Yuhuuu~ Tidak terasa sudah mencapai ke pertengahan cerita~ Tinggal dimunculin empat dewa lagi, maka cerita ini akan tamat sudah~

Tidak terasa UTS berlalu dengan mudah~ walaupun ada beberapa soal dari beberapa pelajaran yang tidak dapat kujawab~ Hahaha, baiklah waktunya membalas review yang tidak login~

::

::

NamiMirushi : arigatou~ haha.. Iya nih, aku masih kelas pertengahan SMK~ hayo kelas berapa?~#plak

puchan : ini udah kok~ sekali-sekali kiba dapet peran bagus~ jangan peran yang patah hati terus. Haha #dibunuh kiba

ujhethejamers : hoho, arigatou~ Ini udah kok~

Oke, sekian dariku~ Selamat membaca~

::

::

Naruto pun turun dari ranjangnya dan berjalan menuju ke arah Hinata. Sesampainya disamping Hinata, Hinata menutup pintu kamar tersebut dan Naruto mengubah wujudnya menjadi sesosok manusia.

Walaupun Hinata sedikit merona setiap kali melihat sosok Naruto sebagai manusia, ia juga ingin tahu apakah sosok asli dari Naruto akan membuatnya merona seperti itu lagi atau tidak. Hinata tidak tahu perasaan apa yang selalu dialaminya ini setiap kali menatap Naruto. Tapi yang mengganjal di pikiran Hinata adalah kata-kata dari paman Naruto, yaitu dewa Poseidon.

"Jika kamu melihat wujud asli dari keponakanku jangan lari ya nak." maksud dari perkataan itu apa? Hinata tidak mengerti. Apa wujud asli Naruto begitu menyeramkannya?

"Ada apa Hinata?" mendengar suara Naruto yang memanggilnya, Hinata jadi tersadar dari lamunannya.

Hinata menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa, ayo Naruto-kun." Hinata pun berjalan disusul oleh Naruto yang sudah menyeimbangi irama berjalan Hinata.

"Oh ya Naruto-kun." ucap Hinata dikala mereka berjalan melewati kamar-kamar hotel yang jalannya terlihat sepi.

"Hm?" masih tetap menatap ke arah depan sambil mengikuti kemana Hinata berjalan, Naruto membalas panggilan Hinata.

"Aku memiliki pertanyaan lagi untuk Naruto-kun." seru Hinata. Dari kesekian banyak pertanyaan yang telah dilontarkan Hinata kepada Naruto, inilah pertanyaan yang membuatnya bingung.

"Apa itu?" tanya Naruto.

"Dewa Hermes pernah berkata bahwa Naruto-kun mencariku dengan susah payah. Dewa Poseidon juga berkata kalau Naruto-kun mencariku seharian. Kenapa Naruto-kun melakukan hal itu?" satu hal yang menjadi pertanyaan Hinata, kenapa Naruto melakukan semua itu demi menemukan Hinata?

Naruto sedikit tersentak mendengarnya, lalu perlahan ia menghelakan nafasnya sambil tersenyum. Lalu matanya ia tujukan kepada pemandangan di sampingnya, gadis yang memiliki harum tubuh bak bunga lavender dengan mata yang sangat indah itu.

"Karena menurutku, pertemuanku denganmu adalah sebuah takdir yang sangat berharga. Aku tidak mau kehilangan dirimu Hinata." sukses sudah perkataan itu membuat Hinata menghentikan langkahnya. Kata-kata itu juga membuat jantung Hinata berdebar dengan kencang.

"Naru.."

BRUK

Naruto terkejut, tiba-tiba saja Hinata pingsan di depan matanya. Naruto langsung menopang tubuh Hinata dengan tanggannya dan diletakannya di atas pangkuannya.

"Hinata, kamu kenapa?"

¤• Blue Devil •¤•

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

Genre: Romance, Fantasy & Friendship

Pairing: Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

Rated: Teen

::

::

"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Hiashi. Setelah kejadian Hinata pingsan, Naruto kembali mengubah wujudnya menjadi seekor kucing dan kembali ke kamar hotel untuk memanggil Hiashi dan Hanabi.

Walaupun sangat susah membangunkan mereka berdua, untung saja mereka sudah bangun sebelum Naruto menancapkan cakar-cakarnya pada kulit mereka berdua. Sehingga hal menyakitkan tersebut tidak perlu dialami oleh Hiashi dan Hanabi.

"Maaf, saya tidak tahu apa penyakit yang diderita oleh putri anda. Ilmu medis saya tidak cukup untuk mengetahuinya. Sekali lagi saya ucapkan maaf." dokter berambut abu-abu dengan kacamata itupun membungkukkan badannya dan langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Hiashi yang khawatir dengan keadaan putrinya langsung menatap Hinata dengan wajah sendu. Apa yang terjadi dengan Hinata? Saat Hinata pingsan, waktu menuju rumah sakit itu membutuhkan sekitar tiga jam. Dan sampai saat itu juga Hinata tidak sadarkan diri. Tidak hanya Hiashi saja yang khawatir, Hanabi juga sama khawatirnya.

Hanabi menggenggang kedua tangan Hinata dan berkata Hinata harus cepat sadar, jangan seperti itu terus. Lalu, sudah pasti sang dewa yang menjadi milik Hinata sampai kelima permohonannya terkabul lebih sangat khawatir lagi.

Tapi sayangnya Naruto tidak dapat masuk ke dalam dengan sosok itu. Jadi, di depan rumah sakit, Naruto hanya menunggu dengan perasaan yang tidak karuan.

"Kenapa.. Apa karena pengaruh kalungnya?" Naruto berbatin ria dalam dirinya sambil terus berpikir ada masalah apa. Pasti Hinata pingsan karena ada sebuah reaksi antara Hinata dengan kalung yang digunakan oleh Hinata. Tapi apa itu? Sulit bagi Naruto untuk mengetahuinya.

"Aku harus masuk kedalam untuk melihat keadaan Hinata. Tapi tidak mungkin menggunakan wujud manusia, pasti ayahnya akan bertanya siapa aku." Naruto tetap berpikir sambil menatap ke arah parkiran rumah sakit yang ada di depan matanya.

"Baiklah, aku akan menggunakan wujud devil-ku." tiba-tiba saja cahaya mengelilingi tubuh Naruto. Dan muncullah wujud ketiga Naruto. Sebuah tanduk yang berada di atas telinga Naruto, kuping berbentuk elf, mata sebelah kiri saphire dan sebelah kanan kemerahan, dan taring yang sedikit mencuat di mulutnya. Perubahan pun telah sempurna.

Naruto melambungkan badannya ke atas, lalu ia memasuki pintu rumah sakit yang terbuat dari kaca yang dapat bergeser sendiri jika ada orang yang mau masuk. Sampai ada petugas yang menjadi bingung, kenapa pintu tersebut bergeser? Padahal tidak ada satu orangpun yang lewat disana.

Naruto terus mengelilingi mencari ruangan Hinata dirawat. Setelah beberapa detik mencari, akhirnya Naruto menemukannya juga.

"Hinata, maafkan ayah. Tapi ayah harus kembali karena harus mengambil barang di hotel yang tertinggal." saat Naruto memanggil Hiashi dan menemukan Hinata pingsan, langsung saja Hiashi menancap gasnya menuju rumah sakit di Konoha. Sampai-sampai mereka tidak sempat membawa pulang barang dan cek out dari hotel tersebut. Oleh sebab itu semua itu harus dirapihkan karena besok semua akan bekerja seperti biasa.

Hiashi menatap Hinata. "Baiklah, Hanabi, jaga kakakmu ya." seru Hiashi dan diberi anggukan oleh Hanabi. Setelah itu Hiashi pun belalu dari ruangan tersebut.

Naruto lalu memasuki ruangan tersebut dengan perlahan, walaupun ia tahu bahwa dirinya tidak akan terlihat dengan sosok itu. Tapi bisa bahaya jika ada orang yang berinsting tajam dan dapat merasakan kehadirannya. Oleh sebab itu Naruto memilih untuk melihat Hinata dari atas.

Naruto menatap sosok seorang gadis berkulit putih bagaikan salju yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Seperti seorang putri salju yang baru saja memakan apel beracun yang diberi oleh ibu tirinya sehingga ia tertidur seperti itu. Sehingga sang kurcaci yang dapat diumpamakan sebagai Hanabi menunggu seseorang yang dapat membangunkan sang putri di sampingnya.

Sang putri juga menunggu sesosok pangeran yang dapat membangunkan dirinya dan saat ia membuka mata, yang dilihatnya untuk pertama kali adalah orang yang dicintainya. Sungguh kehidupan yang amat sangat indah jika Hinata mengalami kisah seperti putri salju.

Hari tak terasa sudah mulai malam, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Hanabi pun berpamitan kepada Hinata dan bergegas kembali kerumahnya karena ia harus sekolah besok. Sehingga hanya Naruto sendirilah yang berada di ruangan tersebut.

"Semoga Kami-sama menyembuhkan nee dalam waktu yang singkat ini." ucap Hanabi sebelum keluar dari ruangan tersebut.

Naruto yang mendengar perkataan itu langsung tersenyum, tapi senyuman itu tidak seperti senyuman tulus melainkan senyuman yang tidak dapat diartikan.

"Tidak semua dewa dapat menyembuhkan Hinata. Hanya dewa yang bertugas dalam obat-obatan, kesehatan, dan penyembuhanlah yang dapat mengobati Hinata." setelah Hanabi benar-benar keluar dari ruangan tersebut, Narutopun menurunkan badannya mendekati Hinata. Kembalilah ia kepada sosok manusianya dan duduk di kursi di samping ranjang Hinata. Naruto meletakan kedua tangannya di ranjang Hinata dengan melipatnya dengan tatapan mata menatap mata Hinata.

"Hinata, kamu kenapa? Kenapa warna kalungku yang sekarang menjadi milikmu menjadi redup?"

::

::

"Baiklah, semua, kita akan memulai pelajaran hari ini." seru Kurenai-sensei membuka halaman yang akan menjadi bahan pembelajaran mereka.

Tapi seorang gadis berambut softpink yang duduk di dua langkah ke kanan sebelum jendela tidak dapat tenang karena sahabatnya belum hadir dalam kelas.

"Sensei." panggil Sakura.

"Ya?."

"Apa sensei tahu kemana Hinata sampai tidak hadir di kelas?." tanya Sakura.

"Hinata? Laporan yang sensei dapatkan, Hinata sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari." mendengar hal tersebut perasaan Sakura jadi tidak karuan. Apa jangan-jangan Hinata kesepian karena setiap pulang sekolah mereka tidak pulang bersama?

Tapi tidak mungkin, belum sampai satu minggu mereka tidak pulang bersama. Dan Sakura sudah memutuskan tiga hari pulang bersama Hinata dan dua hari bersama dengan Sasuke. Karena Sakura juga merasa tidak enak jika meninggalkan sahabatnya terus menerus seperti itu.

"Begitu ya sensei." setelah itu, pelajaran pun kembali dimulai. Sakura menatap ke arah luar jendela dan menopang dagunya.

"Hinata, cepat sembuh ya."

::

::

"Jadi, gadis itu tidak masuk sekolah hari ini?." Sakura mengangguk. Ia merasa sedikit bersalah sehingga sumpit yang ia gunakan tetap bersarang dimulutnya dengan wajah murung.

"Sudahlah, nanti juga sembuh." ucap lelaki yang kini berada di samping Sakura, menemani Sakura memakan bekalnya di atas atap sekolah.

"Tidak bisa begitu Sasuke-kun, aku merasa kesepian~." pemuda tersebutpun menghela nafasnya. Ia cukup bersabar dengan melihat tingkah gadis yang seminggu lebih lalu menjadi orang spesial baginya.

"Jadi, menurutmu aku membosankan sehingga kamu kesepian?" Sasuke melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap Sakura datar.

"Bu.. Bukan begitu Sasuke-kun, hanya saja..." Sakura menghentikan kalimatnya. Wajahnya semakin murung dari sebelumnya sehingga tatapan matanya menatap lurus kebawah ke arah kotak bekalnya.

"Baiklah, aku mengerti," Sasuke kembali menghelakan nafasnya. "Semoga saja Kami-sama menyembuhkannya." seru Sasuke dan membuka bungkusan roti yang tidak sengaja diberikan oleh gadis disaat ia berjalan.

"Jangan semoga saja, itu tentu harus Sasuke-kun!" Sakura mengepalkan kedua tangannya dan menatap Sasuke dengan mantap.

"Hn."

::

::

Naruto tertidur di samping ranjang Hinata. Sampai cahaya matahari masuk ke ruangan tersebut sehingga menyilaukan pandangan Naruto. Hal itu membuat Naruto tersadar dari alam bawahnya.

Naruto merenggangkan badannya yang lumayan pegal dan kembali menatap gadis yang masih tetap kokoh bersandar di atas ranjang tersebut. Dengan tatapan sendu, Naruto mendekatkan tangannya ke arah pipi mulus Hinata.

"Apa yang harus kulakukan.." sudah tiga hari Hinata tidak sadarkan diri. Hinata seperti sedang mengalami koma. Para dokter yang telah memeriksa Hinata, semuanya tidak mengetahui apa penyakit yang diderita olehnya. Sehingga Hinata harus di opname supaya jika ada perkembangan atau penurunan, para dokter itu dapat segera menyelesaikannya.

Sedangkan Naruto, ia hanya terus menunggu disana. Sampai seseorang yang ada di hadapannya itu tersadar.

Jika keluarga Hinata, ataupun temannya menjenguk Hinata, Naruto selalu bersembunyi melihat dari atas ruangan tersebut. Naruto tidak pernah mengubah wujudnya kembali menjadi manusia ataupun binatang, karena hal itu percuma saja. Untuk apa ia berubah wujud, kalau orang yang membutuhkannya tidak sadarkan diri.

Naruto hanya menggunakan sosok dewa ataupun devil-nya secara bergantian, keluar rumah sakit untuk mencari penyebab penyakit Hinata. Ia sempat berpikir untuk ke puncak gunung olympus tetapi egonya terlalu besar untuk melakukan hal itu.

Niatnya Naruto akan meminta bantuan salah satu dari dua belas dewa olympus, yaitu Apollo untuk membuatkan obat yang dapat menyembuhkan Hinata. Tapi itu tidak mungkin dilakukan olehnya karena kebencian yang sebenarnya mulai berkurang itu tetap saja masih membekas rasa kebencian walaupun hanya sedikit.

"Aku tidak mungkin ke tempat itu.." masih tetap saja menggenggam tangan Hinata, Naruto menundukkan wajahnya lesu. Ia tidak tahan kalau harus menunggu lebih lama lagi, ia tidak mau gadis yang sudah membebaskannya dari pengaruh segel terbaring lemah seperti ini.

"Apa yang dapat kulakukan?" kembali lagi Naruto berkata hal yang intinya sama, walaupun bentuk kalimatnya berbeda. Naruto selalu berusaha dengan segala cara mencari obat-obatan tersebut, tapi hasilnya nihil. Bagaimana menemukan sebuah obat yang cocok padahal ia sendiri tidak mengetahui penyakit yang diderita Hinata? Naruto semakin menundukkan kepalanya dalam. Hening...

"Bergeserlah sedikit Aoi Kami." Naruto tersentak, langsung saja ia bangkit dari sandarannya. Matanya langsung membulat, perasaan emosinya kian meningkat.

"Mau apa kau kesini?" tatapan tajam terlihat jelas dari wajah Naruto. Dengan posisi ancang-ancang untuk menyerang, Naruto tetap berdiri di samping Hinata.

"Untuk apa lagi? Kamu sudah tahu apa tugasku sebagai dewi kan bocah?" bocah? Apa maksdunya Naruto dipanggil bocah? Apa umur dari seseorang yang mengaku bahwa dirinya adalah dewi memiliki umur yang lebih lama dibandingkan dengan Naruto?

"Walaupun aku tahu, aku tidak akan menyerahkan Hinata untuk kamu sembuhkan Nenek Aegle!" seru Naruto. Tatapan tajamnya tetap saja mengarah kepada dewi yang di depannya.

"Apa kamu tahu cara menyembuhkannya bocah? Kesehatan gadis itu, aku yang pegang. Tentu saja obat penetralisirnya pasti juga berada di tanganku. Karena penyakit gadis itu tidak sembarangan." jelas dewi berkuncir dua di bawah itu.

"Aku tidak perduli, aku pasti akan menemukannya sendiri walaupun tanpa bantuanmu! Aku tidak mungkin meminta bantuan dari dewi sepertimu." kini tatapannya menjadi lesu. Cahaya pada mata itu berkurang. Sepertinya Naruto sudah terlalu lelah karena sejak dia bebas, banyak sekali dewa yang bertemu dengannya.

Naruto tidak kuat batin untuk menghadapi semuanya, kebencian masih saja menggerogoti pikirannya. Walaupun dirinya tahu, dewa lain tentu tidak bersalah karena bukan mereka yang menyegel Naruto. Tapi tetap saja, walaupun wujud mereka berbeda, mereka merupakan sosok yang sama. Sosok yang lebih tinggi dari posisi manusia.

"Hei bocah, apa kau lebih memilik keegosianmu sendiri dibandingkan kesembuhan gadis itu? Sudah bagus aku datang kesini untuk memberikan gadis itu kesehatan. Tapi kamu malah menolaknya? Coba sekarang kamu pikirkan bocah, dengan apa kamu dapat menyembuhkannya? Kamu mau gadis itu terus seperti itu selamanya?" kata-kata itu sukses kembali membuat Naruto tersentak. Jika Hinata terus seperti itu... Apa gunanya dia terbebas dari segel?

Tidak mungkin ia meninggalkan Hinata, karena Hinata masih memiliki tiga mimpi yang harus dikabulkan oleh Naruto. Selain itu, tidak mungkin Naruto mencari orang baik hati yang lainnya untuk dikabulkan mimpinya. Lagi pula, Naruto belum merasakan seseorang yang seperti Hinata.

Naruto tertunduk, ia menutup matanya. Sedikit berpikir, apakah ini yang terbaik? Lalu Naruto mengangkat wajahnya dengan pasti. "Baiklah, aku mohon bantuanmu." seru Naruto dan akhirnya ia bergeser supaya dewi tersebut dapat mendekati Hinata.

Lalu dewi yang ber-nick Aegle itu pun berjalan mendekati Hinata. Dengan tangannya yang dialiri sesuatu ia memeriksa setiap bagian tubuh Hinata. Setelah dari itu, dewi tersebut membenarkan posisinya dan ia sudah tahu apa penyebab Hinata mengalami kejadian seperti itu.

"Jadi.. Apa penyakitnya?" tanya Naruto menatap dewi di depannya. Dewi tersebut menatap Naruto dan memegang kalung yang dikenakan oleh Hinata.

"Aura kebaikan yang diserap oleh gadis itu terlalu banyak sehingga tubuhnya tidak kuat untuk menampung aura sebanyak itu. Dan jadilah ia tertidur karena aura-aura tersebut membengkak." dewi tersebut pun melepaskan pegangannya kepada kalung milik Naruto tersebut. Naruto hanya melihat kalung tersebut diletakan kembali pada tempatnya.

"Aku akan memberikan penetralisir membengkaknya aura tersebut pada gadis itu, kamu hanya perlu memberikannya minum obat tersebut. Baiklah, aku akan segera kembali dalam waktu dekat untuk memberikan penetralisirnya padamu bocah." dewi itu pun menghilang dari pandangan Naruto. Naruto kembali mendekatkan jaraknya pada Hinata. Menatap wajah putih polos gadis tersebut.

Membengkaknya aura kebaikan? Kenapa secepat itu? Apakah di dunia ini sudah semakin banyak orang yang berhati baik? Sebelumnya Naruto tidak pernah merasakan aura tersebut melebihi kapasitasnya saat dikenakan dulu oleh Naruto. Atau karena perbedaan mereka? Bukankah tubuh manusia lebih lemah dibandingkan tubuh para dewa?

Naruto mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Ia sudah amat sangat bingung. Ia berharap, semoga saja dewi tersebut cepat kembali dan memberikan penetralisir itu kepadanya.

::

::

"Hei nona yang disana.."

"Hm?." merasa dirinya yang dipanggil, Sakura pun menengokkan kepalanya. Kebetulan saat ini ia sedang berada di toko buku karena harus mencari bahan referensi untuk tugas sekolahnya.

"Lama tidak jumpa.."

"Kakashi-san?." orang yang bernama Kakashi itu pun mengangkat tangannya seperti memberikan salam dan menutup matanya. Walaupun mulutnya tidak terlihat karena ditutupi oleh masker, tapi ia tahu bahwa orang dihadapannya itu sedang tersenyum.

"Apa yang Kakashi-san lakukan disini?" tanya Sakura. Rasa terkejutnya belum sedikitpun hilang. Hinata pernah bercerita bahwa Kakashi itu merupakan orang yang jarang keluar rumah karena memang pekerjaannya yang membuatnya selalu harus berada di dalam rumah.

"Aku hanya sedang mencari inspiratif, dan.. Ada hal yang ingin kutanyakan juga kepada kamu." Sakura memiringkan kepalanya tanda tidak mengerti.

"Apa itu?." tanya Sakura kemudian.

"Beberapa hari ini aku melihat kamu pulang dengan orang lain, kemana Hinata?" Kakashi kembali menjawab pertanyaan Sakura dengan sebuah pertanyaan juga.

"Hinata... Sakit. Tapi para dokter tidak mengetahui penyebab sakit Hinata. Sehingga Hinata harus di opname. Sudah tiga hari berlalu lamanya, tapi tetap saja Hinata tidak sadarkan diri." Sakura terntunduk, ia merasa sedih. Ia juga merasa kesepian karena sahabat yang selalu menemaninya itu tidak berada di sampingnya.

Kakashi menatap Sakura, "Hm.. Begitu ya." ucap Kakashi prihatin. "Apakah dewa memihak kepada Hinata? Kita para manusia hanya bisa memohon, semoga saja Hinata cepat sembuh."

::

::

"Dimana ini?." Hinata melihat sekelilingnya yang dipenuhi oleh pepohonan. "Apakah aku tersesat seperti saat berlibur di pantai?" Hinata kembali melihat sekelilingnya. Ia pun berjalan menyusuri jalan yang entah kenapa memang sudah seperti jalan disana.

Srek.. Srek..

Mendengar suara rerumputan yang saling bergesekanpun Hinata menghentikan langkahnya. "Siapa disana?" Hinata sempat berpikir, apa jangan-jangan itu dewa Hermes yang kembali ingin menunjukkan jalan keluar bagi Hinata? Ataukah hewan buas?

Tapi masa Hinata kembali terdampar di pulau yang katanya pulau dewa itu? Tidak mungkin kan? Kembali Hinata mengingat kejadian yang sebelumnya dialaminya. Kalau tidak salah, hari terakhir berlibur, pagi hari ia ingin pergi keluar bersama dengan Naruto.

Lalu tiba-tiba saja kepala Hinata menjadi pusing dan setelah itu Hinata tidak ingat apa yang terjadi. Hinata memegang kepalanya yang sedikit sakit. "Tidak apa-apa?" mendengar suara yang sepertinya ditunjukkan kepadanya, Hinatapun menengokkan kepalanya.

Matanya membulat dikala ia tahu apa yang ada di hadapannya sekarang ini. Sebuah monster, atau apapun itu Hinata tidak mengerti. Seluruh tubuh bewarna merah keoren-orenan, kuping di atas kepalanya, dan apa itu? Ekornya? Sembilan buah ekor? Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ia merasa takut, tapi ia memberanikan dirinya. Kalau tidak salah tadi monster, eh maksudnya apa itu namanya menanyakan keadaan Hinata. "Aku.. Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku." seru Hinata dan tersenyum. Ketakutannya menghilang dikala ia melihat apapun itu yang didepannya juga ikut tersenyum.

"Kenapa kamu bisa disini?." seru apapun itu kepada Hinata. Hinata menggeleng dan menjawab tidak tahu.

"Baiklah, aku akan membantumu mencari jalan keluar. Oke?." Hinata mengangguk dan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dengan lembut.

::

::

"Hm..." Naruto menatap ke luar melalui jendela ruangan tersebut. Ia sudah menunggu kira-kira tiga jam tapi Aegle tetap tidak kembali ke tempat tersebut. Apa penawarnya belum selesai dibuat?

Kembali lagi Naruto menatap ke arah langit untuk yang kesekian kalinya. "Nenek itu terlalu lama.." seru Naruto.

Hari ini belum ada yang menjenguk Hinata sehingga Naruto tidak perlu bersiaga. "Hei bocah, jangan seenaknya dirimu memanggil aku nenek." mendengar suara dari belakangnya, Narutopun menghentikan kegiatannya menatap langit dan membalikkan kepalanya.

"Nenek Aegle!" mata Naruto kembali membulat. Ia langsung mendekati dewi tersebut. Tapi baru saja sampai disana, Naruto sudah dijotos kepalanya oleh dewi berkuncir dua bawah itu.

"Ittai... Apaan sih tiba-tiba mukul kaya gitu?." Naruto memegang kepalanya yang terasa sakit dengan kesal. Hanya pukulan pelan saja membuatnya merasa sesakit itu, apalagi pukulan dengan kekuatan penuh. Mungkin Naruto akan mati.

"Sudah kukatakan jangan panggil aku nenek! Dan ini penetralisirnya!" dewi tersebut pun mengeluarkan sebuah bungkusan dari kain yang telah diikatkan dengan tali kepada Naruto.

Naruto menatap kantong itu cukup lama. "Tunggu apa lagi? Cepat beri dia minum penetralisir ini!" seru Aegle, yang dapat dikatakan perintah kepada Naruto. Naruto memonyongkan bibirnya, ia sudah tahu kali tanpa harus diperintah seperti itu.

Narutopun mengambil bungkusan tersebut dan segera mendekatkan diri pada ranjang Hinata. Ditatapnya kembali Hinata yang masih saja tertidur dengan pulasnya. Dengan perlahan, Naruto melepaskan tali yang mengikat kepada kain tersebut.

Setelah terbukan, terlihatlah obat penetralisir berbentuk bubuk dan memiliki cahaya kekuningan seperti emas. Dia tahu bahwa obat ini tidak ada di dunia manusia, jadi benar ya penyakit Hinata itu bukan penyakit sembarangan.

Naruto pun mengambil bubuk tersebut dengan menggunakan jari jempol dan telunjuknya. Sampai akhirnya ia mengerti bahwa harus ada satu pertanyaan yang dirinya tanyakan kepada Aegle.

"Bagian mana yang harus kutaburi?." pertanyaan itu sukses membuat Aegle terjungkang ke belakang.

"Bocah bodoh! Sudah pasti harus dimasukan kedalam mulut sehingga obatnya menyebar dalam tubuh!" dewi itu kesal. Sudah berapa kali Naruto memakan obat berbentuk seperti itu saat dia masih kecil? Apa karena terlalu lama disegel makanya otaknya jadi aneh ya. Dewi Aglepun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Oh begitu ya." Naruto mendekatkan tangannya kepada mulut Hinata yang sedikit terbuka itu. Jadi tidak sulit bagi Naruto untuk memberikannya penetralisir tersebut.

"Baiklah, aku akan memulainya sekarang."

"Sudahlah bocah, jangan banyak aksi." karena Naruto terlalu lama, dewi tersebut pun sudah habis kesabaran. Karena ia harus ke tempat lain untuk memberikan para manusia kesehatan, tugasnya bukan hanya menyembuhkan gadis tersebut.

"Kalau begitu.. Hinata.. Cepatlah sadar.."

To Be Continue

(Ch. 9 end)

Yei! Akhirnya chapter sembilan selesai sudah~ Aku memprediksikan kalau cerita ini mungkin akan tamat pada chapter tiga belas, atau tidak lima belas~ Jadi bagi readers yang selalu membaca dan mereview ff ini, kuucapkan banyak terima kasih~ Oke, sekian dariku~ Sampai berjumpa di chapter selanjutnya~

Jaa mata..

Spesial Thanks to:

- kirei- neko

- Akira no Rinnegan

- a first letter

- Blue-senpai

- Ayon R. Marvell

- Yukori Kazaqi

- NamiMirushi

- baladewa . loveless

- naruhina . naruhina . 35

- puchan

- Elgha-Shi no GoBesuto

- ujhethejamers

- Hikaru-Ryuu Hitachiin

- Azura AI-Rin

- Karizta-chan

::

::

V