Saat berbalik, Sasuke yang kurang sigap tidak dapat menghindari pukulan yang akan dilayangkan kepalanya sehingga tongkat baseball itu mendarat tepat ditengkuknya.
'DUG'
Pria itu pun jatuh tersungkur. Tangannya mencoba meraih rerumputan untuk membuatnya bangkit. Namun tongkat itu terus dilayangkan pada tubuhnya.
Tidak menyerah, Sasuke terus berusaha untuk bangun dan berdiri. Tapi, secara perlahan kesadarannya mulai menghilang.
"Kau cukup keras kepala juga ya!" ucap pria yang telah memukulnya.
'PRAAKKK'
"ARRRGHHH!" rintih Sasuke.
Sambil tetap menahan sakit di punggunnya yang diinjak, Sasuke tetap berusaha bangkit. Meski tubuhnya tidak sanggup lagi bangun, dan berkali-kali mulutnya mengeluarkan darah.
Apakah ini akhirnya? Apa dia akan mati di sini? Jika takdir memungkinkan, Sasuke tidak ingin dahulu mati sebelum dia mengatakan bahwa dia mencintai Sakura. Dia ingin melihat Sakura tersenyum untuknya, untuk terakhir kali. Sasuke harus bisa bertahan sedikit lagi. Namun apa daya semuanya menjadi gelap. Tubuhnya pun sudah tidak dapat digerakan lagi.
'Kami-sama, tolong jangan ambil nyawaku sekarang! Masih ada hal yang belum sempat kulakukan. Tapi, jika ini akhirnya, tolong jaga Sakura untukku!'
…
.
.
.
Just Let Me Go
By Amaya Katsumi
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, Family, Tragedy (Maybe)
Pairing : SasuSaku (sedikit NaruHina)
Rate : M for reason
Warning : Typo (dan kesalahan lainnya)
.
.
.
…
'TAP TAP TAP'
Suara hentakan sepatu begitu menggema memasuki ruangan. Wanita berhelaian merah muda itu berlari tanpa mempedulikan apapun. Yang ada dalam pikirannya adalah bertemu dengan pria yang ada ada pikirannya saat ini.
"Sasuke!"
Hal nihil pada Sakura. Yang ada di depannya hanyalah Naruto dan Hinata. Tidak ada sesosok pria bergaya rambut seperti pantat ayam dan berwarna seperti langit malam. Mereka menatap Sakura dengan pandangan terkejut seperti baru saja melihat hantu.
"Sakura-chan?" gumam Hinata.
"Di mana Sasuke?" tanya Sakura.
"Loh, kami baru saja mau menanyakan hal yang sama." Jawab Naruto.
Sakura mengangkat sebelah alisnya bingung. "Apa maksudmu? Apa yang sedang terjadi?"
"Tadi kami baru saja menerima pesan bahwa adikmu ditahan oleh mereka. Mereka ingin memancingmu. Maka dari itu Sasuke pergi ke sana untuk menyelamatkanmu dari cengkraman Shion." Jelas Naruto.
Sakura membulatkan matanya. Sial! Berarti sekarang Sasuke yang sedang dalam bahaya. Jantung Sakura berdebar 3 kali lebih kencang. Itu pasti Shion! Yang dia inginkan hanyalah tanda tangan darinya sebagai tanda persetujuan bahwa perusahaan menjadi milik wanita licik itu. dia juga pasti telah bekerja sama dengan Sasori.
"Di mana mereka menyekap Yotta?"
"Pesan itu hanya mengatakan bahwa kau harus menemuinya di hutan dekat Konoha."
"Naruto, sekarang kau panggil polisi. Tapi jangan langsung menyergap ke sana agar mereka tidak curiga. Datanglah bersama polisi 30 menit lagi." Perintahnya yang langsung berbalik arah.
Lama-lama sifat Sakura sama seperti Sasuke yang tukang perintah. Naruto mulai kesal dengan pasangan ini.
"Tunggu!" cegah Naruto memegang bahunya saat Sakura akan pergi. "Mereka mengatakan untuk tidak memanggil polisi."
Wanita itu menghela nafasnya kasar. "Lakukan saja perintahku. Suruh saja polisi itu untuk tidak menyalakan sirine dan jangan sampai ketahuan saat mereka akan menyergap."
"Aku tahu Shion itu bagaimana. Makanya aku akan datang duluan ke sana agar mereka tidak curiga. Mereka licik, aku juga bisa lebih pintar. Kejahatan harus dituntaskan, bukan?"
Benar juga, pikir Naruto. Setidaknya Sakura dapat berpikir cepat dan tidak gegabah dalam bertindak. Naruto memang ceroboh, tapi Sasuke bisa menjadi lebih ceroboh saat terburu-buru. Sakura akan menjadi wanita yang cocok untuk pria yang kaku seperti Sasuke. Akhirnya Naruto membiarkan wanita itu pergi sendirian.
…
Sakura menghentikan mobilnya di pinggir jalan masuk ke hutan. Tidak seperti Sasuke yang berjalan diam-diam. Wanita itu berjalan santai seperti sengaja memperlihatkan dirinya secara terang-terangan. Tanpa takut, Sakura melewati pepohonan yang menjulang tinggi.
Saat dirinya sudah mencapai tanah yang luas tanpa tanaman, keluarlah sesosok wanita berambut pirang yang sangat dikenalnya sambil menyeret seorang bocah yang meronta dalam ikatannya. Dia menyeringai begitu melihat siapa orang yang datang menemuinya dengan berani.
"Yotta!" panggil Sakura.
"Lihatlah siapa yang datang? Adikku yang manis mencoba mengorbankan dirinya demi bocah yang tidak ada gunanya." Kalimat itu diakhiri dengan pisau yang langsung menyentuh pembuluh aorta Yotta.
"Lepaskanlah Yotta! dia tidak bersalah, Shion! Dia juga adikmu!" ucap Sakura.
"Oh, kau menginginkan anak ini selamat! Aku kira kau telah melupakannya karena sibuk dengan kekasihmu."
"Yotta adalah keluargaku satu-satunya. Kau tidak berhak membawanya dalam masalah ini. Dia tidak tahu apa-apa. Dan kau apakan Sasuke?"
Dari balik kegelapan, muncullah sesosok pria baby face. Senyum liciknya tersungging di wajahnya dan membuat Sakura muak melihatnya.
"Di mana Sasuke?" tanya Sakura.
"Kau masih peduli padanya? kukira kau pergi karena memang menginginkan kematian Uchiha itu. ternyata kau ke sini untuk mencari juga. Oke, kalau begitu! Aku akan mempertemukanmu dengan Sasuke."
'Tap tap'
Sasori menepuk tangannya dua kali. Lalu muncullah 3 orang pria yang membawa sesosok pria yang tengah dibicarakan.
"Sasuke!" panggil Sakura.
Keadaan Sasuke sudah babak belur. Kedua tangannya terikat di belakang. Hal itu membuat Sakura ingin menangis. Pengaruh kehamilannya membuat moodnya berubah drastic. Melihat Yotta, Sakura malah ingin memaki Shion. Namun melihat keadaan Sasuke, dia malah ingin berlari ke dalam pelukan ayah dari janinnya tersebut.
"Kenapa reaksimu pada Sasuke berbeda dengan saat kau melihat adikmu?" Sasori menyeringai lalu melemparkan map beserta pulpen dan juga pistol ke kaki Sakura. "Bunuh Sasuke! Lalu tanda tangani itu. dengan begitu, adikmu akan bebas!"
Sakura terlebih dahulu mengambil pulpen dan map itu. dia menanda tangani surat yang telah dibuat bahwa Sakura telah menyerahkan perusahaannya kepada kakaknya. Bukan hanya itu, Uchiha Group juga akan menjadi milik mereka.
Tanpa melepaskan map yang telah disetujuinya, Sakura mengambil pistol itu dan mengarahkannya pada Sasuke yang masih berlutut di sebrangnya. Namun, sebelum wanita itu menarik pelatuknya, dia melemparkan pistol itu ke sembarang arah dan kembali focus pada map yang berisi surat itu.
'SRRREEEEK'
Sakura melemparkan map yang telah terbelah dua itu ke sembarang arah. Wanita itu merobek surat perjanjian dan membuat kedua orang itu membelalakan matanya.
"Aku tidak akan menyerahkan harta peninggalan ayah kepada orang yang serakah sepertimu, Shion!"
Shion menggeram kesal.
"Kalau begitu kau memilih kematian Yotta."
Tepat sesaat sebelum Shion melakukan aksinya, muncullah segerombol polisi menodongkan senapan kearah Shion.
"Letakan senjata kalian atau kami tembak!"
Sakura menyeringai melihat ketiga bawahan orang itu mengangkat tangannya, begitu pula dengan Sasori dengan ekspresi kesalnya.
"Menyerahlah, Shion!"
Lalu datanglah Naruto dari belakang Sakura yang langsung berlari kearah Sasuke dan melepaskan ikatannya. Secara reflex Shion melepaskan Yotta. bocah itu lalu berlari ke pelukan Sakura.
"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Naruto membopong Sasuke.
"Aku tidak apa-apa." Jawabnya. "Sakura!" panggilnya begitu sudah berada di sampingnya.
Polisi yang memasang kuda-kuda mengelilingi para kudeta itu. shion masih belum melepaskan pisaunya. Wajahnya masih memasang ekspresi kesal.
"Arrrghhhh!"
Dengan sigap, Shion menggorok leher polisi yang ada di belakangnnya dengan pisau yang masih digenggamnya. Lalu dia merebut senapan milik polisi yang telah dia bunuh.
"Matilah kau, Sakura!"
'DOR DOR DOR'
Secara tiba-tiba Shion menembakkan pelurunya kearah Sakura. Orang yang akan ditembaknya terkejut dengan hal itu. entah kenapa tubuhnya jadi tidak bisa digerakan. Sudah pasrah dengan apa yang terjadi, Sakura hanya menutup matanya.
'Hap'
'Pluk pluk pluk'
Sakura sama sekali tidak merasakan sakit. Yang dia rasakan malah kehangatan pada tubuhnya. Aroma ini, aroma tubuh yang sangat dia rindukan. Saat kelopak matanya terbuka, Sakura sungguh terkejut karena Sasuke memeluknya untuk menghindari peluru menembus dirinya.
'DOR DOR DOR DOR DOR'
Polisi sudah menghentikan Shion dengan menembakinya untuk mencegah wanita itu berulah.
"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Sasuke tersenyum.
"SASUKE!"
'Uhuk uhuk!'
Pria yang telah menyelamatkannya telah memuntahkan darahnya. Sakura mengamati tangannya yang berlumuran darah setelah menyentuh punggung Sasuke. Air matanya sudah mengalir di wajahnya.
Kemudian hujan turun membahasi orang-orang di sana. Naruto segera membawa Yotta pergi dari tempat itu. Kini Sasuke jatuh ke dalam pelukan Sakura yang tengah terduduk. Jari panjangnya menghapus air mata Sakura yang terus mengalir.
"Jangan menangis! Bukankah ini yang kau inginkan?" dalam ajalnya pun Sasuke masih berbicara pedas.
"Tidak, Sasuke! Tidak! Jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu!" lirih Sakura.
"Sakura, pesanku hanyalah… jaga anak kita!" ucap Sasuke terbata-bata.
Sakura membulatkan matanya. "Jadi, kau…!"
"Rawatlah dia dengan baik. Tetaplah hidup untukku, demi anak kita! Uhuk uhuk!"
Dengan gemetar, Sasuke mengecup perut Sakura.
"Tumbuhlah menjadi anak yang kuat seperti ibumu. Maaf karena ayah tidak bisa melihatmu. Jangan buat ibumu kesusahan ya, nak!" masih dengan terbata-bata dan tangannya mengelus perut Sakura.
Lalu Sasuke meraih kepala Sakura dan mengecup keningnya. Wanita itu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Aku mencintaimu, Uchiha Sakura! Uhuk uhuk! Sayonara!"
Seiring dengan hembusan angin beserta terpaan air yang menghujani tubuh mereka, kedua bola mata sekelam langit malam itu tertutup oleh kelopak mata. Tangan besar yang menyentuh pipi Sakura terjatuh seiring dengan hembusan nafas terakhir Sasuke.
"SASUKE!" teriakan Sakura menggema di tengah hutan itu. polisi di sana hanya menunduk tanpa ada niatan mendekati wanita yang masih menangis sambil menggenggam tangan dingin Sasuke yang sudah tidak bernyawa lagi.
Semakin lama Sakura terlarut dalam kesedihannya, tanpa sadar mobil ambulan telah datang. Air mata beserta darah sudah tidak terlihat karena air hujan telah mengalirinya. Isakan tangis masih terdengar di sana.
…
Angin masih berhembus dan terasa dingin. orang-orang berpakaian hitam mengelilingi sebuah gundukkan tanah yang masih merah. Mereka tengah memanjatkan doa untuk seseorang yang telah kembali ke tanah di dalam sana. Suasana berkabung begitu terasa di pemakaman itu.
Begitu selesai, semua orang yang ada di sana berhamburan pergi. Kecuali seorang wanita bermahkota pink yang masih menaburkan bunga dan menyiram tanah itu dengan air. Bagi konglomerat terkaya di Konoha sepertinya, tanah pemakaman seperti ini tidak ada apa-apanya. Mengubur mayat di tanah lebih layak dari pada membakarnya dan menyimpan abunya di rumah duka. Karena pada dasarnya manusia berasal dari tanah, ketika sudah waktunya mereka kembali ke tanah.
Sakura memberi waktunya untuk mengobrol sebentar dengan Sasuke yang telah berbaring di dalam sana untuk selamanya setelah tadi dia memanjatkan doa. Ditemani Naruto yang berdiri di sampingnya.
"Sakura!" Naruto menyentuh pundak orang yang dipanggilnya.
Reflex Sakura menghapus air matanya lalu memandang Naruto. Mereka mengangkat tubuhnya dan sedikit menjauh dari makam Sasuke.
"Sasuke bilang aku tidak boleh menangis. Apalagi menangisinya. Tapi aku sungguh tidak tahan. Aku menyesal telah mencoba membunuhnya waktu itu. saat aku tengah membutuhkannya, Sasuke malah pergi meninggalkanku." Lirihnya.
"Kau tidak sendirian, Sakura! Masih ada Yotta, aku, Hinata, dan Bolt. Keluargaku dengan senang hati menerimamu."
"Aku akan kembali ke rumahku yang dulu. Kau dan Hinata telah banyak membantuku. Arigatou Naruto!"
"Sasuke menitipkan padaku untuk menjagaku. Dia mempercayakan semuanya padaku. Perusahaan, dan juga dirimu. Kau bisa membawa Yotta ke rumah."
"…"
Tidak ada jawaban dari wanita itu. dia masih memandangi makan Sasuke.
"Kau tahu? Ada permintaan Sasuke untukmu."
"Apa itu?"
"Dia menginginkan anak darimu."
Mata Sakura membulat memandang Naruto. Lalu dia menunduk dan mengelus perutnya.
"Itu sudah kupenuhi."
Naruto memandang perut Sakura.
"Jadi, kau…..?"
"Ya, aku hamil!" ucapnya tanpa menghentikan usapannya.
…
Naruto duduk di bagian kemudi menunggu semua orang masuk ke dalam mobil. Hinata duduk di sampingnya dengan Bolt yang ada dalam pangkuannya. Setelah beberapa lama, Sakura masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Yotta. semuanya masih dalam berpakaian hitam tanda kalau mereka baru saja keluar dari pemakaman.
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun yang membuka mulut. Takut-takut salah bicara karena mereka masih dalam keadaan berkabung.
Begitu sampai di rumah Sakura langsung menemui Naruto di dalam ruang kerja milik Sasuke. Dia mengeluarkan sebuah map berisi kontrak perjanjian yang harus Sakura tanda tangani.
"Sasuke memintaku untuk membuatkan ini dan menyuruhmu untuk menandatanganinya. Dia sendiri sudah menandatanganinya."
Sakura cukup terkejut memandang isi surat itu. surat itu adalah bukti pernikahannya dengan Sasuke yang sah di mata hukum jika Sakura menandatanganinya.
"Oh iya, dia juga menitipkan ini padaku." Naruto menyerahkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang.
"Aku pergi dulu!" ucap Naruto sambil membawa map yang telah ditanda tangani Sakura.
Sakura membuka kotak itu. isinya ada pesan dan juga sebuah cincin beserta kalung yang waktu itu Sasuke berikan padanya. air matanya mengalir saat membaca tulisan Sasuke yang begitu rapi untuk seorang laki-laki.
'Jika kau telah membaca ini, pasti aku sudah mati. Sakura, aku telah mengetahui tentang kehamilanmu saat kau sedang mandi. Kau meninggalkan testpack di meja rias dan aku tidak sengaja menemukannya.'
Pantas saja! ternyata Sasuke memang sudah mengetahuinya dari awal.
'Dokter juga telah mengatakan kalau janinmu telah memasuki 2 bulan. Aku sangat khawatir karena kita sempat berhubungan intim waktu itu. namun dokter mengatakan bahwa bayi itu sangat kuat.'
'Sakura, kita telah membuktikan kalau perusahaan sebesar milik kita banyak sekali yang mengincar. Maka dari itu, aku ingin kau menyumbangkan sebagian penghasilan milikku kepada yang membuntuhkan untuk meringankan bebanku saat meninggal nanti. Tidak peduli anak kita laki-laki atau perempuan, kuharap dia bisa menjadi tangguh dan bijaksana untuk mewarisi perusahaan. Aku tidak mau hartaku jatuh ke tangan yang salah.'
'Sakura, maaf karena aku telah membunuh orang tuamu. Aku begitu kejam karena membalaskan dendamku pada orang yang tidak bersalah. Aku menyesal setelah melakukannya. Diam-diam, aku selalu memperhatikanmu. Ingin sekali aku menyapamu dan mengatakan kalau aku menyukaimu. Namun, semua itu aku urung melihat fakta bahwa kau adalah adik dari Shion. Dari situ aku menjadi ikut membencimu karena kau mempunyai hubungan darah dengannya. Ingin sekali aku menembaki kepala kalian saat itu juga.'
'Sudah sejak lama aku divonis menderita kanker paru-paru. Kukira aku sudah tidak mempunyai urusan lagi. Tapi Sasori mengancam akan mencabut investasi dan mengambil saham Uchiha. Dari situ aku berpikir bahwa aku harus mempertahankan hartaku sebelum aku dipanggil oleh Kami-sama. Dan juga aku mendapat laporan bahwa kau ingin membalaskan kematian orang tuamu padaku. Lalu aku ikuti rencanamu itu. aku sengaja datang ke bar bersama Naruto. Aku sengaja menculikmu agar aku bisa berbicara denganmu dan menjauhkanmu dari hasutan Shion. Entah setan apa yang telah merasukimu sehingga aku memperkosamu. Soal itu, tolong maafkan aku.'
'Sakura, jika kau ingin masih marah padaku, bencilah aku, makilah aku di makamku. Aku sudah mati, jadi kau tidak perlu membunuhku. Yang terpenting adalah… sakura, kau harus bertahan hidup untukku, demi anak kita.'
Tetesan demi tetesan air mata membasahi surat yang isinya cukup panjang itu.
'Satu hal yang harus kau tahu adalah… Aku mencintaimu bahkan di saat aku sudah mati. Aishiteru, Sakura! Sampai jumpa di alam berikutnya. Sayonara!'
"Hiks… hiks… Sasuke!"
Kertas itu telah kusut karena diremas. Tintanya sudah luntur akibat air mata yang membasahinya.
Biarlah hal ini menjadi pelajaran baginya. Kini Sakura harus menanggung resiko membesarkan anaknya sendirian. Tanpa disadari olehnya, sebuah sosok bayangan memeluknya dari belakang. Membiarkan wanita itu menangis sejadinya. Sosok pria yang sedang ditangisinya saat ini.
…
The end
.
.
.
Amaya's note :
Yup, inilah chapter terakhirnya. Gimana? Udah terjawabkan rasa penasaran kalian? Eiitsss! Jangan dulu bersedih karena ini ending yang seperti ini. Ini belum berakhir. Masih ada epilognya loh!
Sebenarnya chapter ini udah lama beres, berbarengan sama chapter 8. Tapi Amaya pengen lihat reaksi para reader ^^. Maaf udah bikin kalian penasaran dan sedih untuk kalian yang mengira-ngira fanfic ini bakal sad ending atau gak. Mendingan baca dulu deh epilognya nanti. Setelah itu, kalian tentuin apa fanfic ini happy ending atau sad ending. Epilognya juga udah Amaya buat. Tapi harus diedit-edit dulu.
Terima kasih karena mau menyempatkan waktunya untuk membaca fanfiction Amaya yang mungkin terbilang absurd, hihi. Sempatkanlah mereview ya! :)
.
.
.
Balasan review :
Dewazz : maaf baru bales reviewnya. Sebenarnya masih ada kok harapan buat Sasuke kalau dia mau berusaha, hehe :D. untuk endingnya, ikutin terus aja ya! ;)
: Yuk ah!
Uchiha Pioo : gak apa-apa kok. Amaya malah seneng ditanya. Amaya juga orang kepo :D. coba tebak endingnya? ^^
ALin : ayo tebak? Sad or happy?
Lightflower22 : penasaran ya? nih udah update.
Dianarndraha : aduh, jangan nangis. Udah update nih.
Irimi Natsuya : mau sad ending atau happy ending, mending baca aja dulu deh. Nih udah update. Tunggu epilognya juga ya! ;)
P serrulata : duh, jadi gak tega nih sama Sasuke. Mending tunggu epilognya aja deh ;)
Hanazono yuri : udah nih! ^^
