi"
Di saat bersamaan dia mendengar suara America, sebuah tas berada di kepalanya. "...Untung saja kau membawanya." England menerimanya "Terima kasih karena telah repot-repot," dia menyeringai sambil menunjukan tasnya. "Tapi kalau kau mau mampir ke hotelku, aku masih punya beberapa Sco—" tiba-tiba saja America memeluknya
"Aku tidak mau makanan menjijikanmu itu," benar-benar deh, tindakan dan kata-katanya sangat berlawanan. England mencubit pipi mantan anak asuhnya dengan gemas, sekaligus kesal "Aku kan hanya menawari," geramnya "Sudah lepaskan aku, mau sampai kapan kau bertingkah seperti ini di depanku"
"Aku hanya bertingkah seperti ini di depanmu, bodoh" America membisikkan sesuatu, dan sialnya England tidak mendengarnya. "Ha?," England merespon dengan lambat, beberapa saat kemudian dia mendorong Alfred dengan pelan "Kalau begitu kembalilah ke hotelmu, kau datang bersama dengan China dan Russia bukan?"
"Jangan ungkit tentang mereka. aku dipaksa tahu!"
"Maa...kelihatannya kalian 'akrab' sekali"
Tanpa sengaja, mereka berdua menemukan Francis dan wanita yang sebelumnya. Alfred melihat Arthur menghela nafas, membuatnya juga ikut-ikutan "Kalau begitu, aku kembali duluan" dia menepuk kepala England pelan lalu pergi begitu saja. Tentu saja, ini bukan urusanku pikirnya seraya menoleh dan tersenyum pada England untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi.
"Kurasa, aku juga harus kembali"
OXO
Di tengah England menyeduh teh, pintunya di ketuk dari luar. Sebenarnya dia memilih untuk mengabaikannya, karena dia ingin santai menyelesaikan cemilan peneman tehnya. Namun karena orang di luar begitu bersikeras, akhirnya dia meninggalkan pekerjaannya "Siapa?," tanyanya sambil membuka pintu.
Manik hijaunya melebar ketika menemukan France di luar dengan senyuman bodohnya "Bonjour!" sapanya. Sengaja England segera menutup pintunya kembali, bahkan dengan keras. France di luar sana mengetuk lebih keras lagi "Hei, bukanya itu kejam sekali!? England!" protesnya
Karena berisik sekali akhirnya Arthur kembali membukanya. Tidak melepas rantai, dia hanya membiarkan pintunya terbuka sedikit "Untuk apa kau kesini?," tanyanya sarkas serta jelas menunjukan rasa tidak suka.
"Menemanimu minum teh. Aku membawa kue lho," jawab France dengan nada ceria. Melihat senyuman itu, seolah seperti memaksanya untuk membuka pintu "Dasar, kenapa kau begitu—"
"Aku melihatmu kembali dengan membawa tas," senyuman France menghilang, dia mengalihkan pandangannya lalu memutar badannya "Kau pasti berpikir kalau aku...aku tipe yang tidak bisa dengan seseorang bukan?"
"—Tapi...Bisakah kita berbicara? Aku merasa kalau hubungan kita akan lebih rapuh dari sebelumnya, jika kita seperti ini terus"
"...Baiklah, jika kau memang benar-benar ingin menikmati teh ku"
...
Suasananya benar-benar kaku. Rasanya teh yang di buatnya sedemikian rupa menjadi hambar begitu saja, dan itu semua salah France!
England menunggu sambil menghirup tehnya. Seperti biasa kue yang di bawa France terlihat enak dan manis, daripada pusing memikirkan tehnya yang menjadi hambar karena suasana ini. Lebih baik dia mengambil garpunya dan memotong kue tersebut
"Aku sudah memikirkannya berkali-kali..."
Akhirnya France membuyarkan suasana hening ini. England melihatnya dan menunggu kalimat selanjutnya sambil mengunyah potongan kue, hampir saja dia tidak peduli karena terlalu menikmati rasa manis kue tersebut "Hmm?," responnya hanya berdehem. France tersenyum simpul, senang jika England menikmati kuenya
"England, ternyata benar...aku menyukaimu" lanjutnya
England berhenti mengunyah dan di saat bersamaan dia membuat wajah yang aneh "Mau kumuntahkan ini?"
"Jangan donk"
Memicingkan mata, England meletakkan garpunya "Francis, ini bukan waktunya bercanda!...maksudku memang sih kau sedang bermain di tempatku, tapi—"
"Mau sampai kapan kau tidak mempercayaiku?" Francis menyela, bola mata Violetnya itu menajam membuat Arthur tidak tahan untuk melihatnya "Kau melihatku bersama wanita itu bukan?"
Menganguk pelan, Arthur masih menunduk untuk menghindari kontak mata. Sebenarnya ini pertama kalinya Francis terlihat benar-benar marah padanya. "Nah, kau selalu berpikir kalau aku selalu bermain wanita. Tapi sebenarnya...saat mereka tersenyum padaku..."
"...?"
"yang kubayangkan malah kau"
Wajah mereka berdua memerah, tapi yang paling merah saat ini adalah Francis. Memberanikan diri, Arthur melihat wajah Francis dan menyeringai "Apa-apaan itu? Kau membayangkanku?"
"Yah! Apa masalahnya? Meskipun kau cerewet dan Moody tetap saja kau bisa di cintai bukan?"
"Percuma saja, aku tak akan 'menikah' denganmu meskipun kau bicara begitu Francis Bonnefoy!"
"I—itu tidak masalah!," Francis menaikan volumenya "Untuk mendapatkanmu, bukan berarti aku harus menikah denganmu bukan? Apalagi...kalau kau memang tidak menyukaiku..."
Arthur menghela nafas panjang "Duh, padahal baru saja kau percaya diri sekali kalau aku menyukaimu,"dia menghirup tehnya dan kali ini rasa minumannya kembali lagi; harum dan mengilitik tengorokannya "Aku berbohong..."
"—Sebelumnya aku berbohong" Arthur mengulanginya. Saat pandangan mereka bertemu cukup lama, Arthur lah yang memutuskan kontak mereka lebih dahulu. Wajahnya benar-benar memerah "Ka—kau tidak perlu menganggapku serius!"
"Maksudmu...kau—"
"HUAA!" Arthur berteriak keras sekali sampai berdiri segala, dia benar-benar tidak ingin mendengar lanjutannya "Aku akan membunuhku, jika mengatakan sesuatu yang bodoh lagi!," ancamnya padahal wajahnya sudah memerah sampai ke leher.
Francis cemberut dan berniat untuk protes "Hei, kita harus menyelesaikan ini Arthur. Akui saja kalau kau—"
Sekali lagi Arthur menyelanya dengan kikuk "Bu—bukannya kue ini manis sekali? Kau selalu membawa kue yang enak!," dan ini pertama kalinya dia memuji kue yang di bawa Francis.
Untuk sesaat personifikasi France membeku lalu setelah itu tertawa terbahak-bahak "Hahahaha...Ya sudahlah" dia mengelengkan kepala dan melanjutkan jamuan teh mereka.
Setidaknya kau tahu kalau dia menyukaiku, masalah mendapatkannya. Entahlah, kapan aku bisa memilikinya...
END
