Hai semuanya gimana kabarnya masih hidup, sehat jiwa dan badan kan?

Maaf ya baru aja update. Soalnya author akhir-akhir ini sibuk banget sama kegiatan kampus mulai dari kuliah, tutor, praktikum, mengerjakan laporan, PR, sampai konsultasi berkali-kali sama dosen. Belum lagi kegiatan organisasi dari kampus. sampai aku sendiri lupa kapan terakhir kali ni cerita ku update ya? :-/

Sudahlah abaikan yang tadi. langsung baca aja.

.

Chapter 8.

.

"Oh kebetulan kalian semua sudah disini"

Tapi kemudian Gempa pun datang dan menemukan keempat saudaranya sudah lengkap berkumpul disini. Membuat Taufan harus menghentikan cacian sekaligus ceramah tak jelasnya pada adiknya yang masih SMP itu.

"Ada ada Gempa?" tanya Halilintar.

"Bersiap-siaplah. Ayah menyuruh kita semua ikut ke perusahaan besok." Jelas Gempa sambil memperlihatkan SMS dari kepala sekretaris Ocho Ah.

.

Kira-kira isi SMS nya itu seperti ini.

Selamat siang. Tuan muda David!~ ^0^ Apa anda sehat-sehat saja hari ini? .^_^.

Maaf saya lancang bertanya seperti itu pada Tuan muda. Ini karena Tuan besar sejak tadi terlihat sangat mengkhawatirkan kalian semua.

Beliau bahkan kelihatan tidak fokus pada pekerjaannya di kantor. 0_o

Ah, tolong jangan beritahu jika aku membocorkan tentang keadaan Tuan besar saat ini padamu. Karena ini rahasia, oke. ^.^

Oh. Aku sampai lupa memberitahu hal penting padamu.

Tuan besar ingin mengajak kalian semua ke perusahaan besok. Karena anda tahu sendiri, jika kalian memang jarang pergi ke perusahaan.

Itu saja. Jangan lupa beritahu Kakak dan Adik anda juga.

SEMANGAT UNTUK BESOK YA~ *^0^*

Lalu balasan Gempa seperti ini.

Tuan Ah. Sehat? -_-"

.

WoTC

.

"Besok? Tapi besok kan hari Sabtu" gumam Taufan keheranan dengan keputusan aneh dari Ayah mereka itu. Karena hari sabtu dan minggu adalah hari libur kalaupun ada yang bekerja pada hari itu, paling itu hanya separuh dari karyawan, seperti bagian teknisi dan security.

"Gila banget. Apa sih yang sebenarnya dipikirkan Ayah?" komentar Halilintar sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

Sementara si kembar tiga itu asik berdebat. Di belakang Ice kelihatan sibuk membaca pesan yang dikirim oleh Kepala Sekretaris Ah, hanya untuk memastikan kalau SMS itu benar-benar asli dan bukan tipuan dari orang yang mengaku-ngaku sebagai tangan kanan kepercayaan keluarga mereka itu, untuk menjebak mereka berlima.

Bocah bewajah teduh itu terlihat terus mengerutkan keningnya. Sebelum akhirnya dia pun bertanya langsung pada si pemilik HP yang menerima SMS tersebut. "Kak. Kau yakin ini benar-benar SMS dari Kepala Sekretaris Ah?"

"Tentu saja. Dia sendiri yang memberikan nomornya langsung padaku" protes Gempa yang kelihatan sangat tenang.

"Buset…. Ada Emoticon-nya segala lagi" komentar Ice tentang SMS yang dikirim oleh Sekretaris Ah dengan sebuah sweatdrop besar di kepalanya. Apa maksudnya coba, bahasanya formal begitu, tapi ada emoticon nya. Kalau mau formal, formal aja. Nggak usah dicampur-campur dengan gaya kekinian segala.

"Yah… begitulah 'Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya'. Ayah dan Putrinya sama gilanya." Komentar Taufan enteng. Yang dia maksud Putri dari Ocho Ah adalah putri kandungnya, siapa lagi kalau bukan Hanna.

Gempa hanya berdehem kecil begitu mendengar komentar Taufan tentang Hanna. Entah mengapa wajah pemuda dengan topi terbalik tersebut kelihatan risih begitu Kakaknya mengungkit-ungkit kembali soal gadis berambut coklat dan bermata biru yang meninggal karena kanker tersebut. Jangan-jangan sebenarnya Gempa–ah lupakan saja. Kita bahas itu lain kali.

"Ya… Apapun itu. Pokoknya kita hanya perlu menjaga kelakuan. Terutama kau, Blaze" jelas Gempa. yang di maksudkan untuk adik nya yang paling hyperactive dan tidak bisa diam walau hanya semenit. Ada saja yang dikerjakannya, dan terkadang bisa saja itu bukan hal penting.

"Kok aku!?" protes Blaze tidak terima sambil menunjuk dirinya sendiri. Bukankah Kakaknya, Taufan juga sama lincah nya seperti dia, jadi kenapa hanya dia saja yang di beri peringatan.

"Karena di antara kami berlima hanya Kakak yang paling nggak bisa jaim (jaga image)" komentar Ice enteng dengan raut wajah datarnya.

"Diam! Aku nggak minta pendapatmu!" seru Blaze penuh kekesalan sambil mengepalkan tinju kecil ke arah adik kembarnya. Dan hanya di tanggapi Ice dengan sebuah gumaman kecil sambil memutar matanya dengan malas. Jujur saja, dia sudah terbiasa dengan kelakuan Kakak kembarnya yang tiba-tiba bisa mengamuk dan marah-marah sendiri tanpa alasan seperti saat ini.

Dan sudah pasti dialah yang selalu jadi korban pelampiasan kekesalan Kakaknya itu, entah dia buat kesalahan atau tidak. Mentang-mentang dia kembaran yang paling kecil.

"Sudahlah kalian berdua" Gempa pun mencoba menengahi dan melerai mereka berdua agar tak berkelahi terlalu jauh. "Ayo kita pulang" lanjutnya mengajak semua saudaranya.

Blaze hanya mendengus dan mengekor Kakaknya yang satu itu. Diikuti oleh Ice di belakangnya yang tiba-tiba saja terbatuk-batuk kecil.

Sebentar. Tumben Blaze mau pulang? Biasanya juga selalu nginap di studio.

"Tumben kau pulang" tegur Halilintar keheranan.

"Aku kangen masakan Mama" jawab Blaze enteng dengan cengiran polosnya yang khas. Membuat Halilintar menggelengkan kepala, mendengar alasan adiknya itu.

Setelah melihat semua tiga saudara itu keluar dari studio, Taufan pun segera mengambil tasnya dan melangkah dengan santai menuju pintu masuk, sebelum Halilintar menegurnya untuk membicarakan sesuatu.

"Taufan." panggil si Kakak.

"Ya Kak?" sahut Taufan, membalikkan tubuhnya menghadap Kakaknya itu.

"Mengenai Yaya. Bisakah kau rahasiakan jika dia berada di kelas indifferent group?" pinta pemuda berlambang petir tersebut.

Membuat Taufan mengerutkan keningnya, mendengar permintaan dari Kakaknya itu. Kalau soal itu, bahkan tanpa diminta pun dia juga tidak akan pernah melakukannya "Kakak tidak percaya padaku? Kakak tahu saja kan, aku dan Yaya adalah teman baik. Tidak mungkin aku melakukannya" protesnya.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Teman bisa saja menjadi musuh, karena mereka mengetahui terlalu banyak satu sama lain. Aku bilang begini karena itu pengalaman yang pernah kualami" tegas Halilintar datar. membuat Taufan membelalak dan menelan ludah, teringat kejadian ketika hubungan persahatan antara Halilintar dan Fang yang merenggang karena suatu alasan yang tidak jelas, dan hanya Kakaknya yang satu itu juga Fang yang tahu penyebabnya.

Tapi ada benarnya juga yang dikatakan Kakaknya itu, karena ada istilah yang mengatakan 'jika lidah itu lebih tajam daripada pedang', dia harus berhati-hati menjaga ucapannya. Bisa saja suatu saat dia keceplosan saat membicarakan tentang Yaya, atau mungkin disaat sudah terdesak dan tak ada pilihan lain.

WoTC

Keesokan paginya seperti yang dikatakan oleh Kepala Sekretaris Ocho Ah. Ayah para Boboiboy bersaudara itu benar-benar membawa mereka ke perusahaan di saat liburan.

Terlihat di jalan dua mobil sedan berwarna hitam saling beriringan menuju kantor pusat dari perusahaan ABA Company. Yang paling depan adalah mobil milik Ocho Ah, dan di naiki oleh Halilintar, Gempa, dan tentu saja Harun Boboiboy, ayah mereka.

Sementara Taufan, Blaze, dan Ice mengiringi mereka di belakang dengan mobil pribadi keluarga mereka.

Dan entah kenapa, perjalanan ini terasa begitu canggung. Tak ada satupun dari Halilintar maupun Gempa yang coba bicara dengan ayah mereka. Bahkan mungkin mereka semua memang tidak ada berani pada ayah mereka, dan satu-satunya yang mengajak beliau bicara sepanjang perjalanan hanyalah Kepala Sekretaris Ah, yang memang dari kecil sudah akrab dengan keluarga Boboiboy.

Mungkin karena sikap beliau yang keras dan dingin pada anak-anaknya. Padahal menurut cerita Tok Aba, Kakek mereka. Sikap Ayah mereka tidak seperti ini. Tapi entah kenapa beliau jadi berubah setelah istri pertama nya meninggal.

Ya namanya juga hati manusia, bisa berubah kapan saja. Siapa yang tahu?

Beberapa menit kemudian setelah terus-menerus berada dalam mobil yang auranya begitu mencekam, karena keberadaan sosok Ayah dari si Boboiboy bersaudara itu. Akhirnya mereka semua pun tiba di halaman sebuah gedung besar dan menjulang tinggi. Inilah kantor pusat ABA Company yang dijalankan oleh ABA Group. Perusahaan milik keluarga Boboiboy.

Dengan panik Satpam yang sedang menjaga di depan gedung itu pun terburu-buru segera membukakan gerbang untuk mereka. Sudah pasti dia kaget, tidak menyangka jika atasannya akan datang di hari libur seperti ini.

"Se-Selamat datang, Tuan Besar" sapanya gugup begitu pria paruh baya itu turun dari mobilnya dan memijakan kakinya ke tanah. "Kenapa tiba-tiba datang di akhir pekan seperti ini? Dan mereka ini…" lanjut pria dengan seragam satpam itu bertanya.

"Mereka semua putraku." Jawab sang Tuan besar singkat, padat dan jelas.

"Oh iya benar. Pantas saja rasanya aku pernah melihat mereka." Ucapnya nyengir. "Kalian semua sudah besar ya sekarang!" ucapnya ramah pada kelima bersaudara itu. Sebenarnya pria ini sudah lama sekali mengabdi untuk ABA group sebagai petugas keamanan. Dan terakhir kali dia bertemu dengan para Tuan Muda ini adalah tujuh tahun yang lalu. Sejak itu mereka tidak pernah datang lagi. Jadi wajar jika dia hampir tidak mengenali mereka.

"Tuan Ah" tegur sang Tuan besar.

"Ya?"

"Hubungi seluruh kepala bagian staf. Kita akan mengadakan rapat hari ini" lanjutnya.

"Apa!?" tentu saja Ocho terkaget-kaget karena keputusan mendadak yang diberikan oleh atasan sekaligus kakak angkatnya tersebut. Boboiboy bersaudara pun hampir tak bisa menutup mulut mereka, tak kalah kagetnya mendengar ide gila yang tiba-tiba keluar dari mulut orang yang mereka panggil 'Ayah' tersebut.

Apa sih yang di pikirkan beliau coba?

Menyuruh orang datang ke kantor

Di hari cuti

Untuk rapat.

Dimana seharusnya para karyawan menikmati waktu bersantai bersama keluarga atau pasangan mereka (kecuali bagi mereka yang jomblo.)

Yah, namanya juga bos. Karena dia yang punya ya sesuka hatinya.

Kemudian dengan santai si bos pun melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan. "Apa yang kalian tunggu? Kalian akan berdiri di luar terus seperti itu?" tegurnya pada anak-anaknya yang masih mematung di tempat karena syok.

Dan dengan sigap segera menyusul ayah mereka dari belakang setelah tersadar dari syok.

WoTC

Pada akhirnya mereka berlima pun tiba di ruangan besar dan mewah dengan meja panjang yang membentuk setengah lingkaran ke arah layar proyektor besar.

Seperti yang diduga, ruangan rapat masih kosong dari para personilnya yang masih menikmati liburan akhir pekan. Lalu tiba-tiba si bos malah mengabari secara mendadak akan mengadakan rapat hari ini.

Gila kan?

Jadi dengan sabar sang presdir pun duduk di kursinya, menunggu para bawahannya satu-persatu untuk menghadiri rapat, yang entah tujuannya untuk apa. Sementara kelima putranya duduk di sofa yang berada di sudut ruangan bersama tangan kanan kepercayaan keluarga mereka, dengan gelisah.

Lihat saja Blaze, dari tadi tidak bisa duduk tenang. Kadang dia memainkan kedua tangannya, kadang kakinya berayun naik dan turun, kadang dia mengubah posisi duduknya.

Intinya, dia tidak bisa diam sama sekali.

Wajar saja, dengan suasana seperti ini siapapun tidak akan merasa nyaman.

Lalu Akhirnya, setelah hampir satu jam lebih menunggu. Para kepala bagian staf pun berduyun-duyun datang dengan jas lengkap setelah menerobos macet karena padatnya jalanan di akhir pekan, walaupun sedikit tidak rapi. Bahkan saat masih ada yang merapikan pakaiannya ketika memasuki ruangan.

Dan segera mengambil posisi duduk di kursi yang telah disediakan.

WoTC

"Jadi proyek pengembangan pabrik baru kita saat ini sudah hampir mencapai 80 persen. Dan dipastikan akan selesai-"

"Tunggu" tegur Harun pada si moderator yang sedang menjelaskan tentang pembangunan pabrik baru di luar kota KL tersebut.

Begitulah sejauh ini rapat dadakan berjalan sangat lancar. Hingga tiba-tiba saja sang presdir meminta moderator tersebut untuk menghentikan penjelasannya. Kenapa tiba-tiba?

"Kalian semua, apa sebelum menghadiri rapat ini sedang berkumpul bersama keluarga kalian?" tanya pria paruh baya tersebut. Membuat semua yang berada di dalam ruangan tersebut terdiam keheranan, kecuali si presdir.

"I-Iya, pak…" jawab para bawahannya gugup.

Sang presdir hanya mengangguk sambil mendesah pelan. "Tentu saja, karena hari ini adalah hari libur." Gumamnya. "Ngomong-ngomong soal keluarga. Hari ini aku juga membawa putra-putraku" lanjutnya lagi.

Hingga membuat para bawahannya itu kaget sekaligus tercengang sambil menatap ke arah lima bersaudara itu. Sebenarnya para kaki tangan ayah mereka itu sudah menyadari kehadiran mereka sejak awal. Tapi entah karena mereka pikir bocah-bocah itu, hanya anak yang mau magang di perusahaan atau apapun itu. Jadi mereka semua lebih memilih mengabaikannya.

"Seperti yang kubilang sebelumnya, mereka adalah putraku. Mungkin diantara kalian semua sudah ada yang pernah melihat mereka" jelas si presdir. Kata-katanya itu barusan juga ditujukan pada Kakak iparnya yang juga hadir dalam rapat ini.

Jadi karena akhirnya ayah mereka sudah memberitahukan siapa mereka berlima. Boboiboy bersaudara pun berdiri untuk memperkenalkan diri mereka pada orang-orang yang mungkin suatu saat nanti akan menjadi bawahan mereka.

"Apa kabar semua? Aku Gempa dan ini saudara-saudaraku, Halilintar, Taufan, Blaze dan Ice" ucap pemuda bertopi terbalik itu mewakilkan saudara-saudaranya yang lain untuk mengenalkan diri. "Halo paman" lanjutnya lagi menyapa seorang pria yang tengah duduk santai di kursi wakil presdir.

"Oh. Ho, Hyuk, Woo, Joon, Chang. Maaf ya, aku sudah lama tidak melihat kalian, makanya aku hampir tidak mengenali kalian lagi" sahut si paman yang merupakan sepupu dari ibu mereka.

"Anda pasti sangat bangga, Pak. Mereka semua sangat tampan"

"Tampan sekali"

"Mereka mirip dengan anda saat masih muda"

"Pak Kepala juga masih terlihat muda kok saat ini"

Dan dari sana satu-persatu pada karyawan itu pun mulai memuji ayah dan anak-anaknya itu.

Tapi bukannya senang lima bersaudara itu malah terlihat sangat malu dan kesal. Jadi sebenarnya dari awal tujuan rapat ini hanyalah untuk mengumpulkan orang dan mengenalkan mereka berlima pada para kaki tangan ayah mereka saja. Kenapa? Padahal mereka tidak memintanya sama sekali. Benar-benar mengesalkan, bisa-bisanya ayah mereka seenaknya mempermainkan orang lain hanya untuk tujuan egoisnya saja.

"Yah. Maaf sudah meminta kalian semua untuk datang ke kantor di akhir pekan, dimana harusnya kalian menghabiskan waktu bersama dengan keluarga" kata si presdir dengan senyuman dan nada suara yang begitu bijaksana. "Kalau begitu kita lanjutkan saja rapat ini di hari lain. Kalian semua boleh pulang" lanjutnya lagi.

Kemudian para bawahannya ayah mereka pun segera membereskan barang bawaan mereka dan meninggalkan ruangan rapat, dimana hanya Sang Presdir, Boboiboy bersaudara, Kepala Sekretaris Ah, yang masih tetap bertahan, juga si moderator yang terlihat masih sibuk membereskan barang dan menutup slide yang barusan di perlihatkannya.

Para Boboiboy bersaudara hanya bisa tertunduk dalam diam dengan wajah murung dan masam. Terutama Halilintar yang kelihatan berusaha menggenggam erat kedua tangannya, menahan kesal. Sungguh, rasanya dia ingin sekali memberontak untuk membalas ayahnya sesekali. Tapi apa daya, dia hanya bisa tunduk dan patuh dengan aturan ketat yang diajarkan oleh pria yang selama ini membesarkannya dan keempat saudaranya.

"Eh, loh?"

Dan tiba-tiba saja si moderator yang sebelumnya menjelaskan proyek itu terlihat sangat panik sambil mengutak-atik komputernya.

"Ada apa?" tegur Ocho penasaran sambil berjalan menuju pria yang terlihat kebingungan itu. Membuat semua yang berhadir di ruangan tersebut menoleh ke arah pria muda tersebut.

"Anu… Pak. Da-Data laporan yang saya tayangkan barusan… tiba-tiba saja hilang" jawabnya gugup dan terbata-bata.

"Hilang? Kau yakin? Bisa saja kan terselip di antara folder yang lain" tegas Ocho mencoba menenangkan situasi.

"Tidak Pak. Saya sudah coba periksa beberapa kali dan ternyata folder lain yang berisi data penting perusahaan juga ikut menghilang. Saya juga sudah memeriksa recycle bin-nya, untuk memastikan jika mungkin saya tidak sengaja menghapus data-data tersebut. Tapi ternyata foldernya kosong" jelas pria itu panik.

"Boleh saya periksa?" tanya Ocho.

"Silahkan"

Dan kemudian pria berambut pirang itu pun segera mengutak-atik sofware dari laptop tersebut untuk memastikan saja tidak terjadi hal buruk pada data penting perusahaan tersebut. Karena bisa saja data tersebut sebenarnya diam-diam dicuri atau dihapus oleh tangan-tangan jahil para pengutil yang sering disebut, Cracker.

Nope. Bukan Craker kue. Craker atau disebut juga Black Hat Hacker adalah para Hacker yang menerobos sistem keamanan komputer tanpa izin dengan maksud mengakses komputer, entah untuk tujuan apapun itu, tapi biasanya mereka lebih suka merusak, contohnya memasukan virus. Berkebalikan dengan White Hat Hacker yang lebih fokus pada pada perlindungan sistem.

Tapi semoga saja dugaan ini salah. Karena bisa berbahaya jika sampai data perusahaan yang begitu rahasia dan penting dicuri.

Fokus kembali ke cerita.

Saat ini suasananya begitu mencekam, dimana keadaan darurat sedang terjadi.

"Sudah kuduga." Gumam Ocho yang terlihat begitu syok.

"Ada apa, Kepala Sekretaris Ah?" tanya Si Presdir.

Ocho hanya menelan ludah karena ternyata dugaannya benar. "Ada yang meretas jaringan perusahaan kita dan mencuri datanya secara diam-diam" jelasnya.

"Lalu sekarang bagaimana ini?" Taufan benar-benar panik sekarang, rasanya dia ingin sekali pingsan sekarang karena menghadapi keadaan darurat seperti ini, tapi sayang sekali tidak bisa.

Sementara Gempa di sebelahnya terlihat sedang menggigit bibirnya sendiri mencoba berpikir keras, mencari solusi untuk keadaan buruk seperti ini. Dan disaat itulah dia teringat.

"Blaze!" panggilnya pada adiknya itu.

"Ya?" sahut Blaze dengan tatapan polos.

"Kau bisa membereskan ini kan?" lanjut Kakaknya itu. Hingga membuat si pemilik nama tercengang plus keheranan sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku percaya kau bisa melakukannya." Lanjut Gempa lagi, walaupun kelihatannya Blaze mencoba meyakinkan jika dia tidak mampu melakukannya.

"Nggak usah menyembunyikannya. Aku tahu apa yang selama ini kau kerjakan dan juga alasan kenapa kau selalu membolos sekolah" kata Gempa.

Kali ini Blaze terpaksa menyerah dan menuruti permintaan Kakaknya yang seperti… Selalu bisa membaca pikiran orang lain itu. Jadi dia pun mencoba mengecek laptop tersebut dan memeriksa apa yang salah.

"Bagaimana? Kau bisa mengatasinya?" tanya Ocho.

Untuk sejenak Blaze diam, kedua mata berwarna hazel nya terpaku ke arah layar laptop dan memperhatikan jika satu-persatu data penting mulai menghilang, terhapus secara otomatis. "Aku nggak tahu bisa atau tidak mengatasi hal ini. Tapi akan kucoba" kemudian bocah berjaket merah itu pun merogoh kantongnya celananya dan mengeluarkan sebuah flashdisk yang segera dicolokkan ke laptop perusahaan tersebut.

Dan mulai menginstal semacam aplikasi untuk melakukan Hacking.

Disinilah Blaze mulai bekerja, mengerahkan semua kemampuannya. Jari-jari mungilnya terlihat menari-nari diatas papan keyboard, memasukan kode angka, huruf, kalimat dan semua fungsi yang diingatnya.

Layar hitam dengan kode dinamik berwarna hijau terlihat memenuhi layar seperti semut kecil yang berbaris rapi dan bergerak dengan sangat cepat. Dan ajaibnya Blaze mampu memasukan kode dan fungsi yang mampu menyaingi kecepatan susunan angka dan huruf acak-acakan, yang bagi orang awam begitu memusingkan.

"Apa iya Blaze bisa membereskannya?" gumam Taufan masih setengah percaya dan ragu dengan kemampuan adiknya.

Gempa hanya tersenyum dan mendengus pelan mendengar ucapan Kakaknya itu. "Kakak tidak tahu saja. Blaze itu… Jika dia mau… dia bisa saja meretas jaringan NASA dan membuat sistemnya tidak bekerja selama beberapa menit" ucapnya. Membuat Taufan melongo dengan mulut terbuka. Serius?

Tapi sayangnya, tepat ketika Gempa baru saja melontarkan pujian.

"Cih…" gerutu Blaze, sepertinya proses Hack nya gagal. Terbukti dari tulisan paling bawah dari layar tersebut. 'Code Error. 401. Server Forbidden'

"Tidak bisa?" tanya Halilintar.

"Dia mengajakku berkelahi" gerutu Blaze yang mulai terlihat geram, karena ini pertama kalinya dia tidak bisa menembus akses yang harusnya Hacker kelas teri pun bisa melakukannya. "Kuterima tantanganmu" dan bocah SMP itu pun kembali mengulang dan memasukan kode-kode lagi dari awal.

Ternyata memang ada Black Hacker yang meretas jaringan perusahaan mereka dari jarak jauh.

Dan kemudian.

Dan setelah bersikukuh dengan satu sama lain. Dan adu kekuatan dan kemampuan dalam melakukan peretasan jaringan.

"Debug System, Restore Data, Password change, Install Firewall" kemudian dia memperbaiki sistem nya dan merebut kembali data yang sudah dicuri sekaligus memasang sistem untuk membarikade serangan dari musuh, semuanya sekaligus dalam satu ketikan di tombol enter. Blaze akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia menang dalam bertandingan ini.

Begitu pula Kakaknya yang sejak tadi berdiri di sebelahnya dengan wajah tegang. Akhirnya mereka bisa menghembuskan nafas lega. Jujur saja, sesaat tadi bumi benar-benar terasa berhenti berputar.

"Hampir saja aku mati berdiri tadi" desah Taufan yang wajahnya masih terlihat pucat.

"Seperti yang diharapkan dari 'FlameCat Hacker Choi' masalah seperti ini tidak ada artinya untuk dia" gumam Gempa yang kedengaran antara memuji atau menghina.

"Kak Gempa! Jangan tiba-tiba menyebut nama samaran lamaku begitu dong!" rajuk Blaze dengan wajah merah padam seperti udang rebus, pada Kakaknya yang tiba-tiba saja menyebut nama samaran seorang Hacker yang dulu sangat dicari oleh negara karena kemampuan luar biasanya.

"FlameCat Hacker Choi? Rasanya pernah dengar." Kali ini Taufan yang menggumam sendiri sambil menempelkan tangannya ke dagu. Tapi sepertinya terdengar oleh Blaze. "Oh jadi itu kau ya Blaze? Benar-benar tidak disangka"

"Aku bahkan masih menyesali nama konyol yang kubuat itu. Bahkan aku sudah menghapus akun official dan semua akun palsu bernama itu " Blaze hanya bisa mendesah pelan sambil menutupi wajahnya dan menjedutkan kepalanya ke meja karena saking malunya. "Kak Hali~ Tolong aku~" pintanya manja pada Kakak pertamanya. Kali ini bocah SMP itu benar-benar ingin menangis.

"FlameCat Hacker Choi?" gumam Halilintar bingung dengan nama yang disebut oleh kedua adik kembarnya.

"Oh dulu ada Hacker sakti yang bisa membongkar dokumen rahasia negara yang mustahil dibuka, bahkan oleh para Hacker dari badan keamanan. Sejak itu dia mulai terkenal karena selalu berhasil memecahkan password dari penyimpanan data negara. Bahkan sampai ada fans-nya lo. Jadi Pemerintah mencoba mencari orang yang katanya melakukan semua itu sendirian. Tapi sayangnya keberadaannya selalu gagal dilacak. Sampai suatu ketika, orang itu menghilang. Katanya pemerintah berhasil menangkapnya tapi identitasnya tidak pernah dibongkar" jelas Taufan dengan seringai jahil khasnya. Terutama ketika melihat wajah Blaze semakin memerah, puas sekali Taufan menjahilinya dengan cerita masa lalu itu.

"Oh~ Hacker yang akunnya Official Tw*tter nya sampai 10.000.000 pengikut itu. Yang foto profilnya Kuc-"

"Tidak!" Omongan Halilintar seketika itu juga langsung terpotong karena teriakan panik dari Blaze, lengkap dengan suara cempreng khas bocahnya. "Hancur sudah martabatku…" pemuda berjaket merah itu hanya bisa mengacak-acak rambutnya sambil menempelkan kepalanya pada meja karena saking malunya.

Taufan benar-benar tidak mampu menahan tawanya. Untuk pertama kalinya dia dan Halilintar begitu kompak dan berhasil mengerjai adiknya yang tempramental tersebut. Walaupun sepertinya Haliintar tidak ada niat untuk melakukan hal itu.

"Cup~ Cup. Jangan nangis~ Hyung hanya bercanda~" canda Taufan sambil mengelus kepala adiknya yang cerewet dan manja tersebut.

Tentu saja Blaze langsung naik pitam, dia segera mengangkat kepalanya dan marah-marah nggak jelas pada Kakaknya itu. "Lepaskan, aku bukan anak kecil! Dan juga siapa yang nangis!" bentaknya.

Gempa pun juga tidak bisa tidak tertawa melihat kejadian lucu ini. Benar-benar jahil sekali Kakaknya yang satu itu.

Disaat itu juga Ice yang sejak tadi diam dan tak berbunyi sedikitpun, tiba-tiba saja menegur Gempa dengan cara menarik jas Kakaknya dengan pelan.

Tentu saja Gempa segera menoleh pada Adiknya itu. "Ada apa Ice?" tanyanya lembut.

"Uhuk… Kak kita pulang yuk…" desah Ice lemah. Entah kenapa wajah bocah 14 tahun itu begitu pucat dan terlihat kurang sehat.

Tentu saja Gempa keheranan dan menyernit bingung dibuatnya. "Ada apa? Kau sakit?" ucapnya sambil menempelkan telapak tangannya pada dahi Ice untuk mengecek suhu tubuhnya. Dan ternyata benar, Ice sepertinya sedang demam. Mungkin karena kehujanan tempo hari atau bisa juga karena kecapekan.

Jadi Gempa pun segera menemui ayahnya sambil memangku Ice di sampingnya. "Ayah. Bisa kita pulang sekarang? Ice kelihatannya demam" ucapnya. Hingga membuat saudaranya yang lain menoleh ke arah mereka dan menghentikan pertengkaran tidak jelas mereka.

"Benar itu, Ice?" tanya Ayahnya pada bocah berwajah teduh tersebut.

Ice tidak menjawab. Tapi dia sudah batuk-batuk dan lemas sekali sejak tadi. Dia hanya diam sambil menyenderkan kepalanya ke dada Kakaknya itu.

WoTC

Jadi. Karena kondisi Ice yang mulai melemah, mereka semua terpaksa harus segera pulang. Memang disaat para pegawai lain sudah pada bubar waktu itu, mereka harusnya juga sudah pulang. Tapi karena gangguan kecil dari Black Hacker barusan, mereka terpaksa harus menundanya dulu sementara Blaze memperbaiki sistem keamanan perusahaan.

Sungguh. Siapa sih sebenarnya orang tak bertanggung jawab yang hobinya merusak itu?

Dan setelah beberapa menit mengendarai mobil, akhirnya mereka tiba di rumah besar yang merupakan kediaman keluarga mereka.

"Kau bisa jalan, Ice. Atau kita ke rumah sakit saja?" tanya Gempa dengan raut wajah yang begitu khawatir.

Ice menggeleng walaupun agak lemah, tapi dia baik-bak saja, tidak perlu acara ke rumah sakit segala. "Aku hanya kena flu biasa. Tidak perlu sampai ke rumah sakit" jawabnya.

Begitu masuk ke rumah, Ibu mereka sudah menunggu dengan sangat tak sabar. Wanita tua itu segera bangkit dari sofa mewah di ruang tengah untuk menyambut anak-anak mereka, sekaligus menanyakan pengalaman mereka mengikuti rapat bersama ayah mereka.

"Putra-putra sudah pulang? Bagaimana rapatnya?" tanya si Ibu penuh semangat.

Tapi daripada menjawab pertanyaan yang diajukan ibunya. Mereka lebih mengkhawatirkan keadaan Ice saat ini. Demamnya semakin tinggi saja.

"Mama. Ice sepertinya demam" ucap Blaze yang sedari tadi merangkul adik kembarnya. Membuat Ibunya terdiam dengan mata membelalak, beliau benar-benar tidak menyadarinya.

Tentu saja dengan respon sebagai seorang Ibu. Wanita itu segera memeluk putra bungsunya itu. "Astaga. Maafkan Ibu ya. Ibu benar-benar tidak tahu. "desahnya. Sementara Ice hanya diam tapi tetap membalas pelukan penuh kasih sayang yang diberikan oleh Ibunya itu.

Kemudian si Ibu pun melepaskan pelukannya dan mencengkram kedua bahu putranya itu dengan sangat lembut. "Kau istirahat saja ya? Ibu akan segera memanggil dokter? Kau mau makan apa? Biar Ibu siapkan."celotehnya pada putra bungsunya itu. Sebagai seorang Ibu tentu saja dia sangat khawatir, bahkan dia tidak peduli apa Ice bisa menjawab semua pertanyaannya atau tidak. Yang jelas dia sangat khawatir saat ini.

"Ibu, aku sudah besar. Tidak apa-apa. Aku bisa kok–" penjelasan Ice segera tepotong oleh bentakan ibunya. Hingga membuat Ice bungkam seketika itu juga.

"Apa yang tidak apa-apa!? Ini pasti karena kecapekan. Jangan khawatir Ibu akan bilang pada gurumu untuk mengurangi PR dan tugasmu." Potong Ibunya. "Kau juga, Blaze. Sementara jangan dekat-dekat dengan Adikmu dulu. Nanti kau ketularan" lanjutnya pada Putranya yang satu lagi. Membuat Blaze terkesiap, tapi dia tetap mengangguk mengiyakan perintah dari Ibunya itu.

Ck…Ck... Insting yang dimiliki seorang Ibu untuk melindungi anaknya memang benar-benar luar biasa. Tapi entah mengapa, rasanya terkesan beliau terlalu memanjakan mereka.

WoTC

Malam hari pun tiba di kota besar dalam negara bagian Malaysia tersebut.

Kring…Kring.

Sebuah ponsel milik seorang pemuda bersurai ungu raven pun berdering. Dia pun segera mengangkat ponselnya yang kedengaran sudah cukup menggangu di dalam toko kelontong tersebut.

Ya Seperti biasa, lagi-lagi Fang nongkrong di toko kelontong dekat rumahnya, cuma buat makan mie dan minum kopi doang. Alasannya, malas katanya masak di rumah, bikin berantakan (Alasan macam apa itu?)

"Oh Adikku tersayang. Ada apa?" ucap Fang dengan nada bercanda. Dia sengaja memanggil Suzy seperti itu, karena dia tahu, Suzy pasti akan langsung naik darah dan mulai marah-marah tak jelas.

Dan Fang akan tertawa-tawa sendiri begitu bibir mungil gadis itu mulai mengumpat kata-kata kotor padanya.

"Apanya yang 'adikku tersayang'. Kau pikir aku sudi memanggilmu Kakak? Menjijikan."

Benar kan? Dia mulai mengumpat dengan nada kesal. Tentu saja Fang jadi cekikikan mendengarnya. Dasarnya dari dulu dia hobi sekali mengerjai sepupunya yang tempramental itu. Dan anehnya hanya dia yang selalu berhasil membuat Suzy kesal.

"Buset. Aku baru ngomong doang, kau sudah marah-marah aja. Memangnya aku punya salah apa jadi kau dendam begitu padaku?" celetuk Fang, walaupun kelihatannya dia hanya bercanda dan ucapan Suzy barusan juga tidak dimasukkan dalam hati. Jangan khawatir Fang itu pengertian kok, sebagai seorang sepupu tentunya.

"Bawel banget. Kau hidup aja udah salah! Pakai nanya lagi!"

"Nggak yang nelpon duluan kan kamu" Fang hanya geleng-geleng kepala sambil tertawa miris, mendengar adik sepupunya yang terbilang sangat kekanak-kanakan itu menghina dirinya. "Bilang aja langsung. Kau mau apa? Atau mau nitip sesuatu, kebetulan aku lagi di minimarket nih" lanjutnya.

"Nggak, makasih. Aku cuma mau tanya soal rahasia besar milik Ying. Katanya kau tahu tentang itu"

"Ah~ yang itu. Kasih tahu nggak ya~. Masalahnya Ming Xing itu adik yang paling aku sayangi, dan juga kalau ketahuan aku membocorkannya. Dia pasti akan membunuhku" canda Fang. "Memangnya kau mau apa dengan rahasia itu? Kau mau menyiapkan ranjau untuknya?" lanjut pemuda dengan gaya rambut seperti pantat ayam tersebut.

"Tidak~ Hanya saja aku sudah penasaran beberapa hari ini."

Fang menggumam pendek, keheranan. Kenapa tiba-tiba Suzy membuat suara sok imut dan manja begitu? Kalau sudah begitu biasanya dia sudah masuk mode merayu.

"Ayolah mau ya Abang"

Benar kan. Sudah diduga. Tapi Fang tidak akan termakan rayuan semudah itu. "Oke akan kuberitahu. Tapi ada syaratnya. Bawakan aku fotokopi formulir PSB milik Yaya Ah dari kantor guru dulu. Mudah kan?" Fang menyetujui keinginan Suzy dengan syarat.

Syarat yang cukup mudah. Jika kau bisa menemukan alasan yang bagus untuk membohongi guru dan membuat beliau mau meminjamkan formulir itu untuk di fotokopi.

"Suzy? Suzy!" anehnya gadis yang berada di seberang telpon hanya diam. Bahkan ketika Fang mencoba memanggilnya berkali-kali. Mungkinkah dia terlalu syok mendengar persyaratan yang diberikan oleh Kakak sepupunya itu? Dan karena ada yang bilang jika 'orang diam artinya iya' jadi Fang pun dengan santai menutup panggilan tersebut dan kembali melanjutkan makan mie nya selagi panas.

Tanpa diketahuinya, jika sebenarnya Suzy sedang lari ke belakang karena mendadak perutnya mual setelah menyebut kata 'Abang' barusan.

Disaat bersamaan, Yaya pun juga masuk ke minimarket tersebut untuk membeli sebotol minuman dingin dari kulkas. Setelah terlalu lelah berjalan dari tempat kerjanya. Karena pegawai pengganti dirinya sedang cuti melahirkan dan mentang-mentang dia sedang liburan. Dia yang disuruh kerja dari pagi sampai malam. Tapi bayaran untuk tambahan waktu kerja hari ini lumayan juga, karena itulah Yaya tidak protes.

Jadi seperti biasa Yaya pun segera duduk di kursi depan toko tersebut dan tiduran dengan santainya. Mungkin seperti ini yang dipikirkan Yaya 'Tidur dulu ah. Baru lanjut lagi jalan ke rumah. Capek banget'.

Tentu saja ini mengundang rasa penasaran dan kejahilan Fang. Dia pun segera pindah tempat di sebelah Yaya. Dan dengan isengnya menendang meja yang di tiduri Yaya, sampai gadis itu terbangun karena kaget.

Yaya pastinya terkejut saat bangun dan mendapati Fang yang harusnya dia hindari sudah ada di depan matanya. Kalau sudah begini, lebih baik pura-pura tidur saja daripada harus terkena masalah lebih besar.

"Kenapa kau selalu tidur disini? Membuatku ingin melindungimu" sayangnya Fang tidak semudah itu ditipu. Dia tahu jika Yaya sudah bangun karena gangguan darinya.

Kring… Kring…

Lagi-lagi ponsel Fang berdering. Tadinya dia pikir itu Suzy yang menelponnya lagi untuk menanyakan hal yang kurang jelas dari bagian bisnis mereka.

Tapi ternyata bukan.

Nomor panggilan yang masuk itu adalah nomor milik orang yang seharusnya dia hindari karena sangat berbahaya. Fang langsung membelalak melihat nama siapa yang tertera di layar HP-nya, seketika itu juga berkeringat dingin dan menelan ludah, tapi dia mencoba untuk tenang dan menjawab panggilan itu.

"Darimana kau tahu nomorku?" tanyanya.

"Apa itu penting sekarang? Apa yang coba kau lakukan pada Yaya?" jawab pria dari seberang telepon itu. Dan membuat Fang semakin risih. Darimana dia tahu jika dia sedang bersama Yaya. Jangan-jangan…

"Dimana kau sekarang?" tanya Fang setengah panik.

"Kau suka mienya?"

Fang segera menoleh ke arah jalan, dengan kaku. Benar ternyata dugaannya, orang yang menelpon dirinya itu memang ada di dekat sini. Bahkan dekat sekali.

Dan di seberang jalan sana, seorang pemuda bertopi hitam dengan lambang petir sedang duduk santai di atas motornya sambil menempelkan HP nya ke telinga, memandang tepat ke arahnya, lebih tepatnya ke arah mereka berdua dan bicara lewat HP.

Dia pun menggulirkan bola mata berwarna hazelnya, memperhatikan Yaya yang tengah pura-pura tertidur itu lekat-lekat. Kemudian berganti menatap Fang dengan tatapan sinis.

Dan setelah beberapa detik, dia pun segera turun dari motornya dan menghampiri Yaya. "Bangunlah. Aku disini untuk mengantarmu pulang" ucapnya. Membuat gadis itu terpaksa harus menghentikan aksi pura-pura tidurnya, dengan malas.

Halilintar pun segera mengenggam lengan Yaya untuk membantunya berdiri.

Tapi tepat saat itu juga, Fang segera mencegat Halilintar untuk membawa Yaya dengan mencengkram lengan pemuda bertopi itu. Tentu saja ini membuat Halilintar agak kesal dan memberikan Fang tatapan tajam.

"Kau mau membawanya kemana?" tanya pemuda bersurai ungu tersebut.

"Kemana lagi. Tentu saja ke rumahnya" jawab Halilintar datar sambil menepis tangan milik Fang.

"Benarkah? Aku nggak percaya kau benar-benar akan langsung mengantarnya pulang" ucap Fang enteng sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Kau pikir aku percaya padamu? Bisa saja kan kalau aku tidak datang kesini tadi, kau sudah macam-macam pada Yaya?" balas Halilintar tak kalah sengit.

"Wah. Berprasangka buruk sekali kau ini. Kau pikir aku sebejat itu ya" komentar Fang.

Halilintar hanya tertawa miris mendengar komentar dari mantan temannya itu. "Hah… Memangnya siapa yang duluan menuduhku akan macam-macam pada Yaya" balasnya.

Sementara Yaya yang mendengarkan pertengkaran antara Halilintar dan Fang yang tidak jelas akhirnya dimana, hanya mendesah sambil menempelkan kedua telapak tangannya ke wajah. Dia benar-benar heran, kenapa kalau mereka berdua bertemu pasti ujung-ujungnya berkelahi. Dan dia selalu berada di tengah-tengah perkelahian mereka. Hanya kebetulan atau memang dia nya saja yang sial.

Karena sudah tidak tahan lagi mendengarnya. Jadi secara diam-diam Yaya pun segera berdiri dan mencoba meninggalkan mereka berdua.

Tapi sayangnya, sepertinya aksinya gagal. Karena Halilintar menyadarinya dan segera mencegat Yaya pergi dengan menarik lengannya.

"Kau mau kemana?" tanya Halilintar datar. Tentu saja hal ini membuat Yaya kalang kabut dan kebingungan harus menjawab apa.

"Ka-Kalian masih lama kan urusannya? Ja-Jadi kurasa lebih baik aku pulang duluan saja" jelas Yaya gugup, mencoba membela dirinya.

"Tidak bisa." Tegas Haliintar lengkap dengan tatapan tajam khas miliknya, dan membuat Yaya serasa membeku di tempat. "Aku sudah jauh-jauh kesini hanya untuk memastikan kau aman sampai ke rumah. Kau harus tanggung jawab. Ikut denganku" lanjutnya dengan nada menggertak dan dengan sangat memaksa, dia menyeret Yaya sampai ke seberang jalan, mengabaikan Fang yang masih ada disana. Dan membuat Yaya naik ke atas motor miliknya.

Lalu dengan cepat Halilintar pun menaiki motornya, dan meninggalkan minimarket tersebut dengan Yaya di kursi penumpangnya.

Sementara Fang yang merasa diabaikan hanya mendengus kesal. Pemuda itu pun segera berdiri meninggalkan tempat duduknya dan masuk ke dalam mobil pribadi miliknya

WoTC

Beberapa saat kemudian. Mereka berdua pun sampai di pekarangan rumah kepala sekretaris Ah. Sebenarnya tidak butuh beberapa menit untuk sampai di rumah Yaya dari depan Minimarket tersebut. Karena toko serba ada itu memang ada di depan gerbang masuk dari komplek perumahan tempat Yaya tinggal.

Setelah Halilintar mematikan mesin motornya, Yaya pun segera turun dari motor milik pacarnya itu.

"Terima kasih banyak ya. Berkat kau aku bisa pulang dengan aman. Terkadang kau bisa juga diandalkankan"ucap Yaya.

"Itu pujian?" sahut Halilintar ketus.

"Iyalah. Memang kau pikir apa?" gerutu Yaya kesal.

"Ngomong-ngomong saat jalan kesini tadi. Aku lihat ada beberapa orang yang penampilannya seperti preman. Apa kau sering digoda oleh mereka?" Halilintar hanya mengabaikan pertanyaan Yaya sebelumnya dan mulai mengubah topik.

"Darimana kau tahu?" tanya Yaya keheranan.

"Sudah kuduga." Ucap Halilintar sambil melipat tangannya di depan dada dan menolehkan wajahnya ke arah lain. "Lihat saja. Kalau besok mereka masih menggodamu. Aku akan menghabisi mereka satu persatu-satu" kali ini pemuda bertopi dengan wajah dingin khas tersebut mengeluarkan death glare-nya sambil menggumam dengan suara yang sangat kecil, sampai Yaya pun tidak bisa mendengar apa yang diucapkannya.

"Kau bilang apa tadi?" ucap gadis berkerudung pink tersebut

"Tidak ada" jawab Halilintar enteng. Kemudian pemuda itu pun mendesis keras dan mulai mengintrospeksi Yaya. "Bagaimana kau bisa bersama dengan Fang tadi?" ketusnya.

"Eh? Saat aku bangun, tahu-tahu dia sudah ada di depanku?" jawab Yaya dengan sangat jujur.

Dengan gemas Halilintar pun langsung saja mencubit pipi chubby Yaya sambil memberikan nasihat "Makanya jangan lengah. Fang itu seperti hantu, dia bisa muncul dan menghilang di mana saja"

Dan dengan kesal Yaya sambil mendesis keras, segera menepis tangan Halilintar. Apaan sih pakai nyubit segala? Sakit tahu. "Katanya dia ingin melindungi ku" ucapnya sambil mengelus pipinya yang memerah bekas cubitan dari Halilintar.

"Itu jebakan. Je-ba-kan. Paham!?" gertak Halilintar. Membuat Yaya tersentak dan segera mundur teratur. Yaya sebenarnya bingung, saat ini Hali sedang kesal, marah, atau mengancamnya?

"Dasar. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan selama tiga setengah tahun ini? Jangan bilang kau pernah suka pada orang lain selain diriku?" lanjutnya menggumam sendirian.

"Kalau ada memangnya kenapa?" sahut Yaya sewot. Dan berhasil memancing kekesalan Hallilintar

"Siapa dia? Siapa pria itu?" tanyanya dengan sebuah delikan tajam pada Yaya. Jelas sekali Halilintar pasti cemburu saat mendengar Yaya suka pada orang lain selain dirinya. Maaf saja Pria berlambang petir ini sudah terlanjur suka pada gadis dengan ciri khas kerudung pink tersebut.

"Memangnya aku ada bilang jika itu pria?" balas Yaya menyeringai. Entah mengapa, saat Hali bertanya seperti itu, rasanya dia jadi terkesan sangat polos sekali. Persis seperti anak kecil yang tidak mau lepas dari orang tuanya.

"La-Lalu siapa?" tanya Halilintar lagi dengan nada sedikit merendah. Malu karena sudah meninggikan suaranya hanya karena masalah sepele.

"Hanna" jawab Yaya enteng.

Halilintar hanya manggut-manggut mendengar jawaban Yaya. "Oh~ Hanna." Tapi kemudian dia merasakan sesuatu yang ganjil. Hanna kan perempuan? Dan bukan siapa-siapa nya Yaya. Lalu kenapa? Dan disinilah dia mulai berpikir yang tidak-tidak. "Yaya. Mungkinkah kau…"

"Hei! Jangan mikir yang aneh-aneh! Aku hanya menganggap Hanna seperti saudaraku sendiri" protes Yaya tidak terima jika dia punya kelainan seksual dimana…

"Aku tahu kok." Potong Halilintar datar. Membuat Yaya tercengang, jadi dia hanya bercanda saja tadi? Kemudian pemuda bertopi hitam itu pun segera meraih tangan kanan Yaya dan mendekatkannya ke wajahnya tepat satu senti di depan bibirnya. "Dan sepertinya kau juga tidak merokok. Baguslah" ucapnya setelah mencium harum tangan kanan Yaya yang seperti bau bunga-bungaan.

"Ha-Hali!" Sempurna. Berkat hal dilakukan Hailintar barusan, sekarang jantung Yaya terasa berpacu kencang. Bisa dirasakannya detakannya begitu cepat. Dan sekarang wajah Yaya benar-benar memerah.

Sementara Halilintar hanya tersenyum sambil menurunkan lengan Yaya. "Tidur yang nyenyak ya? Aku pulang dulu." Ucapnya sambil mengelus kepala Yaya yang terbungkus kain penutup bewarna merah muda tersebut.

Kemudian dia pun segera menaiki motornya dan melaju meninggalkan halaman depan rumah kepala sekretari Ocho Ah.

Sadar atau tidak. Sebenarnya hubungan mereka berdua ini sangat unik. Di mana si cowok sangat keras kepala dan overprotective. Tapi si cewek juga tidak kalah keras kepalanya. Sehingga mereka pun selalu bertengkar setiap saat.

Tapi bukankah lebih bagus seperti itu?

Dengan begitu masing-masing bisa jujur dengan yang dirasakannya. Dan tidak saling menyimpan rahasia satu sama lain.

Semoga ke depannya hubungan mereka semakin membaik.

TBC

Fiuh akhirnya chapter ini selesai juga. Kependekan ya? Tenang aja Author usahakan sebisa mungkin cepet updatenya. Kalau bisa Hehehe

Eh bentar ada pertanyaan.

Shidiq743 : Mungkinkah Blaze adalah orang yang jenius?

Hmm…. Dibilang jenius sih bukan juga. Kamu udah lihat sendiri kalau dia itu sebenarnya Hacker (Hacker imut). Tapi ya emang sih biasanya ciri orang jenius itu suka ngelanggar aturan dan nggak suka belajar. Tapi jangan ditiru ya? Soalnya jenius itu aslinya emang lebih pintar daripada gurunya sendiri.

Felycia N Veranda : Kamu nggak tahu harus panggil aku apa?

Sebenarnya terserah kamu aja sih Fel, mau manggil apa. Mau manggil Author atau Thor aja boleh. Mau manggil pakai namaku Mei, Meirin atau Min Hee Ra juga boleh. Pakai aku kamu, elo gue juga boleh. So that's up to you.

Aini : Well Actually I'm thinking about kissing scene for Yaya and Hali. But the I have the the problem. I'm afraid of this is become big trouble. Can you give me nice suggestion. about this scene will be put or not

VinuraOsake : Gempa itu udah punya pacar ato belum?

Dibilang belum sih bukan. Tapi pernah. Sabar aja Ntar author bikin ceritanya kok.